Haikyuu (c) Furudate Haruichi

Nodame Cantabile (c) Tomoko Ninomiya

Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil apa pun atas pembuatan fanfiksi ini.

.

[a/n : ternyata saya salah perhitungan dan jadinya malah nambah sampai 7 chapter, maafkan :"D dan terima kasih buat hanazawa kay (err, mungkin? X'D semoga saya bisa bikinnya, huehue) bunga (ya ampun, maaf kayaknya saya yang salah, makasih ya :"D) Nanaho Haruka (sama-sama. Duh, saya buat kesalahan, jadinya nambah 3 chap 8'D) Ushijima Rio (udah dilanjut~) Nairel Raslain (udah dijawab ya, ehehe) untuk reviewnya yaa~ selamat membaca :))


"Toska"


[5/7]

.

ADA tanda merah yang sengaja Shouyou lingkari pada kalender buatan di jurnal kecilnya dan kalimat singkat seperti 'hari pengeksekusian, tidur yang cukup kalau tidak mau ketahuan Kenma atau dimarahi Koushi-san' yang sempat Lev tertawakan lalu bertanya apakah hari ujian memang semenakutkan itu baginya. Kalau ia seorang diri, mungkin akan jadi lain soal. Shouyou terbiasa melakukan ujian-ujian seperti itu ketika ia memutuskan untuk menekuni musik. Rasa tegang dan gugup sering ia rasakan, tapi Shouyou bisa melewatinya.

Kini, masalah utamanya terletak pada Tsukishima Kei. Shouyou bukan tipe orang yang selalu mengutamakan nilai tetapi tidak sembarang juga menggesernya dari posisi utama. Karena itu, ketika ia berpikir bahwa bermain piano seperti biasanya, seperti dirinya sendiri atau memang tipikalnya sekali ia lakukan saat ujian nanti, Shouyou tidak khawatir. Menyandang gelar lulus saja Shouyou rasa sudah cukup. Ia bermain karena insting, bukan teori. Dan ketika pribadi Kei mengatakan sebaliknya, Shouyou kewalahan.

"Masih sama, tidak ada peningkatan. Bagian awal sampai pertengahan bisa dikatakan berhasil, tapi bagian akhir, kau terlalu sering mengubah ketukannya."

"Oh, ayolah!" Shouyou memijat kening, pening tiba-tiba menjalar. Kelas piano yang ia tempati bersama Kei kosong, tetapi telinganya terlalu peka dan selalu berhasil menangkap bising dari luar. Jejak langkah, suara tawa, teriakan memanggil seseorang, bahkan debuman tas yang terjatuh. Ditambah lagi, omelan pedas Tsukishima Kei.

"Kau sengaja melingkari tanggal di jurnalmu ini tapi progres tetap jalan di tempat,"

"Yah, yah, siapa bilang kau boleh baca jurnalku,"

"Siapa suruh kau simpan sembarangan," balas Kei ketus, menarik napas sepanjang mungkin. "Pantas saja permainanmu acak-acakan, menaruh barang saja tidak tahu tempat."

"Itu tidak ada hubungannya."

"Karena itu memang sifatmu. Kau tidak pernah bermain sesuai—"

"Aturan, oh yah, aturan!" potong Shouyou, tidak mengerti dari mana datangnya suara keras itu dan seakan tidak peduli begitu Kei meliriknya dengan terkejut. "Kau itu ya, Tsukishima-san, bisanya cuma mengomentari dan memaksa keadaan sesuai keinginanmu sendiri, cih!"

Kei mengernyit, nadanya masih bisa terkontrol. "Aku seperti itu karena sesuatu yang sedang kita hadapi ini penting, Hinata-san. Kalau kau bisa kooperatif dari awal, aku tidak perlu repot-repot melakukan hal semacam ini."

"Kooperatif?" Shouyou berdiri, kesepuluh jemari ia tekan langsung di atas tuts sampai bunyi berat terdengar nyaring. "Jadi selama ini kau tidak pernah menganggapku kooperatif? Sampai aku harus mengubah cara bermainku dan membuat warna-warna itu jadi aneh dan kau masih menyebutnya tidak kooperatif?"

"Kau tahu bukan—"

"Dan coba pikirkan ini baik-baik," napas Shouyou berhembus cepat, "aku tidak pernah memintamu untuk melakukan hal semacam ini yang kau sebut repot itu. Kuulangi, tidak pernah sama sekali, Kei. Semua itu hanya keinginanmu sendiri!"

Pemuda pirang di depannya berdecak keras. Shouyou melihat pupil mata Kei mulai mengecil. "Itu karena permainanmu yang egois, Shouyou. Kau terlalu melihat dirimu sendiri dan lupa dengan sekitarmu! Setiap hari bicara soal warna dan warna, seolah kau memaksa mereka mengerti dengan kondisimu sendiri tapi kau tidak pernah melakukannya!" Ia berhenti untuk memejamkan mata, mencoba mengontrol kembali emosinya, sebelum kemudian berkata. "Pada akhirnya, kau hanya bergantung dengan kondisimu sendiri."

Itu, sederet kalimat yang seharusnya tidak boleh Kei ucapkan.

Shouyou mematung, sekilas, ia bisa melihat bagaimana Kei membeliak dan terlambat untuk menarik kata-katanya kembali. Sesuatu menohok ulu hatinya, besar, jauh di dalam sana dan Shouyou rasa Kei memahaminya dengan baik. Titik limitnya sudah di ambang batas. Shouyou merasa sesak dan ia berhenti peduli. Ia menolak untuk peduli.

"Aku—argh, terserah!" Tendangan di sisi kanan kursi. Shouyou beringsut cepat, mengumpulkan barang-barang seperti jurnal, kertas partitur, bahkan ponsel ke dalam ransel dengan terburu-buru bahkan nyaris merobek separuhnya. Kei meneriaki namanya tapi Shouyou sengaja tuli. Langkah kaki kecilnya begitu lebar, menarik sisa waktu yang ada sampai kenop pintu kelas berhasil diraih, membukanya dalam sekali sentakan cepat, dan membantingnya hingga suara bam yang begitu keras menggema di sepenjuru ruangan.

Kenma menyapanya pertama kali, kebetulan lewat di lorong yang sama begitu ia keluar namun Shouyou mengabaikan. Mata kucingnya bertanya, raut wajahnya heran, Shouyou merasakan atensi khawatir yang Kenma berikan tapi terserah, ia tidak peduli. Hatinya sakit dan Shouyou pikir ia tidak perlu menyembunyikannya sedalam itu. Hatinya sakit dan Tsukishima Kei yang meninggalkan goresannya di sana. Kei yang bodoh, Kei yang egois, dan Kei yang salah.

Ia juga tidak peduli ketika tiga orang mahasiswa berlari-lari di sepanjang lorong, menyenggol bahunya dan Shouyou nyaris terjungkal, sebelum kesadarannya menerima penuh bahwa salah satu di antara mereka membawa balon besar berwarna putih dan menarik momentum singkat selama tiga detik lalu—bum!

Ledakan kecil, pantulan gema yang menyebar, begitu keras sampai-sampai telinganya berdenging sakit. Shouyou melihat kilasan dalam benaknya, acak juga penuh sesak, dan sebelum impuls otaknya sadar apa yang tengah terjadi, ia sudah meringkuk pada sisi kiri koridor dan berteriak tanpa kendali.


Benak Kei tidak dipenuhi dengan adegan picisan bagaimana ia memutuskan keluar dan menghentikan Shouyou di luar sana, tepat setelah meninggalkan kelas dan ia terseok-seok hanya demi menjelaskan kesalahpahaman pada partner oranyenya itu. Prinsipnya selalu bilang bahwa konflik tidak selalu harus diselesaikan dengan cara yang klise. Setiap orang perlu momentum, setiap orang perlu memahami waktu, Kei perlu mendinginkan kepala seorang diri tanpa harus terburu-buru membuat Shouyou paham akan maksud ucapannya tadi. Ia tidak abai soal intropeksi diri dan berharap Shouyou melakukan hal yang sama.

Itu adalah waktu singkat yang Kei habiskan sebelum kemudian ia mendengar letusan nyaring; tidak keras, tapi tidak juga dikatakan kecil. Selang beberapa detik, Kei mendapati tubuhnya terlonjak dan kaki berlari cepat hingga pintu terbuka lebar dengan bahunya tanpa tedeng aling-aling. Ia menyusuri koridor yang tidak terlalu jauh dan langkahnya mulai melambat begitu kerumunan kecil berkumpul di depan sana.

Yang pertama kali ia temukan adalah Kenma, disusul tiga mahasiswa yang tidak dikenalnya dengan baik (salah satunya pernah Kei lihat saat mata kuliah musik klasik tapi ia melupakannya dengan mudah), dan terakhir Shouyou. Tidak jauh dari tempatnya berpijak, pecahan-pecahan karet balon tersebar berantakan. Salah satunya tidak sengaja Kei injak, kotor, letusan itu berasal dari benda ini dan berhasil menarik konklusi mengejutkan.

Tidak, Kei tidak mengenal Shouyou yang ini.

Ia jelas tidak mengenalnya.

"Shouyou, Shouyou, tenang." Kenma berusaha meraih bahu pemuda kecil itu namun gagal. "Itu hanya balon, kau baik-baik saja, oke. Dengar, Shouyou!"

Kei tidak pernah mendengar Kenma berteriak sekeras itu, sekon di mana ia mengakui bahwa orang datar seperti Kozume Kenma pun, bisa bersikap seperti ini di saat-saat tertentu. Ia tahu masalah akan membesar jadi inisiatifnya spontan meminta tiga orang asing di antara mereka untuk segera pergi. Sedikit ketus, tak apa. Kei perlu sedikit privasi di sini. Karena ia sungguh-sungguh tidak mengenal Hinata Shouyou yang ini.

Teriakan Kenma membuahkan hasil. Shouyou berhenti dan kepala oranyenya mendongak. Kei tidak pernah mengeluarkan interpretasi berlebihan terhadap kondisi apa pun, tapi ia mendapati jantungnya berhenti sesaat begitu bertemu dengan mata bulat Shouyou. Bukan sesuatu yang bagus. Bukan sesuatu yang ia harapkan dari seorang Hinata Shouyou; tubuh sedikit meringkuk, kedua lutut menekuk, dan telapak tangan di sekitar telinga meski mulai terlepas. Binar mata partnernya seakan tidak mengenali Kei, sekilas saja, dan perlahan-lahan rona hidup itu ada. Awalnya bingung, bergulir paham, lalu terkejut sepenuhnya.

Kenma menyentuh bahu pemuda itu. "Shouyou—"

"Aku baik-baik saja!" Kilah Shouyou, gerakannya terbilang cepat ketika berdiri lalu linglung kemudian. Satu lengannya berhasil ditangkap Kei, menjaga keseimbangan Shouyou dan membantunya agar tidak limbung. Shouyou menggumamkan sederet kata terima kasih, aku tidak apa-apa, lantas buru-buru melepaskan sikunya dari cekalan Kei.

"Tapi kau—"

"Aku serius!" Ia kembali menyela. "Yang tadi itu hanya... sesuatu di luar kendali, tidak usah dipikirkan! Aku tidak apa-apa, Kenma."

Kenma adalah tipikal orang observan, ketika Kei mendapati sorot mata pemuda pirang itu menajam dengan caranya sendiri, ia tahu Shouyou tidak sepenuhnya mengatakan kebenaran. Ada dusta yang sempat lewat dan Kenma menyadarinya.

Barangkali efek pertengkaran mereka masih terasa, Shouyou memberi Kei anggukan kecil sebelum berpaling dan sengaja menghindari kontak mata dengannya. Kei tidak suka itu tetapi bibirnya terlalu kelu untuk mengucap protes meski hanya decakan kecil. Kenma mengajaknya untuk pergi ke ruang kesehatan tapi Shouyou menolak. Dia terlalu pintar berkelit dan Kei tahu itu. Ia bahkan lebih dari tahu tanpa perlu benar-benar memastikan apakah perkiraannya meleset atau tidak.

Maaf, tolong lupakan saja yang tadi, ya; pesan Shouyou masihlah sama. Kenma tak lagi bertanya, Kei membiarkan ketika akhirnya Shouyou melambaikan tangan, berbalik, dan berlari di sepanjang koridor sampai ranselnya hilang di tikungan pertama.

Ia sadar Kenma meliriknya tapi fokus Kei telah beralih lebih dulu, entah ke mana.

'Aku tidak pernah bilang ini sebelumnya pada siapa pun, bahkan Kenma dan Lev. Tapi berbagi sedikit tidak masalah, kan?'

'Dulu, aku takut balon.'

'Dasar tidak tahu terima kasih, padahal aku sudah berbaik hati mau berbagi rahasia.'


Malam itu, ponselnya berdering lebih sering dari biasanya. Kei berusaha untuk tidak acuh, sibuk dengan segala hapalan partitur dan kunci-kunci nada, tenggelam di antara not-not balok dan biarkan Beethoven bermain di dalam kepalanya.

Namun, isi pesan-pesan itu tetap mengganggu konsentrasinya dan Kei memutuskan menyerah.

.

Sender : Kozume

Shouyou tidak membalas pesanku

Bukannya apa, tapi aku merasa dia aneh

Aku mengirimmu pesan karena kau lebih bisa diandalkan daripada Lev

.

Sender : Unknown

Megane-chan

Aku rasa ada yang aneh dengan Sho-chan

Dia tidak mau keluar sejak sore tadi dan Kou-chan tidak bisa masuk meskipun sudah berulang kali menekan bel. Padahal kami tahu dia ada di dalam

Kau tahu, Kou-chan sangat khawatir dan aku juga cemas

Jadi bisa kau berbicara dengannya?

Oh, aku Oikawa Tooru omong-omong

Nomormu aku dapat dari ponselnya Kou-chan


tbc