I did it, again
(PART 2)
Seketika siang itu terasa menjadi aneh. Saat belahan bibir tebal berwarna merah jambu itu merekah indah dihapan Hoseok, dan sorotan berbintar dari manik bening itu menatap Hoseok dengan teduh. Hati Hoseok terasa terbelunggu dengan semua keindahan yang tidak selayaknya ia dapatkan itu.
Ia tahu siapa sosok dihapannya itu, dan bagaimana sosok tampan di hadapannya itu memperlakukan orang lain. Tak Cuma Hoseok, semua orang yang mengenal sosok si tampan Jimin pasti mengetahui sikap murni dari seorang Park Jimin. Namun yang menjadi pengganggu dari semua kebaikan seorang Park Jimin terhadap dirinya adalah perasaan tak enak didalam hatinya.
Hati Hoseok selalu terasa tidak enak setiap kali sikap tulus itu di untukan oleh Jimin kepada dirinya. Rasa yang benar-benar tidak nyaman saat senyuman manis Jimin itu merambah masuk kedalam sorot matanya. Juga semua kehangatan yang dengan santai Jimin berikan kepadanya. Hoseok selalu merasa terbebani dengan semua itu.
Hoseok tahu pasti bahwa semua ini memang salahnya. Semua rasa yang tidak enak ini adalah umpan balik dari sikap ceroboh dan sok tahu yang ia miliki dulu. Kesalahan terbesar yang ia lakukan terhadap Jimin sehingga membuatnya selalu hidup di bayang-bayangi dengan rasa bersalah seperti ini. Dan baiknya, Hoseok masih memiliki perasaan bersalah itu sehingga bisa menjadi pengingat dari kesalahan masa lalu agar tidak semena-mena menikmati hidupnya tanpa adanya rasa bersalah atas kelasahannya dimasa lalu.
"Jimin, terimakasih. Aku harus pulang" Cepat-cepat Hoseok menggeser langkahnya menjauh dari teduhan payung yang berada didalam genggaman Jimin. Ia tak kuat harus berlama-lama didepan laki-laki tampan yang sedikit lebih rendah darinya itu.
"Hyung, ini masih hujan" Tangan Jimin tiba-tiba saja menahan pergelangan tangan Hoseok, membuat yang lebih tua menghentikan langkahnya. Demi apapun yang ada didunia ini, Hoseok berani mempertaruhkan semua hidupnya dan akan sangat berterimakasih kepada siapun yang bisa melepaskannya dari hambatan seorang Park Jimin.
"Biar aku tumpangi sampai halte" Sambung Jimin dengan senyuman manisnya.
Atas nama Titan yang memakan setiap ruas daging manusia Hoseok benar-benar mempertaruhkan apapun yang dimilikinya kepada seseorang yang bisa menyelamatkannya dari Park Jimin. Haruskan Jimin selalu menampakan senyuman tulusnya itu disetiap gerak-gerik yang dilakukannya. Dan kenapa mata sipitnya itu juga selalu ikut tersenyum setiap kali bibir merah muda Jimin tersenyum.
"Terimakasih sebelumnya, Jimin. Tidak usah repot-repot, aku hanya cukup berlari beberapa langkah ke Toko Nunaku" Selembut mungkin Hoseok mencoba untuk memperendah nada suaranya. Melepaskan genggaman tangan Jimin pada pergelangan tangannya.
Senyuman manis dari berahan bibir merah muda Jimin seketika memudar. Ia tahu kalau belakangan ini Hoseok hyungnya sedang dalam masa tidak enak hati akan kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka berdua. Tapi ini sudah terlalu kelewatan. Jimin sudah memahami Hoseok selama hampir dalam dua minggu ini. Jimin berusaha baik-baik saja saat Hoseok terus-terusan menjauhinnya hanya kerana kesalah pahaman kecil yang mereka alami. Namun untuk saat ini, Jimin tidak bisa lagi menahan sikap kekanak-anakan Hoseok ini. Hatinya lumayan sedih jika terus-terusan dihindari oleh Hoseok Hyungnya seperti ini.
"Hyung~ biar aku antarkan ke Tokonya Jiwoo Nuna. Sekalian aku ingin menyapa Jiwoo Nuna.."
"Tidak!" Satu kata itu tiba-tibsa saja keluara dari mulut Hoseok tanpa ada kendalian dari dalam dirinya.
Hoseok terdiam. Tepat setelah satu kata seruan yang tajam itu merosot mulus dari bibir merah mudanya, Hoseok membeku seperti orang bodoh yang kehilangan akalnya. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol diri seperti orang kesurupan begitu. Perlahan Hoseok mengangkat pandangannya untuk menatap Jimin yang sedang berdiri dihadapannya.
Jimin juga tiba-tiba terdiam seperti orang linglung. Bibirnya terangat sebelah membentuk sebuah senyuman gentir ulah sikap berlebihan Hoseok. Jimin memicingkan sebentar matanya sebelum perlahan gengaman tangannya dipergelangan Hoseok melonggar, sampai ia benar-benar dilepaskannya.
"Kupikir semuanya sudah berakhir saat kita sama-sama mengatakan itu telah berakhir, Hyung?" Jimin kembali tersenyum. Lalu meninggalkan Hoseok di depan toko sepatu olahraga itu.
Hoseok memandangi punggung Jimin yang separuhnya tertutupi oleh tudung bayungnya. Memperhatikan setiap langkah Jimin yang menembus derasnya air hujan, ketika sosok tampan itu berlahan hampir menghilang dibalik gedung-gedung tinggi pertokoan. Mengabaikan dirinya sendiri yang sudah hampir kuyub dibawah hujan deras.
"PARK JIMIN! MAAFKAN AKU"
