Girls In The Dark.
NOVEL © Akiyoshi Rikako, 2014
Remaked © awtaeyong, 2016
Jaehyun, Jung x Taeyong, Lee
Chittaphon, Leechaiyapornkul ; Hansol, Ji
Donghyuck, Lee ; Kun, Qian
Doyoung, Kim ; Jaemin, Na
NCT © SM ENTERTAINMENT
GS ; AU ; REMAKE ; Age-switch
.
BAB KEDUA [ Part 1 ] :
"Tempat Berada"
Oleh : Hansol, Ji [1-C]
.
Pemandangan itu takkan pernah terlupakan di benakku.
Seorang gadis yang kecantikannya nyaris sempurna, bersimbah darah. Gadis itu dipindahkan ke usangan, tanpa melepaskan setangkai bunga lily indah yang tergenggam dalam kepalan tangannya yang bak porselen.
Walau sudah meninggal, jasadnya tetap indah, sama seperti semasa ia hidup. Jasadnya juga masih tetap luar biasa, hingga menarik perhatian banyak orang.
.
.
Aku bertemu dengan siswi itu, Lee Taeyong, beberapa saat sebelum aku masuk sekolah.
Sejak masih kecil, aku selalu berpikir kalau aku tidak punya tempat untukku berada. Baik di rumah, sekolah, maupun di jalanan yang menghubungkan kedua tempat itu, bahkan di minimarket tempat teman-teman sekelas sering berkunjung. Tempatku seperti terputus dan tak bisa dirajut lagi.
Keluargaku tinggal di sebuah kamar 2LDK* kompleks perumahan. Dengan anggota keluarga berjumlah lima orang, aku tidak bisa mempunyai kamar sendiri. Atau bisa dibilang aku tidak punya tempat. Aku dan adik perempuanku yang masih SMP, Nayeon, tidur di kamar yang satu. Kamar sisanya diisi oleh adik kembarku yang masih duduk di bangku SD, Jeno dan Jisung. Ibu, sebagai single parent, tidur diatas sofa-bed yang terletak di sudut ruang tamu yang berukuran 8 tatami*.
Aku tidak bisa mengerti, kenapa ibu bisa bertanggung jawab atas empat orang anak seorang diri. Bisa saja, kan, Ibu dan Ayah membagi kami dua-dua saat bercerai? Akibatnya, aku selalu menghela nafas panjang setiap kali pulang ke ruangan 60 meter persegi tempat kami berlima berkumpul menjadi satu.
Apakah Ayah tak sudi merawat satu saja dari kami? Apa atau Ibu yang tak mau melepaskan siapapun diantara kami? Ayah dan Ibu tak ada yang mau bercerita, padahal aku pikir tak apa-apa menceritakannya, setidaknya padaku atau Nayeon. Kami berdua sudah cukup dewasa untuk mengerti masalah keluarga kami sendiri. Tapi, meski Ayah tak mau bercerita, ia selalu membanggakan kalau ia setiap bulan memberikan uang tunjangan pendidikan 25.000 won per anak.
"Artinya, setiap bulan 100.000 won melayang begitu saja dari gajiku." Katanya setiap kami bertatap muka dan ia mulai membanggakan uang yang ia keluarkan untuk kami. Meskipun ia terlihat bangga, tidak ada kesan merendahkan atau menyayangkan uangnya. Ia juga terlihat senang dengan pertemuan tak rutin dengan kami berempat.
Kehidupan kami tidak bisa dibilang gampang meskipun tidak ada kejadian besar karena perceraian orang tuaku. Kalau boleh mengungkapkan secara ekstrem dan kasar, keluarga kami miskin. Ayah adalah sopir taksi, Ibu mengetuk mesin kasir di sebuah supermarket yang lumayan besar, kadang bahkan jika sedang liburan atau tak mendapat shift, Ibu bekerja serabutan diluar sana. Walaupun demikian, aku bisa bersekolah di SMA Katolik Putri Santa Maria yang terkenal hingga kampung halamanku, Busan, berkat program beasiswa yang diselenggarakan oleh pihak sekolah.
Dari dulu aku mendambakan untuk bersekolah disana. Aku melihat seragam sekolah mereka yang lucu dan terlihat mewah walau sebenarnya seragam itu ternyata sama saja seperti seragam sekolah lain dari jendela kereta. Sampai suatu hari aku melihat pengumuman beasiswa dan mulai bertekad untuk mendapatkannya. Karena tekad yang kuat itulah, aku belajar mati-matian sejak SD. Waktu aku menerima surat kelulusan yang disertai lampiran surat penerimaan beasiswa, berapa kali aku meloncat dan menjerit senang, ya?
Hari-hari sebelum upacara masuk, beberapa kali aku melangkahkan kakiku memasuki ke kompleks untuk mengukur seragam, menerima tas sekolah, atau mengikuti ospek. Saat pertama kali aku masuk, dadaku sangat sakit akibat jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku membayangkan aku akan seperti mereka saat melihat mereka, senior-seniorku memakai seragam.
Tapi...
Setelah dua minggu semenjak upacara masuk, tempatku disini pun, tak ada.
Teman untuk diajak makan siang memanglah ada; di kelas pun aku mempunyai beberapa teman berbicara yang akrab. Tapi rasanya tetap ada yang hilang, tak ditemukan. Rasa rendah diri juga memenuhi relungku, terus memprovokasi diriku sejak datang sekolah hingga pulang sekolah tentang betapa tak pantasnya diriku disini. Membuatku selalu beranggapan bahwa tempatku bukanlah disini.
Kenapa?
Mungkin harus kujabarkan sedikit. Mulanya, kukira penyebab ini semua adalah hipotesis bahwa aku hanyalah seorang yang tak bisa bersekolah jikapun tak mendapat beasiswa, dan rasa iri yang membuncah pada teman sekelas yang merdeka dengan kehidupan mereka.
Tapi, setelah aku memulai kerja part-time, rasa-rasanya alasan dibalik semua ini bukanlah seperti itu.
Part-time milikku (Ah, sebenarnya part-time dilarang keras oleh sekolah—) sama dengan Ibu, yaitu sebagai kasir supermarket. Disana, aku juga tak bisa menyesuaikan diri dengan anak-anak sebayaku, dan hasilnya, aku menghabiskan hari-hariku dengan diam dan sigap bekerja. Awalnya, di waktu jam istirahat, ada orang yang menyapaku. Tapi setelah tahu kalau aku bersekolah di SMA Putri Santa Maria, ia hanya bergumam, "Waaaaah." Dan hari berikutnya, ia hanya memandangku dari kejauhan. Mungkin ia kira aku takkan sadar.
Padahal, aku sadar. Aku peka terhadap sekitar karena tidak ada yang peduli padaku, dan berakhir aku yang peduli pada sekitar.
"Anak Santa Maria kerja sebagai kasir? Gak salah?"
"Ibunya juga kerja disini, loh!"
"Haaaaaaah? Bukan anak orang kaya? Bohong, dong?"
"Dia pernah pakai seragamnya, kok!"
"Alah, paling jahit sendiri, gak mungkin kan dia beneran sekolah disana?!"
Pernah juga terdengar percakapan seperti itu di ruang loker pegawai. Dimanapun aku berada, keberadaanku ini selalu setengah-setengah... begitu pikirku.
Sampai akhirnya, aku bertemu Lee Taeyong.
.
.
Sampai sekarang, aku masih sering mengenang pertemuan pertamaku dengan Lee Taeyong.
Sebelum bertemu dengannya, aku tak pernah bisa menikmati kehidupanku di sekolah. Hanya saja, aku semakin lihai bermain peran sebagai Ji Hansol yang bahagia dengan keseharianku di sekol ah. Oleh karena itu, aku sering pergi ke teras yang terletak di lantai tiga dan memandang keseluruhan kompleks sekolah setiap jam istirahat.
Biasanya disini tidak ada orang dan selalu tenang. Rumornya, dulu tempat ini sangatlah ramai. Tetapi setelah ruangan kaca di kompleks utama berdiri, banyak siswi yang pindah kesana, karena disana terjamin aman dari cuaca dan sinar ultraviolet yang merusak kulit.
Yang sering kupandangi adalah sebuah kapel yang terletak di sudut taman sekolah. Ada sebuah salib besar diatas atapnya yang berbentuk segitiga. Tanpa mengetahui kapan kapel itu didirikan, orang-orang juga pasti tahu kalau kapel lama sangatlah old school. Kapel lama ini hanya dipakai untuk pelajaran agama, mendengar khotbah suster, dan bernyanyi. Di dalamnya hanyalah ada bangku kayu yang lapuk, organ yang nadanya meleset dan patung Yesus yang catnya sudah mengelupas dibeberapa bagian. Karena itulah, kapel baru didirikan.
Entah kenapa setia kali aku pergi ke kapel lama, rasanya hatiku tenang. Sekolah ini didirikan oleh seorang suster dariu inggris yang datang ke Korea setelah perang duni kedua. Sekolah ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada para gadis berdasarkan iman Kristiani. Walau sudah dimakan usia, kompleks sekolah dan biara yang terdapat didalamnya tetaplah cantik, seolah bukan berada di Korea.
Lebih lagi, Kapel baru yang dibangun 10 tahun yang lalu itu menunjukkan keindahan dan memperkuat karakter didalam kompleks. Pintu masuknya dihiasi oleh patung Bunda Maria. Di belakang mezbah ada kaca hias besar; entah digarap oleh artis yang tak kuketahui pasti. Di tengah keadaan yang seperti itu, hanya kapel lama saja yang tanpa hiasan norak. Keadaannya yang begitu polos entah mengapa serasa mirip denganku.
Aku duduk langsung di lantai. Kadang kadang sambil membaca puisi Erza Pound*, aku memandangi kapel lama. Itulah cara kesukaanku untuk menghabiskan jam istirahat.
"Kau selalu ada disini, ya?"
Tiba-tiba ada yang menyapaku. Saat aku menaikkan wajahku, Lee Taeyong sudah melongokkan kepalanya.
"Kau suka buku? Kau sering membacanya, kan?"
"Eh—iya—"
Aku sama sekali tidak menyangka akan disapa oleh Lee Taeyong!
Aku sudah tahu tentang gadis ini bahkan di hari pertama aku masuk sekolah. Sekolah ini adalah sekolah putrid dengan tiga kelas di setiap tingkatnya dan jumlah murid yang sedikit di setiap kelas. Selain itu, sebagai ciri khas sekolah putri, senior yang cantik, elegan, dan manis akan menjadi sosok idola bagi junior. Apalagi, gadis itu adalah anak pengelola sekolah. Kekayaannya sangatlah menonjol diantara gadis-gadis kaya. Ayahnya adalah pencetus dan pendiri beasiswaku, Beasiswa Lee. Intinya, berkat ayahnya lah aku bisa bersekolah disini.
Tapi, ini tidak ada hubungannya dengan aku anak penerima beasiswa ataupun bukan. Tidak ada orang yang bersekolah disini yang tidak tahu siapa Lee Taeyong. Semua murid, mulai SD hingga SMA, mengagumi kecantikannya yang tak biasa. Ia bisa menarik perhatian orang-orang dan mereka menjadikannya panutan untuk melangsungkan keseharian mereka di sekolah.
Aku memandang takjub Taeyong saat pertama kali melihatnya. Taeyong melanjutkan,
"Aku memimpin Klub Sastra di SMA. Kalau kau bersedia, maukah kau bergabung?"
.
TBC.
.
*2 LDK : 2 room, 1 living room, 1 dining kitchen.
*Tatami : Lantai tradisional Jepang yang terbuat dari jerami yang dianyam. 1 tatami : 1,6 meter persegi.
*Erza Pounds : Erza Weston Loomis Pound, penyair asal Amerika.
.
Halo, awtaeyong alias samyangjaeyong disini! Apakah chap ini sudah cukup panjang dan memuaskan seperti kejantanan? (APA YANG BARU SAJA KUKETIK—) Kuharap iya, haha.
Dan gaya bahasaku, apa kalian suka? Sebenarnya ini adalah gaya bahasa Akiyoshi Rikako yang asli, tapi kuberi sentuhan khas diriku. Jadi masih masuk kategori gaya bahasaku, kan?
Kali ini aku membawakan bagian Hansol yang karakter aslinya adalah Nitani Mirei. Kurasa Hansol cocok jadi Nitani-san karena Hansol wajahnya cocok untuk sesuatu yang berbau penderitaan(?).
Oh iya, setiap cerita kubagi menjadi dua part, karena kurasa aku tidak kuat langsung sebanyak itu. Ini saja lama updatenya. Maafkan aku huhu.
Feedbacknya, boleh?
