Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
Airin-san : Alasan kenapa Shinichi marah bisa ditemukan dalam percakapan Shiho dan Shinichi di chapter ini. Cuma tinggal pilih, antara pendapat Shiho dan ucapan Shinichi. XD
Rawr : Shinichi kayaknya nggak bakalan minta maaf sambil nangis-nangis deh. Secara dia itu orang yang angkuh. He he he.
kudo kun ran : Bukan nggak jadi hamil, tapi memang nggak. Orang mereka nggak pernah ngapa-ngapain. Gimana mau hamil? He he he. Baiklah, kalau begitu kuberikan sesuai tebakanmu. XD. Kalau tokoh cowok yang paling kusukai, bukan kedua-keduanya. Aku suka Heiji.
ShinxShi lovers : Ya emang ending-nya Shiho dan Shinichi, sudah kelihatan kan dari tokoh utamanya. XD
Aiwha-san : Kalau adegan mereka di chapter ini bisa disebut baikan, berarti mereka baikan di chapter ini. XD
Misyel : Rencana Shuichi sebenernya nggak jauh beda sama Shinichi kok. XD. Shiho memang begitu, meskipun dia merasa bersalah, tapi kalau Shinichi sudah keterlaluan, dia pun juga bakalan marah. He he he.
moist fla : Kalau dari segi jumlah kata, chapter kemarin panjangnya seperti biasa kok. Dan chapter ini juga masih seperti biasa. Chapter spesial super panjangnya baru chapter depan soalnya chapter terakhir. XD
Atin-san : Yah, Shinichi memang begitu. Tapi dia nggak bakal bertahan lama kok. Lihat saja! He he he. *bisik2* Oke, ntar ku-tag lagi.
tina nha san : Yah, kalau nggak ribet, namanya bukan konflik utama. XD. Dan sebenernya susah banget menjaga Ran agar tetap jadi cameo, tapi untunglah aku masih mampu.
Phantom : Tapi kalau dua orang terlalu berbeda, hubungan mereka juga nggak bakal jalan. Mereka harus punya persamaan yang lebih banyak, terutama dalam hal yang prinsip. Cinta itu nggak bertahan lama dan ketika cinta itu hilang, perbedaan yang terlalu banyak akan membuat hubungan dua orang bertambah jauh. Contoh yang paling mudah adalah Kogoro dan Eri. Mereka bahkan saling mencintai sampai sekarang, tapi mereka nggak cocok satu sama lain, jadi mereka berpisah. Kuat yang dimaksud adalah ketabahan hati dalam menghadapi semua tragedi dalam hidup, bukan kekuatan untuk mendapatkan Shinichi. Kalau menurutku tragedi Ran yang 'kehilangan' Shinichi untuk sementara tidak ada apa-apanya dibanding tragedi Shiho yang kehilangan kakak perempuannya selamanya. Jadi kalau menurutku, sebagai wanita, Shiho lebih kuat daripada Ran.
Nachie-chan : Rencana Shuichi nggak jauh beda dengan Shinichi. Tapi Shinichi pasti bakalan 'panas'. He he he.
Waktunya curcol!
Ini dia, chapter sebelum chapter terakhir. Shinichi dan Shiho mulai menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri.
Selamat membaca dan berkomentar!
Jangan Bilang Tidak
By Enji86
Chapter 16 – Tertatih
Shiho menghela nafas.
"Rye, bisakah kau berhenti mencium pipiku atau memelukku seenaknya?" tanya Shiho dengan kesal setelah Shuichi mencium pipinya lalu duduk di sebelahnya.
"Tidak bisa," jawab Shuichi sambil nyengir sehingga Shiho kembali menghela nafas.
"Ada apa sebenarnya? Dia tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya," pikir Shiho dengan bingung. Lalu dia mengangkat bahu dan kembali menekuni check list barang-barang keperluan pernikahan.
Sementara itu, Shuichi menyeringai sambil mencuri pandang ke Shinichi yang tampak mendidih.
"Apa kau bersenang-senang, Tantei-san?" ucap Shuichi dalam hati.
Sejak Shuichi menjalankan rencana jahatnya kemarin, Shinichi sudah kehilangan selera untuk mencoba kelihatan mesra dengan Ran. Dia sudah terlalu sibuk untuk mengendalikan amarahnya ketika melihat Shuichi mencium atau memeluk Shiho sesuka hati.
"Apa-apaan mereka itu? Dasar tidak tahu malu. Mentang-mentang asalnya dari Amerika, mereka dengan santainya mesra-mesraan di depan orang banyak," Shinichi mengomel dalam hati.
"Dan Shiho, dia benar-benar keterlaluan. Dia sudah tidur denganku selama hampir dua bulan tapi keesokan harinya dia langsung tidur dengan laki-laki lain. Bagaimana bisa dia bersikap begitu? Seharusnya dia tetap bersamaku dan tetap tidur denganku," Shinichi melanjutkan omelannya dalam hati. Tiba-tiba dia tersentak karena menyadari sesuatu.
"Huh? Apa yang sedang kupikirkan? Tentu saja aku tidak ingin tidur dengannya," omel Shinichi pada dirinya sendiri.
"Tapi... semuanya terasa sangat dingin tanpa dia," ucap Shinichi dalam hati. Kemudian dia menghela nafas. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku?" tanyanya pada dirinya sendiri. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada Ran yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu dengan Sera. "Bahkan gadis paling manis dan paling hangat yang pernah kukenal pun tidak bisa menolongku dari kedinginan ini," pikirnya.
Setelah itu, Shinichi pun berusaha keras menyingkirkan Shiho dari pikirannya walaupun tanpa hasil yang berarti. Dia pun juga lebih sering memeluk Ran tapi dia tidak bisa merasakan sensasi aneh yang menjalari tubuhnya seperti saat dia memeluk Shiho.
Akhirnya suatu hari dia pun memutuskan untuk berciuman dengan Ran saat mengantar Ran pulang karena dia dan Shiho tidak pernah berciuman jadi dia pikir kali ini Shiho tidak akan mempengaruhinya. Namun, begitu bibirnya menyentuh bibir Ran, dia kembali mengingat kecupan Shiho di bibirnya dan sensasi aneh yang disukainya itu, yang tidak dirasakannya saat bibirnya menyentuh bibir Ran. Shinichi pun langsung menarik diri kemudian pamit dan berlari pulang sementara Ran tertawa kecil karena dia pikir Shinichi malu setelah menciumnya.
Setelah kejadian itu, Shinichi pun tidak pernah lagi mencoba memeluk atau mencium Ran. Dia tidak bisa lagi melakukan hal itu karena perasaannya yang benar-benar kacau dan tidak jelas. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan.
XXX
Pesta pernikahan Profesor Agasa dan Fusae pun berlangsung meriah. Semua orang tersenyum gembira termasuk Shinichi, meskipun kadang-kadang dia mendidih karena rencana 'jahat' Shuichi yang masih berjalan. Apalagi hari itu Shiho kelihatan sangat cantik.
Lalu tiba saatnya berdansa. Shiho berdansa dengan beberapa orang yaitu Profesor Agasa, Yusaku, Shuichi, Heiji, Mitsuhiko dan Genta. Ketika Shiho akan duduk untuk istirahat, Yukiko menahannya dan memaksanya berdansa dengan Shinichi. Tentu saja mereka berdua langsung menolak, tapi entah bagaimana akhirnya mereka berdua berdansa juga, meskipun dalam diam.
"Asal kau tahu saja, aku sebenarnya sangat tidak ingin berdansa denganmu dan aku benci padamu. Jadi jangan salah paham," ucap Shinichi dengan angkuh untuk memecah keheningan diantara mereka berdua. Tapi meski dia bicara begitu, dia merasa sensasi aneh itu muncul. Dan dia harus menahan dirinya sekuat tenaga agar tangannya yang ada di pinggang Shiho tidak bergerak untuk melingkari pinggang Shiho lalu menarik Shiho ke dalam pelukannya.
Shiho memandang Shinichi dengan penuh tanda tanya karena dia tidak mengerti salah paham apa yang dimaksud Shinichi. Tapi akhirnya dia tidak ambil pusing.
"Aku tahu," ucap Shiho datar.
"Ugh, betapa inginnya aku berteriak di depan wajahnya agar berhenti mengatakan kata-kata itu," gerutu Shinichi dalam hati.
Lalu mereka berdua kembali berdiam diri.
"Kudo-kun, aku lelah. Aku mau istirahat," ucap Shiho setelah beberapa lama.
"Terserah kau saja," ucap Shinichi sambil melepaskan pegangannya pada Shiho walaupun sebenarnya dia tidak mau.
Shiho pun berlalu dari hadapan Shinichi dan berjalan menuju meja yang ditempati Shuichi, Heiji dan Sera. Melihat hal itu, Shinichi tiba-tiba merasa dingin. Lalu dia merasa ada orang yang menyentuh bahunya sehingga dia menoleh dan melihat Ran sedang menatapnya. Sepertinya Ran sudah selesai mengurusi Kogoro yang mabuk. Kemudian mereka berdua berdansa selama beberapa saat tapi rasa dingin itu tidak juga hilang dari dirinya.
XXX
"Hei, apa saja yang kalian bicarakan tadi?" tanya Sera begitu Shiho duduk di sebelahnya dengan segelas jus jeruk di tangannya.
"Tidak ada," jawab Shiho singkat lalu dia meminum jus jeruknya.
"Tidak ada?" tanya Sera.
"Iya, tidak ada. Kami tidak bicara apa-apa," jawab Shiho.
"Tidak sepatah kata pun?" tanya Sera lagi.
"Baiklah, kalau kau begitu ingin tahu, dia cuma bilang dia benci padaku," jawab Shiho sehingga Shuichi tertawa kecil.
"Dia benar-benar payah," ucap Shuichi.
"Kau benar, Nii-san. Dia payah. Dan juga brengsek. Aku benar-benar ingin menghajarnya sekarang," ucap Sera dengan geram.
"Sudahlah Sera. Aku pikir dia masih butuh waktu untuk meredakan kemarahannya," ucap Heiji.
"Meredakan kemarahannya katamu? Dia bahkan tidak berhak marah pada Shiho karena aku yakin dia menikmati apapun yang dilakukannya bersama Shiho selama dua bulan lalu. Aku melihatnya tersenyum seperti orang bodoh setiap hari di kampus. Kau pun juga melihatnya sendiri kan?" seru Sera.
"Iya, iya. Tolong pelankan suaramu," ucap Heiji.
"Lagipula kalau dia memang benar-benar mencintai Mouri-san, seharusnya perasaannya tidak akan berubah hanya karena obat," ucap Sera masih dengan kesal.
Ucapan Sera langsung membuat Heiji termenung.
"Sera ada benarnya. Kalau memang dia benar-benar cinta pada Nee-chan, dia tidak akan semudah itu berpaling ke Shiho hanya karena obat. Tapi kelihatannya dia benar-benar marah pada Shiho dan satu-satunya alasan yang masuk akal atas kemarahannya adalah karena dia sangat mencintai Nee-chan. Tapi kenapa perasaannya bisa begitu cepat berubah hanya karena obat? Haah, ini sungguh membingungkan," pikir Heiji.
"Yah, kurasa kita bisa menarik sebuah kesimpulan dari kejadian ini," ucap Shuichi.
"Apa?" tanya Sera.
"Sherry benar-benar jenius dan dia harus mengontrol dirinya sendiri untuk tidak menciptakan penemuan-penemuan yang berbahaya," jawab Shuichi sambil nyengir.
"Yah, kau benar," ucap Shiho sambil tertawa kecil yang disusul dengan tawa ketiga orang yang lain.
XXX
Sepulangnya dari Amerika untuk menghadiri pesta pernikahan Profesor Agasa, Shinichi langsung masuk ke kamarnya untuk tidur karena dia sangat lelah dan hari memang sudah malam. Selama dia berada di Amerika, dia menemukan bahwa setelah Shuichi bersikap mesra dengan Shiho, Shuichi selalu menyeringai kepadanya, seolah-olah sedang mengejeknya atau mungkin lebih tepatnya memanas-manasinya. Dan dia tidak habis pikir kenapa dia menjadi panas bahkan sampai mendidih ketika melihatnya.
"Apa-apaan dia itu? Apa dia mau pamer padaku? Apa dia pikir aku akan cemburu padanya? Tentu saja aku tidak akan pernah cemburu padanya," gerutu Shinichi dalam hati.
"Tapi kenapa aku merasa panas dan tidak suka? Apa mungkin aku memang... Stop Shinichi! Kau marah pada Shiho dan kau benci padanya. Yang kau cintai hanya Ran, mengerti!" pikir Shinichi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu Shinichi ingat bahwa dia belum mandi. Namun dia begitu malas untuk bangkit sehingga dia tetap berbaring di tempat tidurnya dan tak lama kemudian dia sudah terlelap.
Beberapa jam kemudian, Shinichi terbangun dan matanya terbelalak karena dia melihat Shiho berada dalam dekapannya.
"S-Shiho, a-apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shinichi dengan gugup. Jantungnya berdetak kencang dan wajahnya memanas karena Shiho mengenakan gaun tidur minimalis yang membuat Shiho terlihat begitu seksi.
Shiho tidak menjawab dan hanya tersenyum kepada Shinichi. Lalu Shiho mulai membuka kancing kemeja Shinichi dan Shinichi merasa tidak berdaya untuk mencegahnya karena dia sangat ingin disentuh oleh Shiho lagi seperti saat dia dalam pengaruh obat. Kemudian Shiho mulai menciumi lehernya dan Shinichi hanya bisa menutup matanya dan mengerang penuh kenikmatan. Dia benar-benar menginginkan ini. Dan ketika dia tidak bisa mengontrol dirinya lagi, dia memegang pipi Shiho dan mencium bibir Shiho.
"Aku mencintaimu, Shiho. Aku sangat mencintaimu," ucap Shinichi dalam hati.
"Huh?" ucap Shinichi dengan bingung ketika dia membuka mata karena dia mendapati dirinya sedang mencium bantal gulingnya.
"Oh, tidak. Ini terjadi lagi," erang Shinichi sambil mencampakkan bantal gulingnya. Wajahnya masih merona merah dan tubuhnya masih terasa panas.
Memang, ini bukan pertama kalinya Shinichi berhalusinasi seperti itu, bahkan bisa dikatakan sering. Dan halusinasinya semakin lama semakin mesum, terutama dari jenis pakaian yang dipakai Shiho. Dia ingat saat pertama kali dia berhalusinasi yaitu tiga hari setelah dia meminum penawarnya, Shiho memakai piyama lengan panjang. Sekarang, dia melihat Shiho mengenakan gaun tidur minimalis. Hal ini membuatnya berharap bahwa tak lama lagi dia akan mendapatkan halusinasi Shiho yang tidak mengenakan apapun. Tapi dia langsung mengomeli dirinya sendiri begitu harapan itu terlintas di benaknya.
"Apa-apaan aku ini? Aku benar-benar menyedihkan. Aku ingin wanita yang kubenci berada dalam dekapanku tanpa busana! Apa aku sudah gila?" omel Shinichi pada dirinya sendiri. Lalu tiba-tiba dia tersentak karena dia teringat sesuatu. Dia ingat tadi ketika dia mencium Shiho yang ada dalam halusinasinya, dia berkata bahwa dia mencintai Shiho.
"Apa itu tadi? Kenapa aku mengatakan hal itu? Apakah aku memang... Tidak, itu tidak benar. Aku mencintai Ran, bukan Shiho," pikir Shinichi, tapi meskipun begitu dia tetap merasa ragu.
Akhirnya dia bangkit dan melangkah ke kamar mandi karena dia butuh mandi air dingin. Malam itu dia tidak tidur kembali karena dia sibuk berpikir tentang pernyataan cintanya pada Shiho yang ada dalam halusinasinya. Dan ketika pagi datang, dia sadar kenapa dulu Shiho bilang padanya kalau dia akan menyesal. Dia pun memutuskan untuk berhenti mengingkari apapun yang dirasakannya terhadap Shiho dan memutuskan untuk melakukan tindakan demi menjaga kewarasannya, karena dia tahu berhalusinasi adalah salah satu tanda bahwa seseorang mulai kehilangan kewarasannya. Selain itu, dia ingin memastikan apakah dia benar-benar menyesal atau tidak.
XXX
Setelah menghabiskan beberapa hari untuk meyakinkan diri, Shinichi pun mulai beraksi. Malam itu, Shinichi menyelinap ke kamar Shiho seperti dulu. Shiho hanya sendirian di rumah karena Profesor Agasa dan Fusae pergi berbulan madu. Dia memandangi wajah Shiho yang sedang tidur dan dia tidak bisa menahan dirinya lagi sehingga dia naik ke tempat tidur dan menarik Shiho ke dalam pelukannya. Detik itu juga dia tahu bahwa dia benar-benar merindukan Shiho dan bahwa yang asli jauh lebih baik daripada yang halusinasi. Dia berharap Shiho tidak terbangun sehingga dia bisa menikmati memeluk Shiho lebih lama. Namun harapannya langsung musnah begitu dia mendengar suara Shiho.
"Kudo-kun, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shiho dengan suara mengantuk sekaligus heran.
Shiho berusaha mendongak tapi Shinichi menahan kepalanya sehingga wajahnya tetap terkubur di dada Shinichi.
"Aku ke sini untuk minta pertanggungjawabanmu, jadi jangan salah paham," ucap Shinichi.
"Terserah kau saja, tapi lepaskan aku," ucap Shiho sambil mencoba melepaskan diri tapi Shinichi tidak mau melepaskannya.
"Aku tidak bisa melepaskanmu karena kau harus bertanggungjawab," ucap Shinichi sehingga Shiho mengerutkan keningnya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," ucap Shiho.
"Setelah kejadian obat itu, hidupku menjadi kacau sementara hidupmu kelihatan baik-baik saja. Ini tidak adil dan aku tidak bisa menerimanya jadi kau harus bertanggungjawab," ucap Shinichi.
"Apa?" tanya Shiho dengan bingung.
"Kau tidak dengar, hidupku menjadi kacau sejak kejadian itu. Aku tidak bisa makan dengan enak dan aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku juga sering berhalusinasi. Bahkan tadi aku menceritakan pada Ran semua yang sudah kulakukan denganmu selama hampir dua bulan dalam pengaruh obat. Lalu dia menamparku dan berlari sambil menangis. Kau bisa lihat kan betapa kacaunya hidupku? Karena itu mulai sekarang aku akan menempel terus padamu jadi biasakanlah dirimu," jawab Shinichi.
Shiho terdiam sejenak untuk mencerna kata-kata Shinichi barusan kemudian dia tersenyum.
"Kudo-kun, apa kau suka padaku?" tanya Shiho.
"Apa? Aku suka padamu? Apa kau sudah gila? Mana mungkin aku suka pada wanita sepertimu," sahut Shinichi dengan angkuh.
"Wanita sepertiku? Memangnya aku wanita macam apa?" tanya Shiho.
"Menurutmu wanita macam apa yang setelah hampir dua bulan tidur dengan seorang laki-laki lalu keesokan harinya tidur dengan laki-laki lain?" Shinichi balik bertanya dengan sinis.
Shiho pun tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Shinichi barusan.
"Jadi karena itu kau marah?" tanya Shiho lagi.
"Huh? Apa yang kau bicarakan? Aku marah karena kau mengacaukan hidupku," jawab Shinichi dengan angkuh.
"Ya, terserah kau sajalah," ucap Shiho sambil nyengir.
"Ran adalah wanita yang baik dan sempurna. Kau tidak akan bisa bersaing dengannya. Jadi jangan salah paham karena aku hanya ingin meminta pertanggungjawabanmu," ucap Shinichi.
"Ya, ya, aku tahu," ucap Shiho sehingga Shinichi menatap kepala Shiho dengan tajam.
Kemudian Shiho kembali mencoba mendongak dan kali ini Shinichi membiarkannya. Shiho melihat pipi Shinichi yang bengkak sambil tersenyum.
"Wanita yang menamparmu benar-benar ratu karate. Hmm, pasti rasanya sakit sekali," ucap Shiho dengan geli sehingga Shinichi memandangnya dengan kesal.
Shiho kemudian bergerak dan mencium pipi Shinichi yang bengkak.
"Bagaimana? Apa sekarang sudah lebih baik?" tanya Shiho sambil nyengir.
Shinichi menatap Shiho dengan mata terbelalak dan mulut menganga. Dia bisa merasa kalau pipinya memerah. Sekarang dia tahu kenapa tanpa Shiho dia merasa kedinginan. Shiho begitu hangat. Kehangatan yang tidak menuntut tapi membuatnya ingin menuntut lebih banyak. Tidak seperti kehangatan Ran yang menuntut orang yang menerimanya menjadi merasa berhutang kepada Ran. Tidak seperti kehangatan orang tuanya yang meninggalkannya sendirian di Jepang dengan dingin saat dia masih SMP.
Shinichi tidak habis pikir kenapa dia baru menyadarinya, padahal dia tahu sejak Shiho masuk ke dalam kehidupannya sebagai Ai Haibara, Shiho selalu memberinya perasaan bahwa dia tidak sendirian lagi dan memang Shiho selalu ada untuknya. Dan sebelum dia sempat menyadari apa yang sedang dilakukannya, bibirnya sudah menyentuh bibir Shiho.
Shinichi bisa merasa kalau Shiho membeku di tempat, tapi dia tidak peduli. Dia begitu ingin mencurahkan semua isi hatinya lewat ciuman ini. Dan ketika Shiho membalas ciumannya, dia tahu dia akan selamanya menempel pada Shiho apapun yang terjadi.
Sementara itu, Shiho begitu heran merasakan ciuman Shinichi yang begitu memaksa dan begitu lapar. Shinichi terlihat seperti orang kelaparan yang baru saja menemukan makanan, yaitu dirinya. Dia pun merasa senang tapi dia tahu dia tidak bisa membiarkan Shinichi berlama-lama karena orang yang kelaparan bisa sakit perut kalau makan terlalu banyak.
Shiho mengakhiri ciuman itu dan mendorong Shinichi menjauh tepat saat tangan Shinichi mulai menjamah kancing piyamanya yang paling atas sehingga Shinichi menatapnya dengan tajam seolah berkata bahwa dia belum selesai.
"Sudah cukup, Kudo-kun," ucap Shiho, menjawab tatapan Shinichi. Tapi Shinichi tetap memandangnya dengan tajam.
Shiho kemudian memeluk Shinichi dan membenamkan wajahnya di dada Shinichi.
"Sudah cukup, Sayang. Aku belum siap untuk melangkah lebih jauh dari ini," ucap Shiho.
Mendengar ucapan Shiho, Shinichi tertegun sejenak kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi menyesal. Dia menghela nafas kemudian dia mendekap Shiho dengan erat.
"Maaf, aku tidak bermaksud...," ucapan Shinichi dipotong oleh Shiho.
"Tidak apa. Aku ingin tidur sekarang," ucap Shiho.
"Baiklah," sahut Shinichi.
Kemudian Shinichi membelai rambut Shiho dengan beberapa pertanyaan di kepalanya. Kenapa Shiho membalas ciumannya? Kenapa Shiho memanggilnya 'Sayang'? Apa Shiho juga punya perasaan yang sama terhadapnya? Apa sebenarnya hubungan Shiho dengan Shuichi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya sampai dia tertidur.
Bersambung...
