Pinangan Sang Kazekage

by sava kaladze

Disclaimer: Masashi Kishimoto, who else…

.

.

Terima kasih untuk 32 reviewers yang sudah meluangkan waktu untuk memberi masukan atau sekedar bertanya. 32 itu jumlah yang banyak untuk 1 chapter fic saya hehehe…maaf jika saya tak bisa balas satu-persatu.

..

..

..

Chapter 2

..

..


Bukit itu terletak di sebelah selatan Konoha. Tidak terlalu jauh dari Gunung Hokage, karena kelima wajah hokage yang terpahat di gunung tersebut masih dapat terlihat dengan jelas. Rerumputan hijau terhampar rapi di sepanjang mata memandang dan bunga-bunga rumput yang berwarna-warni cerah tampak menyeruak dari balik hijaunya rerumputan dengan penuh menggoda.

Suasana yang semula tenang terusik mendadak dengan hadirnya deru angin yang memecah kesunyian. Bukan itu saja, deru angin tersebut merupakan awal dari munculnya butiran-butiran pasir yang beterbangan di udara. Sedetik kemudian, munculah butiran pasir dalam jumlah yang lebih banyak lagi, yang terlihat menyelubungi sesuatu di dalamnya.

Selubung pasir itu mendarat di rerumputan dengan suara tiupan angin yang kencang. Pasir kecoklatan tersebut perlahan terkuak, menampakkan sosok seorang laki-laki muda yang membopong seorang gadis di tangannya. Pasir milik Gaara tersebut dengan cepat berkumpul di udara dan masuk dengan cepat ke dalam bejana besar yang terletak di punggung sang kazekage itu. Pemuda berjubah putih itu dengan perlahan menjatuhkan kaki gadis yang berada dalam bopongannya, lalu membiarkan gadis itu berdiri dengan limbung.

Sakura, tak membuang waktu, begitu ia bisa berdiri di atas kedua kakinya lagi, ia langsung menatap tajam ke arah kazekage itu dengan penuh amarah.

"Kau!" telunjuknya teracung ke wajah Gaara. "Apa yang kau lakukan padaku? Seenaknya saja kau bawa aku seperti ini?"

Pemuda yang ia tunjuk tak langsung bereaksi. Kazekage muda itu menghela napas dalam-dalam, menatap lurus ke arah gadis yang tingginya badannya hanya sedikit lebih rendah dari dirinya itu dan sementara itu, wajahnya tetap menampakkan ketenangan yang luar biasa.

"Apa kabar, Sakura?" tanya Gaara dengan suaranya yang khas.

Sakura terperangah, tak percaya bahwa alih-alih menjawab pertanyaan emosionalnya tadi, Gaara malah menanyakan hal yang demikian sepele dan bersikap bahwa apa yang barusan ia lakukan—melarikannya terbang dalam kungkungan pasirnya, saat ia sedang berada bersama pemuda lain—adalah hal yang diperbolehkan. Hal yang tidak salah sama sekali.

Tentu saja, itu salah! Gaara bukan siapa-siapanya dan pemuda itu tak berhak menyentuh dirinya, apalagi membopongnya seperti itu. Tidak peduli meski ia seorang kazekage di Sunagakure.

Sakura menahan amarahnya di dalam dada. Tidak, yang ia rasakan bukan amarah, lebih tepat jika disebut sebagai rasa kesal yang menggerogoti hati bagaikan puluhan semut yang sedang menikmati sepotong kue beras. Pelan tapi pasti, kue beras itu akan habis dikunyah oleh semut-semut nakal tersebut.

Entah kenapa, Sakura merasa kehadiran Gaara di hadapannya saat ini, bagaikan semut nakal yang menggelitik hatinya dengan sungut kecil dan kaki-kakinya yang mungil. Kecil, namun sangat mengganggu.

Sakura masih menatap sengit ke arah shinobi andalan Sunagakure yang berjubah putih itu. Ingin sekali ia muntahkan segala kekesalannya yang sudah mengendap lama di dalam lubuk hatinya kepada laki-laki yang memang pantas mendapatkannya, laki-laki yang sekarang sedang menatapnya dingin dengan kedua bola mata hijau kebiruannya itu. Akan tetapi, Sakura bukan lagi seorang gadis kecil yang mudah setiap saat kehilangan kendali emosinya, sebagaimana dirinya di masa-masa yang lalu. Ia adalah gadis muda yang sedang dalam proses perkembangannya menjadi seorang wanita muda yang dewasa—kedewasaan yang bukan hanya dapat dilihat secara fisik lahiriah belaka, namun juga sikap dan cara berpikir. Luar dalam.

Gadis itu tertegun sesaat. Ya, ia sedang dalam tahap pendewasaan diri saat ini. Bukankah membiarkan kendali emosinya lepas di hadapan pemuda di depannya, itu akan membuat dia kehilangan image yang susah payah ia bangun selama sembilan bulan terakhir?

Aih, aih, tidak mungkin Sakura biarkan hal itu terjadi. Tigaa bulan pertama sekembalinya ia dari Suna merupakan neraka bagi dirinya, bagi hatinya. Bayangan wajah tampan nan misterius Gaara kerap berkelebat di benak dan matanya. Senyuman yang jarang tampak di wajah pemimpin Sunagakure itu, kerap ia angankan sendiri di dalam khayalannya. Perkataan bahwa ia akan datang untuk melamar Sakura pada Hokage, pernah ia nantikan kedatangannya dengan amat sangat menggebu-gebu.

Tapi apa yang terjadi…

apa yang ia tunggu-tunggu, hanyalah menjadi sebuah janji kosong belaka. Tiga bulan adalah ambang batas yang sengaja Sakura canangkan pada dirinya sendiri. Ia memberi dirinya kesempatan untuk berharap selama tiga bulan saja. Selama tiga bulan itu, ia biarkan dirinya mengkhayalkan kedatangan Sabaku No Gaara di gerbang Konoha. Selama tiga bulan itu, ia biarkan bayangan Gaara menggelitik hatinya tiap kali ia akan beranjak tidur. Selama tiga bulan itu, ia yakinkan dirinya bahwa Gaara sedang meyakinkan segenap Sunagakure untuk menerima diri Haruno Sakura sebagai wanita yang akan mendampingi kazekage mereka dalam menjalankan tugas yang tidak mudah.

Satu hari,

dua hari,

satu minggu,

dua minggu,

satu bulan,

dua bulan… akhirnya tiga bulan ia menanti, menanti dan menanti. Tidak pernah ada umbul-umbul Sunagakure yang melintasi gerbang Konoha, atau paling tidak secarik perkamen dari Sunagakure yang mengutarakan hal yang pernah Gaara janjikan padanya.

Sakura sudah pernah merasakan apa itu kekecewaan karena sesuatu yang begitu ia harapkan untuk terjadi, sama sekali tak terwujud dalam realita kehidupannya. Ia pernah begitu mencintai Sasuke dan menanti dirinya dengan segenap kesabarannya selama bertahun-tahun, akan tetapi pemuda Uchiha itu tak pernah menjadi miliknya. Sekarang, saat ia mulai merasakan hatinya kembali menyenandungkan lagu cinta saat bibirnya menyebut nama Gaara, apa itu artinya ia harus kembali bersabar selama bertahun-tahun hanya untuk kembali menelan pil pahit kekecewaan terhadap Gaara?

Jawabannya tidak.

Ia tak mau membasahi bantal kusamnya dengan air mata lagi. Ia muak mengingat dirinya yang selalu dikenal orang sebagai kunoichi yang menunggu kejatuhan cinta Uchiha Sasuke tiap kali mereka mendengar nama Haruno Sakura disebut. Ia menolak untuk mendengar nada kasihan orang saat menyebut dirinya sebagai kunoichi yang mengharapkan cinta Sabaku No Gaara.

Itu tidak akan terjadi!

Hidupnya harus berlanjut, meski dengan susah payah ia harus melupakan punggung polos kazekage muda itu. Sumpah mati, melupakan apa yang pernah ia lihat dan apa yang terjadi antara dirinya dan Gaara sama sekali tidak mudah. Tidak mudah sama sekali. Rasanya seperti ia harus disuruh melupakan bahwa Hatake Kakashi adalah gurunya dan Uzumaki Naruto adalah sahabat karibnya. Betul kan, tidak mudah! Bagaimana ia bisa disuruh melupakan sesuatu yang masih terus berkeliaran di depan matanya? Naruto dan Kakashi jelas masih berkeliaran di depan matanya dan Gaara…ia juga masih berkeliaran dengan leluasa di depan mata hatinya!

Semua butuh proses, Sakura tahu itu. Shikamaru adalah nama dari proses itu.

Sakura mendadak sadar ia belum menjawab pertanyaan pemuda berambut kemerahan itu. Ia melunakkan tatapannya yang sebelumnya setajam pisau.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, Kazekage-sama."

Mata hijau Gaara membulat sesaat, mengesankan ketidaksukaannya terhadap sebutan kazekage-sama yang digumamkan Sakura. Mulutnya terbuka sedikit, seperti ingin langsung bereaksi atas jawaban Sakura yang didengarnya barusan, akan tetapi ia sanggup menahan lidahnya di detik terakhir dan jadilah mulut yang sempat terbuka itu tertutup lagi.

"Maaf, aku membawamu dengan cara seperti ini. Aku harus bicara padamu, Sakura," kata Gaara dengan suaranya yang ia buat setenang mungkin.

Sungguh, Sakura tidak tahu bahwa saat ini kazekage muda yang bertubuh sedang itu sedang berjuang mati-matian mengatasi deburan hatinya yang bergolak dengan sangat kuat.

Masalah percintaan bukan spesialisasi Gaara, oleh sebab itu sangat wajar jika ia mati-matian berusaha menampakkan mimik tenang di hadapan gadis yang sudah merebut hatinya itu, bukan?

"Mengapa anda jauh-jauh dari Suna datang ke Konoha, Kazekage-sama? Tentu tidak untuk sekedar untuk berbicara padaku," Sakura memaksakan sebuah senyuman setengah menyeringai muncul di bibirnya. "…aku tidak sepenting itu bagi anda."

Gaara bukannya tak menyadari nada sinis yang samar di balik suara gadis bermata indah di hadapannya. Ia sadari itu, akan tetapi prioritasnya sekarang adalah mengetahui isi hati Sakura yang sesungguhnya terhadap dirinya. Sebelum lamarannya resmi ia ajukan pada Hokage besok siang sesuai jadwal yang disediakan Hokage, ia harus tahu bahwa ia tak akan ditolak mentah-mentah.

Ia tak siap mental untuk ditolak di depan khalayak ramai. Sungguh tak siap.

"Aku datang untuk menepati perkataanku di Suna waktu itu, setelah…apa yang terjadi antara kita…" Gaara menahan napasnya sesaat sebelum meneruskan perkataannya, "…di kamarku."

Wajah Sakura hampir saja memerah mendengar kata yang terakhir keluar dari mulut Gaara, hanya saja menunggu tanpa ada kejelasan selama tiga bulan pertama, merasa patah hati selama tiga bulan berikutnya dan hubungannya dengan Shikamaru selama tiga bulan berikutnya, telah mengajari gadis Haruno itu bahwa menunjukkan wajah yang merona di hadapan seorang laki-laki sedingin Gaara, tidak akan membuatnya mendapatkan apapun.

"Oh…itu," ujar Sakura dengan lirih. Ia lalu tersenyum tipis. Sangat tipis, akan tetapi sudah cukup membuat Gaara merasa sangat penasaran akan apa yang gadis itu katakan selanjutnya. Sakura mengerutkan alisnya, lalu dengan nada tenang berkata, "Aku rasa tidak ada yang terjadi antara kita saat itu, Kazekage-sama."

Gaara menatap Sakura dengan tatapan tak percaya. Jarak antara ia dan Sakura hanya berjarak sekitar dua meter dan dalam jarak sedekat itu, Sakura dapat menemukan bahwa ketenangan di wajah Gaara yang sebelumnya dapat ia jaga, mulai terusik.

"Kau sudah lupa, Sakura? Kau melihatku…"

Sakura memotong perkataan Gaara dengan cepat,"…saat sedang mandi? Ya, memang. Lalu? Itu tidak berarti ada sesuatu di antara kita, bukan?"

"Aku menciummu, Sakura!"

"Lalu? Apa itu menjadikan ada sesuatu di antara kita?"

Seandainya Gaara mempunyai alis, ia pasti sudah mengerutkan alisnya sampai bertaut keduanya, saking ia terkejut dengan apa yang Sakura ucapkan dengan enteng barusan!

"Sakura…"

Sakura melipat kedua lengannya di depan dadanya. Ia berdiri dengan tegap dan mulai menghentakkan kaki kanannya, seakan sedang menunggu apa yang akan dikatakan oleh pemimpin Sunagakure itu berikutnya.

"Ya?"

"Aku sudah katakan padaku bahwa menurut tradisi Suna, jika seorang perempuan melihat tubuh seorang laki-laki, maka sang laki-laki harus melamar perempuan itu untuk dinikahi. Kau ingat itu?"

Sakura mengangguk dengan cepat. Jantungnya mulai berdetak dengan lebih cepat. Ia sudah mulai menyadari kemana arah pembicaraan Gaara sesungguhnya. Ia sudah bisa menerka maksud kedatangan delegasi Suna ke Konoha seperti yang dirumorkan orang-orang, hanya saja mendengar Gaara mengatakannya dengan mulutnya sendiri, jelas membuatnya salah tingkah.

"Lalu?"

"Itu tujuanku ke Konoha. Aku ingin melamarmu."

Sakura menahan napasnya sesaat. Tubuhnya mendadak kaku dan entah kenapa, ia merasa udara di sekitarnya juga tiba-tiba berhenti. Burung-burung yang sempat ia dengar berkicau dengan lantang, angin yang ia dengar berdesau, pepohonan yang bergoyang ditiup angin dan dedaunan yang saling bergesekan dan menimbulkan suara yang pelan, semuanya mendadak senyap. Hilang. Sirna. Tak ada satu suara pun yang ia dengar, selain suara napasnya yang kencang dan suara napas Gaara yang juga terdengar tak tenang.

"Omong kosong," tutur Sakura dengan seringai kesal di wajahnya.

"Maksudmu?"

"Ucapanmu hanya omong kosong. Kau tidak berniat melamarku."

"Aku benar-benar ingin melamarmu, Sakura. Aku kemari…"

"Kenapa sekarang?" tanya Sakura dengan nada tegas.

Gaara tersentak. Tanpa sadar ia berjalan beberapa langkah mendekati Sakura. Sudah lama ia ingin melihat gadis yang telah mencuri hatinya itu, akan tetapi ego, keragu-raguan dan jarak telah merintangi keinginan hatinya yang terdalam.

Sekarang, saat Sakura sudah berada di hadapannya—hanya beberapa langkah untuk ia raih—jarak itu malah menjadi lebih jauh. Sikap dingin Sakura yang memperlebar jarak di antara mereka yang seharusnya cukup dijangkau dengan satu ayunan tangan.

Sakura memandanginya dengan kedua matanya yang hijau. Gaara dapat melihat tuntutan di balik mata Sakura yang tertuju padanya.

"Kenapa baru sekarang?" tanya Sakura lagi.

Gaara menghentikan langkah kakinya setelah jaraknya dan Sakura semakin dekat. Pemuda Suna itu mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Ia berusaha menguatkan hati dan jiwanya untuk menerima semua nada sarkasme yang Sakura tunjukkan lewat kata-kata dan tatapannya.

"Aku…"

"Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sembilan bulan yang lalu? Kenapa tidak saat itu?"

"Maaf Sakura, ini semua tidak mudah…"

"Kau bilang kau akan mengirim surat pada hokage."

"Aku sudah lakukan, itu sebabnya besok…"

"Sembilan bulan!"

"Tidak sembilan bulan, besok aku dan delegasiku…"

"Setelah sembilan bulan kau biarkan aku menunggu seperti orang bodoh, Gaara!"

Gaara tertegun. Di hadapannya, wajah Sakura memerah dengan kekesalan. Jarak antara mereka sudah semakin dekat. Ya, reaksi Sakura yang demikian emosional memperdekat jarak mereka tanpa gadis itu sadari. Wajahnya tak lagi sedatar sebelumnya dan kemarahan yang membingkai auranya, itu berarti sesuatu, bukan?

Gaara tersenyum tipis.

"Kau menungguku, Sakura? Betul begitu?"

Sakura menggigit bibirnya—sadar akan kesalahan kecilnya. Bodoh, kenapa kubilang aku menunggunya selama sembilan bodoh? Ia membatin. Bagus sekali, Haruno Sakura…kau langsung kehilangan poin di depan hidung kazekage itu!

"Jangan besar kepala, Kazekage-sama. Aku tidak sebodoh itu."

"Kau baru saja mengatakan menungguku selama sembilan bulan, Sakura."

"Bukan itu maksudku." Sakura mencoba mengalihkan perhatian Gaara dari ucapannya yang sebelumnya. " Mengapa kau baru menulis surat pada hokage, setelah sembilan bulan kejadian itu berlalu?"

"Aku sudah pernah bilang, aku akan memberimu waktu untuk berpikir."

Laki-laki bodoh! Kau memberikanku waktu terlalu lama, padahal seharusnya kau langsung saja melamarku saat itu juga!

Sakura mengepalkan tangannya di depan wajahnya. Tinjunya terkepal dengan rasa geregetan yang benar-benar menggerogoti perasaannya. Ingin sekali ia layangkan tinjunya ke wajah stoic sang kazekage, hanya untuk menghancurkan topeng dingin yang kerap menghiasi wajah unik pengendali pasir itu.

"Dan sekarang…aku membawamu kemari untuk mengetahui jawabanmu, Haruno Sakura."

Suasana kembali senyap. Keduanya berdiri saling berhadapan dalam diam. Tinggi badan mereka berdua yang tak berbeda jauh membuat mereka berdua terlihat seperti noktah hitam dari kejauhan—dari bawah bukit.

"Kau mau aku menjawab apa, Sabaku No Gaara?"

"Semua terserah padamu. Kau yang memutuskan. Aku berusaha menjalankan tradisiku, tapi semua keputusan ada di tanganmu."

Sakura meyeringai mendengar jawaban Gaara. Kata aku berusaha menjalankan tradisiku itu sungguh menyentak hatinya. Tradisi? Jadi itu saja arti diri Sakura di mata Gaara? Sebuah kewajiban untuk menjalankan tradisi. Jadi berbulan-bulan ia bimbang dan menanti, hanya untuk sebuah kewajiban menjalankan tradisi belaka.

Gaara sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa padanya!

Sungguh menyesakkan.

"Apa begitu?"

Gaara mengangguk.

"Kalau begitu, pertanyaanmu akan kujawab saat ini."

Gaara berdiri di tempatnya dengan tegap. Ujung jubah putihnya berkibar tertiup angin. Rambut kemerahannya berkilau ditimpa cahaya surya. Kulitnya yang pucat terlihat memerah, entah karena panas matahari atau karena perasaan khawatir yang saat ini mendera dirinya.

Sakura, tertunduk sesaat. Rambutnya yang panjang dan dibiarkan tergerai juga berkibar searah hembusan angin. Anak rambutnya yang biasanya tertahan oleh hitai-ate di atas kepalanya, hari ini terlihat nakal dan sibuk menggelitik matanya. Akan tetapi, hal tersebut tidak mengganggu Sakura sama sekali. Ekspresinya tetap sama—dingin—cukup untuk membohongi kazekage di hadapannya tentang apa yang sesungguhnya bergejolak di balik topeng wajahnya.

Mata Sakura sesungguhnya yang tidak mampu berbohong. Kekecewaan dan kesedihan bercampur aduk di sana. Jika ia tidak sedang berusaha membohongi dirinya sendiri, gadis itu tidak akan seterluka itu, bukan?

Aku sungguh pernah jatuh cinta padamu, Gaara…

Tapi,

"Kazekage-sama, aku…" Sakura menundukkan pandangannya—berusaha menahan airmata yang kapan saja siap jatuh membasahi pipinya—ia takut matanya akan mengkhianati mulutnya dan Gaara akan tahu apa yang sesungguhnya ia rasa jauh di dalam dirinya. "…aku tak bisa menerima lamaranmu."

Rahang pengendali pasir yang biasanya bertahta begitu garang di wajahnya nan unik itu jatuh ke bawah—ekspresi keterkejutan jelas-jelas tak bisa ditutupi oleh Gaara. Tubuhnya bergetar hebat dan ia tak berusaha menutupi bahwa ia tak percaya Sakura akan mengatakannya.

"Sakura…kau…tapi kenapa?"

Sakura mendongak, lagi-lagi berusaha menahan airmata turun dari matanya dan mengacaukan ketegaran yang sudah ia usahakan dengan sebaik-baiknya.

"Maafkan aku. Aku tak bisa menerima pinanganmu…Gaara…"

"Tapi kenapa?"

"Maaf."

"Apa kau tidak menyukaiku?"

Mulut Sakura terkuak, hendak menjawab tapi tak tahu mau mengatakan apa.

"Apa karena aku tak setampan Uchiha Sasuke?"

Kami-sama, bukan itu…

"Apa karena aku seorang jinchuuriki, dan pernah ada monster yang hidup dalam tubuhku?"

"Bukan begitu, Gaara…"

"Apa karena aku terlalu menakutkan untukmu?" suara Gaara mulai naik.

"Tidak Gaara, tidak…"

Gaara merasakan dadanya sesak. Ia melihat sosok gadis di depannya dengan matanya yang terasa memburam. Bukan, matanya buram karena airmata yang mendadak keluar dari matanya. Ia bukan laki-laki cengeng, jadi ia tidak akan menangis. Hanya saja, entah kenapa sesuatu di dalam dirinya memberontak, ingin keluar dari dalam. Pandangannya buram karena yang sedang memandangi Sakura sekarang bukan hanya dirinya, tapi juga…

'Kau ditolak, heh Gaara?'

Itu suara Shukaku!

Kami-sama, ia muncul lagi…

'Tidak menyenangkan kalau ditolak, bukan?'

"Gaara?"

Sakura melayangkan pandangan penuh selidik ke arah pemuda yang tubuhnya bergetar dan pandangannya nanar itu. Wajah Gaara memucat, lebih pucat dari ia biasanya. Matanya yang hijau dan terkadang seperti transparan, terlihat dipenuhi suatu emosi yang mengganggu perasaan Sakura. Kedua matanya yang dilingkari lingkaran kehitaman itu serasa penuh dengan kebencian dan amarah, akan tetapi bukan itu saja. Ada rasa sedih dan takut berpendar di sana.

Gaara tiba-tiba memegangi kepalanya dan merintih seperti sedang kesakitan. Badannya semakin bergetar hebat dan wajah yang sebelumnya datar, terlihat lebih menyeramkan dengan seringai yang muncul di sela-sela rintihannya.

"Pergi! Keluar dari tubuhku!" serunya tertahan.

"Gaara, ada apa?" tanya Sakura dengan rasa cemas. Dengan langkah perlahan ia mencoba mendekati Gaara, yang rupanya langsung disadari oleh pemuda pengendali pasir itu.

'Ia menolakmu, karena kau tidak baik, Gaara.'

'Ia takut padamu.'

'Ia takut kau akan membunuhnya, seperti kau membunuh orang-orang yang takut padamu dulu.'

'Wanita itu takut pasirmu akan mencekik lehernya saat kalian bersama.'

"Gaara, ada apa?" kembali suara Sakura terdengar lagi.

Gaara mendongak sesaat, memandang sekilas ke kunoichi Konoha itu. Matanya terlihat memohon.

"Pergi dari sini, Sakura. pergi jauh-jauh dari sini."

Sakura menggelengkan kepalanya berkali-kali, "Tidak, katakan dulu padaku apa yang terjadi denganmu."

"Shukaku. Shukaku, ia datang."

"Shukaku? Bukannya Akatsuki sudah mengekstraknya dari tubuhmu?"

"Kekuatannya ya, tapi jiwanya…ia masih berada di dalam tubuhku. Kumohon Sakura, pergilah dari sini. Aku takut ia akan mengambil alih kesadaranku."

"Itu tidak akan terjadi, Gaara."

"Pergilah, kumohon. Aku tak mau ia melukaimu."

"Tapi kenapa ia akan melukaiku?"

"Shukaku…" Gaara bernapas dengan susah payah. "… ia mau melukai orang-orang yang penting bagiku."

Sakura terkesiap. Gaara masih bergetar hebat, masih melawan sesuatu yang kasat mata yang hendak menguasai kesadarannya. Keringat terus keluar dari dahinya yang berkerut dan membasahi wajahnya yang pucat.

ia mau melukai orang-orang yang penting bagiku.

Apa itu artinya, aku orang yang penting bagiku dan itu sebabnya ia takut monster di dalam dirinya akan melukaiku, tanya Sakura dalam hatinya. Kami-sama…

"Arrgggghhh… jangan ganggu aku, Shukaku!" pekik Gaara seraya terus memegangi kepalanya.

"Gaara!"

"Kumohon Sakura, pergilah. Ia hanya marah dan merasa terhina karena kau menolakku, kumohon tinggalkan tempat ini. Aku akan coba mengendalikannya," pinta Gaara dengan suara yang lirih.

Alih-alih pergi seperti permohonan Gaara, Sakura malah melompat ke arah pemuda itu dan tanpa disangka-sangka, merengkuh pemuda itu ke dalam dekapannya.

"Aaaarrrgggg!" teriak Gaara.

"Bertahanlah Gaara. Tenangkan dirimu, tearik napas dalam-dalam. Kendalikan emosimu," bisik Sakura seraya merengkuh kepala berambut merah itu ke dadanya. Dengan perlahan ia usap rambut kemerahan milik pengendali pasir itu. Helaian rambut sang kazekage itu terasa halus di jemarinya yang kurus.

"Sakura, arrrrggghhh…"

'Ia menolakmu karena ia tidak suka padamu, Gaara. Ia membencimu.'

"Tidak, Sakura tidak begitu!"

'Kau tidak penting baginya.'

"Berhenti Shukaku! Itu tidak benar."

'Jika ia memang menyukaimu, mengapa ia menolakmu?'

"Itu…itu…itu karena Sakura menyukai orang lain!" seru Gaara dengan rasa sakit yang menusuk hatinya.

'Kalau begitu, ia pantas mati.'

"Tidak, jangan sentuh Sakura! Jangan coba kau sentuh dirinya, Shukaku!"

Sakura mendengarkan ceracau Gaara yang seakan bersahutan dengan suara yang tak dapat ia dengar. Mungkin ia memang sedang berbicara dengan Shukaku yang ada di dalam dirinya, suara batin yang tak mampu Sakura dengar. Yang Sakura mampu lihat dengan mata kepalanya sendiri adalah Gaara yang ketakutan dan kesakitan, dan itu cukup untuk membuatnya merasa prihatin pada pemuda yang sesungguhnya mempunyai tempat yang spesial di dalam hatinya.

Sakura mengetatkan rengkuhannya pada kepala Gaara dan kemudian berbisik, "Jangan takut Gaara. Ia tidak akan pernah menguasaimu. Kau adalah dirimu sendiri. Kau yang mempunyai kendali atas dirimu. Bertahanlah. Kau pasti mampu melakukannya, karena kau adalah Gaara. Kau adalah Gaara, dan kau bukan Shukaku. Kau adalah pemilik dirimu. Bertahanlah. Kau mampu melawannya."

'Wanita pembohong!'

"Tutup mulutmu, Shukaku! Kau yang pembohong. Sakura benar. Pergi dari sini. Ini bukan tempatmu. Aku tidak membutuhkanmu!"

'Kau bilang kau tidak membutuhkanmu, dasar anak bodoh!"

"Pergi!"

'Kau lebih memilih wanita itu daripada aku? Kau bodoh, Gaara!'

"Aku tidak bodoh dan kau tahu itu. Ya, aku memilihnya, karena ia segalanya bagiku."

'Kita lihat saja nanti, Gaara. Kita lihat saja nanti.'

Mendadak napas Gaara yang sedari tadi tersengal-sengal, menurun temponya. Perlahan dadanya naik turun dengan perlahan. Napasnya yang panas terasa di dada Sakura yang terbuka, terasa menggelitik di kulit gadis itu. akan tetapi, Sakura tidak melepaskan rengkuhannya pada diri pemuda itu. Ia, tanpa khawatir, tetap mengelus rambut pemuda itu bagaikan seorang ibu yang berusaha melindungi anaknya dan meyakinkan ia bahwa tiada yang perlu ia takutkan di dunia yang kejam ini.

"Sakura…" bisik Gaara.

"Tidak apa-apa Gaara,tak ada yang perlu kau takutkan. Kau aman. Percayalah."

"Terima kasih, Sakura…"

Kedua mata Gaara yang sebelumnya tegang dan penuh dengan kemarahan, perlahan tertutup dengan lemasnya. Tubuhnya beringsut lemah dan tak sampai beberapa detik kemudian, ia sudah kehilangan kesadarannya di dalam dekapan Sakura.

Sakura menahan tubuh Gaara yang entah pingsan atau mendadak tertidur itu dengan susah payah. Perlahan dibaringkannya tubuh kazekage muda itu sambil tetap memegangi kepala dan bahunya dengan sangat hati-hati. Ditatapnya wajah yang penuh damai itu dengan senyuman terpulas di bibirnya yang merah muda. Sakura tersenyum.

Gaara. Ia jarang tidur karena Shukaku tadinya, akan tetapi saat ia sudah terlelap seperti ini, ia terlihat seperti bayi.

Sakura menyentuh pipi Gaara yang kepucatan, meski tidak sepucat sebelumnya. Kulitnya halus dan begitu menggoda untuk disentuh lagi dan lagi.

Kami-sama, ia begitu menyukai pemuda ini.

Akan tetapi, sekarang ada Shikamaru yang begitu baik padanya dan ia sudah menolak Gaara yang telah memintanya untuk menjadi istrinya. Kami-sama…kenapa semuanya bisa jadi serumit ini?

Gaara tidak tahu, bahwa ia sudah melewati sembilan bulan yang berat karena bayangan wajahnya kerap mengganggu tiap kali Sakura menutup matanya!

Tradisi, itu katanya!

Apa tak bisa ia kemukakan alasan yang jauh lebih baik, yang telah membuatnya menunggu selama sembilan bulan untuk ke Konoha? Dasar laki-laki sombong!

Sakura menarik napas dalam-dalam, merasa dadanya bergejolak dengan keinginan yang tidak bersinergi dengan logikanya. Saat itulah ia mendengar kedatangan mereka.

"Gaara! Sakura!"

Dua sosok yang ia kenal melompat dengan cepat ke arahnya. Dua wajah yang familier itu menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran, apalagi saat mereka melihat Gaara yang terbaring di atas tanah. Temari langsung bersimpuh di tanah, menyentuh lengan Gaara dengan kecemasan yang tak ia sembunyikan sama sekali. Kankorou langsung mengikuti, di sebelahnya.

"Kalian…dari mana kalian tahu…"

"Shikamaru yang mengatakan pada kami," potong Temari dengan tidak sabar. " Apa yang terjadi pada Gaara, Sakura?"

Sakura melirik sekilas ke arah pemuda yang tak sadarkan diri itu, lalu kembali memusatkan pandangannya pada kedua kakak kandung Gaara.

"Shukaku."

Temari dan Kankorou saling berpandangan sekilas, tapi cukup untuk menyadari bahwa mereka saling memahami situasinya. Kankurou langsung menyisipkan tangannya ke bawah tubuh Gaara dan membopongnya dengan bantuan Temari.

"Biar kami yang bawa. Ia harus beristirahat," ujar Temari seraya memaksakan secuil senyuman untuk Sakura.

"Baiklah."

Temari dan Kankurou menganggukkan kepala pada Sakura dan bersiap pergi saat Sakura tiba-tiba menghentikan mereka.

"Temari!"

Keduanya menoleh ke belakang.

"Maafkan aku. Gaara mungkin jadi begitu karena aku…maafkan aku, aku tak bermaksud…"

Temari tersenyum. " Tentu saja Sakura, ia pasti mengerti. Bagaimana pun juga, terima kasih."

Sakura mengangguk lemah.

"Ia hanya terlalu bodoh untuk mengakui kalau ia telah jatuh cinta padamu."

Sakura mengernyitkan alisnya—tanda tak paham.

Temari menyeringai lebar," Gaara, ia bukan pemuda pada umumnya. Ia tak berpengalaman dengan wanita. Aku sudah bisa menebak, pasti anak ini mengacaukan keinginannya sendiri."

"Aku…ia…"

"Pikirkan saja ucapanku."

Sakura terperangah.

Temari mengedipkan sebelah matanya, lalu dengan cepat mengikuti Kankurou yang sudah melesat secepat anak panah yang lepas dari busurnya.

Sakura berdiri dengan kebingungan. Ia bukan gadis yang bodoh. Sedikit banyak ia paham akan apa yang dikatakan Temari.

Jadi, tidak hanya karena tradisi, heh?

Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling bukit dan akhirnya memaku matanya ke arah Gunung Para Hokage. Kelima kepala hokage seakan melihatnya dari kejauhan—ingin tahu apakah penolakan yang ia ucapkan tadi memang datang dari lubuk hatinya yang terdalam?

Lalu, bagaimana dengan Shikamaru?

.

.

To be continued

.

.


A/N: maaafffff, ternyata belum bisa saya tamatkan di chapter 2. Tunggulah 1 chapter lagi, sehingga kita tahu siapa yang kelak dipilih Sakura. Apa teman-teman mau memilih juga? Hehehehe…;)