Haikyuu (c) Furudate Haruichi
Nodame Cantabile (c) Tomoko Ninomiya
Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil apa pun atas pembuatan fanfiksi ini.
.
[a/n : chapter akhiirrrrrrrr X'D terima kasih sebelumnya yang sudah mengikuti cerita ini sampai sini, termasuk fave, follow, dan review. Dan juga buat Ushijima Rio (ehehehe, makasih banyak ya XD) Nairel Raslain (sampai bertemu lagi, Nai :') bunga (aaaaaa, makasih banyak XD setuju soal pembulian termasuk kasus-kasusnya soal ruang sempit :"" untuk perasaan Kei dan Shouyou, well, entahlah X'D karena ini awalnya drama dan friendship, jadi saya gak terlalu menekankan romens, ehe. soal sequel bakal saya pikir-pikir lagi, terima kasih ya~) hanazawa kay (kembali kasih jugaaa XD wattpad ada kok :3 namanya sama, suki_pie ehehehe) KagsRai (iih sama, kadang pake aplikasi juga suka gak ketauan ada notif pm :'( dan kalau pun kei masuk orkestra, mereka kan masih bisa main di konser X'D/bukangitu. makasih yaaa~) Blackeyes Asakura (makasih yaaa XD untuk ending, semoga di-chapter terkahir ini terjawab:3)
selamat membaca :))
"Toska"
[7/7]
.
SHOUYOU tidak suka berhitung.
Di dalam benaknya, ia kerap kali beranggapan bahwa waktu dalam dirinya adalah jam pasir. Yang titik-titik halusnya tidak perlu ia beri angka dari satu sampai ratusan bahkan ribuan, yang setiap detiknya tidak terdengar tik tok tik tok atau menunjuk pada romawi berapa ketika alarm-alarm kecil itu memberi peringatan kapan ia harus makan, atau kapan matanya harus terpejam, atau juga kapan ia harus bisa memisahkan jam latihan dan memilih bermalas-malasan.
Suatu kali Kenma pernah protes kalau hidupnya sama sekali tidak terstruktur, meski terlambat pada jam-jam penting bukanlah kebiasaan Shouyou. Tapi hidup itu memang harus berjalan sebagaimana mestinya, kilah Shouyou waktu itu, akan jadi membosankan kalau setiap gerak-geriknya dijadwal dengan begitu ketat. Ia perlu bernapas, semua orang perlu bernapas dari yang namanya rutinitas.
Jadi ketika Kei datang saat itu sambil berderap dengan langkah yang khas di antara anak tangga panggung auditorium, kemudian menempatkan diri di depan grand piano yang bersinambung dengan piano miliknya, atau juga ketika jemari-jemari panjang itu memilah lembar demi lembar partitur, Shouyou berusaha denial. Ia lupa akan titik-titik pasirnya dan ia lupa ada di angka berapa juga berapa banyak waktu yang dapat ia habiskan sebelum jam penentu tiba.
"Kau kelihatan tegang."
"Oh, ya Tuhan!" Shouyou menepuk kening. "Tidak usah diperjelas, oke? Melihat partitur saja aku pusing. Ugh, semuanya bergerak dengan aneh."
"Kalau kau gugup saat ujian nanti, awas," sunggut Kei, lalu melirik arloji. "Masih ada tiga puluh menit lagi untuk gugup."
"Keeiiiiii, tidak perlu diperjelas, okeey?"
"Hanya mengingatkan, siapa tahu kau lupa."
"Astaga, aku bisa gila," rengeknya, menumpukan kening di atas tuts sekaligus sampai denting fals menggema. Dua lembar pertama kertas musiknya jatuh, melayang, lalu berhenti di ujung kaki. Shouyou menarik napas dalam-dalam, ia tidak bohong mengenai not-not balok yang menari. Seolah mengoloknya tanpa ampun dan Kei senang sekali memperparah.
Ia memejamkan mata sejenak, sedikit mempertahankan kewarasannya dan tidak sadar begitu sepatu familier Kei berhenti tidak jauh dari kursi pianonya, membungkuk sampai kertas yang jatuh diambil, sebelum akhirnya menepuk puncak kepala Shouyou dengan sesuatu yang kecil tetapi keras. Ketika Shouyou mendongak, sebatang lolipop terjulur lugas di depan matanya.
"Aku bukan bocah."
Bahu Kei berkedik, tangannya sibuk membuka pembungkus lolipop. "Ini rasa teh hijau, mungkin bisa menghilangkan stress."
"Serius, aku—" hup, Shouyou mencecap manis bercampur manis pada reseptor lidahnya. "Khau hini," ia mengulum di sisi kiri mulut bagian dalam, "terima kasih kalau begitu."
"Geser sedikit," perintah Kei, menempatkan diri setelah Shouyou bergeser. Tangan Kei itu memang tidak bisa diam atau bagaimana? Sepertinya senang sekali mengurus hal-hal yang kecil seperti meletakkan kertas partitur di tempatnya, membetulkan letak kacamata sejenak, sengaja memberi sentilan kecil di kening Shouyou, atau yang tanpa dosanya menarik rambut Shouyou dengan alasan konyolnya agar ia tidak tertidur.
Aku curiga jangan-jangan kau yang sebenarnya gugup, Shouyou berceletuk jenaka, tetapi berteriak ngilu begitu Kei menarik hidungnya. Lolipopnya nyaris terlepas dan Kei tidak ingin benda yang sudah berliur itu jatuh tepat di celananya. Shouyou tahu Kei sengaja tidak melirik arloji, atau memperingatinya soal waktu yang semakin menipis. Ia pikir biarkan saja semuanya berlalu, biarkan sebentar saja hal-hal kecil seperti ini berjalan tanpa doktrin bahwa sekarang, saat ini juga adalah hari ujian mereka.
"Kei,"
"Hm,"
"Terima kasih, ya." Memangnya ini apa? Semacam perpisahan? Ketika Kei bertanya, Shouyou menanggapinya dengan tawa renyah, renyah sekali. "Jujur saja sih, kalau aku tidak berpasangan denganmu, mungkin permainanku tidak akan membaik. Hum, warna-warna itu memang jadi aneh bentuknya, tapi setidaknya membaik saat aku mencoba... bagaimana aku menjelaskannya, berdamai?" Lagi, tawanya terdengar lebih halus. "Yang jelas, Kei memang terbaik, deh. Mungkin aku tidak akan seperti ini kalau Ukai-sensei tidak memilihmu."
Kei menggeleng pelan. "Kau lebih menakutkan kalau sudah jujur."
Ada ringisan kecil dari Shouyou, entah tersinggung atau memaklumi sifat Kei yang satu itu. Namun ia tidak mengeluarkan rentetan kalimat provokatif yang selama ini pernah ia lontarkan. Shouyou pikir mengikuti jejak Kei tidak ada salahnya. Pemuda pirang itu berusaha berdamai dengan yang namanya pilihan, mencoba menerima apa yang telah dijalani dan menaruh harapan baru untuk pilihan berikutnya nanti. Shouyou pikir ia perlu belajar juga, bahwa ada saat di mana zona nyaman tidak akan selalu memberikan kenyamanan.
Shouyou pikir, Kei jelas telah mengubahnya hingga saat ini.
"Coba mainkan, Kei."
"Apanya,"
"Musiknya," kini, kening Shouyou bertumpu pada pundak kanan Kei dan tidak ada keluhan yang terdengar. "Ya Tuhan, partiturnya semakin menari dengan aneh."
Kei memosisikan jari, mengambil jeda, lalu baris nada pertama dimainkan. "Kau ini bahaya kalau gugup."
Shouyou terkekeh pelan. "Kalau kau tanya Lev, dia pasti akan tertawa."
"Kejadian konyol, pasti."
"Ya, aku pernah berpasangan dengannya dan... bukan sesuatu yang bagus untuk diingat kembali,"
"Kau lupa partiturnya?"
"Tidak juga." Napas berhembus kecil, sedikit bergetar. "Sedikit tersandung dan kami terjatuh, berguling-guling lagi. Begitulah. Tanganku terkilir tapi memaksakan bermain dan besoknya Koushi-san menyeretku ke rumah sakit."
"Kau harusnya sadar tangan bagi seorang pianis adalah hal terpenting."
"Tooru-san dan Kenma pernah bilang seperti itu padaku."
"Mereka saja mengerti, Shouyou. Tapi kau terlalu bodoh,"
"Duh, jangan mulai, tolong."
"Sepuluh menit terakhir, habiskan cepat gugupmu itu."
"Ugh." Shouyou beringsut, permainan Kei mulai mencapai akhir. Entah apa yang merasukinya, Shouyou tertegun. Kei tidak menyuruhnya latihan, tidak bersikap galak seperti minggu-minggu sebelumnya, tidak juga memintanya untuk melakukan ini dan itu saat ujian berlangsung nanti.
Akan tetapi, Shouyou memang tertegun. Ia tidak menyangka kalau—
"Toska."
Ting. Musik berhenti, jemari Kei terangkat beberapa sentimeter di atas tuts, jeda dalam beberapa sekon, dan berakhir dengan satu helaan napas panjang. Ketika ia menoleh, Shouyou sudah memandangnya lama dan lekat.
"Apa?"
"Kei, warnamu," Shouyou menggigit bibir, menuding Kei dengan jari telunjuk, "... toska."
Sebelah alis Kei terangkat, kening berkerut, lalu, "... kenapa memangnya kalau toska?"
Shouyou terbatuk kecil, disengaja, menggaruk kepala dan berpaling linglung. "Itu, hum, bagaimana ya..."
.
"Misal seperti aku pernah melihat warna toska saat Yachi-san bermain biola, itu menunjukkan kalau ... kalau aku menyukainya, dulu, begitulah."
.
"Ah, sudahlah!"
Kei berteriak perih, meringis, nyaris memukul balik begitu telapak tangan Shouyou menyerang punggungnya berulang kali. "Kau ini kenapa, sih?"
"Tidak, bukan apa-apa!"
Arloji di pergelangan tangan Kei memberikan alarm nyaring. Satu menit sebelum ujian dimulai.
"Cepat pergi ke kursimu sana, dosen dan pengujinya sebentar lagi datang," Shouyou berusaha mendorong tubuh Kei, sedikitnya sampai pemuda itu benar-benar berdiri dan ia akan lupa mengenai warna atau jantungnya yang tiba-tiba bermasalah. "Cepat, Keiiiii."
"Iya, iya, berhenti mendorongku." Kei menepis tangan Shouyou, berdiri, sebelum kemudian membungkuk dan menangkup kedua pipi Shouyou. Terbilang cepat dan tiba-tiba, terbilang tanpa diduga dan seumur hidupnya Shouyou tidak akan pernah berpikir bahwa seorang Tsukishima Kei akan memperlakukannya seperti sekarang ini.
Shouyou mengerjapkan mata, Kei berdecak lugas sekaligus geli yang detik setelahnya sengaja mendekat hanya untuk meninggalkan satu kecupan singkat di kening Shouyou. Hinata Shouyou selalu beranggapan bahwa ia tidak suka berhitung dan menyesal setengah mati begitu sadar ia gagal menghitung berada di sekon berapa Kei memberinya kejutan kecil yang tidak pernah Shouyou duga sebelumnya.
"Kalau suka padaku bilang saja, pendek." Kei mengecup ujung mata kanannya, ada garis senyum yang bisa Shouyou rasakan di sana; lembut juga diam-diam. Dan perlahan-lahan lenyap ketika Kei kembali menegakkan diri dan menoleh ke arah lain. "Oh, dosen dan pengujinya sudah datang. Ayo siap-siap."
Waktu gugupnya habis dan Shouyou kewalahan. Bagaimana mungkin ia bisa menenangkan debaran jantungnya yang semakin bermasalah dalam beberapa detik ke depan, dasar Kei bodoh!
Tapi Kei tidak melebih-lebihkan tentang Hinata Shouyou.
Dalam benaknya adalah Shouyou, Shouyou, Shouyou—yang Kei silabelkan jauh di sudut hatinya ketika permainan mereka mulai bergema di sepenjuru auditorium, melawan hening, menarik sisa-sisa kekhawatiran mereka selama ini, menarik kagum dari sebagian penonton kecil meski ini bukanlah konser besar di sebuah gedung teater.
Di kepalanya adalah Shouyou. Yang kerap kali Kei pertahankan ketika jemari saling menekan tuts, ada harmoni yang menyusup di antara dirinya dan Shouyou, yang tak pernah Kei bayangkan apakah nadanya terdengar acak layaknya kali pertama mereka bertemu dan Kei tak peduli apakah Shouyou mengacaukannya lagi dan lagi.
Dan ini adalah Shouyou.
Dan Kei berpikir bahwa partner yang dipilihan Ukai-sensei atau ketika Koushi-san berkata bahwa Hinata Shouyou adalah orang yang hebat memang benar adanya. Seharusnya Kei tidak perlu meragu.
"Selesaaaaaaaiiiiiiii!"
Koushi yang pertama kali menyambutnya dengan pelukan. Disusul Lev yang dengan ringan mengangkat tubuh Shouyou dan pemuda oranye itu memekik minta diturunkan. Sho-chan berisik kalau sudah seperti ini, Tooru mengomentari kemudian. Tertawa puas begitu Koushi lagi-lagi menyikut perutnya. Kei merasa tidak memanggil Tetsurou dan ketika suara nyaring Shuoyou lagi-lagi berseru memanggil nama Kenma, Kei tak perlu jawaban lebih.
"Sekarang makaaan!" Lev ikut berteriak, merangkul bahu Shouyou lebih dekat. "Sebagai peringatan berhasil—"
"Maaf."
Atensi berpindah cepat, Kei diam saja ketika ia melepas rangkulan Lev dan menarik pergelangan tangan Shouyou, lalu sedikit menyeret untuk mengikuti langkahnya. "Kami ada acara lain," ia berhenti sejenak, mengaitkan kancing parka Shouyou sampai bagian teratas. Kei baru ingat sebentar lagi musim dingin tiba dan ini adalah awal baginya untuk menyambut. Masih ada gunungan partitur di rumahnya yang harus ia hafal dengan baik sebelum seleksi konser tunggal berlangsung. Tapi untuk hari ini, ia sengaja absen dan biarkan Shouyou menemani.
Kemudian ia meraih jari-jari Shouyou, jemari yang selama ini dilatihnya dengan segala peraturan, jemari yang Kei tahu tidak akan pernah bisa lepas dari piano, jemari yang akhirnya berani Kei genggam tanpa perlu izin terlebih dahulu atau harus mengucap sederet alasan ketika beberapa pasang mata menatap mereka dengan terkejut. Shouyou termasuk di dalamnya, lebih ke arah bertanya, tapi Kei mengabaikan.
"Maaf, ya, kami permisi duluan."
Shouyou tertawa kikuk. Berkata kalau itu tidak seperti Kei sekali dan membalas genggaman tangannya tanpa ragu.
end
