Heart
Farewell
Disclaimer : J.K Rowling
Pair : Draco M. & Harry P.
Rate : T
Genre : Romance / Angst
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon.
.
#
.
Harry meremas selembar perkamen di tangannya lalu memasukkannya ke dalam tas, mata hijaunya memandang nanar pada kilau jernih permukaan danau yang memantulkan sinar matahari menjadi seindah kristal. Pikirannya melayang jauh meninggalkan raganya.
Banyak yang telah terjadi satu tahun ini, dan semua berjalan lancar. Hubungannya dengan Draco berjalan dengan mulus, dengan kedua orang tua Draco pun tak ada hambatan. Sekolahnya juga sudah bisa dibilang selesai, nilai akhir telah keluar dua hari yang lalu dengan hasil yang sangat memuaskan. Departemen Auror telah menerimanya sebagai calon anggota baru walau dengan syarat yang cukup berat, tapi Harry bertekat kalau dia ingin meneruskan jejak ayahnya, James Potter. Tapi ada satu yang menjadi pikirannya dan dia tak yakin bisa menyampaikan itu pada semuanya, terutama Draco.
Draco telah terdaftar sebagai anggota muda di kementrian juga, di departemen hubungan sihir internasional, departemen yang dibawahi oleh Lucius Malfoy, ayahnya sendiri. Melihat apa yang dilakukan oleh keluarga Malfoy saat perang terjadi membuat pihak kementrian kembali memberikan kepercayaan pada mereka untuk kembali menjabat.
"Kenapa kau suka sekali menghilang?" tanya sebuah suara yang entah sejak kapan telah berada dekat sekali dengannya.
"Draco?" katanya dengan sedikit gugup.
Draco mengenyitkan keningnya, "Kenapa?" tanyanya melihat Harry yang sedikit salah tingkah, lalu pemuda berambut pirang itu duduk di samping kekasihnya.
Harry menggeleng dan menatap lurus ke tengah danau, "Tidak, hanya terkejut," elaknya.
Draco mendengus kesal, "Sampai kapan kau akan terus melamun seperti itu?" kata Draco mengomentari kebiasaan Harry yang begitu suka tenggelam dalam lamunannya.
Harry tersenyum, "Salah sendiri kau tak ada di dekatku," jawab Harry sambil menyandarkan kepalanya di bahu Draco.
Draco memejamkan matanya, menikmati kehangatan Harry yang selalu mampu membuatnya merasa nyaman, "Kau kan bisa mencariku?" jawabnya tak mau kalah.
Harry tersenyum samar, "Tapi aku juga ingin kau yang mencariku."
Pemuda berambut pirang itu terkekeh pelan mendengar kekeraskepalaan Harry, "Baiklah, cukup, aku sedang malas bertengkar," jawabnya yang disambut tawa Harry.
Harry terdiam, dia semakin tak yakin bisa menyampaikan ini pada Draco, kebingungannya menjadi berkali-kali lipat dan dia memutuskan untuk membiarkan ini dulu, toh masih ada waktu satu bulan sampai mereka benar-benar lulus dari Hogwarts.
"Melamun lagi?" tanya Draco sambil mendongakkan wajah Harry agar menatapnya.
Harry memandang kilau kelabu itu, mata yang selalu memandang dingin tapi terasa begitu hangat saat menatapnya, sikap arogannya yang bisa begitu lembut saat memeluknya, bibir yang terbiasa mencela tapi terasa begitu memabukkan saat menciumnya.
"Harry..." panggil Draco lagi dan menyadarkan Harry dari lamunannya.
Pemuda berkacamata itu tersenyum lagi dan mengalungkan lengannya di leher Draco lalu mencium lembut bibir tipis kekasihnya, dia ingin mereguk semua rasa hangat dan nyaman yang selalu ditawarkan Draco padanya, mereguk semua yang telah menjadi miliknya.
Draco tercekat, sudah ribuan ciuman mereka bagi sejak mereka bersama, tapi jarang sekali Harry yang memintanya dulu. Ada rasa asing di dadanya, rasa aneh yang tak biasa, mencoba tak menghiraukan itu Draco pun membalas rasa hangat yang diberikan Harry. Begitu besar rasa yang dimilikinya untuk pemuda berambut hitam ini, banyak yang menjadi rintangan bagi mereka tapi semua tak berarti apa-apa selama mereka bersama.
Ciuman mereka memanas, masing-masing begitu enggan untuk mengakhirinya walau dirasa kebutuhan akan oksigen semakin menipis. Harry mempererat pelukannya, begitupun dengan Draco. Tautan bibir mereka semakin dalam, bahkan Harry yang biasanya pasif kali ini lebih dominan seakan pemuda itu ingin menghabiskan semua kehangatan kekasihnya dan itu membuat Draco sedikit kelabakan akan keagresifan Harry.
"Harry, love..." bisik Draco tersengal dengan suara parau, dengan lembut dia mendorong bahu Harry.
Harry membuka matanya dan menatap lurus mata abu-abu Draco, "Kenapa?" tanyanya tak mengerti.
Draco tersenyum lalu mengecup lembut bibir Harry, "Aku senang kau melakukan itu, Harry, sungguh. Hanya saja aku bingung, tak biasanya kau begini," jawab Draco sambil menempelkan keningnya pada kening Harry, "Apa kau sedang bersedih?" tanyanya lagi.
Harry membenamkan wajahnya pada lekuk leher Draco, "Aku tak akan bersedih selama ada kau," jawabnya lirih.
Draco merengkuh tubuh Harry dalam dekapannya, "Kau pikir aku akan meninggalkanmu?" tanyanya pelan nyaris menyerupai bisikan.
Harry menggeleng dan semakin menyamankan dirinya dalam pelukan Draco, aroma tubuh yang begitu disukanya itu langsung membuatnya mengantuk, rasa hangat yang menyelimutinya dalam sekejap mampu membuatnya terlelap.
Draco mengusap helai hitam rambut Harry, "Aku tak akan meninggalkanmu," bisiknya. Setelah itu dia hanya diam, menikmati hembusan nafas Harry yang terasa hangat di dadanya.
.
#
.
"Bagaimana, Harry? Kau sudah memikirkan semuanya?" tanya Profesor di kantornya.
Harry menunduk, dia sudah tahu kalau inilah yang akan dibicarakan oleh kepala sekolahnya saat memanggilnya secara pribadi.
"Semua keputusan ada di tanganmu," kata wanita tua itu lagi.
Suara terkekeh pelan terdengar dari belakang Minerva McGonagall, dari sebuah lukisan berbingkai perak yang besar, "Jangan menekannya, Minerva, biarkan dia pikirkan semuanya dengan tenang," kata suara itu.
Harry berdiri dan berjalan cepat menuju lukisan itu, sedangkan Profesor hanya memutar kursinya, "Profesor Dumbledore," sapa Harry dengan penuh semangat. Dipandangnya lukisan yang hidup itu dengan penuh rindu.
"Apa kabar, my boy? Merindukan permen jerukku?" tanya lelaki tua dengan kacamata bulan sabit dan jenggot perak yang menjadi ciri khasnya itu.
Harry tertawa pelan, dia menatap pelindungnya itu dengan mata hijaunya yang berbinar, "Lama tak bertemu, Profesor." Harry memang jarang sekali bertemu mantan kepala sekolahnya itu karena lukisan Albus Dumbledore hanya ada di kantor kepala sekolah di Hogwarts dan di kementrian saja.
Pria tua dalam lukisan itu terkekeh pelan, "Ya, Harry, dan kulihat banyak sekali yang berubah padamu," katanya, "Dan bagaimana kabar pangeran Slytherin yang sombong itu?" tanyanya dengan senyum menggoda.
Wajah Harry memarah dan dia merasa jengah dengan gurauan pria yang begitu menyayanginya itu, "... mmmh dia... baik-baik saja, prof, dan... kurasa dia juga sangat ingin bertemu dengan anda," jawab Harry sedikit gugup.
Sekali lagi Dumbledore terkekeh pelan, sinar penuh kasih masih tampak dan semakin jelas di mata birunya yang ramah saat dia menatap Harry, anak yang dilindunginya selama ini. "Minerva telah menceritakan padaku masalah surat yang kau terima beberapa hari yang lalu, Harry, dan kami semua tahu kebimbangan yang kau rasakan saat ini," kata pria tua itu sambil menautkan kedua tangannya di depan dada.
Harry menatap Minerva McGonagall sebentar lalu kembali menatap Lukisan Dumbledore, A-aku bingung bagaimana menyampaikan ini pada mereka, terutama... dia," jawabnya, "Aku tak yakin dia bisa menerima ini, walau aku juga tak yakin apa aku bisa melakukan ini, prof."
Dumbledore tersenyum hangat, "Ini cita-citamu selama ini kan, Harry? Kau begitu ingin meneruskan jejak ayahmu."
"Ya, profesor," kata Harry cepat, "tapi aku tak menyangka kalau Mr. Shacklebolt dan kepala Auror akan langsung menugaskanku untuk mengisi kekosongan di Paris sambil mengikuti pelatihan disana, yang berarti aku harus..."
"Jangan cengeng, Potter, kau benar-benar menyedihkan," seru suara di sebelah lukisan Dumbledore, lukisan berbingkai hitam yang sama besarnya dengan milik pria berjanggut itu, lukisan yang hampir tak pernah menampakkan gambar dari sang pemilik itu sendiri, lukisan Severus Snape yang pernah menjabat sebagai Kepala sekolah menggantikan Dumbledore, lukisan dari seorang pahlawan yang sesungguhnya yang pernah dimiliki oleh dunia sihir karena pengorbanannya yang besar.
"Profesor Snape," sapa Harry tercekat, lama sekali dia tak melihat pria berkarakter dingin itu, pria yang dulu begitu dibencinya sebelum dia tahu kalau ternyata guru ramuannya itu begitu melindunginya, begitu menyayanginya.
Tawa renyah Dumbledore memecah kesunyian yang tiba-tiba menyelimuti ruangan itu, "Keluar juga kau, Sev. Kau selalu tak bisa menahan dirimu kalau sudah menyangkut anak kesayanganmu ini."
"Diam, Albus, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku hanya muak mendengar kata-kata cengengnya, ternyata waktu satu tahun belum bisa merubah kelemahan pahlawan kita," jawabnya sarkastik sambil menekankan kata 'pahlawan'.
Harry tertunduk, dia membenarkan kata-kata Severus Snape, dia hanyalah seoranng pengecut yang tak berani menghadapi keluarganya, teman-temannya, dan... orang yang dicintainya.
"Pergilah keluar, nak, dinginkan kepalamu, pikirkan lagi dengan tenang," kata Dumbledore berusaha menengahi dan menghibur Harry, "Kami akan ada disini jika kau membutuhkan, bukan begitu, Severus?"
"Hmmp..." jawab Severus Snape dengan ketus, lalu lelaki dengan rambut hitam lurus itu berbalik dan menghilang di balik lukisan, meninggalakn lukisannya kosong kembali.
Dumbledore terkekeh, "Padahal dia juga tak berubah, tetap keras kepala sepertimu, Harry," godanya sambil mengerling. Memang hanya Albus Dumbledore lah yang tahu kalau Seorang Severus Snape selalu memendam rasa sayangnya pada pemuda ini, putra dari wanita yang selalu dicintainya sejak dia kecil.
Harry hanya diam, dia mengerti apa yang dikatakan oleh Dumbledore, sejak melihat ingatan Severus di dalam Pensieve setelah dia meninggal cukup membuat Harry terkejut, rasa bencinya pada guru ramuan itu hilang tanpa bekas. Tak pernah disangkanya di balik wajah dingin itu menyimpan perasaan cinta yang begitu besar untuk ibunya.
"Aku ingin membicarakan ini dengan uncle Lucius dan aunt Cissy dulu, bolehkah?" tanya Harry lirih.
Dumbledore mengangguk-anggukkan kepalanya, "Itu terserah padamu, Harry, mengingat saat ini mereka juga menjadi bagian penting untukmu."
Harry menatap profesor McGonagall, "Bisakah aku menemui mereka sekarang? Melalui jaringan flo anda, prof?" tanya Harry, "Aku tak ingin Draco tahu dulu masalah ini."
Minerva McGonagall berdiri dan menepuk pelan pipi Harry, "Tentu, Harry, tentu, pergilah sendiri, kau pasti membutuhkan waktu pribadi dengan mereka," kata wanita itu penuh pengertian.
Harry mengangguk sembari tersenyum, lalu dia melangkah menuju perapian dan meneriakkan kata Malfoy Manor sebelum menghilang ke dalamnya.
.
#
.
"Kejutan kau datang siang ini, Son," sapa Narcissa sambil memeluk pemuda yang baru keluar dari perapiannya tersebut.
Harry hanya tertawa pelan.
Nercissa melihat ke belakang Harry, "Kau datang sendirian? Dimana Draco?" tanyanya heran, karena tak biasanya Harry hanya menjenguk mereka sendiri.
"Aku ingin bicara sesuatu dengan kalian, tapi... aku tak ingin Draco mengetahui ini dulu," jawab Harry lirih.
Narcissa mengernyit bingung tapi setelah itu dia tersenyum lembut, "Baiklah, ayo kita temui Lucius di perpustakaan," ajak wanita cantik itu sembari menggamit lengan Harry.
.
.
"Beberapa hari yang lalu aku mendapat surat dari kementrian," Harry memulai ceritanya setelah dia berhadapan dengan dua Malfoy senior yang telah dia anggap sebagai orangtuanya sendiri. "Mereka menyatakan kalau aku sudah terdaftar sebagai calon anggota Auror yang baru dengan pertimbangan nilai-nilai ujian akhirku yang telah memenuhi standart kelulusan," lanjut pemuda itu. tak ada yang bersuara, baik Lucius maupun Narcissa membiarkan Harry untuk meneruskan ceritanya.
"Jujur saja aku senang mendengar itu, tapi... pihak kementrian akan menempatkanku di... Paris selama dua tahun atau lebih dan menjalani pelatihan di sana," sampainya lagi. Tetap tak ada yang berkomentar, Harry menundukkan kepalanya dan menautkan jari-jarinya, "Belum ada yang tahu hal ini."
Narcissa yang duduk di samping Harry menghela nafas panjang, tangan putihnya membelai lembut punggung Harry. Lalu dia menatap suaminya agar pria itu berbicara.
Lucius berdehem kecil, "lalu?" tanyanya singkat yang mampu membuat Harry kembali mendongakkan kepalanya, "Apa yang membuatmu ragu?"
Harry menggeleng lemah, "Entahlah, uncle, mungkin benar kata profesor Snape kalau aku hanyalah seorang pemuda cengeng," jawabnya lirih.
"Kau bertemu Severus?" tanya Narcissa.
Harry mengangguk dan menatap mata biru wanita itu, "Ya, bersama profesor Dumbledore dalam lukisan mereka," jawabnya.
Nercissa tersenyum hangat, "Aku merindukan mereka," desahnya pelan.
"Dan?" kejar Lucius menghentikan obrolan mereka yang mulai keluar jalur.
Harry menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering, "Maaf, aku hanya bimbang," jawab Harry lirih, "Ada rasa sesak saat membayangkan kalau aku akan jauh dari kalian, dari semuanya."
Lucius terdiam, hatinya yang keras dan dingin terasa menghangat mendengar kata-kata pemuda itu, bahkan Draco pun tak pernah mengucapkan itu pada mereka, orang tuanya sendiri. Mata kelabunya melihat bagaimana pemuda itu tampak begitu sedih tapi juga berusaha kuat untuk mereka.
"Harry," panggil Lucius dengan suara yang tenang, "Ini cita-citamu, bukan? Jangan jadikan kami penghalang untukmu," jawab pria berambut pirang panjang itu.
Harry menggeleng keras, "Tidak, aku tidak pernah menganggap kalian begitu, a-aku hanya..." pemuda itu tampak gugup dan tak bisa mengungkapkan isi hatinya dengan baik.
Narcissa memandang Lucius, keduanya mengerti akan apa yang dirasakan Harry. Seumur hidup dia tak memiliki keluarga, hidup sendiri dalam tekanan dan disaat semuanya berakhir dan dia memiliki orang-orang yang mencintainya dia kembali tak bisa bersama dengan orang-orang itu.
Lucius menghela nafas panjang, "Harry, aku bisa membuat portkey dengan mudah, jalur internasional kementrian pun masih bisa kupakai karena aku kembali dipekerjakan disana, jadi aku rasa aku dan Cissy bisa mengunjungimu kapan saja," jawab pria itu.
"Kapan saja saat kau membutuhkan kami, Son," tambah Narcissa.
Senyum Harry mengembang, ternyata mereka mengerti walau dia tak mampu mengungkapkan perasaannya. Ada rasa lega dalam dadanya, beban hatinya sedikit berkurang, "Terima kasih," jawab Harry pelan. Tapi dia kembali terdiam saat teringat Draco.
"Kurasa kau harus sedikit bersabar kalau Draco mengamuk, aku yakin itu cuma sebentar," hibur Narcissa yang bisa melihat satu keraguan lagi di mata Harry.
Harry tertawa pelan, "Aku akan berusaha," jawabnya.
.
#
.
Dua hari sejak dia pergi ke Malfoy Manor dan dia belum memiliki keberanian untuk bicara dengan Draco, sedangkan waktu kepergiannya tinggal tiga minggu lagi.
"Harry, kau suka sekali melamun akhir-akhir ini," kata Hermione di ruang rekreasi Gryffindor sebelum makan malam, "Ada masalah?" tanyanya.
Harry yang duduk di lantai menyandarkan punggungnya pada sofa merah di belakangnya, mata hijaunya menatap perapian yang menyala. Dia tak tahu harus bicara apa, kegalauan hatinya membuat dia sulit berpikir walau kata-kata orang tua Draco telah cukup menghiburnya.
"Harry," panggil Hermione lagi.
"Apa terjadi sesuatu padamu dan Draco?" tanya Ginny yang duduk di sebelahnya.
Harry mengusap kepalanya dan belakang lehernya, lalu pemuda itu menenggelamkan kepalanya diantara lututnya, "Tidak, entahlah..." jawabnya bingung.
Hermione turun dari sofanya dan mengapit Harry bersama Ginny, "Mumpung tidak ada Ron disini kau bisa bebas bercerita pada kami, ada sesuatu yang terjadi?" tanya gadis berambut coklat itu dengan lembut. Dia begitu menyayangi Harry seperti saudaranya sendiri.
Harry menghela nafas panjang, dengan sedikit ragu diapun menceritakan semua yang terjadi pada dua sahabat perempuannya.
.
.
"Dan kau belum memberitahu Draco masalah ini?" tanya Ginny pelan setelah Harry selesai bercerita, dia hanya mendapat gelengan dari Harry.
"Iya sih, Draco pasti akan terkejut mendengar ini, tapi tetap saja kau harus memutuskan langkahmu, Harry," kata Hermione, "Ini cita-citamu, dan Draco adalah cintamu, kau harus bisa menyelaraskan mereka."
"Kalaupun Draco marah aku yakin itu tak akan lama, perlahan dia akan mengerti. Dia mencintaimu, Harry, dia pasti mendukungmu," sambung Ginny.
Harry terdiam, dia merenungi semua kata-kata dua sahabatnya itu. ya... dia harus bicara dengan Draco.
.
#
.
Saat ini Harry benar-benar tak bisa menikmati makan malamnya, walau Draco tengah duduk di sampingnya, di meja Gryffindor, sesuatu yang biasanya mampu membuat Harry senang dan makan dengan lahap. Kali ini dia justru merasa tegang, dia tak tahu bagaimana caranya memulai.
"Wajahmu mengerikan kalau kau terus tersenyum seperti itu, Draco," gerutu Ron yang duduk di depan mereka.
"Bukan urusanmu, Ron," jawab Draco tenang, dia tak ingin memulai keributan kecil mereka saat makan malam.
"Kau tampaknya bahagia sekali, ada sesuatu?" tanya hermione sambil meneguk jus labunya.
Harry memandang kekasihnya, ya... wajah Draco memang tampak seperti sedang senang, bahkan senyum kerap kali menghiasi wajahnya yang biasanya dingin itu.
Draco memendang Hermione, Ginny dan Ron bergantian, "Kalian tak merasa begitu?" tanyanya heran, "Kita hampir lulus dan tak perlu direpotkan dengan ini dan itu lagi, hidup sebagai pekerja dan terus bersama dengan orang-orang yang kalian cintai, bukankah itu sempurna?" tanyanya sambil tertawa pelan.
Harry menghentikan suapan ke mulutnya, perutnya serasa berputar dan kepalanya begitu pusing. Bagaimana dia bisa menghancurkan kebahagiaan Draco malam ini?
"Cukup, Draco, aku jadi kenyang kalau mendengarmu bicara sesuatu yang romantis seperti itu," gerutu Ron yang tak menghentikan makannya, dan sepertinya adu mulut kecil-kecilan sudah dimulai di meja ini.
Hermione dan Ginny memandang prihatin pada Harry yang wajahnya kini memucat, kata-kata Draco barusan telah menunjukkan bagaimana reaksi Draco nanti kalau Harry telah menyampaikan masalahnya.
"Kau sudah selesai?" tanya Draco pada Harry saat melihat pemuda berkacamata itu menjauhkan piringnya, Harry hanya mengangguk sambil mngusap bibirnya dengan serbet makan. "Wajahmu pucat, kau tak apa-apa?" tanyanya lagi.
"Tidak," jawab Harry singkat tanpa melihat ke arah Draco.
"Kalian pergi saja sana, jangan bermesraan di depanku, aku masih mau makan," gerutu Ron, "Ouch... kenapa kau menginjak kakiku, Mione," teriak Ron dan langsung terdiam saat Hermione melotot padanya.
Draco mengernyit heran, "Ada sesuatu?" tanyanya pada Harry yang tampak salah tingkah.
Pemuda berambut hitam itu berdiri, "Aku harus bicara padamu, Draco," katanya sambil berlalu dari mejanya. Sedangkan Draco menatap bingung pada pemuda itu dan menyusulnya.
.
.
Suasana di tepi danau itu begitu hening, bahkan airpun tak beriak. Draco berdiri membelakangi Harry, perasaannya benar-benar kacau begitu mengetahui kalau pemuda itu akan meninggalkannya sendiri, walaupun itu urusan pekerjaan dan masa depan mereka. Bagaimana bisa disaat dia merasa semuanya terlihat sempurna ternyata akan hancur hanya dalam satu malam.
"Draco, maafkan aku... akupun berat memutuskan ini," kata Harry pelan.
Draco mendengus, "Tapi kau sudah memutuskan semua, kan?" tanyanya ketus. Harry tercekat, dia tak ingin mendengar nada suara itu lagi, dia ingin Draco yang biasanya.
"Draco, tolong mengertilah, aku..."
"Ya, aku mengerti, sangat mengerti, dan kau bebas pergi kemanapun kau suka, kau bebas memilih apapun yang bisa membuatmu senang," jawab Draco dingin, lalu pemuda berambut pirang itu meninggalkan Harry sendiri di tepi danau.
Harry tak berusaha mengejar pemuda itu, dia berharap kemarahan Draco segera reda dan mereka bisa berbicara lagi. Saat ini yang bisa dilakukannya hanyalah bersabar.
.
#
.
Pagi ini Harry tak menunggu teman-temannya untuk pergi bersama ke aula besar, dia ingin segera bertemu Draco dengan harap-harap cemas, 'semoga dia tak marah lagi', doa Harry dalam hati.
Dia melihat pemuda itu sudah duduk di meja Slytherin bersama balise, Theo dan Pansy. Dan ada juga Greengrass bersaudara, aneh memang mengingat sejak kejadian dulu Draco selalu menghindari dua gadis itu. Perlahan Harry menghampiri meja dengan dominasi warna hijau itu, dia tersenyum pada Blaise, Theo dan Pansy yang menyapanya, juga Astoria yang tersenyum manis, tapi dadanya semakin berdebar karena Draco tak berusaha menoleh dan memandangnya.
"Draco... bisa bicara sebentar?" tanya Harry.
Draco terdiam beberapa saat, dengan enggan dia mendongak pada Harry dan yang membuat Harry membeku adalah dia melihat seringaian dingin di bibir Draco, "Aku sibuk, nanti saja kalau aku tak malas," jawabnya acuh.
Harry terdiam, begitupun semua yang mendengar kata-kata Draco. Tak ingin bertengkar lebih lanjut Harry pun menghela nafas panjang, "Baiklah," katanya sambil berbalik dan meninggalkan meja Slytherin menuju meja panjang Griffindor, dimana kedua sahabatnya dan Ginny sudah menunggu disana dengan wajah prihatin. Sedangkan Draco semakin kesal karena Harry tak berusaha memaksanya.
"Bagaimana?" tanya Hermione setelah Harry duduk di depannya, di samping Ginny.
Harry mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai blueberry, lalu memotongnya dengan malas-malasan, "Dia masih belum mau mendengarku," jawabnya pelan.
Ginny meletakkan sepotong daging asap di piring Harry karena dia melihat Harry nyaris tak menelan rotinya dan tak menghiraukan tangan Harry yang berusaha menolaknya, "Kau harus makan," paksa Ginny, "Beri dia sedikit waktu lagi, setelah itu coba bicarakan lagi dengannya. Dia pasti hanya terkejut dengan berita yang mendadak ini," kata Ginny berusaha menghibur pemuda berkacamata itu.
Harry mendongakkan wajahnya dan memandang ke meja Slytherin dimana Draco pun ternyata tengah memandang lurus kearahnya, mata abu-abu itu tampak terluka, tampak begitu sepi dan sakit, dan saat itu terbersit dalam pikiran Harry untuk membatalkan pekerjaannya di Paris. Dia ingin memeluk pemuda itu, meminta maaf karena telah membuatnya terluka.
"Harry, ini cita-citamu, bukan? Jangan jadikan kami penghalang untukmu,"
Kata-kata Lucius bergema di telinga Harry dan pemuda itu kembali dilema akan pilihannya. 'Uncle Lucius benar, ini cita-citaku, cita-cita ayahku', batin pemuda itu. dia lalu melepaskan matanya dari pandangan Draco dan menunduk dalam.
.
.
Siang ini Harry pun berusaha mencari Draco, dia ingin sekali lagi membujuk pemuda itu agar mau mendengarkannya. Hampir seluruh kastil dia putari hanya untuk menemukan Draco, tapi pemuda berambut pirang itu tak juga kelihatan, bahkan Blaise, Theo dan Pansy yang biasanya bersamanya pun tak tahu keberadaan Malfoy junior itu.
Langkah Harry terhenti saat dia mendengar suara orang berbincang di kelas yang seharusnya kosong. Perlahan dia membuka pintu kayu yang berat itu dan tercekat melihat Draco bersama dua Greengrass. Draco tampak membelakangi pintu, dia menopangkan wajahnya di ambang jendela, memandang keluar.
"Biarkan saja, Draco, kalau dia pergi kau tak akan mati kesepian, ada kami yang siap menemanimu kapan saja," kata Daphne sambil memeluk Draco dari belakang, "Nanti kita akan merayakan hari pertamamu bekerja di kementrian, pesta yang meriah sampai kau tak punya waktu lagi untuk memikirkannya," lanjut gadis berparas ketus itu yang disambut tawa ringan Draco dan membuat jantung Harry semakin terasa di remas dengan begitu kuat.
Astoria yang duduk tak jauh dari mereka menoleh ke arah pintu dan terkejut melihat Harry telah berdiri disana, "Potter," katanya.
Draco sontak menoleh kearah pintu dan melepaskan pelukan Daphne dengan kasar, dia tampak lebih terkejut dari Astoria sampai tak mampu berkata apa-apa.
"Well, Potter..." kata Daphne sambil menggelayut di lengan Draco, "Kapan kau akan pergi? Aku harap secepatnya ya!" sindir gadis berambut pirang itu sambil mencibir penuh kemenangan. "Jangan pikirkan Draco, aku jamin dia tak akan kesepian tanpa kau," lanjutnya.
"Diam, Daphne," sergah Draco, dia tak mampu melihat luka yang lebih dalam lagi di mata hijau Harry walau saat ini pun dia tengah terluka karena keputusan pemuda di depannya itu.
Harry tak lepas memandang mata Draco, mencari jawaban dari kilau kelabu itu, tapi dia tak menemukan apa-apa karena Draco segera memalingkan wajahnya. Dengan menghembuskan nafas berat Harry pun tersenyum miris, "Aku tahu," jawabnya entah pada siapa. Merasa tak ada lagi yang harus dibicarakan Harry membalikkan badannya dan berlalu dari ruangan itu.
"Potter, tunggu..."
Teriakan Astoria dan langkah kaki gadis cantik itu yang mengejar Harry menyadarkan Draco kalau Harry tak ada lagi disana. Dengan nanar dia kembali memandang ke arah pintu kelas yang kosong.
"Astoria, mau kemana kau?" teriak Dahpne yang tak dihiraukan adiknya. Gadis cantik berambut hitam itu terus mengejar Harry dan meninggalkan Daphne dan Draco berdua.
.
.
"Potter, tunggu aku," teriak Astoria dengan terengah.
Harry tak tega untuk terus tak menghiraukan gadis itu, dia menghentikan langkahnya di koridor samping, "Ada apa?" tanyanya tanpa melihat kearah junior Draco di Slytherin itu.
Gadis itu memegang lengan Harry, "Itu tak seperti yang kau pikir, Potter. Maafkan kakakku, dia memang semaunya sendiri," jelasnya. "Kami hanya ingin menghibur Draco yang tampak sedang kalut, hanya itu."
Akhirnya Harry memandang gadis itu, mata indahnya tampak berkata jujur, 'Dia gadis yang baik, bagaimana bisa gadis ini masuk Slytherin? Kalau kakaknya sih wajar', batin Harry.
"Tak bisakah kau mengubah keputusanmu, Potter?" tanya Astoria lembut.
Harry tersenyum samar, "Kenapa kau tak mencoba meminta pada Draco untuk lebih memahamiku?"
Astoria terdiam, dia menyadari kalau dalam suatu hubungan harus ada saling pengertian dan pemahaman serta dukungan dari kedua belah pihak. Dia mengenal sikap Draco yang begitu keras dan egois, tapi dia tak mengenal Harry, karena itu dia tak bisa berkata apa-apa.
Perlahan Harry melepaskan tangan Astoria dari lengannya, "Terima kasih telah menjelaskan hal tadi padaku, tapi maaf... ini masalah antara aku dan Draco," jawab Harry tanpa bermaksud menyinggung gadis itu. "Greengrass..."
"Asto, panggil aku Asto, Astoria," potong gadis cantik itu sambil tersenyum.
Harry membalas senyum gadis itu, "Astoria, apa yang akan kau lakukan jika orang yang kau cintai berjuang untuk cita-citanya?"
Astoria memandang emerald Harry yang tampak begitu sedih, "... Aku akan mendukungnya," jawab gadis itu tegas.
Harry mengangguk pelan, "Itu juga yang aku harapkan darinya," jawab pemuda itu sambil berlalu dari hadapan Astoria yang terdiam.
.
.
Pintu ruangan kepala sekolah terbuka saat dia hampir mengetuknya. Perlahan dia masuk ke dalam ruangan bundar itu dan melihat Minerva McGonagall tengah berbincang dengan lukisan Dumbledore dan lukisan Snape.
"Selamat sore, Profesor," sapa Harry pada ketiganya.
Lukisan Dumbledore dan Snape hanya mengangguk, sedangkan McGonagall menghampiri Harry, "Tinggal seminggu lagi, Son, dan kami harap kau telah mengambil keputusannya."
Harry mengangguk, "Aku akan pergi, profesor, tolong sampaikan pada Mr. Shacklebolt," jawab Harry dengan nada pasti.
.
#
.
Sampai saat dua hari terakhir di Hogwarts pun Draco belum juga mau menemui Harry dan Harry mencoba untuk membiarkan apapun yang akan dilakukan pemuda itu padanya. Harry juga tak bisa berharap banyak akan kelangsungan hubungan mereka, dia memasrahkan semua di tangan Draco.
Malam ini pesta perpisahan akan di gelar di aula besar, besok para murid tahun terakhir akan meninggalkan Hogwarts, dan lusa pagi dia harus segera berangkat ke Paris. 'Mungkin semuanya memang harus berakhir seperti ini', batin Harry.
"Jangan melamun terus, lihat wajahmu, rasanya kau tak pantas datang ke pesta ini," goda Ron yang sedang sibuk di depan kaca dengan jubah barunya.
Harry mendengus, dia sudah siap sejak tadi dengan pakaian formalnya, kemeja putih yang dilapisi jas hitam dan jubah hitam. Lalu dia berdiri dan membuka pintu kamar, seringaian muncul di wajahnya, "Sebaiknya kau cepat turun atau Hermione akan menyeretmu sekarang juga," balasnya pada Ron yang langsung tampak pucat melihat Hermione telah berkacak pinggang di depan pintu. Harry tertawa pelan dan meninggalkan mereka berdua di sana. Ginny telah menunggu di ruang rekreasi dengan gaun hitamnya yang semakin membuat rambutnya yang berwarna merah tampak lebih bersinar.
"Kau cantik," puji Harry sambil membiarkan gadis itu menggamit lengannya.
Ginny tersenyum manis, "Thanks," jawabnya. Lalu mereka berdua melangkah ke aula besar.
.
.
Aula besar yang biasanya tampak standart dengan empat meja panjang di tengahnya kini tampak meriah dengan hiasan warna-warni. Bagian tengah sengaja di buat kosong untuk berdansa.
Harry memandang berkeliling, semua wajah para murid tampak begitu ceria, mungkin hanya dia satu-satunya yang tak bahagia. Matanya tertumbuk pada mata kelabu Draco yang tengah berdiri berdampingan dengan Astoria, keduanya tampak begitu serasi, tampak seperti lukisan hidup yang bercahaya. Pemuda berambut hitam itu membalas senyuman yang diberikan oleh Astoria padanya, dan dia tersenyum kecil saat gadis itu menggeleng seolah berkata kalau tak ada apa-apa antara dia dan Draco.
Miris, hatinya begitu sakit, dia begitu merindukan pemuda itu tapi tak mampu memeluknya.
Setelah pidato singkat yang disampaikan oleh kepala sekolah pesta dansa pun dimulai. Harry mengambil bagian bersama Ginny.
"Kau seolah ingin menangis, Harry?" tanya Ginny yang melingkarkan tangannya di leher Harry sambil terus menggoyangkan kaki mereka mengikuti irama musik yang lembut.
Harry menggeleng, "Tidak," jawabnya singkat. Dan hatinya semakin teriris saat melihat Draco memeluk pinggang Astoria, sama seperti yang tengah dia lakukan pada Ginny, 'apakah dia masih merasakan hal yang sama sepertiku saat ini?', tanyanya dalam hati. Tanpa sadar dia memeluk Ginny semakin erat seolah ingin mengurangi rasa sakit yang dirasakannya.
"Harry..." suara Ginny yang sedikit keras, mungkin karena sakit akibat pelukan Harry yang terlalu kencang, membuyarkan lamunannya.
Harry tersentak dan spontan melepaskan pelukannya dari pinggang gadis berambut merah itu, "Sorry, Gin, aku..."
"Kau tampak kacau, Harry," kata gadis itu sambil membelai lembut pipi Harry, "Kalau kau ingin meninggalkan ruangan ini maka pergilah, tenangkan hatimu di luar sana."
Harry terdiam sambil menatap mata cokelat gadis itu, "Aku..."
Ginny tertawa, "Aku bisa berpasangan dengan Neville, lihat itu dia masih saja sendirian di pojok sana," gurau Ginny sambil menunjuk ke arah teman sekamar Harry dengan dagunya.
Harry tersenyum, "Thanks, Gin," katanya sambil memberikan kecupan sekilas di rambut gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri itu, setelah itu dia meninggalkan aula besar tanpa sadar kalau sepasang kilau kelabu terus mengawasinya.
.
.
Menara astronomi dipilihnya sebagai tempatnya menyepi malam ini. Duduk bersandar di bawah teleskop raksasa yang ada disana Harry pun melempar jubah dan jas hitamnya, dua kancing teratas bajunya dibuka dan lengan panjangnya dilingkis sebatas siku.
Malam ini adalah malam terakhirnya di sekolah ini, besok pagi semuanya akan berakhir, statusnya sebagai murid Hogwarts dan takdirnya sebagai musuh Voldemort, semua berakhir di kastil ini. Dan haruskah hubungannya dengan Draco Malfoy juga berakhir?
Delapan tahun, banyak yang sudah terjadi disini. Pertama kali dia mengenal sosok teman dan sahabat, pertama kali dia mendapatkan perlindungan, dan pertama kali dia mengenal arti keluarga juga cinta yang sesungguhnya. Dan haruskah malam ini dia kehilangan semuanya?
Harry memejamkan matanya yanng terasa panas, rasa rindunya begitu menyesak. Baru seminggu Draco menjauhinya dan dia hampir menjadi gila, apalagi kalau dua tahun. Masih terasa hangatnya pelukan pemuda itu, juga lembut bibirnya saat mereka berciuman. Harry melepas kacamatanya dan meletakkannya di lantai, ditekannya pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pusing dan mencegah mengalirnya air mata dari emeraldnya.
Dia terlonjak saat menyadari ada seseorang yang masuk ruangan itu, dengan cepat dia berdiri. Tanpa memakai kacamatanya pun dia tahu siapa yang telah mengganggu lamunannya, "Draco," bisiknya.
Melakukan hal yang sama, Draco pun melemparkan jubah dan jas resminya ke lantai, mata abu-abunya tak lepas memandang Harry. Perlahan dia mendekati pemuda yang terpaku di tempatnya itu.
Harry tercekat saat tiba-tiba Draco memeluknya dengan begitu erat, "Draco," bisik Harry lagi dengan suara parau, dia bisa merasakan tubuh Draco yang bergetar keras sambil mendekapnya.
"Aku merindukanmu," kata Draco lirih, "Baru seminggu dan aku nyaris gila karena tak bisa menyentuhmu."
Harry tetap membeku, dia tak tahu apakah harus senang atau sedih.
"Berjanjilah kau akan membiarkanku bebas menjengukmu, kapan saja," desis Draco di telinga Harry.
Saat itu Harry merasa beban di pundaknya menghilang, rasanya ini seperti mimpi, senyum merekah di bibirnya, "Kau mengijinkanku pergi?" tanyanya tak percaya.
Draco menangkup wajah Harry dengan kedua tangannya, kilat sedih masih tampak dimatanya, begitu pula dengan emerald Harry yang tak bersinar terang. Tapi setidaknya tak ada luka lagi di mata keduanya. "Apakah aku bisa menahanmu?" tanya Draco.
Harry menggengam tangan Draco di pipinya, "Maafkan aku, Draco," bisiknya lirih.
Draco menggeleng, "Aku tahu, ini sudah keputusanmu, dan seharusnya aku mendukungmu, bukan begitu, Love?"
"Apakah kau akan mendukungku?" tanya Harry pelan.
Draco mendekatkan wajahnya pada Harry hingga Harry bisa merasakan hangat napasnya, "Aku mencintaimu," jawab Draco sebelum bibirnya mengklaim bibir Harry dalam satu ciuman yang panas. Tubuh Harry gemetar, sama seperti biasanya disaat Draco menyentuhnya. Lengannya dilingkarkan di leher kekasihnya untuk menopang kakinya yang terasa lemas.
"Draco... aku merindukanmu," bisiknya di sela-sela ciuman mereka, tapi Draco tak mengijinkan Harry terus bicara, bibirnya kembali memerangkap bibir Harry, menggodanya dengan sentuhan-sentuhan kecil di tubuhnya yang gemetar yang membuat Harry mengerang. Terlebih saat Draco mengintimidasi lehernya, yang membuat Harry tak mampu lagi menahan berat tubuhnya dan membuatnya terduduk di lantai, "Kau itu..." gerutunya dengan parau.
Draco tersenyum, dia membungkuk dan kembali memcium kekasihnya, menggodanya dengan kecupan-kecupan kecil yang mampu mengalihkan isi kepala Harry dari hal lain selain Draco. Jemarinya yang putih perlahan melepas satu persatu kancing kemeja Harry dan melemparnya entah kemana, "Biarkan malam ini menjadi milik kita, kau dan aku," bisik Draco saat melihat sorot ragu di mata hijau Harry.
Harry terdiam sejenak, lalu dia membelai pipi Draco dengan begitu lembut, andai dia bisa jujur pada hatinya, dia ingin menghabiskan seluruh malamnya bersama Draco. Tapi mereka bukan lagi remaja yang lebih mementingkan diri sendiri, mereka telah beranjak dewasa, dan masa depan ada dalam genggaman mereka. Bisa terus saling mencintai adalah suatu hal yang tak akan ditukar Harry dengan apapun, dia harus mendapatkan keduanya, masa depannya dan Draco.
"Yes, Draco," jawab Harry sebelum bibir mereka kembali bertemu. Mereka tak mau memikirkan apapun, malam ini hanya hati yang berbicara. Harry membiarkan bibir dan tangan Draco menguasai tubuhnya, memanjanya dengan begitu lembut dan penuh rasa. Dia hanya bisa mengerang saat bibir tipis Draco membelai lekuk lehernya, memberikan sensasi tersendiri yang tak mampu di tolak oleh Harry. Aroma tubuh Draco laksana candu yang membuat Harry ingin terus dan terus menghirupnya.
Ciuman Draco terus turun dan tubuh Harry tersentak saat satu titik sensitif di dadanya tersentuh oleh lidah Draco, tapi dia tak ingin menghentikan rasa itu, rasa yang nyaris membuatnya gila. Dia hanya mampu memejamkan matanya, menikmati semua yang diberikan kekasihnya, mengukir setiap sentuhannya di dalam otak yang telah kosong.
Entah apa yang terjadi, bahkan Harry tak pernah menyadari kalau lembar terakhir di tubuhnya telah lenyap entah kemana. Logikanya pun terlempar jauh saat jemari Draco mulai memanja pusat panas tubunya dengan perlahan tetapi kuat. Peluh membanjiri wajah dan tubuh mereka, cengkeraman Harry terasa licin di pundak Draco yang basah, sampai pada satu masa Harry hanya mampu mendongakkan wajahnya dan menggigit bibirnya dimana panas tubuhnya berkumpul pada satu pusat dan memburai lepas dari tubuhnya, tapi dia tahu kalau ini belum selesai.
Draco tersenyum memandang wajah Harry yang begitu merah karena hasrat yang menyelimutinya. Perlahan dia memposisikan tubuhnya di atas Harry, mengusap peluh dari kening pemuda berambut hitam itu dan mengecup ringan pipinya. "Kau milikku Harry, dan selamanya kau adalah milikku, kau mengerti?" bisik Draco di telinga Harry.
Harry membelalakkan matanya dan mengerang keras saat Draco mulai menyatukan tubuh mereka, kukunya menancap di punggung pemuda berambut pirang itu, penyatuan mereka terasa begitu panas dan membakar.
"Katakan kau akan tetap menjadi milikku, Harry, selamanya," bisik Draco bergetar dengan menahan erangan karena sensasi hangat yang membungkus tubuhnya.
Harry mengatur nafasnya dan mulai menyesuaikan diri dengan Draco yang berada jauh di dalamnya, "Yes, Draco... aku milikmu," jawabnya tersengal, dan dia kembali menggigit bibirnya saat Draco mulai bergerak perlahan dan mengajaknya menjauh dari daratan logika. Kepalanya terasa kosong saat Draco bergerak semakin cepat, jantungnya berpacu dan pandangannya mengabur. Desahan dan erangan menjadi musik yang mengiringi tarian tubuh mereka yang terus menyatu, udara semakin terasa panas seiring meningkatnya gairah yang menggulung mereka.
Harry benar-benar buta, seluruh inderanya berpusat pada Draco dan penyatuan mereka, seluruh tubuhnya tak lepas dari belaian kekasihnya. "Draco..." teriaknya saat dia merasa tubuhnya akan kembali meledak. Jari-jarinya mencengkeram erat pundak Draco yang terus bergerak dengan semakin kencang sampai pada akhirnya erangan keras terlontar dari bibir-bibir mereka. Gairah mereka telah mencapai puncaknya, tubuh mereka membaur dalam satu pelepasan yang dahsyat dan bergetar hebat dalam satu dekapan. Sentakan-sentakan kecil mewarnai getaran yang semakin mereda menuju penyelesaian.
.
.
"Kau tidur?" tanya Draco pada Harry yang bergelung di dadanya, jari-jarinya mengusap lembut rambut hitam pemuda itu dan membelai punggungnya. tongkat Hawtron Draco telah membereskan semua kekacauan yang baru saja terjadi diantara mereka. Jubah tebal mereka menjadi alas dan selimut.
Harry menggelengkan kepalanya dan semakin menyamankan posisi tidurnya dalam pelukan kekasihnya.
"Maafkan aku," bisik Draco tanpa menghentikan belaian tangannya di punggung telanjang Harry.
"Untuk apa?" tanya Harry dengan suara parau.
"Untuk tingkahku yang kekanakan seminggu belakangan ini," jawab Draco lagi.
Harry tertawa pelan dan mendongakkan wajahnya untuk menatap kilau kelabu Draco, "Aku juga bersalah, aku tak berunding padamu tentang hal ini."
Draco mengusap bekas luka sambaran petir di kening Harry, "Ini cita-citamu, wajar kalau kau ingin meneruskan jejak ayahmu. Aku saja yang terlalu egois."
Harry tersenyum, "Aku akan menemuimu sesering yang aku bisa, Draco, aku berjanji," bisik Harry sambil memejamkan matanya saat Draco mencium kelopaknya.
"Dan kuharap kedatanganku disana yang tak sesuai jadwal tak akan membuatmu terus terkejut," jawab Draco yang ditimpali tawa Harry.
"Akan terus kutunggu," balas pemuda bermata emerald tersebut.
Draco menghela napas panjang, "Pasti akan berat tanpa kau, Love, tapi aku akan berusaha dan menjalani semua sampai kau kembali pulang."
Harry tersenyum dan kembali merebahkan kepalanya di dada Draco, "Kalau kau terus manis seperti ini belum pergi saja aku sudah merindukanmu," gerutunya.
Draco tertawa keras lalu beranjak duduk yang otomatis Harry pun ikut terduduk di depannya, "Bagaimana dengan tempat tinggalmu disana?"
Harry mengenakan pakaiannya yang masih teronggok di lantai, "Semua sudah diatur oleh pihak kementrian, termasuk barang-barangku. Bahkan flatku pun sudah disiapkan disana untuk… dua tahun kedepan," jawab Harry dengan nada suara yang kembali terdengar sedih.
Draco menarik tangan Harry dan membuat pemuda berambut hitam itu terjatuh lagi dalam pelukannya, "Kau jangan sedih atau aku akan benar-benar menahanmu disini," ancam Draco, "Lagipula siapa yang menyuruhmu mengenakan pakaian sekarang?"
Harry tergagap, "What? Kau tak bermaksd…"
"Kau sendiri yang menyetujui kalau malam ini milik kita kan?" tanya Draco yang otomatis membuat wajah Harry memerah.
"I-ini hampir jam malam, Draco," tolak Harry.
Draco membungkam bibir Harry dalam satu ciuman yang dalam, "Yang lain masih berpesta, dan ini adalah pesta kita, okay!"
Harry tak lagi mampu menjawab ataupun menolak, karena setiap sentuhan Draco selalu mampu mematikan fungsi otaknya. Ya… malam ini adalah milik mereka.
.
#
.
"Selamat untuk kelulusan kalian, semoga setelah ini jalan yang kalian tempuh akan membawa kalian pada kebahagiaan," kata Narcissa Malfoy sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi yang diikuti oleh semuanya. Malam ini keluarga Malfoy mengundang seluruh teman-teman Draco dan Harry makan malam di Malfoy Manor untuk merayakan kelulusan mereka, sekaligus sebagoi pesta perpisahan Harry.
"Selamat untukmu Pansy dan Miss Granger, pintu departemen hukum terbuka untuk kalian," kata Narcissa sambil mencium dua gadis yang tersipu malu itu. "Kalian juga, Blaise dan Theo, semoga departemen olah raga untuk Quidditch membawa kalian pada kesuksesan," sambung Narcissa yang disambut anggukan oleh dua pemuda Slytherin itu. "Dan kau, Mr. Weasley, kami yakin kau akan menjadi auror yang baik," kata wanita berambut pirang yang masih tampak cantik itu.
Ron mengangguk, "Thanks, ma'am, walau aku sendiri berharap Harry bisa tetap disini dan menjalani pelatihan auror bersamaku," jawabnya pelan.
Semua yang hadir disitu terdiam, rasa senang karena kelulusan mereka banyak berkurang kalau mengingat esok pagi Harry tak akan bersama mereka lagi untuk waktu yang tak sebentar.
Harry menatap temannya satu persatu termasuk Lucius yang sedari tadi hanya duduk diam di sudut ruangan membiarkan para pemuda itu bebas berbincang, menghela napas panjang Harry pun mulai bicara, "Aku tak pergi untuk selamanya, aku akan menyempatkan diri untuk pulang sesering yang aku bisa. Disini aku memiliki keluarga, sahabat dan orang yang aku cintai, jadi… kemana lagi aku akan kembali kalau tidak ke tempat ini?" ucapnya dengan lirih, dan Draco hanya mampu mengusap lembut punggung Harry, menenangkan dan memberi kekuatan pada pemuda yang dicintainya itu.
Hermione berdiri dari duduknya dan memeluk pemuda itu dengan begitu erat, dia menangis di pundak Harry, membasahi lengan baju Harry dengan air matanya, "Aku akan sangat merindukanmu, Harry," isaknya.
Pansy yang tak mampu membendung air matanya pun ikut berdiri dan memeluk Harry, kebencian yang dulu pernah ada hilang seiring dengan waktu, sekarang mereka adalah sahabat, "Aku pun akan merindukanmu, Harry," bisiknya lirih.
Harry memeluk keduanya, dua gadis yang berarti dalam hidupnya, sahabat-sahabatnya yang baik dan penuh kasih, "Aku pun akan merindukan kalian, sering-seringlah mengirimiku surat agar aku tak merasa sepi disana," pinta Harry yang dijawab oleh anggukan keduanya.
.
.
Malam semakin larut, kini hanya tinggal Harry bersama Draco di ruangan ini, di kamar Draco.
"Ini malam terakhir kita," bisik Draco yang duduk bersandar di tempat tidur dengan Harry yang berada dalam pelukannya.
"Jangan pernah mengatakan kata terakhir, Draco, aku pasti kembali padamu," jawab Harry pelan.
Draco mengecup rambut hitam Harry, ingin rasanya dia menahan kepergian pemuda ini, pemuda yang telah menjadi penguasa hatinya, "Aku mencintaimu, Harry," bisik Draco lagi, kali ini pelukannya semakin erat.
Harry menyandarkan pipinya di dada kekasihnya, "Begitupun denganku, Draco," jawabnya. Setelah itu tak ada yang bersuara, mereka hanya berbagi pelukan sampai fajar menyingsing di ufuk timur, yang menyadarkan mereka kalau saatnya telah tiba.
.
#
.
"Jaga dirimu, Son," pesan Narcisa saat memeluk Harry di depan perapian untuk mengantar pemuda itu pergi ke kementrian. Harry mengangguk dan mengecup pipi wanita bermata biru itu. Lalu dia menoleh pada Lucius, pria yang serupa dengan Draco itu merentangkan tangannya, dan Harry menyamankan dirinya dalam pelukan figur ayah barunya itu, "Sampai bertemu, uncle."
Lucius mengusap punggung pemuda itu, "Jaga dirimu," katanya pelan. Dia adalah pria yang terkenal dingin, tapi terhadap pemuda ini hatinya yang membeku selalu terasa hangat.
Melepaskan pelukannya dari Lucius, Harry pun menoleh pada Draco, pemuda itu menatap tajam padanya. Harry tahu dari kilat mata abu-abunya kalau kekasihnya itu berusaha sekuat tenaga untuk tak menahannya, sama seperti Harry yang terus memantapkan diri untuk cita-citanya.
Harry menghampiri Draco, berdiam diri di depannya tanpa bersuara.
Narcissa tersenyum, "Percayalah... semua akan baik-baik saja," katanya sambil mengusap punggung kedua pemuda itu, lalu wanita itu meninggalkan ruangan bersama Lucius, memberi waktu untuk dua putranya.
.
"Aku akan menunggumu, Draco, kunjungi aku secepatnya," bisik Harry.
Draco meraih tangan Harry dan menggenggamnya, dia tak bicara apa-apa, diciuminya punggung tangan Harry sementara satu tangannya yang lain memeluk pinggang pemuda itu. Dadanya terasa begitu sesak saat Harry menyandarkan diri di dadanya, semakin sesak saat Harry mengusap lembut punggungnya.
"Kenapa diam?" tanya Harry pelan.
Draco memejamkan matanya dan menempelkan punggung tangan Harry pada pipinya sambil terus memeluk pemuda itu, dia ingin menangis, tapi tak boleh menangis atau Harry akan semakin sedih.
"Kau ingin menangis ya?" goda Harry seakan bisa membaca pikiran kekasihnya.
Draco tertawa pelan, dia membenamkan wajahnya pada rambut hitam Harry dan mengeratkan dekapannya, "Seorang Malfoy menangis? Kau jangan menghinaku, Potter," jawabnya parau.
Harry membalas pelukan Draco, berat rasanya melepaskan genggaman tangan mereka, dengan lembut dikecupnya lekuk leher Draco, "Aku harus pergi, Love," ucap Harry dengan nada bergetar.
Draco menatap wajah pemuda berambut hitam itu, memandang hijau emerald yang begitu dipujanya. Diusap pipi Harry dengan lembut seakan takut melukai kulitnya lalu perlahan mencium dalam bibir merahnya, mereguk semua rasa yang bisa dicicipinya. Draco menikmati setiap inci bibir kekasihnya seakan tak rela melepasnya menjauh, hanya kebutuhan akan oksigen lah yang menyadarkan mereka.
"Jangan terkejut kalau sewaktu-waktu aku muncul di depanmu," bisik Draco.
Harry terkekeh pelan, "Akan kutunggu, Draco, karena aku yakin nanti malampun aku sudah akan merindukanmu," jawab Harry.
Draco tersenyum dan mengecup sekilas bibr Harry, "Pergilah, jaga dirimu, Love."
Harry mengangguk dan melepaskan pelukannya, "Sampai jumpa, Draco, aku mencintaimu," bisiknya sebelum menghilang di dalam perapian.
.
#
#
.
Harry menyusuri sudut-sudut jalan dunia muggle di kota paris, malam yang seharusnya gelap tak tampak di kota ini. lampu terang dan berwarna-warni menghiasi setiap jengkal langit-langit dan atap gedung yang menjulang tinggi. Musik yang mengalun dari pinggiran jalan tak mampu membuat hatiya tenang.
Dua bulan sudah dia berada di negara ini, jauh dari orang-orang yang dikenalnya. Pertama kali menjejakkan kaki disini kegalauan menggulung setiap detiknya. Dia harus beradaptasi dengan banyak hal, terutama bahasa dan pergaulan. Tapi perlahan dia mampu mengatasi semua, membiasakan diri hidup di kota orang dan jauh dari orang-orang yang dicintainya.
Malam ini dia menghabiskan waktu, sendiri. Dua bulan tanpa kehadiran Draco membuat hari-harinya terasa berjalan begitu lambat. Dia merindukan pemuda itu, kata-kata ketusnya, keusilannya, tawa renyahnya, sikap arogannya... semuanya.
Surat-surat dari Draco yang kerap mampir di meja kerjanya atau flat yang ditinggalinya selama di Paris cukup mampu membendung rasa rindunya akan pemuda itu. Surat yang hanya berisi kata-kata sederhana dan tak terlalu muluk sudah cukup menghibur Harry akan sosok kekasihnya, karena membayangkan Draco mau membuang waktunya untuk menulis secarik surat padanya saja sudah sangat luar biasa untuk Harry. Draco adalah tipe orang yang lebih memilih berbicara langsung daripada harus melalui surat.
Tapi jika rasa rindu itu sudah semakin mendesak, Harry lebih memilih untuk mengalihkan pikirannya dengan berjalan-jalan seperti ini. Tersiksa rasanya disaat dia membutuhkan lengan Draco untuk memeluknya, bibir Draco untuk diciumnya dan dada Draco yang biasa dia jadikan sandaran tak didapatnya. Saat dia sedang pusing dengan pekerjaannya dia begitu ingin Draco berada disisinya dan membuatnya tenang seperti yang selalu dilakukan pemuda berambut pirang itu padanya. Tapi Harry tak mungkin mengatakan hal itu pada Draco, dia tak mau mengusik pemuda itu yang baru saja memulai hari-harinya di departemen hubungan sihir internasional, karena dia tahu kalau Draco akan memenuhi keinginannya apapun yang terjadi walu harus meninggalkan pekerjaannya, kekasihnya yang begitu egois itu memang semaunya sendiri.
Harry terus berjalan dan berjalan hingga tanpa terasa dia telah sampai di pemukiman para penyihir, di depan gedung flatnya sendiri. Dia masih enggan untuk masuk kedalam ruangannya, tanpa Draco semua terasa dingin dan kosong.
Harry melihat ayunan kayu di taman kecil di depan flatnya, perlahan dia menghampiri ayunan itu dan duduk diatasnya tanpa mengayunkan papan tipis itu. Sambil tersenyum miris dia membelai kalung putih yang melingkar di lehernya, kalung pemberian Draco saat malam Natal lalu. Dia ingat tumpukan salju yang terasa hangat saat Draco memeluknya malam itu, ingat akan janji dan keinginan Draco untuk selalu bersamanya, juga ciumannya yang selalu terasa lembut di bibirnya, "I miss u, love," bisik Harry lirih pada senyapnya malam itu.
"Miss u too, babe," jawab suara di belakangnya yang mampu membuat Harry melompat dari duduknya dan berbalik arah memandang pada sumber suara. Belum pernah dia merasa begitu bahagia sejak tiba di Paris, bebannya seakan hilang dan tubuhnya terasa ringan saat dia melihat sosok yang begitu dirindukannya. Sosok yang tersenyum lembut dengan kilau kelabu yang mampu menghipnotis hijau emeraldnya, "Draco..." panggilnya tak percaya akan penglihatannya sendiri.
Draco menyeringai sambil merentangkan tangannya, "Kau tahu, saat ini aku begitu ingin memelukmu," katanya dengan nada penuh kerinduan.
Tak perlu berpikir dua kali akan apa yang harus Harry lakukan saat itu, apa yag dia inginkan telah di dapatnya malam ini.
ooOOoo
a/n.
Kelamaan ya apdetnya, ehehehehe maap... *digebukin sekampung*
Hebat, setelah sekian lama ga bikin lemon akhirnya berhasil juga setelah menonton itu dan obrolan malam disana, emang dahsyat dampaknya =))
Mungkin masih ada satu chap lagi untuk Heart, tapi ya gitu... saya ga bisa janji cepet ya, maap...
Untuk semua yang ripiu di chapter sebelumnya ga ada kata-kata laen selain makasih yang sebesar-besarnya *peluk semua*
