Haikyuu © Furudate Haruichi

Nodame Cantabile © Tomoko Ninomiya
Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil apa pun atas pembuatan fanfiksi ini.

.

[a/n : terima kasih buat Yucchika Kissui (udah lanjut yaa /o/), Shin Hikki (aaaaa, makasih buat koreksi typonya X'D panggil aja suki, muehehe), dan Nanaho Haruka (semoga di chapter ini bisa menjelaskan ya, maaf kalau bingung 8")) atas review-nya *wink* dan yang udah tekan tombol fave sama follow, selamat membaca~]


"Toska"


[2/7]

.

"TSUKISHIMA Kei itu, bagaimana orangnya?"

Sejak Shouyou menerima kertas berisi nama partner dan tanggal yang tertera selama ujiannya berlangsung, ia menduga-duga akan jadi seperti apa permainan pianonya nanti. Cukup terkejut juga ketika ia sama-sama dipasangkan dengan seorang pianis, tidak violinis seperti pada umumnya. Ukai-sensei bilang Tsukishima Kei itu partner yang cocok untuknya; untuk mengimbangi cara bermain Shouyou, lebih tepatnya. Shouyou tidak tahu kalau gaya bermainnya bisa menimbulkan masalah, dan ketika ia mengutarakan kejanggalan kecil itu pada Ukai-sensei, dosennya membantah tegas. Tidak ada yang salah dengan permainan pianonya dan ia tak perlu khawatir dengan hal sepele seperti itu.

"Tsukki? Orangnya, begitulah. Sulit dijelaskan kalau belum bertemu," balas Lev, mengingat-ngingat. Ia menyoretkan beberapa warna di jurnal kecil Shouyou, lingkaran-lingkaran acak pada bagian mata kuliah tertentu sebelum kemudian dimasukan ke bagian sisi kanan ransel kawan oranyenya. "Jadwalmu sudah aku ubah. Dua mata kuliah baru saja dipindahkan ke hari Rabu,"

"Oh, hijau?"

Lev mengangguk. "Iyaaaa, Shouyou, itu hijau. Sudah aku beri lingkaran, tinggal kau ubah di papan jadwal nanti,"

Erangan kecil. "Spidol hijaunya habis, duh," ia mengeluarkan ponsel dari saku jaket, aplikasi post-it dibuka dengan cepat lalu mengetik sederet list seperti; jangan lupa bertemu Tsukishima-kun dan berikan kesan yang baik, atau, pelajari bahan ujian nanti dan kurangi komentar-komentar yang aneh, dan terakhir ia menulis, spidol hijau habis, jangan lupa beli.

"Omong-omong, soal Tsukishima Kei ..." ucapan Lev berhenti, Shouyou sudah lebih dulu berdiri dan meniti anak tangga dari taman tengah menuju lorong loker sepatu. Seorang gadis bernama Yachi kebetulan berpapasan dengan mereka, sedikit mengingatkan soal jam tambahan besok dan berakhir dengan salam selamat tinggal.

"Hm, kau bilang apa?" tanya Shouyou, sadar percakapan mereka sempat terputus.

"Kenma-san bilang dia orang yang prefeksionis, tapi entahlah."

"Heee... tipe-tipe yang mengutamakan nilai di atas segalanya, ya," Shouyou manggut-manggut, tampak berpikir sejenak, "yah, kelihatan, sih."

"Kelihatan? Kau suda tahu orangnya kenapa masih bertanya,"

Cengiran lugas dipoles. "Aku bertanya soal sifat Tsukishima Kei, bukan fisiknya," tawa renyah lepas begitu saja, "soal seperti apa dia terlihat, aku tahu. Dan juga..." kembali Shouyou mengerang, kali ini lebih ke arah sebal, "... orang yang tinggi, ew."

"Shouyou itu alergi orang tinggi, ya."

"Argh, itu topik sensitif, sstt!"

Shouyou tidak bohong soal bagaimana rupa Tsukishima Kei; berambut pirang, berkacamata, tidak lepas dari headphone, ekspresi ketus, dan bagian yang paling menyebalkannya, tinggi. Pertama kali ia melihat partnernya adalah ketika semester pertamanya dan ia melihat bagaimana pemuda pirang itu bermain di gazebo belakang gedung kampus. Itu tidak sengaja, sungguh. Koushi-san sempat mengajaknya berkeliling sebagai wisata mengenal kampus lebih dekat dan Tsukishima Kei sudah lebih dulu di sana. Ia tidak mendekat, tidak mengganggu karena Koushi-san memberinya isyarat dengan jari telunjuk di depan bibir sambil berkata kalau Kei memang selalu berlatih di sana pada jam-jam senggang. Shouyou bertanya apakah Koushi-san mengenalnya, yang dijawab dengan anggukan kecil kalau mereka saling mengenal saat sekolah menengah atas. Hubungan senior dan junior, begitulah.

Karena itu, ketika Shouyou tahu bahwa Tsukishima Kei orangnya, ia tidak ragu harus mencari pemuda berkacamata itu di mana.


"Yang kemarin itu, sori, aku tidak bermaksud."

Hari pertama latihan, Shouyou rasa Kei tersinggung dengan perkataan sepihaknya kemarin sore. Atau lebih parahnya lagi, pemuda itu marah dan berpikir akan menemui Ukai-sensei setelah ini hanya untuk mengganti partner ujiannya nanti. Shouyou meringis, teringat bagaimana mereka akhirnya bertukar nomor ponsel dan berjanji untuk bertemu di tempat yang sama, sekarang ini. Dan masih berpikir betapa menyebalkannya Tsukishima Kei yang tinggi itu, dengan kemeja putih berlengan panjang tapi digulung hingga siku, vest biru dongker, celana sampai mata kaki juga sneakers putih, dan ugh, fashionable sekali ya, orang ini.

"Tidak kedengaran, suaramu kecil, Hinata-san."

"Aku minta maaf, astaga," seru Shouyou, lebih keras meski tidak berteriak.

"Minta maaf untuk?"

"Soal telingaku jadi sakit begitu mendengar permainan pianomu, yah, begitulah. Itu tidak sengaja."

"Tidak sopan."

"Iya, iya, aku kan sudah minta maaf," Shouyou mencibir jengah, lalu menekan tuts-tuts piano dengan gerakan acak. Kuning dan hijau berhamburan di matanya, semakin cepat tuts-tuts itu ditekan, semakin banyak dan bertambah tebal pula warna yang ditimbulkan. Atau semakin menipis ketika jarinya mencapai nada yang sangat tinggi. Ia lekas berpindah kunci, melihat merah saat do berbunyi, kuning dan turkois begitu re dan mi ditekan cepat, lalu bergabung menjadi lantun doremi dan warna-warna itu berhambur seperti yang selama ini matanya refleksikan. Shouyou tahu tuts piano berdasar hitam dan putih, tapi saat ia menekan dan dentingnya berbunyi, warna-warna itu selalu berhasil membuatnya tersenyum.

"Oke, Hinata-san—"

"Shouyou saja. Kita ini partner, aneh rasanya kalau dengan marga," sahutnya, lalu mendongak dan mendapati Kei berdiri di belakang dengan sebelah alis terangkat heran. "Aku boleh panggil Kei, kan?"

Kei mendengus kecil, lalu melipat lengan di depan dada; defensif. "Kalau permainan pianomu tidak kacau, tidak masalah. Sekarang, coba mainkan,"

"Hah!" sunggut Shouyou spontan, terkejut. "Maksudku, sekarang?"

"Kau pura-pura bodoh atau bagaimana?"

"Oke, oke, aku mengerti. Apa yang harus aku mainkan?"

"Sonata for two pianos, untuk D major."

"Oh," Shouyou menunduk, matanya belingsatan mencari—tidak, lebih tepatnya, jarinya sendiri yang mencari begitu menekan tuts yang berbeda, berusaha menemukan warnanya, berusaha menerka-nerka pada bagian nada mana ia bermain.

"Tch, kau ini sedang apa, sih. Aku bilang—"

"Ah, ini dia," sela Shouyou, terkekeh begitu menemukan nada awalnya. Ia melakukan peregangan sebentar, memainkan sederet garis nada yang ia lihat dari lembar pertama partiturnya. Itu seperti kumpulan warna dan suara yang disatukan, berulang-ulang, hanya untuk memastikan apakah ia bermain di nada yang benar atau tidak, sesuai dengan irama permainannya atau tidak. Tiga puluh detik berlalu, Shouyou berhenti pada bagian tuts nada pertama. Menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan berpikir bahwa semua ini akan lancar.


Tidak, kata lancar masih terlalu jauh untuknya.

"Meleset! Demi Tuhan, ini masih di baris pertama, masih salah!"

"Bagian mananya! Dari tadi aku mengikuti partiturnya, gaah!"

"Kau bilang bagian mana?" Dengusan untuk kali kesekian. "Mainkan lagi."

Tsukishima Kei itu orangnya suka marah-marah, ya. Lama-lama telinganya memang sakit kalau seperti ini terus. Pemuda jangkung itu sering sekali bilang tempomu buruk, permainanmu tidak mengikuti aturan, sudah kubilang baris ini ada di ketukan satu per empat kenapa kau malah menambahnya jadi satu per delapan, astaga, aku bisa gila. Kau bahkan tidak melihat partiturnya, tapi malah memerhatikan tutsnya terlalu lama. Memangnya yang kau itu lihat itu apa, not-not balok yang terbang saat dimainkan? Dan dua kali lebih seringnya, ulangi lagi, ulangi lagi, ulangi lagi!

"Kau mengerikan!" Shouyou berdiri, tetapi Kei lebih cekatan menahan bahunya sampai ia dipaksa duduk kembali. Ia meronta ingin pulang, Kei menolak, mengancam jam pulangnya akan semakin lama kalau Shouyou tidak berhasil, sedikitnya, bermain satu halaman penuh lembar partitur dengan benar. Lihat partiturnya, aku tahu kau mengingat not-not itu dengan baik, tapi kau harus tetap melihat partiturnya.

"Ini bukan permainankuuu!" Kali ketiga Shouyou protes, Kei menekan puncak kepalanya. Ia berteriak, lagi-lagi protes kalau Kei baru saja menekan titik diarenya dan itu sangat sakit, dasar bodoh. "Aku mengikuti partiturnya, sungguh. Tapi ini bukan seperti ini aku bermain, Kei. Warna-warnanya juga jadi aneh!"

Demi rambut gelombang Beethoven, wajah Kei yang songong dan decakan sebalnya itu benar-benar membuat darah Shouyou mendidih. Lev memang tidak berdusta, pernyataan Kenma juga benar adanya; Tsukishima Kei orangnya prefeksionis. Dia amat sangat terlalu prefeksionis.

"Dari tadi kau berbicara soal warna terus, tch." Kei berdecak keras, lagaknya mulai dengan berkacak pinggang ketika ia menatap Shouyou tepat di mata. "Memang apa hubungannya dengan—"

"Jangan samakan aku dengan duniamu, Kei. Jangan samakan."

.

Ada jeda yang terjadi, Kei menarik sisa-sisa kalimatnya yang terpotong sembari menahan napas. Otaknya refleks memutar satu per satu informasi yang pernah ia dengar, tentang bagaimana Hinata Shouyou ketika berkomentar. Bahwa pemuda oranye itu akan berceloteh tentang warna, bahwa warna-warna itu akan disambungkannya dengan tempo, atau irama, atau bahkan ketukannya. Tetsurou bilang itu suatu kondisi spesial dari seorang Hinata Shouyou. Ukai-sensei dan Koushi-san bilang dia adalah pemain piano yang hebat, tapi Kei perlu bersabar menghadapinya. Mungkin... ini maksudnya?

"Aku bermain dengan warna," Shouyou memecah hening lebih dulu, jari-jarinya bermain pelan di atas tuts. "Warna-warna itu adalah musiknya, Kei."

Sederet informasi melejit dalam benak Kei. Ia pernah membicarakannya bersama Akiteru ketika ia membantu penelitian sang kakak, dulu. Dan Kei rasa itu sudah lama sekali, namun melekat jelas dalam memori terkecilnya.

Synesthesia.

Antara mendengar warna dan melihat suara, yang mana sebenarnya Hinata Shouyou itu?

.

.

.

sender : Shouyou

Kenma, cekik aku sekarang juga

sender : Kenma

Kenapa, Shouyou?

sender : Shouyou

Si menyebalkanshima itu ternyata benar-benar menyebalkan

sender : Kenma

Pemborosan kata

sender : Shouyou

Ayolah, Kenma! Dia terus memaksa agar aku bermain mengikuti partiturnya

Sepenuhnya

Semua partiturnya!

sender : Kenma

Lalu?

sender : Shouyou

Dia bilang tidak ada yang salah dengan not-not baloknya, aku bisa mengingatnya dengan baik. Tapi tempoku buruk, benar-benar buruk dan terus melenceng. Permainanku bagus, katanya, tapi juga jelek. Yang mana yang benar, sih! Aku bisa bermain bebas kapan saja, tapi itu tidak berlaku saat ujian dan harus mengikuti semuanya sesuai partitur

Meh!

Aku kan bermain karena warna-warnanya memang cocok

Dia itu kenapa, sih

sender : Kenma

Shouyou

sender : Shouyou

Apa?

sender : Kenma

Aku rasa dia benar

sender : Shouyou

Kenapa kau juga ikut-ikutan Kenmaaaaaaaaaaa


tbc