Pair: NaruSasu

Rated: T

Genre: Romance

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Alternative Universe, Shounen-ai, AU, Maybe OOC, Typo(s), etc.

Don't Like, Don't Read!


~ Our's Story ~

Chapter 2


"Ohayou, Sasuke. Bagaimana tidurmu semalam?" sapa Itachi saat melihat Sasuke keluar dari kamar.

"Buruk!" jawab Sasuke sambil berjalan ke dapur. Dibukanya pintu kulkas untuk mengambil beberapa buah tomat segar.

Itachi yang heran pun melangkah mengikuti Sasuke ke dapur. "Karena Naruto?" tebak Itachi.

"Hn."

Itachi tersenyum. "Lalu, mana Naruto? Apa dia belum bangun?"

"Bukan urusanku!"

"Hh~ kau ini. Hari ini Naruto harus mengganti perbannya, kau bantu dia ya," kata Itachi.

Sasuke yang sedang membuat sandwich tomat langsung mendelik ke arah Itachi.

"Itu tugasmu," lanjut Itachi sebelum Sasuke sempat mengajukan protes. "Aku berangkat dulu. Jangan lupa, siapkan juga sandwich untuk sarapan Naruto."

Itachi pun meninggalkan Sasuke yang masih mematung di dapur.

"Cih, sial."

.

.

.

Naruto's POV

Sinar matahari pagi menyorot hangat dari jendela kamar Sasuke yang terbuka. Silau sinarnya membuatku mengerjap-ngerjapkan mata. Kulirik sisi tempat tidur yang kosong. Sasuke pasti sudah berangkat sekolah. Perlahan aku beranjak bangun. Kepalaku masih terasa sedikit berat.

Kulangkahkan kakiku menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Melewati ruang tengah, suasana tampak sepi. Itu berarti Itachi juga sudah pergi. Saat sampai di meja makan kulihat ada piring yang berisi sandwich. Karena Itachi dan Sasuke tidak ada, sandwich ini pasti untukku. Setelah mengambil sekotak jus dari kulkas, kuambil piring itu dan membawanya ke ruang tengah.

Kunyamankan posisiku duduk di sofa. Aku putuskan untuk menikmati sarapanku sambil menonton acara televisi. Sambil menggigit sandwich-ku, aku berkali-kali memencet remote untuk mencari channel yang bagus. Nihil. Tidak acara yang menarik minatku. Dengan kesal kulempar kembali remote itu ke meja.

Aku terdiam saat merasakan sesuatu yang asam dalam sandwich-ku. Kuamati dengan seksama sandwich yang ada di tanganku. Tidak ada yang aneh. Isinya sama saja dengan sandwich biasa. Daging asap, keju, dan-.

Tunggu!

Apa ini? Tomat? Sebanyak ini? Pantas saja rasanya asam. Siapa sih yang membuat sandwich ini? Seingatku, Itachi bukan maniak tomat. Hmm… apa Sasuke yang membuatnya? Kuambil beberapa iris tomat dari dalam sandwich-ku dan kuletakkan di piring. Aku tidak terlalu suka tomat.

Selesai menghabiskan sarapanku. Kuedarkan pandanganku menyapu ke seluruh sudut ruang tengah. Tidak ada yang berubah, dekorasinya masih sama seperti saat aku tinggal di sini dulu.

Pandangan mataku terhenti pada sebuah pigura photo di atas meja yang terletak di sudut ruangan. Aku mengerenyit, sepertinya aku kenal dengan bingkai photo itu. Perlahan aku berdiri menghampiri meja itu.

Kuraih bingkai photo itu dan kuamati baik-baik. Aku tersenyum saat mengetahui ternyata dugaanku tidak salah. Bingkai photo dari kayu cendana berhias kerang-kerang kecil itu memang aku kenal betul. Bingkai photo itu memang bingkai photo yang sama. Bingkai photo yang dulu aku beli untuknya saat pergi berlibur ke pantai awal tahun yang lalu.

Aku usap perlahan bingkai photo itu. Sama, tapi isinya berbeda. Dulu, ada photoku di situ, bersisihan dengannya. Tapi sekarang, bingkai itu berisi photonya bersama dengan Sasuke.

Aku letakkan kembali bingkai photo itu ke tempatnya. Kembali kuedarkan pandanganku. Kali ini aku melangkah menuju ke dapur. Aku tersenyum saat mengingat insiden beberapa hari yang lalu. Insiden yang membuatku ada di sini sekarang.

Beberapa hari yang lalu, aku memutuskan untuk mampir ke sini. Kebetulan, aku masih menyimpan kunci duplikat pintu apartement ini. Selain ingin mengunjunginya, aku juga ingin mengambil beberapa barangku yang masih tertinggal di sini. Tapi, tanpa kuduga, saat aku tengah bernostalgia, aku malah dikira perampok.

Aku tersenyum lagi. Sepertinya takdir belum mengijinkan aku jauh darinya.

.

.

.

Normal POV

"Itachiii!" teriak seorang gadis berambut merah. Setengah berlari ia menghampiri Itachi yang sedang duduk membaca buku di bangku taman bersama dengan Sasori.

"Ada apa, Tayuya?" tanya Itachi ramah. Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya.

"Err... ano... tadi, aku mendapat pesan dari Nona muda. Kalau aku bertemu denganmu, aku disuruh menanyakan, apakah kau tahu Tuan muda ada dimana?" tanya Tayuya.

"Naruto? Memangnya dia kenapa?" tanya Sasori menyela.

"Sudah beberapa hari ini Tuan muda tidak pulang ke rumah dan juga tidak masuk kuliah. Bahkan, sama sekali tidak ada kabar, nomer handphone-nya tidak dapat dihubungi," Tayuya menjelaskan.

"Apa? Bagaimana bisa? Setahuku, Naruto bukan tipe orang yang suka membuat khawatir orang lain," kata Sasori heran.

"Justru itu, Nona muda jadi khawatir karenanya," Tayuya menatap Itachi penuh harap. "Apakah kau tahu sekarang Tuan muda ada dimana?" ulang Tayuya.

Sejenak Itachi terdiam menatap Tayuya.

"Hn. Katakan padanya, saat ini, Naruto tinggal bersamaku," kata Itachi seraya menutup buku yang dibacanya.

Tayuya dan Sasori terkejut mendengarnya. Naruto tinggal bersama Itachi? Bukankah sejak lima bulan yang lalu mereka tinggal terpisah? Tayuya dan Sasori hanya bisa saling pandang. Sasori mengedikan bahu tanda tak tahu saat Tayuya mengernyitkan dahi bertanya. Tak lama Itachi berdiri meninggalkan Tayuya dan Sasori yang masih saling pandang dalam kebingungan.

"Aku tidak salah dengar 'kan?" tanya Tayuya tak percaya. "Tapi, bagaimana mungkin?"

"Entahlah. Biar kucari tahu," jawab Sasori. Ia pun berlari mengejar Itachi yang terlebih dahulu menuju ke kelas.

Selepas kepergian Sasori. Tayuya mengambil handphone-nya dan menghubungi seseorang.

"Hallo, Nona. Saya sudah mendapatkan informasi dimana Tuan Naruto berada, dan saya yakin Anda tidak akan percaya mendengarnya."

Sejenak Tayuya terdiam, dengan serius ia mendengarkan lawan bicaranya.

"Baiklah, akan saya lakukan secepatnya."

Tayuya menatap arah kepergian Itachi sambil tersenyum. Sepertinya besok akan ada kejadian seru.

.

.

.

Sasuke melangkah dengan malas menuju apartement-nya. Seandainya ia bisa memilih, ia akan pulang Oto sekarang juga, tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Benar-benar menyebalkan! Sampai di depan pintu apartement ia mematung. Rasanya malas sekali masuk ke dalam mengingat adanya Naruto di sini. Tapi tidak mungkin juga 'kan ia terus berdiri di depan pintu seperti orang bodoh begini?

Dengan hati-hati dimasukannya kunci pada lubangnya, lalu diputarnya perlahan.

"Tadaima~," ucapnya seraya membuka pintu.

"Okaeri, Sasuke," sebuah suara membalas salamnya. Ia tahu betul suara siapa itu, karena itu ia mengacuhkannya dan langsung menuju ke kamarnya.

Dilemparkannya tas sekolahnya sembarangan ke atas meja. Dengan keras dihempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia berdecak kesal saat mengingat ia masih harus berbagi ranjangnya dengan Naruto untuk beberapa hari ke depan.

Capek. Sasuke memejamkan matanya tanpa mengganti baju seragam sekolahnya. Ia tertidur dengan posisi setengah badan di atas ranjang dan kaki menjuntai ke lantai.

Sementara itu Naruto duduk termangu di ruang tengah, diliriknya jam dinding. Sudah setengah jam lebih sejak Sasuke masuk ke dalam kamar, tapi kenapa dia belum keluar juga? Apa dia sengaja menghindarinya? Perlahan ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar Sasuke. Pelan, dibukanya pintu kamar.

Naruto tertegun di pintu kamar saat melihat Sasuke ternyata tidur. Ia tersenyum melihat posisi tidur Sasuke. Perlahan ia melangkah masuk mendekati ranjang. Dengan hati-hati diangkatnya tubuh Sasuke. Menyamankan posisi tidurnya di atas ranjang.

Sejenak ia duduk di sisi ranjang. Ditatapnya wajah Sasuke yang tampak terlelap damai dalam tidurnya. Refleks tangannya terulur menyentuh pipi Sasuke, disibakkannya helaian rambut yang menutupi dahi pemuda itu. Satu kata yang yang terlintas dibenaknya, tampan. Sasuke benar-benar seperti duplikat Itachi. Hanya saja, Sasuke merupakan versi Itachi yang masih polos.

.

.

.

Sore menjelang malam, Sasuke terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat pelan sebelum duduk di sisi ranjang. Sesaat ia terdiam menunggu kesadarannya pulih. Tak lama, ia mengerenyit heran. Seingatnya, ia tadi tidur serampangan, tapi kenapa ia bisa bangun dengan posisi yang nyaman di atas ranjang? Siapa yang memindahkannya? Mata Sasuke melebar, tidak mungkin Naruto yang melakukannya 'kan?

"Ckk, paling aku hanya lupa," Sasuke meyakinkan diri sendiri. Jam weker di meja sudah menunjukkan pukul setengah enam. Rupanya ia lumayan lama juga tertidur.

Keluar dari kamar, dilihatnya Itachi sedang ngobrol dengan Naruto di ruang tengah. Mengacuhkan mereka berdua, Sasuke melangkah ke dapur. Lapar. Ia baru ingat kalau perutnya belum terisi apa-apa sejak pulang sekolah tadi.

Dari dapur, samar-samar Sasuke mendengar obrolan Itachi dan Naruto. Sepertinya mereka akrab sekali. Siapa sebenarnya Naruto itu? Dari cara bicara dan bahasa tubuh mereka, sepertinya ada yang aneh. Tapi apa? Ah sudahlah. Untuk apa juga ia memikirkan hal itu? Tidak penting. Selesai membuat jus tomat, ia kembali melangkah ke dalam.

"Sasuke," tegur Itachi saat Sasuke melenggang cuek ke kamarnya.

'Hn?" dengan terpaksa Sasuke menghentikan langkahnya.

"Kenapa kau tidak membantu Naruto mengganti perbannya? Bukan'kah tadi pagi Aniki sudah menyuruhmu?"

"Ckk, malas!"

Itachi mendelik mendengar jawaban Sasuke. Sebelum Itachi menegur Sasuke lagi, Naruto sudah menyela.

"Sudahlah. Mungkin Sasuke kecapekan. Tadi saja sepulang sekolah dia langsung tidur serampangan, sampai-sampai, dia lupa mengganti seragam sekolahnya," kata Naruto tersenyum.

Sasuke melotot mendengar kata-kata Naruto. Tahu darimana dia kalau ia tidur serampangan? Shit! Jadi benar dia yang tadi memindahkannya ke atas ranjang? Brengsek! Diberikannya death glare pada Naruto yang tengah tersenyum lebar padanya. Tanpa berkata, ia berlalu begitu saja. Makhluk yang bernama Naruto itu benar-benar malapetaka untuknya.

Itachi hanya bisa menghela napas melihat kelakuan adik semata wayangnya itu.

"Ya sudah, biar aku saja yang mengganti perbanmu," kata Itachi sambil melangkah ke menuju ke meja di sudut ruangan. Diambilnya kotak obat dari dalam laci. Naruto hanya diam tak bergeming saat Itachi duduk di hadapannya dan mulai membuka lilitan perban di kepalanya.

Dengan hati-hati Itachi membersihkan luka Naruto dengan alkohol dan membubuhkan cairan povidone-iodine ke atas luka yang lumayan lebar itu. Kemudian ia membalut kembali luka itu dengan perban yang baru. Naruto menatap setiap gerakan Itachi dengan seksama. Tanpa sengaja pandangan mata mereka bertaut.

Sunyi.

Seketika gerakan tangan Itachi pun terhenti. Untuk sesaat mereka saling memandang. Itachi menatap wajah tan di hadapannya dengan hati yang berkecamuk. Tanpa ia sadari, tangannya terulur menyentuh pipi Naruto. Jengah. Naruto pun menepis tangan Itachi menjauh. Tersentak, Itachi pun tersadar.

"Maaf...," lirih Itachi.

"Tak apa," jawab Naruto pelan. Dipalingkannya wajahnya, menghindari tatapan Itachi yang membuat degub jantungnya tidak beraturan. Keheningan hadir menyelimuti mereka. Hanya suara televisi yang terdengar. Tanpa mereka sadari, masing-masing berusaha menetralkan debar di dada. Tak ingin terlarut dalam suasana, tanpa kata-kata Naruto segera beranjak meninggalkan Itachi yang masih terdiam di tempat.

"Ya Tuhan. Apa yang sebenarnya Engkau rencanakan?" lirih Itachi dalam kesunyian.


To be Continued...


Errr… adakah yang masih ingat dengan Fic ini?

Ga ada ya? *pundung*

Uda hampir seabad sih ga di-update. *digiles*

Gomen ne, kalo pendek dan mengecewakan.

Review?