GIRLS NEED (Wonwoo Version)
.
.
.
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
.
.
.
Genderswitch
.
.
.
Mingyu baru saja masuk kedalam selimut nyamannya saat ponsel yang ia letakan di nakas bergertar. Ia melirik jam weker kecil di samping ponsel yang sudah menunjukkan pukul satu pagi.
Mingyu baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya yang menumpuk hingga ia rela begadang agar bisa selesai segera.
Mingyu menatap ponselnya. Wonwoo-Noona-ku. Tertera nama kekasihnya di layar yang berkedip-kedip itu. Mingyu mengernyit. Bukankah tadi sang kekasih sudah pamit tidur pukul sepuluh?
"Ya, Ada apa noona sayang?" Mingyu menunggu sebuah jawaban ketika saluran telepon itu hanya hampa ditelinganya.
"Mingyu.. Lampu di kamar meledak dan sekarang gelap. Aku takut." Mingyu terperanjat mendengar penuturan sang kekasih.
"Aku kerumah noona sekarang. Tunggu diruang tamu." Mingyu bergegas. Berlari kearah dapur untuk mencari bohlam yang mungkin saja masih tersisa yang baru di laci penyimpanan.
Mingyu tersenyum kemudian berlari keluar masih menggunakan piyama kelabunya dan sandal rumah.
Mingyu menekan tombol lift menuju lantai 12. Apartemen Mingyu ada di lantai 3. Dan untungnya apartemen kekasihnya hanya butuh modal menekan tombol lift.
Mingyu menekan beberapa digit angka untuk masuk ke apartemen pribadi kekasihnya.
"Wonwoo-noona. Kau baik-baik saja?" Mingyu menghampiri seorang gadis yang meringkuk dibawah selimut tebal di sofa ruang tamu.
Suhu di musim gugur menjelang musim dingin sudah mulai menurun. Ditambah hujan yang seharian mengguyur kota membuat Wonwoo kedinginan. Sementara penghangat ruangan hanya ada dikamar dan kebetulan sekali lampu di kamar Wonwoo mati sedangkan Wonwoo takut gelap.
Wonwoo memeluk Mingyu dengan erat.
"Tadi lampunya meledak. Aku takut. Sungguh." Gadis itu meringkuk di dada bidang sang kekasih yang sesungguhnya berumur lebih muda setahun darinya.
"Aku sudah disini, Noona. Biar aku mengganti bohlamnya dulu. Baru kita istirahat dikamar." Wonwoo tinggal sendiri di apartemen pemberian ayah tirinya semenjak ia beranjak SMA. Ini juga dikarenakan Wonwoo yang memilih sekolah di Seoul ketimbang melanjutkan sekolah di Changwon tempat kelahirannya.
Mingyu bangkit kemudian mengambil sebuah tangga portable di gudang dekat dapur dan membawanya ke kamar Wonwoo.
Mingyu menaiki dua anak tangga untuk mengganti bohlam yang baru setelah sebelumnya mematikan aliran listrik di kamar Wonwoo.
Setelah berhasil Mingyu menyalakan lagi listrik sehingga kamar Wonwoo kembali terang. Kemudian Mingyu beranjak menyalakan mesin pemanas ruangan.
"Noona, kamarnya sudah terang lagi. Ayo pindah ke kamar." Mingyu duduk disamping tubuh Wonwoo yang meringkuk di sofa.
"Gendong…" Wonwoo menjulurkan tangannya kearah Mingyu kemudian dibalas senyuman nakal dari sang kekasih muda.
Mingyu meletakan satu tangannya di balik punggung Wonwoo dan satu lagi di bawah lututnya. Mengangkat tubuh Wonwoo dengan begitu gagah membawanya ke dalam kamar yang cukup besar dan mulai terasa hangat.
"Menginap disini ya? Aku masih kaget gara-gara lampu tadi." Wonwoo menahan tangan Mingyu yang baru saja menyelimutinya.
Mingyu tersenyum kemudian ikut masuk kedalam selimut yang sama dengan Wonwoo.
"Yakin menyuruhku menginap? Tidur seranjang? Bagaimana kalau noona kuperkosa?" Mingyu membawa tubuh kekasihnya kedalam sebuah pelukan hangat. Mengusap rambut kemerahan sang kekasih dengan begitu tulus.
"Aku sih pasrah saja. Palingan aku hamil dan kau dipaksa menikahiku." Wonwoo terkekeh dengan perkataannya sendiri.
"Kenapa sih kau selalu menggodaku?" Sebuah kecupan lembut di kening Mingyu berikan kepada kekasih yang sudah setahun ia pacari itu.
"Sungguh, gyu. Aku tidak keberatan kalau harus menikah denganmu. Dan hamil anakmu." Mereka saling bertatap. Wonwoo tulus dengan kata-katanya. Ia sepenuhnya percaya dan menyerahkan dirinya kepada Mingyu karena ia benar-benar menyayangi Mingyu.
Wonwoo mencintai Mingyu.
"Tidak, noona. Cukup sekali aku kelepasan dan menyetubuhimu. Aku tidak mau itu jadi kebiasaan dan akhirnya membuatmu hamil diluar nikah. Aku berjanji untuk menikahimu dulu kan? Bisakah kau bersabar?" Mingyu membelai pipi tirus gadis kesayangannya. Menyalurkan rasa cinta yang begitu membuncah bahkan tak bisa terbendung.
"Aku tau, gyu. Aku akan bersabar. Karena aku ingin bersama mu selamanya. Bukan hanya kenikmatan sesaat. Aku mencintaimu." Wonwoo tersenyum. Bukan karena keperawanannya sudah terenggut oleh Mingyu sehingga ia bersedia menunggu Mingyu menikahinya. Tapi Wonwoo bersungguh saat mengatakan ia mencintai Mingyu.
"Terima kasih, noona sayang. Aku juga mencintaimu."
"Setidaknya berikan aku ciuman yang hangat. Aku benar-benar kedinginan, gyu." Tanpa menungu perintah dua kali, Mingyu langsung saja melumat bibir kekasih manisnya.
Merasakan gumpalan lembut untuk berbagi cinta lewat sentuhan dan remasan rambut Mingyu yang dilakukan oleh Wonwoo.
Dimana lagi menemukan lelaki yang rela menahan hasrat bahkan ketika si wanita sudah menyerahkan diri hanya agar bisa melakukannya saat menikah?
Cuma Mingyu.
Mingyu-nya Wonwoo.
Kebutuhan wanita. Teknisi listrik. Coret. Penghangat ruangan. Coret. Selimut. Coret.
Kebutuhan Wonwoo. Mingyu. Checklist.
.
.
.
"Bisa aku melakukan satu ronde malam ini, noona?"
"Aku siap, gyu."
.
.
.
Kkeut
.
.
.
Hayo… Mingyu Wonwoo ngapain?
Ini seri ketiga Girls Need.
Bisa kalian beri noona saran, benda atau sesuatu apalagi yang biasa dibutuhkan perempuan sehari-hari?
Hey, noona tadinya mau posting fiksi saeguk Meanie GS. Tapi berhubung hari ini noona nambah umur jadi bawaannya happy. Ga mau post dulu fiksi yang berat.
Selamat Menikmati
Kim Noona
Sat, 12th Nov 2016
