Chapter 3
Warning: WonKyu, Chaptered, Slash, Mpreg, OOC, AU, Typo(s)
Disclaimer: This story is mine.
Note: Chapter ini minim dialog. Lebih banyak deskripsi tentang isi kepala Cho Kyuhyun. Semoga gak bosen bacanya.
Selamat membaca #kecup
.
oooOoooOooo
.
Sedan mewah berwarna hitam berhenti di depan pintu utama mansion yang sedikit tidak normal. Dikatakan tidak normal karena mansion itu berukuran terlalu besar untuk sebuah mansion yang dibangun di tengah kota.
Tiga orang pria berseragam hitam-hitam, turun dari mobil tersebut. Satu diantaranya bergegas membukakan pintu mobil bagian tengah, tempat sang penumpang istimewanya duduk.
"Silahkan, Tuan muda Cho Kyuhyun," kata pria berpakaian hitam itu sopan.
Yang namanya dipanggil, hanya melirik. Melepaskan fokusnya sebentar dari benda kesayangan. Benda tipis bernama PSP itu terpaksa dimatikan, lalu masuk ke dalam saku jaket untuk disimpan sementara. Pintu kayu mahoni yang sengaja di buka lebar-lebar, turut menyambut kedatangan sang Tuan Muda.
Manik karamelnya tidak sengaja menangkap sesuatu. Langkahnya terhenti.
Dua buah mobil yang terparkir di halaman, berhasil menarik perhatian si namja pucat. Bukan karena Kyuhyun terobsesi memiliki satu diantaranya. Hanya sibuk mencari alasan; mengapa dua mobil itu harus diparkir bersisian. Seakan tidak ada lagi tempat jika kedua mobil itu diletakkan agak jauh. Padahal halaman mansionnya tidak bisa dibilang kecil. Lalu apa alasannya ?
Kyuhyun tau, mobil berwarna abu mengkilap berdesain klasik itu milik siapa. Kyuhyun lebih dari sekedar tau. Itu milik Cho Yeunghwan.
Semua orang setuju jika Presdir utama kerajaan bisnis Cho adalah orang yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ayah dari Cho Kyuhyun itu hanya menginjakkan kakinya di rumah sekali dalam kurun waktu satu bulan. Lalu, apa yang di dapatkan Kyuhyun saat ini? Ayahnya berada di rumah, tepat pada pukul dua siang, waktu dimana biasanya para pebisnis kembali sibuk selepas santap siang.
Mungkin Kyuhyun tidak perlu mencari alasan dari pertanyaannya terlalu jauh. Karena jawaban atas pertanyaannya itu juga ada di depan matanya.
Audi putih yang terparkir di sebelah mobil Cho Yeunghwan adalah jawabannya. Seisi mansion tau, siapa pemilik Audi putih yang dalam dua minggu terakhir rutin parkir di halaman rumahnya, tepat di sebelah mobil Yeunghwan. Para maid yang berada di sana tidak pernah berhenti berbisik ketika mendapati sang pemilik Audi putih tiba di mansionnya.
Pemilik rambut ikal itu iri. Cho Kyuhyun iri, bahkan karena sebuah hal sepele. Hanya karena dirinya melihat dua mobil itu diparkir bersisian. Mereka yang tidak tau pasti akan mengatakan: Kyuhyun hanya terlalu berlebihan.
Jika saja mereka tau yang sebenarnya. Kyuhyun tidak pernah melihat mobil Yeunghwan terparkir lama di rumah. Hanya dalam setengah jam, setelahnya mobil berdesain klasik milik Appanya akan pergi lagi. Jangankan diparkir bersisian, layaknya dua mobil itu.
Khayalannya mungkin terlalu tinggi untuk berharap.
Setelah hoodie dinaikkan, Kyuhyun kembali melangkah. Menyembunyikan ikal-ikal coklat sekaligus menutupi wajah–terluka–miliknya. Beberapa pria berseragam hitam-hitam yang mengikuti langkahnya tak berani bertanya. Lebih dari dua tahun menjadi pengawal Cho Kyuhyun, membuat mereka tau kebiasaan sang Tuan muda.
.
.
.
Ada banyak jalan untuk menuju kamarnya. Entah dorongan darimana, hingga kakinya terus melangkah melewati lorong utama, tanpa bisa dicegah. Kyuhyun sudah mengalami berkali-kali, selama dua minggu terakhir. Sesuatu dalam rongga dadanya akan berdenyut sakit setiap kali melewati jalan ini. Tapi Kyuhyun tetap saja melakukannya. Dan akan berdiri lama di depan pintu sebuah ruangan. Ruang baca yang sering beralih fungsi menjadi ruang kerja.
Dulu, ketika Tuan muda Cho masih berusia lima, ruang itu adalah ruangan favoritenya. Kakeknya sering membuat pertemuan kecil di sana, untuk membicarakan bisnis. Kyuhyun senang menyelundup masuk. Bersembunyi di bawah meja kayu panjang dan mencuri kertas-kertas berisi nominal memusingkan. Kyuhyun tidak tau jika kertas yang ia curi adalah kertas penting. Kyuhyun kecil senang melipat kertas-kertas penting itu untuk dijadikan pesawat kertas.
Lalu, saat ahjussi–teman sang kakek berteriak panik karena kertasnya hilang, Kyuhyun akan keluar dari persembunyian. Memberikan pesawat kertas hasil lipatannya yang tidak rapi kepada sang kakek. Harabeoji Kim-nya hanya tertawa mendapati kenakalan cucu kesayangan. Pesawat kertas hasil lipatan Kyuhyun akan diambil dan Harabeoji Kim akan menggantinya dengan kertas yang lebih bagus. Kertas-kertas yang memiliki warna menarik bagi anak berusia lima tahun.
Sayangnya, itu tidak berlangsung lama. Ketika Harabeoji Kim jatuh sakit, kesenangannya terhenti. Tidak ada lagi acara melipat kertas dan kekehan gemas yang Kyuhyun senangi, karena ruang kerja diambil alih oleh Appanya.
Memang tidak pernah ada yang melarangnya masuk ke ruangan itu. Juga tidak ada yang mengomelinya berbuat apapun. Bahkan ketika Kyuhyun memulai semua kenakalannya. Kyuhyun hanya ingin mengajak Appanya yang mulai sibuk itu bermain. Tapi tidak, Kyuhyun tidak pernah mendapatkannya. Membuat Yeunghwan melihat ke arahnya pun sulit. Sampai akhirnya Kyuhyun kecil marah. Pajangan porselen penghias sudut-sudut meja, dibuang begitu saja. Dibanting sampai menimbulkan suara gaduh. Pecahan kaca bertebaran dimana-mana, menutupi lantai marmer hijau lumut.
Kegaduhan yang Kyuhyun buat mengundang semua maid berkumpul di depan ruang kerja Yeunghwan, mengawasi dan membujuk Tuan muda kecil mereka untuk berhenti. Kejadian itu berakhir ketika Kyuhyun menangis keras karena kesal. Meskipun begitu, Cho Yeunghwan masih fokus dengan kertas-kertasnya. Seakan tidak terjadi apapun di sana. Seakan tidak melihat Kyuhyun ada dalam ruang kerjanya. Juga tidak mempedulikan putra tunggalnya yang sudah meraung keras di tengah hamparan pecahan kaca yang siap menggores kulit lembut Kyuhyun, kapan saja.
Sejak saat itu, ruang kerja bukanlah ruang favoritenya lagi. Melainkan ruang yang paling ia benci. Dan setelahnya, tidak ada lagi anak kecil menggemaskan yang senang berlarian dalam rumah. Hanya ada Tuan muda Cho Kyuhyun yang kesepian.
"Siwon-ah, ini berkas proyek hotel kita di Jeju. Pelajarilah. Jangan ragu untuk menghubungiku jika mendapatkan kesulitan."
"Nde, Abeonim."
Kyuhyun tertawa pelan mendengarkan percakapan itu. Mengintip lewat celah pintu yang tidak tertutup sempurna adalah hal yang sering Kyuhyun lakukan akhir-akhir ini. Satu dari sekian banyak hal yang membuat hatinya sakit. Ya, sebut saja dirinya menguping. Tapi tidak pernah ada yang salah dengan itu. Ini rumahnya. Dan semua yang terjadi di rumahnya akan menjadi urusannya juga.
Apa yang mereka bicarakan tadi? 'Hotel kita'?
Sekaya apa namja gay-keparat itu, hingga Yeunghwan rela menukar anak satu-satunya demi memperoleh keuntungan? Tidak cukupkah harta yang sudah Yeunghwan miliki? Sampai-sampai, jika harta itu dibukukan pasti akan menghabiskan berlembar-lembar kertas.
.
"Oh.. nak, kau sudah pulang?" Yeunghwan menurunkan kacamata baca yang membingkai mata tuanya. Benda itu memang dapat menolongnya untuk melihat deret huruf dan angka, namun selalu menjadi penghalang pandangannya untuk menatap sang anak semata wayang.
Kyuhyun diam. Tidak ada yang tau jika kedua tangan si namja pucat terkepal di balik saku jaketnya.
"Annyeong, Kyuhyun-ah."
Seorang Choi Siwon tidak pernah melewatkan kesempatan. Memberi salam pada Kyuhyun ketika mereka bertemu, sudah menjadi hal wajib yang ada dalam hidupnya, baru-baru ini. Tak lupa senyum terbaik diberikan untuk calon pendamping hidupnya. Senyum yang sebenarnya membuat Kyuhyun merasa muak. Karena senyuman Siwon memiliki arti lain di mata Kyuhyun. Choi Siwon menertawakan hidupnya lewat senyum itu.
Kyuhyun tidak tau, harus bersyukur ataukah memaki, ketika mendengar Siwon memanggilnya 'Kyuhyun-ah'. Sejak dua minggu yang lalu, Siwon selalu memanggilnya dengan sebutan 'Baby'. Panggilan manis yang selalu membuat si namja kurus, bersumpah setiap kali dirinya mendengar Siwon memanggilnya 'Baby'. Bersumpah bahwa panggilan itu benar-benar menjijikkan.
Mungkin hari ini Choi Siwon sedang berbaik hati untuk tidak mempermalukan Kyuhyun di depan Appanya sendiri. Sehingga memilih untuk memanggilnya 'Kyuhyun-ah'.
"Kau ingin bergabung, nak? Kemarilah." Pertanyaan belum selesai menghampiri Kyuhyun.
Sofa mahal ditepuk lembut. Tuan besar Cho mengundang anak semata wayang untuk bergabung. Duduk diam di sisinya saja sudah lebih dari cukup untuk Yeunghwan.
"Cih! Kalian pikir aku sudi?" Manik karamel berputar jengah. "Jangan lupa tutup pintunya jika sedang bicara. Suara kalian membuatku muak!" Dan suara pintu yang dibanting menjadi penutup kalimatnya.
Yeunghwan membuang nafas kasar. "Tolong maafkan anakku, Siwon-ah. Kyuhyun kadang tidak bisa mengontrol kata-katanya jika sedang lelah."
"Gwaenchana, Abeonim. Aku bisa mengerti untuk itu."
Satu yang tidak pernah Kyuhyun tau, bahwa Yeunghwan akan selalu membelanya dalam keadaan apapun.
.
.
.
Suara indah lonceng yang berdentang, bagaikan suara terompet kematian di telinga Kyuhyun. Tuxedo putih bersih yang membalut tubuh kurusnya juga tidak membuatnya lebih baik. Ditambah dua orang yang sedang berbicara di dekatnya ini makin membuat seorang Cho Kyuhyun keringat dingin.
"Choi Siwon-ssi, bersediakah anda mengasihi dan menghormati istri anda, Cho Kyuhyun, sepanjang hidup?"
"Ya. Aku bersedia." Siwon menjawab dengan tenang. Meskipun begitu, nada tegas jelas sekali terdengar dalam kalimatnya.
"Cho Kyuhyun-ssi, bersediakah anda mengasihi dan menghormati suami anda, Choi Siwon, sepanjang hidup?"
Pria tua yang mengenakan jubah putih panjang, beralih dari Siwon. Pertanyaannya kali ini terarah pada Kyuhyun.
Kyuhyun tidak menjawab. Hanya memandang datar wajah renta di hadapannya. Dalam hati, Kyuhyun sibuk berdoa sendiri, agar segera terbangun dari mimpi buruk ini. Atau jika hal ini adalah sebuah kenyataan, Kyuhyun berdoa agar Tuhan mau mengabulkan doanya, untuk segera mencabut nyawanya saat ini juga.
"Cho Kyuhyun-ssi? Anda baik-baik saja?"
"H-huh?"
Gumaman itu menjelaskan bahwa sang namja pucat sedang tidak konsentrasi. Pikirannya sibuk mengembara entah kemana. Kyuhyun bahkan tidak sadar, sedang berada dimana dirinya sekarang. Tatapan matanya pun kosong.
Pendeta Park menghela nafas sejenak. Ia paham. Tidak hanya kali ini, pendeta Park sudah banyak mendapatkan hal serupa, dimana pasangan pengantin seperti sedang melamun. Sebagian dari pasangan pengantin akan mengalami hal itu. Mereka hanya gugup atau bahkan terlalu bahagia karena akhirnya bisa menikah dengan orang yang mereka cintai.
"Cho Kyuhyun-ssi, bersediakah anda mengasihi dan menghormati suami anda, Choi Siwon, sepanjang hidup?" ulangnya.
Kepala dengan ikal-ikal menawan sejenak menoleh. Di sisi kanannya ada si namja gay yang hampir merusak hidupnya. Sedang menatap Kyuhyun dengan senyum khasnya. Juga menanti Kyuhyun menjawab pertanyaan yang sama yang sudah ia jawab sebelumnya.
Demi mobilnya!
Kyuhyun mengangguk kaku.
Pendeta Park tersenyum maklum. "Tolong jawab dengan jelas, Cho Kyuhyun-ssi. Para hadirin dan calon suami anda sangat menantikannya."
'Para hadirin' yang dimaksud pendeta Park adalah segelintir orang yang datang ke acara pernikahannya sebagai saksi. Mereka adalah Cho Yeunghwan, Choi Seunghyun dan satu pria lain yang Kyuhyun tidak ingat namanya. Wajahnya berbentuk hati dengan kulit lebih coklat dari pada Siwon. Entahlah, Kyuhyun tidak peduli. Juga ada beberapa bodyguard Yeunghwan. Tapi mereka tidak terhitung, karena hanya berdiri di depan pintu. Berjaga-jaga jika ada peliput berita yang tiba-tiba muncul karena mengetahui Cho Yeunghwan sang pebisnis nomor satu datang dalam sebuah pernikahan tertutup.
"Nak, tariklah nafas perlahan jika kau gugup." Pendeta Park berujar dengan nada bersahabat. Mendapati salah satu pengantin diam bergeming membuatnya sedikit khawatir.
Kyuhyun menurut. Menarik nafasnya dalam-dalam sebelum dihembuskan perlahan. Menanti ajalnya yang sebentar lagi akan datang.
"Cho Kyuhyun-ssi, bersediakah anda mengasihi dan menghormati suami anda, Choi Siwon, sepanjang hidup?" ulangnya untuk yang terakhir.
"Ya. B-bersedia."
Semua orang menghela nafas lega mendengar jawaban dari Kyuhyun. Terutama dia, yang bernama Choi Siwon.
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Pengantin pria–umm, maksudku, pihak suami sudah diperbolehkan untuk mencium istrinya."
Namja pucat tersentak. Kalimat pendeta Park bagaikan godam besar yang menghantam kepalanya. Menghancurkan semua tulangnya hingga ke persendian.
Sialan! Kyuhyun melupakan hal itu. Hal sepele yang merupakan rangkaian acara pernikahan. Tidak, sampai matipun Kyuhyun tidak akan pernah rela dicium oleh Siwon.
Si tampan dengan senyum khas tidak sudi menunggu lama. Tangan besarnya bergerak perlahan. Menggenggam jemari putih Kyuhyun, mengelus lembut punggung tangan Kyuhyun dengan ibu jarinya. Siwon tersenyum bahagia melihat platina bundar melingkar dengan sangat indah di jari manis Kyuhyun. Cincin yang sama dengan cincin yang ia kenakan. Cincin pernikahannya, pernikahan mereka.
Pandangan mata mereka bertemu. Kyuhyun mulai kesulitan menghirup udara. Tubuhnya menegang seketika, begitu menyadari tangan kanannya berada dalam genggaman erat Siwon. Namun mencoba untuk tetap tenang. Setidaknya, pilihan Siwon untuk mengecup punggung tangannya terasa lebih baik daripada Siwon harus menciumnya.
"Mulai hari ini, kau milikku. Aku akan menjagamu dengan sepenuh jiwaku". Meskipun Siwon berucap lirih, Kyuhyun tetap bisa mendengarnya. Kalimat itu terdengar seperti sebuah janji.
Tidak, ini bukan bagian dari sandiwara yang sudah mereka rencanakan. Terlebih tidak ada seorangpun yang mendengarnya, kecuali Kyuhyun. Jadi apa maksud Siwon mengatakan itu ?
Saat Siwon merunduk, saat itu juga Kyuhyun merasakan tangannya ditarik. Menutup matanya rapat-rapat mungkin adalah pilihan terbaik. Tidak sanggup melihat tangannya dikecup, terlebih oleh seorang namja. Biasanya, dialah yang akan mengecup punggung tangan seseorang. Yeoja, tentu saja. Ini hal kedua yang sangat memalukan yang terjadi pada hidupnya, selain menikah dengan sesama namja dan..
Chup
Sesuatu yang kenyal menempel dipermukaan kissable miliknya. Bersentuhan lembut dan hangat. Hanya menempel, tidak lebih. Tapi apa itu?
Manik karamel langsung membelalak lebar, disuguhi senyum joker yang sangat menawan.
Keparat! Namja kurang ajar itu baru saja mengecup bibirnya, bukan punggung tangannya.
"BRENGSEK!" teriaknya kaget. Makiannya terdengar hingga ke lorong-lorong gereja.
Bruk
"Aww". Siwon meringis sambil memegangi kakinya yang barusaja ditendang oleh Kyuhyun, tepat di tulang keringnya. Namun Siwon tidak pernah menyesal melakukannya.
END
Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. Tamat. #plak
Indahnya kl bisa nulis 3 huruf di atas, 'END'. Tapi sayang, Alya gak sebaik itu. Masih banyak yang mau Alya ceritain sama readers2 tersayang tentang pasangan paling Fenomeneul kita ini. Haha! #ketawaevil.
Akhir kata, tulisan 'END' di atas, Alya ganti jadi...
.
TBC
.
Happy weekend, yeorobun. Annyeong.. :*
21/November/2015. AlyaFarah.
