Haikyuu © Furudate Haruichi

Nodame Cantabile © Tomoko Ninomiya
Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil apa pun atas pembuatan fanfiksi ini.

.

[a/n : halo, saya kembali lagi, huehuehue. Sekali lagi makasih buat WinYuzukiNatsume (waah, coba nonton seru kok XD hidup tsukihina, yeay!) Nanaho Haruka (sip, penjelasan di gugel lengkap kok :D dan kebetulan lagi ngalir, jadi fast up ehehe) hanazawa kay (karena hinata punya kondisi dari salah satu tipe synesthesia yaitu chromesthesia, untuk penjelasan lengkapnya dilakan tanya ke tante google ya :D) Nairel Raslan (waaah, saya speechless X'D dan nodame rekomendasi sih menurut saya, ehehe. Senang kalau bisa membuat paham :D) thanks buat reviewnya~ dan yang sudah fave juga follow /o/]


"Toska"


[3/7]

.

FREKUENSI pertemuan mereka semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Kei memberi Shouyou alasan klise seperti permainan pianomu perlu diperbaiki, aku tidak bilang kalau itu buruk, tapi ujian itu berada dalam konteks yang berbeda. Awal untuk dua kali pertemuan dalam seminggu, berubah menjadi tiga sebelum genap di angka empat, dan dua hari yang lalu ultimatumnya ditambah menjadi enam kali (bahkan terkadang tujuh) dan minimal dua jam latihan setiap pertemuan. Ketika Shouyou bertanya kenapa Kei begitu gencar memberinya latihan yang intensif, pemuda pirang itu mengangkat bahu dengan gayanya yang songong.

"Aku tidak menyangka berpasangan denganmu akan sebegini merepotkan," kata Kei kelewat lugas, "kalau bukan karena ujian, mana sudi aku menyuruhmu latihan,"

"Wiiii, lihat siapa ini yang bicara, tuan pianis paling pintar sekampus," cerocos Shouyou jengah, lalu mendengus gusar. Ia membenturkan kening ke atas halaman buku tebal yang terbuka, aksara-aksara kecil seolah menari di matanya, berbicara tentang sesuatu yang disebut garputala atau tangga nada dan itu membuatnya pusing.

"Pahami buku di depanmu, Shouyou,"

"Wiii, tuan pianis Kei bicara lagi," suaranya teredam buku namun Kei membiarkan.

Tiga puluh menit yang lalu Kei mengirimi Shouyou pesan—ia lebih suka bilang perintah—untuk datang ke taman tengah kampus karena kebetulan sama-sama menganggur di jam yang kosong. Berbicara soal pembagian part atau semacamnya, meski Shouyou harus disambut dengan setumpuk buku teori yang menurut Kei harus ia pahami. Shouyou mengeluh, segala hal yang berbau tulisan itu bukan dirinya dan ia seringkali belajar dengan cara praktik atau pertemukan ia dengan piano dan segalanya lancar. Kei berkelit kalau Shouyou itu terlalu serampangan dan malah membuatnya semakin rumit dan kalau protes terus lebih baik ajukan pengunduran diri pada Ukai-sensei.

"Kei, kapan latihan,"

"Pahami dulu bukunya."

"Ayolaaaah Keeeiii, latihan sajaaaa,"

"Berisik! Tidak lihat di sini banyak orang?"

"Aku lihat kok, aku lihat," Shouyou mengangkat kepala, bagian pipi kirinya terlihat merah karena terlalu lama ditekan. "Oh, warnanya bagus. Baru lihat warna pastel seperti itu."

Sebelah alis Kei terangkat, lirikannya jatuh menuju Shouyou sebelum ia ikut mengalihkan fokus ketika sadar warna yang dimaksud pemuda itu mengarah pada hal lain. Seseorang memainkan fur elise melalui flute, pemainnya berambut gondrong dengan warna hijau terang di bagian bawah rambutnya, berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk, dan Kei bisa melihat bagaimana mata Shouyou berbinar antusias. Binar yang sebelumnya pernah ia lihat kali pertama mereka bertemu.

"Dia sengaja mengubah temponya," kening Kei berkerut, "apalagi sampai ditambah dengan... beatbox?"

"Seperti Cosmin Cioca,"

"Co—apa?"

"Cosmin Cioca. Kau harus lihat bagaimana dia bermain flute dan beatbox sekaligus, seperti gwaaah!"

"... terdengar tidak realistis."

Shouyou mendelik. "Kau ini senang sekali komentar soal kesukaan orang, ya,"

"Well, hanya mencoba berkata jujur. Jangan terlalu dipikirkan."

"Jangan terlalu dipikirkan," ejek Shouyou sambil menjulurkan lidah, Kei mengangkat tangan seolah-olah akan memukul sebelum Shouyou cepat menciut. Hanya gertakan kecil, gertakan kecil. Yang beberapa detik kemudian, suara nyaringnya kembali mengudara. "Latihannya kapan, Keiiiiii,"

Alih-alih menjawab, Kei membalasnya dengan decakan kecil. Satu tangan meraih ponsel yang tergeletak bisu, mengurai lilitan earphone di sekitarnya, sebelum ia memasangkan bagian kiri untuknya dan kanan dijejalkan pada telinga Shouyou. Jari Kei seakan paham harus berlabuh di ikon mana dan playist seperti apa yang diputar begitu layar disentuh selama beberapa detik. Shouyou sempat berceloteh tentang bagaimana kalau celo dipadukan dengan beatbox tapi Kei mengabaikan. Katanya, musik adalah perpaduan yang asing. Yang namanya harmoni itu bisa datang dari mana saja kalau memang terdengar cocok, warna-warna di matanya seringkali membuktikan. Kei tidak protes soal itu, tidak juga berkata kalau ia tidak mengerti bagaimana dunia Shouyou sebenarnya.

"Menurutmu, Kei, apa kita bisa bermain piano dan beatbox?"

"Tanyakan saja pada Cosmin Cioca."


Hinata Shouyou itu terkadang bandel juga, ya.

Kei tidak pernah menghitung dan memang tidak terpikir untuk melakukan selama ia berlatih bersama Shouyou. Ia hanya mengingat minimal dua jam dalam sehari dan setiap harinya adalah musik, setiap harinya adalah sonata dan setiap harinya Shouyou, Shouyou, yang Kei sendiri tidak sadar kapan terakhir kalinya ia berpikir kalau suara Shouyou itu menjengkelkan dan membuat kepalanya pening. Setiap harinya tidak lebih dari alat untuk nilai di mata kuliah yang akan diujiankan oleh dosennya nanti.

Jadi, ketika Kei sadar bahwa absennya Shouyou dari latihan akhir-akhir ini tidak lain dan bukan sebagai pembolosan, kesabarannya tak lagi bisa ditahan. Dua atau tiga kali ia dapat menolerir, tapi dua pertemuan selama tujuh hari yang ada, jangan harap telinganya mau mendengar alasan.

.

"Oh, Tsukishima-san,"

"Sho—Hinata ada di sini?"

"Hinata? Wah, sayang sekali. Baru saja dia keluar kelas sambil lari. Katanya buru-buru."

"Tch."

"Ya?"

"Bukan apa-apa, terima kasih."

.

"Shouyou? Dia kabur lagi?"

"... kabur?"

"Oh! Tidak, lupakan saja!"

"Lev."

"Itu, aduh, tanyakan saja pada Kenma-saaaaan!"

"Hei! Jangan lari!"

.

"Kau partner ujian Shouyou itu... siapa namamu?"

"Tsukishima Kei."

"Ah, yah, Tsukishima,"

"Jadi, Kozume-san tahu dia di mana?"

"Jangan dicari, dia pasti datang dengan sendirinya."

"... hah?"


Koushi-san yang memintanya datang dan Kei tidak tahu kalau orang sabar seperti Koushi bisa tahan berteman dengan manusia seperti Oikawa Tooru. Dari penjelasan yang Tetsuro berikan mengenai pemuda jenius sebagai konduktor orkestra itu, sedikitnya Kei bisa menebak kalau Oikawa Tooru tipikal mahasiswa populer di kalangan siapa saja tapi juga membawa aura menyebalkan bagi orang-orang tertentu.

Seperti dirinya sendiri, misal. Sepuluh detik menanti setelah ia membunyikan bel interkom apartemen dan Tooru yang membukakan pintu untuknya. Dan cara dari bagaimana pemuda itu tersenyum dengan gayanya yang khas termasuk nada bicara ya-hoo sebagai ucapan salam, entahlah, bukannya tidak suka tapi Kei merasa orang ini memang menyebalkan.

"Datang juga," Koushi muncul beberapa detik kemudian, menggeser Tooru ke samping dan tersenyum lebar menyambut Kei. "Maaf ya, Kei. Kau jadi harus ke sini, aku yang perlu tapi kau yang direpotkan,"

"Tidak apa-apa, Koushi-san." Buku tipis partitur dikeluarkan dari tas, terulur di depan Koushi dan pemuda abu itu meraihnya dengan ringan. "Maaf mengganggu latihanmu juga, aku tidak sadar buku kita tertukar kemarin."

Koushi mengibaskan tangan. "Santai saja, aku juga tidak sadar.''

"Wah, wah, lihat bagaimana cerobohnya Kou-chan."

"Diam, Tooru," Koushi menyikut perutnya, Kei paham bagaimana sakitnya ketika Tooru meringis kecil. "Tidak kesulitan mencari tempat ini, kan?"

"Tidak juga, jaraknya lumayan dekat dengan kampus."

Stok senyum Koushi-san itu memang selalu penuh, pikir Kei. "Oke, terima kasih, Kei—"

Tepat pada saat itu, atensi mereka bertiga mendadak pecah begitu mendengar kegaduhan kecil seperti buk buk buk yang dilanjut dengan krincing kunci dan klek halus sebelum kemudian pintu di samping apartemen Tooru terbuka dengan sedikit debuman yang keras. Kei perlu memontum sejenak untuk menyadari bahwa pemuda kecil oranye yang keluar secara mendadak dan berdiri mematung di hadapannya itu adalah Shouyou. Menatapnya dengan mata melebar juga ekspresi terkejut yang akan selalu Kei ingat sampai kapan pun, mimik layaknya orang ketahuan berbuat curang.

Secepat Kei sadar apa yang tengah terjadi, secepat itu pula Shouyou memekik tertahan, mundur dengan gesit sampai suara pintu dibanting terdengar keras dan sosoknya lenyap tanpa kedipan.

"Koushi-san,"

"Ya?"

"Seharusnya kau bilang kalau dia tinggal di sini."

Cengiran Koushi muncul. "Tapi kau tidak bertanya, Kei."


Ting tong ting tong ting tong ting tong ting ting ting

"Buka pintunya, Shouyou."

"Pergi! Kau seperti stalker saja!"

"Hah! Kebetulan saja aku pergi menemui Koushi-san dan baru tahu kau juga ada di sini. Sekarang, buka."

"Dasar tidak tahu diri! Sudah tamu tidak diundang, maksa lagi, stalker!"

"Kau, dasar bocah—" Ya Tuhan, ia bisa gila.

"Serius, Kei, kalau kau sampai masuk, kau akan menyesal,"

"Terserah. Biarkan aku masuk dan coba dengarkan alasan-alasanmu yang tidak masuk akal itu,"

"Hei, ini serius! Kau ini bagaimana, sih,"

"Oh, ya? Kalau begitu kenapa tidak dibuka,"

"Kau akan sangat sangat menyesal, arrgh!"

Sebenarnya, kalau Kei ingin berterus terang, ia bukanlah tipikal orang yang akan melakukan segala sesuatunya tanpa berpikir dahulu. Akiteru pernah bilang adiknya itu memang manusia kaku, terkadang serius di satu sisi tapi tidak serius juga pada saat bersamaan. Kei cenderung bersikap pesimis di saat-saat tertentu, dilakukan secara sadar atau tidak sadar. Orang-orang di sekitarnya bisa saja enggan mengeluarkan protes tapi jika suatu saat nanti ia bertemu dengan tipe seperti mereka, hal yang pertama kali dilakukannya adalah berkelit sebisa mungkin.

Suatu hari, bisa saja Kei tidak memilih piano sebagai jalan hidupnya. Suatu hari, ia lebih memilih keputusan sang ayah dan Kei rasa itu cukup. Namun teman semasa kecilnya, Tadashi, memberinya protes dan berkata kalau zona nyaman bukanlah sesuatu yang harusnya ia pilih. Kei tidak pernah merasa ia senang berdiri terlalu lama di zona nyaman, tapi perspektif sekitarnya kerap kali berbeda. Karena itu, ia menjadi seorang Tsukishima Kei yang sekarang.

Akan tetapi, klisenya realita itu suka sekali memberi Kei kejutan-kejutan kecil. Terdengar sepele, tapi tetap saja meninggalkan kesan yang tidak terduga. Ia sudah menempatkan bermain piano bersama Hinata Shouyou saat ujian nanti pada urutan pertama, itu mengejutkan baginya. Dan begitu tahu bagaimana dunia Shouyou berbeda dengan dunia orang kebanyakan, kejutan-kejutan kecil itu dipupuknya tanpa sadar. Naluri hati Kei boleh saja beranggapan bahwa mengenal Shouyou adalah suatu keunikan tersendiri yang belum pernah ia temukan. Bertemu dengan Shouyou dan mengenalnya adalah kebetulan, tetapi kejutan-kejutan kecil itu tidak berhenti sampai di sana.

Mungkin, seperti sekarang ini, contohnya. Yang katanya dia sudah berbaik hati mau mengundang Kei untuk berkunjung meskipun Shouyou melarang keras untuk tidak masuk ke apartemennya.

.

"... yang benar saja,"

Shouyou menepuk kening. "Sudah aku peringatkan dari awal."


tbc


a/n lagi : soal beatbox, saya dapetnya dari sini :

fur elise : watch?v=HoiMgC0uG8Y

cosmin cioca : watch?v=rGbfD4e2wRo

piano : watch?v=Ur6DMMFnGIw

selamat mendengarkan :D