Heart

Happy New Year, Harry…

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco M. & Harry P.

Rate : T

Genre : Romance / Hurt / Comfort

Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon.

.

#

.

Harry berjalan dengan langkah gontai, entah kenapa sejak bangun tidur tadi kepalanya terasa begitu pusing. Kejadian beberapa hari ini membuatnya lelah walau hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan.

Setelah melalui masa kritis akhirnya tepat malam Natal kemarin Lucius Malfoy pulih dari sakitnya, hal yang membuat Draco dan Harry menjadi begitu lega juga lelah, lelah karena mereka nyaris tak mampu melakukan apa-apa selain mengkhawatirkan keadaan ayah Draco tersebut.

Sekolah masih sepi, hanya beberapa murid yang tinggal di Hogwarts saat liburan berlangsung, itupun hanya anak-anak Hufflepuff dan Ravenclaw yang Harry tak begitu kenal. Harry mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, dia mencari Draco, karena sejak bangun tidur tadi dia tak melihat pemuda berambut pirang itu, 'Kemana dia?', tanya Harry dalam hati. Dia sudah mencari ke asrama Slytherin tapi Draco tak juga kelihatan, asramanya kosong, begitu juga kamarnya.

Harry terus berjalan hingga sampai di halaman samping dia menghentikan langkahnya, dia melihat Draco membaca buku di bangku taman. Pemandangan yang biasa sebenarnya mengingat Draco nyaris seperti Hermione yang selalu suka dengan buku, tapi yang membuat Harry mengernyitkan keningnya adalah adanya dua orang gadis dari asrama Ravenclaw yang duduk menemani Draco. Tak biasanya Draco membiarkan orang lain mengganggu waktu senggangnya.

Cemburu? Jelas Harry cemburu walau porsinya tak separah saat Draco bersama Greengrass bersaudara itu. Kepalanya terasa semakin pusing dan akhirnya Harry memutuskan untuk tak berpikir macam-macam tentang mereka, dengan malas dia menghampiri kekasihnya.

"Draco," panggilnya.

Draco dan dua gadis itu mendongakkan kepala mereka, "Hai," sapa Draco sambil tersenyum samar, lalu pemuda itu tampak mengernyit melihat wajah Harry yang sedikit pucat.

"Hai, Potter," sapa dua gadis itu yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Harry.

"Serius sekali?" tanya Harry pada keduanya.

Mereka tertawa pelan, "Hanya mencoba mencuri sedikit ilmu ramuan dari Malfoy," jawab gadis berambut hitam yang duduk tepat di depan Draco. Lalu mereka berdiri dan meninggalkan mereka berdua setelah mengucapkan terima kasih pada Draco.

"Tak biasanya kau baik pada orang lain? Bahkan mengajari mereka ramuan? Tanya Harry sedikit kesal setelah dua gadis itu menghilang di belokan koridor.

Draco tertawa pelan lalu menarik tangan Harry supaya duduk di sampingnya, "Cemburu?" tanyanya singkat.

Harry mendengus, "Tidak," jawabnya tegas tanpa melihat Draco.

Draco menutup bukunya lalu menarik Harry dalam pelukannya, pemuda berambut pirang itu tersenyum geli, dia tahu kalau Harry marah karena dia tak membangunkan atau menunggu pemuda itu sepeti biasanya, "Kau tadi nyenyak sekali tidurnya, aku jadi tak tega membangunkanmu," jelas Draco.

Hary memejamkan matanya, berada dalam pelukan Draco adalah satu-satunya tempat ternyaman yang dia punya, pusingnya sedikit berkurang.

"Kau sakit?" tanya Draco, ada nada cemas dalam suaranya. Dia meraba kening Harry dengan begitu lembut yang mampu membuat wajah pemuda berkacamata itu menjadi merah.

Harry menggeleng, "Tidak, hanya sedikit pusing," jawabnya.

"Pusing?" tanya Draco meyakinkan.

Harry mengangguk pelan, "Sejak bangun tidur tadi rasanya agak lemas," jawab Harry lagi.

"Lemas? Pusing?" tanya Draco lebih pada dirinya sendiri, "Jangan-jangan kau hamil?" tebak Draco yang mampu membuat Harry terbelalak.

BUAGGH... Satu hantaman kecil menyapa kepala Malfoy junior itu

"Aauch... kenapa kau memukulku?" teriak Draco.

"Jangan bercanda, Draco," bentak Harry kesal sambil meninggalkan pemuda itu.

Draco menyusul Harry masih sambil mengusap kepalanya, "Kenapa kau marah?" tanyanya tak mengerti.

"Itu tidak lucu, jangan memperolokku," jawab Harry masih dengan nada kesal yang begitu kentara.

Draco baru sadar kalau dia telah menyinggung pemuda berambut hitam itu, dengan pelan ditahannya lengan Harry dan menghentikan langkah mereka di koridor, "Hei, maafkan aku," bisik Draco sambil mengusap pipi Harry yang memerah.

Harry memalingkan wajahnya dari Draco, "Sudahlah," jawab Harry sambil menepis pelan tangan pemuda bermata kelabu itu, hatinya masih terasa kesal oleh ucapan Draco, lalu dia berbalik dan sekali lagi meninggalkan pemuda jangkung itu sendirian.

"Kau mau kemana?" teriak Draco bingung.

Harry terus berjalan, "Perutku lapar," jawabnya tanpa menoleh pada Draco.

Draco menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Sensitif sekali dia pagi ini, benar-benar seperti wanita yang sedang hamil," gumamnya sambil tersenyum geli. Lalu dia mengikuti langkah Harry yang telah jauh di depannya.

.

#

.

Sejak Draco menggodanya tadi pagi entah kenapa mood-nya jatuh di titik terendah, dia malas meladeni pemuda itu lagi. Seharian ini dia memilih untuk menjauhi Draco daripada dia harus terus marah pada kekasihnya yang terkadang usil itu. Dia duduk sendiri di menara astronomi, menikmati angin dingin yang berhembus dari pintu menara yang terbuka dan mengabaikan rasa pusing yang semakin terasa di kepalanya.

Rasa kesalnya terusik oleh kedatangan Eroll -burung hantu milik Ron- yang tiba-tiba hinggap di bahunya. Sebuah surat terikat di kakinya. Dengan tak sabar Harry segera membuka surat itu setelah membiarkan Eroll beristirahat di salah satu jendela. Harry tersenyum melihat tulisan rapi Hermione menari diatas perkamen putih itu.

Dear Harry,

Bagaimana kabarmu? Aku saat ini sudah berada di The Burrow. Rasanya asing sekali tanpa kehadiranmu disini. Ginny dan Mrs. Weasley ingin sekali besok pada saat malam tahun baru nanti kau bisa datang ke pesta keluarga Weasley. Pestanya tak besar, hanya mengucapkan syukur saja karena tahun ini semua berjalan dengan lancar. Mereka juga berusaha bangkit dari kesedihan mereka akibat kepergian Fred.

Ajaklah Draco bersamamu, sebab Mrs. Weasley juga mengundang kepala sekolah. Ah bicara tentang Draco, bagaimana kabarnya? Kudengar Mr. Dan Mrs. Malfoy sudah pulih dari sakitnya? Baguslah, kami ikut merasa lega. Kalau kalian berkunjung lagi tolong sampaikan salam kami pada mereka.

Kami tunggu jawabanmu dan Draco karena Profesor McGonaggal sudah menyetujui undangan dari Mrs. Weasley.

Oh iya, Pansy, Theo dan Blaise juga akan datang, tidakkah kau merindukan kami?

Salam rinduku,

Hermione Granger

Harry melipat suratnya lalu menggenggam surat itu di tangannya, rasanya begitu sepi tanpa mereka. Bukan berarti Harry tak menikmati saat-saatnya bersama Draco hanya saja memang ada yang berubah. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat bagi persahabatan mereka, banyak yang telah mereka lalui, suka dan duka, tangis dan tawa, semua mereka lalui bersama.

Harry mau saja datang ke kediaman Weasley saat malam pergantian tahun besok tapi bagaimana dengan Draco? Dia masih mencemaskan keadaan uncle Lucius dan Aunt Cissy, begitu pula denganku. Walau keadaan mereka telah dibilang pulih tapi tetap saja mereka masih dalam pengawasan medis, dan Harry tak mau meninggalkan Draco sendiri disini.

"Kucari kemana-mana ternyata kau disini, Harry," sapa sebuah suara.

Harry menoleh dan mendapati Draco telah berdiri di pintu masuk, dia tak menjawab, 'Sebaiknya Draco tak membaca surat ini', batin Harry. Perlahan dia memasukkan surat itu ke kantong celananya.

"Apa itu?" tanya Draco sambil menghampiri Harry.

Harry menautkan kedua tangannya, "Surat dari Hermione," jawabnya singkat.

"Apa katanya?" tanya Draco lagi setelah dia duduk di samping Harry.

Harry melempar pandangannya ke langit yang tampak putih berhiaskan butiran salju yang tak begitu deras, "Hanya menanyakan kabar kita saja."

Draco mengamati wajah Harry, tampaknya pemuda di sampingnya itu masih kesal karena dia menggodanya tadi pagi, "Kau masih marah?" tanya Draco hati-hati, dia tak mau membuat kekasihnya itu lebih kesal dari ini.

"Tidak," jawab Harry singkat tanpa melihat Draco. Memandang salju yang terus turun membuatnya semakin merindukan Ron dan Hermione. 'Tidak, aku tak boleh egois, Draco lebih membutuhkanku saat ini', katanya dalam hati.

Diamnya Harry membuat Draco berpikir kalau pemuda itu masih marah padanya, dengan lembut dia meraih tangan Harry dan menautkan jari-jari mereka, "Maafkan aku," bisik Draco.

Harry mengernyitkan keningnya, "Hmm?" tanyanya tak mengerti.

Draco menatap mata hijau Harry yang kini memandangnya, "Maafkan aku, aku tak bermaksud menyinggungmu tadi pagi."

Harry diam sejenak mencerna apa yang disampaikan Draco, lalu dalam hati dia tersenyum geli karena ternyata Draco masih mempermasalahkan itu, "Kau memang keterlaluan, Draco," jawab Harry pura-pura kesal sambil menarik tangannya dari genggaman pemuda berambut pirang itu.

"Harry, aku sudah minta maaf padamu, aku tak bermaksud begitu," katanya memelas, "Walau sebenarnya tak buruk juga kalau kau hamil," gumam Draco tak jelas di belakang punggung Harry.

Harry mendengar itu dan dia kembali kesal, dia membalikkan tubuhnya sambil melotot ke arah Draco, tangannya terkepal siap memukul kepala berambut pirang itu lagi, "Apa maksud..."

Kata-katanya terpotong karena Draco telah menarik tubuhnya ke dalam pelukannya lalu mencium gemas bibir Harry. Harry tak mampu menolak, sekali lagi otaknya terkunci setiap Draco menciumnya seperti ini, begitu lembut tapi juga posesif. Hanya desahan yang keluar dari bibir Harry saat Draco terus memanjanya, memutar balikkan dunianya dalam satu kecupan.

Draco tersenyum melihat wajah Harry yang telah berubah merah, lalu dia kembali menciumi pipi Harry lalu turun ke lehernya, meninggalkan rasa panas pada tempat-tempat yang disinggahi bibirnya yang membuat Harry mengencangkan cengkeraman tangannya pada jubah Draco dan mengerang dengan suara tertahan.

"D-Draco," desah Harry saat pemuda bermata kelabu itu mulai membuka kancing teratas kemejanya, dadanya berdebar begitu kencang dan tubuhnya memanas, selalu begitu saat Draco menyentuhnya, "Stop it, please," pinta Harry dengan suara parau.

Draco menghentikan aktifitas tangan dan bibirnya lalu memeluk tubuh Harry yang bergetar karena gairah, "Kenapa?" tanya Draco pelan di telinga Harry yang cukup membuat pemuda berkacamata itu bergidik merasakan sensasi yang menggelitik sekali lagi.

Harry tak menjawab, dia hanya semakin menyamankan dirinya dalam dekapan Draco, menghangatkan diri dari dinginnya angin yang berhembus melalui pintu teras menara yang terbuka.

Draco tertawa pelan, "Hari ini kau aneh sekali, sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar kesal, sekarang menjadi begini manja," katanya sambil membelai rambut hitam Harry, membiarkan pemuda itu menyamankan diri di dadanya.

"Jangan bilang lagi kalau aku hamil, Draco," ancam Harry, "Aku tak suka kau bicara seperti itu seolah-olah kau menginginkannya."

Draco mengecup rambut Harry dan menyurukkan kepalanya di bahu pemuda itu, "Aku hanya bercanda, love, maafkan aku," bisik Draco di tengkuknya dan sukses membuat bulu kuduk Harry meremang. Draco menempelkan pipinya pada kening Harry, suhu badan Harry sedikit panas, "Kepalamu masih terasa pusing?" tanya Draco pelan.

Harry mengangguk di dada pemuda itu.

"Kita kembali ke asramamu, aku akan mintakan obat pada Madam Pomfrey," ajak Draco yang sekali lagi disambut anggukan Harry.

.

.

"Sebaiknya kau beristirahat saja," kata Draco setelah membaringkan Harry di tempat tidurnya, obat dari Madam Pomfrey pun sudah diminumkannya pada pemuda bermata emerald itu.

Harry hampir memejamkan matanya saat Draco beranjak dari duduknya di samping kepalanya, "Kau mau kemana?" tanya Harry pelan sambil menahan jubah Draco.

Draco tersenyum dan menggenggam tangan Harry yang terasa panas, "Tidak, aku hanya akan mengambil makan malam untuk kita, setelah itu aku akan kembali ke sini," jawab Draco sambil mengecup pelipis Harry.

Harry tak menjawab, kecupan Draco membuatnya tenang dan dia menyerah pada rasa nyaman yang di dapatnya dari pemuda itu lalu tertidur pulas.

Draco menggelengkan kepalanya sambil mengusap rambut Harry, lalu pemuda itu berdiri dan meninggalkan Harry yang telah tertidur setelah membenahi selimut yang menutupi tubuh pemuda bermata emerald itu.

.

.

"Ah, kau disini, Draco?" tanya Profesor McGonaggal saat dilihatnya pemuda itu keluar dari balik lukisan Fat Lady yang menjadi pintu masuk ke asrama Gryffindor.

"Profesor," sapa Draco sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat.

"Bagaimana keadaan Harry?" tanya sang kepala sekolah.

"Dia barusan tertidur, kata Madam Pomfrey dia hanya terlalu lelah dan menyarankan agar dia tak bepergian dulu selama dua hari ini," jawab Draco.

Profesor McGonaggal mengangguk-angguk pelan, "Berarti kalian tak bisa memenuhi undangan dari Molly dan keluarga Weasley," gumamnya.

Draco mengernyitkan keningnya, "Undangan? Undangan apa?" tanya Draco bingung.

Wanita tua di depan Draco memandang pemuda itu juga dengan bingung, "Kata Molly Miss Granger telah mengirimkan surat pada Harry, apa belum sampai?"

Draco teringat sore tadi saat Harry memasukkan sesuatu ke kantong celananya, "Mungkin belum, yah maklumlah burung hantu Ron itu agak sedikit... lambat," jawab Draco berbohong agar kepala sekolahnya tidak merasa tak enak hati karena telah mengatakan sesuatu yang Draco tak tahu.

Profesor McGonaggal mengangguk mengerti, satu senyum simpul terbentuk di sudut bibirnya mendengar gurauan Draco yang tak biasa di dengarnya itu. "Oh ya, Draco, setelah makan malam nanti Kingsley memintamu datang ke kantornya, aku akan menemanimu," kata wanita tua itu.

Draco tercekat, "Apakah terjadi sesuatu lagi dengan Mum dan Dad?" tanya Draco sedikit panik.

McGonaggal menggeleng pelan, "Aku rasa tidak, mungkin ada hal lain yang mau dia sampaikan padamu."

Draco terdiam sebentar, "... Baiklah, setelah memastikan Harry menghabiskan makan malamnya aku akan segera ke ruangan anda."

Kepala sekolah itu tersenyum dan menepuk pundak Draco dengan lembut, "Sampai nanti, Draco," pamit wanita tua itu lalu pergi meninggalkan Draco.

.

#

.

Draco meletakkan piringnya perlahan di atas meja di samping tempat tidur Harry, dia tak ingin membangunkan pemuda yang masih tertidur pulas itu. dia mengamati tubuh Harry dan melihat sasuatu berwarna putih mencuat dari kantong celananya. Dengan menjentikkan tongkat sihirnya Draco berhasil mendapatkan perkamen itu.

Draco memutuskan untuk membaca surat dari Hermione di ruang rekreasi. Dibukanya perkamen yang terlipat itu dan mulai serius membaca bait-bait kata yang digoreskan gadis berambut coklat itu di sana.

Setelah membaca surat itu Draco pun termenung, 'Harry pasti ingin berkumpul bersama teman-temannya', batin pemuda berkulit pucat itu. "Dasar kau ini, kenapa tak bilang saja?" gumam Draco pada dirinya sendiri.

'Harry pasti merasa bimbang antara memenuhi undangan ini atau tidak', katanya lagi dalam hati. Draco kembali melipat surat itu seperti semula dan kembali masuk ke kamar Harry. Setelah memasukkan lagi surat itu ke kantong celana Harry Draco pun membangunkan pemuda itu.

"Makanlah dulu," kata Draco sambil mengulurkan piring pada Harry yang telah bangun.

"Thanks," jawab Harry sambil menerima piring dari Draco.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Draco sembari menyingkap rambut Harry yang menutupi sebagian matanya.

Harry tersenyum pada Draco, "Sudah lebih baik," jawabnya, "Kenapa semua harus jatuh sakit? Aneh sekali," guraunya sambil meneruskan makan.

Draco pura-pura berpikir, "Mungkin karena kau terlalu sayang pada Mum dan Dad jadi tubuhmu ikut menyesuaikan kondisi tubuh mereka," jawab Draco asal.

Harry tertawa pelan, "Jawaban apa itu, Mr. Smart?"

Draco tersenyum mendengar tawa Harry, betapa bahagia jika bisa melihat pemuda bermata emerald itu tertawa, mata hijaunya yang bening semakin bersinar, indah sekali.

"Setelah ini aku harus menemui Kingsley di kantornya," kata Draco setelah Harry menghabiskan makannya.

Mata hijau itu berubah panik, "Apa terjadi sesuatu lagi pada mereka?"

Draco menggeleng, "Tidak, ada sesuatu yang harus dibicarakan denganku," jawabnya.

"Aku ikut?" tanya Harry lebih pada permintaan.

"Tidak, Harry, kau harus tetap tinggal di kamarmu," jawab pemuda berambut pirang itu, "Besok adalah malam tahun baru dan aku tak mau kau masih berbaring di tempat tidur."

Malam tahun baru? Ah... Harry kembali teringat pada surat Hermione. Dia ingin membicarakan itu dengan Draco tapi sepertinya tak bisa malam ini, Draco pasti sedang bingung tentang kenapa Kingsley memanggilnya.

Draco melihat raut bingung di wajah Harry, dia pasti teringat teman-temannya, tapi saat ini Draco juga bingung harus memberikan jawaban bagaimana. Dia tak tahu apa yang akan dibicarakan Kingsley nanti dan kondisi Harry yang sedang sakit, 'Akan kupikirkan setelah ini', putusnya dalam hati, lalu dia berdiri untuk pergi menemui Menteri Sihir bersama Kepala sekolah.

"Aku pergi dulu," pamitnya pada Harry.

Harry memejamkan matanya saat bibir Draco menyapa bibirnya dalam satu ciuman yang singkat tapi terasa begitu hangat itu, "Cepatlah kembali, dan bangunkan aku kalau aku tertidur," pinta pemuda berkacamata tersebut.

Draco mengangguk sambil mengacak rambut Harry, "Sampai nanti," katanya lalu pemuda itu keluar dari kamar Harry.

.

#

.

Menunggu dan menunggu itu terasa begitu menyebalkan bagi Harry, rasa pusingnya tak mampu membuatnya tertidur, hatinya terus cemas karena ini sudah menjelang pagi dan Draco belum kembali.

"Lama sekali dia, apa yang terjadi?" gumam Harry sambil mengacak rambut hitamnya. Dia terus berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.

Suara pintu yang terbuka nyaris membuat jantung Harry melompat dari tempatnya. Dia menarik napas lega saat melihat kalau ternyata Draco lah yang datang. "Bagaimana? Apa yang terjadi?" serbunya.

Draco membelalakkan matanya, "Kau tak tidur? Bagaimana kalau kau sakit lagi?" tanya Draco cemas.

Harry berdecak kesal, "Aku tak peduli, cepat beritahu apa yang terjadi," paksanya.

Draco tersenyum pada pemuda itu lalu mengajak Harry duduk di tempat tidurnya, "Tidak ada yang terjadi."

"Lalu kenapa lama sekali?" tanya Harry, dia bisa melihat kalau Draco tampak sangat lelah.

Draco membaringkan tubuhnya setelah melemparkan jubahnya ke tempat tidur Ron, dia menarik Harry agar ikut berbaring di sampingnya lalu memeluk pemuda itu dengan begitu erat, "Aku hanya mengurus tentang pengembalian Mum dan Dad ke Azkaban karena kondisi mereka telah membaik," jawab Draco sambil memejamkan matanya. Rasa hangat yang diberikan tubuh Harry membuatnya begitu mengantuk.

Ada rasa sakit menggores di dada Harry, dia miris membayangkan kalau orang tua Draco harus dikembalikan lagi ke Azkaban. 'Tidak, aku harus menolak undangan Hermione, aku ingin menemani Draco disini', katanya dalam hati, lalu dia ikut memejamkan mata bersama Draco, menikmati kebersamaan mereka.

.

#

.

Harry mengerjapkan matanya berkali-kali, membiasakan diri dengan sinar yang masuk melalui jendela kamarnya. Dia meraih kacamatanya yang tergeletak di meja kecil di samping tempat tidurnya.

"Draco..." panggilnya saat dia tak melihat kekasihnya itu di sampingnya lagi, "Kemana dia?" gerutu Harry yang merasa tak suka ditinggalkan begitu saja. Lalu pemuda itu berdiri untuk membasuh dirinya di bawah siraman air hangat.

.

.

Harry melangkahkan kakinya ke aula besar untuk makan pagi, pusing di kepalanya sudah lumayan berkurang. Tapi alangkah terkejutnya saat dia melihat Draco tengah duduk bersama anak-anak yang menghabiskan liburan Natal dan Tahun Baru mereka di Hogwarts. Tak biasanya Draco bisa berbaur akrab dengan orang lain dan jujur saja hal itu membuat Harry sedikit kesal dan cemburu, mungkin karena selama ini Draco hanya berada di sisinya saja.

Merasa ada yang memperhatikan Draco pun mendongakkan wajahnya, dia tersenyum saat melihat Harry yang tampak agak cemberut, "Hei, kau sudah bangun?" tanyanya sambil menghampiri pemuda itu setelah berpamitan dengan anak-anak yang lain.

Harry tak menjawab pertanyaan Draco, dia duduk di meja asramanya sendiri, bukan berarti dia tak suka membaur dengan yang lain, hanya saja dia kesal melihat Draco bersama mereka bahkan pemuda berambut pirang itu meninggalkannya sendiri di dalam kamar, 'Menyebalkan', gerutu Harry dalam hati.

Dia mengambil beberapa makanan yang telah tersaji, sedangkan Draco hanya mengisi pialanya dengan jus labu, 'Ternyata dia juga sudah makan', batin Harry. Lalu pemuda itu meneruskan makannya tanpa melihat pada Draco sama sekali.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Draco lembut.

Harry tetap tak memandang Draco, "Baik," jawabnya singkat.

"Baru saja aku mau mengantarkan makan pagimu ke kamar," kata Draco lagi berusaha merayu kekasihnya yang sedang kesal itu.

"Tak perlu, aku masih mampu berjalan," jawab Harry sinis.

Draco terkekeh pelan, "Kau marah?" tanyanya.

Harry mendorong piringnya yang telah kosong lalu meminum isi pialanya, "Tidak," jawabnya lagi dengan singkat.

"Apa rencanamu hari ini?" tanya Draco lagi.

Harry terdiam sebentar, dia sendiri tak tahu harus melakukan apa, ingin menjenguk kedua Malfoy senior pun pasti belum diijinkan mengingat mereka sedang bersiap kembali ke Azkaban. "Aku mau tinggal di asrama saja," jawab Harry.

Draco menarik napas panjang, "Baiklah, aku ingin berbincang sebentar dengan mereka, tak apa kan?" katanya sambil menunjuk sekerumunan kecil murid di aula besar dengan dagunya.

Harry kembali kesal, dia kesal karena Draco tak mau menemaninya di asrama, "Terserah kau," jawabnya sambil berdiri dan berlalu dari ruangan itu setelah menyapa murid-murid yang lain.

Draco hanya menggeleng melihat kekasihnya pergi, lalu dia menghampiri teman-teman barunya dan berbincang dengan mereka.

.

#

.

Harry melempar buku bersampul merah itu, berkali-kali dia mencoba untuk mencerna isinya tapi tetap saja dia tak mengerti apa yang tertulis di sana. Dia semakin merasa kesal bahwa sampai waktu hampir menunjukkan waktu makan siang Draco belum juga menemuinya di sini.

"Kemana sih dia? Apa yang dilakukannya bersama anak-anak itu?" gerutu Harry. Bukan, dia tidak berubah menjadi sombong, dia masih tetap suka berteman dengan siapa saja, tapi masalahnya tak ada teman-temannya disini, dia hanya sendiri dan Draco sibuk dengan dirinya sendiri, "Ini benar-benar menyebalkan."

Dia sama sekali tak merasa lapar, rasa kesal dan bosannya mengalahkan semua rasa dan akhirnya dia memutuskan untuk berbaring saja di kamarnya. Tapi tiba-tiba dia ingat kalau belum membalas surat Hermione. Diambilnya secarik perkamen dari laci mejanya dan mulai menulis,

Dear, Mione…

Maafkan aku, malam ini aku tak bisa datang ke pesta keluarga Weasley, sampaikan permintaan maafku pada mereka.

Sungguh aku ingin pergi ke sana, tapi situasi saat ini sangat tidak memungkinkan untukku dan Draco meninggalkan Hogwarts. Ada beberapa hal yang harus kami kerjakan yang bersangkutan dengan uncle Lucius dan aunt Cissy.

Sampaikan permintaan maafku pada semuanya, aku merindukan kalian.

Harry.

Harry membaca sekali lagi apa yang telah dia tulis, setelah merasa puas barulah surat itu dia lipat dengan rapi. Dia melangkah keluar asrama dan menuju kandang burung hantu, dia mencari Hedwig untuk mengantarkan suratnya pada Hermione.

Selesai melakukan tugasnya Harry berniat kembali ke asramanya, tapi dia tertegun saat melewati koridor samping, dia melihat Draco tengah berbincang seru dengan teman-teman barunya, bahkan beberapa dari mereka tampak tertawa seru mendengar kata-kata yang diucapkan pangeran Slytherin itu.

Ya, Harry tahu, sejak menjalin hubungan dengannya sikap Draco tak terlalu dingin lagi terhadap orang lain, dia sudah mau membalas sapa atau menyapa orang lain yang bukan dari asramanya, walau tentu saja masih terasa kaku bila harus berteman dekat. Tapi apa yang dilihat Harry kali ini benar-benar membuatnya cemburu, Draco lebih memilih berbincang dengan mereka daripada menemani Harry di dalam asrama. Tidakkah Draco tahu kalau saat ini Harry begitu merindukan pemuda berambut pirang itu?

Dengan membawa rasa sakit di dalam dadanya Harry pun melangkah gontai meninggalkan tempat itu, dia benci melihat Draco yang mengacuhkannya.

.

.

Harry menghabiskan sore ini hanya di dalam kamar, dia sama sekali tak berniat keluar asrama, dia tak mau melihat Draco seperti itu lagi, bahkan tak menemaninya sama sekali hari ini. Dipandanginya satu persatu tempat tidur di kamar itu, dia teringat pada para pemiliknya yang selalu berbagi tawa dengannya setiap hari, teman-temannya yang selalu ceria dan penuh tawa.

Harry memejamkan matanya, mengingat semua yang telah dilewatinya di asrama ini. Sebenarnya bisa saja dia tak menjadi melankolis seperti ini, tapi rasa sepinya membuat dia merindukan teman-temannya.

Harry membuka matanya saat dia mendengar pintu kamarnya terbuka, "Kenapa tak makan siang?" tanya Draco yang baru saja masuk.

Dada Harry berdebar kencang melihat pemuda itu, dia senang melihat Draco datang tapi juga kesal, "Tak lapar," jawab Harry sambil kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Draco menghampirinya dan duduk di samping pemuda itu, "Kau masih sakit?"

Harry mendengus kecil, "Kau masih ingat kalau aku sakit?" sindir Harry. Bukan tubuhnya yang sakit, tapi hatinya.

"Come on, Harry, kenapa kau marah-marah seperti ini?" rayu Draco.

Harry berdecak kesal, "Kau pergi saja, aku ingin tidur, dan jangan ganggu aku," jawab Harry sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Draco.

Draco tersenyum simpul, "Selamat tidur, love," bisik Draco sambil mengecup pipi Harry, lalu dia keluar dan meninggalkan pemuda itu sendiri.

Dada Harry semakin terasa sakit, Draco benar-benar tak mempedulikannya. Biasanya kalau dia marah Draco tak akan membiarkannya berlama-lama dengan amarahnya, tapi sekarang… Draco bahkan tak mencoba membujuknya.

.

#

.

Makan malampun dilewati Harry, dan sekali lagi Draco tak berusaha menjemputnya. Harry termenung memandang butiran salju yang masih turun dari jendela kamarnya, rasa sepi semakin menggulungnya dan membuatnya merasa begitu sesak.

Kalau saja dia mau bersikap egois, dia ingin meninggalkan Draco disini dan pergi ke rumah keluarga Weasley, menghabiskan malam tahun baru bersama teman-temannya. Tapi tidak, mengingat orang tua Draco yang akan kembali ke Azkaban malam ini pasti membuat Draco sedih, juga dia pastinya.

Harry menghela napas panjang, "Aku tak boleh begini, mungkin Draco berusaha mencari hiburan dengan teman-teman barunya, biarkan sajalah", gumamnya sendiri.

.

.

Malam semakin larut dan waktu hampir menunjukkan tepat tengah malam, sebentar lagi tahun akan berganti, "Tidakkah dia ingin menemaniku saat lonceng berdentang tepat pukul 12 malam ini?" tanya Harry lirih pada dirinya sendiri. "Aku akan mencarinya," putus Harry akhirnya.

Dengan langkah tergesa dia keluar dari asramanya, dia tak mau keadaan ini terus berlarut-larut. Baru saja dia melangkahkan kakinya tiba-tiba seseorang berteriak padanya.

"POTTER, KAMI MENCARIMU SEJAK TADI," teriaknya panik.

Harry memandang bingung pada anak lelaki dari Ravenclaw itu, "Ada apa?"

"Malfoy…" katanya terengah.

Wajah Harry memucat, "Kenapa Draco? ada apa dengan Draco?" tanyanya cemas.

Pemuda itu memandang Harry dengan peluh membasahi wajahnya, "Malfoy terluka di aula besar, kita harus…"

Tak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya Harry pun melesat secepat kilat ke aula besar. Rasa cemas dan panik menjadi satu dalam dadanya, 'Apa yang terjadi pada Draco? Apa dia terluka? Kenapa?', batinnya berperang dengan seribu pertanyaan.

Dengan kasar dibukanya pintu aula besar yang tertutup, gelap. Harry tak melihat apapu, semua gelap, "DRACO…" teriaknya. Dentang jam terdengar begitu keras, waktu tepat menunjukkan pukul 12 malam, dan Harry bahkan tak ingat tentang malam pergantian tahun, "DRACO…" teriaknya lagi, "DIMANA KAU?"

Tiba-tiba lampu aula menyala terang, Harry mengerjapkan matanya untuk menahan silau yang mendadak itu.

"HAPPY NEW YEAR, HARRY…" teriak banyak suara di ruangan itu, suara terompet yang bersahutan membuat telinganya berdenging.

Mata hijaunya terbelalak saat dia menerima pelukan dari sahabat-sahabatnya. Yang pertama melemparkan diri dalam pelukannya tentu saja Hermione, gadis berambut coklat ikal itu memeluknya dengan begitu erat, "Happy New Year, Harry," ucapnya sambil mengecup pipip pemuda itu. Lalu Pansy juga melakukan hal yang sama.

Ron, Blaise dan Theo bergantian memberikan pelukan dan ucapan padanya. Harry membeku, dia tak tahu harus berkata apa, ada Mr. dan Mrs. Weasley juga di sana, juga George. Dadanya berdebar oleh rasa bahagia yang begitu besar, mereka semua ada disini, tapi bagaimana bisa?

Dia teringat Draco, dan matanya terpaku pada sosok pemuda pirang di sudut ruangan bersama… 'Ya Tuhan, itu uncle Lucius dan aunt Cissy', batin Harry.

Perlahan pemuda berkacamata itu mendekati mereka, mata hijaunya bersinar terang melihat Lucius dan Narcissa yang tampak sehat, walau Lucius Malfoy masih harus duduk di kursi roda.

"Happi New Year, Son," ucap Narcissa sambil merentangkan tangannya.

Dada Harry membuncah, dengan cepat dia memeluk wanita yang kecantikannya tak pudar itu, "Aunt Cissy," bisiknya parau, "Happy New Year."

Narcissa mengusap punggung pemuda itu, lalu bergantian mengecup kedua pipinya.

Dengan enggan Harry melepaskan pelukan wanita itu, lalu dia berlutut di depan Lucius untuk memeluk pria yang masih tampak sedikit pucat itu, "Happy New Year, uncle Lucius," bisik Harry di dada pria yang memiliki paras serupa dengan Draco itu.

Lucius menjawab ucapan Harry dengan tepukan lembut di kepala pemuda itu.

Harry berdiri dan menatap Draco, mereka menjadi pusat perhatian di aula besar itu, "Bagaimana bisa?"

Draco tersenyum kecil, "Kemarin Kingsley memanggilku karena pihak kementrian akhirnya memutuskan untuk memberikan pemotongan masa tahanan kepada Mum dan Dad, dan mereka bisa keluar malam ini," jawabnya.

"Benarkah?" seru Harry sambil melihat dua Malfoy senior itu dan senyumnya semakin lebar saat keduanya mengangguk.

"Bisa kita lanjutkan pestanya?" tanya profesor McGonaggal yang datang menghampiri mereka.

"Tentu, Minerva, moment membahagiakan ini harus kita lanjutkan," jawab Molly Weasley sambil tertawa renyah.

"Selamat untuk Lucius dan Narcissa," seru Arthur weasley sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

"SELAMAT…" seru yang lain mengikuti ayah Ron itu.

Dan suasana kembali riuh oleh obrolan para pemuda dan orang tua, makanan lezat tersaji di meja panjang yang di letakkan di tengah ruangan, semua berkumpul menjadi satu.

Atap aula besar di sihir sedemikian rupa, menampakkan warna-warni kembang api yang begitu indah. Harry tak mampu menghilangkan senyum di wajahnya, dan Draco begitu bersyukur bisa melihat wajah Harry yang sangat dia suka, wajah bahagianya yang selalu membuatnya hangat.

"Kapan kalian datang?" tanya Harry pada teman-temannya.

Hermione tertawa, "Tadi malam Draco mengirimkan burung hantu elangnya pada kami, dia bilang tentang kedua orag tuanya yang akan di bebaskan malam ini juga tentanng kau yang jatuh sakit," terang gadis cantik itu, "Dia mengusulkan untuk memindahkan pestanya ke Hogwarts saja, sekalian pesta untuk kebebasan kedua orang tuanya."

Harry memandang tajam pada Draco yang duduk di sampingnya, "Dan aku bukan orang pertama yang mendengar itu?" kata Harry dengan nada mengancam.

Draco tersenyum lembut, "Ini kejutan untukmu, Harry, dan inilah alasan aku meninggalkanmu seharian ini," jawabnya enteng yang mendapat pelototan pedas dari kekasihnya, "Aku merencanakan ini dengan anak-anak yang lain, mereka yang menghias ruangan ini."

"Kalian membuatku merasa bodoh," gerutu Harry, "Dan kau pasti menertawakan suratku tadi pagi kan, Mione?"

Hermione dan Ron tertawa terbahak, "Salahkan Draco, ini rencananya," jawab Ron sambil terus memakan makanannya.

"Tak kusangka kau bisa begini penuh kejutan, Drakie," goda Pansy yang diikuti tawa Blaise dan Theo.

"Tutup mulutmu, Pans, dan jangan memanggilku begitu," ancam Draco.

Kegembiraan itu semakin seru, masing-masing mulai sibuk dengan permainan ini dan itu. Dengan lembut Draco menarik lengan Harry, mengajaknya ke sudut ruangan dan menghindar dari pusat keramaian.

"What?" tanya Harry bingung.

Draco tersenyum sambil memeluk pinngang Harry, "Aku belum mengucapkan selamat tahun baru padamu," bisiknya di telinga pemuda itu.

Wajah Harry memerah, jantungnya berdebar halus, "Ini di aula besar, bodoh, dan banyak orang disini," desis Harry sambil memalingkan wajahnya.

Draco terkekeh pelan lalu menangkup wajah Harry dengan kedua tangannya, "Aku tak peduli," jawabnya. Lalu pemuda berambut pirang itu mencium bibir Harry dengan begitu lembut, memanjanya dalam satu kehangatan yang indah, menikmati kebersamaan mereka yang terasa wajar.

"Happy New Year," bisik Draco di depan bibir Harry, lalu sekali lagi memenjarakan logika Harry dalam satu kecupan yang dalam. Mereka tak tahu kalau sepasang mata biru milik Narcissa memandang haru pada mereka berdua, bibir wanita cantik itu tersenyum melihat kebahagiaan yang dipancarkan kedua pemuda yang sangat disayanginya itu.

"Maafkan aku, Draco, ini kejutan yang indah, sungguh," bisik Harry dengan parau.

"Kau suka?" tanya Draco sambil menautkan jari mereka.

Harry memandang ke sekeliling aula besar, semua orang yang disayanginya berkumpul disini, "Tentu, terima kasih untuk semuanya," jawabnya pelan.

Setelah itu keduanya terdiam, tak ada yang bicara, hanya berdiri berdampingan dengan tangan yang bertaut, sungguh kebersamaan yang terasa hangat, kebersamaan yang tak pernah ingin mereka akhiri.

oOo

A/N.

Setelah ngebut bikin buat tahun baru akhirnya jadi juga. Pendek ya? Kurang fluf ya? Jujur ini karena beberapa hari ini saya lagi ngebet banget sama BPIB ( penggemar bola pasti tahu siapa mereka ), virus BPIB sedang merajalela, mencuri sebagian besar feel saya akan DraRry, jadi mohon maaf kalau ada kekurangan #bungkuk2

Di fic ini anggap aja Hedwignya ga mati ya? Sebab saya bener2 blank mau bikin gimana #diinjek reder. Bahkan ga tau kenapa ini chara kok saya bikin sakit semua ya? Bener-bener aneh. Pokoknya ini fic gaje lah, maaf ya, maaf banget #ngumpet di balik lemari

Ah iya, saya mau mendukung aicchan dan semua author yang lain untuk menggalakkan Report Abuse pada junk fic di fandom manapun, jangan di flame atau di ripiu jika kalian tak suka, cukup tekan report abuse agar mereka tak semakin besar kepala. Tahan emosi biar ga semakin ramai, OK!

SELAMAT TAHUN BARU, SEMOGA TAHUN INI MEMBAWA BANYAK KEGAHAGIAAN UNTUK KITA SEMUA # tiup terompet keras2.

Review please…^^