Disclaimer: semua karakternya milik pamanku, Masashi Kishimoto. Aye! =w=d

(ditendang masashi-sensei)

Summary: Hinata merasa tidak diakui oleh sepupunya Neji, karena itulah ia selalu berjuang agar pengakuan itu keluar dari bibir tipis Neji./benci dan cinta dapat di bedakan jika melihat dan merasakannya dengan mata hati/

Warning: OOC, typo(s), gaje dan sebangsanya.


Cerita sebelumnya:

"Aku mau coba!" kata Hinata lalu kembali menyentuh bibir Neji.

"Jangan memancingku, Hinata, walau bagaimana pun aku tetap saja pria normal, jika begini terus, aku bisa saja 'menyerangmu'!" kata Neji lagi.

Bukannya takut, Hinata malah tertawa geli. Akhinya Neji pasrah dan menghela nafas, dia sudah lelah.

"Ne-" kata-kata Hinata terhenti karena seketika itu juga neji mengunci bibir Hinata dengan bibirnya.


Chapter 4

.

.

.

Neji terus melumat bibir Hinata, membuat sang gadis memerah seketika. Ia kira, Hinata akan memberontak atau menangis tapi malah sebaliknya, Hinata membalas ciumannya dan malah balik menyerang, berusaha mendominasi ciuman mereka.

Setelah benar-benar sadar atas apa yang dilakukannya, Neji menarik bibirnya menjauhi Hinata, dilihatnya gadis itu hanya merengut dan terlihat sangat manis. Ia seperti anak kecil yang permennya direbut.

"Maaf," ujar Neji lalu berpaling.

"Manis," ucap Hinata dengan ekspresi polosnya. Hinata kembali mendekati Neji,"lagi!"

"Hinata, hentikan!" tolak Neji lalu menahan Hinata yang mencoba menciumnya.

"Sebaiknya segera ganti baju dan tidur, aku juga harus ganti baju." elak Neji tegas lalu menjauhi Hinata, ia mengambil tas Hinata lalu mengeluarkan sebuah jaket, "gantilah dengan ini!"

"Cium dulu!" pinta Hinata polos.

"Jangan seperti anak kecil!" ketus Neji, disentuhnya kening Hinata, "masih panas" gumamnya.

"Neji...," rengek Hinata.

"Ganti pakaianmu sekarang!" tegas Neji lalu pergi menuju tendanya untuk mengganti pakaian.

"Setelah kuganti, kamu harus menuruti kata-kataku!" tuntut Hinata.

.

.

.

Setelah beberapa menit, Neji kembali dan Hinata telah mengganti pakaiannya dengan pakaian kering. Ia menggunakan jaket yang tadi diberikan Neji, bewarna indigo seperti rambutnya.

"Sekarang tidurlah, demammu masih belum turun!" suruh Neji setelah mengecek suhu tubuh Hinata.

"Turuti kata-kataku seperti janjimu tadi!" sungut Hinata dengan manja.

"Janji?" respon Neji tak percaya, "sejak kapan gadis sepertimu bisa jadi pemaksa seperti ini?"

Hinata tersenyum puas lalu menghambur ke pangkuan Neji.

"Hinata, lepaskan!" ujur Neji jengkel.

"Tidak mau!"

"Hinata!"

"Tidak, tidak, tidak, tidaaaaaaak!"

Hinata tetap bersikeras, membuat Neji menyerah. Dibiarkannya Hinata duduk di pangkuannya.

"Neji-kun, kapan kita akan menikah?" tanya Hinata seraya menatapnya dengan senyuman.

"Ntahlah," jawab Neji seadanya.

"Bagaimana kalau dibatalkan?" usul Hinata.

Neji sedikit tersentak, "Kenapa?"

"Karena tidak mungkin menikah dengan orang yang membenci ataupun yang kita benci kan?"

"Kau benar, akan kubicarakan dengan Hiyashi-sama untuk membatalkannya." Kata Neji dingin.

"Heee?" Hinata mengernyit ngeri, "kenapa?"

"Apa?"

"Seharusnya Neji-kun bilang kalau 'aku tidak membencimu' dan bertanya 'apakah kau membenciku'!"

"Apa maksudmu?"

"Sudahlah, Neji-kun memang selalu seperti itu." Hinata membenamkan wajahnya di dada Neji.

Beberapa menit berlalu, Hinata mulai tertidur, dengan sigap Neji membaringkan dan menyelimutinya. Sepanjang malam Neji merawat Hinata hingga suhu tubuh gadis itu kembali normal.

"ternyata, Hinata yang pendiam jauh lebih baik dan tidak terlalu merepotkan." pikir Neji lalu ikut tertidur disamping Hinata.

Pagi menjelang, Hinata bangun lebih awal, dia mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum berusaha untuk merubah posisi menjadi duduk, namun ia merasa ada sesuatu yang berat membebani perutnya. Dengan penasaran Hinata merabanya dan tersentuh sesuatu seperti—tangan?

"Nii-san?" gumam Hinata kaget, wajahnya semakin lama semakin memerah, "kenapa nii-san ada disini?"

"Nghh...," erang Neji, sedikit menggeliat kemudian tidur semakin nyenyak.

Ingin saat itu Hinata berteriak keras tapi ia tidak mau mengganggu Neji yang sepertinya sangat kelelahan. Hinata menatap Neji dengan lembut lalu beranjak perlahan dari pelukan calon suaminya itu. Dengan segera Hinata berjalan keluar tenda, pagi itu matahari belum terbit hingga sekeliling masih gelap, namun Hinata tetap bertahan di luar, wajahnya amat merah menahan malu ketika ia sadar bahwa semalam ia tidur bersama Neji dan pakaiannya telah berbeda dari terakhir ingatannya berfungsi.

Hinata lupa dengan semua yang terjadi sebelum hujan kemarin. Didekapkannya tangannya ke dada, ia dapat merasakan degup jantungnya yang berdetak sangat cepat. "A-apa yang telah terjadi...?" tanyanya entah pada siapa.

"Tidak ingat?" bisik neji yang entah kenapa sudah berada di belakang Hinata.

*author meleleh(?)*

Hinata yang sangat tidak menyangka kehadiran Neji terduduk lemas, hampir saja jantungnya lepas dan melarikan diri. Wajahnya semakin memerah dan siap untuk pingsan saat itu juga. Neji menghela nafas panjang lalu kembali ke dalam tenda,"cepat masuk, masih terlalu pagi!" suruh Neji.

Hinata terpaku dengan suhu tubuh yang semakin meningkat. Karena tidak ada respon dari Hinata, Neji kembali keluar dan menarik Hinata kembali ke dalam. "demammu baru saja turun, kalau berlama-lama di luar demammu akan kambuh lagi." omel Neji.

"Maaf..." Hinata menunduk, dia tidak mau Neji melihat rona merah di wajahnya.

" Kalau sudah mulai terang, kita kembali ke rumah."

Hinata hanya mengangguk patuh dan duduk sambil memunggungi Neji.

"Aku akan kembali ke tenda, sebaiknya segera berkemas!" ucap Neji lalu keluar meninggalkan Hinata yang belum juga dapat meredam rasa gugupnya.

Liburan Neji dan Hinata berakhir dengan begitu singkat karena Hinata demam dan bukannya hubungan mereka semakin membaik tapi malah semakin parah, mereka tidak saling bicara atau bertemu, palingan hanya bertegur sapa jika tidak sengaja bertemu ketika melewati koridor rumah atau jika ditugaskan bersama dalam sebuah misi.

Hari pernikahan mereka juga semakin dekat dan Hinata masih belum rela untuk melepas cintanya kepada Naruto, sementara Neji masih acuh tak acuh seperti biasa. Hiyashi Hyuuga yang mengetahui keadaan mereka malah bersikap seolah tidak akan terjadi apa-apa. Setiap malam Hinata merenung sendirian di kamarnya, memikirkan apa yang harus dia lakukan, jujur saja saat itu Hinata masih merasakan perasaan yang lain terhadap Neji selain perasaan adik kepada kakak yang dikaguminya.

Dia kembali ingat betapa ia ingin agar Neji yang selama ini tidak memandangnya dapat sedikit berpaling ke arahnya dan melihat betapa ia berusaha keras mengejar ketinggalannya. Sempat terpikir olehnya apakah Neji benar-benar setuju untuk menikah dengannya, apakah Neji akan menganggap kehadirannya dan mulai mengakui Hinata sebagai seorang Hyuuga, sebagai seorang adik, dan sebagai seorang istri.

"Hinata-sama?" panggil seseorang dari luar kamar dan Hinata berani taruhan, bahwa itu suara Neji, dengan kebingungan dan rasa penasaran ia membukakan pintu dan benar saja, Hyuuga Neji tengah berdiri dihadapannya. Keadaan pria itu cukup kacau, rambutnya yang panjang dan terikat kini sudah tergerai dan sedikit kusut, tatapan matanya sayu dan pakaiannya sudah tak rapih lagi.

"Nii-san?" panggil Hinata kaget, "nii-san kenapa?" Hinata mencoba memopong Neji yang sempoyongan ke kamar, seketika ia mencium aroma sake menguar dari tubuh Neji, "nii-san mabuk?"

"Hinata-sama, aku-" Neji duduk di tepi ranjang dan menunduk, "kumohon, katakan pada paman bahwa kamu menolak pernikahan kita, katakan bahwa kamu sanggup menjadi pemimpin Hyuuga tanpa aku di sampingmu, kumohon Hinata-sama!"

"eh?" serasa ada sengatan listrik yang menyambar tubuh Hinata, melihat neji memohon padanya seperti itu, seakan menyadari satu hal bahwa dari lubuk hati yang terdalam, Neji sama sekali tak berniat untuk menikah dengannya, ada rasa kecewa namun ia merasa tidak berhak untuk itu, ia merasa bahwa memang seperti itulah yang seharusnya.

"Ke-kenapa?"

"Aku tak sanggup untuk meninggalkan Ten Ten, aku... tidak sanggup!" ucapan Neji saat itu menunjukkan sisi kerapuhan dari sosoknya yang kuat.

Hinata berkaca-kaca, menatap kerapuhan Neji saat itu, "T-Ten Ten-san?" ia menghela nafas lalu berlutut di depan Neji, menatap pria tersebut. "nii-san, sangat mencintainya yah?"

"ya, aku-" Neji menghentikan kata-katanya, tubuhnya bergetar dan semakin menundukkan wajahnya.

"A-akan kucoba." Air mataku tumpah dan ikut menunduk dalam diam hingga pertemuan malam itu berakhir dalam keheningan.

HINATA POV

Dua hari sebelum pernikahan aku menyatakan ketidak setujuanku pada Tou-san tapi ternyata percuma, Tou-san sama sekali tak mendengarkanku. Sebenarnya hal semacam itu sudah kuduga dari awal, apapun yang akan terjadi, pernikahan kami pasti tidak akan batal, karena semuanya merupakan keputusan mutlak dari Tou-san dan para tetua Hyuuga yang lain.

Malam itu juga aku menemui Nii-san dan menceritakan semua kegagalanku, kulihat semburat kekecewaan tergambar jelas diwajahnya. Aku tak berani untuk berkata apa-apa lagi. Aku merasa bersalah pada Nii-san, gara-gara ketidak bergunaanku dia mendapat balasannya, seandainya aku lebih kuat maka aku tidak akan menikah dengan Nii-san, karena pada dasarnya pernikahan ini hanya untuk mencarikan heiress Hyuuga yang baru tanpa harus membuangku. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya.

"Maaf..." aku menunduk dalam, tak berani menatap Neji secara langsung, aku takut ketika aku melihat matanya yang kulihat malah sorot ketidakrelaan untuk bersamaku.

"Hn," responnya lalu pergi dari hadapanku.

Aku terduduk lemas, ketidak bergunaanku membuat orang yang kusayang harus menderita. Untuk diakui sebagai seorang sepupu saja masih sangat sulit bagiku, sekarang aku juga harus meminta pengakuan sebagai istrinya. "Neji...hiks hiks" isakku.

Normal POV

-hari pernikahan-

Hari ini datang juga, hari dimana Hinata menikah dengan Neji. Hari yang biasanya menjadi hari yang paling membahagiaan bagi semua orang namun tidak bagi pasangan ini. Neji sama sekali tidak memperhatikan Hinata yang tampil menawan menggunakan kimino putih dengan bordiran bunga lavender dan sebuah mawar putih tersemat manis di rambutnya. Tak ubahnya pengantin pria, Hinata juga tak hanya memperhatikan Neji, namun matanya juga selalu tertuju pada Naruto yang saat itu tengah menggandeng Sakura.

Beberapa jam berlalu, pesta pernikahan pun berakhir, Hinata dan Neji telah sah sebagai suami istri dan kini mereka tengah berada di kamar pengantin. Kamar yang cukup besar dengan ranjang king size berhiaskan lavender dan mawar putih, kamar yang sangat indah dan mewah.

"T-ten ten-san...terlihat sangat menawan!" seru Hinata untuk memecah keheningan saat itu.

"Hn!"

"A-aku lelah, aku tidur duluan!"

"Hn!"

Hinata segera membaringkan tubuhnya di ranjang.

"tidak ganti pakaian?" tanya Neji sambil mengganti pakaiannya.

"S-sulit melepasnya,"

"Kemarilah!" panggil Neji, menyuruh Hinata untuk mendekat ke arahnya.

Dengan sedikit ragu Hinata bangkit dan mendekat ke arah Neji.

"Berbaliklah!"

Neji membukakan obi yang di kenakan Hinata, lalu lapis demi lapis kimono yang di pakainya hingga lapisan terkhir. Dengan sedikit berdehem, Neji mengisyaratkan agar Hinata mengganti pakaiannya sendiri, dengan bergegas sang gadis berjalan mengambil pakaian tidurnya dan berganti pakaian di kamar mandi.

Selang beberapa menit dia keluar mengenakan pakaian tidur yang cukup sederhana namun terlihat sangat manis dan memperlihatkan lekuk tubuh Hinata yang terbilang indah, berisi namun tak gemuk. Neji yang telah menggunakan yukata tidurnya sempat tertegun melihat penampilan Hinata namun hanya beberapa detik dia kembali seperti biasa. Dengan santai Neji duduk menyandar pada kepala ranjang seraya membaca buku.

"O-oyasumi!" ucap Hinata lalu bergegas masuk ke dalam selimut, tidur membelakangi Neji.

"Hn, oyasumi."

Tik tik tik

Hujan mulai turun, suaranya mendominasi keheningan saat itu.

"Nii-san?"

"Hn?"

"Maaf..."

"Tak perlu minta maaf!"
"Tapi-"
"Kubilang tak perlu!"

Suasana kembali sunyi, Neji menghentikan aktivitasnya, meringsut tidur dan ikut membelakangi Hinata hingga punggung mereka saling berhadapan.

"Nii-san?"

"Hn?"

"A-apa kau masih membenciku?"

"Ha?"

"Apakah kau sudah mengakui keberadaanku?"

"Apa maksudmu?"

"Sebelumnya aku selalu berusaha untuk mendapatkan pengakuanmu sebagai seorang sepupu, sebagai seorang rekan dan sebagai seorang shinobi, apakah sekarang kau sudah mengakuiku?"

Neji berbalik mengahadap Hinata begitu juga sebaliknya, kini meraka tengah saling pandang.

"Untuk apalagi membahas hal itu?"

"A-aku hanya ingin terlihat sedikit berguna, aku ingin keberadaanku sedikit diakui, tidak oleh siapa pun tapi o-oleh N-neji-nii-san" Hinata merubah posisinya menatap langit-langit kamar, jemarinya saling bertautan bertanda bahwa dia sedang gugup, seketika Neji telah berada di atasnya membuat Hinata sangat memerah. "Nii-san?"

"Kamu menganggapku sebagai apa?" tatapan Neji begitu intens, tangannya yang berada di kiri dan kanan Hinata seakan memerangkap sang gadis.

"O-orang yang sangat ku-ku hormati"

"Untuk apa Heiress Hyuuga harus menghormati kalangan rendah sepertiku ini?"

"Jangan mengatakan hal itu, nii-san b-bukan kalangan rendah, nii-san adalah Hyuuga yang jenius dan kuat, sosok yang ku kagumi sekaligus s-sosok yang slalu membuatku iri!"

"Iri?" Neji membelai pipi Hinata dengan punggung tangannya, dia mulai mempersempit jarak mereka namun sebelum bibir mereka saling bertemu, Hinata memalingkan wajahnya.

Neji menghela nafas lalu kembali berbaring disebelah Hinata, "Tidurlah!" ucapnya. Hinata merasa sangat panas, pipinya sudah seperti kepiting rebus dan berani taruhan malam ini dia tidak akan bisa tidur karena gugup.

Malam itu mereka saling memahami bahwa cinta memang tak harus memiliki namun sulit untuk merelakannya. Biarpun di luar terlihat tegar menerima perpisaahan namun hati tetap merutuk untuk dapat kembali ke samping orang yang dicintai. Sangatlah sulit untuk menumbuhkan cinta yang baru ketika cinta yang lama masih begitu kuat.

TBC


Akhirnya, bisa publish juga *terharu*

Setelah sekian lama mengalami WB, tiba-tiba saja ide mengalir di otak dan dalam sehari chapter ini dapat terselelsaikan, ku kira akan terbengakalai seperti fict yang lain. (Q~Q)


Balasan ripiu~~~ nyaaaaa

Finzhy: suka ga ya... :3 *plak

Wely: wah... 2x? Q^Q jadi terharu... ini udah apdate, maaf lama dan maaf jika ceritanya jadi makin mengecewakan... ditunggu ripiu selanjutnya...

Guest: nih apdate, ahihihihi makasih nyaaaa~

Hazena: ini apdate! /\ gomen, benar-benar lelet... nyaaaa~

Ritsu: minna~ makasih ripiunya... maaf jika ceritanya malah makin mengecewakan... u.u"


Oh ya, buat para fans Hyuuga Neji mungkin ini bukan kabar baru tapi bagi yang belum tahu kabar duka, Hyuuga Neji sang Hyuuga jenius telah dibunuh oleg bijuu demi melindungi Hinata dan Naruto. Hiksu hiksu hiksu.

Sumpah ni bikin galau, aku tahu pas malam hari awal chapter 614 keluar, sampai-sampai aku tak bisa tidur, pas buka FB semua orang pada bikin status RIP Neji, malah makin galau dan sempat nangis juga (Y^Y)

MasaKishi bener-bener ga pilih-pilih buat mematikan karakter di manganya. Kenapa harus Neji? Kenapa? Hiksu hiksu

Nyaaaaaaaa aku malah curhat! Gomen, aku hanya masih belum terima kenyataan ini, semoga saja Neji dapat hidup kembali seperti Kakashi dulu. Amin amin amin! /\

Salam

Ritsu Ayumu T.T