Hohohohohohoho

Terima kasih para senpai yang udah baca dan ripiu Story Ruu yang aneh…

Spesial thanks for: Shizuku Kamae, Craziest Laziest Angel OnEarth, nenk rukiakate, Hato Shiro

Summary : Duniaku adalah dunia yang tak sempurna. Sekalipun ku coba memperbaikinya, tetap saja ada bekas cacat yang tak tersembuhkan.

Desclaimer : Yaaa, Om Tite emang komikus yang hebat. Tapi belum bisa ngalahin karya Ruu tuch. Ruu lah yang menciptakan Bleach! Huahahahahahahaha… *plakplokplakplok… diburu langsung ama Om Tite*


PERFECT WORLD

~~~~~Chapter 2~~~~~~~

"Hei Berhenti!"

Aku terus berlari tanpa memperdulikan orang yang terus meneriakiku. Aku terus berlari tanpa arah dan tujuan yang tepat. Yang penting bisa kabur dari manusia berambut orange yang sedari tadi mengejarku.

Orange?

Baru pertama kali aku melihat orang yang berambut aneh seperti itu. Tapi yang pasti bukan asli, kan? Iya kan? Mana ada rambut asli warnanya orange? Benar kan? Mirip jeruk pula.

Hey!

Lagi-lagi berpikir gak guna saat genting begini! Hidupmu sudah diujung tanduk tau!

Sial, nafasku sudah mulai habis. Walaupun aku perlari yang cukup tangguh, tapi kalau terus berlari seperti ini aku juga tak tahan. Bagaimana ini? Jika aku tertangkap,,.

Jangan putus asa, Rukia! Jangan pernah berpikir seperti itu! Kau adalah orang yang tangguh, tidak seperti ibu dan ayah!

Aku pun melihat sebuah gang di depan, dan tanpa berpikir panjang aku pun berlari ke gang sempit itu. Aku berharap laki-laki jeruk itu tak melihatku berlari ke arah sini. Aku pun menengok ke belakang memastikan bahwa cowok tadi tidak berhasil mengikutiku.

"Sepertinya, dia tak berhasil mengejarku, syukurlah!" Aku menundukan tubuhku. Kutaruh kedua tanganku di lututku. Setelah menghilangkan rasa pegal di kakiku, aku pun mengelus-elus dadaku yang masih sesak karena berlari tadi.

"Kau pikir kau berhasil lolos dariku, eh?"

Aku pun langsung menengok ke sumber suara. Mataku membulat ketika melihat sosok yang ada di depanku.

"Kembalikan dompetku!"

Aku pun langsung siap-siap berlari, namun bajuku ditahan oleh cowok sial itu.

"Lepaskan!"

Aku pun mencoba melepaskan gengaman tangannya pada bajuku. Aku berusaha sekuat tenaga menarik bajuku agar lepas dari gengamannya. Dan,

Aku kehilangan keseimbangan…

SRAAAAAAAAAAAAAAKKKKK

"ADUH!" Teriakku meringis kesakitan.

Bagaimana tidak sakit jika jatuh dengan wajah duluan yang mencium aspal. Oh, Tuhan terima kasih, rasanya luar biasa. Kurasa hidungku berdarah saat ini. Aku pun memegang hidungku dengan tangan kanan. Dan, benar hidungku berdarah!Tanpa banyak berpikir aku pun langsung mencoba berdiri dan bersiap-siap lari lagi, mumpung masih ada kesempatan.

"Ka, Ka,,, Ka-Kau,"

Aku mendengar Si kepala jeruk itu sepertinya memanggilku. Dan aku malah memandangnya, bukannya lari. Tapi kenapa ia menatapku begitu? Terkejut? Ada sesuatu yang aneh?

Aku melihat sebuah benda yang sangat kukenal tergeletak di tempat aku terjatuh.

TOPIKU!

Aku pun langsung mengambil topiku dan kemudian berlari meninggalkan cowok sial itu yang masih terdiam di tempatnya. Aku pun terus berlari dan akhirnya aku menemui jalan buntu.

"Dasar tembok sialan!" Aku pun menedang tembok itu untuk melampiaskan kebodohanku. Aku pun berlari kembali kerah sebelumnya, dan langkahku,,,,,

"Jalan buntu ya? Ckckckckck."

Terhenti…

Langkahku terhenti karena cowok tinggi berambut orange yang arogan itu berdiri tepat di depanku. Melipatkan ke dua tangannya di dadanya dan kerutan di kedua alisnya menambah kengerian yang terpancar dari dirinya.

'Ok, hari ini aku salah sasaran! Pelajaran bagimu, Kuchiki Rukia.'

"Kau tak bisa lari dariku!" Teriaknya. Kakiku bergerak mundur selangkah dari tempat semula.

Takut, itu yang kupikirkan.

Ia pun mendekat, dan aku bergerak mundur menjauhinya. Terus menerus seperti itu sampai kakiku tak bisa bergerak mundur karena terhalang oleh tembok.

Aku pun langsung melindungi wajahku dengan kedua tanganku. Aku tak tahu untuk apa itu, namun sepertinya itu adalah gerakan normal untuk mempertahankan diri. Aku tak pernah tersudutkan seperti ini.

"Mana dompetku?"

Dia pun mendekat padaku. Tiba-tiba kedua tanganya memegang bahuku.

Oh Tuhan, apa yang akan dilakukannya?

Tanganku yang kugunakan untuk menutupi wajahku ia singkirkan. Otomatis aku dan dia bertatapan dengan jarak, jarak,,yang

Terlalu dekaaaat!

Deg!

Aku pun terhipnotis melihat matanya, matanya yang bewarna coklat. Coklat? Ternyata jika dilihat-lihat, warna mata dan rambutnya sangat pas. Begitu tampan. Aku pun terus menatapnya.

"Hari ini kau salah sasaran, nona midget."

"Hah?"

Lamunanku buyar. Dan, nona midget? Maksudnya aku? Aku MIDGET!

KURANG AJAR!

Tiba-tiba ia mengambil dompetnya yang berada di jaketku, lalu bergerak menjauh dariku. Aku yang masih melongo, hanya diam terpaku. Entah apa yang dilakukanya, namun sepertinya ia mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Walaupun tidak begitu jelas, tapi aku tahu yang dia ambil dari dompetnya itu,

Sebuah foto

Lalu ia pun berjalan mendekat lagi kearahku.

"Hei, kau tak pantas melakukan hal memalukan seperti ini." Katanya sambil menyodorkan dompetnya padaku.

"Hah?" Kedua kalinya aku mengatakan 'hah' kepada cowok aneh ini.

Dia memberikan dompetnya padaku?

Cowok sinting!

Dan ia pun menaruh dompetnya di atas kepalaku.

"Cepat obati hidungmu." Katanya tanpa memandangku, lalu ia pun pergi.

Aku yang masih shock karena hal itu hanya bisa membuka-memutup mulutku tanpa mengatakan apa-apa.

~~~~~~RuuRuuRuu~~~~~~~~

Aku masih memutar-mutarkan pandanganku pada langit-langit kamar. Sebentar- sebentar aku melemparkan pandanganku pada dompet bewarna hitam yang nangkring di atas meja di sebelah tempat tidurku.

"Hmmm…" Aku bergumam sendiri sambil mengambil dompet itu, lalu kuangkat dompet itu tanpa tujuan yang jelas.

"Cowok aneh!" Umpatku sambil menaruh dompet hitam itu ke tempat asalnya.

"Tapi berkatnya, aku dan Nii-sama bisa sarapan."

Lamunan pun mulai memguasai kepalaku. Orang aneh berambut langka itu sengaja memberikan dompetnya pada seorang yang telah tertangkap basah berusaha mencuri dompetnya itu.

Apa karena dia tau kalau aku ini seorang perempuan, makanya dia merasa kasihan?

Kasihan?

Menyedihkan…

Wanita yang menyedihkan, dirimu menyedihkan Rukia.

Aku pun menutup wajahku dengan ke dua tanganku. Mencoba menahan rasa perih yang tengah mengiris-iris hatiku.

TO BE CONTINUED

Huahahahaha, akhirnya beres juga nieh chap 2nya

Gimana?

Aneh?

Gaje?

Ayo

Riview this chapter