Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

Kongming-san : Shuichi itu membalas Shinichi dengan cara yang sama yang digunakan Shinichi untuk Shiho (bersikap mesra dengan Ran). Tapi aku juga nggak tahu Shuichi tahu efek samping perbuatannya atau tidak (Shinichi menyadari perasaannya pada Shiho)?

hyuchiha 'rie' kurochiki : Nggak apa. Shinichi belum ngaku kok kalau dia suka sama Shiho. Dia cuma mau Shiho tanggung jawab. XD

Aiwha-san : Terus kalau nggak tenang aja, Shiho musti gimana dong? Kan dia tahunya Shinichi marah dan benci sama dia, jadi dia cuma merasa heran pas Shinichi muncul kembali di kamarnya. XD

grey chocolate : Yah, kalau untuk urusan wanita, Shinichi memang agak ribet. Tapi kalau Shinichi udah yakin sama perasaannya, dia pasti bakalan segera mengklaim Shiho soalnya ada laki-laki lain yang juga membidik Shiho. XD

oren : Terima kasih banyak. XD

Airin-san : Mungkin Shinichi cerita begitu supaya Ran yang mutusin dia. Kalau dia tiba-tiba mutusin Ran yang nggak salah apa-apa kan, berarti dia memang laki-laki br****ek. XD

Misyel-san : Mungkin ironi dari kehangatan dan kebaikan Ran adalah dia tetap belum bisa menyatukan ayah dan ibunya kembali sampai sekarang meskipun Vermouth menyebutnya angel. XD

moist fla : Ooh, jadi tipe cowok idamanmu itu kayak gitu ya? Kalau suka, sikat aja (moist fla : emangnya gigi? pakai disikat segala). Atau jangan-jangan kamu mau nawarin buat aku? (moist fla : enak aja!). He he he.

Atin-san : Ya gengsi dong. Kan kemarin Shinichi udah marah-marah dan bilang benci terus sama Shiho. Tapi dari kelakukan Shinichi yang menyelinap ke kamar Shiho aja, Shinichi sudah kelihatan murahan jadi sebenernya dia nggak perlu gengsi begitu. XD

Jessica-san : Shinichi belum sepenuhnya insaf dan Shiho jadi alim begitu soalnya dia sudah berubah jadi orang baik setelah masa lalunya yang kelam. XD

kudo kun ran : Cuma penembakan aja. Nggak sampai nikah. Secara Shiho itu tipe wanita karir, jadi dia sepertinya tidak akan menikah cepat-cepat. XD

Phantom : Benarkah? Kalau begitu aku harus lebih hati-hati soalnya aku juga tidak mau Shiho dalam fic-ku menjadi Mary Sue. Tapi kalau di fic ini, menurutku Shiho tidak agung karena dia bisa tidur dan mencium seorang laki-laki dengan santai walaupun dia mencintai laki-laki lain. Dia juga rela tidur dengan pacar orang lain tanpa alasan yang begitu jelas (kasihan pada Shinichi). Wanita yang seperti ini jelas tidak agung. Percayalah! XD

Hikari-Kiddo : Terima kasih banyak. XD

ShinxShi lovers : Yah, semoga bisa diambil pelajaran. He he he.

Waktunya curcol!

Akhirnya, penulis sampai juga di penghujung cerita. Beribu terima kasih penulis sampaikan pada para pembaca yang sudah membaca cerita ini dan para komentator yang sudah mendukung penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan cerita ini. You're amazing.

Chapter terakhir ini merupakan chapter yang paling panjang. Isinya adalah buntut dari aksi penyelinapan Shinichi ke kamar Shiho (tahu kan apa buntutnya?) dan disusul dengan buntut dari buntut aksi penyelinapan Shinichi ke kamar Shiho terhadap kehidupan mereka berdua.

Selamat membaca dan berkomentar! Serta sampai jumpa di cerita selanjutnya!


Jangan Bilang Tidak

By Enji86

Chapter 17 – Berlumuran Soda

Keesokan paginya, Shinichi bangun dengan agak terkejut karena dia berada di kamar Shiho. Lalu dia ingat kejadian kemarin malam sehingga dia mengedarkan pandangannya untuk mencari Shiho. Dia pun bangkit dari tempat tidur ketika dia tidak melihat tanda-tanda Shiho masih berada di kamar dan pergi keluar kamar untuk mencari di ruangan lain. Dia pergi ke ruang makan dan melihat sarapan sudah tersedia di atas meja, tapi tidak ada Shiho di situ. Dia pun pergi ke dapur, tapi Shiho juga tidak ada di sana. Dia pun terdiam sejenak untuk berpikir.

Setelah beberapa lama berpikir, Shinichi pun melangkah ke tangga yang menuju ruang bawah tanah. Tapi begitu dia sampai di puncak tangga, dia tidak jadi turun dan berbalik untuk pergi ke halaman belakang. Shiho sudah berubah selama beberapa tahun ini tanpa Organisasi Hitam yang selalu mengancamnya jadi tidak mungkin Shiho nongkrong di ruang bawah tanah di pagi yang cerah seperti ini, begitulah pikir Shinichi. Dan sesuai dugaannya, dia menemukan Shiho sedang menyiram tanaman di halaman belakang sambil bersenandung.

Shinichi kemudian berdiri tak jauh di belakang Shiho dan memandangi Shiho tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Shiho yang menyadari kehadiran Shinichi pun juga tetap bersenandung sambil menyiram tanaman. Baru setelah lagu yang disenandungkannya selesai, dia bicara pada Shinichi, tanpa membalikkan badannya dan masih sambil menyiram tanaman.

"Kau sudah bangun?" tanya Shiho.

"Mmm," jawab Shinichi.

"Kalau kau lapar, sarapannya ada di ruang makan," ucap Shiho.

"Aku tahu. Aku akan makan sebentar lagi," ucap Shinichi.

Kemudian hening lagi. Yang terdengar hanyalah suara air yang keluar dari selang untuk menyirami tanaman yang ada di halaman itu.

"Shiho," panggil Shinichi setelah hening selama beberapa saat.

"Mmm?" sahut Shiho.

"Aku tidak ingin main-main lagi denganmu," ucap Shinichi.

"Maksudmu?" tanya Shiho.

Shinichi terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Aku mencintaimu," ucap Shinichi sebagai jawaban sekaligus pernyataan cintanya pada Shiho.

Shiho tersenyum mendengarnya.

"Aku tahu," ucap Shiho dan dia bisa membayangkan Shinichi sedang mengerutkan keningnya kepadanya.

Memang Shinichi sedang mengerutkan keningnya pada Shiho, lalu dia berpikir mungkin dia harus mengungkapkan apa yang benar-benar dirasakannya.

"Dan ciumanmu kemarin sangat menakjubkan," ucap Shinichi sehingga senyum Shiho bertambah lebar.

"Aku tahu. Rye juga bilang begitu," ucap Shiho.

Mendengar hal ini, Shinichi langsung merasa marah. Dia melangkah mendekati Shiho lalu mencengkeram bahu Shiho dan membalik badan Shiho agar mereka saling berhadapan.

"Sebenarnya apa artinya aku bagimu? Apa selama ini kau hanya mempermainkanku, begitu?" seru Shinichi.

Shiho mematikan selang di tangannya dan menjatuhkannya ke tanah sebelum bicara.

"Kudo-kun, apa kau pikir aku bisa menyukai laki-laki sepertimu?" tanya Shiho sambil menatap Shinichi dengan tegas.

"Apa maksudmu? Laki-laki sepertiku? Memangnya aku laki-laki macam apa?" tanya Shinichi masih dengan nada geram.

"Menurutmu laki-laki macam apa yang mengkhianati pacarnya yang baik dan sempurna, dan tidur dengan wanita lain selama hampir dua bulan hanya karena pengaruh obat?" Shiho balik bertanya.

Shinichi hanya terdiam karena dia tidak bisa menjawab. Tatapan matanya semakin lama semakin redup karena dia sadar bahwa kata-kata Shiho ada benarnya.

"Shiho benar. Mana mungkin dia menyukai laki-laki sepertiku," pikir Shinichi dengan sedih.

"Kau benar," ucap Shinichi dengan suara tercekat karena menahan kesedihannya.

"Tapi ternyata...," ucap Shiho kemudian dia menghapus jarak di antara dirinya dan Shinichi, dan memeluk Shinichi sehingga Shinichi merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. "...tetap saja aku tidak bisa menahan diriku untuk jatuh cinta padamu," lanjutnya.

Butuh waktu beberapa detik sampai otak Shinichi berhasil memproses kata-kata Shiho.

"Shiho, kau...," seru Shinichi sambil menunduk dan ketika dia melihat rona merah di sebagian pipi Shiho yang tidak tersembunyi di dadanya, dia langsung melingkarkan lengannya di tubuh Shiho dan memeluk Shiho dengan erat, tapi tentu saja tidak seerat pelukannya saat hari kelulusan SMA mereka.

"Dasar wanita menyebalkan! Wanita jahat, licik, aneh," omel Shinichi sambil tersenyum sehingga Shiho mengangkat wajahnya.

"Kudo-kun, kau sadar kan siapa yang baru saja kau kata-katai?" tanya Shiho dengan nada memperingatkan.

"Aku tidak peduli. Aku akan terus mengata-ngataimu sampai aku puas meskipun kau akan membunuhku setelah itu. Bagaimana bisa kau mempermainkanku seperti tadi? Kau benar-benar menyebalkan dan jahat. DAN KAU JUGA MENCINTAIKU," ucap Shinichi dengan penekanan. Kemudian dia berteriak ke angkasa. "Woohoo, wanita menyebalkan, jahat, licik sekaligus aneh ini juga mencintaiku."

Shiho pun tidak bisa menahan senyum terbentuk di bibirnya meskipun Shinichi pada dasarnya sedang mengata-ngatainya.

"Hei Shiho, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Shinichi pada Shiho yang masih berada dalam pelukannya, setelah dia puas berteriak-teriak.

"Apa?" jawab Shiho.

"Apa yang kau lakukan dengan Akai-san malam itu? Kau tahu kan, malam saat kau memberiku penawar LOVE4869?" tanya Shinichi sehingga Shiho tersenyum lebar.

"Apa kau benar-benar ingin tahu?" Shiho balik bertanya dengan nada yang membuat Shinichi tiba-tiba kehilangan nyalinya.

Shinichi terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Setelah dipikir-pikir, aku rasa aku tidak ingin tahu lagi sekarang," jawab Shinichi sehingga Shiho tertawa kecil.

"Pilihan yang bagus," ucap Shiho.

"Aku mencintaimu, Shiho," ucap Shinichi sambil mencium puncak kepala Shiho. Dia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan seorang laki-laki pun menyentuh Shiho-nya lagi, karena Shiho sekarang adalah miliknya.

"Aku juga mencintaimu, Kudo-kun," ucap Shiho sehingga Shinichi merasa dia akan meledak karena dia terlalu gembira.

Tak lama kemudian, mereka berdua masuk ke dalam rumah karena perut Shinichi mendendangkan lagu keroncong yang sangat keras.

XXX

"Hei Shiho, ayo kita pergi kencan," ucap Shinichi setelah sarapan.

"Kemana?" tanya Shiho.

"Hmm, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman? Hari ini cuacanya benar-benar bagus," tawar Shinichi.

"Kelihatannya menyenangkan," ucap Shiho.

"Sempurna. Aku pulang dulu untuk mandi lalu kita berangkat," ucap Shinichi kemudian dia bangkit dari meja makan lalu mencium pipi Shiho kemudian pulang ke rumahnya.

Kurang lebih satu jam kemudian, Shinichi sudah kembali untuk menjemput Shiho, lalu mereka pergi keluar. Shinichi menggenggam tangan Shiho dengan erat dan merasa sangat puas dengan kehidupannya sekarang. Lalu sambil berjalan, Shinichi mulai menyebut-nyebut Sherlock Holmes dan Shiho pun mendengarkannya. Begitu Shiho sudah merasa bosan, dia pun memotong cerita Shinichi.

"Hei, Kudo-kun, bukankah Sherlock Holmes itu benar-benar mirip denganku?" tanya Shiho.

"Huh? Bagaimana bisa kau bilang begitu?" Shinichi balik bertanya.

"Dia jenius, aku juga jenius," ucap Shiho.

"Yah, itu benar, walaupun kejeniusan kalian berbeda bidang," komentar Shinichi.

"Terus dia suka kimia, aku juga suka," ucap Shiho.

"Hmm, itu juga benar," komentar Shinichi.

"Lalu yang terakhir, kau tergila-gila pada Sherlock Holmes dan kau juga tergila-gila padaku," ucap Shiho.

"Hmm, benar juga ya," sahut Shinichi sambil manggut-manggut namun tiba-tiba wajahnya berubah ekspresi menjadi kesal.

"Aku tidak tergila-gila pada Sherlock Holmes dan aku juga tidak tergila-gila padamu," ucap Shinichi dengan kesal. "Mana mungkin aku tergila-gila pada wanita sepertimu," lanjutnya dengan angkuh.

"Begitu ya? Hmm, tapi Rye tergila-gila padaku. Apa seharusnya aku bersama dengannya saja ya?" ucap Shiho dengan nada mempertimbangkan.

Shinichi pun langsung berhenti melangkah sehingga Shiho pun juga berhenti. Lalu tanpa basa-basi, Shinichi mencium bibir Shiho sambil memeluk tubuh Shiho dengan posesif. Kebetulan mereka memang sedang berada di bagian taman yang tidak terlalu ramai. Shiho mencoba meronta tapi Shinichi tidak memberinya kesempatan. Setelah Shinichi merasa pesannya sudah tersampaikan, dia mengakhiri ciumannya kemudian bicara di telinga Shiho sambil tetap memeluk Shiho dengan erat.

"Kau adalah milikku. Jadi jangan pernah kau berpikir untuk melarikan diri dariku dan pergi dengan laki-laki lain. Kau mengerti?" ucap Shinichi.

"Kudo-kun," gumam Shiho agak terpana. Sikap Shinichi membuatnya bertanya-tanya apakah dia sudah memilih laki-laki yang salah karena dia punya pengalaman buruk dengan laki-laki posesif. Tapi kemudian dia tersenyum karena dia tahu, Shuichi pun juga pasti akan posesif terhadapnya jika dia menjadi milik Shuichi. Dia pun mulai berpikir bahwa masalahnya mungkin tidak terletak pada laki-laki yang mencintainya tapi terletak pada dirinya, walaupun dia tidak bisa menduga apa masalahnya.

"Lihat kan, kau memang tergila-gila padaku," ucap Shiho sambil nyengir sehingga Shinichi langsung cemberut.

"Sudah kubilang aku tidak tergila-gila padamu," ucap Shinichi dengan kesal.

Shiho pun langsung tertawa mendengarnya.

"Dasar keras kepala," ucap Shiho.

"Aku tidak begitu," ucap Shinichi masih dengan kesal sehingga Shiho kembali tertawa.

Sementara itu, tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang menyaksikan kejadian itu. Kedua mata itu sama-sama dipenuhi oleh kemarahan dan salah satu pasang mata itu juga dipenuhi oleh kesedihan selain kemarahan.

Sepulang dari kencan bersama Shinichi, Shiho langsung menelepon Sera untuk memberitahu bahwa tadi pagi dia 'ditembak' oleh Shinichi dan dia pun menerimanya. Sera pun langsung heboh dan langsung menuntut Shiho untuk memberikan cerita detailnya besok saat dia dan Heiji belajar membuat nasi kare. Setelah itu, dia menelepon Fusae dan Yukiko untuk mengabarkan tentang 'penembakan' itu.

XXX

"Lebih baik kau segera sarapan," ucap Shiho saat Shinichi yang baru datang duduk di sebelahnya di sofa ruang TV.

"Aku sudah sarapan," sahut Shinichi.

"Lalu kenapa kau lesu begitu?" tanya Shiho sambil mengamati Shinichi.

Shinichi kelihatan ragu-ragu untuk mengatakan apa yang sedang mengganggu pikirannya sehingga Shiho pun membuka mulutnya lagi.

"Sayang, ada apa?" tanya Shiho.

"Err, ini tentang Ran," jawab Shinichi.

"Ada apa dengannya?" tanya Shiho.

"Sudah beberapa hari ini, dia selalu datang ke rumahku pagi-pagi sambil membawa sarapan. Dia bilang dia sudah memaafkanku dan dia mengerti bahwa aku melakukan semua itu karena obat darimu. Dia juga minta maaf karena sebagai pacarku dia bersikap kurang pengertian padahal aku sudah jujur padanya," jawab Shinichi kemudian dia berhenti sehingga Shiho kembali bertanya.

"Sayang, apa kau ingin kembali padanya?" tanya Shiho dengan hati-hati tapi dia tetap mendapat hadiah tatapan tajam dari Shinichi.

"Apa maksudmu? Tentu saja aku tidak ingin kembali padanya. Bagaimana bisa kau bertanya begitu?" ucap Shinichi dengan agak marah.

"Aku kan cuma bertanya. Aku juga tidak ingin kau kembali padanya dan meninggalkanku. Kalau kau lakukan itu, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup dan kau tahu bahwa aku tidak pernah main-main dengan ancamanku," ucap Shiho.

"Eh? Kau tidak ingin aku kembali padanya?" tanya Shinichi dengan heran.

"Tentu saja. Aku mencintaimu, ingat? Dan kau adalah milikku," jawab Shiho sehingga Shinichi langsung menyeringai lebar dan menatapnya dengan tatapan penuh arti dengan niat menggodanya.

"Apa?" tanya Shiho dengan kesal.

"Tidak ada," jawab Shinichi sambil tersenyum simpul.

"Lalu bagaimana? Apa kau sudah mengatakan pada Ran-san tentang kita?" tanya Shiho.

"Itu dia masalahnya. Dia masih beranggapan bahwa kami masih bersama dan setiap aku ingin membicarakan tentang hubungan kami atau tentang hubunganku denganmu, dia tidak mau mendengarkan dan selalu mengalihkan pembicaraan," jawab Shinichi kemudian dia menghela nafas.

"Yah, tapi kau tidak bisa membiarkannya terus seperti itu. Kau harus tegas kepadanya," ucap Shiho.

"Aku tahu," ucap Shinichi kemudian dia memeluk Shiho. "Tapi ini sangat berat. Melihatnya seperti itu sungguh membuatku tidak tega," lanjutnya.

"Aku mengerti," ucap Shiho sambil tersenyum kemudian dia mengusap punggung Shinichi. "Tapi kalau kau membiarkannya seperti itu, dia akan terluka semakin lama. Jadi kuatkanlah hatimu agar dia tidak terluka semakin lama, hmm?" lanjutnya.

"Mmm, aku akan melakukannya secepatnya," ucap Shinichi sambil menutup matanya, menikmati kehangatan yang diberikan Shiho padanya. Dia merasa beban di hatinya mulai terangkat, terutama saat Shiho bicara sambil mengusap punggungnya.

Tiba-tiba ponsel Shinichi berbunyi sehingga Shiho berhenti membelai punggung Shinichi dan melepaskan diri dari pelukan Shinichi sehingga Shinichi menatap ponselnya yang dia letakkan di atas meja dengan kesal. Dia pun mengangkat ponselnya tanpa melihat siapa yang menelepon dan mengucapkan halo dengan agak ketus sementara Shiho menatapnya dengan geli. Ternyata itu telepon dari Ran yang mengingatkannya bahwa mereka akan pergi kencan satu jam lagi dan belum sempat Shinichi menyatakan penolakannya, Ran sudah menutup teleponnya. Dia pun menatap ponselnya sambil menghela nafas.

"Pergilah kencan dengannya," ucap Shiho.

"Huh?" tanya Shinichi dengan bingung.

"Turutilah semua keinginannya hari ini dan pada saat yang tepat, kau bisa menuntutnya untuk mendengarkanmu," ucap Shiho.

Shinichi terdiam sejenak untuk berpikir.

"Yah, itu ide yang bagus. Lalu agar kau tidak cemburu...," ucap Shinichi dengan nada menggantung, kemudian dia mulai mengelus pipi Shiho sambil menatap mata Shiho dan tak lama kemudian dia menyalurkan kerinduannya lewat sebuah ciuman manis. Setiap pagi dia memang sangat merindukan Shiho karena mereka sudah tidak bermalam bersama lagi.

Mereka memang sudah berhenti bermesraan dan tidur bersama setiap malam karena pada suatu malam mereka hampir melakukannya, tentu saja dengan dipelopori oleh Shinichi, dan Shiho yang tidak mau melakukannya sebelum mereka menikah memutuskan bahwa dia tidak mau lagi menghabiskan malam bersama Shinichi sampai mereka menikah. Shinichi pun langsung mengajak Shiho menikah saat itu juga yang langsung ditolak oleh Shiho karena dia ingin mendapatkan gelar dokternya dulu sebelum menikah. Shinichi pun akhirnya hanya bisa menerima keputusan Shiho dengan menggerutu. Meskipun begitu, hal ini juga membuat Shinichi sadar bahwa Shiho tidak pernah melakukan apapun dengan Shuichi meski dia melihat mereka tidur bersama sehingga dia merasa sangat lega sekaligus senang.

"Aku sama sekali tidak cemburu lho," ucap Shiho sambil nyengir setelah Shinichi mengakhiri ciumannya.

Shinichi pun juga nyengir kepada Shiho.

"Siapa peduli? Kalau kau memang tidak cemburu, kau hanya perlu berpura-pura cemburu," ucap Shinichi.

"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Shiho.

"Agar aku bisa melakukan ini," jawab Shinichi dan dia kembali mengunci bibir Shiho dengan bibirnya.

XXX

"Bagaimana kencannya? Sukses?" tanya Shiho keesokan paginya sambil duduk di meja makan.

"Buruk. Untunglah aku berhasil melarikan diri sebelum Paman Kogoro membunuhku tadi malam karena membuat Ran menangis. Seharusnya aku tidak mengatakannya di depan rumahnya," jawab Shinichi setengah kesal setengah mengeluh.

"Kedengarannya seru. Kau harus menceritakannya padaku," ucap Shiho dengan geli.

"Baiklah, tapi nanti setelah makan. Aku lapar sekali," ucap Shinichi.

Setelah sarapan, mereka pindah ke ruang TV dan Shinichi pun mulai bercerita.

"Lalu kenapa kau mengatakannya di depan rumahnya?" tanya Shiho setelah Shinichi selesai bercerita tentang bagaimana dia kabur dari Kogoro.

"Habis Ran kelihatannya semangat sekali selama kencan berlangsung. Aku hanya tidak mau merusaknya. Tapi pada akhirnya aku merusaknya juga. Aku jadi merasa sangat jahat padanya," jawab Shinichi dengan nada sendu.

"Yah, kau tidak akan bisa membahagiakan semua orang, sama sepertiku, sama seperti orang-orang lain yang ada di dunia ini. Karena itu, jangan terlalu memikirkannya karena semua orang juga mengalaminya. Yang penting kau sudah berusaha sebaik-baiknya, hmm?" ucap Shiho sambil tersenyum.

"Ya, kau benar. Terima kasih, Sayang," ucap Shinichi sambil tersenyum.

"Tapi bukankah ini lucu? Pacarku menceritakan padaku tentang rasa sayangnya yang begitu besar pada wanita lain. Aku sampai tidak tahu harus bagaimana," ucap Shiho kemudian dia menghela nafas.

"Err... Sayang... itu... aku tidak bermaksud...," ucap Shinichi dengan agak panik sehingga Shiho tertawa.

"Aku hanya bercanda," ucap Shiho sehingga wajah Shinichi langsung cemberut.

"Dasar kau ini!" ucap Shinichi dengan kesal.

"Aku senang kau menceritakannya padaku," ucap Shiho.

"Huh?" ucap Shinichi dengan bingung.

"Kau adalah sahabatku sebelum menjadi kekasihku dan aku senang kau masih memperlakukanku sebagai sahabatmu karena itu berarti aku tidak akan kehilangan sahabatku walaupun sekarang dia sudah menjadi kekasihku," ucap Shiho.

"Shiho," ucap Shinichi, kemudian dia memeluk Shiho. "Aku janji kau tidak akan kehilangan bagian manapun dari diriku meski aku menjadi kekasihmu, percayalah padaku," lanjutnya sambil tersenyum lembut dan sok romantis. Dia pun berpikir bahwa wajah Shiho sekarang pasti merah sekali dalam pelukannya. Tapi tentu saja pikirannya itu tidak sesuai dengan kenyataan karena Shiho nyengir mendengarnya.

"Jadi aku juga tidak akan kehilanganmu sebagai kelinci percobaanku?" tanya Shiho.

"Tentu saja," jawab Shinichi cepat sambil tetap tersenyum tapi beberapa detik kemudian keningnya langsung berkerut. "Apa kau bilang?" tanyanya sehingga Shiho melepaskan diri dari pelukannya.

"Begini, aku baru saja memulai proyek terbaruku...," ucapan Shiho dipotong oleh Shinichi.

"Aku tidak mau," ucap Shinichi.

"Tapi barusan kau bilang...," ucapan Shiho kembali dipotong oleh Shinichi.

"Itu karena kau menipuku," ucap Shinichi dengan nada menuduh.

"Apa maksudmu? Pokoknya tadi kau sudah bilang 'tentu saja' jadi kau harus mau," ucap Shiho.

Belum sempat Shinichi menyahut ucapan Shiho, ponsel Shiho berbunyi sehingga Shiho langsung mengambil ponselnya dari meja.

Shiho mengerutkan keningnya sambil membaca SMS yang masuk ke ponselnya sehingga Shinichi menjadi heran.

"SMS dari siapa?" tanya Shinichi.

"Ran-san. Dia bilang dia ingin bertemu denganku nanti siang di cafe Marple," jawab Shiho.

"Aku akan ikut denganmu," ucap Shinichi.

"Tidak perlu. Itu akan memperburuk keadaan. Lebih baik aku menemuinya sendirian," ucap Shiho.

"Tapi...," ucapan Shinichi langsung dipotong oleh Shiho.

"Tidak apa. Aku akan pergi sendiri. Kau tidak perlu khawatir. Lagipula ini pembicaraan antar wanita, jadi sebagai laki-laki, kau tidak boleh ikut," ucap Shiho.

Shinichi masih memandang Shiho dengan ragu selama beberapa saat sebelum akhirnya dia menghela nafas.

"Baiklah, kalau menurutmu begitu," ucap Shinichi.

XXX

Karena Shinichi tidak bisa tenang di rumah, dia pun pergi keluar dan menunggu Shiho di tempat yang agak tersembunyi di dekat cafe Marple meskipun Shiho sudah menyuruhnya menunggu di rumah. Kurang lebih satu jam kemudian, dia melihat Ran dan Sonoko keluar dari cafe Marple dengan geram. Lalu beberapa saat kemudian, dia melihat Shiho juga keluar. Dia melihat ada sesuatu yang aneh dengan Shiho sehingga dia segera menghampiri Shiho sambil mengerutkan keningnya. Shiho kelihatan terkejut ketika melihatnya.

"Sayang, apa yang...," ucapan Shiho langsung dipotong oleh Shinichi.

"Ada apa ini? Kenapa rambutmu berlumuran soda?" tanya Shinichi sambil menatap dengan tajam butiran-butiran soda yang menetes dari rambut Shiho ke leher dan baju Shiho.

"Tidak ada apa-apa," jawab Shiho.

"Apa mereka yang melakukan ini padamu?" tanya Shinichi dengan marah. "Aku tidak akan membiarkan mereka," ucap Shinichi dengan geram dan berniat mengejar Ran dan Sonoko tapi Shiho dengan cepat menahannya.

"Jangan, Kudo-kun. Ini bukan salah mereka. Tadi perdebatan kami menjadi panas, makanya ini terjadi," ucap Shiho.

"Tentu saja mereka salah. Mereka seharusnya tidak melakukan ini," seru Shinichi.

"Tidak apa. Lagipula aku memang pantas mendapatkannya. Setidaknya dengan begini, rasa bersalahku bisa berkurang," ucap Shiho sehingga Shinichi tertegun.

Kemudian Shinichi melepaskan lengannya dari pegangan Shiho dan masuk ke dalam cafe Marple sementara Shiho menatapnya dengan bingung.

Tak lama kemudian, Shinichi keluar dari cafe Marple dengan segelas soda di tangannya lalu berdiri di depan Shiho.

"Bukan hanya kau," ucap Shinichi, kemudian dia menyiram kepalanya sendiri dengan segelas soda yang dia bawa sehingga mata Shiho membesar karena kaget sekaligus bingung. Hal ini juga menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka.

"Aku pun juga bersalah, jadi aku juga pantas mendapatkannya. Dan mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan mereka berbuat seperti ini lagi padamu, kau mengerti?" ucap Shinichi.

"Kudo-kun, kau...," ucap Shiho kemudian dia tertawa sehingga Shinichi mengerutkan keningnya kepadanya.

Lalu Shiho menyadari kerumunan di sekitar mereka berdua sehingga dia menggamit lengan Shinichi dan menarik Shinichi pergi dari situ sebelum mereka menarik lebih banyak penonton.

"Kenapa tadi kau tertawa?" tanya Shinichi dengan kesal saat mereka sudah melangkah agak jauh.

"Karena aku sangat mencintaimu," jawab Shiho sambil tertawa kecil dengan rona merah tipis menghiasi wajahnya.

"Apa? Jawaban macam apa itu?" tanya Shinichi masih dengan kesal walaupun wajahnya memerah.

"Pokoknya aku sangat mencintaimu," sahut Shiho sambil tersenyum dan terus melangkah.

Shinichi masih mengerutkan keningnya selama beberapa saat tapi kemudian dia juga tersenyum.

"Aku juga sangat mencintaimu," ucap Shinichi.

Shinichi berhenti sejenak untuk melepaskan tangannya yang digamit oleh Shiho lalu dia menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Shiho. Setelah itu mereka kembali melangkah dengan senyum menghiasi wajah mereka, meskipun orang-orang yang berpapasan dengan mereka menatap mereka dengan heran bahkan geli dan ada juga yang berbisik-bisik karena melihat pasangan laki-laki tampan dan wanita cantik dengan rambut berlumuran soda.

Tamat.