GinRan. Request by Michilatte626, jeger, and The1st. Oke! Sudah genap tujuh pair di daftar request dan request ditutup ya. Ehehehe... Soalnya kalau lebih dari tujuh, nanti ganti judul dong (dan Cha ga sanggup deh bikinnya #disambit)

Please enjoy this fic, minna!


-Tujuh Tanda Cinta-
[
Lima: Tak Mengharap Balas]
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Romance/Friendship
Pairing(s) : GinRan
WARNING : typo(s), OOC
Summary : Cinta… Apa kita sadar ketika ia datang? Atau, apa kita tahu saat ia menghampiri? Oh, tentu tidak, cinta itu kan aneh.


-Second POV-

Bukankah sudah menjadi ketentuan mutlak bahwa yang berbeda adalah yang dibenci? Dan hal itu berlaku untukmu. Orang-orang tidak akan pernah mau repot-repot untuk membantumu, ataupun sekedar menjadi teman hidupmu—baik sebagai teman biasa, orang tua, kakak, atau adik sekalipun.

Tapi kamu juga tahu, bahwa ada juga jawaban mutlak bagi yang berbeda itu. Masih ada yang akan peduli pada mereka—juga padamu. Gadis kecil berambut oranye kalem pendek itulah yang menjawab semua doa-doamu selama ini. Ia sama sekali tidak takut padamu, malah takkan sungkan untuk menyandarkan dirinya di bahumu.

Sayangnya itu tidak boleh.

Kamu adalah ular, tidak ada yang bisa merubah kenyataan itu. Kamu sangat menyayanginya, sama sekali tidak ingin membuatnya terluka. Kamu percaya betul bahwa ada cara lain untuk menunjukkan rasa cintamu yang besar terhadapnya. Karena kamu adalah kamu, Gin Ichimaru.

Pertemuan pertamamu dengannya sangat jauh dari kata indah, malah mungkin sedikit memprihatinkan—dilihat dari kondisinya—dan… menyebalkan? Hei, siapa yang akan senang jika saat baru pertama kali bertatap wajah dengan gadis kecil kelaparan di pinggir jalan, dan setelah ditolong, ia malah bilang bahwa namamu aneh?

Meski begitu, sejak pertemuan pertama dengan gadis kecil itu, rasanya bibirmu menarik garis lengkung lebih lebar dari biasanya. Kamu luar biasa gembira. Kamu punya teman! Kamu punya seseorang untuk berkeluh kesah terhadapmu, kamu punya seseorang untuk berbagi saat-saat sulit, dan banyak lagi.

Namun, kamu juga bisa dimasukkan dalam kategori orang yang kurang baik. Setelah menemukan seseorang yang peduli padamu, kamu malah membalasnya dengan menunjukkan secara terang-terangan bahwa kamu tidak bisa terus di sampingnya, kamu juga bukan pahlawan yang akan selalu datang setiap ia dalam kesulitan—kamu tidak sekuat itu. Itu caramu, dan tidak ada orang lain yang tahu jalan pikiranmu.

"Gin! Gin!"

Ah, sampai saat ini, hanya dialah satu-satunya lawan jenismu yang memiliki hak istimewa untuk memanggilmu dengan nama kecil.

"Ada apa, Rangiku?"

Begitupun sebaliknya, kamu punya hak istimewa untuk memanggilnya dengan nama kecil.

"Kau darimana? Kenapa tidak bilang saat pergi tadi?"

"Eh?" kamu menggaruk belakang kepalamu yang tidak gatal. "Aku… hanya mencari kesemek saja untuk sarapan kita besok."

"Begitu," ia menunduk, merasa bahwa kamu telah berbohong.

"Nah, lebih baik kau tidur, Rangiku. Sudah hampir malam. Siapa tahu nanti ada serigala yang akan memangsamu kalau kau tidak tidur," candamu.

"Serigala itu akan takut pada rubah yang menemaniku," balasnya.

Dan kalian berdua tertawa senang. Setidaknya itu tawa terakhir sebelum akhirnya kamu memutuskan untuk melanjutkan hidupmu menjadi shinigami dan juga pengikut iblis yang telah merenggut sesuatu yang berharga milik teman hidupmu. Reiatsu.


Sejak kamu diangkat menjadi taichou divisi tiga, intensitasmu untuk bertemu dengannya semakin berkurang. Kamu sangat sibuk dengan tugasmu sebagai taichou, merangkap sebagai calon pembelot yang akan dibenci oleh semua orang, termasuk dia. Sebenarnya hati kecilmu ingin sekali menolak, tapi tidak ada cara lain lagi.

Karena itulah, sejak Aizen memintamu untuk setia mengikutinya, kamu luar biasa bersyukur bahwa matamu itu sangat sipit. Kalau tidak, ia akan sangat khawatir melihat tubuhmu yang semakin kurus dan kantung matamu yang akan terlihat jelas jika matamu sebesar milik adik angkat taichou divisi enam yang selalu menguntit di belakang sang kakak—Rukia Kuchiki. Oh, kamu senang menggodanya saja, bagimu ia lucu. Tapi kamu sama sekali tak berpikiran untuk menyukainya, takut sang kakak akan menjadikan kepalamu sebagai pajangan baru di rumahnya.

Angin malam berhembus lembut, meniup helai-helai rambut perakmu. Malam ini kamu memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, sekedar mencari udara segar dan menjernihkan pikiranmu. Tak sengaja kamu lewat di kedai tempat para shinigami biasa singgah untuk sekedar mengobrol atau minum-minum. Ah, kamu jadi teringat kalau teman kecilmu itu kini punya sedikit kebiasaan buruk, ia suka mabuk-mabukkan.

"Gin~."

Suara itu?

"Rangiku?"

"Gin~. Mau kemana kau?"

Kamu tak menjawab, hanya menghampirinya yang kelihatan sudah mabuk berat—dilihat dari cara jalannya yang sempoyongan, lalu memutuskan untuk memapah tubuhnya.

"Tidak, tidak, aku bisa sendiri."

"Kau mabuk, Rangiku."

"Aku tidak mabuuuk~."

Ah, bahkan kata-katanya saja sudah melantur.

"Kuantar kau ke divisimu."

Ingin sekali kamu bersorak gembira karena dapat bersama dengannya lagi walau sebentar. Namun, kamu hanya bisa menunjukkan dengan senyum tipis di bibirmu, tanpa banyak bicara ataupun kata-kata.

"Gin. Gin. Kita mau kemana? Bukan, bukan, kau mau kemana?"

"Kita akan ke divisimu, Rangiku," jawabmu sambil tetap memapah tubuhnya.

"Jangan tinggalkan aku lagi, Gin. Aku mencintaimu... sangat sangaaaaaat mencintaimu," ia merentangkan tangannya, hampir menampar wajahmu.

Jika saja ia mengatakannya dalam keadaan sadar, mungkin kamu akan jauh lebih senang. Sayang sekali, jika dalam keadaan begini, paling-paling esok pagi ia akan lupa apa yang ia ucapkan. Duh, ingin sekali kamu bertanya besok apakah kata-katanya ini benar, tapi akal sehat mengalahkan perasaanmu. Tidak mungkin gadis ini serius. Ia mabuk.

"Iya, Rangiku. Akupun begitu."

"Gin~."

Kini ia nyaris tertidur sambil berjalan, dan kau hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepalamu. "Jaga dirimu baik-baik, Rangiku. Aku takut tak ada yang akan menggantikanku untuk memapahmu pulang begini. Aku... mencintaimu."


Kalau saja waktu bisa diputar ulang, kalau saja kamu masih diperbolehkan untuk menyesal, kalau saja semuanya belum terlambat. Kamu ingin mengulang semuanya, semua hari-harimu bersamanya, menghabiskan detik demi detik hidupmu di sampingnya. Sayangnya semua itu sudah sangat terlambat.

Kamu tidak menyesal dengan keputusanmu.

Jika ada satu hal yang kamu sesali, maka hal itu adalah saat kamu tidak bisa merasakan lebih lama ketika tangannya menggenggam erat lenganmu. Ya, saat terakhir kamu berada di dekatnya sebelum membelot dan dibenci oleh semua orang.

Malam bagimu pun semakin menakutkan, kamu dihantui mimpi buruk dan perasaan cemas yang mendalam. Apakah ia mengerti arti tatapan sedihmu? Apakah ia mengerti bahwa ini bukan keinginanmu? Apakah ia mengerti bahwa ini semua kamu lakukan hanya untuknya, untuk merebut kembali apa yang telah direnggut darinya?

Kamu hanya memiliki secuil harapan tentang itu. Kamu tidak pernah berharap terlalu banyak tentang itu. Tapi secuil harapan itulah yang berhasil membuatmu cemas. Tahukah ia bahwa hanya dirinyalah yang ada di hatimu? Tahukan ia bahwa nafas dan hidupmu akan ia berikan hanya untuknya? Meskipun, hal itu kamu lakukan dengan caramu, cara yang berbeda.

Dan ini adalah kesempatan terakhirmu untuk berjuang, Gin Ichimaru.

Dihadapanmu kini adalah dia, orang yang sejak dulu kamu lindungi dengan segenap kekuatanmu. Dia, satu-satunya gadis yang berhasil merebut hatimu, satu-satunya gadis yang sama sekali tidak merasa takut untuk berada didekatmu, disampingmu, menemanimu.

Sayangnya kini terhampar jurang ironi diantara kalian. Kamu dan dia telah berseberang pihak.

Kamu ingin memeluknya kini, bilang bahwa ini semua bukan keinginanmu, lalu kalian berada dalam satu atap lagi, seperti dulu. Atau bila dijelaskan secara sederhana, kamu ingin hidup bahagia, bersama dengannya.

Terlambat. Kamu sudah terlanjur menerjunkan diri ke dalam jurang terdalam yang tak berdasar.

"Kau mengganggu, Rangiku."

Pedangmu kini berjarak hanya beberapa milimeter dengan lehernya.

"G-Gin?"

Lalu kamu membuatnya tidak sadarkan diri dengan hakufuku. Setidaknya dengan begitu ia akan selamat dari tangan sang iblis, Sousuke Aizen, dan kamu masih bisa menjalankan skenariomu untuk berbalik menyerangnya.

Kamu merebahkan tubuhnya pelan-pelan diatas gedung tempat kalian saling berhadapan tadi. Pelan-pelan kamu berbisik di dekat telinganya.

"Maafkan aku, Rangiku. Kalau kau mendengar ini, aku tidak akan menyesal jika setelah ini harus mati. Aku mencintaimu. Jaga dirimu baik-baik, kumohon. Jangan menangis, kalau bisa," kamu menghela nafas, lalu tertawa getir, "tapi tidak mungkin juga, sih."

Kamu membelai rambut panjangnya, kemudian menyentuh pipinya dengan lembut.

"Sayonara, Rangiku. Maaf membuatmu begini."

Dan kamu bershunpo, kembali pada iblis itu. Benar, kamu tidak akan menyesal walau kini harus mati. Kamu sedikit berharap bisa selamat, setidaknya untuk mewujudkan impianmu, hidup bahagia bersama dengannya. Tapi kemungkinan itu kecil, sangat kecil.

Kamu telah minta maaf, kamu telah mengatakan bahwa kamu mencintainya.

Tak ada penyesalan walau ia tak mendengar.

Tidak ada.

Sayonara, Rangiku Matsumoto. Aishiteru.

.

.

~O W A R I~

.

.


#curhat: A-abal. *merinding* U-udah lama sekali nggak ngelanjutin fic ini, lebih dari tiga bulan. Maaaaaaf. Cha belum dapat ideeee! #digebukin Well, hubungan kompleks GinRan ternyata bisa digunakan untuk menyembuhakn WB. #eh #gagitu

Selamat yaaaaa buat para readers dan author yang sudah masuk SMP, SMA, ataupun universitas yang diinginkan. Lalu juga buat kalian semua yang sudah naik kelas. Omedetouuuu~. Cha sudah kelas dua belas, mungkin akan jarang melihat nama Cha di jendela review ataupun di archive. Maaf. *sungkem* Jangan kangen ya! *ga ada juga yang kangen*

Wanna join Bleach Vivariation Festival 2? Come join us on FB group! Or follow our Twitter bleachvivafest. Viva heterogenism! :)

Nee, mind to RnR, readers?