Haikyuu (c) Furudate Haruichi

Nodame Cantabile (c) Tomoko Ninomiya

Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil apa pun atas pembuatan fanfiksi ini.

[a/n : terima kasih buat hanazawa kay (terjawab di chapter ini ya, ehehehe) Ushijima Rio (udah update ya /o/) Nairel Raslain (aaaaaaa, lagi-lagi saya speechless huehuehue. Makasih buat perbaikannya, soal gondrong dan 'terima kasih'. Makasih juga soal tanda baca ya, ke depannya saya bakal mencoba lebih teliti :D udah jadi kebiasaan jadinya suka lupa, ehehe) dan SakiRika (awww, makasih yaa XD) untuk reviewnya yaa~ selamat membaca :))


"Toska"


[4/7]

.

BUANG bungkusan itu, masukan semua bekas-bekasnya ke trashbag dan jangan disisakan, simpan sikat gigimu dengan benar dan apa ini astaga, Shouyou! Panci berisi karak hitam ini kau sebut dengan cream stew? Celana, celana dalammu berjamur! Dan kau menyimpannya di atas piano, dasar jorok. Kamar macam apa ini, hah!

"Jangaaaan, jangan buang kardusnya, Keiii!" Shouyou melompat, spontan merebut kardus besar dari kedua tangan Kei yang diambilnya dari pojok ruangan. Isinya berhamburan acak; komik, potongan-potongan puzzle piano, bahkan beberapa lembar kertas partitur yang sudah robek di sisinya.

"Kalau memang tidak butuh jangan disimpan terus, dasar bodoh," Kei nyaris terjungkal, bantal gudetama menghalangi langkahnya dan refleks ia tendang. Kardus lain diraih, kali ini yakin isinya tidak penting semua atau mungkin layak disumbangkan. Ia merasakan kumpulan jaring laba-laba bermain di sela-sela jarinya dan Kei meringis jijik. Kenapa, ya Tuhan.

"Itu juga jangaaan!"

"Cuma majalah juga!"

"Tapi itu kumpulan majalahku, pokoknya jangaaan."

Kalau Kei menghitung, perlu sekiranya tiga trashbag ukuran jumbo, lima kardus besar, bahkan beberapa bungkus sabun pencuci piring yang sengaja ia pinjam dari apartemen Tooru (dan diberi tatapan heran dari Koushi, terserah) untuk membersihkan sampah-sampah di rumah Shouyou. Argh, kamarnya benar-benar bau! Shouyou bahkan tidak punya pewangi ruangan sendiri. Pemuda oranye itu memang aneh atau bagaimana?

Trashbag-trashbag itu mengembung besar, kumpulan dari barang plastik atau bekas wadah makan cepat saji sampai gelas mie yang sudah berlendir karena terlalu lama dibiarkan. Shouyou masih memperingatkan Kei soal harus hati-hati saat memilih mana benda yang harus dibuang dan mana yang disimpan, merengek jangan sampai barang-barang berharga seperti syal pemberian adik perempuannya, atau phone strap berbagai alat musik klasik hadiah dari Kenma pada saat ulang tahunnya, atau juga miniatur bola voli pemberian Tobio teman semasa SMA; ikut bersama sampah lainnya lalu terbuang tanpa sadar. Semua itu membuat kepala Kei berdenyut sakit setiap kali Shouyou muncul di sisinya dan berteriak kalau ia nyaris membuang kotak musik berbentuk gudetama. Waktu itu Tooru-san baru saja pulang dari Miyagi dan memberikannya padaku, jelas Shouyou padahal Kei tidak meminta, astaga.

Kei tidak lagi mempermasalahkan soal kenapa ia harus melakukan ini, apa yang sebenarnya ia lakukan, dan atas alasan apa tubuhnya tiba-tiba bergerak ketika mendapati apartemen Shouyou. Kei tidak pernah mencap dirinya sebagai orang yang fanatik terhadap kebersihan, tapi ia yakin siapa pun akan bergerak spontan kalau melihat keadaan apartemen yang seperti kapal—tidak, bahkan lebih buruk dari kapal pecah! Tiga jam dihabiskan hanya untuk membuat ruang tengah, dapur, dan beberapa sekat yang dipenuhi dengan kertas partitur kembali layak untuk dipakai. Kamar tidur sengaja tidak dibereskan, kening Kei berkerut ketika Shouyou bilang kalau kamarnya bersih karena jarang digunakan. Namun saat Shouyou membuka pintu, perkataan pemuda itu benar. Yang ada hanyalah ranjang dengan sprei acak dan bantal guling yang tergeletak. Jangan tanya soal meja belajar atau lemari, Kei lelah dan biarkan Shouyou yang mengurus. Lagi pula, untuk apa juga ia berpikir sampai ke sana, geez.

"Wiiih, suara pianonya jadi bagus lagi." Jari-jari shouyou bermain acak, dari nada rendah ke nada tinggi, melatunkan pertengahan Canon in D dengan lancar lalu tertawa renyah. Ia melompat ke tengah ruang apartemen, menghirup bau salonpas yang sengaja ia semprotkan (karena hanya ada itu dibanding pewangi ruangan) sebelum kemudian menghempaskan diri di sofa empuk berwarna biru pastel. "Kei memang hebat, deh."

Alih-alih menjawab, Kei mendengus sinis. Tangannya refleks melempar bantal gudetama yang sempat ia tendang ke arah Shouyou, telak mengenai wajahnya sampai terdengar gerutuan tidak jelas. Matanya melirik arloji, pukul setengah tujuh yang itu berarti, jam makan malam sudah lewat dan Kei hampir melupakan suara perutnya.

"Kei, mau ke mana?" tanya Shouyou begitu partner tingginya itu melenggang pergi ke arah ruangan lain.

"Masak."

Sorot mata Shouyou berbinar. "Kebetulan sekali—"

"Latihan sana. Kalau aku selesai dan setengah partitur kau masih tidak bisa, tidak ada jatah makanan."

"Heeee ..."

"Jadi, coba keluarkan alasan-alasan yang tidak masuk akal itu."

Shouyou mengerjap, katsu di antara sumpitnya menggantung di depan mulut dan belum sempat ia lahap. "Aku harus beralasan karena apa?"

"Bolos, tidak datang latihan tanpa kabar, ketahuan kabur saat aku bertanya pada Lev."

Tak, satu sumpit jatuh dan katsunya mengikuti. Shouyou berdeham kecil, menyisikan katsunya kembali ke atas piring lalu meraih gelas berisi air mineral sebelum menegaknya habis. Ia merasa kering padahal tenggorokannya baik-baik saja sejak pagi. Dibandingkan dengan mata madunya, Shouyou lebih suka mengamati kacamata Kei dan berharap segera melorot sehingga pemuda pirang itu tidak memberikan tatapan tajam.

"Well, yah," ia kembali berdeham, "aku latihan, ya, latihan. Maksudku, di sini, bukan denganmu,"

Sebelah alis Kei terangkat. "Lalu?"

Pipi bagian dalam digigit gugup. "Ini akan terdengar memalukan," gumamnya pelan.

"Aku dengar itu."

"Sulit menjelaskannya, Kei. Tapi, waktu bolos itu aku habiskan dengan latihan ... sendiri? Ehe."

Kei menatapnya, lama. Shouyou mendapati dirinya tidak suka dengan tatapan Kei berikan, namun matanya tidak bergerak ke mana pun selain iris madu di balik lensa kacamata itu. Binar penuh tanda tanya itu, dan kerutan di kening yang hilang perlahan-lahan.

"Oke," sahut Kei kalem, kembali fokus pada mangkuk nasi di tangannya, "lain kali beri kabar yang jelas."

Tiga detik, Shouyou mengerjapkan mata; sekali, dua kali, lalu, "... sudah?"

"Apanya yang sudah?"

"Maksudku, begitu saja?"

"Bisa tidak bicara yang jelas, kau ini bertanya atau bagaimana?"

"Err... kau seperti tidak mengira kalau aku bohong."

"Memang tidak."

"Kenapa?"

"Apa itu harus? Saat kau berkata jujur, apa aku harus mencari tahu kalau kau bohong?"

"Yah, tidak juga, sih," Shouyou menggaruk kepala, "tapi, umumnya orang akan memastikan kau sedang berbohong atau tidak, bukan? Bisa saja itu cuma alasan yang dibuat-buat. Atau seperti yang kau bilang tadi, alasan yang tidak masuk akal."

"Jadi alasanmu memang tidak masuk akal, ya."

"Bukaaaan, maksudku—ah, sudahlah! Lupakan saja." Katsu terakhir dilahapnya dengan terburu-buru, cukup ceroboh sampai ia tersedak dan terbatuk-batuk. Kei berdecak sembari menuangkan air mineral dari teko ke dalam gelas Shouyou yang langsung diraih pemuda oranye itu begitu penuh dan menegaknya sampai batuknya hilang. Dasar bocah, komentar Kei, sudah tahu katsu makanan kering masih saja ditelan tanpa dikunyah.

"Omong-omong, aku tidak tahu kalau kau tetangganya Oikawa-san."

Shouyou mendongak, setelah sumpit diletakkan secara horizontal di atas mangkuk dan mengucapkan gochisousamadeshita, lalu memandang Kei yang tidak menatapnya balik. Dia tampak sibuk menumpuk mangkuk dan piring, sebelum kemudian menghabiskan tetes terakhir di gelasnya dan melakukan hal yang sama seperti Shouyou.

"Kau tidak bertanya," balas Shouyou, ia melihat Kei mengernyit tapi dibiarkan. Beberapa detik setelahnya, Shouyou bertanya heran. "Kenapa memang, kalau aku tetangganya Tooru-san?"

Hening itu muncul tanpa permisi, Shouyou bertanya-tanya apakah ia baru saja mengatakan sesuatu yang salah sehingga kening Kei berkerut lebih dalam. Kalau Kei bingung soal panggilan tanpa marga, Tooru-san sendiri yang membolehkan Shouyou memanggilnya seperti itu begitu pula sebaliknya. Shouyou mengenal Tooru sejak awal masuk perkuliahan dan hubungan mereka bisa dikatakan dekat, sedekat bagaimana ia dan Koushi-san. Tapi rasanya aneh juga kalau Kei sampai bingung. Maksudnya, Kei itu pintar. Dia tidak perlu penjelasan lebih ketika mendengar Shouyou memanggil Oikawa Tooru tanpa marga.

Kalau begitu, mungkin ...

"Kau kagum pada Tooru-san, ya?"

Bola mata Kei melebar, sekilas memang, tapi Shouyou menangkapnya lebih cepat.

"Aku benar kan, aku benar kaaaan?"

Decakan gusar. "Semua orang di kampus mungkin mengagumi Oikawa-san, tapi aku tidak termasuk di dalamnya."

"Hee... terus apa? Kau tidak mungkin bicara seperti itu tanpa alasan," Shouyou menjulurkan satu kaki, sengaja membiarkan jari jempolnya mengenai lutut Kei sampai lawan bicaranya kembali berdecak. "Tapi kalau tidak mau mengaku juga tidak apa-apa."

"Tidak ada yang harus aku akui."

"Begitu?"

"Tch," sorot mata Kei sinis, tapi Shouyou janggal karenanya. Entah kenapa. "Dibandingkan dengan orangnya, aku lebih mengagumi profesi yang diambilnya." Lagi-lagi jeda, kali ini lebih canggung dan Shouyou rasa Kei mulai bertingkah kikuk karena ucapannya sendiri. "Itu juga kalau aku memang ingin mengaguminya."

"Profesi?" Sepasang alis Shouyou bertaut. "Maksudmu, konduktor orkestra? Oh, Kei! Kau pintar bermain piano kenapa tiba-tiba kagum pada ko—"

Tepat sebelum ucapannya tuntas, Shouyou berhenti. Tobio pernah memperingatinya soal ia yang suka bercerocos panjang lebar tanpa mengenal suasana sekitar dan berpikir dahulu apakah topik pembicaraannnya mengandung sisi yang sensitif bagi lawan bicara atau tidak. Membuat orang lain tersinggung atau tidak. Dan Shouyou seringkali lupa akan hal itu.

Sejak tahun pertamanya sebagai koukousei, ia tak pernah peduli lagi tentang komentar-komentar siswa usil yang kerap kali mengatainya tidak waras. Yang kebanyakan dari mereka tidak benar-benar memahami kondisinya meski tidak separah di sekolah menengah pertama. Teman-teman dekatnya baik, Tobio orang pertama yang menganggapnya waras, dan Shouyou mulai terbiasa akan hal itu. Namun efek yang diberikan, ia jadi sulit peduli terhadap hal-hal kecil di sekitarnya. Seperti ia terbiasa dengan ejekan soal warna-warna itu dan tanpa sadar melakukan hal yang sama terhadap keadaan seseorang yang menurutnya biasa saja, tetapi memiliki kesan yang kuat bagi yang merasakan. Shouyou bukan orang dengan kata-kata bermakna tajam, tetapi tanpa sadar ia pernah melakukannya.

Dan mungkin, ia melakukannya lagi terhadap Tsukishima Kei.

"Sejak awal, aku tidak tertarik pada piano."

Shouyou menggigit bibir, kalimat 'maaf aku tidak bermaksud' batal ia ucapkan ketika Kei mencuri start lebih dulu. Kemudian, ia mengubahnya dalam kepala. "Jadi... kau lebih tertarik menjadi konduktor orkestra?"

Bahu Kei berkedik. "Bisa dibilang," ujarnya, "tapi segala sesuatunya tidak selalu berjalan sesuai keinginan, Shouyou."

"Kenapa? Bukankah setiap orang punya pilihan?"

Kei tertegun, lalu mendesah pelan. "Tidak semua orang," tukasnya, kelewat datar. "Dan mendengarnya langsung darimu membuatku kesal saja."

"Maaf!" Dua telapak tangan bersatu, suaranya plok yang keras dan nyaris menyentuh ujung hidung. "Aku tidak akan akan bertanya lagi." Kei mengibaskan tangan di depan wajah Shouyou sambil berkata itu bukan masalah besar dan berhenti bersikap seperti itu, kau malah kelihatan lebih menyebalkan. Shouyou membalasnya dengan pernyataan mengenai warna permainan Kei yang aneh dan begitu Tsukishima bungsu itu meliriknya, ia buru-buru menunduk karena kembali berkata yang tidak-tidak.

"Aku selalu penasaran soal itu, warna seperti apa yang kau lihat, sih?"

"Eh?" Kepala Shouyou terangkat. "Ng, aku bingung menjelaskannya."

"Jelaskan saja sebisamu,"

"Yah, warna-warna itu selalu terlihat berbeda di setiap orang, tapi juga bisa sama. Beberapa di antaranya memiliki keterkaitan denganku." Tidak ada bantahan atau pertanyaan, tapi dari cara bagaimana kening Kei berkerut tipis, pemuda itu masih perlu penjelasan. "Misal seperti aku pernah melihat warna toska saat Yachi-san bermain biola, itu menunjukkan kalau..." Pipinya terasa panas. "... kalau aku menyukainya, dulu, begitulah."

"Pfft."

"Jangan tertawa!" Bantal gudetama dilempar telak, Kei menangkapnya gesit. "Itu cuma perasaan bocah. Yachi-san itu temanku waktu sekolah dasar,"

"Apa-apaan, masih bocah ingusan juga sudah berani bermain cinta."

"Apasih! Aku juga baru kenal perasaan seperti itu saat SMP. Dan baru sadar kalau warnanya berubah begitu kami sekolah di SMA yang sama," tengkuk digaruknya dengan gugup, lantas menenggelamkan wajah di antara lutut yang tertekuk. "Well, sebelum orientasi seksualku berubah, sih."

"Kalau tidak mau bilang jangan mengaku," Kei memberinya tendangan balik di bawah meja, cukup satu injakan sampai Shouyou menjerit ngilu. "Tidak apa-apa, kita sama. Jangan malu seperti itu."

"Kau menyebalkan juga, Tsukishima-kun."

"Baru sadar?"

"Sebenarnya, sudah lama. Tapi pura-pura tidak sadar—aduh! Itu sakit, lepaskan!" Jeritan kembali bergema ketika Kei menarik pipi kanan Shouyou. Bertahan sampai lima detik dan meninggalkan ruam merah yang kentara.

"Kau ini kalau bicara tidak pernah dipikir dulu."

"Iya, iya, maaf," sunggut Shouyou, "omong-omong, tahu tidak ..." Shouyou beringsut pelan sembari mencondongkan tubuh, "aku tidak pernah bilang ini sebelumnya pada siapa pun, bahkan Kenma dan Lev. Tapi berbagi sedikit tidak masalah, kan?"

Kei mendengus geli. "Oke. Terus?"

"Dulu, aku takut balon."

Jeda sejenak, lalu, "... hah?"

Pemuda oranye di depannya kembali menarik diri, meletakkan jari telunjuk di depan bibir, dan berbisik. "Rahasia."

"Kepalamu terbentur atau bagaimana—aw! Jangan menendang sembarangan!"

"Dasar tidak tahu terima kasih, padahal aku sudah berbaik hati mau berbagi rahasia," tandas Shouyou jengah. Kei bertanya ketus siapa juga yang mau mendengar rahasia anehmu itu dan dibalas dengan, "Kenapa tidak? Kau tadi sudah bicara soal konduktor orkestra. Aku rasa itu sesuatu yang tidak bisa diceritakan begitu saja, Kei."

Ketika Kei membelalak dan menatapnya lama, Shouyou tahu ia benar lalu mengulas cengiran andalannya.

'Aku rasa itu sesuatu yang tidak bisa diceritakan begitu saja, Kei.'

Nyatanya, pernyataan Shouyou memang benar.

Kei tidak pernah merasa bercerita hal yang sama kepada Tetsurou, Koushi-san tidak pernah tahu bagaimana jalan pikirannya, bahkan Tadashi yang membuatnya kembali pada musik pun tidak akan pernah menduga. Akiteru sudah pasti tahu, kakaknya cerdas kalau sudah menebak isi hati adiknya dan meskipun terkadang Kei tidak suka dengan kenyataan itu, ia tetap berterima kasih karena Akiteru paling mengerti mengenai keinginannya.

Shouyou adalah orang pertama yang ia beri tahu dari segelintir teritori hidupnya, Kei berusaha bertanya-tanya mengapa ia bisa bercerita dengan begitu lugasnya tanpa terbebani, dan berakhir dengan kenihilan. Rahasia itu (Shouyou kukuh menyebutnya rahasia) mungkin tidak akan sebanding dengan ketakutan Shouyou terhadap balon yang sama sekali tidak jelas alasannya tetapi Kei tidak merasa menyesal. Di dunia ini, terdapat beberapa kemungkinan yang tidak bisa dijelaskan dengan teori. Seperti bertemu dengan Hinata Shouyou, misal, Kei mengesampingkan kebetulan dan randoman Ukai-sensei sebagai titik awal pertemuan mereka. Dunia yang dilihat Shouyou pun juga sama, di buku-buku ia mendapat pengertian-pengertian secara lengkap, tapi tidak benar-benar memahami bagaimana synesthesia itu. Bagaimana warna-warna yang dilihat Shouyou, apa yang membuatnya pas dengan musik, dan di antara milyaran manusia yang ada, kenapa harus Hinata Shouyou yang memiliki kondisi spesial. Kei berhenti bertanya terhadap pikirannya sendiri begitu nihil yang kembali ia dapatkan.

Angka jam dinding menunjuk pukul sebelas malam. Cukup mengejutkan juga ia bisa menghabiskan waktu selama ini di apartemen orang lain, terlebih ini adalah kali pertama. Mereka menghabiskan waktu setengah jam untuk latihan dan sepuluh menit setelahnya, pemuda oranye itu lebih cepat terlelap di sofa ruang tengah.

"Benar-benar bocah," sahut Kei, monolog. Diam-diam meletakkan bantal gudetama di bawah kepala Shouyou. Ia berjalan sebentar ke arah piano, meraih kertas partitur milik Shouyou, kemudian mengambil posisi duduk di bawah sofa. Sengaja menempati bagian tengah karena ia tidak ingin mendengar suara dengkuran atau sedikitnya kena tendangan kaki, well, terima kasih.

Kertas partitur itu penuh dengan coretan, warna-warni dan acak. Biru, kuning, bahkan hijau atau merah lebih sering terlihat. Meski ungu atau turkois juga oranye dicoretkan pada bagian tertentu.

Untuk itu, Kei percaya bolosnya Shouyou dari latihan karena pemuda kecil itu memang melakukannya sendiri. Ia tahu sebelum Shouyou berbicara dan menemukan kertas partiturnya saat bersih-bersih siang tadi, terletak tidak jauh dari papan jadwal mata kuliah yang sama-sama dihiasi dengan warna. Kei mengerti hijau di mata Shouyou adalah rabu, hitam itu untuk senin, bahkan oranye di hari Sabtu. Shouyou tidak pernah menuliskan abjad untuk kata-kata tertentu, tapi ia paham semua itu memiliki makna yang sama seperti pada umumnya.

"Keii... nada itu... terlalu tinggi."

Gerakan singkat terjadi, tangan Shouyou bermain di kepala pirangnya dan sedikit memberi tarikan sebelum tubuh pendek itu berbalik dan nyaris melayangkan tendangan di sisi kiri kepala Kei. Decakan keluar, tapi sengaja Kei biarkan sembari meletakkan kertas-kertas di atas meja. Kemudian ia melepas kacamata, menyimpannya tepat di atas partitur lantas meluruskan kedua kaki. Kedua lengannya bersilang di depan dada, beruntung begitu pinggiran sofa dan paha Shouyou muat dijadikan bantal.

Kei tahu malam semakin larut tapi tubuhnya terlalu lelah.

tbc