Heart
Jealous
Disclaimer : J.K Rowling
Pair : Draco M. & Harry P.
Rate : M
Genre : Romance / Angst
Warning : LEMON, SLASH, OOC, Modifiate Canon.
Normal PoV
.
#
.
Pemuda tinggi itu berjalan sendiri sepanjang koridor dimana hanya ada beberapa siswa yang menghabiskan waktu sore mereka sambil menunggu waktu makan malam di aula besar. Kesendirian merupakan sesuatu yang berharga untuknya mengingat dia begitu benci keramaian.
Dia berjalan dengan gayanya yang begitu sempurna, nyaris tak ada cacat yang ditemukan pada diri pemuda itu selain sifat angkuh yang menjadi ciri khasnya. Dia tak mempedulikan bisik-bisik para murid perempuan yang mencoba mencari perhatiannya dengan gaya mereka yang berlebihan, dan hanya dengusan kesal yang keluar dari bibir tipisnya saat para gadis yang bertingkah bak fangirling itu tertawa centil – dan itu terdengar begitu mengerikan di telinganya - saat dia melintas didepan mereka.
Mata abu-abunya menangkap sosok pemuda yang duduk sendiri di bibir jendela besar yang ada di koridor samping tersebut. Perlahan dia mendekati pemuda itu dari belakang, "Melihat sesuatu yang menarik, Harry?" tanyanya pelan.
Pemuda yang ternyata adalah Harry Potter tersebut sedikit terlonjak mendengar sapa dari belakangnya, "Draco, berhenti mengejutkanku," gerutunya pada Draco Malfoy, pewaris tunggal keluarga Malfoy yang tersohor di dunia sihir itu.
Draco mengernyitkan keningnya, "Mengejutkanmu?" tanyanya heran, "Bukankah kau saja yang terlalu tenggelam dalam lamunanmu?"
"Aku tidak melamun," bantah Harry sambil kembali melemparkan pandangannya lurus ke depan.
Draco tersenyum tipis dan duduk disamping Harry dengan arah pandang yang bertolak belakang, "Keberatan kalau kutemani?" tanyanya lagi.
Harry mengedikkan bahunya, "Asal kau simpan tongkat sihirmu baik-baik karena aku sedang tak ingin ribut."
Draco mendengus, "Aku cuma ingin menemanimu, Harry, separah itukah anggapanmu?" kata Draco kesal.
Harry terkekeh pelan, "Bicara apa kau ini? Kau bisa menemaniku kapanpun kau mau," jawabnya ringan tanpa melihat pada pangeran Slytherin itu.
Dada Draco berdebar halus mendengar kata-kata pemuda yang telah menjadi kekasihnya selama beberapa bulan ini, walau mereka sempat berpisah sebentar karena alasan konyolnya. Ya, mereka telah mengakhiri permusuhannya saat perang berakhir. Hukuman satu tahun penjara untuk orang tua Draco yang mengharuskan mereka tinggal bersama selama empat bulan telah mengubah semuanya.
"Kenapa diam?" tanya Harry heran melihat pemuda itu tak berkomentar apa-apa.
Draco tersenyum samar dan memandang mata emerald Harry yang bersinar terang, "Tidak," jawabnya singkat.
Harry memandang wajah pemuda di sampingnya itu dengan seksama, tak susah membuatnya jatuh cinta pada Draco. Sifatnya memang angkuh dan sering kali menyebalkan. Dia selalu memandang sinis pada orang lain tetapi sorot abu-abu itu selalu hangat saat memandangnya. Sifatnya yang over protective justru membuat Harry tersanjung karena dia merasa dicintai. Tangan putihnya yang selalu menepis uluran tangan orang lain terasa begitu lembut saat memeluknya, dan bibirnya yang selalu mengucapkan kata-kata pedas terasa memabukkan saat menciumnya.
Harry tersentak oleh lamunannya sendiri, dia menggelengkan kepalanya keras untuk keluar dari bayangan Draco.
Draco menyeringai melihat Harry yang memalingkan wajahnya setelah memandangnya, ada rona merah di sisi wajahnya, "Kau membayangkan apa?" tanya Draco menggoda. Dan dia tertawa pelan melihat Harry diam dan tak menjawab. Dengan gemas ditariknya jubah Harry dan mencium bibirnya dengan dalam.
Harry tercekat, dadanya bergetar oleh kelakuan Draco yang terang-terangan menciumnnya di depan umum. Harry tak bisa menahan senyumnya saat mendengar pekikan kecil gadis-gadis yang melihat mereka. Seluruh Hogwarts telah mengetahui hubungan mereka dan sempat terjadi kehebohan pada awalnya. Dengan sengaja dilingkarkannya lengannya pada leher Draco dan semakin memperdalam ciuman mereka yang berakhir disaat paru-paru telah menjerit meminta asupan oksigen.
"Aku suka kalau kau begini, Harry," goda Draco di telinga Harry.
Harry terkekeh dan melepaskan pelukannya dengan enggan, "Tak salah kan bersikap possesive pada milikku sendiri?" jawab Harry kalem yang membuat Draco menyeringai senang.
Harry melompat pelan dari duduknya dan berdiri, "Aku lapar, kita ke aula sekarang?" ajak Harry pada Draco.
Draco mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Harry di depannya. Mereka sama-sama tak peduli pada pandangan murid-murid yang mengarah pada siluet mereka berdua yang tampak begitu pas dan sempurna.
.
.
"Duduk bersamaku?" tawar Draco saat mereka telah sampai di aula besar.
Harry menatap ke meja Slytherin dan menjawab lambaian tangan Blaise, Theo dan Pansy yang telah menjadi temannya juga. "Tidak, aku tak mau Ron meledak lagi kalau aku terlalu mengabaikan dia," jawab Harry sambil memberikan cengiran pada sahabatnya yang berambut merah yang melotot padanya dari meja Gryffindor.
Draco berdecak sedikit kesal, "Kau tak perlu terlalu mempedulikan dia kan?"
Harry tersenyum dan menepuk pelan lengan Draco, "See You, dear," pamit Harry tanpa mempedulikan omelan Draco sambil melangkah ke meja asramanya.
Draco tak jadi marah begitu mendengar panggilan Harry padanya, dia hanya menghela nafas panjang dan menghampiri ketiga sahabatnya yang tersenyum penuh arti.
"What?" tanya Draco ketus, "Pandangan mata kalian mencurigakan sekali."
"Dia lebih memilih Weasley itu dari pada kau, Draco?" goda Pansy sambil melirik pada Harry yang duduk diantara Ron dan Ginny. Pansy tergelak saat Draco memberikan pandangan membunuh padanya, "Maksudku Ron, Draco, bukan adiknya yang manis itu," goda gadis itu lagi diikuti tawa Blaise dan Theo, sedangkan Draco mencoba tak peduli pada tiga orang yang berani menggodanya itu. kalau itu orang lain pasti Draco tak akan sungkan memberikan satu kutukan pada yang menggodanya.
Draco terkejut saat jubahnya tersiram jus labu dari gelas seorang gadis yang duduk di sampingnya, "Hei, apa yang kau lakukan?" seru Draco sambil menjauh dari gadis itu. dia mengibaskan jubahnya yang basah.
"Maaf, tadi gelasku tak sengaja tersenggol tanganku," jawab gadis itu sambil menatap Draco, "Biar aku bersihkan jubahmu," katanya sambil menghapus sisa jus dengan sapu tangan putihnya.
Draco mendengus dan berdiri dengan cepat menghindari tangan gadis itu, "Cukup, biar aku sendiri saja," jawabnya sambil melangkah keluar dari aula besar. Dia tak peduli pada pandangan gadis itu yang sedikit kecewa pada penolakannya.
.
.
Pemuda berambut pirang itu membuka pintu kamar mandi dan membasahi wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari keran yang mengalir. Jubahnya yang kotor telah ditangani oleh tongkat sihirnya, hanya saja dia ingin menjauh dari gadis itu, gadis yang telah menunpahkan jus labu ke jubahnya, gadis yang sempat dijodohkan oleh orang tuanya dulu, Astoria Greengrass.
Gadis itu cantik, sangat cantik malah, tapi Draco tak suka dipaksa mencintai seseorang hingga akhirnya kedua orang tuanya menyerah dan memasrahkan semua pada keputusan Draco. Lagi pula kakak perempuan Astoria, Daphne Greengrass adalah teman seasramanya dan satu angkatan dengannya, gadis yang menyebalkan seperti Pansy dulu.
"Senang ya bisa disentuh oleh gadis secantik dia?" sindir sebuah suara di belakang Draco.
Draco mendongakkan wajahnya dan tersenyum melihat siapa yang berdiri di depan pintu dari cermin besar di depannya. Dia membalikkan badannya, "Kau cemburu?" godanya pada pemuda bermata hijau yang melangkah mendekatinya itu.
"Cemburu?" tanya Harry pelan sambil mengalungkan lengannya ke leher Draco dan membiarkan pemuda jangkung itu memeluk pinggangnya, "Untuk apa cemburu? Aku bukan kau yang selalu membesar-besarkan masalah," jawabnya sombong tapi Draco mendengar ada nada kesal pada suaranya yang membuatnya tersenyum kecil, 'Dasar keras kepala', gerutunya dalam hati mendengar bantahan kekasihnya itu. Darahnya mengalir deras merasakan panas tubuh Harry yang semakin menggodanya, 'Sepertinya aku harus memberikan sedikit pelajaran padanya'.
"Baiklah, kau memang pengertian, dear," jawab Draco sebelum mencium bibir Harry dan membelainya lembut dengan lidahnya. Dia suka mendengar erangan Harry saat lidahnya mendominasi mulutnya. Draco membelai pinggang Harry dengan begitu lembut dan mencium pangkal lehernya yang menciptakan sensasi tersendiri bagi Harry.
Harry tersentak saat jari-jari panjang Draco menyusup ke dalam bajunya dan membelai dadanya. Kepalanya terasa begitu pusing dan jantungnya berdebar kencang. Gairah mulai menggulung akal sehatnya dan membuangnya jauh.
"Draco, stop it," desah Harry dengan suara bergetar saat jari Draco menggoda satu titik sensitif di dadanya.
Draco menyeringai pada kekasihnya, "Kau ingin aku berhenti? Come on, Harry, aku janji ini tak akan lama," godanya saat melihat wajah Harry yang telah memerah dengan napas yang memburu.
"Jangan gila, Draco, ini di kamar mandi," jawab Harry tersengal saat tangan Draco membelai tubuhnya yang memanas.
"Lalu? Dimana masalahnya? Tak ada orang disini," tantang Draco semakin berani menggunakan tangannya pada Harry, bibirnya semakin panas menyerang leher pemuda berkaca mata itu.
Harry tersentak kuat saat tangan Draco telah memanjanya, "Oh shit, Draco," erangnya. Di tengah alam sadarnya yang semakin hilang dia mencoba mengayunkan tongkatnya untuk mengunci pintu kamar mandi. Tubuhnya bergetar semakin hebat saat Draco mendorongnya ke dinding dan menekannya kuat. Harry tak mampu berpikir apa-apa lagi, otaknya terkunci oleh buaian Draco, dia hanya mampu memeluk erat pundak kekasihnya.
Matanya terbelalak saat Draco mengangkat satu kakinya untuk melingkari pinggangnya, "Draco, apa yang..." dan teriakannya tertelan oleh ciuman Draco saat pemuda berambut pirang itu menyatukan tubuh mereka.
Tubuh Harry memanas, gairah telah membakarnya dengan begitu dahsyat dan dia hanya bisa meremas kuat pundak Draco saat pemuda itu membawanya menjauhi dataran logika. Perlahan tapi pasti Draco menunjukkan satu dunia yang serba abstrak padanya, dunia yang mampu membuatnya gila dan hilang akal.
Tak lama tubuh mereka menegang saat dunia mereka pecah dan menjadi seputih salju, erangan tertutup oleh ciuman yang semakin kuat, tubuh mereka tersentak kecil dan bergetar perlahan sebelum akhirnya mereda.
Draco tersenyum dan mengecup lembut pipi Harry yang masih tersengal dan lemas, dipeluknya tubuh yang masih terasa panas itu, "Apa kubilang, tak akan lama kan?" bisiknya pelan.
"Pervert," maki Harry dengan suara bergetar.
Draco terkekeh lalu melepaskan tubuh mereka perlahan dan membereskan semua dengan tongkat Hawtron-nya.
Harry melepaskan kacamatanya dan mencuci wajahnya yang memerah di wastafel, dia tersenyum saat merasakan Draco memeluknya dari belakang, "Thanks, love. Kuharap kau tak perlu cemburu lagi melihatku dengan orang lain," goda Draco.
Harry berbalik dan mengecup lembut bibir Draco, "Sudah kubilang aku tak cemburu, Draco," jawabnya ringan sambil melangkah keluar dari kamar mandi.
Draco hanya bisa menggeleng pelan melihat pemuda yang mata hijaunya sangat dipujanya itu menghilang di balik pintu.
.
#
.
"Jadi, kapan orang tua Malfoy keluar dari Azkaban?" tanya Hermione pada Harry saat mereka duduk bertiga di halaman samping bersama Ron saat istirahat siang, "Hukumannya hanya satu tahun kan?"
Harry mengangguk, "Ya, mungkin pertengahan tahun depan mereka bisa keluar," jawab Harry.
"Tak kusangka mereka mau menolongmu saat perang berlangsung, mate," kata Ron sambil menggaruk rambut merah menyalanya.
Harry mengangkat bahunya, "Aku sendiri tak menyangka akan begitu, tapi aku sedikit menyesal karena pernyataanku kalau mereka membantuku tak bisa langsung membebaskan mereka dari penjara."
Hermione menyentuh lembut lengan Harry, "Tak apa, Harry, penjara satu tahun untuk membersihkan nama baik jauh lebih bagus dari pada hukuman mati seperti yang dijatuhkan pada seluruh pelahap maut," jawab gadis berambut coklat itu pada sahabatnya.
Harry hanya mengangguk setuju, toh hubungan dia dengan dua Malfoy senior itu pun sekarang telah membaik. Beberapa kali dia menjenguk mereka bersama Draco dan kepala sekolah. Kata maaf dan terima kasih menghancurkan dinding permusuhan diantara mereka, bahkan Narcissa malfoy beralih sayang pada Harry.
Harry tercekat saat mata hijaunya melihat Draco muncul dari ujung koridor dengan dua gadis cantik di sampingnya. Gadis berambut pirang sebahu berusaha menarik-narik lengan jubah Draco seakan memaksa Draco untuk mendengarkannya, sedangkan yang berambut hitam diam saja sambil berusaha menarik gadis berambut pirang untuk melepaskan cekalannya pada lengan Draco.
Harry mengenal si rambut pirang, dia adalah Daphne Greengrass, gadis Slytherin yang juga seangkatan dengannya dan Draco, tapi yang berambut hitam tak begitu dikenalnya, yang pasti gadis itu sangat cantik, gadis yang kemarin duduk di sebelah Draco dan menumpahkan jus labunya di jubah kekasihnya itu.
"Itu Greengrass bersaudara," kata sebuah suara yang tiba-tiba duduk di depannya, "Hai, Mione, Ron," sapanya pada dua Gryffindor yang lain.
"Hai, Pans," balas dua sahabat Harry itu pada Pansy Parkinson yang kini telah berteman dengan mereka semenjak Harry memiliki hubungan khusus dengan Draco.
"Greengrass bersaudara?" tanya Harry tak yakin.
Pansy mengangguk dan menyilangkan kakinya, "Yang berambut hitam itu nemanya Astoria, adik dari Daphne. Dia kan dulu sempat dijodohkan dengan Draco."
"WHAT?" seru mereka bertiga terkejut mendengar informasi dari pansy.
Pansy menatap mereka heran sambil mengerutkan keningnya, "Kalian belum pernah dengar?" tanyanya balik dan mengangguk paham saat ketiganya menggeleng.
"Lalu?" tanya Harry penasaran, saat itu dia yakin ada yang membara di sudut hatinya.
Hermione dan Ron juga Pansy menyeringai melihat wajah Harry yang berubah merah, mata hijaunya berkilat aneh yang mereka tahu kalau pemuda itu 'mungkin' cemburu.
"Itu masa lalu, Draco menolak dan tak menanggapi perjodohan itu sampai akhirnya Aunt Cissy menyerahkan semua keputusan di tangan Draco. Lagipula itu cuma pembicaraan sekilas saja," terang Pansy, "Tapi sepertinya Astoria memang menaruh hati pada Draco dan kakaknya mendukung penuh," katanya lagi.
Harry mengepalkan tangannya dan mata emeraldnya lurus menatap Draco, entah apa yang dirasakannya saat itu yang pasti dia serasa ingin memukul seseorang.
"Cukup, Pans, kalau kau teruskan aku takut nanti akan ada yang meledak," gurau Ron sambil melirik Harry, dan dua gadis itu pun terkikik geli.
Harry mendengus kesal, "Jangan bodoh, siapa yang kau maksud?" bantah Harry sambil menyiapkan hatinya karena dia melihat Draco menghampirinya.
"Hai," sapa Draco pada semuanya.
Harry tak menjawab, dia berusaha menenangkan hatinya yang berdebar tak karuan sejak melihat Draco bersama dua gadis itu tadi.
Draco mengernyit heran sambil duduk di samping Harry, "Ada sesuatu?" tanyanya bingung melihat Harry yang sama sekali tak tersenyum.
Pansy tertawa kecil, "Sebaiknya kau menjaga jarak, Drakie," goda pansy pada sahabatnya itu dan tak mempedulikan tatapan kesal Draco mendengar gadis itu memanggilnya dengan panggilan yang tak dia suka.
"Apa maksudmu? Menjaga jarak? Dengan siapa?" tanya Draco tak mengerti.
Harry berdiri, "Abaikan dia, sekarang aku mau kembali ke asrama, kepalaku pusing," jawab Harry sambil melangkah meninggalkan kelompoknya.
Draco semakin bingung, dia melihat tiga orang di depannya yang hanya mengangkat bahu. Pemuda berambut pirang itu berdecak kesal dan mengejar Harry yang semakin menjauh, "Hei, Harry, tunggu aku," teriaknya.
Harry melambatkan langkahnya membiarkan Draco berjalan di sampingnya.
"Kau kenapa?" tanya Draco.
Harry tersenyum kacil, dia tak mau terlalu emosi menanggapi kejadian barusan, "Tidak, kepalaku hanya sedikit pusing," jawabnya.
Draco menahan lengan Harry lembut dan menariknya ke sudut koridor yang sepi, "Aku antar ke Hospital Wing?" tawar Draco pada Harry.
Harry menggeleng, "Aku hanya butuh istirahat sebentar, Draco, lagipula setelah ini sudah tak ada kelas kan?" jawabnya lagi.
Draco mengernyitkan keningnya melihat Harry yang sejak tadi berusaha menghindari tatapannya, mata hijaunya seakan enggan menatapnya, "Ada apa sebenarnya? Katakan padaku," paksa Draco halus sambil menyentuh sisi wajah Harry dan mendongakkan wajahnya yang sejak tadi menunduk.
Harry melihat ada kilau cemas di mata abu-abu Draco, sebenarnya dia ingin bertanya tentang Greengrass bersaudara itu tapi dia tak mau membuat Draco marah, 'Biarlah, itu Cuma masa lalu', batinnya.
"Harry? Kenapa diam?" tanya Draco lagi.
Harry tersenyum dan memeluk pinggang Draco dengan erat. Dia ingin menenangkan hatinya dari perasaan aneh yang melandanya barusan, "Aku tak apa-apa, hanya sedikit lelah," bantah Harry pelan.
Draco memeluk tubuh kekasihnya dengan diam, dia tahu Harry berbohong, pasti ada sesuatu yang disembunyikannya, tapi dia tak mau memaksa. "Baiklah, kalau begitu istirahatlah," jawab Draco.
Harry mengangguk tapi tak juga melepaskan pelukannya. Ada rasa takut -atau apalah itu- yang tiba-tiba merayap di hatinya.
Draco terkekeh pelan dan mendekap Harry semakin erat, "Kau ini kenapa sih? Tak biasanya begini?" tanya Draco gemas.
"Apa aku tak boleh begini?" Harry balik bertanya.
Draco tertawa pelan dan mendongakkan wajah Harry, "Kau boleh melakukan apa saja, Harry, apa saja," jawab Draco sambil perlahan mencium bibir Harry dengan lembut. Dadanya berdebar halus merasakan kehangatan yang langsung menyelimuti tubuhnya, betapa dia mencintai pemuda ini. Saat bersama Harry semua sifatnya melunak walau terkadang keegoisan masih dominan dalam dirinya.
Harry pun tersenyum dalam ciuman Draco, dia mencintai pemuda angkuh ini dan sering kali dia merasa takut kehilangan. Selama bersama Draco sebisa mungkin Harry membuang sifat keras kepalanya, dia tak ingin membuat Draco marah dan kesal. Ditanamkannya rasa percaya yang begitu besar pada pemuda berambut pirang itu walau hatinya terkadang merasa ragu. Seperti tentang Greengrass bersaudara, disimpannya rapat rasa cemburunya, dia tak ingin berprasangka buruk pada Draco, 'Semua akan baik-baik saja,' batinnya.
"Ah, disini kau rupanya, kami mencarimu sejak tadi, Draco," kata sebuah suara yang mengejutkan mereka.
Dada Harry kembali terasa aneh saat melihat dua Greengrass itu disini, dengan enggan dia melepaskan pelukan Draco.
"Apa lagi? Jangan terus mengikutiku," bentak Draco kesal. Mata abu-abunya memandang Harry yang berusaha tak mempedulikan mereka.
Daphne berkacak pinggang dan menjawab dengan ketus, matanya menatap Harry dengan sinis, "Ada yang harus aku bicarakan , masalah tadi dan ini penting, Draco."
'Masalah tadi? Masalah apa? Kenapa Draco tak menceritakan perihal itu padaku?, batin Harry.
Wajah Draco menegang, dia mundur selangkah, "Kutemui kau nanti sebelum makan malam," pamitnya pada Harry lalu dia pergi bersama kedua gadis itu.
Harry menghela nafas panjang, sang kakak memandangnya dengan dingin sedangkan sang adik seolah meminta maaf pada Harry melalui pandangan matanya. 'Ada apa sebenarnya? Apa yang disembunyikan Draco dariku?', tanyanya dalam hati. Dengan diam ditatapnya punggung Draco yang menjauh pergi.
.
#
.
Saat ini para murid sebagian besar telah meninggalkan aula besar, tapi Harry belum juga melihat Draco di meja asramanya untuk makan malam. Perasaannya semakin gelisah setelah seharian ini begitu banyak kejadian yang membuatnya bingung. Yang membuatnya semakin kalut adalah bahwa Harry pun tak melihat sosok dua Greengrass itu di mejanya.
"Kau masih mau menunggu Draco disini, Harry?" tanya Ron bosan. Ron dan Hermione sudah menyelesaikan makan mereka sejak tadi, mereka hanya menunggu Harry yang sejak tadi sibuk dengan lamunannya.
"Aku tak menunggunya," bantah pemuda berambut hitam itu. "Aku sudah selesai, kita kembali sekarang," katanya setelah meletakkan sendok dan garpunya lalu berdiri dan melangkah pergi. Sesampainya di pintu aula dia berpapasan dengan Draco, dan lagi-lagi Harry harus melihatnya bersama dua gadis Greengrass itu.
"Hai," sapa Draco sambil menahan lengan Harry, "Maaf aku terlambat, kau sudah makan?" tanyanya.
Harry mengangguk sambil memandang dua gadis yang berjalan melewatinya, dia bisa mendengar Daphne mendengus padanya.
"Temani aku makan ya?" pinta Draco.
Harry menatap kekasihnya itu dan mencoba menghilangkan rasa kesal dan marahnya karena pemuda berambut pirang itu telah mengingkari janjinya untuk menemuinya sebelum makan malam. "Baiklah," jawabnya setelah menghela nafas panjang, lalu dia pun berpisah dengan Ron dan Hermione untuk mengikuti Draco.
Dipandangnginya Draco yang sedang menikmati makan malamnya dengan diam, 'Apa yang dilakukannya bersama dua gadis itu?', tanya Harry dalam hati, tapi dia tetap tak berani menanyakannya, dia takut Draco tersinggung karena merasa urusannya dicampuri.
"Kenapa melamun?" tanya Draco mengejutkan Harry.
Harry memainkan gelas jusnya, "Tidak," jawabnya singkat.
Draco menyentuh tangan Harry, "Kau marah?" tanyanya lagi.
Harry mencoba tersenyum walau terlihat getir, "Tidak, Draco, aku tak punya alasan untuk marah kan?"
Draco mengusap bibirnya dengan serbet makan putih lalu menjauhkan piringnya yang telah kosong, "Maafkan aku, tadi ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan," jelas Draco karena dia melihat kilat kecewa di mata hijau Harry.
"Sekarang sudah selesai?" tanya Harry sambil memandang kilau kelabu Draco.
Draco mengalihkan pandangannya dari mata Harry, "Belum," jawabnya pelan sambil memainkan jemari Harry yang digenggamnya.
Harry kembali menghela nafas panjang, dia benar-benar hampir meledak, "Bisa aku kembali ke asrama sekarang? Aku belum menyelesaikan esai ku," katanya mencoba bersabar.
Draco menahan tangan Harry yang mencoba lepas darinya, "Sebentar lagi, aku masih ingin bersamamu," rayunya mencoba meredakan amarah Harry.
"Draco, sampai besok ya, aku tunggu kau jam sepuluh pagi," kata Daphne dengan suara dibuat semanja mungkin sambil membelai bahu Draco dari belakang dan melemparkan pandangan tak suka pada Harry. Lalu dia menarik adiknya -yang sekali lagi seolah meminta maaf pada Harry melalui matanya- dan menghilang di pintu aula.
Draco mengeratkan genggamannya pada Harry saat melihat wajah pemuda itu mengeras, "Harry, dengarkan aku, ini tak seperti yang kau pikirkan, aku... aku hanya..." kata-kata Draco terhenti lalu dia menghela nafas panjang, "Maaf aku belum bisa mengatakannya padamu."
Dada Harry semakin terasa sakit karena ternyata Draco memang menyembunyikan sesuatu darinya. Perlahan ditariknya tengannya dari genggaman Draco, "Tak apa, sampai besok, Draco, kalau kau tak sibuk," jawab Harry sambil berdiri dan melangkah keluar dari aula besar.
Draco terpaku menatap punggung kekasihnya lalu tertunduk dalam, "Maafkan aku, aku tak tahu bagaimana menyampaikannya padamu," bisiknya lirih.
.
#
.
Selepas kelas sejarah sihir pagi ini Harry memilih duduk sendiri di tepi danau yang sepi, dipandanginya air danau yang tampak jernih dan berkilau. Ditangannya terdapat sepucuk surat dari kementrian yang memberikan rekomendasi untuk Harry di departemen auror. Berkali-kali Harry membaca surat itu, ada rasa bangga dan haru dalam hatinya mengingat ayahnya pun dulu bekerja sebagai auror. "Aku akan meneruskan jejakmu, Dad," katanya pada diri sendiri.
Dia menyandarkan punggungnya pada sebatang pohon setelah menyimpan surat rekomendasi itu baik-baik di dalam tasnya. Pikirannya kembali pada Draco yang sudah dua hari ini tampak begitu sibuk dengan urusannya sendiri. Setiap kali mereka bersama keduanya hanya mampu diam seakan tenggelam oleh pikirannya masing-masing. Harry merindukan kebersamaan mereka yang selalu hangat, bukan kebersamaan yang terasa kosong. Ada rasa kesal dan marah, ingin rasanya dia memaki Draco ataupun kedua Greengrass itu tapi sekuat tenaga dia tak ingin membuat Draco marah ataupun tersinggung, 'Aku akan mencoba untuk tetap percaya padanya,' batin Harry.
"Aku mencarimu, Harry," kata sebuah suara di belakangnya.
Harry menoleh dan terkesiap melihat siapa yang datang, pemuda yang baru saja dipikirkannya, "Hai," sapa Harry pelan.
Draco menghampirinya dan duduk di samping Harry, keduanya kembali diam. Suasana hening yang memuakkan untuk Harry, ingin rasanya dia meninggalkan pemuda itu sendirian disana.
"Harry..." panggil Draco memecah kesunyian.
Harry tak menjawab, dia hanya menatap mata abu-abu kekasihnya.
Draco tampak gugup, "Mungkin saat natal nanti aku... tak bisa bersamamu," sampainya lirih.
Jantung Harry seakan berhenti berdetak, hatinya hancur menjadi serpihan puzzle, lidahnya kelu, dia tak bisa berkata apa-apa. Natal yang telah direncanakannya bersama Draco, yang akan mereka habiskan di Hogwarts tanpa pengawasan para auror di Grimmauld Place, Natal yang diharapkan akan menjadi Natal yang istimewa untuk mereka berdua.
"Maaf, aku..."
"Tak apa, Draco," potong Harry, "Disini ada beberapa murid yang tak pulang, jadi aku bisa melewatkan Natalku bersama mereka," jawab Harry sambil berdiri bersiap untuk meninggalkan pemuda berambut pirang itu.
"Harry, dengarkan aku, please," pinta Draco sambil mengejar Harry dan menahan lengannya.
Harry menepis cekalan Draco dengan halus, ditahannya emosinya yang nyaris meledak, dia tak ingin memperkeruh suasana. Suaranya tak jadi keluar saat dilihatnya Daphne Greengrass menghampiri mereka sendirian, tanpa adiknya, "Kau sudah mengatakan pada kekasihmu itu dimana kau akan merayakan Natalmu, Draco?" tanyanya sinis.
Harry terhenyak mendengar kata-kata gadis itu.
"Tutup mulutmu, Daphne," desis Draco marah.
Daphne tertawa licik, "Saat liburan tiba nanti kita langsung ke rumahku, Draco," katanya lagi sambil berlalu dari hadapan dua pemuda itu.
Harry menggenggam telapak tangannya dengan begitu kuat sehingga buku-buku tangannya memutih, wajahnya mengeras karena emosi yang berkecamuk di dadanya.
Draco menyentuh pelan lengan Harry, "Dengarkan aku, Harry, suatu saat aku akan menjelaskan semuanya padamu."
"Kapan?" tanya Harry dingin.
Draco tercekat mendengar nada suara Harry, "... tidak sekarang," jawabnya lirih.
Harry melepaskan tangan Draco, mata hijaunya memancarkan rasa kecewa yang begitu besar sampai Draco tak mampu memandangnya, dia tersenyum kecut, "Pergilah, lakukan apa yang kau mau. Dulu kau pernah meninggalkanku, Draco, jadi kurasa kali ini aku akan baik-baik saja tanpamu," jawab Harry sambil berlalu dari hadapan pangeran Slytherin itu.
Draco begitu terkejut dengan pernyataan Harry, dadanya bergemuruh kencang, bagaimana mungkin dia mampu kehilangan pemuda itu sekali lagi? Belum genap setahun mereka bersama dan harus berakhir dengan cara seperti ini? Kepalanya terasa begitu pusing dan dunianya seakan gelap saat dia membayangkan hari-harinya tanpa Harry, 'Tidak, ini tidak boleh terjadi," tekad Draco dalam hati.
Pemuda berambut pirang itu mendongakkan wajahnya dan menatap punggung Harry yang mulai menjauh, dengan mengepalkan tangannya Draco berlari mengejar Harry dan memeluk erat pemuda berkacamata itu dari belakang, "Tidak, Harry, dengarkan aku, akan aku jelaskan semuanya," paksa Draco dengan suara gemetar.
Harry tercekat, dia tak mampu berontak dari dekapan Draco dan akhirnya dia hanya bisa diam, "Aku tak mau memaksamu," jawabnya ketus.
Draco membenamkan wajahnya di pundak Harry, dia terdiam untuk beberapa saat, "Kau boleh melakukan apa saja, Harry, kau boleh memaksaku, kau boleh meminta apapun dariku, tapi jangan minta aku untuk meninggalkanmu."
Harry terhenyak, "Draco," bisik Harry, dia tak pernah melihat Draco selemah ini, tangan yang memeluk tubuhnya dari belakang terkepal erat dan gemetar, wajah tampannya masih terbenam di pundaknya, "Apa yang terjadi?" tanyanya pelan.
.
.
"Ini tentang ayahku," kata Draco saat Harry mengajaknya kembali duduk di tepi danau.
"Uncle Lucius? Ada apa dengannya?" tanya Harry.
Draco menghela nafas panjang, "Beberapa hari ini kesehatan Dad menurun drastis, bahkan dia sempat tak sadarkan diri beberapa kali, dan penanganan medis di Azkaban begitu minim. Kementrian menolak permohonanku untuk membawanya ke St. Mungo."
Harry begitu terkejut, "Kenapa kau tak mengatakannya padaku?"
Draco menunduk lemah, "Aku berusaha menanganinya sendiri, Harry. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu Daphne mendatangiku dan mengatakan kalau dia telah mendengar berita itu dari orang tuanya yang bekerja di kementrian."
"Lalu?" kejar Harry.
Mata abu-abu Draco memandang Harry dengan perasaan bersalah yang begitu besar, "Mereka menawarkan bantuan padaku, Harry, mereka bersedia memberikan rekomendasi pada kepala kementrian agar ayahku bisa dibawa ke St. Mungo..." katanya menggantung.
Dada Harry berdebar kencang, dia takut mendengar kelanjutannya tapi dia juga harus tahu, "Teruskan, Draco, apa mereka mengajukan syarat padamu?"
Draco terus memandang Harry seakan ingin menumpahkan semua ganjalan di hatinya, "Mereka memintaku... untuk menerima Astoria sebagai... calon istriku," jawabnya lirih.
Berita itu bagai petir di telinga Harry, jantungnya seakan terkoyak dan hancur dalam satu remasan. Lidahnya kelu, tak ada kata yang mampu keluar dari bibirnya yang membeku.
"Maafkan aku, karena itulah aku tak bisa mengatakannya padamu, Harry, maafkan aku," bisik Draco lirih sambil menundukkan kepalanya.
Harry mencoba mengerti akan apa yang terjadi, ditahannya perih dan sakit di dadanya, dia tak boleh bersikap egois. Perlahan dia berdiri dan memandang lepas ke tengah danau, "Kalau memang itu yang terbaik, aku tak bisa menahanmu, Draco," katanya dengan bergetar.
Draco tersentak, dia berdiri di belakang Harry, dengan kasar diputarnya tubuh pemuda yang membelakanginya itu supaya menghadapnya, "TIDAKKAH KAU MENGERTI BETAPA SULITNYA AKU MEMUTUSKAN SEMUA INI, HARRY?" teriaknya marah, "TIDAKKAH KAU PAHAMI BETAPA BESAR KEHILANGANKU KALAU AKU MENOLAK ATAU MENERIMA SYARAT MEREKA?"
Harry tercekat, dia melihat kilau abu-abu itu tampak begitu lelah dan putus asa, "Draco, maaf aku..."
"Tidakkah kau ingin menahanku, Harry? Semudah itukah kau melepasku untuk mereka? Tidak inginkah kau terus bersamaku?" bisik Draco parau, kepalanya tertunduk begitu dalam.
Tubuh Harry bergetar, dadanya bergejolak menahan rasa, dia bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh Draco. Perlahan tangannya terulur lalu dia memeluk erat dada kekasihnya yang tampak terpuruk itu, "Maafkan aku, Draco, aku ingin menahanmu, aku tak ingin melepasmu dan aku juga ingin selalu bersamamu. Tapi pantaskah aku bersikap egois seperti itu? aku pun ingin uncle Lucius sembuh," bisik Harry.
Draco merengkuh tubuh Harry dalam dekapannya, "Apa yang harus aku lakukan? Aku tak ingin kehilangan kalian berdua," rintihnya di bahu Harry.
Harry menangkup wajah Draco yang pucat dengan telapak tangannya yang masih gemetar, lalu perlahan dia mencium bibir tipis Draco, menenangkan kekasihnya dengan kecupannya. Dia membiarkan saja saat Draco membalas ciumannya dengan dalam dan kasar, dibiarkannya pemuda itu menumpahkan semua emosinya. Ada rasa asin menyeruak masuk diantara bibir mereka yang berpagut, Harry tahu kalau kekasihnya itu sedang menangis. Dengan lembut pemuda berkacamata itu mengalungkan lengannya pada leher Draco dan memeluknya dengan erat.
"Aku pun tak tahu apa yang harus aku lakukan, Draco, aku juga tak ingin kehilanganmu," bisik Harry, kali ini dia tak peduli walau harus bersikap egois, dia hanya ingin jujur. Jemarinya mengusap setitik air yang membasahi pipi pucat Draco lalu diciumnya dengan lembut, "Aku mencintaimu, Draco," bisiknya.
Lama mereka berdiam diri dalam pelukan, tak ada kata yang terucap dari bibir mereka, hanya detak jantung dan tautan tangan yang bicara.
"Aku ingin menjenguk uncle Lucius, bolehkah?" tanya Harry memecah kebisuan mereka.
Draco tak langsung menjawab, dia menghela nafas panjang lalu mengusap kedua sisi wajah Harry, "Kita menghadap kepala sekolah sekarang agar dia bisa mengantar kita ke Azkaban. Aku memiliki ijin khusus untuk berkunjung selama ayahku sakit," jawab Draco akhirnya dan Harry pun mengangguk cepat.
.
#
.
Harry miris menatap ruangan yang gelap dan lembab itu, dan lebih miris lagi melihat Lucius Malfoy, penyihir terpandang di dunianya, terbaring lemah tak sadarkan diri di ranjang kayu yang tua dan reot. Wajah pucatnya tampak semakin pucat, bibirnya sedikit membiru dengan lingkaran hitam di bawah matanya.
Dia melihat sang istri, Narcissa Malfoy, duduk di sisi ranjang sambil tak henti membelai rambut pirang Lucius, pemandangan yang membuat sesak. Hanya ada mereka berempat disana, karena sang kepala sekolah yang mengantar mereka memutuskan untuk menunggu di luar saja, dia ingin memberikan prifasi pada birunya menatap Harry, lalu wanita itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut Harry, "Bagaimana kabarmu?" tanyanya lembut.
Bibir Harry bergetar, dia takut air mata tumpah dari mata hijaunya, "Baik, Aunt Cissy," jawab Harry parau, "Maaf, aku baru mendengar kabar tentanng Uncle Lucius."
Narcissa tersenyum lemah, "Kesehatannya terus menurun, begitu banyak yang menjadi beban pikirannya. Pihak kementrian tidak mengijinkan Lucius dirawat di St. Mungo, tapi aku bisa menerima itu, semua sudah resiko menjadi tahanan Azkaban," jawabnya lagi.
Harry tak mampu lebih lama menatap wajah wanita yang walau tampak kuyu itu tapi masih terlihat sisa kecantikannya, dia menatap Draco seakan menyerahkan semua keputusan pada pemuda berambut pirang itu.
"Mum… mungkin kita akan bisa membawa Dad ke St. Mungo," kata Draco pelan.
Narcissa membelalakkan matanya, "Apa maksudmu, Son? Bagaimana bisa?" tanyanya bingung.
Perlahan Draco menjelaskan semuanya, tentang keluarga Greengrass dan tentang syarat yang diberikan mereka pada Draco.
Narcissa berdiri dan menghampiri putranya, "PLAAAKK…" suara tamparan menggema di ruangan yag kecil itu.
Harry terkejut pada apa yang dilakukan Narcissa pada Draco, begitu juga dengan Draco. "Bagaimana bisa kau menjatuhkan martabat keluarga kita, Draco. keluarga Malfoy tak pernah tunduk pada perintah orang lain," desis wanita itu marah.
Pemuda pirang itu mengusap pipinya yang memerah, "Mum, aku akan melakukannya untuk Dad," jawab Draco lirih, dan Harry hanya mampu tertunduk lemah.
Mata biru Narcissa masih berkilat marah, "Kita punya harga diri, Draco. Kita boleh menerima bantuan orang lain, tapi kalau dia mengajukan syarat itu sama saja dengan menghina kita, menghina ayahmu."
"Mum…" sergah Draco.
"Lebih baik kita mati dengan cara terhormat daripada harus menjadi budak orang lain," desis wanita itu lagi.
Draco mengusap wajahnya yang pucat, dia meremas rambut pirangnya dan menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang lembab, "Tapi aku tak ingin kehilangan Dad, Mum," bisiknya.
"Dan kau siap kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupmu?" tanya Narcissa balik pada Draco, tangan putihnya menyentuh bahu Harry dengan lembut.
Harry tercekat, mata hijaunya bertemu pandang dengan kilau kelabu Draco. bibirnya terasa kelu karena ternyata Narcissa tahu tentang hubungannya dengan Draco.
"Kau sudah dewasa, Draco, lakukan apa yang ingin kau lakukan, tentukan sendiri hidupmu. Mum dan Dad tak akan pernah lagi mengatur apa yang harus kau lakukan," kata Narcissa dengan tegas.
Draco tak mampu berkata-kata, dia maju dan memeluk ibunya dengan erat.
Harry mengepalkan tangannya, ditahannya air mata yang hampir tumpah. Dengan cepat dia melangkah keluar menemui Minerva McGonagall yang sedang berbincang dengan Kingsley Shacklebolt.
"Mr. Shacklebolt, apakah sebagai pahlawan dunia sihir aku memiliki hak istimewa?" tanya Harry dengan lantang.
"Apa maksudmu, Mr. Potter?" tanya Shacklebolt bingung begitu pun dengan McGonagall.
"Tidak bisa kah aku meminta sesuatu sebagai imbalan atas jasa-jasaku mengalahkan penyihir gila itu?" tanya Harry lagi.
Dua orang dewasa itu tercekat, tak biasanya Harry bersikap demikian, bahkan dia begitu benci dielu-elukan sebagai pahlawan oleh semua orang, dia juga menolak menerima pengharagaan dari kemetrian atas keberaniannya melawan Voldemort, tapi kali ini pemuda berambut hitam itu justru meminta sesuatu pada menteri sihir yang memiliki kekuasaan penuh atas keputusan di kementrian.
"Apa yang mau kau minta, Mr. Potter?" tanya menteri sihir itu.
Harry memandang lurus pada pria berkulit hitam di depannya, "Tidak bisakah kau membawa Mr. Malfoy ke St. Mungo?" tanyanya tegas.
Mr. Shacklebolt menghela nafas panjang, "... Ini sudah menjadi peraturan disini, Mr. potter, maafkan aku."
Harry mengepalkan tangannya dengan kuat, "Kau sendiri tahu, Tanpa keluarga Malfoy mungkin saat perang berlangsung akulah yang akan mati, bukan Voldemort. Tak bisakah kau membiarkanku membalas jasa mereka?"
"Harry, kau tak boleh bicara begitu," kata McGonagall dengan nada prihatin.
"Kalau mereka tak menolongku maka aku akan ikut terkubur bersama profesor Dumbledore dan Profesor Snape, kepala sekolah," jawab Harry lagi.
Kali ini McGonagall hanya bisa diam.
"Kami sudah meringankan hukuman mereka, Mr. potter," bantah Shacklebolt.
Harry kembali memandang pria di depannya, "Aku berhutang nyawa pada mereka, walau sebenarnya akulah yang paling ingin mati diantara semuanya."
"Harry…" kata McGonagall sambil memegang bahu Harry mencoba menenangkan muridnya itu.
"Haruskah aku berlutut di depanmu, Sir?" tanya Harry lemah.
"Cukup, Son, jangan lakukan itu," cegah Narcissa yang baru keluar dari kamar Lucius bersama Draco, "Keluarga kita tidak akan berlutut di hadapan orang lain."
Dada Harry berdebar kencang mendengar kata 'keluarga kita' keluar dari bibir merah Narcissa, keluarga yang dia tak pernah punya. Harry tersenyum getir, "Aunt bilang 'keluarga kita'? kalau begitu aku akan melakukan apa saja untuk keluarga yang baru kumiliki ini, Aunt Cissy," jawab Harry lagi.
Narcissa mengusap lembut wajah Harry, juga bekas lukanya, lalu wanita itu memeluk erat tubuh Harry, "Aku tak mau melihat anak-anakku berlutut di hadapan orang lain, aku yakin Lucius pun tak suka kalian melakukan ini,"
Minerva McGonagall tak mampu membendung air matanya melihat Narcissa yang begitu menyayangi Harry. Wanita tua itu yang paling tahu –setelah Dumbledore- tentang penderitaan Harry selama ini, penderitaannya hidup sebatang kara seumur hidup dan harus mengalami siksaan terus menerus dari keluarga ibunya. Dan kini ada lengan seorang ibu yang tengah memeluknya, memeluk anak yang tetap bertahan hidup itu.
"Kingsley, aku sebagai kepala sekolah Hogwarts juga memohon padamu untuk Lucius Malfoy," kata Minerva McGonagall mengejutkan semua yang ada disana, "Apakah kau juga tak mau mendengarkan permohonanku?"
Sekali lagi Mr. Shacklebolt hanya mampu terdiam, matanya menatap keempat orang yang berdiri di depannya itu. "Aku tak bisa mengijinkannya ke St. Mungo, tapi karena melihat jasa kalian untuk dunia sihir maka aku akan menempatkan Lucius Malfoy di ruangan yang lebih besar dan mendapatkan perawatan khusus dari St. Mungo," katanya setelah menghela nafas panjang.
Narcissa ternganga, dia seperti tak percaya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Kingsley Shacklebolt. Tanpa sadar wanita itu meneteskan air mata yang biasanya tabu keluar dari mata birunya.
"Maaf, aku hanya bisa memberikan itu, karena bagaimanapun Lucius adalah tahanan Azkaban. Tapi aku akan memastikan dia mendapatkan perawatan yang layak," sambung menteri sihir itu lagi.
Tubuh Narcissa lemas dan merosot ke lantai batu yang dingin, air mata semakin deras mengalir dari matanya yang indah. Harry dan Draco spontan memeluk wanita yang tampak rapuh itu, "Mum," bisik Draco.
"Terima kasih," ucap Narcissa lirih pada Shacklebolt, setelahnya dia hanya mampu memeluk dua pemuda yang sangat disayanginya itu.
.
.
"Kepala sekolah, terima kasih untuk dukungan anda tadi," kata Draco setelah mereka tiba kembali di Hogwarts melalui jaringan floo di kantor McGonagall.
Wanita tua itu tersenyum lega, "Aku tidak melakukan apa-apa, Mr. Malfoy, Mr. potter lah yang berusaha keras," jawab wanita itu kembali memanggil nama mereka dengan resmi karena mereka telah berada di lingkungan sekolah. "Sekarang pergilah ke aula besar, jam makan malam telah tiba," perintah wanita tua itu lembut dan tersenyum melihat kedua muridnya keluar dari kantornya.
.
Mereka masuk ke dalam aula besar yang telah ramai oleh para murid, "Aku ikut ke mejamu," kata Draco pada Harry.
Harry tersenyum dan mengangguk, dia melihat sekilas pada Daphne Greengrass yang tampak marah dan kesal, sedangkan adiknya hanya memandang dengan diam. Harry bisa melihat senyum kecil di bibir merahnya, sungguh bertolak belakang dengan sang kakak.
"Kenapa yang tampak menyeramkan justru Daphne? Padahal yang dijodohkan denganmu kan adiknya?" tanya Harry bingung.
Draco tertawa pelan, dia menarik tangan Harry supaya berjalan lebih cepat, tak peduli pada pandangan semua murid pada mereka, "Aku tak peduli, dear, yang penting kau bersamaku," jawabnya enteng.
Harry tergelak, "Tak usah merayuku, Malfoy," jawab Harry lalu duduk di depan dua sahabatnya bersama Draco.
"Dari mana kalian? hampir seharian ini aku tak melihat kalian?" tanya Ron penasaran.
Harry tersenyum sambil mengisi piringnya dengan makanan, begitu juga dengan Draco, "Ada urusan mendadak, maaf tak sempat pamit," jawab Harry sambil menyuapkan sepotong kentang ke mulutnya.
Tiba-tiba terdengar satu suara yang mereka kenal, "Draco, ada yang harus ku bicarakan padamu," Harry dan Draco menoleh dan mendapati Daphne telah berdiri di belakang mereka.
"Tentang apa?" tanya Draco dingin.
Daphne membelalakkan matanya, "What? Tentu saja tentang sesuatu yang penting," jawabnya.
Harry menahan lengan Draco saat Draco berdiri menghadapi Daphne, dia tak mau ada keributan disini. Tapi Draco melepaskan cekalannya dengan pelan, matanya seakan berkata kalau semua akan baik-baik saja. "Kalau tentang masalah ayahku berarti kau terlambat, semua telah diselesaikan, dan aku tak membutuhkan kau lagi," kata Draco ketus.
"Apa maksudmu?" tanya Daphne bingung dan juga kesal.
Draco mendengus, "Kau tanyakan saja besok pada orang tuamu ada berita apa tentang ayahku, aku yakin dia pasti tahu kalau Mr. Shacklebolt mau menceritakan padanya. Jadi sekarang enyahlah dari hadapanku."
Daphne menggertakkan giginya, "Brengsek kau, Malfoy."
Draco terkekeh pelan, "Tapi setidaknya martabat keluargaku tak jatuh di kaki kalian," jawabnya sambil kembali duduk di samping Harry. Dengan sengaja dia mencium Harry di depan semua murid.
Harry terkejut, dia ingin menolak tapi rasa bibir Draco terlalu memabukkan untuknya. Mereka tak peduli pada suara berisik yang melihat aksi mereka, bahkan mereka hanya tertawa dalam ciuman mendengar caci maki Ron yang tampak kesal. Mereka berdua juga tak sadar –mungkin tak peduli- kalau Daphne telah pergi dari hadapan mereka dengan menghentakkan kakinya karena marah.
.
.
Setelah makan malam mereka berdua menghabiskan waktu di halaman belakang, tempat yang sangat cocok untuk berbicara dari hati ke hati. Mereka duduk di undakan tangga batu di depan pintu kastil.
"Maafkan aku, Harry," ucap Draco pada Harry yang menyandarkan punggungnya di dadanya. Dipeluknya pundak pemuda itu dari belakang.
Harry menggengam tangan Draco, "Lupakan, semua sudah selesai."
Draco meletakkan dagunya di puncak kepala Harry, "Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri kalau kemarin aku sampai terlanjur menerima persyaratan mereka."
Harry tertawa pelan, "Bagaimana kalau aku yang mengajukan syarat?" tanyanya sambil mendongakkan kepalanya ke belakang memandang mata kelabu Draco.
Draco menunduk, jemarinya membelai leher Harry dan dia tersenyum mendengar erangan pelan keluar dari bibir pemuda bermata emerald itu, "Tak perlu mengajukan syarat, karena aku akan melakukan apapun untukmu, Harry," bisik Draco.
Harry tersenyum, dia duduk tegak dan membalikkan badannya menghadap Draco, "… Kau tak marah kalau aku cemburu ataupun tak ingin kau dekat dengan siapapun selain aku?" tanyanya ragu.
Draco terkekeh pelan, "Aku tak tahu kalau kau memiliki sifat seposesif itu, Harry."
Harry tergagap, "Maaf, aku..."
"Kau boleh meminta apapun dariku, aku hanya ingin kau jujur, itu saja," potong Draco sambil mencium bibir Harry dengan begitu lembut yang membuat otak Harry seakan meleleh dan kehilangan daya pikirnya.
Dinginnya angin malam hilang dalam kehangatan dekapan mereka, dan mereka menanamkan satu hal dalam hati mereka kalau semuanya akan baik-baik saja.
Udahan belum ya enaknya?
A/N.
Yah kumat deh sinetronnya…! Maaf ya, perasaan fic2 buatan aku sinetron banget ceritanya, hik…bener2 parah *pundung*
Tiba-tiba pengen bikin sequelnya heart, tapi daripada aku bikin jadi cerita baru mending aku buat chapter baru aja kali ya, jadi kaya' kejujuran gitu ntar, Cuma ga panjang2 lah, eh ga tau juga sih, hehehe *bener2 author ga tanggung jawab*
Ga bisa sering2 bikin fic lagi nih, jadi cuma bisa bikin pas lagi sempat aja, maaf ya. O iya, buat N.h (hei, siapa namamu?), Yui-chan, Cissy, Icci, tomatomilk, Silvia, and My Ritsu *hug*, makasih buat ripiunya di chapter sebelumnya. So aku masih tunggu ripiu di chapter ini *duduk manis*.
Eh kelupaan, buat NessVida… "Cepet sembuh ya, dear, miss u…"
