ByaHisa. Request by Yuuki Minatsuki. Yosh! Tinggal satu chapter tersisa. Tapi maaf, Cha nggak bisa update cepat. T^T
Please enjoy this story, minna!
-Tujuh Tanda Cinta-
[Enam: Tak Lekang Oleh Waktu]
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Romance/Friendship
Pairing(s) : ByaHisa
WARNING : typo(s), OOC
Summary : Cinta… Apa kita sadar ketika ia datang? Atau, apa kita tahu saat ia menghampiri? Oh, tentu tidak, cinta itu kan aneh.
-Second POV-
Kamu sudah terlalu jenuh dengan orang-orang di sekitarmu yang menganggap dirimu hebat—keturunan bangsawan, dianugerahi wajah tampan, dan dikaruniai otak pintar. Kamu benci mendengar mereka mengagungkanmu hanya karena hal-hal seperti itu. Duniawi sekali.
Kamu merindukannya, dirinya, yang hanya memandangmu sebagai Byakuya Kuchiki; bukan karena kamu kaya, tampan, dan pintar. Bukan juga karena kamu seorang Kuchiki. Tapi karena kamu adalah kamu. Ah, tak ada yang bisa menggantikan dirinya dari hatimu.
Senyumnya, perhatiannya, sentuhan lembutnya. Hisana...
Pertama kali kalian bertemu adalah saat kamu masih belum bisa apa-apa—hanya seorang pangeran cengeng yang bermimpi untuk menggenggam dunia. Kamu masih egois, tidak mau kalah, dan kekanak-kanakan. Tapi sekali lagi, dia menerimamu apa adanya, dia selalu tersenyum ketika melihatmu, selalu tersenyum ketika kamu mengeluarkan segala keluh kesahmu terhadap kakekmu. Ah, kamu nakal, Byakuya, membicarakan orang di belakang itu tidak baik.
"Hari ini aku dimarahi karena tidak bisa menulis kaligrafi dengan benar."
Ia tertawa kecil sambil menutup mulut mungilnya dengan tangan. "Memangnya Byakuya-sama bisa?"
"T-Tentu saja! Kenapa tidak?"
"Wah, saya jadi penasaran dengan kaligrafi Byakuya sama."
"Nanti aku akan buatkan satu yang terindah untukmu!"
"Ti-Tidak usah, Byakuya-sama. Itu akan merepotkan Anda."
Kamu memegang tangannya malu-malu, kemudian memandangnya dengan tatapan yang begitu meyakinkan, "aku akan selalu membuatkan yang terindah untukmu."
Dia tersipu. Astaga, demi Kami-sama, senyumannya itu bahkan bisa membuat para bidadari iri dan jatuh dari langit seperti yang ada di iklan parf—oke, pikiranmu mulai melantur ketika melihat senyumnya. Ah... masa hanya karena senyum saja bisa membuat seorang pangeran Kuchiki jadi gila? Aneh. Aneh.
Tapi hanya di dekat dia, kamu bisa jujur tentang segalanya. Kamu tak akan ragu menunjukkan semua sifat aslimu di depannya. Kamu bahkan dengan terang-terangan menunjukkan kalau kamu tidak lebih dari seorang anak bangsawan yang butuh untuk terbang dan keluar dari sangkar aristokrat dan menjadi orang biasa.
Ya, hanya karena dia adalah Hisana. Tidak ada alasan lain.
Bunga sakura berguguran dengan indah dari pohonnya, seperti menari dan menyemarakkan sore harimu (dan dia). Kamu dan dia duduk di bawah pohon sakura berdua, di pinggir sungai Seiretei. Hening. Kalian hanya menikmati keindahan guguran sakura berdua.
Sesekali kamu meliriknya, dan pemandangan yang kamu lihat hanyalah dirinya yang tengah memegangi selembar kertas berisi hasil kaligrafimu yang terindah tahun ini dan mata violetnya yang tengah memandangi sakura.
Ah, pemandangan yang lebih indah daripada guguran sakura.
"Hisana."
"Ya, Byakuya-sama?"
Kamu diam sejenak, memandang intens dan dalam tepat ke mata violetnya. Kemudian tanganmu bergerak untuk memegang kedua tangan mungilnya. Beberapa menit, kalian terperangkap dalam diam lagi. Tidak ada yang memulai pembicaraan—baik kamu maupun dia.
"Maukah kau... menikah denganku?"
Dan iris violet itu membulat. Kamu tidak bisa membacanya, Hisana rupanya lebih pandai menutupi perasaannya daripada dirimu. Kamu sama sekali tidak tahu apakah ia terkejut, senang, ataukah malah marah karena ini begitu tiba-tiba. Meskipun kamu sudah memikirkan matang-matang tentang lamaran ini dan berkonsultasi pada taichou terflamboyan, Shunsui Kyouraku—awas saja kalau kamu sampai ditolaknya, kamu tidak akan mengampuni taichou satu itu, tapi tetap saja, perasaan takut menyelimuti hatimu. Kamu takut dibenci olehnya.
"B-Byakuya-sama?"
Dia terkejut. Baiklah, itu kabar bagus pertama untukmu. Dia tidak marah di pertanyaan pertama. Lalu... jawabannya?
"Aku tidak berhak marah kalau kau menolakku."
"Bu-Bukan begitu maksud saya. Hanya saja..."
Ia memotong kata-katanya, kemudian menarik pelan kedua tangan mungilnya dari genggamanmu. Kamu punya firasat buruk tentang hal ini. Ada apa gerangan? Apa Hisana benar-benar marah karena kamu mengatakannya dengan begitu tiba-tiba?
"Ya?"
"Hanya saja... saya dan Anda sangat berbeda. Apa kata orang kalau Anda menikahi gadis yang berasal dari Rukongai seperti saya?"
Status sosial. Ingin rasanya kamu membuang nama Kuchiki sebagai nama keluargamu sekarang juga. Masa hanya karena status saja sampai menghambat hubungan asmaramu? Kamu tidak habis pikir mengapa dia sampai berpikiran seperti itu.
"Kata orang? Kau tidak peduli dengan kataku?"
"Bu-Bukan begitu maksud saya, Byakuya-sama. Saya hanya... merasa tidak pantas."
Hening kembali menyelimuti. Angin mulai meniup helai-helai rambut hitammu dan dia. Beberapa kelopak sakura menempel di rambut kalian berdua. Kamu menghela nafas, kemudian kembali menarik kedua tangannya dan kamu kecup dengan lembut sekali. Ah, kamu tidak memikirkan cara lain untuk meyakinkannya.
"Aku mencintaimu. Tidak peduli kata orang. Memangnya mereka tahu apa?" tanyamu sarkatis, terdengar sangat egois.
Ia malah tertawa kecil mendengar pertanyaan yang terlontar darimu, kemudian menarik kembali tangannya; kali ini beserta tanganmu, dan ia letakkan di dadanya.
"Saya sangat mencintai Byakuya-sama," ucapnya lembut, "maaf karena saya telah meragukan cinta Anda."
"Jadi?"
"Y-Ya. Tentu saja saya tidak akan sanggup menolak lamaran Anda."
"Katakan dengan jelas, Hisana," ujarmu datar, sedikit menggodanya.
"Byakuya-sama!" ia tersipu malu, lantas menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Kamu tersenyum bahagia, sangat bahagia, kemudian merengkuhnya ke dalam pelukanmu dan mengecup keningnya dengan lembut. Samar-samar kamu dapat mendengar suaranya.
"Saya mau menikah dengan Byakuya-sama."
Lima puluh dua tahun telah berlalu semenjak kepergian dia, namun kamu sama sekali tak bermaksud mengisi kekosongan di hatimu dengan orang lain. Bagimu, bisa merawat dan menjaga Rukia sudah lebih dari cukup untuk tetap menyimpan namanya di dalam hatimu.
Rukia? Ah, itu hanya adik kecilnya yang perlu kamu jaga dan lindungi. Ia menitipkan gadis kecil itu padamu sebagai tebusan atas dosanya yang membuang adik kecilnya dulu. Kamu sama sekali tidak keberatan untuk itu, karena sejak dulu hanya dialah tujuan hidupmu, alasan setiap tingkah lakumu, dan semangat di tiap harimu. Hisana. Hanya Hisana, tidak ada yang lain.
Dan kini sudah lima puluh satu tahun kamu selalu menjaga dan melindungi Rukia. Ia sudah menjadi jauh lebih kuat—dengan jabatannya sebagai seorang fukutaichou dari divisi tiga belas. Meski kamu tidak sepenuhnya melepaskan pengawasan darinya.
Hari ini kamu akan pergi ke real world untuk menyelesaikan sebuah misi yang merepotkan: mengembalikan kekuatan shinigami Ichigo Kurosaki. Anak tidak tahu sopan santun dan tata krama itu, kenapa Seiretei masih menaruh perhatian padanya, sih?
Dan kini kamu melakukan 'ritual' kecil sebelum pergi ke real world, berpamitan pada istrimu. Kamu memandangi wajah cantiknya dalam sebuah foto di dalam kamar pribadimu. Berbagai perasaan bercampur aduk di dalam pikiranmu. Senang, sedih, dan lega. Selalu itu yang kamu rasakan.
Senang karena kamu masih tetap bisa melihatnya, walau hanya dalam sebuah foto. Sedih karena kamu tidak bisa lagi menyentuhnya. Dan lega... karena ternyata tak sedetikpun kamu melupakan dirinya. Benar, tak sedetikpun kamu berpikiran untuk menggantikan dirinya dengan yang lain.
"Hisana... aku meirndukanmu," gumammu pelan, kemudian mengusap wajah di pigura itu.
Senyum yang sama, terukir jelas di wajahmu. Walau hanya dalam lukisan, hanya dengan melihat wajahnya saja, kamu bisa jujur tentang semuanya. Perasaanmu, tingkah lakumu, dan meruntuhkan segala sikap dinginmu.
"Nii-sama, Soutaichou menunggu di ruang pertemuan."
Suara itu sedikit mengganggu ketenanganmu dengan dia, namun itu pertanda bahwa tugas telah memanggil. Kamu tidak sudi adik iparmu pergi sendirian ke real world lalu bertemu Ichigo Kurosaki dan menginap di dalam lemari kecil bocah itu. Kamu tidak habis pikir mengapa Rukia betah sekali di dalam sana.
"Aku akan keluar sebentar lagi."
"Baik, Nii-sama."
Terdengar suara derap langkah yang menjauh dari kamarmu, kemudian kamu berdiri dan meletakkan pigura berisi fotonya ke tempat semula.
"Aku pergi, Hisana."
Tidak ada yang berubah. Tidak dulu, tidak sekarang, tidak beratus-ratus tahun lagi. Cintamu pada Hisana tidak akan mudah berubah. Ia akan tetap menjadi sebagian dari hatimu.
.
.
~O W A R I~
.
.
#curhat: Fic ini adalah fic terlama yang pernah Cha buat. Hampir satu tahun hanya dengan tujuh chapter di dalamnya. Chapter selanjutnya rencananya akan Cha publish tanggal 18 Januari, jadi pas setahun fic ini dibuat. *plak plak* M-Maaf, karena (cukup) sibuk dan diserang berjamaah oleh WB, jadi Cha kesulitan melanjutkan fic ini.
Bagaimana liburan kalian, minna? Apakah menyenangkan? Kalau Cha... berkunjung ke Negri Sakura dalam rangka tes universitas (bukan Todai, itu terlalu 'dewa'). Bagaimana dengan kalian?
Nee, mind to RnR, readers?
