Chapter 7

Warning: WonKyu, Chaptered, Slash, Mpreg, OOC, AU, Typo(s)

Disclaimer: This story is mine.

.

Note: FF ini punya alur yang sangat-sangat lambat. Kemungkinan 70% pembaca akan terjangkit penyakit bosan akut setelah membaca FF ini. Yang berharap hubungan WonKyu cepat-cepat harmonis, harap bersabar lebih lama.

Selamat membaca.

.

oooOoooOooo

.

Kyuhyun baru saja pulang dari kampus. Belum juga tangannya menyentuh tangkai pintu lemari, seseorang sudah mengetuk pintu kamarnya.

Tok Tok

"Siwon-ah?"

Suara milik siapa itu, Kyuhyun tidak tau. Yang jelas, itu suara laki-laki. Dan suaranya sedikit merdu.

Bedercih terganggu, tapi Kyuhyun tidak menggubrisnya. Lebih tertarik untuk meneruskan kegiatannya yang tertunda.

Ada setumpuk baju yang tersusun rapi di dalam lemari, ketika Kyuhyun membukanya. Pilihannya jatuh pada sweater coklat muda yang cukup tebal. Sebentar lagi malam, dan dia malas mengenakan cardigan atau jaketsebagai lapisan luar bajunya.

Jemari kurusnya bergerak cepat, membuka kancing kemejanya yang dirasa sudah tidak lagi nyaman. Baru sampai pada kancing ketiga, ketukan di pintu kamarnya kembali terdengar.

"Siwon-ah."

Tok Tok

"Siwon-ah, kau di dalam? Ini aku."

Tok Tok

"Siwon–"

"Berisik. Dia tidak ada. Nanti saja kembali lagi."

Jaejoong kehilangan kata-katanya. Dia sampai tercenung di depan pintu kamar adik iparnya yang kini sudah ditutup lagi. Seingatnya, Siwon sudah pulang. Audi putihnya pun sudah terparkir di halaman. Bahkan Siwon sempat menyapanya, ketika Jaejoong ada di dapur tadi. Tidak mungkin jika Jaejoong salah mengenali suara Siwon.

Alih-alih kebingungan, Jaejoong malah terkikik geli di depan pintu kamar Siwon.

Astaga. Namja pucat–istri Choi Siwon–memang sangat lucu.

Kyuhyun bertingkah seperti tidak mengenalnya. Seakan Jaejoong adalah orang asing yang baru pertama kali dilihatnya. Kyuhyun bahkan tidak berbasa-basi menanyakan maksud kedatangan Jaejoong. Dan dia benar-benar menutup pintu kamarnya setelah menyuruh Jaejoong untuk kembali lagi nanti.

"Kyuhyun-ah.." Jaejoong kembali mengetuk pintu kamar Siwon. Kali nama Kyuhyun-lah yang dia panggil. Jika Kyuhyun bertingkah seperti itu lagi, Jaejoong berniat akan mencubiti pipi pucatnya, sampai Kyuhyun menangis. Atau mungkin sampai Kyuhyun mengadukan pada Siwon kejahatan yang dibuatnya. "Kyuhyun-ah, tolong buka pintunya. Aku ingin bicara."

Tok Tok

"Kyuh–"

"Apa lagi?"

Mati-matian Jaejoong menahan tawa ketika melihat wajah malas Kyuhyun yang sedikit menyembul dari balik pintu.

"Apa Siwon-ah ada di dalam?"

"Sudah kukatakan, dia tidak ada."

Siwon ada di dalam sebenarnya, sedang di kamar mandi, tapi Kyuhyun malas memberi tahu. Kyuhyun hanya sedang tidak ingin diganggu. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, bisa-bisa Jaejoong masuk, lalu mengajak Siwon berbicara macam-macam.

"Kyuhyun-ah, tunggu!" Jaejoong menahan pintu kamar Siwon yang sudah hampir ditutup kembali. "Aku hanya ingin menitipkan ini. Tolong berikan pada Siwon-ah jika dia pulang, ne."

Satu alis Kyuhyun naik melihat paperbag besar yang berada di tangan Jaejoong. "Kau bisa berikan sendiri padanya jika dia sudah pulang."

Ya Tuhan. "Jebal. Aku hanya titip ini saja. Tolong berikan pada Siwon."

Jaejoong memergoki Kyuhyun yang mendengus sebelum menerima paperbag darinya. Bahkan Jaejoong harus memohon. Padahal paperbag yang ia berikan berisi hadiah pernikahan untuk adik iparnya, tentu untuk istrinya juga. Kyuhyun juga akan mendapatkan sebagian isinya.

"Gomawoyo, Kyuhyun-ah."

"Hm."

Senyum geli terukir di bibir Jaejoong ketika pintu kamar Siwon ditutup secepat itu. Kenapa malah Jaejoong yang harus berterima kasih? Entahlah.

Kyuhyun mengintip sedikit. Penasaran akan isi paperbag yang diberikan Jaejoong.

Hal pertama yang dilakukan Kyuhyun ketika mengetahui isinya, adalah tertawa. Jenis tertawa sinis yang lebih menjurus ke arah meremehkan.

"Baju lusinan, eoh? Yeah.. aku bisa memakluminya," gumamnya sombong.

Di dalam paperbag yang diberikan Jaejoong, ada sekitar sepuluh setel piyama. 'Mungkin Jaejoong dengan sengaja membeli dalam jumlah agak banyak untuk mendapat potongan harga.' Begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran Kyuhyun.

Benar-benar sombong maksimal.

.

Siwon baru selesai membersihkan tubuhnya. Berbekal handuk kecil yang tersampir di bahunya yang kokoh, Siwon keluar dari kamar mandi. Celana santai yang cukup nyaman, menggantung rendah di pinggang sempitnya. Tanpa memakai atasan.

Bagi laki-laki, topless bukanlah hal aneh, apalagi di kamarnya sendiri.

Senyumnya mengembang ketika matanya menemukan pemandangan paling mengagumkan sejagat raya. Seorang malaikat sedang duduk santai di sofanya. Duduk bersila sambil asik dengan benda hitam pipih di tangan.

"Hei, sayang. Sudah pulang?" Siwon bertanya sambil menggosok kuat rambutnya yang masih basah. Cepat-cepat mengeringkan rambutnya, agar tidak ada tetesan air yang menggenang di lantai, yang mungkin saja bisa membuat BabyKyunya jatuh.

Hening.

Sapaan Siwon diacuhkan seperti biasa. Si pucat malah menggerutu; Siwon memang senang sekali menggunakan kepalanya yang kosong ketika berbicara dengannya. Tentu saja sudah pulang, jika belum, tidak mungkin Kyuhyun berada di kamar ini sekarang. Siwon memang sering kali mengajukan pertanyaan bodoh padanya. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, contohnya seperti pertanyaan yang tadi diucapkannya.

"Hoi, ahjusshi."

Namja tampan berhenti menggosok rambutnya. Ia menajamkan pendengaran. Menatap satu-satunya objek hidup yang ada di kamarnya.

Kyuhyun masih duduk tenang di sana. Masih asik dengan PSPnya. Mungkinkah Kyuhun yang memanggilnya tadi?

"Hoi, ahjusshi. Jangan pura-pura tuli."

Terkekeh merdu, Siwon menghampiri Kyuhyun. Masih dengan tubuh bagian atasnya yang topless.

"Astaga, sayang. Setua itukah aku?" Memang usianya ada di atas Kyuhyun sembilan tahun. Tapi setua itukah dia di mata Kyuhyun, sampai-sampai istrinya memanggilnya 'ahjusshi'. "Ada apa, Kyu?"

Kyuhyun hanya melirik malas pada pria tampan yang berdiri dengan gagah di hadapannya. Bentuk tubuhnya yang terukir sempurna, membuat Kyuhyun tidak tahan melihatnya berlama-lama. Yeah, dia agak iri pada Siwon karena memiliki tubuh seindah itu. Bentuk tubuh laki-laki sebenarnya, sempurna tanpa cacat.

Bergeser sedikit untuk menyamankan duduknya. Kyuhyun menghembuskan nafas pelan. Mencoba untuk meredakan getaran kecil didirinya karena rasa irinya pada Siwon.

"Tadi, ayahnya si bayi itu, datang ke sini. Dia menitipkan sesuatu," tutur Kyuhyun. Kepalanya menunduk makin dalam untuk menatap sang kekasih tercinta, PSPnya. Seakan-akan benda yang setiap hari selalu dibawanya itu, akan menghilang jika Kyuhyun berkedip sedetik saja.

Siwon pindah posisi. Dia duduk di samping Kyuhyun, dengan menyisakan sedikit jarak, kira-kira sejauh satu jengkal telapak tangannya. "Si bayi?" gumam Siwon, berpikir sejenak. "Moonbin?"

"Ya, dia."

"Yunho-hyung ke sini? Kau dititipkan sesuatu?"

"Bukan. Bukan dia.. yang satunya lagi."

Alis tebal Siwon berkerut dalam, berpikir keras tentang siapa yang dimaksud malaikatnya. "Siapa?" tanyanya menyerah dengan tebak-tebakan ala Choi Kyuhyun.

"Ayahnya Moonbin yang lain."

Siwon memajukan wajahnya, menatap lekat Kyuhyun yang masih fokus pada PSPnya. Terlalu terkejut begitu mengerti siapa yang Kyuhyun maksud. Sayangnya, wajah terkejut Siwon tidak terlihat oleh Kyuhyun.

Bibir kissable digigit kecil oleh pemiliknya sendiri, ketika mendengar Siwon terkekeh geli. Sadar jika kalimat yang diucapkannya memang salah.

"Maksudmu Jaejoong-hyung?" Tawa Siwon makin tergelak ketika melihat kepala dengan ikal-ikal coklat mengangguk ragu untuk menjawab pertanyaannya. "Ya Tuhan. Jaejoong itu ibunya, sayang. Binnie menyebutnya Eomma, jika kau belum tau." Tangan besar Siwon melayang, lalu mendarat sempurna di atas kepala Kyuhyun. Mengusak sayang kepala si pucat. Sungguh Siwon gemas setengah mati.

"Aish, jangan menggangguku," gerutu Kyuhyun sambil menggerakkan kepalanya agar lepas dari tangan Siwon. "Molla. Itu bukan urusanku," ucapnya tak peduli.

Kissable yang mengerut, menjadi pertanda Kyuhyun tidak menyukai sesuatu. Kyuhyun benci pria itu. Pria yang disebut Siwon sebagai ibu dari Choi Moonbin. Benci setengah mati, walau Jaejoong tidak pernah membuat satu pun kesalahan padanya. Dia membencinya karena posisi Jaejoong sama dengannya saat ini. Sama-sama berstatus seorang istri–meskipun kenyataanya mereka adalah namja.

Lagi pula, Jaejoong itu pria bodoh.

Dia itu laki-laki. Tidak ada laki-laki yang sudi di panggil Eomma. Yeah, Kyuhyun tau jika dia gay. Tapi tidak perlu berlebihan seperti itu juga.

"Yunho itu Ayahnya. Jaejoong adalah Eommanya. Lalu, kau dan aku adalah Samchonnya. Arrachi?" Siwon menjelaskan seakan-akan berbicara dengan seorang bocah yang baru masuk taman kanak-kanak.

"Sudah kukatakan, itu bukan urusanku."

Siwon menghela nafas karena terlalu banyak tertawa. "Lalu, Jae-hyung menitipkan apa?"

Tangan Siwon beralih, terentang lurus di sandaran sofa, di belakang kepala Kyuhyun. Dengan jarak sedekat itu, harum tubuhnya yang segar sehabis mandi, bisa tercium dengan jelas oleh Kyuhyun. Membuat Kyuhyun ingin cepat-cepat menyelesaikan level gamenya, agar bisa segera membersihkan tubuhnya juga.

Memangnya hanya Siwon saja yang bisa seharum itu, dirinya juga bisa.

"Ekhem." Kyuhyun tidak tau kenapa tenggorokannya mendadak kering. "Kuletakkan disana," katanya tanpa menunjuk ke arah manapun. Memberikan sebuah penjelasan yang tidak jelas.

Masih mengukir senyum. "Dimana?" tanya Siwon lagi, padahal dia sudah melihat benda yang dimaksud oleh Kyuhyun. Sebuah paperbag hitam yang ada di atas meja nakas. Melihat Kyuhyun yang berusaha untuk fokus, membuat Siwon ingin menggodanya.

"Di sana. Aku meletakkannya di sana." Kali ini Kyuhyun menggunakan dagunya untuk menunjukkan letak. Tapi matanya tidak sedikit pun beralih dari layar kecil di tangannya.

"Hm? Dimana, Kyu?"

"Aish, jangan menggangguku. Cari saja sendiri."

Bibir joker melengkung ke atas makin dalam. Tapi Siwon merasa ada yang aneh. Sepanjang pembicaraannya dengan Kyuhyun, Siwon sama sekali tidak mendapatkan Kyuhyun berteriak atau memaki, seperti layaknya Cho Kyuhyun yang Siwon kenal. Kyuhyun hanya menggerutu dan mengomel kecil.

Apa Kyuhyun sedang dalam mood baik, ataukah harinya sangat menyenangkan, sampai membuatnya semanis ini? Siwon berniat mencari tau lebih.

Setelah mengambil paperbag dari Jaejoong, Siwon kembali menyamankan diri di sebelah si pucatnya yang tercinta. Duduk makin menempel pada Kyuhyun, seakan sofa yang didudukinya hanya memiliki ruang yang sangat-sangat kecil. Dan anehnya, Kyuhyun tidak bergerak sedikit pun untuk menghindarinya. Walaupun dia tidak berhenti menggerutu.

Tersenyum geli untuk kesekian kalinya. Kali ini bukan karena gemas pada Kyuhyun, tapi karena isi dari 'titipan' yang diberikan Jaejoong.

Ah, hyungnya yang satu itu.

Siwon selalu kehabisan ide untuk membalas kebaikan Jaejoong, juga atas semua perhatian yang pria–berwajah menawan–itu berikan padanya. Ternyata Jaejoong masih mengingat apa yang pernah Siwon ucapkan. Walau sebenarnya, Siwon hanya bergurau saat itu. Sama sekali tidak menyangka jika Jaejoong benar-benar menanggapinya.

Jaejoong pernah mendapat hadiah ketika hari ulang tahun pernikahannya. Bukan sebuah pesta kejutan ataupun sebuah barang dengan harga fantastis. Hadiahnya cukup sederhana. Yunho membelikan satu setel piyama yang sama persis dengan miliknya. Yunho menyebutnya sebagai 'piyama couple'.

Memang sedikit berlebihan. Diusia pernikahan mereka yang menginjak tiga tahun, bukan lagi saatnya untuk melakukan hal kekanakan. Tapi nyatanya, Jaejoong benar-benar menyukai hadiah yang diberikan Yunho.

Saking senangnya, Jaejoong sampai tidak mau jauh dari suaminya ketika mereka mengenakan 'piyama couple'-nya bersama. Dia terus menempel seharian pada Yunho. Seperti bayi Koala yang terus menempel pada induknya. Mereka terlihat manis juga sangat romantis. Sampai-sampai Siwon iri dibuatnya. Dia bergurau ingin juga memilikinya satu, jika sudah menikah nanti.

Dan, apa ini? Jaejoong memberikan piyama couple, beberapa minggu setelah Siwon menikah. Sebenarnya itu bukan 'piyama couple' yang sesungguhnya. Tidak ada bentuk sederhana untuk sang suami dan bentuk yang lebih lucu untuk sang istri. Piyama couple yang Siwon maksud adalah piyama biasa untuk laki-laki. Hanya saja ada dua piyama yang memiliki corak sama dan warna serupa.

Kini Siwon mempunyai piyama couplenya sediri, untuknya dan untuk Kyuhyun. Tidak hanya satu, Jaejoong memberikannya lima pasang piyama.

Diambilnya satu, piyama putih tanpa corak, yang ukurannya lebih kecil dari pasangannya. Lalu ditempelkannya pada punggung Kyuhyun. "Pas untukmu, Kyu," komentar Siwon, masih tersenyum kesenangan. "Untukmu masing-masing satu."

Maksud hati ingin melihat piyama yang dipegang Siwon, tapi pandangannya malah jatuh pada dada bidang Siwon yang telanjang.

"T-tidak mau. Untukmu saja. A-aku punya banyak baju," agak terbata Kyuhyun menjawab.

Siwon itu tukang pamer. Kyuhyun tau jika Siwon sengaja lama-lama bertelanjang dada karena ingin mengejeknya. Mungkin Siwon ingin pamer karena tubuhnya tidak 'selemah' itu melawan suhu udara. Tidak seperti Kyuhyun yang tidak pernah bisa lepas dari jaket ataupun baju hangat, meskipun itu masih musim semi.

"Baby kau sudah makan?" Siwon berganti topik pembicaraan. Kyuhyunnya memang 'sedikit' manja. Jika tidak diingatkan soal makan, dia sering lupa.

"Nanti saja," jawabnya acuh.

"Tidak boleh. Kita akan makan malam lebih cepat. Kurasa yang lain tidak akan keberatan."

Sekedar informasi, Choi Siwon tidak pernah makan mendahului anggota keluarga yang lain. Tapi demi Kyuhyun, Siwon rela melupakan sedikit soal tata krama.

Kyuhyun mengerang terganggu. Siwon mulai lagi dengan sifat tukang perintahnya. "Aku belum mandi, Choi. Nanti saja."

"Tidak masalah. Kau tetap harum, Baby."

"Yak!–"

Bugh.

Shit!

Kyuhyun berani sumpah! Tanganya melayang sendiri, meninju lengan Siwon tanpa sadar. Salahkan saja Choi-keparat-Siwon yang tiba-tiba saja mengecupi bahunya.

Sungguh Kyuhyun menyesal telah memukul Siwon.

Tidak hanya visualnya saja yang menakjubkan. Kyuhyun merasakannya sendiri, bagaimana keras dan kokohnya lengan Siwon. Seakan bukan terdiri dari gumpalan daging yang membungkus tulang, tapi dikatakan seperti–untaian kawat yang dilapisi lempengan baja–juga terlalu berlebihan. Entah bagaimana menjelaskan kerasnya lengan itu.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan karena gerak refleksnya itu, Kyuhyun jadi makin iri pada Siwon. Pada tubuh–kekar–Siwon lebih tepatnya. Dia berniat akan mencari tau apa rahasia Siwon agar bisa memiliki tubuh sekeren itu.

.

.

.

"Kyu, mau pergi kemana?"

Langkah Kyuhyun berhenti.

Memutar bola matanya malas karena pertanyaan Siwon. "Aku ingin pergi. Kemana tujuanku, itu bukan masalahmu!" jawabnya kesal.

"Katakan saja, kemana. Tidaklah sulit mengucapkan sebuah tempat."

Kyuhyun mendengus. Melirik sebal pada Siwon yang sedang membaca koran, yang bertanya acuh tak acuh padanya. Nada bicaranya pun terkesan dingin.

"Sudah kukatakan itu bukan urusanmu," balas Kyuhyun tak kalah dingin. Dia melanjutkan lagi langkahnya.

"Dengar, Kyu." Lembaran koran di tangan Siwon dibalik kasar. "Mulai hari ini, aku memberlakukan jam malam untukmu."

Menoleh cepat. Perasaannya jadi tidak enak mendengar ucapan Siwon. "Maksudmu?"

"Kau boleh keluar malam, dengan satu syarat. Tidak lebih dari jam sepuluh malam."

"Mwo?!" Tentu Kyuhyun terkejut. Selama ini tidak pernah ada seorangpun yang berani mengaturnya.

Dan.. apa katanya tadi? Jam sepuluh malam? Oh, ayolah.. bahkan hewan malam pun belum ada yang keluar sarang. Mana mungkin seorang Cho Kyuhyun, C-H-O K-Y-U-H-Y-U-N, sudah harus kembali kerumah?

Jangan bercanda!

"Jika jam sepuluh malam kau belum kembali ke kamar ini, maka saat itu juga aku akan ada di hadapanmu, dimanapun kau berada. Untuk menjemputmu pulang."

"Yak!–"

Koran ditutup cepat. Kasar dihempaskan di atas meja. Siwon menatap Kyuhyun tajam. "Tidak ada tawar menawar untuk peraturan baru yang ku buat."

Siwon memang agak emosi saat ini. Entah siapa yang harus dia benci; Kyuhyun yang memang keras kepala, atau Siwon harus membenci dirinya sendiri karena tidak pernah bisa tegas pada segala keinginan Kyuhyun.

Masih jelas diingatannya ketika Kyuhyun sakit, seminggu yang lalu. Selesai makan malam, Siwon tidak menemukan Kyuhyun di kamar mereka. Rupanya Kyuhyun yang nakal itu menyelinap ke garasi. Mengutak-atik mobilnya, dalam keadaan yang belum sehat betul. Satu yang disesalkan Siwon, dia tidak menyadari jika Kyuhyun keluar hanya dengan mengenakan kaos berlengan pendek.

Tidak ada yang bisa membuat Siwon cemas setengah mati, selain melihat Kyuhyun kembali dengan cairan merah menetes-netes dari hidungnya. Dan malam harinya, demam Kyuhyun kembali naik. Kekesalannya bertambah, saat si pucatnya yang keras kepala menolak untuk dibawa ke rumah sakit.

Jika saja Kyuhyun bisa merasakan bagaimana tersiksanya Siwon menyaksikan Kyuhyun yang terus mengerang kesakitan sepanjang malam.

Smirk melengkung sinis. Itu bentuk perlawanannya. "Tidak ada yang bisa melarangku. Termasuk kau." Tak kalah tajamnya Kyuhyun balas menatap Siwon.

"Geurae." Siwon berdiri, sebelum meninggalkan Kyuhyun, dia berpesan, "Bila itu maumu, maka siapkanlah sebuah jawaban, jika nanti teman-temanmu bertanya saat melihat aku menyeretmu pulang." Siwon memijat panggal hidungnya yang terasa berat. "Semoga acaramu menyenangkan," katanya lalu pergi meninggalkan Kyuhyun.

"Brengsek!"

Makian itu dihiraukan. Melirik sekilas pada arlojinya. Pukul tujuh malam, lewat sepuluh. Masih ada kira-kira tiga jam lagi untuk menyeret Kyuhyun, jika benar si pucatnya yang nakal berniat menguji kesabaranya.

.

.

.

Stir mobil digenggam kencang. Saking kencangnya, sampai menimbulkan bunyi seperti seekor tikus yang sedang mengerat kayu. Tak dihiraukan jemari yang sampai memucat karena terlalu kencang menggenggam.

Bulir keringat bermunculan di kening. Siwon keringat dingin. Walau kelihatannya tenang, tapi siapa yang tau jika detak jantungnya berdetak lebih gila dari pada suara riuh di luar. Meskipun berada di dalam mobil, tapi teriakan dan jeritan dukungan orang-orang di luar, sanggup menembus masuk ke dalam mobil. Menyemangati jagoan mereka masing-masing. Menunggu dengan cemas siapa yang keluar sebagai pemenang.

Sama seperti Siwon.

Semua doa sudah dilafal. Bukan memohon agar jagoannya keluar sebagai pemenang. Tidak. Bukan itu.

Isi doanya sederhana. Permintaan Siwon hanya satu, Kyuhyun-nya baik-baik saja selesai lomba dan tidak ada satu pun hal buruk terjadi padanya.

Kyuhyun. Benar, si Choi Kyuhyun, yang dinikahinya lima minggu yang lalu. Ya, namja pucat pembuat onar itu sekarang sedang lomba. 'Penikmatnya' menyebut ini sebagai adu kecepatan mobil dalam sebuah ajang balap liar.

Menonton orang yang dicintai bertaruh nyawa di jalanan, memang bukan sesuatu yang mudah. Tapi mau bagaimana lagi, inilah pekerjaan Choi Kyuhyun. Daripada harus menunggu di rumah, seperti pecundang, Siwon lebih suka memaksa jantungnya–untuk bekerja tiga kali lebih keras–di sini. Walaupun dia hanya duduk diam tanpa bisa berbuat apa-apa.

Wuuuuuuuuunnnnggggg

Suara dengungan yang mirip lebah itu adalah bukti seberapa cepat mobil-mobil itu berpacu dengan angin. Memang tidak terlalu jelas mobil milik siapa yang memimpin, karena Siwon hanya sempat melihat mobil-mobil itu melintas dalam sepersekian detik. Entah harus mengacungkan jempol untuk orang yang merancang mobilnya, atau harus memberikan aplause untuk si pengemudi.

Jika Kyuhyun menyebut ini sebagai sebuah permainan adu kecepatan, maka Siwon tidak pernah setuju. Menurutnya, ajang ini lebih tepat jika disebut sebagai cara konyol untuk mati.

.

Suara riuh diluar adalah hadiah tersendiri bagi Cho Kyuhyun. Bagai pasokan energi yang selalu dia butuhkan tiap waktu. Entahlah, tapi rasanya Kyuhyun selalu bahagia jika sudah melewati garis putih itu.

Garis putih di jalanan beraspal yang hanya digaris dengan setangkai kapur, bukanlah garis biasa yang hanya dibuat cuma-cuma.

Itulah garis finishnya.

Garis dimana seorang Cho Kyuhyun mengukir prestasi dalam dunia gelapnya. Garis yang menjadi saksi bagamana Kyuhyun menghabiskan setiap malamnya, bercucuran keringat, untuk merakit sebuah mobil yang tidak ada apa-apanya menjadi sebuah mobil dengan kecepatan menandingi kilat. Garis yang membuat Kyuhyun mempercayai jika dirinya masih dibutuhkan di dunia yang kejam ini.

Crew Code Blue berlari mendekat. Tatapan bertanya dilemparkan Kyuhyun pada teman-teman se-team-nya. Berharap dengan cemas hasil dari kerja kerasnya.

Dan ketika sebuah gelengan dari Jonghyun menjadi jawaban atas pertanyaannya, semua tau bagaimana kecewanya seorang Cho Kyuhyun.

"Gwaenchana, Kyu. Mereka bilang kita masih punya kesempatan minggu depan." Sebagi teman yang baik, Jonghyun mencoba menghibur.

"Benar, hyung. Aku yakin jika Kyuhyun-hyung bisa menang minggu depan." Minhyuk pun ikut menyemangati.

Tidak ada yang kaget ketika mendengar suara pintu mobil sport berwarna merah menyala, dibanting keras. Tidak hanya satu atau dua hari mereka mengenal Kyuhyun. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memahami bagaimana seorang Cho Kyuhyun yang selalu kesulitan meredam emosinya.

Keparat!

Harusnya malam ini, dialah yang keluar sebagai pemenang. Kyuhyun yakin jika mobilnya menyentuh garis finish lebih dulu dari pada mobil milik Taeyang, lawan mainnya, malam ini. Walaupun hanya selisih lima sampai enam detik.

Sayangnya, balapan yang Kyuhyun geluti selama ini bukanlah ajang balap bertaraf internasional yang disetiap sudutnya dilengkapi dengan berbagai macam peralatan digital juga canggih. Ini hanyalah sebuah balapan liar pinggir jalan yang hanya mengandalkan penglihatan dengan mata telanjang untuk penilaian.

Tapi keputusan sudah dibuat oleh para juri. Dan hasilnya mereka seri.

Dia berani bertaruh jika mobilnya berhasil sampai lebih dulu sebelum mobil Taeyang juga sampai di garis finish. Sayangnya, hasil sudah diputuskan, maka tidak ada yang bisa membantahnya. Percuma jika Kyuhyun bersikeras, dia malah akan dianggap seorang pecundang yang tidak sportif.

Benar yang dikatakan teman-temannya, mereka masih punya waktu minggu depan untuk membuktikan jika Kyuhyun bisa unggul. Bisa menang tidak hanya lima atau enam detik, tapi lima menit lebih dulu.

"Hyung! Siwon-hyung! Kami disini."

Emosi Kyuhyun yang tadinya sudah mulai surut, kembali melonjak naik, ketika mendengar Minhyuk memekik keras. Kyuhyun tau, jika adik dari Kim Jongin itu senang berteriak kekanakan. Tapi yang menjadi masalah adalah nama yang tadi disebut oleh Minhyuk.

Choi Siwon. Mau apalagi keparat itu datang kemari? Mau menertawakan kekalahannya, huh?

Kyuhyun jadi ingat, semua kekacauan ini sebenarnya berasal dari Siwon. Siwonlah penyebabnya. Andai saja waktu itu Siwon tidak memakai otaknya yang kosong ketika mengambil Amun dari tangan Appanya. Tentu sekarang Kyuhyun bisa berbangga diri, menang mutlak tanpa ada yang bisa membantah. Juga mengumumkan pada semua orang, jika Amun–mobil kesayangannya itu–adalah mobil rakitan terbaik.

"Annyeong," sapa Siwon setenang mungkin, menutupi jika tadi dirinya hampir melompat, hanya untuk mencegah Kyuhyun memulai balapannya. Siwon menyodorkan beberapa cup Latte panas yang langsung diterima dengan senang hati oleh semuanya.

"Eoh? Apa ini traktiran, hyung? Tapi Kyuhyun-hyung tidak menang malam ini." Dengan segala kepolosannya Minhyuk berujar. Membuat semua yang ada di sana membelalakkan matanya tidak percaya dengan tindakan si namja tupai. Dia tidak sadar jika Kyuhyun sudah hampir mengamuk.

"Minhyuk." Jongin memperingati adik kecilnya yang lugu.

"Aku benar, 'kan, hyung? Para juri bilang, jika kita bisa mengulang balapannya, minggu depan. Kyuhyun-hyung pasti akan menang. Aku yakin. Won-hyung harus datang! Melihat sendiri bagaimana hebatnya Kyuhyun-hyung jika sudah menyetir. Jangan lupa dat-hhhhmmmmp!"

Andaikan saja sebuah tatapan bisa membunuh orang, pasti Minhyuk sudah tergeletak tak bernyawa sekarang.

Apa-apaan temannya yang satu itu? Kenapa mudah sekali dekat dengan orang asing? Padahal Minhyuk baru sekali bertemu dengan Siwon. Hanya karena Siwon mengaku sebagai sepupu Kyuhyun, ketika lima hari lalu menjemput–paksa–Kyuhyun untuk pulang.

Semudah itukah?

Andai saja Minhyuk tau, orang seperti apa itu Choi Siwon, dengan segala kebusukannya.

"Mian, hyung. Minhyuk harus ikut denganku untuk mengambil peralatan. Kami permisi." Jonghyun pergi sambil menyeret Minhyuk yang masih tidak terima jika dirinya disingkirkan paksa. Padahal Minhyuk masih ingin mengobrol lama dengan Siwon.

Sedangkan si tampan hanya bisa menggaruk canggung tengkuknya. Sadar jika Kyuhyun sudah mengeluarkan aura kelamnya. Tidak pernah terpikirkan jika Minhyuk akan berkata seperti itu. Siwon memberikan beberapa cup Latte, bukan untuk merayakan sesuatu. Siwon hanya mencoba membuat Kyuhyunnya sedikit hangat di tengah udara malam yang mulai mendingin.

Inginnya bisa memeluk Kyuhyun langsung. Tapi itu mustahil.

.

TBC

.

Lama ya? Mian, Alya baru sempet update #bow

27/Mei/2016. AlyaFarah.