"Aku hanya tertuju pada satu tujuan. Diary yang kamu pegang... Goenji Shuuya!"

"Go-Goenji seorang pemilik diary?" kagetku. "Iya. Aku saja sampai memakai jenazah palsu untuk memalsukan kematianku." kata Hiroto menjelaskan kepadaku. Pikiranku mulai bercampur aduk dengan semua kejadian hari ini. "Ja-jadi.. Kamu mengajakku untuk ke taman untuk..." Suara tawa kecil terdengar dari bibir Hiroto. "Kamu membuat umpan yang baik untuk menangkapnya. Maaf, ya." jawab Hiroto sambil memperlihatkan smirk kecil. Mendengar perkataan itu, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain meneteskan air mata, teman yang kupercaya hanya mengganggapku sebagai sebuah umpan untuk menangkap mangsa yang diincarnya. Memang sudah sepantasnya aku menjadi seorang penyendiri dan hanya dapat memainkan handphone kesayangannya untuk tidak ikut campur dengan lingkungan sekitar.

"Baiklah. Aku akan memberikan diary-ku," jawab Goenji dan membuat diriku terkejut untuk beberapa kalinya. "Tetapi, jika kamu dapat mengalahkan aku dalam permainan ini." Dia mengeluarkan sebuah koin emas dan melemparkan koin itu ke udara. Ketika koin itu akan mendarat, ditangkapnya koin itu dan dimajukan kedua tangannya sambil berkata, "Left or right?"


"Aku memiliki diary-ku, sedangkan kamu memiliki diary Mamoru-kun," Terlihat dari raut wajah Hiroto bahwa dia saat ini sedang merasa takut dengan Goenji. "Caranya mudah saja. Siapa pun di antara tangan mereka yang sedang menggenggam koin ini dapat diketahui, maka dialah yang akan menang."

"Heh, tidak perlu berpikir sejauh itu. Aku hanya tinggal menyusunnya dengan diary-ku." jawab Hiroto dan Goenji pun langsung membalas perkataan itu, "Apa kamu benar-benar berpikir bahwa ini akan sangat mudah? Aku ini juga pemilik diary, loh." Hiroto sedikit tersentak dengan perkataan Goenji yang terlalu percaya diri itu.

"Hiroto," Hiroto menengok ke sumber suara. "Kamu pasti tidak akan kalah jika kamu memiliki diary Mamoru." kata Ryuuji dengan suara pelan. Dengan ragu-ragu, Hiroto menerima tantangan yang diberikan Goenji. "Baiklah! Aku terima tantanganmu!"

Goenji melemparkan koin emas miliknya kepada Hiroto dan dengan segera Hiroto menangkapnya. "Lebih baik kita lakukan pemanasan dulu. Ambillah itu." Hiroto melihat ke arah diary milikku. Rupanya diary-ku telah menulis jawaban dari permainan itu. Aku pun mencoba berpikir bagaimana cara untuk meberitahukan kepada Goenji jawaban yang sebenarnya tanpa mengeluarkan suara. Pada akhirnya, aku memakai cara itu. Aku mengedipkan mata kananku ke arah Goenji. 'Semoga dia dapat mengetahuinya.'

Kazemaru melihat ke arahku dan terkejut ketika mendengar sebuah bunyi yang khas dari diary-nya. Pemanasan dimulai. Hiroto melemparkan koin emas itu dan menangkapnya. "Baiklah! Tangan kanan atau tangan kiri?" Tiba-tiba aku melihat Kazemaru membisikkan sesuatu kepada Goenji. "Hm? Tenang saja. Aku bisa melihatnya melalui diary-ku." Suasana menjadi sangat menegangkan. Aku pun berharap semoga sinyal yang kuberikan kepada Goenji tadi dapat dimengerti olehnya. Goenji masih terus melihat diary-nya hingga pada akhirnya dia menjawab pertanyaan itu, "Jawabannya adalah, tangan kiri."

Hiroto sangat terkejut. Kazemaru pun juga terkejut dan sekilas melihat ke arah Goenji. 'Tangan kiri?' kagetku dalam hati. Sepertinya sinyal yang tadi kuberikan tidak tersampaikan kepada Goenji. Tetapi untuk lebih pastinya, aku harus melihat ke arah Hiroto. Perlahan-lahan Hiroto membuka tangan kirinya dan.. Koin itu berada di tangan kirinya!

"Be-benar..." jawab Hiroto dengan suara sedikit gemetar. Semuanya terkejut, kecuali Goenji. Kazemaru terus melihat Goenji dengan tatapan seperti sedang mencurigai seseorang. "Oke, cukup pemanasannya. Ayo, kita lakukan yang sebenarnya." kata Goenji dan membuat Hiroto semakin takut padanya. Ryuuji kembali berbisik kepada Hiroto, "Hiroto, sepertinya diary Goenji dapat membaca prediksi diary Mamoru."

Goenji melempar koin emas itu ke udara, lalu diambilnya koin itu sambil berkata, "Tangan kanan atau tangan kiri?" Hiroto kembali melihat isi diary-ku. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening sambil menunggu jawaban dari Hiroto. Akhirnya, Hiroto menjawab pertanyaan Goenji, "Tangan kanan!" Tiba-tiba terdengar suara bunyi yang khas dari diary milikku dan membuat Hiroto terkejut. Diary Kazemaru pun juga mengeluarkan bunyi khas itu, tetapi hanya handphone Goenji saja yang tidak mengeluarkan suara apa pun sehingga Kazemaru semakin mencurigainya.

Goenji membuka kedua tangannya dan terlihat koin emas itu berada pada tangan kirinya. Semuanya terkejut karena untuk kedua kalinya dia menang di dalam permainan itu. 'Hebat!' pikirku ketika melihat kejadian yang sedang berada di depanku. "Kamu salah. Sekarang, kembalikan diary itu." Padahal seharusnya diary-ku dikembalikan oleh Hiroto, tetapi kelihatannya Hiroto tidak ingin menerima kekalahannya. "Ti-tidak bisa! Untuk sekarang, aku akan membebaskan Mamoru!" Ryuuji melepaskan genggaman tangannya dari kedua tanganku dan menjauhkan pisaunya. Goenji terlihat tidak senang dengan Hiroto karena seharusnya dia sudah kalah. "Me-memangnya ada masalah dengan hal itu?" kesal Hiroto dengan tatapan Goenji.

Aku berlari menghampiri Goenji dan terus-menerus memuji dirinya. "Goenji, diary milikmu keren sekali! Dengan ini, kita bisa menang dengan mudah! Sebuah diary yang dapat membaca prediksi diary lain, dengan itu kamu akan menjadi seorang dektektif dunia yang sempurna!" Kazemaru masih terus menatap Goenji dengan tatapan curiga.

"Oke, ayo, mulai ronde yang selanjutnya. Jika aku menang lagi di ronde ini, maka inilah yang terakhir. Ah, dan-" Tiba-tiba Goenji ditarik oleh Kazemaru dan dilemparnya ke lantai sambil menodong sebuah benda tajam seperti pisau ke lehernya. Aku pun terkejut beserta teman-teman lainnya. "Aku lupa untuk membicarakan hal yang sangat penting padamu," Kazemaru menatap Goenji dengan sangat menakutkan, seperti seorang pembunuh, dan mengeluarkan suara yang agak bass. "Kamu pemilik diary apa?"

Goenji hanya dapat menatap mata Kazemaru dengan tatapan anak polos. "Apa yang kamu lakukan di saat penting ini, Kazemaru?" kesalku. Kazemaru dengan kasar mengambil handphone milik Goenji dan membuka isi SMS-nya. "Tidak ada diary yang tertulis di handphone ini." Kazemaru kembali menatap Goenji, "Kamu bukanlah pengguna diary!" Tiba-tiba Goenji tertawa dengan sangat lepas. Semuanya menatap Goenji dengan tatapan sangat terkejut. "Bukan pemilik diary..." Hiroto terlihat tidak percaya dengan hal itu.

"Haha, maaf, maaf. Semuanya terlihat percaya jika aku mempunyai diary, makanya aku mengira ini akan menjadi sangat menyenangkan untuk dijadikan mainan." Aku pun sebenarnya juga tidak percaya dengan perkataan itu, tetapi untuk lebih memastikan aku mencoba bertanya kepadanya. "Ta-tapi, kamu menang dua kali..." Itulah yang kukatakan kepadanya dan dia menjawab, "Aku hanya menebak. Walaupun dia dapat memprediksi masa depan, tetapi manusia tetaplah manusia. Hiroto hanya kehilangan kepercayaan dengan prediksinya saja, makanya dia jadi kalah." Kazemaru dengan tatapan dingin mengangkat pisau miliknya untuk bersiap-siap menebas Goenji, "Kamu telah mempermainkan jalan hidup Mamoru..." Kemudian diluruskannya pisau itu untuk menusuk Goenji sambil berkata, "Matilah!" Dengan sigap, Goenji memegang tangan Kazemaru yang sedang memegang pisau dan satu tangannya lagi mendorong tubuh Kazemaru hingga Kazemaru terlihat seperti duduk. "Baiklah, ayo, lanjutkan permainannya."


"Hiroto ingin membunuhku karena aku telah mengetahui rahasia ayahnya. Jadi aku akan berani bertaruh dengan nyawaku sendiri untuk mendapatkan diary milik Mamoru-kun. Jadi, ayo, kita lanjutkan." kata Goenji dengan santainya. Goenji memang benar-benar ingin menolongku, padahal lebih baiknya jika dia mementingkan dirinya sendiri daripada diriku. Aku takut jika tiba-tiba saja dia kalah di dalam permainan ini. Aku tidak ingin lagi kehilangan teman-teman yang kusayangi.

Goenji menghampiri Kazemaru dan berbisik kepadanya mengenai sesuatu. Walaupun wajah Kazemaru terlihat kesal dengannya, tetapi dia menanggapi perkataan itu. "Ayo, kita main sekali lagi! Jika kamu menang, aku akan mengembalikan diary Mamoru. Tetapi jika kamu kalah, maka kalian semua akan menjadi makanan anjing!" kata Hiroto.

"Hi-Hiroto. Bisakah kamu berjanji padaku? Jika kita menang... Kita akan pulang bersama ke rumah..." Aku tidak ingin lagi kehilangan teman-teman yang paling kusayangi. "O-oke, jika aku kalah, maka aku akan mengikuti Mamoru untuk pulang dengan selamat." kata Hiroto dengan raut wajah yang sedikit sedih. "Tapi itu artinya kita akan kalah! Jika satu orang dari mereka pergi, maka keheningan ini menjadi tidak berarti!" kata Ryuuji secara tiba-tiba. Hiroto terlihat sedikit tersenyum kemudian berkata, "Kita memang sudah kalah sejak awal. Kamu juga bisa pergi , Ryuuji." Hiroto pun melanjutkan perkataannya. "Ketika aku pertama kali berkata padamu untuk ikut membantu, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk kamu ikut campur dalam masalah ini, jadi.." Tiba- tiba saja, Ryuuji memeluk Hiroto dari belakang sambil memperlihatkan raut wajah yang tidak menerima semua ini. "Lupakan aku..."

Kazemaru dengan Goenji masih saja saling berbisik-bisik. Aku ingin sekali mengetahui pembicaraan mereka, tetapi itu bukanlah suatu yang baik. Akhirnya, pembicaraan mereka selesai dengan diakhiri oleh wajah Kazemaru yang dipenuhi sweatdrop sambil berkata, "Tu-tunggu!" Goenji tidak mendengar perkataan Kazemaru dan kembali melanjutkan perbincangannya dengan Hiroto. "Ayo, kita mulai."

"Baiklah!" Hiroto melempar koin emas itu sambil berkata, "Ini adalah permainan yang terakhir!" Diambilnya koin emas itu dan dimajukan kedua tangannya. "Tangan kanan atau tangan kiri?" tanya Hiroto dengan nada sedikit berteriak. Tiba-tiba, Kazemaru berjalan ke arahku dan menutup penglihatanku dengan badannya sambil tersenyum imut. "Mamoru, berdiri seperti ini terus, ya." Telingaku ditutupi oleh kedua tangan Kazemaru sehingga aku tidak tahu apa yang sedang terjadi saat itu. 'Mengapa dia menutup telingaku?'

Diluar pendengaranku. Dengan tatapan mata serius, Goenji menjawab pertanyaan itu sambil menunjuk ke arah tangan kanan Hiroto. "Jawabannya adalah, kanan!" Hiroto sangat terkejut karena jawaban yang dilontarkan oleh Goenji adalah jawaban yang benar. Dengan perlahan, Hiroto membuka tangan kanannya dan terlihat koin emas itu berada di sana. Goenji tersenyum dan melihat ke arah Kazemaru.

Akhirnya, Kazemaru membuka kedua tangannya. "Oh, tidak, jawabannya adalah kanan! Bagaimana ini? Aku salah, Mamoru-kun!" Perkataan Goenji membuat diriku tersentak kemudian secara spontan aku berkata kepadanya, "EEH? Ja-ja-jadi gimana ini, Goenji-kun!" Tiba-tiba saja, perutku ditonjok oleh Kazemaru sehingga aku kehilangan kesadaran.

Diluar kesadaranku. "Oke, sekarang Mamoru-kun masih percaya bahwa aku kalah darimu." kata Goenji. Hiroto pun terdiam sejenak untuk berpikir mengapa Goenji membohongi Mamoru. Ketika dia mengetahui alasannya, dia langsung melihat diary milik Mamoru dan membaca isi teks. "Kelihatannya kau mengetahuinya. Itu berisi prediksi dari yang Mamoru-kun percaya yang sebenarnya informasi salah. Walaupun Mamoru-kun memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, ketika kita sampai di sini, dia masih mengira bahwa kamu telah mati. Prediksi itu dibuat berdasarkan kepercayaannya sendiri, walaupun jika itu adalah masa depan yang salah." Goenji menjelaskan secara panjang lebar mengenai Random Diary milikku. "Te-tetapi, itu bukan berarti bahwa kamulah yang menang!" kesal Hiroto. "Kesempatanku 50-50. Ini adalah permainan judi yang jujur, dan akulah yang menang. Kamu kalah, Hiroto..." Ryuuji yang tidak menerima kekalahan Hiroto secara tiba-tiba ingin menusuk handphoneku. Dengan cepat, Kazemaru berlari menuju Ryuuji sambil memegang sebuah pisau, kemudian menusuk pinggang Ryuuji.

Baru saja aku tersadar dari pingsanku, aku sudah melihat sesuatu yang sangat mengejutkan. Kazemaru menusuk pinggang Ryuuji. Hiroto yang ingin melindungi handphoneku menjadi terkena tusukan pisau milik Ryuuji. Kejadian itu benar-benar terjadi secara tiba-tiba...

To be Continued

Untuk yang ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Kazemaru dan Goenji yang diceritakan pada saat itu sedang berbisik-bisik ria, saya akan memberitahukan kata-kata apa yang dikatakan oleh mereka sekarang juga!

Kaze: Ingat, kamu saat ini memang bisa mengalahkan Random Diary. Tapi, ini tetap saja permainan judi. Aku tidak bisa berkata sebenarnya dan... Aku tidak akan mempercayainmu.

Goenji: Perasaanku terhadap Mamoru-kun melebihi dari titik persahabatan, loh.

Kaze: Eh? Eh? Tu-tunggu!

Balasan review:

Kuroka:

Hehe, abis saya gak tau harus siapa orang yang selalu ngejahatin Mamoru. Pertama saya maunya Nagumo, tapi Nagumo kan kurang ada hubungan sama Mamoru. Jadi saya pilih Fudou aja deh...

Kuroka-san juga harus tulis fanfic tentang Mirai Nikki XD Wah, Mirai Nikki Paradox ya.. Baiklah, saya akan terus menunggu fanfic anda update :D Hmm, kalau Mamoru menurut saya cocoknya jadi Yukii aja.. Itu menurut saya loh..

Ugh! Saya pokoknya gak mau lagi baca manganya! Saya kecewa dengan Yukii di komik volume 11! Huee, Akise-kun... OTL

Sama-sama Kuroka-san~! Jangan lupa review fanfic ini lagi ya~ :D

Yukimura Fuu-chan:

Maka dari itu, lebih baik nonton animenya, gak terlalu sadis soalnya(itu menurut sy)..

Hehe, terima kasih atas pujiannya~ :D Semoga saja chapter ini bisa bikin anda jadi lebih tertarik lagi ^^ Dan jangan lupa lanjutin fanfic 'Karaoke'nya ya! Saya suka cerita anda! XD

heylalaa:

Hmm, saya gak kepikiran sampai sana =.=a Karena Hinata memiliki suatu masalah sama ayahnya, makanya saya jadiin dia sebagai Hiroto.. Pemikiran saya memang sangat sederhana OTL

Hehe, memang itu keinginan saya XD

Saya ngikutin cerita animenya, tapi kata-katanya agak saya ubah sedikit.. Haah, saya dah gak mau lagi baca komik Mirai Nikki gara-gara komik volume 11.. Saya bener-bener gak terima sama ending yang seperti itu..

Terima kasih atas review-nya, Lala-san XD

Rauto never awesome:

Gapapa, kok! Yang penting anda sudah meng-review fanfic saya XD

Untuk chapter ini, saya sudah memperbanyak halamannya(krna memang crta aslinya jadi lbh pnjng dri sblmnya..) :D

Saya pertama pengen munculin Nagumo, tapi akhirnya saya lebih memilih Fudou.. Tolong ampuni kesalahan saya! DX

Terima kasih atas pujiannya, Rauto-san~! XDD