WARNING : OOC, OC, AU, DIKSI BIASA AJA, EYD BERANTAKAN.

DON'T LIKE, DON'T READ

Don't be stubborn, I've warned you.

SUMMARY :

Sampai kapan kisah ini akan berakhir?

Apakah akan terus menerus seperti ini?

Terjebak dalam sebuah kisah cinta yang penuh penyesalan serta pengkhianatan didalamnya…

Dengan jarak sebagai pembatasnya….

.

.

.

.

.

.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kisimoto

Rival Love © Fine-chan Uchiha (Carmelion Alyssum)

Pairings : Sasuke Uchiha – Sakura Haruno

.

.

.

.

A chain of short story about their distance.

.

RIVAL LOVE (Chapter 5)

From: Ino Pig

Sak, minggu depan SMA kita bakalan ngadain reunian. Gue, lo, Sai, Sasuke, sama yang lainnya yang diangkat jadi panitia. Besok siang panitia disuruh ke sekolah.

"Hhhhhh…" Sakura bergumam tak jelas. Dalam hati Sakura merutuki seseorang yang telah mengangkatnya menjadi panitia. Dengan cekatan ia mulai mengetik balasan e-mail Ino.

To: Ino Pig

Ok…

Balasnya singkat. Lalu ia menghempaskan tubuhnya keatas ranjangnya yang empuk. Di pandanginya langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong, ia terhanyut dengan semua imajinasinya akan esok hari.

Apakah Sasuke akan datang besok?

Apakah sikapnya akan tetap seperti dulu. Mengacuhkanku?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berputar-putar dibenaknya. Apakah takdir akan memepermainkannya lagi ? Entahlah, ia sendiri pun tidak tahu jawabannya. Hingga akhirnya ia terlelap masuk kedalam ketenangan yang bersahaja.

===oOo===

Keesokan harinya Sakura terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Pertanyaan semalam yang belum sempat terjawab masih berputar-putar di benaknya. Wajah rupawan Sasuke selalu menghantuinya. Sungguh, ia takut jika harus dihadapkan dengan Sasuke. Ia takut—sangat takut menghadapi kenyataan yang ada; bahwa beberapa jam lagi ia akan berada di satu tempat yang sama dengan orang-orang yang terlibat dalam seluk beluk kisah cintanya.

3 jam kemudian….

Sakura memutuskan untuk menaiki kereta menuju ke sekolah lamanya. Dengan earphone yang terpajang manis ditelinganya ia memulai perjalanannya. Sepanjang perjalanan ia hanya terdiam, terpaku pada musik yang kini tengah berdendang.

Sekolah lama Sakura terletak disebelah stasiun kereta api tempatnya datang tadi, hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk mencapai sekolahnya, jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki. Sunyi senyap keadaan disekelilingnya, ia masih terpaku pada musik yang masih mengalun merdu di telinganya, sampai pada akhirnya gerbang sekolah lama Sakura sudah terlihat di depan mata. Terlihat seseorang melambaikan tangan padanya, mengajaknya untuk bergegas mendekati mereka, disebelahnya ada seorang pria berambut hitam klimis yang tersenyum padanya, dan mata Sakura terbelalak saat melihat siapa yang ada di sebelah pacarnya; Mata setajam elang dan sehitam batu onyx; rambut ravennya yang senantiasa mencuat bak pantat ayam; tubuh tingginya yang tegap; serta ekspresinya yang selalu dingin.. Akan tetapi Sakura malah memperlambat langkahnya iris emeraldnya masih terfokus pada iris onyx dihadapannya begitupun dengan onyx yang dipandangnya, masih setia menatap emerald yang memandangnya. Sampai pada akhirnya suara Ino menghentikan moment-moment indah tersebut.

"Sakii cepetan! Yang lain udah nunggu tuh." Ino melambai-lambaikan tangannya. Sakura pun mempercepat langkahnya.

SAKURA POV

Ino melambaikan tangannya padaku, aku mulai mempercepat langkahku. Ino dan Sai sudah melenggang pergi masuk kedalam gedung sekolah. Sedangkan Sasuke, ia malah berdiri mematung di gerbang, aku melewatinya tanpa mengucapkan permisi. Kulangkahkan kakiku menuju gedung sekolah, aku tahu bahwa Sasuke tengah mengikutiku. Kami berjalan dalam diam, hanya terdengar suara langkah kaki kami berdua di sepanjang koridor. Ruangan yang kami tuju hanya tiggal beberapa langkah lagi sampai pada akhirnya tangan Sasuke menarik tanganku—membawaku menjauh.

Tubuhku serasa membeku, aku menyukai sensasi yang menjalar diseluruh tubuhku saat kulit kami bersentuhan. Bisa kurasakan wajahku memanas serta detak jantungku yang tak karuan. Ia masih menyeretku entah kemana, sampai pada akhirnya langkah kakinya terhenti didepan sebuah ruangan. Dia menyeretku masuk, aku terhenyak ruangan ini? Ya tuhan ini tidak mungkin.

Belum sempat aku tersadar, tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku. Oh Tuhan, apalagi ini? Sampai pada akhirnya aku tersadar bahwa Sasuke memelukku. APA? SASUKE MEMELUKKU! Aku mencoba berontak akan tetapi ia malah semakin mempererat pelukkannya.

"Biarkan seperti ini, beberapa menit saja." Suaranya menghentikanku. Aku menikmati pelukkan hangatnya sampai pada akhirnya aku balas memeluknya, menyandarkan kepalaku pada dada bidangnya.

"Kenapa kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku?" Aku menengadah menatap wajahnya sembari mengerucutkan bibirku.

"Hn. Masih sama seperti dulu ternyata. Preman childish yang manja." Jawabnya, seringai jahil mulai menghiasi wajahnya.

"Hahahaha…Gak lucu." Ucapku memukul punggungnya.

"Awww… Sakit tau." Ucapnya malah memelukku lebih erat.

"Kau belum menjawab pertanyaanku." Mencoba melepaskan pelukkannya.

"Kenapa kau menolakku waktu itu?" Dia balik bertanya.

"Kenapa malah jadi balik nanya?" Ujarku sarkastik.

"Jawab dulu pertanyaanku." Dia menundukkan kepalanya, menatapku dalam.

"Aku tidak ingin menyakiti perasaan Ino. Dia sahabatku. Bagiku, Sahabat adalah separuh hidupku." Ucapku setengah berbisik padanya, kutundukkan kepalaku. Sebisa mungkin kuhindari kontak mata dengannya.

"Tapi kau menyakitiku…" Sasuke mempererat pelukkannya.

"Kau tidak tahu seperti apa rasanya, berada diantara dua pilihan yang sulit." Kuberanikan untuk menatap matanya yang indah.

"Aku mencintaimu Sakura." Akunya lemah, ia mulai mendekatkan wajahnya padaku. Mempersempit jarak antara kami berdua.

"Choosing what's right even it means losing my life. I love you too Sasuke-kun." Aku memejamkan mataku, bisa kurasakan bibir Sasuke menempel pada bibirku dia melumatnya pelan.

Tiba-tiba suara pintu yang dibuka secara paksa mengagetkan kami berdua. Sontak kami melepaskan pelukkan kami berdua, dan betapa kagetnya aku ternyata Sailah yang mendobrak pintu tersebut. Mukanya memerah, terlihat semburat kekecewaan didalam matanya. Tanpa basa-basi, ia langsung menerjang Sasuke.

BUAGH…

Satu pukulan telak mengarah tepat pada pipi tirusnya. Dengan panik, aku langsung berlari menghampiri mereka berdua mencoba melerai mereka. Bisa kurasakan seseorang menampar pipiku, dan aku tahu itu Sai. Sasuke mencoba bangkit, akan tetapi aku menahannya. Setitik air mata mengalir di pipiku.

"Kau boleh menamparku sesuka hatimu. Sekarang kau tahu kan bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai bersama orang lain? Dulu, kupikir aku mencintaimu dan benar-benar melupakan Sasuke-kun, akan tetapi ketika melihatmu berciuman dengan Ino di taman aku sadar bahwa aku salah. Aku sama sekali tidak mencintaimu Sai." Air mataku terus mengalir. Sai hanya tertegun wajahnya pucat pasi, sementara Ino yang baru saja sampai dan mendengar perkataanku tadi langsung berubah pucat. Seperti seorang pencuri yang tertangkap basah tengah mencuri emas.

"Sakura, aku bisa jelaskan itu…" Ucap Ino mulai mendekatiku secara perlahan.

FLASHBACK

Kulangkahkan kakiku disepanjang taman yang terletak tak jauh dari rumahku. Disaat aku jenuh, berjalan-jalan ditaman dan mencari udara segar adalah cara yang ampuh untuk mengusir kejenuhan. Awalnya aku merasa tenang berjalan-jalan di taman ini, sampai pada akhirnya ada sesuatu yang mengusikku. Aku melihat seorang wanita berambut pirang yang kuyakini sebagai Ino—sahabatku tengah duduk diatas bangku taman. Dan seorang pria berambut hitam klimis duduk disebelahnya.

Dirasuki rasa penasaran, aku memutuskan untuk bersembunyi di belakang pohon terdekat dan mulai menguping apa yang sedang mereka bicarakan sekarang. Tak ada percakapan yang berarti diantara mereka berdua.

"Aku mencintaimu Ino." Tubuhku menegang ketika mendengar apa yang Sai ucapkan.

"Tapi bagaimana dengan Sakura?" Tanya Ino.

"Aku tak peduli padanya. Yang terpenting sekarang adalah Kau. Kau yang kuinginkan sekarang. Bukan gadis berambut aneh itu." Jawab Sai. Aku bisa merasakan bahwa Ino tersenyum penuh kemenangan sekarang.

"Aku juga mencintaimu Sai." Jawab Ino. Aku mencoba mengintip apa yang sedang mereka lakukan sekarang, dan itu sanggup membuat jantungku berhenti berdetak. MEREKA BERCIUMAN. Mataku terasa panas sekarang, kuputuskan untuk pergi saja dari tempat itu. Dan untuk yang kesekian kalinya

Sahabatku mengkhianatiku…

END OF FLASHBACK

"Kau tidak perlu repot-repot menjelaskannya padaku nona Yamanaka. Kau memang segalanya. Pintar, cantik, dipuja banyak pria. Sangat berbanding jauh denganku yang berada di strata paling bawah." Ucapku dingin.

"Kumohon Sakura, dengarkan penjelasanku dulu." Ino memohon padaku, akan tetapi aku mengacuhkannya.

"Ayo Sasuke-kun kita ke UKS." Ucapku membantu Sasuke untuk berdiri.

"Oh ya, dan satu lagi. Sai, kita putus." Ucapku mantap. Lalu akupun mulai melenggang pergi dari ruangan itu.

===oOo===

Dan dimulai dari sinilah lembaran baru kehidupanku dimulai. Semenjak kejadian dua hari yang lalu hubunganku dengan Ino dan Sai mulai merenggang. Sementara itu, aku dan Sasuke-kun sudah resmi berpacaran. Dia selalu mengajakku saat ia sedang berlatih untuk turnamen bulan depan.

Dan disinilah aku, berada bersama alumnus SMA yang lain. Bersama-sama saling melepas rindu. Tiba-tiba ponselku bergetar.

From: Sasuke-kun

Bisakah kau kesini sebentar?

Aku tersenyum membaca e-mailnya, lalu mulai mengetik balasan.

To: Sasuke-kun

Memangnya Sasuke-kun ada dimana?

Ponselku bergetar.

From:Sasuke-kun

xii-d

Tanpa banyak bicara, akupun bergegas pergi menuju lantai 3 dimana kelas XII-D berada. Tempat yang kutuju sudah berada didepan mata, kupercepat langkah kakiku. Tanpa basa-basi, kubuka pintu kayu yang kokoh itu. Bisa kulihat tubuh Sasuke yang membelakangiku menghadap kearah pemandangan yang terhampar luas diluar dari balik jendela.

"Sasuke-kun ada apa?" Aku mulai menghampirinya. Lalu berdiri disampingnya.

"Hmmmm…" Keheningan melingkupi kami berdua. Membuat suasana menjadi canggung.

"Sakura.." Panggil Sasuke. Aku memandangnya sambil tersenyum.

"Dulu, disini, ditempat ini… aku menyatakan cintaku dan kau menolakku…" Sasuke tersenyum manis kearahku.

"Dua hari yang lalu, disini, ditempat ini… untuk yang kedua kalinya aku menyatakan cintaku dan kau menerimanya." Sekarang, ia menggenggam tanganku dan mengecupnya lembut.

"Dan sekarang, disini, ditempat ini… aku memintamu menjadi istriku." Mataku membelalak, tidak percaya dengan apa yang Sasuke katakan tadi.

"Will you marry me Sakura?" Sasuke menatapku lembut, sinar harapan terpancar jelas dari matanya yang indah. Aku tersenyum manis padanya.

"Of course I will Sasuke-kun." Sasuke memasangkan sebuah cincin yang indah di jari manisku lalu memelukku erat, tak lama kemudian dia menciumku lembut.

Dan sekarang aku sadar, bahwa pengorbanan yang aku lakukan selama ini tidak berakhir sia-sia….

END OF SAKURA POV

Dan mereka pun hidup bahagia selamanya…

~THE END~

Special Thanks:

Beby-chan, Fiyui Chan, Minamoto Sayaka ga login, Naomi-azurania, Liska-chan Uchiha Yuka, Maya, Sakura Lovers, Blueberry, Lucky, Kikyo uchiharuno, SSL,

A/N:

Alhamdulillah akhirnya ni fanfic kelar juga XD *menghirup napas lega

Okeh, apakah para readers sekalian puas dengan chap ini? *READERS: ENGGA!

Jujur ya, saya rasa ini chapter gak ada romantis-romantisnya sama sekali ==''a

Nambah gaje pula. Oiya, ini fanfic saya buatkan khusus buat temen saya yang ntar bulan Januari ultah XD *READERS:MASIH LAMA WOY! │AUTHOR:BIARIN AJE XP* Moga-moga akhirnya happy ending ya nek XDDD *ditampol

Okedeh, daripada saya banyak bacot

REVIEW OR CONCRIT PLEASE (lebih diutamakan concrit)

Terimakasih sudah membaca…

Sign.

Fine-chan Uchiha (Carmelion Alyssum)

301211.