Haikyuu (c) Furudate Haruichi

Nodame Cantabile (c) Tomoko Ninomiya

Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil apa pun atas pembuatan fanfiksi ini.

.

[a/n : yang ini agak telat, maafkan :"D dan terima kasih banyaaaak atas reviewnya buat bunga (waah X'D chapter kemarin itu memang porsinya segitu, ehehe. Semoga yang ini banyak, ya. Dan jangan sebel sama Kei, kasian wkwkwk) KagsRai (wah, takut balon juga? 8"D di chapter ini dijelaskan kok, dan senang kalo fic ini mudah dicerna X'D sankyuu) hanazawa kay (dijelaskan di chapter ini ya~) Nairel Raslain (wkwkwk, bisa jadi saya terlalu semangat X'D selebihnya udah dibalas ya~) Ushijima Rio (kebetulan banget apdetnya sekarang, wkwkwk).

selamat membaca :))


"Toska"


[6/7]

.

"EH, masih belum ketemu juga?"

Lev yang bertanya, siang itu, kebetulan kecil saat Kei bertemu di kafetaria kampus dan ia sengaja mengambil tempat duduk di samping pemuda setengah Rusia itu. Ia mengesampingkan Koushi-san dan Tooru, juga Kenma, untuk bertanya hal mengenai—sedikit—masalah yang sedang dihadapinya. Namun beberapa detik setelah ia menyamankan posisi, Lev sudah lebih dulu menebaknya dengan telak.

"Shouyou, kan?" lanjut Lev tanpa diminta, pipinya terlihat mengembung seperti tupai. Kei menegur untuk memilih makan atau bicara dan Lev langsung menelannya tanpa kesusahan. "Kasihan sekali, ya, kau ini. Tapi Shouyou itu memang hebat kalau soal kabur, seperti monyet. Terlambat sedikit saja dia langsung menghilang, entah ke mana."

Kei berdecak kecil. "Juga?" katanya, "apa maksudmu dengan juga?"

Lev meliriknya, lalu mengedikkan bahu. "Yah, aku kira kau masih belum bertemu Shouyou dari waktu itu."

"Itu sudah lama,"

"Lalu sekarang bertengkar?"

"Kau—" Kening Kei berkerut dalam. "Shouyou cerita?"

"Bukan, Kenma-san yang bilang." Kaleng soda yang sebelumnya tidak tersentuh ia buka sampai suara krek halus berbunyi. Lev menahannya di depan bibir dan berkata. "Tapi Kenma-san sendiri juga ragu. Dia tidak tahu apa kau dan Shouyou benar-benar bertengkar. Kebetulan saja waktu itu Kenma-san ada di sana dan Shouyou keluar kelas dengan wajah cemberut. Duh, kalian ini, seperti pasangan saja."

Kei mengesampingkan adegan konyol seperti menyenggol pantat kaleng dengan keras sampai isinya tumpah atau Lev menelannya terlalu banyak dalam satu tegukan atau membiarkan pemuda jangkung itu menyemburkan sodanya karena gerakan mendadak yang ia lakukan. Biasanya ia sensitif soal sesuatu yang berbau tidak penting seperti yang Lev katakan tadi. Tetapi karena akhir-akhir ini mood-nya tidak menentu dan Kei berhenti berpikir hal yang macam-macam selain nilai ujiannya nanti, ia membiarkan.

"Sebenarnya apa sih yang kalian ributkan?" tanya Lev, memecah jeda yang sebelumnya mampir. "Aku mengenal Shouyou seperti kakakku sendiri. Dan dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, aneh."

"Hanya masalah kecil, bukan urusanmu."

"Oke, kalau Tsukki tidak mau tahu sekarang dia ada di mana juga tidak apa-apa. Aku tidak memaksa." bibir Lev maju ke depan, terlihat seperti paruh bayi burung.

"Jangan cari masalah, Lev."

"Apa sih, kau sendiri yang cari masalah dengan Shouyou,"

"Lev,"

"Dan Shouyou itu kalau memang tidak mau cerita tidak akan cerita. Dia itu kadang menyebalkan."

"Lev,"

"Padahal aku kan tidak bodoh untuk—"

"Lev."

"Cih," Lev mengerang keras, "gedung teater lama belakang perpustakaan, cepat pergi sana."

Kei lekas berdiri. "Trims."


"Ah."

Salah sendiri juga, kalau Shouyou merasa tidak ada yang bisa disalahkan selain dirinya sendiri. Ibunya selalu bilang bahwa menghindar itu bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Barangkali ia bisa terbebas, tapi tidak akan bertahan lama dan kerap kali mendatangkan masalah lainnya. Ia menghitung hari dan berhenti di angka empat sejak pertengkaran kecilnya dengan Kei (juga tidak jelas, dan malah seperti drama queen, kalau kata Tooru) dan berpikir kalau ia terlalu kekanak-kanakkan. Tapi bukan itu sepenuhnya yang selama ini ia lakukan, sungguh. Kalau pun Kei memang ingin mendengar alasannya.

"Sibuk sekali ya, Hinata-san itu, sampai lupa latihan dan kabur seenaknya."

Nah, nah, ini dia Saltyshima-san di depannya, berdiri di ambang pintu dan cukup membuat Shouyou berteriak ketika ia menemukan Kei di sana. Shouyou berdeham kecil, menggaruk tengkuk, lalu berjalan maju yang sesaat setelahnya kaki Kei terulur cepat, gesit juga mengejutkan. Sol sepatu menempel di ujung sisi pintu lainnya dan akses jalan terhalang. Tch, lihat kedua lengan bersilang di depan dada dan kaki panjang itu. Sampai-sampai lututnya tertekuk dan nyaris mengenai perut Shouyou. Mau pamer, ceritanya.

"Err, kita bicara di luar?"

"Tidak, di sini saja," Kei menurunkan kaki, "ayo masuk."

"Tapi—aduh!" Shouyou berjengit ketika Kei menekan keningnya dan mendorongnya masuk. Refleks mendumel begitu mereka meniti anak tangga di sekitar bangku penonton dan kalau sampai tubuhnya terguling karena hilang keseimbangan (dan fatalnya tulang patah) Shouyou akan mengutuk Kei atau bahkan sengaja menggagalkan ujian mereka. Kei berkomentar itu terlalu bodoh dan orang bodoh tidak akan sakit.

"Kau akan pergi sambil meninggalkan ini?"

Fokus Shouyou beralih, melihat bagaimana jari telunjuk Kei menuding sebelum ia menyadari kertas-kertas partitur berceceran acak di atas panggung, tidak jauh dari tempat piano tersimpan. Berbagai macam warna spidol berguling bisu, gelas karton jumbo green tea latte yang tersisa setengahnya, beannie hat biru dongker, dan sepasang sepatu converse putih bergaris merah. Tas ranselnya tergeletak manis di bawah kaki piano, melengkung dan resleting yang terbuka.

Shouyou menunduk, memandangi kakinya yang hanya berbalut kaus kaki abu, kemudian balik memandang Kei dan nyengir lebar. "Aku kira orang yang di luar tadi janitor. Kau tahulah, sedikit beralasan agar bisa di sini lebih lama lagi. Tapi ternyata, ya... itu kau."

"Tapi kau terlihat seperti akan kabur tadi."

"Ke toilet, ah well, aku bermaksud, eh, pergi ke toilet. Sungguh!"

Kei menatap Shouyou, lama. Yang ditatap kembali nyengir, kali ini lebih dipaksakan dan kikuk. Shouyou tidak akan protes kalau Kei mengatainya pembohong, yang tadi itu memang alasan selintas dan sedikitnya ia bersyukur Kei langsung menghadangnya. Coba bayangkan kalau ia langsung kabur, tanpa sepatu dan barang yang tertinggal, lalu kembali lagi untuk mengambil. Lev pasti akan tertawa habis-habisan kalau sampai tahu.

"Sudah masuk akhir ternyata," sahut Kei, membuyarkan lamunan Shouyou. Ketika sadar, pemuda itu sudah berjongkok di dekat kertas-kertas penuh coretan warna dan mengangkat salah satunya. "Bagian ini bermasalah? Coretannya lebih banyak."

Shouyou melongok dari belakang bahu Kei. "Hm, sedikit. Nada yang itu terlalu pendek dan harus cepat pindah ke nada lain," ia menggerak-gerakkan jarinya dengan gemas, "dan tuts-nya terlalu jauh. Itu sulit, astaga. Jariku tidak selentik Kei."

"Derita terperangkap di tubuh bocah."

"Sial!" Shouyou menendang pinggulnya dengan tumit kaki, Kei berteriak ngilu, nyaris menumpahkan green tea latte yang tersisa. Shouyou menjulurkan lidah ke arahnya sebelum mengomel tidak jelas dan berderap ke arah piano.

"Tidak, tidak, jangan di sana,"

"Ya?" Shouyou menoleh, lalu mengernyit begitu Kei sengaja beringsut dan berbaring telentang di tengah panggung. Sinar lampu di atasnya lumayan redup sehingga ia tidak perlu susah-susah memejamkan mata. "Kau aneh, Kei."

"Tapi tidak seaneh kau,"

"Mengaca sana. Hari ini kau jauuuuuuh lebih aneh."

"Harusnya kau senang jadi tidak kena marah lagi," Kei menumpu kepala dengan kedua lengan, "untuk saat ini."

"Oh?" Sebelah alis Shouyou terangkat, mengernyit di detik kemudian, lantas mendekat lalu mengambil tempat di samping Kei. Ia sengaja tidak ikut berbaring, sengaja duduk bersila dan sengaja meninggalkan batas yang tidak lebar, tapi tidak juga sempit.

Gedung teater lama terasa begitu luas untuknya, meski Shouyou tahu betul luasnya tidak sebesar gedung utama yang biasa digunakan ujian dan konser orkestra. Ia bukanlah orang yang bisa bertahan terlalu lama dalam hening, apalagi sampai membuatnya canggung dan tidak nyaman. Akan tetapi, Tsukishima Kei seolah menawarkan keheningan yang lain. Kei tidak berbicara, fokus dengan deru napasnya, tidak cerewet soal nada yang salah meskipun masih saja melontarkan kalimat sarkastik. Shouyou manusia penuh topik pembicaraan, Tooru dan Koushi-san selalu gemas ingin membekap mulutnya barang satu menit saja, tapi ia mengaku kehilangan bahan obrolan begitu hening yang diberikan Kei melingkupi atmosfer di sekelilingnya.

Dan Shouyou cukup terkejut ketika Kei yang memecah heningnya pertama kali.

"Jadi, kau tidak bohong soal takut balon."

Tengkuk Shouyou meremang. Sadar ketika Kei meliriknya tapi ia berusaha tidak acuh. "Konyol, bukan?" Kekehan kecil. "Bocah SD saja pasti tertawa habis-habisan kalau tahu aku takut balon."

"Mereka belum mengerti."

"Lev juga pasti tertawa."

"Dia belum tahu," gumam Kei, lebih kepada diri sendiri. "Kalau pun tahu, Lev pasti mengerti. Aku juga akan mengerti."

Shouyou memberi jeda, lalu, "Memang kau tahu alasannya?"

"Pertanyaan bodoh," dengus Kei, "daripada bertanya, aku lebih suka menunggu orangnya langsung bercerita. Yah, kalau orang itu memang mau cerita."

"Pengertian sekali, Tsukishima Kei itu."

"Itu namanya tata krama, bodoh."

"Lihat siapa yang berbicara tentang tata krama tapi mengatai lawan bicaranya bodoh,"

"Kenyataan."

Shouyou mengerang, menggaruk kepala, lalu mendengus sekeras mungkin. Suaranya bergema di sepenjuru gedung, bercampur dengan berkas-berkas cahaya senja yang terselip lewat ventilasi udara dan lubang-lubang kecil atap yang mulai merapuh. Napas Shouyou terdengar normal, tetapi dalam benaknya terlalu banyak pikiran yang melompat. Saling berlari dan menabrak satu sama lain, membuatnya pusing.

"Jadi, kau mau mendengar cerita?"

Sudut mata Kei mengerling, sekilas, diam-diam mengamati begitu Shouyou menarik kaki dan dipeluknya hingga dagu menyentuh lutut. Iris oranye redup sejenak, seakan berusaha menggali ingatan dan merangkai kata yang tepat. Kei tidak menjawab, Shouyou juga tidak perlu jawaban verbal.

Ini adalah suatu kisah pada masa silam yang kembali dibuka.


Orang-orang seringkali menganggapnya tidak waras. Shouyou terlalu suka berceloteh soal warna, soal ia tidak tahu kalau Senin itu adalah hari pertama pada kurun waktu seminggu dan ia lebih mengerti kalau disebut dengan hitam. Ia suka bermain piano dan Yachi-san juga menyukainya. Ia begitu cerdas soal musik dan selalu ada perasaan iri dari segelintir temannya.

Tapi bagi sebagian orang awam, ia masihlah berbeda dan mungkin tidak waras.

Lalu, yang terjadi berikutnya adalah ejekan. Semula kecil dan mengandung canda, berubah menjadi pembullian ringan tanpa kontak fisik, kemudian membentuk rasa benci yang entah dari mana datangnya, dibalut dengan rasa dengki karena kemampuannya tak pernah berubah meski ia berbeda, dan berakhir pada titik di mana seharusnya Hinata Shouyou itu tidak perlu dilahirkan sekalian.

Ayahnya selalu mengajarkan untuk jangan menyelesaikan masalah dengan pukulan, segala sesuatunya harus dibicarakan baik-baik dan dalam keadaan kepala dingin. Jadi Shouyou memilih diam.

Bahkan ketika kamar mandi adalah mimpi buruknya. Ia sendiri dan mereka berlima. Shouyou berusaha melupakan bagaimana rasa sakitnya di bagian perut, atau rasa asin di ujung bibir, atau jari-jarinya yang kebas dan telinganya yang berdenging.

Lalu, balon-balon itu diletuskan. Setiap rasa sakit dirasakannya, setiap suara letusan pula terdengar. Setiap suara terdengar, warna-warna itu muncul di depannya. Berulang kali, semakin lama semakin mengerikan, segalanya berada pada satu warna; merah, merah, sepekat darah dan berbau tembaga, kepalanya terasa begitu pening.

Semenjak hari itu, ia membenci merah dan suara letusan balon.


Kei pernah menemukan puluhan tontonan drama di dokumen tersembunyi laptop Akiteru. Sedikit mengernyit jijik ketika tahu ternyata kakaknya tahan dengan belasan episode untuk satu titel drama dan berjam-jam nonstop demi menamatkan semuanya. Akiteru tidak menyimpannya sebagai rahasia, memang, bahkan sang kakak mengajak Kei untuk nonton bersama tapi ia menolak mentah-mentah.

Suatu kali, ia terpaksa menonton drama rekomendasi Akiteru. Dengan catatan jauh dari tema percintaan dan akan lebih bagus lagi kalau berisi dokumenter seperti National Geograpic. Akiteru meringis pahit, adikku bukan robot ya Tuhan, katanya waktu itu. Dan berjanji kalau dramanya tidak akan dipenuhi dengan adegan percintaan.

Yang Kei tahu, sang sutradara sengaja mengangkat tema yang akhir-akhir ini sering terjadi di kalangan remaja sekolah menengah pertama dan atas. Ia mengingat angka pembulian di Jepang meningkat drastis saat itu, bahkan tak jarang bunuh diri dijadikan pilihan terakhir.

Selama hidupnya, Kei selalu bisa menjaga diri. Mungkin tidak ada yang berani mendekatinya karena tinggi badan, mungkin karena ia selalu memasang mimik ketus, atau mungkin kata-katanya memang tajam dan orang lebih dulu memilih mundur. Tadashi teman pertama yang ia punya selama sekolah dan ia mulai bisa membuka diri terhadap orang-orang meski sifat sarkastiknya belum sepenuhnya hilang.

Ia berpikir bahwa pembullian seperti itu mungkin terlalu banyak diperankan dalam drama dan tidak mungkin semuanya sama seperti di dunia nyata.

Akan tetapi, Akiteru sendiri yang pernah bilang bahwa tontonan drama-drama itu bisa saja diambil dari kehidupan nyata sehari-hari yang sebenarnya. Tidak ada cerita yang tidak orisinil dan setiap orang selalu dituntut untuk berpikir kreatif. Tidak akan ada cerita yang bisa diceritakan kecuali sebelumnya memang pernah ada dan terjadi.

Dan Hinata Shouyou adalah bukti autentik yang Kei temui.


"Well, memang tidak meninggalkan luka yang serius, aku juga tidak melapor pada siapa-siapa dan tidak ada lagi hal seperti itu setelahnya. Mungkin mereka memutuskan mundur saat aku berontak dan menggigit tangan salah satu dari mereka, hahaha."

Suara Shouyou terdengar nyata, begitu lepas juga ringan. Tidak ada ekspresi takut pada gurat-gurat wajahnya, tidak ada getar, bahkan pemuda itu masih saja bercanda betapa bodohnya dia karena lebih memilih diam dan bergerak ketika keadaan semakin memburuk.

"Tapi, traumanya sulit dihilangkan."

Shouyou mengembuskan napas sepanjang mungkin, kedua tangan diregangkan hingga punggungnya melengkung ke belakang. Kei masih dengan posisinya, masih tidak bertanya, dan masihlah mencerna setiap kata yang diterima otaknya.

"Kejadian yang di lorong itu, mungkin karena mood-ku buruk, dan iya itu karena kau, aku jadi tidak bisa mengendalikan diri. Sebenarnya bukan balonnya yang aku takutkan, tapi suara letusannya," kemudian nada suara Shouyou merendah, "dan warna merah."

"Sampai sekarang?"

"Harusnya tidak," balas Shouyou lugas, "tapi kalau tiba-tiba seperti waktu itu, aku seolah melihat film di kepalaku sendiri. Entahlah, semuanya terjadi begitu saja. Lucu sekali."

"Itu sama sekali tidak lucu."

Shouyou menoleh, terkejut saat sorot mata Kei berubah tajam. "O... ke. Itu tidak lucu."

"Sama sekali tidak."

Mata Shouyou bergulir bingung, sebelum akhirnya ia mengangguk. "Sama sekali tidak."

"Tumben kau pintar."

"Demi balon!" Lagi, tangannya seolah refleks memukul Kei di mana saja. "Tsukishima-san tetap saja menyebalkan."

Kei mendengus geli. "Sekarang giliranku."

"Wah, wah, kau juga punya cerita? Sesuatu yang terjadi di masa lalu?"

"Bukan. Baru saja terpikirkan ceritanya tadi,"

"Memangnya apa! Dongeng? Ya, Tuhan!"

"Mau dengar tidak?"

"Iya, iya, dengan senang hati," seulas senyum tersungging lebar, sedikit jenaka, sedikitnya menahan tawa.

Kei menarik napas dalam-dalam, melepaskan tangan dari kepala dan sengaja ia rentangkan di sisi kanan dan kirinya. Shouyou bisa melihat iris madu di balik lensa kacamata itu menerawang, sulit ditebak namun menyimpan banyak cerita.

"Begitu lulus dari sini, aku akan coba mengambil kelas orkestra."

Bola mata Shouyou membelalak. Bibirnya terkatup rapat dan ia merasa begitu kelu meski berbagai pertanyaan tidak tahan ia lontarkan.

"Baru rencana, belum aku bicarakan dan pikirkan terlalu jauh," lanjut Kei, nadanya begitu tenang. "Seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, konduktor orkestra. Dan seperti yang kau katakan, Shouyou, setiap orang punya pilihan."

"Apa itu berarti... kau jadi lebih bisa menerima bermain piano, untuk saat ini?"

"Well, kau boleh berpikir seperti itu."

Lagi-lagi jeda asing yang Kei berikan, tetapi tidak membuat Shouyou canggung dan lebih ke arah nyaman.

"Oke, selesai. The end. Tirai ditutup."

Pemuda oranye di sampingnya mengerjapkan mata. Sekali. Dua kali. "Sudah?"

"Tirainya juga sudah ditutup."

"Apaan!" Cibir Shouyou, lalu tertawa puas setelahnya. Ia sengaja ikut berbaring dan membiarkan lengan kiri Kei yang terlentang menahan belakang kepalanya. Kei protes kepala Shouyou itu berat sekali dan menggelitik kulitnya yang sensitif tapi tidak pernah ada kata menyingkir yang terucap. Shouyou lagi-lagi tertawa, yang kemudian mengeluh begitu Kei menahan pipi kiri dan kanannya dengan cengkraman kelima jemari panjang sang pianis pirang, berusaha melepaskan diri dan berteriak sakit saat ruam-ruam merah tercetak di pipinya. Tidak terlalu kentara, tapi tetap saja sakit.

Perdebatan mereka mulai melantur ke mana-mana. Seperti kau tahu dari mana aku ada di sini, dari seorang Shouyou, dan gerutuan tidak jelasnya mulai meluncur begitu tahu bahwa Lev dalang di balik semuanya. Kei juga bercerita kalau Koushi-san dan Tooru-san mencemaskan Shouyou, termasuk Kenma juga Lev. Dan menemukan raut wajah Shouyou melembut, antara terharu atau merasa bersalah. Dilanjut dengan percakapan ringan bagaimana latihan Shouyou selama mereka tidak bertemu, bagian mana yang bermasalah, apa temponya masih berantakan dan perbedaan warna-warna itu membuatnya bingung. Shouyou bilang itu tidak apa-apa, tenang saja, aku bisa mengatasinya.

Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Mereka hanya saling memaafkan dengan cara seperti ini.

.

"Cepat bangun, bodoh. Kepalamu berat."

"Satu menit lagi. Serius Kei, tubuhku sulit sekali digerakkan."

"Kalau begitu aku peluk."

"Ah! Aku bangun, aku bangun!"


tbc