Chapter 2
Warning: WonKyu, Chaptered, Slash, Mpreg, OOC, AU, Typo(s)
Disclaimer: This story is mine.
Note: M tidak selamanya 'mesum'. Ada beberapa hal tidak patut dicontoh yang membuat fic ini masuk rate M.
Selamat membaca #kecup
.
oooOoooOooo
.
"Kita menang! Hurray!"
Teriakan kemenangan itu membuat Kyuhyun meradang. Pintu mobil berharga ratusan ribu dolar yang tiga hari lalu baru selesai reparasi, dibanting keras. Beruntung, karena pemilik mobil yang sebenarnya sedang tidak berada di sana. Well, namja pucat itu hanya menggambarkan kekesalannya. Sebenarnya Kyuhyun frustasi. Benar-benar frustasi.
Minhyuk mendekat. Takut-takut menatap Kyuhyun yang siap meledak. "Kyuhyun hyung," panggilnya lirih. Minhyuk hanya berusaha menghibur. Jujur saja, hyungnya yang pemarah itu terlihat kacau.
"Kita kalah lagi, ne?" Jonghyun, sang montir tampan Code Blue, ikut menimpali. Meramaikan suasana yang sudah berantakan. Suasana hati mereka, terutama Kyuhyun.
"Kau mobil sialan!"
Ban bervelk silver mengkilap ditendang brutal, turut menjadi sasaran amukannya. Semua orang terdekatnya tau, jika si namja pucat gemar memaki. Bahkan benda tidak bernyawa berbahan metal itu pun tak luput dari makiannya.
Mobil yang tadi Kyuhyun pakai untuk lomba memang sangatlah mewah. Tapi kemewahannya tidak bisa dibandingkan dengan mobil sport miliknya yang tidak seberapa itu. Karena mobil sport andalannya adalah mobil pilihan. Mulai dari mesin, sampai ke detail terkecil. Bahkan lempengan besi komponennya dipilih oleh Jonghyun sendiri, sang montir terbaik yang dimiliki Code Blue.
Tiap jengkal mobilnya adalah kesempurnaan. Presisi.
Jungshin menepuk bahu Kyuhyun, menenangkan. "Gwaenchana, Kyuhyun-ah. Kita bisa menang dilain kesempatan," katanya menghibur.
"Kita sudah kalah tiga kali hanya dalam waktu empat bulan. Dan kau mengatakannya tidak apa-apa? Dimana kau letakkan otakmu, huh?!"
Jungshin terkekeh. Menatap geli namja yang tiga tahun lebih muda darinya. Hiburan tersendiri mendengar makian kurang ajar Kyuhyun. Ajaibnya, makian itu sedikit mengobati rasa sakit hatinya karena mereka kalah taruhan.
"Aku punya pembalap nomor satu di sini, juga para montir terbaik. Mobil apapun tidak akan menjadi penghalang untuk kita menang. Kita hanya sedang tidak beruntung," hiburnya lagi. Kekalahan tidak boleh menghancurkan rasa optimis yang sudah dijunjung tinggi. Walaupun yang dikatakan Kyuhyun adalah kenyataan.
"Hyung.." Minhyuk merengek. Mengingatkan Jungshin jika namanya belum disebut dalam tim inti.
Sang pemilik bengkel Code Blue, tertawa geli. Lalu memeluk adik kecilnya yang manja. "Tentu saja karena ada dongsaengku yang sangat brilian mendesain. Benar ?"
Minhyuk mengangguk senang. Tertawa kecil dan menunjukkan sepasang gigi tupainya yang menggemaskan. Sanjungan dari hyung satu-satunya adalah penghargaan tertinggi baginya.
Jonghyun ikut tertawa. Ia mengacak gemas rambut Minhyuk, sama seperti yang dilakukan Jungshin.
Keceriaan kecil yang tercipta sama sekali tidak mempengaruhi Kyuhyun yang masih terbakar. Bagi Kyuhyun kecerian kecil itu hanya hal semu. Matanya tidak berhenti menatap nyalang gerombolan pemuda yang masih merayakan kemenangannya. Bukan lagi hanya deathglare mematikan. Tatapan matanya berapi-api. Bahkan dalam kepalanya sudah tersusun segala rencana jahat untuk menghanguskan mereka, yang membuatnya terlihat seperti pecundang.
"Jonghyun, tolong berikan ini pada mereka."
Lembaran Won berpindah tangan. Jonghyun menerima uang yang diberikan Jungshin. Setelah menyerahkan uangnya, Jungshin melangkah pergi tanpa banyak bicara. Walau begitu, raut kecewa tak luput dari wajah manis hyung kesayangan Minhyuk itu.
Jonghyun menghela nafas. "Jika terus seperti ini, Code Blue bisa kehilangan pelanggan," gumamnya pelan.
"Atau mungkin bangkrut. Dan kita kehilangan pekerjaan," Kyuhyun ikut menimpali.
Ketiga namja itu terdiam. Segala kemungkinan buruk berputar di dalam kepala masing-masing. Benar yang dikatakan Kyuhyun, kekalahan yang mereka dapatkan akan berdampak kerugian besar. Kepercayaan pelanggan bengkel mereka akan terus menurun jika terus dibiarkan seperti ini.
"Kyuhyun hyung, apa Appamu masih belum mau mengmbalikan 'Amun' padamu?" Minhyuk bersuara. Hati-hati bertanya hal yang cukup sensitif bagi Kyuhyun.
Kyuhyun melirik sekilas. Itulah masalah yang masih belum terpecahkan. "Kau tau sendiri, Minhyuk. Pria tua itu tidak bisa dibantah." Helaan nafas frustasi terdengar setelahnya.
"Apa tidak ada cara?" Jonghyun ikut bertanya, penasaran dengan kelanjutan dua mobil sport kebanggan Kyuhyun itu. Kebanggaan baginya juga sebenarnya, karena sebagian besar mobil itu adalah hasil rakitannya.
"Ada."
Minhyuk dan Jonghyun menatap Kyuhyun dengan mata berbinar. "Bagaimana?" tanya mereka kompak.
"Jika si tua keparat itu sudah mati," jawab Kyuhyun dingin. Wajah pucat itu sama sekali tidak berekspresi ketika mengatakannya. Dingin dan datar. Seakan yang ia bicarakan adalah seorang penjahat yang divonis mendekam di penjara seumur hidup.
"Astaga, hyung. Jangan bicara seperti itu. Kau beruntung masih memiliki Appa. Tidak sepertiku dan Jungshin hyung."
"Aish. Kau itu benar-benar anak kurang ajar." Jonghyun menepuk bahu Kyuhyun pelan. Dia tertawa garing. Jawaban yang Kyuhyun berikan sama sekali tidak memberikan jalan keluar.
"Mungkin hyung bisa membujuk Tuan Cho." Sang pemilik gigi tupai tersenyum, ada sebuah ide brilian yang tiba-tiba muncul dalam kepalanya. "Aku juga bersedia menemani, jika hyung mau. Kita bisa sama-sama membujuk Tuan Cho agar mau mengembalikan Amun. Eotteokhae?"
Selama ini belum pernah ada yang menolaknya ketika Minhyuk merengek. Mungkin Tuan Besar Cho akan mempertimbangkan permintaan mereka yang menginginkan mobil sport Kyuhyun kembali. Bukankah setiap orang tua akan selalu berusaha untuk memberikan apapun yang diminta oleh anak-anaknya? Mungkin Tuan Cho akan melakukan hal yang sama, karena dirinya juga orang tua, pikir Minhyuk polos.
Kyuhyun berdecih dalam tawanya. "Dia bukan Appa baik hati yang akan luluh mendengar rengekan bocah manja sepertimu, Minhyuk. Cho Yeunghwan adalah pebisnis yang tidak akan pernah puas. Mungkin kau bisa membujuk jika bersedia membawakannya sesuatu yang berharga tinggi."
Tiap kata yang meluncur dari sepasang bibir kissable itu memang pedas. Apapun yang dikatakannya. Tapi entah mengapa, setiap mereka mendengar Kyuhyun berbicara tentang Appanya, seperti ada kebencian yang sudah menumpuk bertahun-tahun dan sulit untuk diruntuhkan.
Minhyuk merunduk sedih, "Benarkah?""
"Sudahlah, Minhyuk. Kita akan pikirkan lagi caranya nanti." Jonghyun kembali mengelus kepala Minhyuk dengan sayang. "Sebaiknya kita pulang sekarang, hyungmu sudah terlalu lama menunggu. Aku akan memberikan ini pada mereka dan akan segera menyusulmu. Arra?"
"Nde, hyung."
Kyuhyun memandang punggung Jonghyun yang mulai menjauh. Dia melihat semuanya, bagaimana gerombolan pemuda di sana menatap temannya itu dengan remeh. Ingin sekali ia menghadiahkan tinjunya pada mereka, sebagai kenang-kenangan. Tapi, sekesal apapun Kyuhyun hingga ingin menendang kepala mereka satu persatu, tentu saja ia tidak bisa melakukannya. Membalas kekalahan dengan kekerasan tidaklah sportif. Dan laki-laki yang tidak memiliki sportifitas sangat tidak pantas disebut laki-laki.
Andai saja malam ini mereka menang, temannya itu tidak akan pernah ditatap layaknya pecundang seperti saat ini.
Cukup. Kyuhyun muak dengan segala penghinaan ini. Kekalahannya sebanyak tiga kali bahkan terlalu banyak untuknya.
Namanya sudah dikenal dalam dunia hitam balap liar. Selama dua tahun terakhir belum ada yang berhasil mengalahkannya. Kyuhyun beruntung memiliki tim yang sangat solid, yang akan selalu ada untuknya. Tapi Kyuhyun tidak bisa berbuat apa-apa tanpa mobilnya. Begitu pula sebaliknya, tidak pernah ada yang bisa mengendalikan Amun, mobil balap kebanggan milik Cho Kyuhyun.
.
.
.
Choi Siwon duduk sambil menyilangkan kaki. Tidak peduli jika dirinya salah berpakaian. Kemeja putih berlapis jas semi formal yang digulung sebatas siku, membuat dirinya benar-benar seperti pangeran yang salah tempat. Menjadi pusat perhatian di antara pengunjung kedai mie pinggir jalan. Hampir semua pasang mata menatap padanya.
Sayangnya Choi Siwon tidak sadar akan hal itu. Obsidian tajamnya terus menatap lurus ke depan. Hanya fokus pada satu objek di depannya. Bagai seekor elang yang siap menyergap mangsanya saat lengah.
Tidak, Siwon bukan sedang berburu sekarang. Siwon hanya sedang mengagumi buruannya, seseorang yang sedang menikmati semangkuk ramyeon. Dan dia tampak kelaparan.
Kemarin sore, seseorang menghubunginya. Hanya nomor tidak dikenal yang tertera di layar ponsel miliknya itu.
"Ada yang ingin kubicarakan besok. Jam tiga sore, dekat SM University."
Hanya itu yang Siwon dapati ketika mengangkat ponselnya. Panggilan langsung diakhiri begitu sang penelpon menyelesaikan kalimatnya. Siwon bahkan tidak sempat mengucapkan salam. Bukannya marah atau kesal, Siwon malah ingin tertawa.
Dua kalimat itulah yang membawa kakinya melangkah ke tempat yang sudah disebutkan oleh si penelpon. Bukan karena dirinya takut dengan dua kalimat berisi perintah itu. Suara bass sang penelponlah yang menjadi satu-satunya alasan yang menyeret Siwon hingga sampai di kedai ini.
Tangan berkulit pucat menyambar botol air mineral yang berada di atas meja kayu. Lalu meminumnya rakus dalam satu tarikan nafas. Ramyeonnya baru saja habis. Hanya tersisa sedikit kuah kaldu dalam mangkuk besarnya.
"Choi-"
"Santai saja, Kyuhyun. Aku masih punya banyak waktu untuk menunggumu."
Benar, orang yang menelponnya dan yang sedang duduk di hadapannya ini adalah orang yang sama. Dia Cho Kyuhyun.
Siwon memotong cepat. Mencegah Kyuhyun yang terburu-buru berbicara. Setidaknya Kyuhyun perlu waktu sebentar untuk mengambil nafas. Well, Siwon hanya memanfaatkan kesempatan agar punya waktu lebih banyak untuk berbicara dengan Kyuhyun. Atau mungkin waktu lebih banyak untuk menatapnya. Intinya sama saja, Siwon hanya ingin berlama-lama bersama Kyuhyun.
Kyuhyun berdecih dan menatap Siwon mengejek. Namja atletis di depannya ini sepertinya benar-benar bodoh. Tentu saja, mana ada pria yang mau menikah dengan pria lain ketika masih banyak wanita berdada besar yang bersedia dinikmati?
"Tidak. Aku yang tidak punya banyak waktu untuk bicara denganmu."
"Baiklah, kita bisa membicarakannya pelan-pelan." Siwon masih mencoba peruntungan. Mengulur waktu selama mungkin agar memiliki alasan untuk duduk berhadapan dengan Kyuhyun. "Jadi apa masalahnya? Apa ini berhubungan dengan pernikahan kita?"
"Namja keparat!" Kyuhyun bergumam. Ternyata Siwon mendengarnya.
"Wae? Jadi bukan tentang pernikahannya?" Siwon meneguk kopinya yang hampir dingin. Hanya tangannya yang bergerak. Fokus matanya masih berpusat pada Kyuhyun.
Tebakan Siwon tidak salah. Hanya saja Kyuhyun yang tidak siap jika Siwon bisa langsung membaca maksud Kyuhyun yang mengajaknya bertemu.
"Aku mau mobilku kembali. Sebutkan, apa saja isi kesepakatannya." Sehelai tisu menyapu permukaan sepasang bibir kissable milik namja berambut ikal. Kyuhyun hanya bergerak mengikuti naluri. Mencoba menutupi rasa malunya.
Kyuhyun rasa setelah ini dia harus pergi ke psikiater. Sepertinya ada masalah serius dengan kepalanya. Kyuhyun tidak mungkin menerima hal terkonyol sedunia ini jika kepalanya baik-baik saja.
Dirinya mungkin sudah gila.
Senyum joker melengkung di bibir Siwon. Beberapa yeoja pengujung kedai mie yang mencuri pandang ke arahnya, memekik tertahan. Mati-matian menahan diri agar tidak menghambur dalam pelukan Siwon hanya karena senyum tampan yang mematikan itu.
"Aku tidak meminta banyak, Kyuhyun."
"Cih, tidak usah bertele-tele!"
"Turuti kata-kataku dan jangan melakukan hal yang sudah ku larang."
Satu alis Kyuhyun naik mendengar kalimat bernada possessive dari Siwon. Nampaknya, hidupnya akan sangat merepotkan setelah ini. "Itu saja?"
"Aku ingin kau tinggal bersamaku setelah kita menikah." Siwon menyelesaikan kalimatnya ketika Kyuhyun hendak menyela, "di rumahku," lanjutnya final.
"Mwo?!" Kyuhyun memekik. Beberapa pasang mata yang masih mencuri pandang pada Siwon, seketika beralih ke namja pucat. Bahkan ahjumma pemilik kedai mie sampai terlonjak di bangkunya karena terkejut.
"Kurasa itu akan sangat menguntungkan bagimu, Kyuhyun. Karena dengan begitu, kau bisa bebas dari pengawasan Appamu."
"Mansion keluargaku masih tersisa banyak kamar. Tidak akan habis jika dipakai satu."
"Jadi aku tidak akan sekamar denganmu, begitu? Lalu apa yang akan dikatakan Appamu jika mengetahuinya?"
Kyuhyun kehabisan kata untuk menjawab.
"Appamu akan berpikir bahwa pernikahan ini hanya main-main. Kita akan sama-sama dirugikan jika membuat Tuan Cho Yeunghwan sampai marah. Aku yakin, mobilmu juga tidak akan kembali. Apa itu yang kau inginkan?" desak Siwon.
Kyuhyun hanya diam. Memikirkan cara lain agar dirinya tidak terjebak dalam rumah Siwon.
"Aku menolak, Kyuhyun. Lebih baik tidak usah ada pernikahan," kata Siwon tegas.
Checkmate. Kyuhyun tidak lagi bisa membantah. Rupanya Choi Siwon adalah lawan yang tangguh. Bahkan Siwon bisa membuat Kyuhyun tidak berkutik hanya dengan kata-katanya.
"Kau yakin mobilku akan kembali setelah kesepakatan ini, Tuan Choi?"
Siwon tersenyum geli, ternyata calon istrinya ini sangatlah pemalu. Kyuhyun bahkan mengganti kata 'setelah kita menikah' dengan kata 'kesepakatan ini'.
"Appamu menjanjikannya demikian. Kemungkinan besar mobilmu akan segera kembali setelah kita menikah."
Kyuhyun mendengus. Bersumpah bahwa dia mau menjalankan rencana bodoh ini hanya demi mobilnya. "Aku juga punya persyaratan." Coklat karamel menatap obsidian di depannya, menantang.
"Apa itu? Sebutkan saja." Siwon menumpukan dagu di atas jemarinya yang terjalin. Badannya ikut condong ke depan. Benar-benar serius menanti persyaratan yang akan diucapkan Kyuhyun.
"Jangan pernah ikut campur dalam hidupku. Apapun yang kulakukan."
Siwon menggeleng pelan. "Aku tidak bisa memenuhi persyaratan pertamamu, Kyuhyun. Setelah kita menikah kau adalah tanggung jawabku. Aku harus tau apapun yang kau lakukan."
"Yak! Jangan bertingkah seolah-olah kau itu benar-benar s-suamiku. Aku ini namja, bodoh!" Kyuhyun memekik. Untung saja kedai mie itu sudah tidak seramai tadi. Walaupun masih ada beberapa yeoja yang masih betah memandang Siwon dari kejauhan.
Wajah memerah Kyuhyun tidak sedikitpun luput dari perhatian Siwon. Cho Kyuhyun malu dan marah, itulah kenyataannya.
"Kyuhyun, kau tidak benar-benar mendengarkanku, ya? Yang kau sebutkan tadi adalah persyaratan pertamaku." Bibir Siwon mengerucut, tapi bukan untuk ber-aegyo. Itu hanya kebiasaannya jika sedang gemas atau sedang berusaha menggoda.
Cho Kyuhyun tidaklah bodoh. Beberapa dosennya bahkan mengatakan bahwa Kyuhyun itu jenius. Tapi entah kenapa otaknya tiba-tiba saja membeku karena membahas tentang hal gila ini. Sampai-sampai Kyuhyun tidak bisa mencerna dengan teliti persyaratan licik yang sudah disebutkan oleh Siwon.
"Aku bukan gay, Tuan Choi!"
"Hei, aku tidak penah menyebutmu begitu. Tenanglah.. bukankah kita sedang berbicara tentang kesepakatan? Tak apa, jika kau tidak bersedia. Aku tidak akan memaksamu."
Siwon mengeluarkan dompetnya. Mengambil lembaran Won untuk membayar kopinya. Tangan besarnya merapikan jasnya sebelum berdiri.
"C-chakkaman! Kau tidak sopan. Aku belum selesai bicara, Tuan Choi!"
Namja tampan itu duduk kembali. Sebenarnya, tadi Siwon hanya memberikan gertakan halus. Siwon ingin melihat seperti apa reaksi Kyuhyun jika ia pergi dan berpura-pura tidak tertarik. Dan benar saja, Kyuhyun menahannya untuk tidak pergi.
"Baiklah, aku akan menunggumu hingga selesai bicara."
"Aku punya persyaratan lain."
Kedua alis tebal Siwon bergerak menyatu, agak bingung dengan kalimat Kyuhyun yang sedikit tidak jelas.
Persyaratan lain? Apa itu berarti Kyuhyun ingin melanjutkan pembicaraan mereka tentang kesepakatan ini?
"Katakanlah, Kyuhyun. Akan ku dengarkan."
"Aku tidak mau masalah ini sampai terbongkar. Tidak boleh ada yang tau jika kau dan aku sudah membuat kesepakatan. Maksudku, jika.."
"Jika kita sudah menikah?" tebak Siwon dengan tertarik.
"Yak!" Kyuhyun memekik lagi. Kali ini dia tidak sengaja. "Jangan katakan itu, bodoh! Bagaimana jika ada yang mendengar?!"
"Tidak ada yang akan mendengar pembicaraan kita, jika kau bisa mengontrol suaramu."
"Kau akan menerima ganjaran dariku jika sampai ada yang mengetahui masalah ini," ancam Kyuhyun.
"Arraseo. Aku akan menjaga rahasia kita dengan aman. Percayalah padaku."
"Kau yakin tidak ingin membuat surat perjanjian atau hal semacamnya, Tuan Choi?"
"Ku rasa tidak perlu."
Namja pucat tertawa, mengejek seperti biasanya. "Bagaimana jika aku ingkar atau lupa dengan isi perjanjiannya ?"
Sebenarnya Kyuhyun ingin memiliki surat perjanjiannya. Itu bisa dijadikan sebagai senjata ampuh jika suatu saat namja gila bermarga Choi itu berbuat licik atau melakukan sesuatu yang tidak ada dalam perjanjian mereka. Kyuhyun bisa menuntut Siwon dengan surat itu.
"Lelaki sejati akan selalu memegang teguh janjinya."
Jemari kurus milik namja pucat terkepal erat. Jadi Siwon mengatakan bahwa Kyuhyun bukan pria sejati?
"Jadi, kapan kau ingin melangsungkan pernikahannya?" tanya Siwon sambil melihat kalender yang tersedia dalam aplikasi ponselnya.
"Terserah."
"Bagaimana jika tiga bulan lagi? Kau setuju?"
"Aku tidak bisa menunggu selama itu."
Senyum joker lagi-lagi melengkung. "Jadi kau sudah tidak sabar ya?"
"Brengsek!"
Salahkan Siwon yang memang gemar sekali menggoda. Siwon sudah mati-matian menahan diri agar tidak menggoda namja pemarah di depannya itu. Tapi ternyata sulit.
"Maksudku, kau sudah tidak sabar menunggu mobilmu kembali," ralat Siwon cepat. Tidak ingin membuat namja pucat di hadapannya itu murka.
"Bulan depan. Dan kembalikan mobilku secepatnya. Aku membutuhkannya."
"Bulan depan? Baiklah." Tangan besarnya terulur ke depan. Menanti Kyuhyun membalasnya. "Sepakat?"
Kyuhyun memutar bola matanya malas. "Terpaksa sepakat. Demi mobilku." Lalu membalas uluran tangan Siwon.
Lebih dari satu menit lamanya mereka berjabat. Tentu saja karena Siwon yang menahan tangan kurus itu lebih lama dalam genggaman tangannya. Raut wajah kesal Kyuhyun dibalas dengan kekehan gemas dari Siwon.
"Kyuhyun, bisakah aku meminta sesuatu?"
"Sudah ku katakan untuk tidak bicara bertele-tele. Kau tuli, huh?!"
"Oh, benarkah? Aku minta maaf. Bisakah kau memanggilku dengan sebutan lain?"
Satu alis Kyuhyun terangkat. Apakah sejak tadi Kyuhyun salah memanggil namanya? Bukankah pria di depannya ini bermarga Choi? Well, Kyuhyun punya kebiasaan buruk, dia sering melupakan nama orang-orang yang menurutnya tidak penting.
"Jangan lagi memanggilku 'Tuan Choi'. Sebentar lagi kita menikah. Bisakah kau memanggilku Yeobo? Siwonnie? Atau paling tidak panggil aku hyung."
"Sepertinya sudah tidak ada hal penting lain yang harus dibicarakan." Setelah meletakkan beberapa lembar Won di dekat mangkuk ramyeonnya, Kyuhyun berdiri. "Selamat tinggal," ucapnya sambil memberikan smirk andalannya pada Siwon. Lalu beranjak dari bangkunya.
Sayangnya, smirk andalan yang terkesan sinis itu terlihat terlalu menggemaskan di mata Siwon.
Ditolak. Permintaan Siwon jelas ditolak. Meminta sesuatu yang bersifat manis pada Cho Kyuhyun sepertinya hal yang mustahil.
"Aish, harusnya dia mengucapkan, 'Sampai jumpa lagi, hyung'. Bukannya mengatakan 'Selamat tinggal'," gumam Siwon lalu berlari mengejar Kyuhyun.
Satu dari sekian banyak hal yang tidak bisa ditolak oleh Siwon adalah kopi. Tapi hari ini, Siwon dengan sengaja melupakan kopinya hanya untuk berbicara serius dengan seseorang yang bernama Cho Kyuhyun.
.
TBC
.
Iya, maaf.. Alya ngaret banget updatenya #bow.
Kerjaan numpuk dan Alya bukan orang yang bisa ngetik di kantor. Pernah maksain nyoba, tapi hasilnya malah berantakan. Ujung-ujungnya harus ketik ulang. Jadi dua kali kerja #ups curhat.
Ini baru chapter 2. Dan perjalanan kita masih panjang. Hahaha #ketawa evil. Masih adakah yang beminat review ?
8/November/2015. AlyaFarah.
