GIRLS NEED (Wonwoo Version)

.

.

.

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

.

.

.

Genderswitch

.

.

Ada adegan semi erotis yang tersirat. Hanya tersirat jadi tidak saya ubah Rate nya.

Selamat membaca!

.

.

.

Cerita kali ini berawal dari sebuah pagutan mesra. Melumat, menghisap dan berbagi kenikmatan. Dua tokoh utama, Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo sedang berciuman mesra diatas kasur di kamar Mingyu. Ciuman itu semakin dalam disetiap gerakan dan penyatuannya. Hanya terlepas untuk menghirup bias-bias oksigen di sekeliling dan saling menatap sendu.

"Selamat atas kelulusanmu, Mingyu." Wonwoo, si gadis manis berambut lurus itu mengusap lembut pipi sang kekasih yang sedang bersentuhan hidung berdua.

"Terima kasih, noona. Akhirnya aku tidak lagi jadi anak High School." Mingyu tersenyum setelah mengecup hidung bangir gadisnya.

Mereka sedang duduk diatas kasur setelah pulang dari pesta kelulusan Mingyu disekolah. Wonwoo bersandar pada kepala kasur sedang Mingyu duduk disebelahnya sambil berhadapan.

"Aku masih tidak habis pikir kenapa kau menolak masuk universitas terbaik sedangkan nilai ujianmu lebih dari pantas untuk itu." Masih duduk berhadapan, mereka sedang berbagi cerita tentang pilihan Mingyu.

"Aku tidak bisa ke universitas kemudian mengabaikan permintaan ayahku untuk mengurus perusahaannya, noona. Ayah mulai sakit dan perusahaan tidak memiliki orang yang benar-benar terpercaya." Wonwoo mengangguk. Memang benar, tanpa kuliah pun Mingyu bisa menjalankan perusahaan ayahnya dengan sangat baik.

.

"Mingyu, geli.." Wonwoo berjengit ketika jemari besar Mingyu bergerak membelai permukaan pinggangnya. Usapan lembut membuat Wonwoo jengah akan kelakuan kekasihnya itu.

"Boleh ya, noona?" Wonwoo melebarkan matanya. Sungguh ia paham apa maksud dari sang pria muda itu. Hanya saja Wonwoo hampir tidak tau apa yang harus ia katakan sebagai jawabannya.

Wonwoo mengalungkan kedua lengannya di leher Mingyu. Tersenyum manis kemudian menyatukan kedua hidung mereka lagi.

"Ambillah sebagai hadiah kelulusanmu. Tapi aku sedang dalam masa subur." Perlahan dan manis, Wonwoo mengusap tengkuk jenjang Mingyu. Menyalurkan hasratnya yang bercampur rindu. Sama seperti milik Mingyu.

"Aku akan lembut hari ini. Agar kau tak akan pernah melupakan tiap detik dari malam indah ini." Mingyu memulainya. Memberikan sentuhan-sentuhan nafsu di setiap inci tubuh menawan Wonwoo.

Wonwoo menerima sambil memejamkan mata antara mendamba juga menahan puncaknya. Ia ingin lebih lama menikmati nikmat dari nafsu dunia yang sedang ia kejar bersama Mingyu. Bertahun-tahun berkasih bersama Mingyu, bukan berarti hubungan mereka selalu penuh dengan nafsu. Tidak. Wonwoo selalu memuja bagaimana Mingyu menahan setiap gelenyar nafsunya bahkan ketika Wonwoo yang menggoda.

'Aku tidak mau hubungan cinta kita jadi tidak sehat. Bercinta tidak semestinya menjadi kebiasaan. Itu hanya bumbu dari sebuah hubungan yang manis dan kepercayaan.' Itu lah yang Mingyu katakan setiap nafsunya menguasai.

Mingyu tulus mencintai Wonwoo. Serius untuk membawanya ke hadapan altar suatu saat nanti. Setelah itu, bercinta bisa saja mereka lakukan setiap saat, dimanapun, kapanpun mereka ingin.

.

"Apa kau mencintaiku, noona?" Mereka bertatapan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang. Berada dalam penyatuan yang lembut dan manis. Mingyu berhenti ketika penyatuan itu sempurna menyatukan cinta mereka malam ini.

"Hey, apa pantas kau bertanya seperti itu ketika milikmu sudah ada didalam kewanitaanku?" Wonwoo mengernyit. Malam ini memang begitu indah karena Wonwoo menggapai puncaknya beberapa kali bahkan sebelum bagian utama.

"Jawab saja." Mingyu masih berkeras mendapat sebuah jawaban yang bahkan ia tau tanpa berkata.

"Tidak. Aku tidak mencintaimu. Aku membencimu." Tapi kedua lengannya melingkar manis di leher Mingyu kembali. Tersenyum dengan cantiknya. Meski keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Bagi Mingyu, Wonwoo tetap indah. Bahkan yang terindah.

"Benarkah?" Wonwoo menjerit ketika Mingyu menggeram. Memacu kecepatan dan mengejar kenikmatan dunia yang terasa lembut dan berbeda malam ini.

Mingyu dan Wonwoo. Sepasang kekasih termanis yang sering membuat iri.

.

"Aku lelah.." Wonwoo menenggelamkan wajahnya di dada terbuka Mingyu.

"Aku ingin menikah denganmu." Seketika mata Wonwoo terbuka lebar. Menatap jemari yang tadi bergenggaman dengan Mingyu kini tersemat sebuah benda bulat berkilau di salah satu ruasnya.

"Kau melamarku?" Wonwoo bergeser mundur untuk menatap Mingyu-nya dengan baik. Bergantian menatap cincin perak di tangannya.

"Tidak. Aku sedang memintamu menjadi istriku."

"Sama saja, bodoh."

"Jadi?"

"Jadi apa? Tentu saja aku akan menikah denganmu. Apalagi kalau sampai aku hamil minggu depan. Sudah ku katakan aku sedang dalam masa- Yak!" Mingyu terkikik ketika sebuah kecupan ia berikan untuk membungkam celotehan kekasihnya.

"Malah lebih bagus jika kau hamil, noona. Ayah mau secepatnya punya cucu." Mingyu tersenyum kemudian meringis ketika sebuah cubitan keras mampir di otot lengannya.

.

Apalagi yang wanita butuhkan ketika seorang pria terbaik memintamu menjadi istrinya?

Wonwoo tidak butuh apapun lagi.

Tuhan memberi semua kemudahan dan keindahan untuknya.

Tuhan memberikan Mingyu padanya.

Apa Wonwoo pantas meminta hal lain ketika kesempurnaan Mingyu adalah segalanya.

.

.

.

Kkeut

.

.

.

Ciye bapeeerr….

Ini baper terakhir untuk seri Girls Need. Sebenernya dari awal Girls Need hanya punya dua seri. Entah kenapa jadi banyak.

Silahkan baca A Late Story untuk fiksi kolosal dan Genderswitch. Ada sedikit adegan erotisnya jadi ada di Rate M.

Noona sedang berusaha mengembalikan feel yaoi supaya bisa bikin Meanie Boyslove lagi. Doakan.

Sekian untuk cuap-cuap di Seri Girls Need. Sampai jumpa di fiksi selanjutnya.

.

Kim Noona

Thur, 24th Nov 2016