In your Unconsciousness

(PART 3)

Hoseok menatap langit lembab tanpa latar belakang biru terang itu dengan pandangan kecewa. Tiba-tiba kepergian Hujan membuatnya menjadi kesepian. Bukan hujannya, tapi sosok yang selalu muncul saat hujan datang.

Hoseok membuang nafas berat, memicingkan matanya, mencoba untuk tenang dari pikiran-pikiran berat yang menganggunya.

Jika hujan tidak turun, tolong jangan biarkan langit mendung seperti ini. Sebab Hoseok tak ingin terus berharap hujan datang melihat langit kelam yang ditutupi awan gelap.

"Kau sudah selesai?" Ia memutar pandangannya kebelakang, mendapati sosok sedikit mirip dengannya sedang berdecak pinggang.

"Jika kau terus melakukan hal bodoh itu, pergi saja dari sini. Kau aku pecat" Lanjutnya.

Tentu saja Hoseok yakin bahwa itu bukan benar-benar ia sedang dipecat. Orang itu adalah kakak perempuannya yang memang hobi sekali mengomel. Tapi sungguh, aslinya perempuan itu sangat baik kok.

"Jika aku dipecat, siapa manusia yang akan tahan dengan mulut cerewet noona?" Alih-alih dari pada merah, Hoseok lebih memilih melawan kakaknya dengan gurauan garing yang sama sekali tidak mengundang tawa kakaknya.

"Cepat pilih sampah itu" Benarkan kakak Hoseok itu tidak benar-benar memecatnya, yang ada ia malah menyuruh Hoseok untuk mempercepat pekerjaannya.

Hoseok tertawa. Omelan kakanya itu adalah kebahagiannya untuknya. Bukan Hoseok tipe adik kurang ajar yang ingin kakaknya tekanan darah tinggi kerena ulahnya, tapi serius, omelan kakanya itu bukanlah benar-benar sebuah omelan. Melainkan cara lain dari kakaknya menunjukan kasih sayang.

"Sebelumnya aku juga tidak memperkerjakan, manusia" Perempuan itu berlalu meninggalkan Hoseok. Bergumam kecil sebelum ia benar-benar pergi dari tempat adiknya.

Hoseok mendengar gumaman itu. Hoseok secara tidak sadar menghentikan tawanya dan merubah ekspresi wajahnya menjadi terlihat sedih.

.

.

.

Medung itu sedikit mengalah. Mempersilahkan hamparan biru untuk memperlihatkan dirinya, walau tidak sepenuhnya. Genangan air menyisakan bekas sebagai pemberitahu bahwa tadi hujan menyapa hamparan pijakan makhluk Tuhan. Hoseok menyeret langkahnya dengan teramat berat, ia benci mengakui fakta bahwa ia selalu melangkah ketempat sama untuk alasan yang sama meski berkali-kali hatinya terasa sakit.

Aroma karbon kamar mandi itu selalu menyapa indra penciuman Hoseok dengan ramah, Hoseok tak menyukainya. Suara roda ranjang pasien yang didorong secara tergesa-gesa, benar-benar tidak nyaman dipendengaran Hoseok. Serine dan lampu ambulan yang menyala diparkiran itu membuat Hoseok depresi. Tapi Hoseok, ia masih bersikap naïf dengan semua hal yang menggangu hidupnya itu. Hoseok tetap mengiring langkahnya untuk menapaki ubin-ubin dingin rumah sakit itu. Ia terbiasa sejak dua minggu belakangan.

Nama Jimin tertulis didepan pintu kayu bercat putih itu, tepat dibawah tulisan VIP dan disusul dengan umurnya, berikut dengan tanggal yang menunjukan dua minggu yang lalu Jimin menghuni disana. Hoseok terdiam untuk bebarapa detik, menimang-nimang kepastian untuk ia memasuki ruangan itu. Bukan hal pertama memang, tapi Hoseok selalu seperti itu untuk sekadar membesuk Park Jimin, temannya.

Hoseok mendapatkan keyakinannya untuk menggerser pintu besar yang menjadi penghalangnya untuk bertemu Jimin. Menyeret satu persatu langkah yang benar-benar terasa berat hanya untuk lima langkah kedepan. Menampakan sosok Park Jimin yang tertidur di atas kasur pasien berhiasan silang-silang atau kabel-kabel yang mehubungankannya dengan alat-alat medis canggih disana. Hoseok tak terlalu mengerti dengan semua alat-alat itu, yang pasti ia ketahui, Jimin sangat memerlukan semua alat-alat itu sekarang.

Sosok Park Jimin yang berbaring diatas ranjang itu tak memiliki ukuran tubuh yang sama dengan Jimin yang berdebat bersama Hoseok beberapa waktu yang lalu. Jimin yang didalam ruangan itu lebih kurus dan pucat, tak serupa Jimin biasanya yang mengacau hari-hari Hoseok, namun Hoseok tak pernah benar-benar merasa dikacaukan oleh Park Jimin.

"Kau melakukannya lagi" Suara Hoseok terdengar sangat rendah, bahkan nyaris tak bisa di tangkap indra pendengaran.

Hoseok tertunduk. Seperti memang sengaja menyembunyikan wajahnya dari Jimin. Tak sekalipun ia pernah berani mengangkat wajahnya di hadapan Jimin yang sedang berbaring disana.

Kekuatan Hoseok tak sebesar itu untuk menunjukan wajah bajingannya dihadapannya Jimin. Setidaknya Hoseok masih memiliki kesadaran atas sikap yang sewajaranya ia tunjukan kepada Jimin.

Setetes air mata itu terjatuh tepat di pergelangan tangan Jimin, membuat Hoseok cepat-cepat mengusap kasar butiran bening itu. Hoseok tak ada lebihnya dari si bodoh yang hanya menunduk dengan penuh penyesalan terhadapa Jimin.

"Maafkan aku, Jiminie" Masih kalimat yang sama. Lebih dari ribuan kali Hoseok menyerukan kalimat penyesalan itu dihadapan Jimin yang terbaring lemah. Tapi ia, tak pernah luput dari rasa bersalahnya.

Kesalahan itu tidak akan terhapus hanya dengan kata maaf Hoseok. Tidak akan pernah membawa Jimin untuk kembali dapat ia sentuh.

TBC