Disclaimer © Fujimaki Tadatoshi

WARNING: AU, OOC, Typo(s)

Tambahan: Aomine: 25 tahun, Kagami: 12 tahun.

.

.

.

Sepanjang hari Aomine bekerja, dia tidak mendapatkan satupun laporan tentang anak hilang. Mungkin Taiga anak kota lain jadi dia tidak mendapat laporan di wilayahnya. Tidak apa-apa kalau Taiga akan tinggal di rumahnya sebentar lagi, kenyataan kalau Taiga bisa memasak membuat nilai tambah untuk Aomine mengasuh Taiga. Lagipula itu bagus untuk latihan kalau kelak dia akan mempunyai anak sendiri. Sepanjang sisa perjalanan pulang ke rumahnya setelah turun dari angkot di perempatan, Aomine jadi malah teringat Taiga yang ada di rumah sendirian dan membuatnya segera bergegas untuk sampai rumah dan mengecek keadaan Taiga.

"Taiga," panggil Aomine setelah dia berhasil membuka kunci pintunya dan memasuki rumah.

Tidak ada jawaban apapun.

"Taiga," ulang Aomine lebih keras dan memasuki rumahnya lebih dalam untuk mencari Taiga.

"Aku di sini!"

Aomine lalu menghampiri di mana suara Taiga berasal dan menemukannya berdiri di depan mesin cucinya yang berada di sebelah kamar mandi.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Aomine.

"Laundry," jawab Taiga. "Waktu aku menyapu rumah tadi dan masuk kamar Oom, banyak sekali baju kotor di lantai dan membuat kamar Oom bau jadi aku sekalian mencucinya dengan bajuku."

"Jangan masuk kamar orang sembarangan!" tegur Aomine lalu akhirnya melihat Taiga. Dia memakai salah satu kaos Aomine yang tentu kebesaran untuk Taiga. Tidak tahu apa yang menghinggapinya, Aomine berpikir Taiga sangat lucu seperti itu.

"Oom tidak pernah mencuci baju ya?" Taiga malah bertanya.

"Tentu saja pernah, hari laundry adalah Minggu jadi aku mencuci baju hari Minggu." jawab Aomine. "Dan jangan seenaknya memakai baju orang lain."

"Aku tidak punya baju lagi dan bajuku kotor," balas Taiga. "Dan Oom juga harus beli bahan makanan, di lemari es cuma tinggal air."

"Oke, ayo ke supermarket nanti," balas Aomine lalu menatap Taiga. "Dan beli baju untukmu juga."

.

"Oom tadi nggak beli garam?" tanya Taiga setelah mereka selesai berbelanja dan Taiga sedang membuat makan malam untuk mereka berdua.

"Kan tadi kau yang beli semuanya sampai menghabiskan uangku untuk bulan ini," balas Aomine. "Tapi kelihatannya masih ada garam di kabinet."

"Aku tidak bisa mengambilnya," kata Taiga yang tinggi badannya masih belum bisa menjangkau kabinet yang berada di atas.

Aomine lalu berdiri dan mengangkat Taiga dengan mudah sehingga dia bisa mencari garam yang dibutuhkannya. "Kau mau membuat apa?"

"Um… nasi dan ayam teriyaki,"

Aomine mengangguk dan mendekatkan wajahnya ke rambut merah Taiga dan menghirup aroma shampo dari rambut Taiga yang ternyata sangat lembut.

"Oom,"

Aomine kaget ketika acaranya menghirup aroma rambut Taiga terinterupsi oleh panggilan Taiga. "Huh? Apa?"

"Aku sudah menemukan garamnya,"

"Oh, oke." Aomine lalu langsung menurunkan Taiga dan kembali duduk di tempatnya sebelumnya. Apa yang terjadi dengannya tadi? Kenapa dia bisa tiba-tiba melakukan itu Taiga? Oke tenang saja, mungkin karena dia tidak pernah mempunyai adik jadi dia merasa sayang kepada Taiga. Ya pasti itu. Dia tidak perlu takut kalau tiba-tiba menjadi pedofil.

Setelah mereka makan malam dan Aomine mencoba menjadi gentleman dengan menggantikan Taiga untuk mencuci piring makan malam mereka, Dia jadi berpikir-pikir dengan tangan yang penuh busa sabun cuci apakah dia memang mempunyai perasaan ke Taiga. Memang dia tidak mempunyai pacar sekarang tapi bukan berarti dia tidak suka dengan wanita dewasa yang "menonjol", dia sampai sekarang masih setia dengan Mai-chan yang datang seminggu sekali di kotak posnya dalam bentuk majalah jadi tidak mungkin dia mempunyai perasaan ke Taiga. Ketika dia akan mengeringkan tangannya dan juga piring bebas dari busa sabun, tiba-tiba keadaan menjadi gelap.

"Oh sial, apakah aku belum membayar tagihan listrik bulan ini?" kata Aomine ke dirinya sendiri. Dia akan menuju ke kamar mandi untuk mencari air untuk membasuh tangannya ketika tiba-tiba Taiga yang sebelumnya sedang menonton televisi berteriak sangat kencang.

"Taiga, kenapa?" Aomine dengan panik lalu berlari menghampiri Taiga. "Ada apa?"

Taiga lalu langsung memeluk Aomine dan menenggelamkan wajahnya ke perut Aomine.

"Kenapa?"

Taiga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mencengkeram kaos yang dikenakan Aomine dengan erat.

Aomine mengerutkan keningnya dengan tingkah bocah di depannya ini. Kenapa Taiga tiba-tiba bertingkah aneh seperti ini? Oh jangan-jangan…

"Kau… kau takut gelap?" tanya Aomine.

Taiga menjawab dengan lebih menekankan wajahnya ke perut Aomine.

"Berapa umurmu? Minggir." Aomine lalu mendorong Taiga agar melepaskannya.

"J-jangan tinggalkan aku," Taiga memohon dan mencengkeram lengan Aomine.

"Aku akan cuci tangan sebentar," kata Aomine.

"Aku ikut Oom!" Taiga tetap mencengkeram lengan Aomine dan mengikutinya ke kamar mandi.

"Tsk," kata Aomine tapi dia tetap membiarkan Taiga menggandengnya.

Ketika Aomine setelah mencuci tangan dan melihat keluar ternyata listriknya mati bukan karena dia lupa membayar tagihan tapi memang dari pusat yang memutuskan sambungan listrik jadi kampungnya menjadi gelap dan hanya mendapat penerangan dari sinar bulan. Dan sepanjang malam itu Taiga jadi menempel mengikuti Aomine kemanapun. Dan sekarang Taiga bersender di bahu Aomine dan tertidur lelap sementara Aomine masih asyik bermain di dunia maya lewat perantara telepon pintarnya. Di keremangan dan hanya terdapat cahaya lilin, Aomine mengamati wajah polos anak-anak Taiga yang terlihat damai dengan kelopak matanya yang tertutup. Aomine akan mengelus pipi chubby Taiga yang agak kemerahan tapi memutuskan untuk tidak melakukannya dan malah membangunkan Taiga.

"Taiga," Aomine mengguncang-guncang tubuh Taiga pelan. "Oi Taiga."

Taiga bergerak sedikit lalu membuka mata merahnya dan mendongak untuk menatap Aomine. "Hm?"

"Pindah ke kamar kalau kau mau tidur,"

"Tidak mau." Taiga menggelengkan kepalanya lalu memegang tangan Aomine dengan kedua tangannya.

"Aku akan mengantarmu ke kamar," balas Aomine.

"Tidak mau," ulang Taiga. "Aku mau tidur dengan Oom,"

"Hah?" Aomine bertanya dan pikirannya langsung memberikan visual yang isinya kamar, dia dan Taiga dalam satu frame yang seharusnya tidak pantas dipikirkannya. "Tidur sendiri!"

"Tidak mau!" Taiga dengan keras kepala masih menolak dan mencengkeram tangan Aomine lebih erat.

"Tidur sendiri!"

"Tidak mau!"

"Tidur sendiri!"

"Tidak mau!" Taiga menjadi menjerit-jerit dan cengkeraman di tangannya menjadi sedikit sakit.

Aomine menghela napas. Dia yang dewasa di sini jadi dia harus mengalah dan membiarkan Taiga tidur dengannya malam ini. Dan mencoba tidak berpikir yang tidak-tidak.

"Ayo ke kamar kalau begitu," Aomine lalu berdiri dan Taiga lalu cepat-cepat memegang tangannya.

Setelah di kamarpun, Taiga masih tetap lengket menempel padanya. "Minggir sana, jangan dekat-dekat!" katanya dan mencoba mendorong tubuh Taiga untuk menjauh.

"Oom!" Taiga mencoba bertahan dengan posisinya dan tetap menggelayuti tangan Aomine yang mencoba mendorongnya.

"Tsk, bocah," Aomine tetap di pendiriannya dan mendorong-dorong tubuh Taiga sampai menggunakan kakinya.

Aomine akhirnya bernapas lega ketika akhirnya Taiga berhenti memberontak dan diam. Ketika Aomine akan bersiap untuk tidur tiba-tiba ada sesuatu yang melompat ke arahnya dan menduduki perutnya.

"Ow!" Aomine berseru kaget sekaligus kesakitan dan melihat Taiga memeluk lehernya dan menguselkan kepalanya di leher Aomine.

"Aku mau di sini." kata Taiga yang suaranya teredam karena dia menempelkan wajahnya ke dada Aomine.

"Menurutmu aku mirip kasur? Tidur sendiri!" Aomine lalu menggulingkan tubuhnya sehingga posisi mereka terbalik dengan Aomine yang menjadi di atas Taiga dan memegang kedua tangan Taiga di atas kepalanya agar dia tidak memberontak.

"Ah! Lepasin! Ugh…" Taiga mencoba melepaskan tangannya yang dikurung Aomine dan mencoba menendang-nedang tubuh Aomine di atasnya.

Aomine membelalakkan matanya melihat Taiga. Tiba-tiba image Taiga berubah menjadi Taiga yang membuka kakinya lebar-lebar dengan wajahnya yang memerah dan matanya berkilau karena air mata dan Taiga mendesah-desahkan namanya seperti "Ahh…ahh… O-Oom Aomine, j-jangan di situ."

Sementara Aimine hanya tersenyum dan mengelus rambut merah Taiga dan meyakinkan Taiga "Tenang saja Taiga, kau akan sangat menyukainya nanti." Lalu tetap bergerak masuk—

Sebelum Aomine selesai melanjutkan fantasinya, tiba-tiba lampu menyala dan Aomine bisa melihat Taiga dengan jelas yang wajahnya memerah karena bergerak terlalu banyak di ruangan yang sempit karena dikurung Aomine.

"L-listriknya sudah menyala, kau bisa tidur di kamarmu sendiri," kata Aomine dan melepaskan Taiga.

"Tapi—"

"Ayo aku akan mengantarmu." Aomine lalu menarik Taiga untuk bangun dan menyeretnya untuk tidur di kamarnya sendiri.

"Selamat malam, Oom." kata Taiga setelah dia masuk ke kamarnya.

"Ya." Aomine lalu menutup pintu kamar Taiga. Wow, untung Taiga tidak melihat barang di bawahnya yang sudah bangun karena pikirannya sendiri. Aomine lalu menuju kamar mandi untuk mengurusnya. Aomine menggelengkan kepalanya, harus lebih berhati-hati sekarang kalau dekat-dekat dengan Taiga.

.

.

.

A/N: yay rekor tercepat update chapter keliatannya XD nggak tahu ini ratingnya harus T atau M? masukan sangat diterima dengan tangan terbuka :v

Terima kasih review, fav, follownya. Review lagi ya~ :)