Chapter 6
Warning: WonKyu, Chaptered, Slash, Mpreg, OOC, AU, Typo(s)
Disclaimer: This story is mine.
Selamat membaca #kecup
.
oooOoooOooo
.
Kyuhyun berguling ke samping. Diam sejenak. Matanya berkedip-kedip beberapa saat. Membiasakan matanya yang sudah berjam-jam terpejam untuk membuka. Dia baru tersadar dari lelap.
Hal pertama yang ditemukan ketika matanya terbuka adalah gelap.
Dia memindai sekali lagi. Kyuhyun berada di dalam sebuah ruangan gelap saat ini. Dalam sebuah kamar yang gelap. Mendesah kesal. Karena dia berada di kamar milik Siwon. Bukan kamarnya sendiri.
Dalam hati kecilnya, Kyuhyun masih berharap besar, bahwa yang terjadi kepadanya hanyalah sebuah mimpi. Tapi sayangnya itu adalah kenyataan. Choi Siwon adalah bagian kecil dari hidupnya sekarang. Sebuah kenyataan yang benar-benar harus diterimanya.
Harus.
Ingin rasanya Kyuhyun terjebak dalam sebuah mimpi. Dimana dalam mimpi itu tidak ada orang yang bernama Siwon dan Cho Yeunghwan. Atau mungkin dalam mimpi itu Kyuhyun tidak ditakdirkan untuk menjadi putra sang Tuan Cho yang Agung. Hanya menjadi orang biasa yang memiliki dua orang tua baik hati yang amat menyayanginya. Bagi Kyuhyun itu cukup. Walaupun harus hidup dalam keterbatasan sekalipun.
Pasti sangat indah. Kyuhyun rela terjebak dalam mimpi itu berapapun lamanya.
Meskipun itu semu.
Kyuhyun menguap. Menggaruk kepalanya sedikit kasar. Hingga ikal-ikal coklat menggemaskan yang sedikit berantakan di atas kepalanya menjadi makin kusut. Juga sedikit meregangkan tubuhnya sambil menggeram kecil. Melakukan kebiasaan banyak orang ketika bangun tidur.
Kyuhyun beranjak, duduk bersandar pada kepala ranjang. Mengambil salah satu bantal yang tersisa untuk dia peluk. Tangannya mengusak matanya sekali lagi.
Hanya iseng. Kyuhyun menoleh ke samping, ke sisi lain tempat tidurnya.
Kosong.
Tidak ada seseorang di sana.
Mungkin Kyuhyun terbangun di tengah malam. Dan si pria aneh, teman sekamarnya, masih belum pulang. Atau.. entahlah.
Tapi tiba-tiba saja perasaannya tidak enak, terkait seseorang yang baru saja diingatnya.
"Astaga!"
Tanpa sadar, Kyuhyun memekik. Karena terlalu terkejut.
Ternyata, di dalam kamar ini, dia tidak sendiri. Ada orang lain juga. Sedang duduk diam di sudut kamar. Dalam kegelapan. Tersungging senyum sambil menatap ke arahnya.
Bahkan dalam gelap pun Kyuhyun bisa melihat orang itu tersenyum. Benar-benar menyeramkan.
"Selamat pagi," orang itu menyapa lembut. "Apa tidurmu nyenyak?"
Kyuhyun menghela nafasnya yang tercekat. "Sialan! Apa yang kau lakukan di sana, keparat?"
Dalam keadaan biasa saja, Kyuhyun senang sekali memaki. Apalagi sekarang, ketika ia sedang terkejut. Jadi, bukan salahnya.
"Aku hanya sedang duduk."
Orang itu bergeser, tangannya menggapai lampu tidur di meja nakas. Kamar langsung mendapat pencahayaan, walaupun minim. Kyuhyun jadi bisa melihat dengan jelas, bahwa seseorang yang sedang bersamanya adalah Siwon.
Isi kepala Kyuhyun berputar cepat. Lalu memandang Siwon penuh curiga.
Apa yang sedang dilakukan Siwon? Sudah berapa lama dia duduk di sana? Apakah Siwon melihat semua yang Kyuhyun lakukan sejak tadi?
Itu adalah serentetan pertanyaan Kyuhyun yang tidak mampu diucapkan.
"Oh, jantungku." Kyuhyun menggerutu dengan suara parau.
"Apa aku membuatmu kaget?"
Tidak perlu bertanya, keparat! "Kau memang sengaja melakukannya." Dia menuding Siwon.
"Ini waktunya sarapan, sayang. Dan aku harus membangunkanmu. Tapi tidurmu nyenyak sekali." Jeda, Siwon kembali tersenyum. "Jadi aku duduk di sini.. menunggumu bangun." Siwon berpindah duduk di tepi ranjang, agar bisa lebih dekat dengan si pucat yang baru saja bangun.
Buru-buru Kyuhyun meraba wajahnya, menghapus sisa-sisa mimpi semalam. Pasti wajahnya sangat berantakan, pikirnya. Pergerakan tangannya tiba-tiba berhenti ketika merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit wajahnya.
Betapa terkejutnya dia saat menemukan sebuah platina bundar melingkar di jari manis kirinya. Itu cincin pernikahan–sialannya. Lalu kenapa bisa ada di jarinya? Kyuhyun benar-benar ingat jika dia sudah melemparnya entah kemana sesampainya di rumah Siwon.
"Aku menemukannya di kamar mandi. Sepertinya kau lupa memakainya lagi." Seperti bisa membaca isi kepalanya, Siwon menjelaskan sesuatu yang mungkin membuat babyKyunya bingung.
Tentu saja Kyuhyun segera melepaskan cincinnya. Melemparnya pada Siwon, yang langsung ditangkap dengan sigap.
"Dengar! Aku sama sekali tidak sudi memakainya. Buang saja!"
Lalu tanpa merasa bersalah sedikitpun, si pucat melangkah ke kamar mandi. Meninggalkan Siwon yang masih terdiam, memandang sedih pada cincin yang tadi dilempar oleh Kyuhyun.
"Bersabarlah, suatu hari nanti kau akan kembali pada pemilikmu. Aku berjanji. Untuk sementara aku akan menyimpanmu di tempat yang aman," ucapnya seakan-akan cincin itu bisa menangis. Siwon mengecup cincin milik Kyuhyun sebelum menyimpannya dalam sebuah kotak mungil berlapis beludru biru.
Yeah, pada kenyataannya memang Choi Siwon memang sedikit berlebihan.
.
Ini adalah hari ketiga Kyuhyun berada di rumah Siwon. Salahkan kebiasaan tidurnya yang buruk, hingga Kyuhyun sering kali bangun siang. Begitu pula dengan dua hari kemarin, Kyuhyun juga tidak ikut sarapan bersama, karena kesiangan.
Telinganya menangkap kegaduhan kecil. Namun Kyuhyun meneruskan langkahnya menuju ruang makan. Sedikit terkejut, karena dalam meja makan yang sedikit panjang itu sudah diisi oleh lima orang, yang sedang menunggunya–mungkin.
Kyuhyun terbiasa makan sendiri di mansionnya yang besar. Makan dalam suasana hening, tanpa ditemani siapapun. Mungkin hanya ada seorang maid yang akan berdiri di belakangnya, berjaga-jaga jika Kyuhyun memerlukan sesuatu. Tentu saja tidak berarti apa-apa, pelayan itu hanya akan berdiri di belakang Kyuhyun, tanpa bergerak, tanpa bersuara. Bagaikan patung.
Tapi siapa sangka jika pagi ini dia akan sarapan dengan keadaan seramai ini.
"Selamat pagi, Kyuhyun-ah." Sebagai kepala keluarga dan Hyung tertua, Seunghyun berkesempatan pertama untuk menyapa Kyuhyun. Lalu yang lain mengikuti, termasuk si kecil Moonbin yang malah memainkan liurnya.
"Hm." Kyuhyun bergumam singkat. Dagunya naik sedikit, mendongak sombong seperti biasa. Mengira dirinya masih berada di rumah, masih menjadi Tuan Muda Cho Kyuhyun yang Agung.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, aku akan memulai. Sebelumnya, kita akan membaca doa, bersyukur kepada Tuhan karena sudah memberikan kita makanan yang lezat ini. Berdoa.."
Ini konyol.
Tentu hal konyol bagi Kyuhyun. Karena dia tidak pernah sekalipun memulai sarapan atau mengawali kegiatan makannya dengan sebuah doa.
Satu alis Kyuhyun naik. Dia memandang tidak percaya. Lalu mulai menatap satu persatu yang ada di sana dengan heran. Semuanya memejamkan mata sambil menangkupkan tangan. Juga pada namja tampan yang duduk di sebelah kirinya, yang berdoa paling khusyuk.
Mungkin hanya dirinya yang tidak berdoa. Ah, tidak. Ternyata ada satu orang lagi. Dia Moonbin, yang sibuk menatap Kyuhyun berbinar sambil memainkan sendok karetnya, mengetuk-ngetukkannya ke meja makan.
"Amin. Selamat makan." Seunghyun mengakhiri doanya, dan mulai menyantap sarapannya.
Siwon tidak jadi menyuap makanannya, dan lebih tertarik memperhatikan Kyuhyun yang sibuk sendiri dengan sarapannya. Pemuda berkulit pucat itu sedang berusaha keras menyingkirkan sesuatu yang terjepit di tengah-tengah roti isinya.
"Ada apa, Kyu ?"
Pertanyaan Siwon diacuhkan. Ujung garpu Kyuhyun masih sibuk mencongkel. Setelah menghabiskan beberapa detik, akhirnya Kyuhyun mendapatkan target sasarannya, selembar selada segar yang berhasil diringkus. Selada segar nan malang, yang tergantung pasrah tak berdaya di ujung garpu mengkilat di tangan Kyuhyun. Satu tangannya yang lain sudah bertengger di ujung hidung. Menjepit hidung mancungnya dan membuat seraut wajah jijik.
"Aku tidak makan benda ini," jelas Kyuhyun setelah membuang selada malangnya, mencampakkannya di atas piring Siwon.
"Benda ini yang kau maksud bernama selada, Baby." Siwon mengoreksi.
"Terserah. Selada atau cemara, aku tidak peduli. Yang jelas, aku tidak makan semua makhluk hijau yang menjijikan."
"Maksudmu sayuran?" tanya Siwon, mengoreksi perkataan Kyuhyun sekali lagi.
"Apapun namanya, yang jelas mereka menjijikan."
Siwon tersenyum geli melihat wajah Kyuhyun yang mengerut jijik, seakan mereka sedang membicarakan seekor hewan berlendir yang melata di tanah.
"Tapi sayuran itu sehat untukmu, baby."
"Sudah kukatakan tidak! Kenapa kau memaksa, huh?!"
Lima pasang mata lain beralih, dari sarapannya ke pasangan pengantin baru yang sedang berdebat kecil. Pandangan mereka berpindah-pindah, antara Kyuhyun dan Siwon, walaupun mulut mereka masih sibuk mengunyah.
"Aku tidak memaksamu, sayang." Mengangkat bahunya sedikit, Siwon berkata lembut seakan menyerah. "Aku hanya mencoba memberitahumu, jika sayuran itu sangat bagus untuk kulit. Dan bagus untuk kesehatanmu," katanya peduli.
"Jadi kau mengatakan aku tidak sehat, begitu?" Kyuhyun memekik. Dia mudah tersinggung jika sudah membicarakan tentang tubuhnya.
Siwon menggeleng, tidak mengerti kemana jalan pikiran Kyuhyun. "Hei, bukan itu maksudku, Kyu." Menghela nafas menyerah, lalu Siwon melanjutkan kalimatnya. "Baiklah, mulai besok tidak akan ada makhluk hijau menjijikan lagi di atas piringmu. Aku yang akan menjaminnya. Sekarang habiskan sarapanmu, sebelum makanannya dingin."
Kyuhyun mendengus. "Kenapa kau senang sekali membuatku marah, sih?" gerutunya kesal.
Victoria dan Jaejoong bertatapan dengan suami mereka masing-masing. Tersenyum geli melihat pertengkaran manis pagi ini. Ternyata cukup sulit menghadapi seorang Choi Kyuhyun. Untung saja suami si namja pucat bukanlah orang yang mudah tersulut emosi.
.
.
.
Sepasang Doe eyes milik Jaejoong terus bergerak. Matanya terus mengikuti benda yang tidak berhenti bergerak di depannya. "Bagaimana, Siwon-ah?" tanya Jaejoong khawatir.
"Dia sama sekali tidak menjawab panggilanku, hyung."
Pria bertubuh atletis itu kembali pada kegiatan yang sedang dilakukannya. Bila dilihat dari wajahnya, Jaejoong tau jika adik iparnya yang tampan sedang frustasi. Sudah hampir dua jam Siwon terus melakukan hal yang sama, mondar-mandir dengan cemas. Juga sibuk dengan benda di tangannya. Setiap beberapa menit sekali, Siwon terus melihat ponselnya, memastikan sesuatu. Atau lebih tepatnya mencoba menghubugi seseorang.
"Mungkin kau harus menjemputnya, Siwon-ah," kata Jaejoong memberi saran.
Siwon menghela nafas berat. Jaejoong benar, tapi jika Siwon melakukan hal itu, mungkin ia tidak akan melihat namja pucat tercintanya itu lagi di rumah ini.
"Tidak, hyung. Kyuhyun sudah mengancamku sebelum pergi. Aahhh, eottohkae?!", jeritnya frustasi.
Benar. Mereka sedang membicarakan seorang namja pucat yang senang sekali membuat orang-orang di sekitarnya khawatir. Siapa lagi jika bukan Cho-i Kyuhyun.
"Tapi ini sudah terlalu malam, Siwon-ah."
Siwon tersenyum lembut. "Ya, benar. Ini sudah terlalu malam. Istirahatlah, hyung. Moonbin dan Yunho hyung pasti sudah menunggumu," timpalnya. Tidak ingin mengganggu jam istirahat Jaejoong.
"Tapi–"
"Aku akan langsung menjemputnya jika lebih dari lima belas menit Kyuhyun tidak juga menjawab panggilanku."
"Apa tidak apa-apa?"
"Gwaenchana, hyung. Tenang saja."
"Baiklah. Tapi beritahu aku jika Kyuhyun-ah sudah pulang, ne."
"Tentu, hyung. Sekarang istirahatlah."
.
Kyuhyun mengambil ponselnya yang bergetar. Entah sudah berapa kali bergetar dalam satu jam terakhir. Dua puluh tiga panggilan tidak terjawab dan tiga pesan masuk. Semuanya berasal dari satu nomor yang sama.
Kyu, sudah jam berapa ini? Apa kau lupa jalan pulang? Aku bisa menjemputmu jika kau perlu tumpangan. Kirimkan saja alamatnya.
Itu pesan dari Siwon.
Kyuhyun kembali melihat sekeliling. Ia baru saja selesai melakukan test drive pada mobil yang akan ia gunakan untuk balapan minggu depan. Masih ada beberapa bagian yang masih perlu di setting, dan Jungshin sedang mengerjakannya. Ada Minhyuk yang masih berkutat dengan laptopnya untuk mengerjakan design eksterior. Sedangkan Jonghyun bersama dua orang temannya masih membongkar sesuatu di bagian bawah mobil, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Jungshin. Dengan kata lain, semua orang masih sibuk sekarang.
Itulah pekerjaaan seorang Cho Kyuhyun–jika ada yang ingin tau.
Sudah hampir tiga tahun Kyuhyun bergabung dengan Code Blue. Awalnya Kyuhyun mengenal Jungshin, sang pemilik Code Blue, dari sahabat–keparatnya, Jung Yonghwa. Dan berkatnya juga, Kyuhyun bisa menemukan hobinya. Bukan hanya sekedar hobi sebenarnya, Kyuhyun mendapatkan semuanya disini; pekerjaan yang menyenangkan, kesenangan baru dan sebuah keluarga.
Bahkan Kyuhyun lebih bahagia di sini, dibanding berada di rumahnya sendiri.
Code Blue adalah sebuah bengkel yang didirikan oleh Jungshin sekitar lima tahun yang lalu. Awalnya bengkel milik Jungshin hanyalah sebuah bengkel kecil yang hanya memiliki satu orang pegawai, yaitu Jonghyun, sebagai montir, seorang montir tampan. Dan ada adiknya (Jungshin) yang senang mendesain, yang tentu sangat membantu pekerjaannya, dia Minhyuk.
Tapi sejak mengenal Kyuhyun, mereka saling bersimbiosis mutualisme. Sejak Kyuhyun bergabung, banyak tawaran datang. Banyak pengusaha atau anak-anak dari para pebisnis yang berminat membongkar-pasang mobil mereka, menjadikannya mobil balap rakitan.
Entah karena beruntung atau memang berbakat, posisi Kyuhyun di Code Blue adalah sebagai garis akhir. Dia bertugas untuk memutuskan mobil tersebut sudah layak atau belum. Jika di dalam pabrik mobil sungguhan, posisi itu biasa disebut sebagai penguji mutu. Kyuhyulah orang yang akan menentukan mobilnya sudah selesai di reparasi atau bahkan harus dibongkar untuk kembali dirakit ulang. Jungshin memberikan kewenangan itu sepenuhnya pada Kyuhyun. Karena mereka adalah sebuah bengkel, bukanlah sebuah pabrik, maka mobil yang mereka kerjakan hanya akan dibuat berdasarkan permintaan pelanggan. Tidak ada standar khusus.
Sejauh ini, belum pernah ada satu pelangganpun yang kecewa dengan penilaian Kyuhyun terhadap mobil yang mereka pesan. Meskipun begitu, Code Blue tidak selalu menerima semua tawaran yang datang. Mereka melakukan seleksi ketat. Hanya yang ingin menyalurkan hobi saja yang akan diterima. Sisanya mungkin harus kecewa, karena ditolak. Apalagi yang berniat untuk menyalahgunakannya.
Ponselnya kembali bergetar, membuyarkan semua lamunan Kyuhyun.
Panggilan dari Siwon.
Kyuhyun berdecih. Kesal pada Siwon yang selalu punya cara untuk mengganggu semua kesenangannya, dengan cara apapun, tanpa kenal menyerah. Ingin sekali Kyuhyun melemparkan dongkrak pada pria gila yang terus mengganggu hidupnya itu.
"Ky-"
"Berisik! Ya, ya, aku akan pulang. Kau puas?" potong Kyuhyun begitu mengangkat panggilannya.
Sebenarnya pekerjaannya belum selesai. Tapi memang sebaiknya Kyuhyun menyudahi, karena mau diteruskan seperti apapun mobil itu tidak akan selesai dikerjakan malam ini.
"Jungshin, aku harus pulang sekarang," pamit Kyuhyun, sebelum Siwon menerornya lebih dari sebuah panggilan.
Jungshin dan Jonghyun langsung menghentikan pekerjaannya setelah mendengar suara Kyuhyun.
"Pulang?" tanya Jungshin heran. "Kau tidak menginap saja? Ini sudah malam."
Sejenak melirik jam besar yang menggantung di dinding. Hampir jam satu malam. Tapi Kyuhyun sudah terlanjur berjanji pada Siwon akan pulang. Siwon sudah mengancam akan menyeretnya pulang jika Kyuhyun tidak menepati janji.
"Tidak. Aku pulang saja." Sebenarnya Kyuhyun benci mengatakan itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia terpaksa melakukannya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu." Jungshin langsung meninggalkan pekerjaannya, kemudian mengambil kunci mobilnya.
"Tidak, hyung. Aku pulang sendiri."
.
Saluran televisi yang diganti-ganti dengan brutal itu adalah ulah Siwon untuk mengalihkan rasa cemasnya. Hampir satu jam ia menunggu Kyuhyun pulang. Harusnya Kyuhyun hanya memerlukan waktu empat puluh menit untuk sampai. Apakah Kyuhyun kesulitan mencari kendaraan untuk pulang? Ataukah terjadi sesuatu padanya?
Siwon langsung bangkit dari duduknya ketika mendengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang. Itu pasti Kyuhyun.
Kyuhyun masuk tanpa mengucap sepatah katapun. Wajah kesal Siwon adalah hal pertama yang dilihatnya. Menyambut kepulangannya.
"Kemana saja, Kyu? Kenapa baru pulang selarut ini?"
Kyuhyun terus berjalan, menyeret langkah lelahnya. Menghiraukan Siwon yang mengomel di belakang. Andai saja tidak lelah, Kyuhyun pasti akan menanggapi ocehan Siwon. Sayangnya Kyuhyun sudah tidak punya tenaga lagi.
Siwon mengalah dan mengikuti Kyuhyun ke kamar.
"Cepat mandi! Kau bau oli," suruhnya. Tak lupa menyodorkan satu setel baju hangat untuk pakaian ganti Kyuhyun.
.
Ketika Kyuhyun keluar dari kamar mandi, kamarnya–bersama Siwon–sudah dalam keadaan gelap. Hanya satu lampu tidur yang masih menyala. Siwon belum tidur. Namja gay itu masih duduk di atas ranjang, serius membaca sebuah buku yang sangat-sangat tebal.
Kyuhyun nyaris terbahak begitu menyadari bahwa benda yang berada di tangan Siwon adalah sebuah Bible. Mungkin Siwon rajin membaca Bible untuk meminta pengampunan pada Tuhan karena ia adalah seorang gay, pikir Kyuhyun jahat.
"Apa yang kau lakukan, Kyu?" tanya Siwon tanpa melepas pandangan dari Bible di tangannya.
Sebenarnya Siwon cukup mengerti maksud Kyuhyun menarik bantal beserta bed cover yang sedang ia pakai kemudian berjalan acuh menuju sofa.
"Kalau kau berpikir aku ingin tidur, kau bodoh, Choi. Aku ingin pergi ke pesta," sahutnya jengah.
Siwon mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun yang sudah merebahkan diri. Berbaring di sofa yang tidak bisa menampung semua tubuhnya. Sofa itu begitu kecil, Kyuhyun sampai harus menekuk kakinya dan tidur sedikit melingkar.
"Kenapa tidur di sofa, hm? Kau takut tidur di sampingku?" Tidak ada cara lain untuk menghadapi Kyuhyunnya yang keras kepala. Bahkan Siwon harus membuat keributan kecil hanya untuk meminta Kyuhyun beristirahat dengan benar. "Kyuhyun?" panggilnya lagi karena tidak mendapat respon.
Si pucat tidak menjawab. Walaupun telinganya sangat panas mendengar Siwon meremehkannya seperti itu. Tidak ada apapun yang Kyuhyun takuti di dunia ini. Tidak mungkin seorang namja–yang juga mencintai namja–bisa membuatnya takut. Kyuhyun hanya tidak mau bangun besok pagi dengan keadaan yang sangat menjijikan, seperti kemarin.
Katakan padanya, bagian mana yang tidak menjijikan begitu kemarin ia membuka mata dan menyadari bahwa keningnya menempel di dada bidang milik Siwon yang masih terlelap sambil memeluk pinggangnya erat-erat.
Mereka tidur sambil berpelukan.
Ralat. Hanya Siwon yang memeluknya. Karena Kyuhyun tidak akan pernah sudi melakukan hal yang sama. Kyuhyun lebih memilih mati dari pada dipaksa melakukannya.
"Baby, kau mendengarku?"
Kyuhyun meremang ketika menyadari suara Siwon terdengar dari belakang tubuhnya yang sengaja tidur menghadap ke sandaran sofa. Kyuhyun merapatkan matanya seolah sudah tertidur.
"Apa yang kau takutkan?"
Kyuhyun nyaris tidak bernafas ketika tangan Siwon memainkan rambut di pucuk kepalanya.
"Apa kau takut aku menciummu?" Dengan sengaja Siwon meniup telinga Kyuhyun. Menggoda Kyuhyun memang selalu menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan.
Sudah cukup. "Menjauh dariku, kau gay sialan!" makinya marah.
Siwon terkekeh senang karena usahanya berhasil. "Tidur di ranjang, atau aku akan melakukannya saat ini juga. Malam pertama kita yang tertunda."
"Enyah kau, Choi!" Kyuhyun berteriak, tidak peduli jika teriakannya terdengar hingga ke ruang tamu. "Bisakah kau pergi dari hidupku? Aku hanya ingin tidur," pintanya dengan suara lemah. Ini sudah terlalu malam, tubuhnya sudah sangat lelah.
Melihat Kyuhyun yang seperti ingin menangis, Siwon langsung menjauhkan tubuhnya. "Aku tidak mengganggumu. Aku hanya memintamu untuk tidur di ranjang. Kurasa aku mengatakannya cukup jelas."
Melihat Kyuhyun yang masih bergeming, Siwon beralih duduk di sofa yang tadi di tempati Kyuhyun. Kembali membaca Biblenya sambil menunggu Kyuhyun pindah ke atas ranjang.
Tidak memerlukan waktu yang lama. Karena setelah Kyuhyun merebahkan tubuhnya di ranjang, namja pucat itu langsung jatuh tertidur.
Ketika Siwon mengakhiri bacaannya, namja tampan itu tersenyum. Melihat Kyuhyun tidur dengan nyenyak adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Dengan hati-hati Siwon merebahkan tubuhnya di samping malaikatnya.
"Jaljayo, sayang." Siwon mengelus lingkaran hitam samar yang menghiasi mata kekasihnya. "Semoga bermimpi indah." Sebuah kecupan mengakhiri skinshipnya dengan Kyuhyun hari ini.
.
.
.
Siwon selalu menyukai pagi. Selain dipenuhi udara bersih untuk kesehatan paru-parunya, akan ada banyak hal yang bisa Siwon lakukan untuk memulai hari. Satu hal paling penting yang membuat Siwon menyukai pagi adalah ketika menemukan wajah pucat yang asik tertidur di sampingnya. Jika sudah begitu Siwon bisa lupa waktu, bahkan Siwon bisa melupakan olahraga rutinnya yang selalu ia lakukan tiap pagi.
Choi bungsu terkekeh ketika menemukan ada yang sedang bergelung dalam buntalan selimut, seperti ulat bulu dalam kepompong. Pantas saja pagi ini dingin sekali. Rupanya BabyKyu tercintanya memboikot selimut untuk dirinya sendiri.
Perlahan, Siwon membuka buntalan itu. Tak sabar mendapat wajah pucat yang masih asik terlelap dalam mimpinya.
"Baby?" Senyum berhias cekungan yang membelah sepasang pipinya menghilang. Berganti menjadi raut khawatir yang kentara. Siwon sampai tidak sadar jika dirinya berteriak. "Baby, Gwaenchana?"
Yang pertama kali didapat ketika selimutnya terbuka yaitu, Kyuhyun dengan wajah memerah. Bernafas putus-putus seperti ada sesuatu yang mengganjal di ujung paru-parunya.
Tangan besarnya bergerak cepat di atas kening yang tertutup ikal-ikal coklat berantakan. Siwon mendapatkan jawabannya di sana. Alasan kenapa BabyKyunya terlihat berbeda pagi ini.
"Ya Tuhan, Baby.. kau demam."
Dalam sekejap kesadarannya penuh, dan rasa kantuknya seketika menghilang. Seperti orang kesetanan, Siwon berlarian kesana kemari, meraih mantel panjang miliknya juga kunci mobil.
Si pucat mengerang ketika merasakan sepasang tangan kokoh menyusup masuk ke bawah tubuhnya yang masih berbaring di atas ranjang. Kyuhyun tau tangan siapa itu.
"Apa yang kau lakukan, Choi!" Kyuhyun memaki, bukan bertanya, walaupun makiannya terdengar lemah.
"Membawamu ke dokter, sayang. Apalagi?"
"Hentikan," perintahnya. Jemari pucat yang ramping mengusap lembut pelipisnya yang terasa berdenyut. Membuat gerakan memutar untuk sedikit memijatnya. Raut wajah Siwon makin buruk ketika melihat Kyuhyun mengernyit dengan mata terpejam. Seperti ikut merasakan sakitnya.
"Tapi, Baby.. kita harus segera ke dokter, sebelum demammu bertambah parah."
"Jangan berlebihan! Aku hanya demam, bukannya sedang sekarat." Kyuhyun melempar asal ponselnya pada Siwon. "Cepat hubungi dokterku," titahnya.
Jemari Siwon yang bergerak bingung di atas permukaan datar ponsel Kyuhyun seketika berhenti saat menyadari kalimat yang Kyuhyun ucapkan, tentang..
"Apa maksudmu dengan 'dokterku', Kyu?" Ada nada terganggu dari pertanyaan yang Siwon ucapkan. Sepertinya si tampan memang terjangkit penyakit posesif berleihan pada Kyuhyun akhir-akhir ini.
Berdecih meremehkan seperti biasa. "Kau pikir aku sudi datang ke klinik pinggir jalan, huh? Aku punya dokter pribadi sejak bayi, kau tau?" Kyuhyun kembali mengerang kecil setelah bersungut kesal.
Penjelasan penuh kesombongan yang Kyuhyun tuturkan, langsung diproses cepat. Jika si pucat sudah memiliki dokter sejak bayi, itu artinya seseorang yang disebut 'dokterku' oleh Kyuhyun, sudah berusia lanjut sekarang.
Lengkungan samar tergaris di sudut bibir Siwon. Entah kenapa merasa sangat bahagia dengan kesimpulannya sendiri. "Arraseo. Akan segera ku hubungi. Bertahanlah sayang," ucap Siwon berlebihan dengan tepukan sayang di pucuk kepala Kyuhyun.
"Tidak. Jangan hubungi dokterku!" cegah Kyuhyun tiba-tiba. Kepala berdenyutnya yang terisi segumpal otak cerdas, untungnya masih bisa digunakan dengan baik.
Rahasia terkutuknya pasti akan terbongkar jika dokter Lee datang ke rumah Siwon dan menemukan Kyuhyun sedang tergeletak tak berdaya di ranjang milik seorang namja gila. Meskipun sedang dalam keadaan darurat, Kyuhyun harus selalu berhati-hati. Tidak boleh ada yang mengetahui tentang kenyataan memalukan ini, kecuali Appanya yang memang juga sudah gila.
"Belikan saja aku obat."
Siwon sudah bersiap pergi, tapi duduk kembali ketika Kyuhyun berujar konyol saat meneruskan kalimatnya.
"Di rumah sakit."
.
Berjalan mengendap-endap bagai pencuri yang sedang beraksi di tengah malam. Siwon sampai harus berjinjit. Suara derit pelan, hasil dari pintu kamarnya yang ditutup, rupanya cukup mengusik seseorang yang sedang terbaring lemah di atas ranjangnya.
"Baby.." panggilnya nyaris tanpa suara. Antara tidak tega membangunkan Kyuhyun dan kewajibannya menyelamatkan Kyuhyun, dengan membantunya minum obat.
Hati-hati disingkirkannya ikal coklat menggemaskan yang menutupi dahi pucat bersuhu agak tinggi. Menempelkan selembar plester Antidemam untuk membantu menurunkan demam yang menyerang BabyKyunya.
"Eungh.." Kyuhyun mengerang terganggu. Sesungguhnya ia tidak benar-benar tidur sejak semalam. Namun tetap memaksa matanya yang teramat berat untuk terus menutup. Nafasnya berhembus pelan ketika sesuatu menempel di keningnya. Rasanya sangat nyaman.
"Baby," panggil Siwon lagi dan berhasil membuat Kyuhyun membuka matanya yang agak sembab. Sungguh tidak tega melihat Kyuhyunnya dalam keadaan seperti ini. Salahnya juga yang tidak memastikan istrinya sudah makan atau belum ketika pulang terlambat tadi malam. Siwon malah menyerangnya dengan serentetan pertanyaan penuh emosi karena terlalu khawatir. Siwon sungguh-sungguh menyesal. "Aku sudah membelikanmu obat."
Kyuhyun mengernyit melihat kantung kecil yang ditunjukkan Siwon. Segera direbutnya kantung itu lalu membolak-baliknya, mencari sesuatu.
"Dimana kau membelinya?" Bukan bertanya tentang jenis obatnya, Kyuhyun malah lebih tertarik bertanya dimana Siwon mendapatkannya.
Diam sejenak. Siwon berucap maaf di dalam hati karena dengan sengaja membohongi BabyKyunya. "Di rumah sakit." Dua buah bantal sudah dipersiapkan di kepala ranjang untuk Kyuhyun bersandar. "Makanlah sedikit, setelah itu minum obatmu."
"Tidak." Tangan Siwon ditepis kasar. "Kau tidak mendengarkanku. Aku minta obatku dibeli di rumah sakit, bukan di pinggir jalan seperti yang kau beli."
"Percayalah, sayang. Aku membelinya di rumah sakit." Ketika Kyuhyun menatapnya menyelidik, Siwon membalas tatapannya dengan wajah tenang yang dibuat terlihat jujur.
Siwon menghela nafas menyerah pada keras kepala si namja pucat. Kyuhyun membuang muka. Lalu kembali bergelung di dalam buntalan selimut hangat. Mengacuhkan Siwon dan benar-benar tidak peduli.
Tidak. Bukannya tidak mau menuruti permintaan Kyuhyun untuk membeli obat di rumah sakit. Percayalah, Siwon bahkan rela jika harus mengambil obat di dasar neraka sekali pun. Asalkan itu demi Kyuhyun. Tapi dia sudah mencobanya. Dan hanya mendapatkan gelengan dari dokter yang bertugas karena tidak membawa pasien yang bersangkutan untuk berobat.
"Baby–"
"Stop memanggilku Baby! Kepalaku rasanya mau pecah, sialan!"
"Ya, ya. Maafkan aku. Tapi kau harus tetap minum obat, sayang."
Astaga. Kyuhyun memutar bola matanya malas mendengar panggilan itu. "Dengar Choi, aku tidak pernah minum obat murah seperti itu. Aku terbiasa meminum obat bermerek, buatan luar. Dan dokter pribadiku sendiri yang akan memasukkannya ke dalam mulutku."
"Sama saja. Asalkan minum obat yang tepat, kau pasti akan sembuh. Siapa pun, atau merek apapun obat yang kau minum."
"Aku tetap tidak mau."
Siwon diliputi kecemasan. Meminta Kyuhyun minum obat ternyata lebih sulit dibandingkan membujuk bocah manja berusia lima tahun. Karena Kyuhyunnya lebih manja dan juga sangat keras kepala.
Sebuah ide terlintas. Senyum di bibir joker mengembang sempurna.
Kali ini Kyuhyun pasti tidak akan bisa menolak.
"Baby, sepertinya aku harus keluar sebentar. Setelah aku kembali, kau harus menuruti perintahku untuk meminum obatmu. Jika tidak, ku pastikan kau akan sangat menyesal." Siwon mengancam dengan sebuah elusan di pucuk kepala yang menyembul dari balik buntalan selimut. Menghasilkan erangan dari pemiliknya.
"Memang itu yang harusnya kau lakukan. Aku sudah menyuruhmu untuk membeli obat yang benar sejak awal," gerutu Kyuhyun.
"Sayang, aku membelikan sesuatu untukmu. Kurasa ini bisa membuatmu hangat."
Siwon mengeluarkan sesuatu dari dalam paperbag yang dibawanya. Itu adalah satu set baju tidur yang berbahan lumayan tebal. Entah apa yang merasukinya. Baju itu benar-benar membuatnya jatuh cinta dan langsung mengingatkannya pada Kyuhyun. Siwon bahkan sampai memutar balik mobilnya untuk membawa baju itu pulang.
"Tunggu aku, ne. Aku pergi."
Kyuhyun mengusap jijik kepalanya yang baru saja mendapat kecupan dari Siwon. Hidupnya benar-benar menyedihkan. Untuk meminta obatnya pun Kyuhyun harus berdebat dulu dengan Siwon. Tidakkah namja gila itu sudi mengalah padanya, walau hanya sekali.
Kyuhyun mengambil sesuatu yang Siwon tinggalkan di dekatnya berbaring. "Huh? Apa-apaan ini?" Kedua alisnya sampai berkerut heran memandang benda di tangannya.
Sebuah baju tidur berwarna babyblue lembut. Karakter kartun berwarna kuning yang bisa mengeluarkan sengatan listrik, menjadi motif utama dari baju tidur itu. Pikachu-pikachu kecil bertebaran di sepanjang lengan dan di bagian celana. Dengan tambahan gambar serupa– Pikachu–yang sengaja di sablon besar-besar di bagaian dada.
"Choi bodoh! Kau pikir aku bayi!"
Baju tidur lucu yang baru dibeli oleh Siwon, mendarat mengenaskan di depan pintu kamar mandi. Pelakunya seorang namja pemarah yang baru saja menghempaskannya dengan tidak berperasaan.
.
.
.
Siwon menarik lebar-lebar gorden di dalam kamarnya. Cahaya nakal kekuningan mentari mengganggu tidur seseorang, hingga membuatnya mengerang kesal. Tapi Siwon malah terkekeh melihatnya.
"Baby, bukalah matamu. Ada sesuatu di luar, lihatlah."
"Choi, sekali saja! Bisakah kau–Amun?" Kyuhyun tidak dapat meneruskan kalimatnya. Dia benar-benar tercekat karena pemandangan di luar jendela kamar.
Di luar sana ada tiga orang yang sedang berusaha menurunkan dua buah mobil sport dengan warna berbeda dari atas sebuah truk besar. Itu mobilnya. Dalam sekali lihat pun Kyuhyun sudah bisa mengenalinya. Karena benda itulah yang menjadi satu-satunya alasan Cho Kyuhyun mengorbankan hidupnya dengan sebuah hal gila, yaitu rela menikah dengan seorang pria gay bernama Siwon.
"Choi, aku akan benar-benar membunuhmu jika kau berniat mempermainkanku," ancamnya. Kyuhyun menghempaskan kasar selimut yang membungkus tubuhnya sejak semalam. Dengan gerak pelan, Kyuhyun turun dari ranjang, hendak mendekat ke jendela. Memastikan yang dilihatnya bukanlah ilusi karena efek dari demamnya.
Siwon bergerak sigap memapah Kyuhyun. "Itu benar-benar mobilmu, Baby. Dan aku tidak pernah berniat mempermainkanmu. Sedikit pun tidak pernah."
Siwon puas hanya dengan melihat senyum kekanakan itu melengkung di bibir Kyuhyun. Tidak sia-sia usahanya membawa mobil Kyuhyun pulang. Meski Siwon harus memohon pada Yeunghwan untuk mengembalikan dua mobil itu pada pemiliknya. Siwon sampai harus berbohong pada ayah mertuanya. Untungnya Yeunghwan dapat percaya begitu saja, ketika Siwon mengatakan bahwa Kyuhyun sudah bersikap manis hari ini, jadi Siwon ingin memberikannya hadiah.
Dan hari ini, Siwon bisa menepati janjinya pada Kyuhyun, untuk mengembalikan apa yang seharusnya memang menjadi miliknya. Siwon berharap besar hubungannya dengan Kyuhyun bisa sedikit membaik setelah ini.
"Kyu, mau kemana?"
"Bolehkah aku keluar? Aku ingin melihat mobilku." Berseru senang bukanlah kebiasaan seorang Cho Kyuhyun, tapi itulah kenyataan yang Siwon dapatkan saat ini.
Sebuah senyum geli tertahan di bibir joker. BabyKyunya memang benar-benar manis. Tidakkah Kyuhyun sadar bahwa dia baru saja meminta? Bukannya memerintah seperti biasa. "Tentu kau boleh." Siwon melipat lengan di dada sebelum meneruskan. "Asal kau mau berjanji satu hal padaku."
Senyum kekanakan Kyuhyun menghilang. Berganti dengan raut sebal menggemaskan. "Tidak untuk sebuah syarat yang aneh," tolaknya–seperti memberikan kecupan menjijikan atau hal menjijikan lain.
"Kau harus meminum obatmu setelahnya."
"Itu syarat yang mudah."
Langkah sempoyongan Kyuhyun terhenti kembali ketika Siwon berteriak, "Ingat, Baby.. waktumu hanya lima belas menit."
.
Siwon masih belum bisa berhenti untuk tersenyum. "Kau ini, mirip sekali dengan Ryeong. Aku harus memberikan imbalan dulu untuk membujuknya minum obat."
Kyuhyun berhenti mengunyah. Melempar tatapan tajam pada Siwon.
Siapa itu 'Ryeong'? Kekasihnya? Simpanannya? Atau mungkin pacar barunya? Jangan katakan jika 'Ryeong' adalah nama seekor hewan peliharaan. Yeah, Kyuhyun tau jika Siwon itu seorang pria gila. Tapi, segila itukah dia sampai menyamakan Kyuhyun dengan binatang?
Bibir kissable mengerut lucu. "Siapa dia? Pria simpananmu yang lain?" Kyuhyun tidak sanggup menahan diri untuk tidak bertanya. Dia agak terganggu karena sebuah nama yang disebutkan Siwon tadi.
"Simpananku?" Siwon terkekeh geli. "Buka mulutmu, Baby." Sebelum memasukkan bubur ke dalam mulut Kyuhyun, Siwon meniupnya sedikit, agar tidak terlalu panas. "Dia terlalu menggemaskan untuk menjadi simpananku."
Kyuhyun menolak suapan Siwon. Kesal karena Siwon tidak menjawab pertanyaannya dengan benar.
"Satu suapan lagi, sayang," bujuk Siwon.
Tepat. Saat ini Choi Siwon benar-benar sedang berbahagia. Mengambil kesempatan dalam kesempitan karena sakitnya Kyuhyun. Untuk pertama kali dalam hidup, Siwon baru kali ini merasakan senangnya menyuapi istrinya yang sedang sakit. Kyuhyun tentu saja menolak, tapi Siwon selalu punya cara untuk membuat Kyuhyun menuruti apa yang dikatakannya.
"Shireo. Kau tidak menjawab pertanyaanku!"
"Hmm, Ryeong?" Sedikit mengaduk bubur Abalonenya sebelum dikumpulkan di ujung sendok. Senyum lembut Siwon menjadi balasan tatapan tajam yang Kyuhyun tujukan untuknya. "Suatu saat akan ku kenalkan padamu. Kau bisa cari tau sendiri sebanyak yang kau mau."
.
TBC
.
Annyeong, Alya balik lagi. Semoga masih ada yang inget sama ff abal ini. Hiks, cepet sembuh ya Babynya Daddy Won. Akhirnya Amun dikembaliin lagi ke pemiliknya :D
Alya mau bilang terima kasih buat yang udah kasih review, kritik dan sarannya. Semuanya Alya baca dan Alya tampung untuk jadi pertimbangan buat chapter-chapter selanjutnya. Tapi Alya nggak bisa janji untuk ngebuat ff ini persis seperti yang kalian mau. Karena Alya harus ikutin kerangka cerita yang udah ada jauh sebelum ff ini dipublish. Seandainya cerita ini nggak seperti yang kalian bayangkan, Alya usahain untuk buat cerita lain yang bisa memuaskan imajinasi kalian. Asalkan masih tentang WONKYU.
14/April/2016. AlyaFarah.
