HitsuHina. Req by Michi-chan Phantomhive 626 , Yurisa-Shirany Kurosaki, jeger, dan ruki 4062 jo. Banyak yang nanya kenapa Cha menyelipkan genre 'friendship' di sini. Mudah, sih, soalnya percintaan beberapa tokoh di sini 'sedikit' dibantu teman mereka. *lirik KaienxMiyako*
Yosh! Enjoy this fic, minna! ^^
-Tujuh Tanda Cinta-
[Empat : Melindungi Sepenuh Hati]
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Romance/Friendship
Pairing(s) : HitsuHina
WARNING : typo(s), OOC
Summary : Cinta... Apa kita sadar ketika ia datang? Atau, apa kita tahu saat ia menghampiri? Oh, tentu tidak, cinta itu kan aneh.
-Second POV-
Kamu seperti debu yang tidak diperdulikan. Semua orang di Rukongai berpaling darimu—tidak akan perduli meski mungkin kamu mati di depan mereka. Ironis. Begitulah nasibmu sebelum bertemu dengan gadis kecil yang bercita-cita kuat ingin menjadi shinigami itu. Momo Hinamori.
Kamu tidak ingat kapan pertama kali ia hadir dalam kehidupanmu. Ketika kamu sadar, beberapa tahun kemudian, status kalian sudah menjadi teman sejak kecil. Tinggal satu atap, bersama dengan nenekmu tercinta.
Kamu juga tidak ingat kapan kamu dan dia sama-sama suka dengan satu hal yang indah—langit sore. Ketika matahari mulai kembali ke singgasananya, angin mulai bertiup lembut, dan burung-burung mulai kembali pulang ke sarang. Kamu dan dia akan duduk di belakang rumah sambil menikmati beberapa potong semangka dan berbagi cerita.
"Hei, Shiro-chan," panggilnya.
"Appua?" jawabmu dengan mulut penuh semangka.
"Aku... diterima di sekolah shinigami," ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Mencoba meredakan keterkejutan, kamu menelan seluruh semangka di mulutmu. Daya telan yang hebat juga. "Bukankah itu bagus?"
"Menurutmu begitu?"
"Soalnya kau bisa dapat kehidupan lebih baik."
"Kalau begitu, nanti Shiro-chan harus jadi shinigami juga, ya?"
Bukannya menjawab dengan benar, kamu malah mengambil sepotong besar semangka lagi, lalu melahapnya. "Tuidak mhau."
"Kenapa?"
Lagi-lagi, bukannya menjawab, kamu malah menyemburnya dengan biji semangka dari mulutmu—jahil.
"Shiro-chaaan!" pekiknya.
Meskipun shinigami bukanlah ide yang buruk, tetapi kamu sudah terbiasa dengan kehidupan keras Rukongai. Tempat dimana kamu ditakdirkan untuk selalu bersama dengannya—setidaknya hingga hari ini. Kenyataannya, besok kamu tidak dapat lagi bersama dengannya sepanjang waktu seperti sebelumnya.
Padahal, kamu pikir kalian tidak akan terpisahkan. Namun ternyata matahari terbenam tidak dapat membenamkan keinginannya untuk menjadi shinigami. Begitu pula dengan fajar, tidak dapat menerangi sisi di dalam hatinya untuk dapat melupakan keinginannya.
Dan hari ini adalah hari dimana kalian harus dipisahkan oleh jarak. Ia akan pergi ke sekolah shinigami—hari pertamanya.
"Dah, Shiro-chan!" ia melambaikan tangannya.
"Jangan kembali lagi, Momo si kasur basah!"
Itu ucapan terakhirmu padanya sebelum ia pergi. Tidak juga. Mungkin tidak bisa dibilang terakhir karena kalian tidak akan terpisah begitu lama. Ia berjanji akan pulang ketika liburan, dan kalian akan bisa bersama-sama lagi.
Bersama-sama memandang langit sore sambil tersenyum. Bersama-sama menikmati berpuluh-puluh potong semangka di bawah langit sore. Lalu... mendengar cerita-cerita dari bibir mungilnya.
Sebelumnya tak pernah terbesit di benakmu kalau kamu akan menjadi shinigami juga. Terima kasih kepada Sousuke Aizen yang membuat hatimu sedingin lahar panas dan juga shinigami berdada—err—besar itu.
Kamu sadar bahwa kamu tidak bisa membiarkan dia sendirian. Kamu juga sadar bahwa butuh seseorang untuk dapat mengajarimu mengendalikan kekuatan besar yang ditadirkan untuk bersemayam di dalam dirimu. Setidaknya begitu kesimpulan yang kamu ambil hingga akhirnya memutuskan untuk melangkah di jalan shinigami.
Kesimpulan lainnya? Kamu bosan dan muak mendengar cerita-cerita yang meluncur dari bibirnya. Selalu nama pria itu yang disebut-sebut, tidak pernah terganti. Seolah Aizen adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Kami-sama. Hingga setiap pulang ke rumah, rasanya tidak pernah habis stok cerita Hinamori tentang pria itu. Padahal kamu berharap sekali bahwa yang meluncur dari bibirnya dan ia bangga-banggakan adalah namamu.
Toushiro Hitsugaya, bukan Sousuke Aizen.
Dan kamu sekuat tenaga membuktikannya. Melatih otakmu mati-matian untuk menjadi jenius, berusaha lulus secepat yang kamu bisa—supaya dapat disejajarkan dengannya. Melatih kekuatanmu tanpa lelah untuk menjadi yang terkuat, agar kamu tidak dipandang sebelah mata—dan dapat melindunginya dengan tanganmu sendiri.
Tapi ternyata semua diluar batas prediksimu. Mencengangkan, malah. Siapa yang dapat menyangka kalau kamu lulus lebih cepat dari murid lainnya? Lalu, siapa yang dapat menyangka bahwa kamu langsung ditempatkan sebagai taichou divisi sepuluh di Gotei tiga belas? Sama sekali tidak ada yang menyangka, semuanya begitu mengejutkanmu.
"Shiro-chan?"
"Bukan Shiro-chan lagi, panggil aku Hitsugaya-taichou."
"Tapi aku sudah berjanji akan tetap memanggil dengan nama kecilmu," dia tersenyum jahil, kamu hanya bisa menghela nafas pasrah. "Selamat, ya!"
"Untuk apa?"
"Karena kau sudah menjadi seorang taichou sekarang! Itu hebat, Shiro-chan!" ia memelukmu erat.
Untung saja tak ada shinigami lain yang melihat. Kalau tidak, mungkin mereka akan menyaksikan langsung wajahmu yang merah padam. "H-hei, kau berlebihan, Momo."
"Hihihi... Maaf, Shiro-chan. Ayo, ku perkenalkan kau pada taichouku!" dia menarik lenganmu.
Sepertinya butuh waktu untuk gadis itu tahu bahwa kamu—yah, katakan saja—cemburu melihat keakraban 'lebih' antara dia dengan taichounya itu. Butuh waktu juga untukmu terbiasa lagi dengan cerita-ceritanya tentang taichounya yang mungkin kini akan didengungkan setiap hari.
Aizen-taichou adalah orang yang hebat.
Aizen-taichou sangat berwibawa dan mengagumkan.
Aizen-taichou sungguh bijaksana dan matanya menenangkan.
Semuanya hanya angan-angan, bahkan dusta. Pembelot seperti Aizen tidak pantas menerima penghargaan kata-kata manis yang meluncur dari mulutnya. Seorang penjahat yang telah membuatnya dilema dan malah menyebrang sisi—memihak pengkhianat.
Tapi kini kamu yang mengalami dilema. Apa yang bisa kamu lakukan? Kamu merasa malu pada dirimu sendiri karena pernah bersumpah untuk membunuh siapa pun yang membuat Hinamori berdarah setetes saja. Kamu berkata seperti itu, tapi kamu tidak pernah memikirkan bagaimana nantinya jika kamu yang membuatnya meneteskan darah? Apakah kamu akan membunuh dirimu?
Bahkan seorang Gin Ichimaru yang pernah kamu serang karena murka saja mungkin masih bisa diberi penghargaan. Setidaknya ia bisa melindungi orang yang ia cintai hingga akhir hayatnya. Sementara kamu? Kamu menusuk gadis yang berstatus 'teman kecil'mu itu dengan tanganmu sendiri. Tepat dari punggung hingga menembus dada.
Kamu tidak pernah bermaksud seperti itu, hanya saja kamu lupa bahwa dia akan melakukan apa saja untuk orang yang dikaguminya—Aizen-taichou itu. Hanya saja rasa kagum itu seolah berubah menjadi pemujaan yang berlebihan. Harus ada seseorang yang menariknya kembali ke jalan terang. Dan ini saatnya kamu harus berguna bagi dia.
"Maafkan aku, Momo. Hhh... hhh..."
Nafasmu terengah.
"Aku pasti akan lebih kuat untukmu."
Kamu ayunkan zanpakutomu.
"Aku tidak akan kalah lagi! Hhh... hhh..."
Kamu sudah berada di ambang batas kemampuanmu.
"Momo..."
Dan kini kamu menancapkan zanpakutomu ke tanah, berharap itu cukup untuk menopang berat tubuhmu. Lalu kamu mulai lemas dan jatuh ke tanah. Terlewat. Ini sudah melewati batas kemampuanmu dan kamu tidak dapat lagi berdiri dengan kedua kakimu. Lalu semuanya gelap.
"TAICHOU!" hanya pekikan wakilmu yang terakhir kamu dengar.
Gelap. Kenapa? Kenapa kamu tidak dapat lebih kuat dari ini? Kenapa kamu membiarkan orang yang amat ingin kamu lindungi terluka? Kenapa kamu begitu lemah? Dan pertanyaan itu muncul ketika semua gelap.
Rasanya air mata bukan lambang dari kekuatan, tapi bukankah setelah menangis semua jadi lega dan kamu menjadi lebih kuat? Dan itu kamu lakukan ketika semuanya gelap dan kamu tidak menyadarinya.
Ketika gelap itu pergi dan mata turquoisemu membuka, yang kamu sadari adalah jejak air mata, dan dia.
Tunggu, DIA?
Apa Unohana-taichou sengaja menempatkan kalian berdampingan seperti ini? Atau ini cuma kebetulan. Sudahlah, yang manapun, setidaknya kini kamu dapat bersama dengannya.
"Momo," panggilmu lirih.
Hening. Tak ada respon darinya.
"Maaf karena aku melukaimu, dan bukannya melindungimu."
Masih tidak ada respon.
"Aku... benar-benar merasa bodoh."
Sreg.
Kamu mencoba mengulurkan tanganmu dan meraih tangannya, lalu menggenggam tangan mungil itu dengan erat.
"Momo, aku pasti akan menjadi lebih kuat."
Genggaman itu semakin kuat.
"Jadi kuat, lalu melindungimu."
Dan air matamu meleleh lagi.
"Momo... aku... mencintaimu, sangat mencintaimu."
Kemudian genggamanmu di tangannya semakin erat. Semakin erat, seolah tidak ingin kamu lepaskan dan sampai kapan pun, kamu akan melindunginya.
.
.
~O W A R I~
.
.
#curhat : Silahkan kalian marahin Cha karena melanjutkan fic ini dalam waktu yang amat sangat lama sekali. Huhuhu... Fic ini cukup terlantar karena Cha sibuk dengan urusan di real world. *sob*
Ahh, maaf juga kalau jadinya membingungkan dengan timeline, atmosfer 'mood' di fic ini, dan ceritanya coretyangabalcoret. Menulis di tengah badai WB susah juga. Huhuhu... T^T
Wanna join Bleach Vivariation Festival 2? Come join us on FB group! Or follow our Twitter bleachvivafest. Coming soon on April 2011 . Viva heterogenism! :)
Nee, mind to RnR, readers?
