Disclaimer: semua karakternya milik paman ku, Masashi Kishimoto. Aye! =w=d
(ditendang masashi-sensei)
Summary: Hinata merasa tidak di akui oleh sepupunya Neji, karena itu lah ia selalu berjuang agar pengakuan itu keluar dari bibir tipis Neji. (benar2 ga bisa bikin summary -.-)
Warning: OC, typo, gaje dan sebangsanya.
Cerita sebelumnya:
"Menurutmu Hinata itu bagaimana?" tanya Hiashi.
"Maksud anda?" Neji bingung, tak biasanya ia ditanyakan tentang Hinata.
"Hinata, bagaimana dia?"
Beberapa detik Neji terdiam, mulai membuat otak cerdasnya untuk menilai Hinata.
"Hinata-sama adalah gadis yang manis dan lembut." kata Neji akhirnya.
Hiashi menutup matanya, menghembuskan nafas teratur dan kembali menatap neji.
"Begitukah?" Hiashi tampak belum puas, "apa kau menyukainya?"
"Apa kau menyukai Hinata?" tanya Hiashi lagi.
Chapter 2
.
.
.
.
Neji terdiam, matanya menatap tajam ke arah Hiashi. 'Pertanyaan macam apa itu, ck' decak Neji dalam hati. Beberapa menit Neji terdiam, Hiashi tampak menunggu dengan sabar seraya tersenyum tipis. Senyuman yang tak dapat di artikan, 'senyuman licik Hyuuga' menurut Neji.
"Tentu saja, mana mungkin aku membenci Hinata-sama." kata Neji, memecah suasana hening di ruangan itu.
Hiashi terlihat puas dengan jawaban keponakannya itu, "Menikahlah dengan Hinata!" kata Hiashi, membuat Neji terbelalak beberapa detik yang lalu.
"Apa maksud anda Hiashi-jii'sama?" ia tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Menikahlah dengan Hinata, jadilah pemimpin dan selamatkan klan Hyuuga!" jelas sang pemimpin Hyuga itu.
"Mana mungkin saya menikahi Hinata-sama dan menjadi pemimpin Hyuuga?" bantah Neji.
Hiashi menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, "Hinata adalah pewaris satu-satunya klan Hyuuga yang akan menggantikanku." jelas Hiashi.
Neji terdiam dan mendengarkan dengan seksama, tanpa kata bantahan sedikitpun, melihat itu Hiashi melanjutkan ceritanya.
"Tapi, seperti yang terlihat, Hinata belum bisa menjadi pemimpin. Ia masih terlalu lemah dan para penasehat klan tidak setuju Hinata menjadi pemimpin. Mereka merasa Hinata hanya akan menjadi titik kehancuran klan."
"Bukankah ada Hanabi?" tanya Neji.
"Hanabi memang berbakat, tapi umurnya mash terlalu muda." sekali lagi Hiashi menghela nafas, "karena itu, para penasehat lebih memilihmu menjadi pewaris selanjutnya!"
kali ini Neji benar-benar tak percaya atas apa yang di dengarnya.
"Mana mungkin!" gumam Neji.
"Untuk menghapuskan derajatmu sebagai Hyuuga tingkat bawah, kami memutuskan untuk menikahkanmu dengan Hinata." Hiashi berdiri dan berjalan ke arah pintu, "pikirkanlah Neji, ini demi klan Hyuuga!" gumam Hiashi.
Neji terdiam, kekagetan masih terpampang diwajah tampannya, keringat mulai mengalir di pelipisnya.
"Hinata," lirih Neji, dikepalnya tangannya erat-erat, "bahkan aku dijadikan sebagai alat penopang agar kau di pandang,"
Neji terlihat mulai geram dan bangkit meninggalkan ruangan itu.
(_ _)/\(_ _)/\(_ _)
HINATA POV
Setelah ayah keluar dari kamarku, aku tertunduk, menyembunyikan raut wajahku di balik ponis. Ingatanku aktif, mengulang hasil rekaman beberapa menit yang lalu, ketika ayah mengatakan bahwa aku akan dinikahkan dengan Neji-nii'san.
Kenapa? Bukankah Neji adalah sepupuku, lagi pula dia membenciku. Kami-sama, ada apa ini? Sekarang aku hanya dapat menangis, meratapi kebodohan dan kelemahanku.
Esoknya, aku berencana untuk menenangkan fikiranku. Aku ingin pergi ke sumber semangatku, ingin melihat sosok mentari yang telah membuatku dapat bertahan hingga saat ini. Orang yang sampai saat ini belum menjawab pernyataan cintaku padanya, ya! Pahlawan konoha, Uzumaki Naruto.
Aku selalu memperhatikannya, meski dari jarak yg begitu jauh. Aku terpuruk ketika ia terpuruk, aku menangis ketika ia bersedih dan aku akan semangat ketika ia memotivasi dirinya.
Dia yang selalu membuatku tersipu. Tapi aku tau satu hal bahwa ia tidak akan pernah melihatku sebagai wanita. Ia telah mempunyai pujaannya sendiri dan aku hanya dapat memperhatikannya.
Sekarang, aku berdiri di balik pohon sakura, menatapnya dari kejauhan yang tengah berlatih. Beberapa saat aku merasa tenang, dapat lupa tentang masalahku dengan Neji-nii'san.
"Masih memperhatikannya, heh?" sapa seseorang dari belakangku.
Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak. Suara itu?
"N-neji-nii'san?" kata ku gugup seraya menoleh kebelakang.
Ternyata benar, Neji-nii'san telah berdiri di belakangku dengan ekspresi yang tidak dapat ku baca.
"Ituh-ano...umm...," aku kehilangan kata-kata, Neji telah memergokiku, bagaimana ini.
"Kau tak akan pernah kuat jika hanya melihat org lain berlatih. Kau kira dengan hanya berdiri dan menatap dari kejauhan kau dapat mendekatinya?" kata Neji sambil menatap Naruto, "kau hanya akan menambah tebal dinding pemisah dengan kelemahanmu."
"Ah?" aku tersentak dengan kata terakhirnya, Neji benar, dinding pemisah antara aku dan Naruto sudah terlalu tebal, bahkan untuk memanggilnya saja mungkin suaraku sudah tidak terdengar olehnya.
"A-aku a-aku ingin, ingin k-kuat," aku mulai tertunduk, menyembunyikan air mata yang sudah terkumpul dan siap tumpah dipeluk mataku, bibirku bergetar hebat, "aku-aku i-ingin lebih kuat."
. ~ . ~ .
NORMAL P.O.V
Dua hari telah berlalu setelah Neji memergoki Hinata yang menatap Naruto dari kejauhan dan sudah dua hari pula Hinata berlatih bersama Neji.
Malam itu Hinata tengah duduk di tepi ranjang, sedikit meringis nyeri, luka-luka akibat latihan tadi siang membuatnya sibuk mengobati lukanya. Nyeri dan perih ketika tanpa sengaja ia terlalu menekankan kapas pada lukanya. Sedikit melenguh tapi setelah itu, senyum lembut terukir di wajahnya, ia sedang bahagia. Bagaimana tidak, ketika latihan selesai, Neji menyatakan bahwa Hinata telah semakin kuat.
Walau sepupu Hinata itu hanya mengatakannya dengan ekspresi datar tetap saja membuat Hinata senang, untuk pertama kalinya Neji memujinya. Meski hanya pujian kecil, tapi setidaknya inilah awal Hinata untuk diakui.
"Menikah...?" lirih Hinata lesu, ia seakan bertanya tapi entah pada siapa.
Matanya memandang ke langit-langit kamar, angin malam yang masuk dari jendela kamar di dekatnya, yang masih terbuka menerbangkan beberapa helai rambutnya. Karena sedang mendongak ke atas, membuat leher hinata terekspos dan angin dengan leluasa membelainya. Sedikit merinding tapi Hinata tetap larut dalam lamunannya.
~ kamar Neji ~
"Hinata," gumam Neji yang duduk di tepi ranjangnya.
Matanya menatap tajam kearah karpet putih yang terbentang di bawah kakinya, pikirannya kini tengah di penuhi oleh Hinata. Bagaimana mungkin ia menikahi Hinata, apalagi demi para souke, hyuuga kelas atas. Neji benci para souke dan jangan harap ia akan berkorban demi mereka.
Tapi bagaimana dengan Hinata, Neji memang telah menanamkan dalam hatinya bahwa ia membenci Hinata, bukan! Hatinya sedikit menyanggah, dia tidak membenci Hinata tapi ia membenci takdir yang menghampiri Hinata.
Neji memegang dadanya, "Hinata," gumamnya lagi.
DEGH! Jantungnya berdetak aneh.
"Ada apa denganmu Neji?" lirihnya geram.
Matanya tertutup dan mengacak rambut coklat panjangnya; menghempaskan tubuh kekarnya ke ranjang.
Tok! Tok! Neji tersentak, terdengar sebuah ketukan di luar kamarnya.
Dengan tampilan kusut, Neji melangkah ke arah pintu kamarnya, "Siapa?" tanyanya selagi mendekati asal ketukan.
"A-aku N-neji-nii'san!" terdengar bisikan kecil yang tak lain dan tak bukan adalah suara Hinata.
"Hinata-sama?" sahut Neji setelah membuka pintu.
"N-neji-nii'san, a-aku," gumam Hinata dengan kegugupan seperti biasanya.
Wajahnya memerah karena malu, bagaimana tidak, gadis manapun akan memerah dan lebih parahnya mimisan jika melihat penampilan Neji yang sekarang. Baju yukata putihnya telah terbuka bagian kirinya *seperti sesshomaru pas bertarung. Kya. . . (author mimisan) plak* menampakkan tubuh kekar dan perut sixpacknya *bener ga tulisannya?*
"Hn, ada apa?" tanya Neji dengan nada dinginnya.
"Ah, itu-ano, a-aku hanya me-mengantarkan o-obat un-un-untukmu!" jelas Hinata susah payah.
"Obat apa?" tanya Neji bingung.
"Obat un-untk lu-lukamu!" jawab Hinata seraya menyerahkan sebuah kotak kecil bewarna coklat yg terbuat dari kayu.
Neji menaikkan sebelah alisnya, dipandangnya kotak tersebut lalu berbalik ke dalam.
"Tidak perlu!" katanya lalu segera menutup pintu.
Tapi belum sempat melakukannya, Hinata telah lebih dulu menahannya. Neji terlihat kaget tapi setelah itu kesal.
"Ada apa lagi, Hinata-sama?" tanya Neji.
"Aku mohon, t-tadi Neji-nii'san terluka karena, karena me-melatihku," Hinata benar-benar kewalahan melawan kegugupannya.
"Sudah ku bilang tidak perlu, Hinata-sama!" kata Neji dengan penekanan di setiap kata-katanya.
Hinata menunduk semakin dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Jujur saja, ia sangat ingin mengobati Neji, setidaknya sebagai rasa terimakasihnya. Rasanya, hanya itu yang dapat dilakukannya.
Hinata mulai mengangkat wajahnya, mencoba menatap Neji. Tatapannya semakin melembut ketika melihat bekas lebam di bagian bahu Neji yang saat itu terekspos dengan jelas. Melihat mata Hinata yang menatapnya seperti itu membuat Neji menyerah. Dibukanya lagi pintu lebih lebar agar Hinata dapat masuk, "Masuklah!"
"A-arigatou!" kata Hinata, sedikit menunduk lalu mengikuti Neji masuk.
"Tutup pintunya!" suruh Neji tanpa menoleh ke belakang.
DEGH! Entah kenapa Hinata tersentak dan wajahnya semakin memerah, segera dibalikkannya badannya menghadap pintu.
'Jangan sampai Neji-nii melihatku seperti ini' mohonnya dalam hati lalu menutup pintu kamar Neji.
Malam itu Neji merasa lebih Hangat, ia tidak sendiri. Di kamarnya telah berdiri sesosok wanita yang walau sebenci apapun Neji padanya, tetap saja tak dapat menyatakan bahwa Hinata tidak cantik.
Neji mulai duduk di tepi ranjang, menatap intens ke arah Hinata yang tengah membuka kotak obat yang dibawanya tadi. Ternyata isi kotak itu adalah sebuah krim bewarna putih gading. Setelah membukanya, Hinata berlutut di depan neji, mencoleh sedikit krim dengan ujung jarinya lalu mengarahkannya ke bekas lebam di bahu kiri Neji.
Sebelum sempat Hinata menyentuhkan krim di jarinya ke luka Neji, tangannya malah terhenti. Neji menggenggam tangan Hinata untuk menghentikannya, "Hanya di oles kan?" tanya Neji.
"H-hai!" jawab Hinata.
Neji terus menatap intens ke arah Hinata, membuat sang gadis bermata kelabu yang menyerupainya menjadi semakin memerah. Beberapa menit mereka seakan membeku, tetap pada posisi yang sama. Angin malam menyelinap masuk melewati celah jendela di kamar Neji yang tidak tertutup rapat.
"Hinata-sama," lirih Neji tanpa mengalihkan tatapannya.
"Kenapa kau terus mendekatiku, padahal kau tahu bahwa aku sangat membencimu," kata Neji lagi, "apa yang kau inginkan dariku?"
"Pengakuan!" jawab Hinata tegas.
DEGH! Hinata tersentak, wajahnya semakin memerah, 'Sial...apa yang telah ku katakan...' rutuk Hinata dalam hati.
Neji menaikkan sebelah alisnya, "Pengakuan?" tanyanya bingung.
Hinata menunduk semakin dalam dan berusaha melepaskan genggaman Neji pada tangannya.
Karena tidak dijawab, Neji menjadi sedikit geram, di ulanginya lagi pertanyaannya, "Pengakuan apa yang anda butuhkan dari bunke sepertiku, Hinata-sama?"
Hinata serasa tersambar petir mendengar pertanyaan Neji, "Uukhh..." ringis Hinata yang merasa sakit di tangannya karena genggaman Neji semakin kuat.
"L-lepaskan!" mohon Hinata, "ku mohon..."
Neji melonggarkan genggamannya seraya berkata, "Untuk apa memohon padaku, Hinata-sama?"
Hinata mengelus tangannya yang memerah.
"Perintah saja aku sesukamu!" tambah Neji sedikit melembut, tatapannya tetap melekat ke arah Hinata.
"Bukankah aku bunkemu yang akan selalu melindungi souke sepertimu, Hinata-sama?" Neji menutup matanya lalu membukanya, "jika ingin pengakuan, katakan saja, Hinata-sama, maka akan ku turuti!"
"B-berhenti ber-berkata seperti i-itu, Neji-nii'san!" bentak Hinata, tapi hanya terdengar seperti sebuah cicitan.
"Hn, kenapa?" tanya Neji.
"K-kau tidak t-tau apa-apa ten-tentang p-pengakuan yang, yang ku-ku maksud!"
"Cih!" Neji mendecih kesal, "sudahlah, kembali saja ke kamarmu!" suruh Neji yang kembali ke sikapnya yang biasa.
Hinata tampak mulai menangis, wajahnya terus menunduk. Neji menjadi lebih kesal, dia paling benci melihat Hinata menangis. Neji menggenggam pergelangan tangan Hinata lalu menariknya untuk berdiri.
"Berhentilah bersikap lemah di depanku!" bentak Neji.
Hinata tidak berani menatap Neji, dia berusaha memalingkan wajahnya.
"Tatap aku, Hinata!"
"Uukhh, s-sakit..."
Dengan sedikit meringis Hinata menatap Neji, terlihat kilatan marah di wajah tampan itu, Hinat mulai gemetar, apakah Nejisemakin membencinya, itulah yang terus melintas di fikirannya.
"Kenapa kau jadi seperti ini Hinata, menjadi lemah dan tidak berguna," sindir Neji dengan tatapan mengintimidasi, "kemana tekad dan kekuatanmu yang dulu ketika melawanku?"
"Hiks...hiks...aku t-tidak l-lemah, nii'san..." isak Hinata.
Neji menghela nafas lalu melonggarkan genggamannya pada Hinata, dipejamkannya matanya sejenak, menghirup udara segar malam itu. Beberapa detik kemudin ia berbalik ke arah ranjangnya.
"Kembalilah!" perintahnya.
Hinata masih menunduk lemah di posisi yang sama, masih terlalu banyak yang bergelayut di fikirannya.
"K-kalau Neji-nii'san terus membenciku, bagaimana mungkin perjodohan itu dapat terjadi?" gumam Hinata, tapi masih dapat terdengar jelas oleh telinga pemuda Hyuuga itu.
"Jadi, jika aku menyukaimu maka kau akan menikah denganku?" ketus Neji.
Hinata mendongakkan kepalanya lalu mundur ke arah pintu dan berlari keluar menjauhi Neji yang tengah berdiri membelakanginya.
HINATA POV
Kenapa jadi seperti ini, yang kubutuhkan hanya pengakuan dari Neji-nii'san, menginginkan pengakuannya, pengakuan bahwa aku bukan gadis lemah yang tidak selalu menjadi beban bagi orang lain, aku tidak lemah.
Ayah...kenapa juga aku harus dijodohkan, aku masih setia menunggu Naruto..., aku tidak mungkin menikah dengan pria yang tidak aku cintai apalagi dengan sepupuku sendiri.
"Hinata!" panggil Otou-san, yang memergoki Hinata yang tengah melamun di depan pintu dapur.
"Otou-san...," lirih ku.
Otou-san mendekatiku dan menatapku dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Ku lihat hubunganmu dengan Neji masih belum terlalu membaik, sebaiknya pergilah liburan bersama agar kalian dapat lebih semakin mengenal. Beberapa minggu lagi akan di adakan resepsi pernikahan.
"L-liburan?" tanya ku ragu.
"Ya, besok pergilah liburan, akan ku persiapkan semuanya!" jawab Otou-san tegas, lalu pergi kembali ke ruangannya.
Liburan bersama? Bagaimana mungkin, Neji-nii'san pasti akan langsung menolaknya..., denagn pikiran kacau aku kembali ke kamar dan mengistirahatkan tubuh dan fikiranku, semoga besok menjadi awal kebahagiaan yang selama ini ku harapkan.
****** TBC *****
Balasan review...(^o^)/
Shyoul Lavaen: um...gimana ya... :3
Menurutmu Hiashi gimana? (balik nanya) *plak*
Di saini aku bikin Hiashi terlihat keras (baca: kejam), maklumlah, bangsawan gitu. Tapi tenang aja, aku pendukung nejihina. Nyahahahahah
Gomen, apdatenya super duper lama u.u" aku ga sempat kewarnet.
Zorou Tecchi: Aku juga suka Neji kea gitu.. W"
Hahahahahh iya juga sih, tapi sebenarnya aku mau bikin oneshot tapi tapi tapi aku ga bisa...T0T"
Aku dah terbiasa bikin cerita panjang2. *curcol*
Um...semoga chapter 2 alurnya ga cepat lagi yah, di tunggu ripiu nya lagi. ;)
Hilda: Aku NejiHina 4ever ^O^/
Fans Fanatik NejiHina: Kamu benar, malahan dengan status sepupuan seperti itu kisah cinta mereka semakin menggairahkan. Nyahahahah
Neji Love Forever: Arigatou...aku juga suka nejihina. Menurutmu hinata suka Neji ga? *balik nanya*
Iya sih kasian hinata tapi aku suka bikin neji bersikap dingin, jadi lebih keren... ^w^
Happy Home: Hinata terlihat cengeng ya? Hahahaha
Tapi gimana lagi, Hinata ga bisa kuat kalo dah nyangkut neji.
*alasan*
*gubrak*
Arigatou NejiHina gozaimasu...
NejiHina love forever: Arigatou... *0*/ Yow...NejiHina Forever! *semangat 45*
Wah, bikin event? ^o^"
Aku masih baru di dunia perfanfictin-an jadi yah...gitu deh *apa deh* XD
= CATATAN AUTHOR=
Yak, berakhir juga chapter 2 nya. Um...aku Cuma mau curhat aja nech, awalnya ne ffn Cuma oneshot tapi aku bener2 ga bisa...dari dulu ga pernah bisa bikin cerita pendek, ya ampun...payahnya aku. -.-"
Jadi, selamat menikmati ffn ini yang mungkin akan panjang (mungkin) XD
Lalu masalah review
Huhuhu QwQ"
Aku benar2 terharu, masiah ada yang mau nge-review ffn ku ini. Awalnya aku dah nyerah aja pas liat Cuma satu atau dua orang yg ripiu, lalau tiba2 dah 7 aja. Aku jadi semangat 45 buat bikin chapter 2.
Kalianlah inspirasiku, jadi jangan bosan2 fipiu ya minasan... *memelas*
Ok! Sekian catatan gaje "curhatah author" hehehe
Untuk para silenc reader, jangan bosan baca, jika ada yang ganjil2 silahkan klik aja "Review", mungkindenagn menulis unek2nya bisa bikin hati lega setelah baca ne ffn gaje XD *rayuan Ritsu*
Wah... '0'
Ritsu bener2 banyak bacot yah?
Kalau gitu, sampai jumpa di chapter 3
Jaa ne... muach muach :*
Ritsu Ayumu ^^
