Heart

Draco's POV

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco M. & Harry P.

Rate : T

Genre : Romance / Angst

.

#

.

Aku melihatnya disitu, duduk sendiri disudut perpustakaan. Mata hijaunya menerawang keluar jendela, entah apa yang dilihatnya. Selalu begitu, sejak perang berakhir dia lebih memilih menyendiri daripada bersama kedua sahabatnya yang selalu ribut itu. tapi aku bisa mengerti perasaannya, dia lelah, lelah memikul beban sebagai si anak terpilih sepanjang hidupnya, dan aku bersyukur bahwa dia hidup.

Dari sini, dari sudut yang berbeda aku menatap punggungnya yang tampak kesepian, apa yang dipikirkannya? Dia, Harry Potter, musuh besarku selama tujuh tahun di Hogwarts. Musuh? Aku sendiri tak tahu kenapa aku dulu begitu memusuhinya, padahal dia tak pernah melakukan hal yang buruk terhadapku. Mungkin aku iri, ya... aku, Draco Malfoy, yang selalu mendapatkan apapun yang kuinginkan dengan satu kata saja begitu iri melihatnya, karena dia terkenal, dia dipuja banyak orang.

Aku dan keluargaku selalu berlaku buruk padanya, tapi yang membuatku heran kenapa dia mau bersaksi dan meringankan hukuman keluargaku saat sidang setelah perang? Kurasa aku dan ibuku wajar saja sudah menyelamatkannya, karena akhirnya kami sadar kalau Voldemort, penyihir yang selalu orang tuaku junjung tinggi, hanyalah seorang penyihir gila yang tenggelam dalam ambisinya. Tapi itu tak buruk, dengan kesaksiannya orang tuaku hanya dipenjara selama satu tahun untuk mengembalikan nama baik keluarga kami, itu jauh lebih baik daripada hukuman mati yang divonis untuk seluruh pelahap maut.

Karena orang tuaku masih mendekam dalam penjara dan manor masih dalam sitaan kementrian maka pihak kementrian memintaku dan Harry untuk tinggal bersama di Grimmauld Place. Kami tinggal bersama dibawah pengawasan para auror yang terus menjaga kami dan memastikan kondisi kami aman.

Empat bulan bersamanya membuat kami sedikit terbuka, dia banyak bercerita tentang dua sahabatnya, tentang Dumbledore yang selalu menyayanginya, tentang Sirius Black sebagai ayah baptisnya juga tentang Severus Snape yang melindunginya dengan caranya sendiri. Tapi tak sekalipun dia bercerita tentang kedua orang tuanya, karena dia tak pernah mengenal mereka. Aku semakin mengerti kalau yang sebenarnya paling menderita adalah dia, berapa banyak bocah yang bisa bertahan hidup tanpa kasih sayang orang tuanya? Dan dengan egoisnya aku selalu menjahatinya, sekali dalam hidupku aku merasa begitu menyesal, aku menyesal telah menyakitinya.

Selama empat bulan aku semakin mengenalnya, dan entah bagaimana caranya timbul rasa yang berbeda dalam hatiku, aku tak tahu perasaan apa itu, hanya saja aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Sampai saat seminggu sebelum kami kembali ke Hogwarts aku memintanya untuk menjadi... kekasihku? Entahlah, aku tak yakin kalau aku mencintainya. Aku masih ragu walaupun aku sudah menciumnya bahkan sudah memiliki tubuhnya saat malam terakhir di Grimmauld Place.

Kini saat kembali ke Hogwarts perbedaan asrama memisahkan kami, aku tak bisa sering bertemu dia dan bersamanya seperti selama empat bulan lalu. aku mencoba bersikap biasa saja, selama ini kami juga tak pernah lebih dekat saat di sekolah. Aku kembali menutup hatiku, aku anggap saat empat bulan di Grimmauld Place hanyalah sebuah kesalahan, tak mungkin aku, seorang Draco Malfoy, mencintai dia, ini gila.

Dan kini aku masih memandangnya dari sudut yang berbeda di perpustakaan, dia masih melamun. Perlahan aku menghampirinya, "Kalau kau tak berminat membaca buku itu, berikan padaku," kataku dengan nada yang orang tahu hanya milikku.

Dia terkejut dan menatapku dengan mata hijaunya, "Kubilang kalau kau tak berminat cepat berikan buku itu padaku, disini cuma tinggal itu yang belum keluar," lanjutku tak sabar karena dia masih diam saja. Dia menghela nafas panjang dan memberikan buku itu padaku. Dalam hati aku sedikit kesal, dia selalu bersabar menghadapi sifatku yang dingin dan kaku. Aku duduk didepannya dan mulai membaca, tidak ada maksud apa-apa, aku hanya sedang malas sendirian.

"Kau sudah menyelesaikan esai ramuanmu, Draco?" tanyanya pelan.

"Sudah," jawabku singkat, lalu kami kembali diam. Tak lama aku melihatnya sibuk meyelesaikan tugas ramuannya, aku melihat dia menggaruk rambut hitamnya yang selalu berantakan, dia tampak bingung sambil membalik-balik bukunya. Dengan tak sabar aku merebut pena bulunya dan melingkari satu kolom, "Kau cari disini jawabannya," tunjukku.

Tak lama aku melihat Weasley dan Granger masuk ke dalam perpustakaan, aku yakin mereka pasti mencari Harry. Aku tak suka berurusan dengan mereka, aku berdiri dan meninggalkan Harry begitu saja.

.

#

.

Saat makan malam di aula besar aku melihatnya lagi di meja Gryffindor, dia tampak tak nyaman ditengah teman-temannya yang selalu menanyakan hal seputar perangnya bersama Voldemort. Aku tahu kalau dia tak suka diperlakukan sebagai pahlawan, tapi selalu saja dia bersikap naif, membohongi dirinya sendiri demi kesenangan oang lain, 'Bodoh', rutukku dalam hati.

Aku berdiri lalu menghampirinya, kutepuk bahunya dari belakang dan dia terkejut, "What?" tanyanya bingung.

Aku mengedikkan kepalaku ke pintu aula besar, "Ikut aku," jawabku singkat, hampir saja aku ribut dengan Weasley karena dia keberatan Harry pergi bersamaku, hanya dia yang masih belum menerima aku berdamai dengan Harry. Aku tak peduli pandangan semua orang, mereka tahu kalau aku dan harry sekarang bukan lagi sebagai musuh.

.

Kami duduk di teras menara astronomi yang kosong dan gelap, "Kenapa kau mengajakku kesini?" tanyanya heran.

"Kupikir kau sudah kenyang menjawab banyak pertanyaan dari teman-temanmu," jawabku datar.

Dia tertawa, dan aku suka mendengarnya begitu, sudah lama aku tak mendengar tawanya. Dia sibuk menyendiri selama di Hogwarts, aku juga melihat dia mulai jarang menghabiskan waktu dengan kedua temannya itu. Kesunyian yang tercipta diantara kami terasa menyenangkan, dan entah kenapa perasaan saat di Grimmauld Place dulu kembali menyapaku. Tanpa berpikir panjang aku meraih wajahnya dan mencium bibirnya. Aku merasa lubang di hatiku yang tercipta beberapa minggu ini kembali tertutup. Aku semakin hilang akal saat dia membalas ciumanku bahkan melingkarkan lengannya di bahuku. Jantungku berdebar semakin kencang saat kurasa gairah yang dulu pernah tercipta antara aku dan Harry menerpaku dengan begitu kerasnya. Aku tersentak, kudorong tubuhnya menjauh, 'Ini gila, aku tak boleh mengulangi kesalahan yang sama', batinku.

"Draco?" tanyanya bingung.

Aku berdiri dan memalingkan wajahku, "Sudah malam, aku harus kembali ke asrama," kataku cepat sambil berlalu meninggalkannya yang masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Kututup pintu menara astronomi dengan keras agar degup jantungku tak terdengar oleh telingaku sendiri. 'Aku harus menjauhi Harry, ini bukan cinta, saat itu hanya kesalahan, kami hanya terbuai oleh keadaan saja. Aku seorang Malfoy, aku tak boleh menjadi gila', bisikku berulang-ulang dalam hati.

.

#

.

Sejak malam itu aku berusaha menjauhinya, aku tak mau semakin terjerumus dalam perasaan gilaku ini. Aku tak pernah lagi menghampirinya saat dia sedang sendiri, dan aku selalu berada disekitar teman-teman Slytherinku agar dia tak bisa mendekatiku. Aku harus kembali menjadi Malfoy yang dulu, aku tak mau terbuai lagi.

Siang ini semua murid pergi ke Hogsmeade, tapi aku memilih untuk duduk sendiri di halaman samping sambil membaca buku. Tiba-tiba satu suara mengejutkanku, "Draco," panggilnya. Aku tak perlu menoleh untuk melihat siapa yang menyapaku dan berdiri di dekatku. 'Sial, kupikir dia pergi bersama Weasley dan Granger', rutukku dalam hati. Aku tak menjawab panggilannya, aku tetap berusaha berkonsentrasi pada buku yang kupegang.

"Kau sudah makan siang?" tanyanya sambil duduk disampingku.

"Belum," jawabku singkat. Aku merasa kesal, kenapa dia tak pergi saja dan membiarkanku sendiri?

"Mmmh... Draco, ada yang mau kubicarakan," katanya sedikit ragu.

'Merlin, aku tak ingin membicarakan apa-apa, terutama tentang hubungan kami yang sudah lewat itu', batinku. Aku tetap diam.

"Draco..." panggilnya lagi dengan sedikit keras.

Aku mendengus kesal, kututup bukuku dengan keras lalu aku berdiri, "Tidak sekarang, Harry," kataku sambil berlalu dari hadapannya.

Aku tak mau menoleh ke belakang, karena aku tak mau kalah oleh tatapan mata emeraldnya. 'Tidak, Draco, jangan jerumuskan dirimu lagi. Kau harus mengakhiri ini', bisik hatiku.

.

#

.

Malam ini aku, Blaise dan Theo duduk di koridor samping. Jam makan malam belum mulai jadi kami putuskan untuk mencari udara segar saja dulu. Aku hanya menjadi pendengar obrolan mereka karena yang ada di kepalaku saat ini adalah bagaimana caranya aku mengakhiri semua dengan Harry.

Disaat aku sedang memikirkan caranya tiba-tiba Harry muncul dan memanggilku, aku mengernyit bingung, apakah ini hanya kebetulan?

"Aku perlu bicara denganmu, sekarang," katanya padaku.

Aku menghela nafas panjang, mungkin memang sekarang waktu yang pas, "Baiklah," jawabku sambil berjalan mendahuluinya.

.

Suasana hening kali ini membuatku tak nyaman, tidak seperti hening-hening yang dulu yang selalu membuat kami tenang.

"Draco," panggilnya memecahkan keheningan yang tercipta sejak tadi. "Aku hanya ingin memastikan semua yang ... telah terjadi..."

"Tak ada yang terjadi, Harry," potongku. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi tentang hubungan kami, semua hanyalah kegilaan sesaat.

Aku bisa melihat dia tercekat, "Ap-apa maksudmu?" tanyanya bingung.

Aku memutar tubuhku menghadapnya, "Tak pernah terjadi apa-apa diantara kita," jawabku pelan. "Lupakan semuanya, Harry," lanjutku dan langsung meninggalkannya, karena aku tak mampu lebih lama lagi melihat kilau emerald yang memancarkan rasa sakit yang begitu besar itu. Dan aku sadar kalau lukanya kali ini lebih dalam dibandingkan dulu saat aku memusuhinya.

Aku menuruni tangga menara dengan langkah gontai, sekuat tenaga aku tak mempedulikan rasa sakit yang menggores di sudut hatiku, 'Ini bukan apa-apa, ini hanya rasa bersalah karena aku telah melukainya', bantahku.

.

#

.

Hampir seminggu aku sama sekali tak ada kontak dengan Harry, bahkan bertegur sapa pun tak pernah karena kami saling menghindar. Sampai sejauh ini semua baik-baik saja dan membuatku semakin yakin kalau aku memang tak pernah mencintainya. Yang terjadi pada kami saat tinggal bersama di Grimmauld Place lalu hanyalah kesilapan semata, karena kami hanya berdua, karena kami sama-sama merasa kesepian, hanya itu.

Aku berjalan sendiri menyusuri koridor kastil yang telah sepi, jam malam hampir tiba dan otomatis semua murid telah berada di asrama mereka. Dalam kesunyian seperti ini entah kenapa aku teringat akan Harry, bagaimana kabarnya? Tak salah kan kalau aku sedikit bertanya akan itu? Kami sekarang bukan musuh dan itu adalah suatu yang wajar.

BUGGH…

Aku terkejut saat tubuhku menabrak seseorang, atau lebih, saat akan berbelok diujung koridor, "DIMANA MATA KALIAN?" bentakku kesal karena mereka telah membuyarkan lamunanku. Aku terkejut begitu tahu kalau yang ku tabrak adalah Weasley bersaudara, Granger dan… Harry. Dia terjatuh, 'kenapa dia? Kenapa dia tak segera berdiri?', Tanyaku dalam hati.

"MATAMU YANG BUTA, APA KAU TAK MELIHAT KAMI?" balas Weasley.

Aku mendengus, "Kenapa aku harus melihat kalian?" tanyaku ketus.

"SETIDAKNYA PAKAI MATAMU DENGAN BENAR," teriak Weasley lagi dengan marah. Aku berusaha membalas sampai kudengar teriakan Granger, "CUKUP RON, MALFOY, HENTIKAN PERTENGKARAN KALIAN, HARRY HARUS SEGERA DIBAWA KE RUMAH SAKIT, DIA SEMAKIN LEMAS."

Aku melihatnya berusaha berdiri, dan aku tercekat melihat darah telah membanjiri tangannya. Jantungku bagai dihantam godam, 'Harry…', kataku panik dalam hati. Tanpa sadar aku mendorong Weasley dengan keras saat kulihat tubuh Harry terhuyung, aku segera menangkapnya dan mengalungkan lengannya di pundakku.

"LEPASKAN TANGANMU DARI HARRY, MALFOY," teriak Weasley sambil berusaha melepaskan tanganku dari tubuh Harry.

"TUTUP MULUTMU, WEASEL," teriakku marah. Aku sudah cukup shock melihat keadaan Harry. Aku tak mempedulikan mereka lagi, aku memapah Harry berjalan menuju Hospital Wing, "Bodoh, apa yang telah kau lakukan, Harry?" bisikku padanya, dan dia tak menjawab, tubuhnya melemas dan jatuh pingsan. Aku langsung memeluknya sebelum tubuhnya menghantam lantai batu yang dingin, aku tak peduli bagaimana pandangan ketiga Gryffindor lainnya saat melihatku begitu panik. Aku menggunakan mantra Mobilicorpus untuk membawa Harry ke rumah sakit.

.

Sesampainya di Hospital Wing madam Pomfrey segera menangani luka Harry. Aku begitu cemas, entah kenapa aku ingin menemaninya malam ini tapi madam Pomfrey tak memberikan ijin, dia mengusir kami keluar agar Harry tak terganggu.

"Malfoy, terima kasih," kata Granger begitu kami berada diluar.

"What? Kenapa kau berterima kasih padanya, Mione?" seru Weasley. Aku tak mau membalas lagi, aku cukup lelah untuk berbicara. Dengan diam aku meninggalkan mereka, saat itu aku yakin kalau aku merasa begitu cemas akan keadaan Harry, 'Tidak, wajar kalau aku cemas, dia adalah temanku', bantah hatiku.

Aku terus melangkah menuju asramaku di bawah tanah.

.

.

Pagi telah tiba tapi tak sedetikpun aku berhasil memejamkan mataku untuk tidur, masih terbayang darah yang mengalir dari tangan Harry tadi malam, 'apa yang terjadi? Kenapa dia bisa seperti itu? Bagaimana keadaannya sekarang? Masih terasa sakitkah?', beribu pertanyaan berkecamuk dalam hatiku.

Dengan kesal aku membuka pintu kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air dingin. Setelah berpakaian rapi aku berniat menjenguk Harry sebentar di Hospital Wing sebelum pelajaran pertama dimulai, aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya.

Sesampainya di ruang tunggu aku melihat pintu rumah sakit itu terbuka sedikit, langkahku tertahan di depan pintu saat aku mendengar suara seorang gadis diruangan itu. Aku mencoba mengintip kedalam, dan kali ini aku benar-benar yakin kalau ada sedikit rasa perih disudut hatiku saat melihat Ginny Weasley menggenggam tangan Harry bahkan menciumnya dengan lembut.

Aku mengepalkan tanganku saat mendengar Harry tertawa bersama mantan kekasihnya itu. Rasa panas menyergap dadaku lalu aku meninggalkan tempat itu dengan perasaan marah. 'Marah? Kenapa aku harus marah? Ini gila', rutuk batinku.

.

#

.

Pelajaran Profesor Binns membuatku malas mengikuti kelasnya, akhirnya akupun memilih duduk di deretan paling belakang. Blaise dan Theo sudah datang lebih dulu jadi aku terpaksa duduk sendiri, lagipula tak ada anak yang berani duduk bersamaku selain mereka berdua. Pelajaran hampir dimulai saat kulihat Harry membuka pintu kelas dan tampak bingung harus duduk dimana karena deretan lain sudah penuh. Aku menarik tasku dari kursi kosong disampingku dan menyuruhnya duduk disana. 'Tak apa, toh sudah lama kami tak berkomunikasi', kata hatiku, tapi kenapa aku merasa begitu senang saat dia menghampiriku?

Aku melihat tangannya yang masih dibalut perban putih, tanpa sadar aku meraihnya dan tersentak saat dia menarik tangannya dengan kasar, ada sedikit rasa sakit di hatiku, 'mungkin karena aku tak biasa ditolak', lagi-lagi aku berusaha membantah. Aku melihatnya mengernyit sambil memegang tangannya yang terluka, "Sakitkah?" tanyaku sedikit cemas.

"Tidak," jawabnya singkat.

Aku mengangguk dan mulai menyimak pelajaran Profesor Binns, tapi ternyata kadar kebosanan pelajaran sejarah sihir tetap membosankan sejak dulu dan aku mulai merebahkan kepalaku diatas meja. Tanpa sengaja aku memperhatikan wajahnya yang mencoba berkonsentrasi pada pelajaran walau aku tahu tak ada murid yang mampu menangkap pelajaran ini seratus persen. Dalam hati aku tersenyum, tiba-tiba mataku terasa semakin mengantuk, ada rasa nyaman yang aku rasakan saat ini, entahlah.

Diantara lelapku aku merasakan satu tangan menyibak rambutku yang menjuntai kedepan, sentuhannya begitu lembut, begitu hangat. Dulu... aku pernah merasakan sentuhan ini, sentuhan yang sangat kusuka. Sentuhan yang dulu selalu membelai rambutku disaat aku merebahkan kepalaku dipangkuannya ketika kami sedang berada di perpustakaan keluarga Black. Sentuhan yang membelai pipi dan lenganku saat kami melewatkan malam terakhir kami menjadi satu kesatun yang sempurna.

Perlahan kubuka mataku dan menatap langsung mata hijaunya yang bersinar indah, dia tampak gugup. Tanpa sadar aku meraih jemarinya sebelum dia menariknya kembali dan kugenggam dibawah meja, agar dia tak malu jika ada yang melihat. Kugenggam dengan begitu lembut agar tanganku tak menyakitinya, setelah itu rasa kantuk kembali menyerangku dan aku kembali terlelap sampai saat pelajaran berakhir.

Begitu terbangun aku sadar akan apa yang kulakukan, jantungku berdebar kencang dan aku langsung meninggalkannya begitu saja, 'Maafkan aku', bisik hatiku saat kulihat mata hijaunya kembali terluka.

.

#

.

Aku benci saat malam tiba, semua langsung terasa sepi, dan disaat sepi seperti ini aku selalu teringat akan Harry. Bibirku tersenyum mengingat betapa hangat sorot matanya saat aku memintanya untuk selalu bersamaku, aku ingat senyumnya saat dia menyetujui permintaanku. Dan tiba-tiba hatiku terasa perih saat aku ingat betapa aku telah menyakitinya saat di menara astronomi malam itu. dengan kejam aku telah meredupkan sorot emerald yang sangat aku sukai.

Langkahku terhenti saat aku melihat Harry berbincang akrab dengan Ginny Weasley, lagi-lagi hatiku terasa sakit. Ada lubang besar yang menganga disana. Darahku begitu mendidih saat kulihat gadis itu mencium pipi Harry dan Harry membalas dengan pelukan yang erat. Ingin rasanya kupukul wajah perempuan itu, juga Harry, bisa-bisanya mereka membuatku begitu marah?

Setelah Weasley itu pergi aku menghampiri Harry dari belakang, "Kulihat kau begitu gembira, Harry?" sapaku.

Harry memutar tubuhnya dan terkejut saat melihatku berdiri di dekatnya, "Draco," katanya.

"Senang melihatmu telah kembali bersama Weasley wanita itu," sindirku sinis. Aku semakin kesal karena dia hanya diam saja tak membantah perkataanku. "Apakah kau akhirnya juga menyadari kalau 'saat itu' adalah sebuah kesalahan?" tanyaku lagi berharap kali ini dia menjawab 'tidak'. Entahlah, saat ini aku sangat ingin membalas sakit hatiku padanya.

Aku tercekat saat dia menantang tatapan mataku, mata hijaunya tampak begitu marah, "Ya, Draco," jawabnya yang mampu membuatku hampir kehilangan kendali.

Aku mengepalkan tanganku sekuatnya dan melangkah semakin mendekat, "Berarti sekarang kau bisa melakukan yang benar bersamanya, kan?" balasku pedas.

"Itu bukan urusanmu," jawabnya sambil berbalik hendak meninggalkanku. Aku semakin kesal, kutarik lenganku dengan keras sehingga punggungnya menabrak tembok, "KENAPA KAU INI, DRACO?" teriaknya marah. Tapi aku lebih marah darinya, kuhantamkan kepalan tanganku pada dinding batu disamping kepalanya.

"Aku membencimu, Harry, sangat membencimu," desisku pelan, dadaku benar-benar terbakar karena tak sekalipun dia membantah tuduhanku. Tanpa sadar aku mencium bibirnya dengan kasar, 'kau milikku, Harry, kau milikku', teriak hatiku berulang-ulang. Aku semakin keras menciumnya saat dia berusaha memberontak, 'jangan menolakku, Harry', teriak hatiku lagi. Kali ini dorongannya begitu keras sehingga dia berhasil menjauhkan tubuhku darinya.

Aku tercekat melihat darah mengalir dari bibir bawahnya yang membengkak, aku begitu menyesal. Kusentuh bibirnya yang terluka, kuusap dengan lembut berharap luka itu segera hilang. Tapi menyentuhnya membuat dadaku bergetar dan kurasakan logikaku menghilang saat tanpa kusadar aku telah memeluk tubuhnya yang gemetar, entah karena sedih atau marah, yang pasti aku benar-benar menyesal, "Maafkan aku, Harry, maafkan aku," bisikku.

Aku tersentak saat dia berusaha meronta dari pelukanku dan aku tak sadar kalau lenganku terus memeluknya, aku tak ingin melepaskannya walau dia mendesis marah. Aku tak tahu, aku hanya tak ingin kehilangan kehangatan yang kudapatkan kembali saat memeluknya.

Tapi mau tak mau aku terpaksa melepaskan pelukanku saat kudengar suara langkah kaki di ujung koridor yang gelap, "Harry?" panggil suara seorang gadis, "Kau masih disini?" tanya gadis itu yang ternyata adalah Ginny Weasley. Tubuhku menegang, aku sungguh tak ingin melihat wajahnya saat ini.

Aku tercekat saat mata emerald itu menatapku penuh amarah, dan duniaku seakan hancr saat aku mendengar kata-katanya sebelum dia pergi, "Asal kau tahu, Draco, aku pun membencimu," dan aku hanya bisa terdiam sambil memandang punggungnya yang semakin menjauh. Dadaku terasa sakit saat Harry meninggalkanku begitu saja dan lebih memilih untuk menghampiri gadis itu. sekuat tenaga aku berusaha mengendalikan amarahku saat aku melihat tangan mereka bergandengan sambil meninggalkan tempat ini.

Tubuhku merosot lemas, aku terduduk dilantai dengan punggung bersandar pada dinding batu yang dingin. Kuremas rambut pirangku, 'Ada apa denganku? Bukankah aku tak mencintai Harry? Lalu kenapa aku harus seperti ini?', rintih batinku. Rasanya begitu sakit, sangat sakit sampai aku tak tahu bagian tubuhku yang mana yang merasakan itu.

.

#

.

Entah berapa lama waktu terlewati sejak pertemuan terakhirku dengan Harry. Sejak kejadian itu dia sama sekali tak mempedulikanku. Tak lagi kulihat mata hijaunya yang menatapku, apalagi sapanya, dia benar-benar menghindariku.

Aku mencoba untuk tak peduli dan kembali meneruskan hidupku seperti biasa, tapi gagal, aku terus berharap kilau emerald itu bersedia memandangku lagi. Tak perlu dengan tatapan lembut atau hangat, aku hanya ingin dia mengetahui keberadaanku.

Malam ini aku terus menatapnya dari meja asramaku, dan seperti biasa tak sekalipun dia memandang ke arahku. Ada rasa kosong yang tak bisa aku tahu dimana letaknya, yang pasti di ruang kosong itu terasa begitu gelap dan dingin.

Aku melihatnya melamun tanpa menyentuh sedikitpun makan malamnya, 'Apakah dia memikirkanku?', tanya hatiku. Aku cepat-cepat mengalihkan pikiranku, 'Tidak, tak ada hubungannya denganku', bantah hatiku lagi.

Jantungku berdebar kencang, ada rasa panas yang membakar dadaku saat kulihat dia tertawa dengan Weasley perempuan itu, dan ingin rasanya kulemparkan satu mantra pembunuh saat kulihat gadis berambut merah itu berdiri dan menarik tangan Harry supaya mengikutinya. Kutulikan telingaku saat terdengar olok-olok dari teman-teman seasrama mereka yang mengatakan betapa romantisnya mereka, 'BRENGSEK, TUTUP MULUT KALIAN, BANTAH KATA-KATA MEREKA, HARRY', teriakku dalam hati, dan aku semakin marah saat kulihat Harry dan gadis itu menanggapi mereka dengan tersenyum.

Aku memandangi punggung mereka sampai keduanya hilang dari aula besar dengan masih bergandengan tangan. Aku terkejut saat Blaise menyentuh tanganku yang entah sejak kapan bergetar hebat, "Kau tak apa-apa, Draco?" tanyanya.

Aku menyentakkan tanganku dan berdiri, "Bukan urusanmu," jawabku dingin sambil melangkahkan kakiku keluar dari tempat itu.

Tanpa sadar aku mengikuti dua orang yang membuatku begitu marah itu, 'Marah? Kenapa aku harus marah? Ada apa denganku?', perang batinku.

Aku bersembunyi di balik pintu halaman belakang, aku melihat mereka berbincang dengan begitu akrab, begitu mesra. 'Mesra? Brengsek, apa yang mereka bicarakan?', gerutuku dalam hati karena tak bisa mendengarkan percakapan mereka.

Aku terus menahan gejolak dadaku yang semakin memanas saat kulihat mereka tertawa dan gadis itu menggenggam tangan Harry dengan begitu lembut, aku semakin marah karena Harry tak juga menepis tangan itu.

aku menggenggam tongkat sihirku dengan begitu kuat berharap aku mampu menahan amarahku untuk tak melemparkan satu kutukan pada mereka, dan tubuhku menjadi lemas saat kulihat Harry memeluk gadis itu. Harry memeluknya dengan begitu erat, 'Begitukah? Inikah jawaban dari semuanya? Inikah hukuman untukku karena menyakitinya? Sakit seperti inikah yang dia rasakan saat aku memaksanya melupakan semua?', beribu tanya menyerang batinku.

Aku tak mampu memandang lebih lama lagi, ruang kosong itu kini benar-benar terasa kosong. Aku tersentak saat Harry memandangku, kali ini dia kembali menatapku, tapi dengan tatapan yang tak bisa ku artikan. Mungkin dia sedang tersenyum dalam hatinya dan menertawakanku. Kukibaskan jubahku dan berbalik meninggalkan tempat itu dengan rasa sakit yang entah berasal dari mana.

.

#

.

Aku duduk dengan tidak nyaman di depan Minerva McGonagall, "Apakah ada sesuatu yang penting sampai anda harus memanggilku kesini, Profesor?" tanyaku penasaran.

Kepala sekolah pengganti Dumbledore itu hanya tersenyum kecil dan menggeleng pelan, "Kita tunggu seorang lagi, Mr. Malfoy, ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada kalian," jawabnya bijak.

Aku menghela nafas panjang, entah kenapa aku mencoba menebak siapa seorang lagi yang dimaksud oleh wanita di depanku ini. Dan benar saja, aku tak begitu terkejut saat melihatnya masuk ke dalam ruangan tempat aku menunggu sejak tadi. Lain halnya dengan Harry, dia tampak begitu terkejut melihatku dan aku mencoba untuk tak melihat wajahnya. Aku menahan getaran dadaku yang ingin sekali memandang kilau emeraldnya yang telah lama tak kulihat.

Rasa sakit yang selalu tak kuhiraukan akhir-akhir ini kembali menyapaku saat dia pun sama sekali tak peduli pada keberadaanku.

"Baiklah, karena kalian sudah berkumpul maka aku bisa menyampaikan hal ini pada kalian," suara McGonagall memecah keheningan diantara kami.

"Ada apa, Profesor?" tanyaku tak sabar, karena aku tak suka melihat kilau cemas di mata Harry.

"Aku hanya ingin menyampaikan kalau untuk liburan Natal nanti kalian masih tetap berada di bawah pengawasan para auror sampai orang tua Mr. Malfoy dibebaskan dari Azkaban," jawab kepala sekolah, "Kalian berdua tetap kembali ke Grimmauld Place."

Aku melirik ke arah Harry dan aku bisa melihat wajahnya memucat, 'Brengsek, sebegitu tak ingnnya kah dia bersamaku?', makiku dalam hati.

"Biarkan aku kembali ke Manor saja, atau aku akan tetap disini, Profesor," kataku cepat, aku tak suka melihat Harry tampak tertekan dengan keputusan kepala sekolah.

"Ya, kurasa keadaan sudah cukup aman untuk kami, Profesor," kata Harry menyambung perkataanku. Dan aku hanya terdiam menikmati sakit yang bermain di dadaku.

Profesor McGonagall mengangguk-angguk pelan, "Kalau kalian berdua ada disini aku rasa tak masalah, tapi kalau berada diluar Hogwarts kalian harus berdua. Dan kau tak boleh kembali ke Manormu dulu, Mr. Malfoy," jawab wanita yang sudah terlihat tua tersebut.

"Kalau diijinkan aku akan berada di kediaman keluarga Weasley," kata-kata Harry membuatku mendengus kesal, amarah hampir pecah di kepalaku, ternyata dia lebih memilih bersama Weasley wanita itu dibandingkan denganku.

Aku berdiri dan melangkah cepat meninggalkan ruangan itu, "Aku tinggal disini, Profesor," kataku sebelum menutup pintu di belakangku dengan keras.

.

#

.

Aku menunggu di koridor yang sepi sampai aku melihat Harry keluar dari ruang kepala sekolah. Aku menunggunya mendekat sampai aku mengutarakan apa yang ku pikirkan.

"Jadi, kau tetap memilih tinggal bersama kekasihmu yang berambut merah itu, Harry?" sindirku pedas.

Dadaku semakin terbakar saat dia begitu saja melewatiku bahkan tak menghiraukan kata-kataku.

Aku tertawa pelan, "Baguslah, akhirnya kau tahu bagaimana rasanya bercinta yang sesungguhnya kan, Mr. potter?" sindirku lagi. kali ini aku benar-benar tak mampu menahan amarahku saat dia tak juga menjawabku.

"Bagaimana rasanya? Apakah lebih berkesan dibandingkan denganku, Harry?" tanyaku lagi sambil mengikuti langkahnya.

"TUTUP MULUTMU, DRACO, JANGAN BERKATA MENJIJIKKAN TENTANG GINNY," teriaknya marah.

Aku semakin terbakar karena dia membela gadis itu.

"Menjijikkan? Bukankah kalian memang seperti itu?" jawabku kejam. Aku ingin membalas semua sakit hatiku pada pemuda ini. Dia harus merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan padanya.

"DEPULSO," aku mendengarnya berteriak merapalkan satu mantra dan tanpa bisa ku cegah tubuhku terdorong keras dan membentur tembok di belakangku. Aku merasa begitu sakit, bukan tubuhku, tapi dadaku. Aku tak menyangka dia tega menyerangku, begitu besar kah arti gadis sialan itu baginya?

"Jaga bicaramu, Draco, jangan pernah kau menghina Ginny dengan mulut busukmu itu," desisnya sambil menghampiriku.

Darahku semakin panas mendengar kata-katanya, tanpa pikir panjang aku melempar mantra padanya dari tongkat sihirku dan membuatnya terpental tinggi sebelum akhirnya merosot dan menghantam lantai.

Aku berdiri dengan cepat, sudut hatiku merasa begitu menyesal telah menyakitinya tapi amarahku telah melewati ambang batas. Aku melihatnya dengan susah payah berusaha berdiri, darah mengalir dari sudut bibirnya dan itu benar-benar membuatku terperanjat.

"EXPELLIARMUS," teriakku saat kulihat dia akan menyerangku lagi. Aku lega saat tongkat sihirnya terpental jauh, aku tak ingin lebih menyakitinya lagi. Aku berusaha meraih jubahnya untuk membantunya berdiri tapi suara kepala sekolah menggelegar di koridor yang sepi itu.

"Mr. MALFOY, Mr. POTTER, SEGERA KE RUANGANKU."

.

#

.

Dan disinilah aku sekarang bersama Harry, di pinggiran hutan yang gelap untuk menjalankan detensi dari kepala sekolah. Kami harus memetik setangkai bunga kristal yang hanya mekar seminggu sebelum bulan purnama di tepi sungai di tengah hutan terlarang. Tanpa tongkat sihir, ya... tanpa tongkat sihir, 'hebat... ini malam yang sempurna', gerutuku dalam hati.

Aku melangkah pelan mengikuti Harry dari belakang. Aku melihat langkahnya tertatih dan tangan kanannya sesekali memegang lengan kirinya.

"Kau terluka?" tanyaku pelan. Aku menggeram saat dia tak menjawab dan tetap berjalan walau tampak semakin berat.

"Harry, cukup... aku tak mau terus seperti ini," bentakku tak sabar. Aku sudah cukup lelah dengan hubungan ini, aku tak mau lagi terus berpikir dan berpikir.

Aku berhenti saat kulihat dia bersandar pada sebatang pohon, "Bukannya kau yang menginginkan ini, Draco?" tanyanya ketus.

Aku menghampiri dan berdiri tepat di hadapannya, aku bisa melihat wajahnya yang tampak lelah dan sedikit pucat. "Kau terluka, Harry?" tanyaku lagi mencoba tak menghiraukan pertanyaannya barusan.

Kulihat dia menghela nafas panjang, "Apa pedulimu?" jawabnya dingin.

Dadaku seakan terhantam batu, bagaimana dia bisa berpikir seperti itu disaat aku selalu merasa marah dan panas saat dia tak bersamaku, "AKU PEDULI PADAMU, HARRY!" teriakku keras, "AKU SELALU PEDULI PADAMU..."

Aku bisa melihat ekspresi terkejutnya, begitu juga denganku yang langsung bungkam begitu menyadari apa yang baru saja kukatakan. Mata hijaunya tajam memandangku.

"Lupakan," kataku sambil berjalan mendahuluinya, aku berusaha menyembunyikan apa yang hampir saja terlontar keluar.

.

.

Sesampainya di tepi kolam aku melihat Harry menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon di tepi sungai. Memilih menjauh aku pun melangkahkan kakiku dan sedikit melompat ke batu besar di tengah sungai dan memandangi aliran airnya yang tak begitu deras.

"Kenapa kau begitu membenci Ginny?" tanya Harry memecah lamunanku.

Aku hanya mendengus kesal mendengar pertanyaannya.

"Draco, jawab aku," serunya tak sabar.

Aku semakin kesal oleh tingkahnya yang terus bicara tentang Ginny, Ginny dan Ginny, "Bukan urusanmu," jawabku dingin.

"Tentu saja itu urusanku," katanya lagi lebih keras.

Sekuat tenaga aku menahan amarahku dan tertawa mengejeknya, "Ya tentu saja, bagaimana aku bisa lupa kalau semua urusannya adalah urusanmu."

"Kau kenapa sih? Itu sama sekali tak menjawab pertanyaanku," teriaknya kesal.

"Dan kurasa aku tak memiliki kewajiban untuk menjawab semua pertanyaan tentang Juliet-mu itu, Romeo," jawabku tak kalah kesal. 'Apa sih maunya terus bertanya tentang gadis Weasley itu? Dasar tak tahu diri," gerutuku dalam hati.

"Apa kesalahannya sampai kau begitu membencinya?" tanyanya lagi lebih memaksa, "Padahal aku tahu Ginny tak pernah menyenggolmu, Draco."

Aku tak sanggup lagi menahan emosiku, dadaku serasa terbakar setiap kali dia bicara tentang gadis itu. Aku berdiri cepat dan menatap penuh amarah pada pemuda berambut hitam itu, "KAU TANYA APA KESALAHANNYA? DIA SELALU MENDEKATIMU DAN ITU BEGITU MEMBUATKU MUAK, POTTER!" teriakku kencang. Karena terlalu emosi aku tak memperhatikan pijakanku, dan…

BYUUURRRR…

Aku terkejut dan tak mampu bereaksi apa-apa, aku jatuh terduduk di dasar sungai dangkal yang dingin. Dan yang membuatku lebih tak dapat bergerak adalah aku melihat Harry berusaha menahan tawanya. Wajahnya memerah dengan tangan membekap mulutnya. Dadaku berdebar melihat dia seperti itu, "Bersumpahlah kau tak akan tertawa, Harry," ancamku.

Tapi ternyata setelah itu dia justru tertawa keras dan lepas, ada rasa hangat merasuk dalam hatiku. Rindu sekali rasanya mendengar tawanya yang seperti ini, entah berapa lama aku tak pernah merasa begitu lega.

"Kubilang tutup mulutmu," geramku lagi sambil menghampirinya yang masih tertawa.

"Jangan salahkan aku kalau aku tak bisa berhenti tertawa, Draco, kau tampak aneh sekali," jawabnya geli. Aku tak merasa marah ataupun malu, aku merasa senang bisa melihatnya seperti ini. Tak ada kebencian dalam nada suaranya lagi.

Aku semakin mendekat dan membungkukkan tubuhku mendekatinya, "Kalau begitu aku juga tak mau disalahkan kalau aku sendirilah yang akan menutup mulutmu." dan tanpa bisa dicegah lagi aku sudah menutup bibirnya dengan bibirku. Dadaku yang sedari tadi sudah berdebar serasa akan meledak saat itu juga. Aku merindukan pemuda ini, begitu besar sampai begitu sesak rasanya.

Aku menahan tubuhnya dengan lenganku saat dia berusaha memberontak dari pelukanku, tak perlu terlalu keras karena aku bisa merasakan kalau dia mulai bisa menerima ciumanku. Aku bersorak dalam hati saat dia membalas dengan begitu lembut. Saat ini aku seperti ditarik pada masa kami masih bersama dulu, semua terasa begitu sempurna. Aku tersenyum ditengah ciumanku saat dia mengijinkan lidahku mencecap seluruh rasanya sampai akhirnya dia memintaku menghentikan semua demi mengisi paru-parunya dengan oksigen.

Dadaku terasa perih saat kulihat sebersit luka menghiasi mata hijaunya yang hangat, dan aku tercekat saat dia membisikkan sesuatu padaku, "Percayalah, aku juga berjanji akan melupakan ini, Draco."

Saat ini aku merasa begitu takut, aku takut dia melepaskan pelukanku lagi, aku takut kehilangan dia lagi untuk yang kedua kalinya. Tubuhku bergetar hebat dan aku langsung memeluknya erat seakan takut dia pergi dari sisiku, "Jangan, Harry, jangan lupakan semuanya," bisikku lirih.

"Apa maksudmu, Draco?' tanyanya ragu.

"Salahku, semua salahku. Aku tak pernah melupakanmu, Harry, semua tentangmu, tentang kita," jawabku bergetar. "Kembalilah padaku dan tinggalkan gadis Weasley itu," geramku marah sambil menangkup pipinya. Aku tak peduli dengan gengsi dan sebagainya, aku hanya ingin jujur kali ini.

Aku tercekat saat jemarinya menyentuh pipiku dengan lembut, "Aku tak akan meninggalkan Ginny, Draco," jawabnya pelan tapi mampu meremukkan dadaku.

"Kenapa?" tanyaku dengan berusaha menahan segala emosi yang berkecamuk di dada.

Dia meraih kedua telapak tanganku yang menangkup wajahnya dan menggenggamnya lembut. Perlahan dia mendekatiku dan mengecup bibirku, "Karena aku tak pernah bersamanya," jawabnya pelan dengan sedikit tersenyum.

Aku merasakan sesuatu yang begitu hangat menyelimuti jiwaku, perasaan lega yang tak bisa kusampaikan dengan kata-kata. Aku kembali memeluknya dengan erat, "Maafkan aku," bisikku lirih, "Aku lelah, Harry, aku lelah terus berlari darimu, sedangkan aku sendiri ingin kau menghampiriku dan tinggal di hidupku."

Dia tersenyum dan membalas pelukanku, "Kalau begitu jangan berlari lagi, biarkan aku menghampirimu," jawabnya lalu mencium bibirku dengan dalam. Aku tak mampu lagi menahan hasratku, rasa rinduku akan dirinya mengalahkan semua logika yang aku junjung tinggi selama ini. Persetan dengan harga diri dan sebagainya karena yang aku butuhkan saat ini hanya dia, hanya Harry.

Malam ini di bawah rimbunnya hutan terlarang aku kembali menjadikan dia sebagai milikku. Kami kembali bersatu dan mereguk semua hasrat yang terpendam dan terabaikan selama ini. Dinginnya malam terkalahkan oleh panasnya suhu tubuh yang meningkat karena gairah. Peluh bercampur dan menciptakan aroma laksana candu.

Aku buang semua atribut Malfoy-ku, saat ini aku hanyalah seorang pemuda yang haus akan kejujuran. Kubiarkan egoismeku berkelana bebas, aku ingin memiliki dia seutuhnya, hanya milikku.

Suara hutan tak lagi sunyi, suara kami terlepas melagukan nama masing-masing, terbebas menyerukan irama jiwa yang selama ini terbelenggu oleh belitan kebohongan.

.

.

Kupeluk tubuhnya yang masih sedikit bergetar setelah penyatuan kami tadi, seperti mimpi rasanya bisa memeluknya lagi.

"Berjanjilah kau tak akan memaksaku untuk melupakan semua ini lagi, Draco," bisiknya di dadaku.

Aku mengeratkan pelukanku dan mengecup puncak kepalanya, "Aku berjanji," jawabku mantap, "Dan bersiaplah untuk satu hal lagi, Harry," sambungku.

Dia mendongakkan kepalanya dan menatapku heran, "What?" tanyanya.

Aku menyeringai, "Bersiaplah untuk satu detensi lagi dari kepala sekolah karena kita telah melewatkan waktu mekar sempurna si bunga kristal," jawabku sambil melihat keseberang sungai dimana setangkai bunga berwarna putih nyaris transparan sudah hampir menguncup.

Dia mengikuti arah pandangku, "Oh, Merlin, ini semua gara-gara kau, Draco," keluhnya kesal sambil bergerak duduk dan memeluk kedua lututnya.

Aku terkekeh pelan dan membungkus tubuh telanjangnya dengan jubahku sambil kembali memeluknya erat, "Aku akan menikmati waktu detensiku lagi bersamamu, Harry," godaku tanpa mempedulikan decakan kesalnya.

"Ah, satu pertanyaan yang hampir terlupakan, dimana kau akan tinggal saat liburan natal nanti?" tanyaku teringat pada pertemuan kami di kantor kepala sekolah.

Dia tersenyum dan mengecup bibirku singkat, "Tentu saja disini bersamamu. Aku malas bertemu para auror yang terus mengawasi kita sepanjang hari di Grimmauld Place," jawab Harry ringan.

Aku kembali menyeringai, "Bagus, pilihan yang tepat, Harry," jawabku dan kami tertawa bersama menganti seluruh waktu yang telah terbuang.

Karena cinta diciptakan bukan untuk disimpan atau disembunyikan...

- End -

Ini cerita yang sama tapi dengan sudut pandang Draco. Entah mana yang berkenan dihati para reader sekalian, saya hanya bisa pasrah XD

Untuk Chellesmere, dua chap sebagai dukunganku untuk skripimu, SEMANGAT CHELLY...!

Review Please...