Pair : NaruSasu, slight ItaNaru

Rated : T

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Alternative Universe, Shou-ai, AU, Maybe OOC, Typo(s), etc.

Don't Like, Don't Read!


~ Our's Story ~

Chapter 3


Naruto berdiri diam di balkon kamar. Angin yang bertiup kencang tak dihiraukannya. Tatapannya berpendar mengelilingi hamparan langit malam yang bertabur bintang. Sesekali ia terlihat menghela napas dengan mata terpejam rapat. Peristiwa yang terjadi tadi menghadirkan potongan-potongan kenangan di masa lalu. Kenangan yang selama ini sudah ia coba kubur dalam-dalam.

Apakah kedatangannya ke sini adalah suatu kesalahan? Mungkin tidak seharusnya ia singgah kembali pada kepingan masa lalu yang coba ia tinggalkan. Selama ini, ia pikir, ia telah mampu menghapus jejak Itachi dari hatinya. Tapi ia tak menyangka, saat berada di dekatnya, debar yang dulu selalu menghiasi hari-harinya—saat masih bersama Itachi—ternyata masih ada. Kenapa? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? keluhnya dalam hati.

"Melamun, huh?" sebuah suara sinis terdengar menginterupsi lamunannya. Perlahan ia membuka mata dan melirik sosok yang tengah berdiri bersandar di pintu balkon.

Naruto berbalik dan melemparkan sebuah senyuman pada Sasuke.

Sasuke menatap dingin, lalu menyunggingkan senyuman mencibir, "Melamunkan Aniki, eh?"

Naruto tersentak, rona terkejut tergambar jelas di wajahnya, tapi dengan cepat ia menyembunyikannya. Ia tertawa kecil sebelum kembali berbalik memunggungi Sasuke. Tak mengiyakan, tak juga menyangkal. Ia tak tahu harus menjawab apa.

Sunyi.

"Jadi… benar kau melamunkan Aniki?" cecar Sasuke penasaran. Ia bukan seorang anak kecil bodoh yang polos. Ia tahu betul, dari apa yang ia lihat, dan ia dengar tadi, ada sesuatu di antara Naruto dan Aniki-nya. Yah, setidaknya pernah ada sesuatu. Dulu.

"Kenapa kau ingin tahu? Penasaran, hm?" tanya Naruto tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke yang kini berdiri di sampingnya—entah sejak kapan.

Sasuke menoleh ke samping. Terkejut, ia berjenggit. Posisi wajahnya sekarang tepat berada di depan wajah Naruto, hanya berjarak beberapa centimeter saja. Jengah, ia segera memalingkan wajah dan menjaga jarak dari Naruto.

"Hanya bertanya, jika keberatan, tidak usah dijawab," kata Sasuke ketus.

"Haha… jangan ketus begitu ah. Nanti cepat tua lho, 'Suke," kata Naruto seraya mengacak-acak rambut Sasuke.

"Jangan sentuh!" Sasuke menepis tangan Naruto. "—dan jangan panggil aku seperti itu!"

Naruto baru saja akan menjawab ketika Sasuke kembali berkata, "Jauhi, Aniki-ku! Menjijikkan sekali melihat ekspresi kalian berdua seperti tadi," segera Sasuke berbalik dan menghilang dari balik pintu balkon.

Naruto tersenyum kecut. Sudah pasti Sasuke menyadarinya, dan tak lama lagi… dia pasti akan tahu semuanya. Ia menghela napas panjang. Ya sudahlah… toh, selama ini tidak ada yang ditutup-tutupi dari hubungannya dengan Itachi. Ia juga sama sekali tidak berniat menutupi apapun, dari siapa pun. Sudah lama ia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Mencoba menerima keadaannya yang tidak normal di mata orang lain. Tapi sayang, tidak semua orang di sekitarnya bisa memahami dan mau mengerti dirinya. Terlebih, keluarga dan orang-orang dekatnya. Hanya sahabat-sahabat dekat, dan segelintir orang yang bisa memandangnya sebagai Naruto, bukan makhluk aneh yang aseksual.

Tak ingin semakin tersiksa dengan pikiran-pikirannya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan tidur. Badan, hati, dan pikirannya butuh istirahat.

.

.

.

Pagi harinya, Naruto bangun dengan mata panda. Yah, semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran-pikiran itu terus membayanginya. Apalagi dengan adanya Sasuke yang tidur di sampingnya, membuatnya semakin susah memejamkan mata. Kamar sudah sepi. Diliriknya jam dinding yang sudah menunjuk angka sepuluh lewat. Sasuke dan Itachi pasti sudah pergi. Hahh~ ia jadi merasa tidak enak pada mereka. Ia tinggal menumpang di sini, tapi ia berlaku seenaknya sendiri. Diacak-acaknya rambutnya yang sudah berantakan. Kusut. Sudah berapa hari ya, ia tidak mencuci rambutnya? Seingatnya, terhitung sejak perban ini menempel di kepalanya, ia belum sekali pun mencuci rambutnya. Pantas saja, seperti sarang burung begini bentuknya. Haha… ia jadi ingat bentuk rambut Sasuke yang seperti pantat ayam itu. Mirip.

Di bawah guyuran shower, ia mencoba me-refresh kembali pikirannya. Syukurlah, kepalanya sudah tidak terasa sakit lagi. Sepertinya, ia sudah tidak perlu mengenakan perban lagi. Hanya tinggal memulihkan bekas lukanya saja agar cepat mengering. "Huaahhh… sehabis mandi rasanya segar sekali," katanya seraya mematikan shower. Hanya dengan mengenakan handuk ia keluar dari kamar mandi. Tetes-tetes air dari rambutnya yang basah, jatuh membasahi dada bidangnya. Perut sixpack-nya terekspos dengan jelas.

Sigh.

Naruto yang baru saja keluar langsung terpaku di tempat, saat mendapati Sasuke ternyata ada di dalam kamar. Begitu juga dengan Sasuke yang—tadinya tengah membuka kancing baju seragamnya—sontak menghentikan gerakannya. Mereka sama-sama terdiam. Saling menatap dengan pandangan horror. Terlebih saat menyadari posisi masing-masing. Entah apa yang akan dibayangkan oleh orang lain, yang melihat keadaan mereka saat ini. Seorang pria dewasa dengan kondisi setengah telanjang, dan seorang pemuda tanggung yang tengah membuka kancing baju, berdua di dalam kamar yang sepi. Benar-benar situasi yang mengundang pikiran miring. So Awkward!

"Apa-apaan kau ini? Kenakan pakaianmu, Bodoh!" teriak Sasuke memecah keheningan. Segera ia memalingkan wajah dan mengancingkan kembali baju seragamnya.

"Err… Sorry. Aku pikir tidak ada orang di kamar, jadi ya…," Naruto nyengir kuda. Segera disambarnya sweater-nya yang tergeletak di ranjang dan mengenakannya. "Kenapa kau sudah di rumah jam segini?"

"Bukan urusanmu!" jawab Sasuke ketus. Diambilnya baju ganti dari dalam lemari.

"Kau ini… selalu begitu ya? Ketus pada orang lain," Naruto mendudukkan dirinya di sisi ranjang.

"Tidak juga," Sasuke menutup pintu lemari keras-keras. "Keluar. Aku mau ganti baju."

Naruto mengernyit, "Kita 'kan sama-sama laki-laki. Ganti baju saja di sini, aku tidak masalah kok."

Sasuke mendelik tajam, "Kau tidak masalah. Aku yang bermasalah. Cepat keluar!" usir Sasuke sadis.

"Kalau aku tidak mau bagaimana? Kau yang bermasalah 'kan? Jadi kau saja yang keluar," ucap Naruto seraya merebahkan badannya di ranjang.

Sasuke mengepalkan tangannya menahan emosi. "Ini kamarku. Jadi aku yang menentukan. Keluar. Sekarang!"

"Tidak mau. Kepalaku pusing, aku mau tiduran," Naruto menyamankan posisi tidurnya. "Kalau kau tidak mau keluar, ganti baju saja di kamar mandi. Gampang 'kan?"

"Kau—," Sasuke kehabisan kata-kata. Ditatapnya tajam Naruto yang sok cuek bebek—padahal dalam hati ia mati-matian menahan ketawa melihat ekspresi kesal Sasuke. Akhirnya dengan wajah merah padam karena kesal, Sasuke—mengalah—keluar. Dibantingnya keras-keras pintu kamar sambil menggerutu. Selepas Sasuke pergi, Naruto tertawa. Menggoda Sasuke itu ternyata… sangat mengasyikan.

.

.

.

"Itachi… tunggu!" panggil seorang gadis pada Itachi yang tengah berjalan melintasi taman kampus.

Itachi menoleh pada sang pemilik suara, "Sakura. Sedang apa kau di sini?"

"Sedang apa? Tentu saja untuk menemuimu. Apa tidak boleh aku menemui calon tunanganku sendiri?" tanya Sakura seraya menggelayut manja di lengan Itachi.

"Apa-apaan kau ini. Ini di kampus. Lepaskan!" seru Itachi seraya menepis tangan Sakura yang mencengkeram kuat lengannya.

"Hari ini, aku ingin melihat-lihat cincin untuk pertunangan kita. Kau temani aku ya, Honey," ajak Sakura sambil tersenyum manis.

"Aku masih ada kuliah hari ini. Kau pergi saja sendiri," Itachi menampik kasar tangan Sakura.

"Yahh… sayang sekali. Tapi tak apalah. Kau fokus saja pada kuliahmu, aku bisa minta Tayuya untuk menemaniku," kata Sakura penuh pengertian.

Tanpa merespon ucapan Sakura, Itachi segera berlalu. Segera setelahnya, senyum malaikat—palsu—yang tersungging di bibir Sakura pun langsung lenyap seketika.

"Baiklah. Teruslah bersikap dingin padaku. Tidak masalah bagiku. Apapun yang terjadi… kau tetap milikku!" kata Sakura dingin.

"Nona…," sapa Tayuya yang tiba-tiba muncul dari belakang Sakura.

"Bagaimana? Sudah kau pastikan?" tanya Sakura melirik Tayuya.

"Sudah, Nona. Saat ini, Tuan Naruto memang tinggal di apartement Itachi," lapor Tayuya.

"Begitu ya? Rupanya kalian ingin main-main di belakangku, huh?" Sakura menggeretakan rahangnya. "Okay. Kita lihat saja nanti."

.

.

.

"Kau ini bisa memasak tidak sih, sebenarnya?" teriak Sasuke kesal. Dilihatnya keadaan dapur yang berantakan seperti kapal pecah. Kulit-kulit telur berserakan. Air menggenang di mana-mana. Sayur-sayur yang dipotong tak beraturan. Benar-benar pemandangan yang tidak enak untuk dilihat.

"Hehehe… bisa sih kalau cuma masak mie dan rebus air," kata Naruto innocent.

"What the—! Dan dengan kemampuan memasak yang menyedihkan seperti itu, kau ingin membuatkanku makan malam? Kau ingin membunuhku ya?" sindir Sasuke.

"Ayolah, masakanku tidak seburuk itu kok," ucap Naruto sambil mencicipi spaghetti—yang kelamaan direbus— buatannya. "Yah, walau sedikit tidak enak dilihat, tapi masih bisa dimakan kok."

Sedikit katanya? Apa matanya minus dua puluh? Jelas-jelas masakannya rusak parah seperti itu. Sasuke memandang Naruto yang melahap spaghetti jadi-jadian di hadapannya dengan pandangan ga banget! "Kau minta aku makan makanan hancur seperti itu? Yakin makanan itu tidak beracun?"

"Ayolah. Jangan berlebihan begitu. Aku hanya sedikit terlalu lama merebus spaghetti-nya," Naruto menyodorkan piring pada Sasuke. "Orang tidak akan mati keracunan hanya gara-gara makan spaghetti."

"No. Thanks. Lebih baik aku makan diluar, dari pada makan makanan ajaibmu itu," kata Sasuke sinis.

Saat Sasuke melangkah hendak meninggalkan dapur. Tiba-tiba saja kakinya terpeleset kulit telur yang ada di lantai. Di saat pantatnya hampir saja berciuman dengan dinginnya lantai, sepasang lengan kokoh menyangga tubuhnya dari belakang agar tidak terjatuh.

"Hati-hati kalau berjalan," bisik Naruto tepat di telinga kiri Sasuke. Mendengar suara Naruto, entah kenapa tengkuk Sasuke jadi merinding. Cepat-cepat dilepaskannya tubuhnya dari pegangan Naruto.

"Memangnya gara-gara siapa aku terpeleset, huh?" sembur Sasuke menutupi rasa canggung yang tiba-tiba ia rasakan. "Sudahlah. Sebaiknya aku pergi saja."

Sasuke berjalan tergesa-gesa meninggalkan dapur. Meninggalkan Naruto yang diam terpaku sambil mengepalkan kedua tangannya. Entah sejak kapan, dekat dengan Sasuke seperti tadi, menimbulkan debar aneh di dadanya. Tidak, debar ini berbeda dengan yang ia rasakan saat dekat dengan Itachi. Berbeda, tapi membuatnya tak mampu berkata-kata. Ia bahkan tak bisa menerjemahkan arti dari debaran itu.

.

.

.

"Kau sedang apa? Untuk apa malam-malam begini kau mengepel lantai?" tegur Itachi pada Naruto yang tengah mengepel lantai dapur.

"Membereskan sisa-sisa kekacauan yang kubuat," jawab Naruto tanpa menoleh.

Itachi mengerutkan dahi, tapi melihat kondisi dapur yang berantakan, rasanya ia mengerti kekacauan apa yang dimaksud oleh Naruto. Dilihatnya ke sekeliling. Ke mana Sasuke? Apa dia di kamar?

"Dia pergi ke luar," jawab Naruto tanpa ditanya.

Itachi terdiam. Dari dulu, Naruto memang selalu begitu. Hanya dengan melihat gelagat, tanpa kata-kata sekali pun ia tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Diperhatikannya Naruto yang telah selesai mengepel lantai, dan kini tengah mengambil kantong sampah untuk dibuang.

"Kau… melepas perbanmu?" tanya Itachi saat menyadari kepala Naruto tidak terbalut perban.

"Hmm… sudah tidak sakit. Jadi kulepas saja perbannya."

"Apa tidak apa-apa? Lukamu 'kan belum kering," Itachi mendekati Naruto. Dengan ekspresi khawatir, disentuhnya kening Naruto. Namun, segera saja tangannya ditepis oleh Naruto.

"Aku tidak apa-apa. Sebentar lagi bekas lukanya juga akan mengering," kata Naruto seraya cepat-cepat berlalu dari hadapan Itachi. Jujur. Saat ini, ia tidak ingin ada di dekat Itachi. Ia tak ingin perasaannya terbawa kembali pada masa lalu. Jadi ia harus menjaga jarak dengan Itachi.

Dengan ekspresi yang susah dimengerti, Itachi menatap Naruto yang keluar untuk membuang sampah. Ia tahu, Naruto sengaja menghindar, dan menjaga jarak dengannya. Dan seharusnya, ia juga melakukan hal yang sama, tapi itu tidak semudah yang ia inginkan. Kenyataan bahwa ia telah lima bulan berpisah dengan Naruto, dan bersama dengan Sakura, tak bisa membuat posisi Naruto di hatinya tergeser begitu saja.

.

.

.

Ting… Tong…

Naruto yang sedang duduk di depan televisi mengernyitkan dahi. Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Sasuke baru saja berangkat sekolah. Jadi pasti bukan tamu untuknya. Hari ini Itachi masuk kuliah sore, jadi sekarang dia masih tidur. Apa mungkin itu tamu Itachi? Dengan hati-hati Naruto mengintip dari lubang pengintai di pintu.

Deg!

Naruto membeku di tempat. Sosok yang berdiri di depan pintu saat itu… tidak mungkin. Kenapa dia ke sini? Apa dia tahu aku ada di sini? Ya Tuhan… aku harus bagaimana? Apa aku harus membangunkan Itachi? Tidak. Seburuk apapun situasinya, harus dihadapi, bukan? Jadi ia putuskan untuk membuka pintu dengan segala konsekuensinya.

"Neesan…"


To Be Cotinued...


A/N : Konbanwa, Minna-san…

Rasanya sudah lama sekali fic ini tidak saya update. *emang udah lama banget woyy*

Dengan penuh perjuangan *halah* ditemani sebatang coklat, sebotol green tea, juga lagu "Hold it Against Me-nya Britney Spears" saya mengetik chapter ini.

Semoga tidak mengecewakan.

Err… berhubung ada yang review tidak login, saya akan balas review-nya di sini—(di chapter sebelumnya saya lupa). *ditimpuk*

Balasan review yang tidak login :

- kaRtiKa sAbAKu scHiffEr laWliEt : Wah, udah baca fic sampai 3 kali? Senangnya~ Terima kasih sudah setia nungguin. Ini sudah di-update. Gomen lama. ^^ Makasih review-nya. :)

- Vii no Kitsune : Maaf kalau chapter-nya kurang panjang. Author suka malas mikir dan malas ngetik, jadi ya seadanya deh. *plaak* Ini sudah di-update. Makasih review-nya. :)

- N. h : Masih penasaran? Di chapter ini udah mulai kebuka kok. ^^ Makasih review-nya. :)

- Micon : Err… sebenarnya ini bukan cuma cinta segitiga sih, tapi segi banyak, hihihi… Kenapa Itachi putus sama Naru, mungkin baru akan dijelaskan di chapter depan. Soal permintaan chapter yang dipanjangin, akan diusahakan. Makasih review-nya. :)

- Ryuuka Uchiha : Hehe… Iya. Emang lama banget update-nya. Gomeeen. ._. Ini udah banyak belum scene NaruSasunya? Makasih review-nya. :)

- Nietra PhantoMichaelis : Hubungan Itachi dan Naruto adalah mantan kekasih. Masih penasaran? Ikuti terus ya. *promosi* Makasih review-nya. :)

- shawoLawliet dan Nasa Shiki Takyuu : Ini sudah di-update. Makasih review-nya. :)

- Ryuuka Uchiha : Eh? Sampai review dua kali? *terharu* Ini sudah di-update. Untuk chapter depan saya usahakan tidak kelamaan update-nya. Ga janji tapi ya. ._. *dilempar bakiak* Makasih review-nya. :)

- Nasumi-chan Uharu : Yang jadi Seme-nya Itachi. ^^ Makasih review-nya. :)

Yakk. Sekian aja deh. Berhubung sudah jam setengah dua pagi, dan saya sudah ngantuk, saya mau off dulu. Sampai ketemu di chapter depan, err... beberapa bulan lagi... mungkin. *kabuuuuuur*

RnR? ^^