Disclaimer: semua karakternya milik pamanku, Masashi Kishimoto. Aye! =w=d
(ditendang masashi-sensei)
Summary: Hinata merasa tidak diakui oleh sepupunya Neji, karena itulah ia selalu berjuang agar pengakuan itu keluar dari bibir tipis Neji./benci dan cinta dapat di bedakan jika melihat dan merasakannya dengan mata hati/
Warning: OOC, typo(s), gaje dan sebangsanya.
Rate: T semi M (untuk jaga-jaga, mungkin aja aku kelepasan :D
Cerita sebelumnya:
"Kamu menganggapku sebagai apa?" tatapan Neji begitu intens, tangannya yang berada di kiri dan kanan Hinata seakan memerangkap sang gadis.
"O-orang yang sangat ku-ku hormati"
"Untuk apa Heiress Hyuuga harus menghormati kalangan rendah sepertiku ini?"
"Jangan mengatakan hal itu, nii-san b-bukan kalangan rendah, nii-san adalah Hyuuga yang jenius dan kuat, sosok yang ku kagumi sekaligus s-sosok yang slalu membuatku iri!"
"Iri?" Neji membelai pipi Hinata dengan punggung tangannya, dia mulai mempersempit jarak mereka namun sebelum bibir mereka saling bertemu, Hinata memalingkan wajahnya.
Neji menghela nafas lalu kembali berbaring disebelah Hinata, "Tidurlah!" ucapnya. Hinata merasa sangat panas, pipinya sudah seperti kepiting rebus dan berani taruhan malam ini dia tidak akan bisa tidur karena gugup.
.
.
.
Normal POV
Tanpa terasa sebulan sudah pasangan muda Hyuuga menikah, tapi hubungan diantara kedua insan itu tidak membaik sedikit pun, bahkan dapat dikatakan semakin buruk. Neji sama sekali tak memperdulikan Hinata, dia lebih menyibukkan dirinya untuk bekerja, menjadi pemimpin klan Hyuuga menggantikan istrinya.
Terkadang Neji tak pulang semalaman atau jika pulang pun hanya dua jam sebelum pagi. Bahkan yang semakin parah Neji lebih sering tidur di sofa dari pada seranjang dengan Hinata. Hal tersebut kemungkinan dipicu oleh kejadian dua minggu yang lalu, ketika Neji, Hinata, dan Naruto mendapat tugas se tim. Mereka melakukan perjalanan dua hari satu malam menuju lokasi yang dituju.
Ketika menjalankan misi tersebut Hinata bersikap sangat heroik terhadap naruto, mungkin hal itulah yang menjadi penyebab ketidaksukaan Neji. Cemburukah? Siapa yang tahu! Yang pasti sejak saat itu dia menjadi sangat dingin pada Hinata, ditambah ketika tak sengaja Hinata mengatakan hal yang tak seharusnya.
-Taman Konoha, dua minggu setelah pernikahan Neji dan Hinata-
Hinata POV
Siang itu, aku keluar mencari Neji yang sejak pagi pergi dan belum juga pulang padahal sama sekali tidak mendapat misi dari hokage. Aku berjalan di sekitar taman dan tanpa sengaja aku melihat Neji tengah duduk berdua dengan Tenten, aku sedikit mendekat, mengatur jarak agar kehadiranku tidak diketahui. Kulihat Neji tersenyum lembut ke arah Tenten, senyum yang tak pernah dia berikan padaku. Mungkin aku egois karena walau aku masih mencintai Naruto tapi aku tetap tidak suka Neji berada dekat dengan wanita lain.
Aku tidak tahu apa yang mereka katakan tapi yang jelas mereka tampak sangat bahagia, tanpa diduga ternyata Neji menyadari kehadiranku; menyuruhku keluar dari persembunyian dan menghadapnya.
"Apa yang anda lakukan Hinata-sama?"
"J-jangan memanggilku dengan e-embel-embel –sama!" sahutku gugup.
"Hinata-chan, aku-"
"Kalian terlihat sangat serasi!" ucapku sekenanya.
"I-ini tak seperti yang kamu pikirkan, aku dan Neji hanya mengobrol kok Hina-chan." Jelas Tenten dengan sedikit salah tingkah.
"Sudahlah, ayo kita kembali, Hinata!" ajak Neji dan langsung beranjak meninggalkan Tenten begitu saja.
Tinggallah aku dan Tenten, kami merupakan dua gadis yang saling menginginkan sosok yang sama. "Maaf Hinata-chan, aku masih belum dapat membuang Neji dari hatiku, sama seperti perasaanmu terhadap Naruto, aku juga tak dapat berpaling darinya." Jelas Tenten.
"J-jangan menyamakanku denganmu!" kata Hinata sedikit membentak, "A-aku memang masih mencintai N-naruto t-tapi aku tak pernah secara terang-terangan menarik perhatiannya hingga dia lupa pada Sakura." Jelasku.
"Hinata!" Tegur Neji sinis.
"Nii-san, k-ku kira-" Hinata gelagapan, antara takut dan sedih.
"Apa maksud anda mengatakan hal itu, Hinata-sama?" Desis Neji dengan sedikit penekatan pada kata terakhirnya.
"A-aku tak bermaksud apa-apa, h-hanya saja-"
"Cukup!" potong Neji, "aku mengerti, sebaiknya anda kembali pulang!"
Hinata diam, menunduk lemah, bahkan tak bergeming sedikit pun ketika Neji berjalan melewatinya, jujur Hinata belum dapat melupakan Naruto apalagi berhenti mencintai jinchuriki kyuubi itu, tapi dia juga tidak rela jika Neji mengalihkan pandangan darinya dan menatap wanita lain. Hinata tidak menyangkal bahwa dia cemburu, tapi apakah kecemburuannya didasari oleh cinta? Tapi yang pasti Hinata tidak ingin lagi neji berpaling dia takut jika Neji tak akan melihatnya lagi, usahanya selama ini akan sia-sia. Tapi dia juga tidak ingin menjadi orang yang egois dalam hal ini, apa yang Hinata harapkan dari seorang Hyuuga Neji yang dulu sangat membencinya? Hinata adalah penerus Hyuuga yang baik, selalu mengalah demi kebahagiaan orang lain, selalu diam demi kemajuan klannya, tapi apa dia bahagia dengan semua itu? Hinata tidak ingin Neji pergi, dia ingin memiliki, dia sudah lelah kehilangan dan mangalah seperti ketika dia harus melepas cintanya terhadap Naruto.
"Ti-tidak! Tidak, Nii-san, jangan pergi!" Hinata mengejarnya dan menghentikan langkah suaminya itu. "hiks hiks... Nii-san tidak boleh berpaling dariku lagi, sebagai istri dan sebagai penerus utama klan Hyuuga dari tingkat atas aku tidak mau Nii-san menemuinya lagi!" Hinata menegang, dia menutup mata dan menahan tangisnya.
Neji yang mendengarnya tersentak; membulatkan mata tak percaya, "A-apa?" tak ada kata-kata lain yang dapat keluar dari mulutnya. Dia berbalik menatap Hinata; menunduk lalu mengepalkan tangan, "ha.. Anda benar, kelas rendah sepertiku tak boleh melanggar larangan darimu"
"He?" Hinata mendongak dan menatap Neji, wajah datar itu meunjukkan kesuraman, tatapannya kosong namun seakan menghakimi.
"Tak hanya sebagai suami tapi juga sebagai kelas rendah saya harus lebih sadar diri, maaf atas kelancangan saya sebelumnya."
Tidak, bukan itu yang Hinata harapkan, bukan maksudnya untuk membawa-bawa masalah derajat seperti itu tapi- ah, sepertinya Hinata telah melakukan kesalahan besar.
.
.
.
Hinata P.O.V
Yah... sudah dua minggu sejak kejadian itu, Neji lebih menyibukkan dirinya dalam pekerjaan, dia seakan semakin jauh dariku, sesekali aku pernah melihatnya bercermin dan mencakar tanda sangkar di dahinya. Aku paham bagaimana perasaannya, walau telah menjadi suami seorang heirres Hyuuga tetap saja tak mengubah kenyataan bahwa dia hanya kelas rendah dalam klan. Ingin rasanya saat itu aku memeluknya dan menenangkannya tapi aku tak berani, semenjak kejadian itu aku menjadi takut padanya, aku takut akan menyakitinya lagi oleh perkataanku, aku yang egois telah melukai Neji Hyuuga orang yang paling kusayangi dan kuhormati.
Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam tapi Neji masih belum kembali, apakah sama seperti sebelumnya? Tapi aku masih berharap dia akan pulang cepat. Aku menyandar pada kepala ranjang dan memeluk lututku; membenakan wajahku. 'Neji-nii, pulanglah...' lirihku dalam hati.
Cklek!
Terdengar suara knop pintu yang terbuka, aku mendongak lalu beranjak turun dan menghampiri sumber suara, tanpa menghidupkan lampu aku tahu bahwa yang datang adalah neji.
"Nii-san?"
"Hn"
"P-pekerjaannya sudah selesai?"
"Belum."
"A-ah souka, ne... Nii-san mau kubuatkan teh hangat?"
"Tidak perlu, aku butuh istirahat."
"K-kalau begitu, mau kusiapkan air panas? Berendam pasti mampu mengusir kelelahan!"
"Tidak perlu."
Kulihat Neji memasuki kamar mandi untuk berganti pakaian, setelah itu dia mulai berbaring di sofa. "Nii-san, sebaiknya tidur di ranjang saja, b-biar aku yang-"
"Tidak perlu, oyasumi." Ucapnya datar lalu membelakangiku.
Untung saat itu lampu yang hidup hanya lampu tidur sehingga tidak terlihat bahwa aku tengah menangis. Apa kesalahanku begitu besar, Nii-san? Dengan gontai aku berjalan ke arah ranjang dan mengambil selimut tebal untuk menyelimuti Neji. "O-oyasuminasai..." bisikku lembut.
.
.
.
Normal P.O.V
Pagi hari Hinata terbangun karena suara percikan air dari kamar mandi, sepertinya Neji sedang mandi. Dengan perlahan Hinata bangkit dari tidurnya dan segera merapikan tempat tidur. Belum lama setelah dia selasai merapikan semuanya, Neji keluar dengan aroma sabun yang menguar dari tubuhnya, saat itu Neji hanya menggunakan celana pendek dan rambutnya yang panjang dan basar terurai dengan sedikit berantakan membuat Hinata yang melihatnya bersemu merah. Walau mereka sudah menikah tapi tetap saja Hinata malu apalagi meraka sama sekali belum melakukan malam pertama, ironis memang tapi itu semua atas kesepakatan mereka berdua, Hinata yang masih belum siap dan Neji yang tidak terlalu mengambil pusing akan hal itu.
"A-apakah hari ini Nii-san akan pergi lagi?" tanya Hinata ragu sambil menyerahkan handuk kecil untuk mengeringkan rambut Neji.
"Tidak, seharian ini aku libur." Jawab Neji sekenanya.
"B-benarkah? Y-yokatta desune..."
"Hn."
Seperti biasa Neji selalu menanggapi Hinata dengan dingin. Segera setelah percakapan singkat itu Hinata bergegas ke kamar mandi. Dia menyandar pada pintu yang telah dikunci; menunduk lalu merosot terduduk. "Nii-san..." lirihnya sedih.
Skip Time -
"Nii-san, hari ini ada acara pertemuan klan Hyuuga, Nii-san ikut?"
"Tentu saja."
Ya, hari ini ada acara pertemuan keluarga Hyuuga, akan ada pesta tradisional dan tentunya semua petinggi Hyuuga akan datang. Malam itu Hinata mengenakan sebuah kimono biru muda dengan bunga-bunga berwarna ungu peninggalan ibunya, dia cukup kesulitan saat memasang bagian obi, tapi tiba-tiba Neji datang dan mengambil alih tangan Hinata untuk memasang obi tersebut. Hinata hanya diam dan memperhatikan bagaimana tangan terampil neji melakukannya dengan sangat baik dan cepat.
"Selesai." Ucap Neji lalu berjalan keluar kamar, "kutunggu di luar!"
"Y-ya!" jawab Hinata gugup.
Malam itu Hinata tampil sangat manis dan pesona Neji seakan memukau semua orang yang melihatnya. Dia sangat pantas menyandang gelar sebagai Hyuga berbakat.
Setelah pembicaraan penting para petinggi, diadakan acara minum sake, sebenarnya Neji tidak terlalu suka sake tapi apa boleh buat, untuk menjaga kesopanan dia berusaha meminumnya walau hanya sedikit. Sementara Hinata yang tidak bisa minum sake malah lahap meminumnya. Terlihat semburat merah di pipi putihnya pertanda bahwa dia sudah mulai mabuk. Dengan khawatir Neji memohon izin untuk meninggalkan pesta dengan alasan Hinata sudah lelah dan sedikit mabuk, sebenarnya dia cukup tertolong karena mendapat alasan untuk keluar lebih dahulu.
"Nii-san..." gumam Hinata ketika Neji menggendongnya.
"Hn?"
"Acaranya sudah selesai kah?"
"Belum."
"Lalu kenapa kita pergi?"
"Karna kamu sudah mabuk!"
"A-aku tidak mabuk! T-urunkan aku!" suruh Hinata manja.
Neji tidak meperdulikan rontaan Hinata, dia terus menggendong sang istri dan membawanya memasuki kamar, dengan perlahan Neji merebahkan Hinata di ranjang dan menyelimutinya. "Tidurlah!" ucapnya lalu beranjak pergi namun tangannya ditahan oleh Hinata.
"Nii-san mau kemana?"
"Aku juga akan istirahat."
"Lalu kenapa pergi? Ranjangnya kan di sini?"
"Aku tidur di sofa saja!"
"Tidak! Kenapa? Kenapa Nii-san tidak mau tidur disampingku? Kenapa?"
"Sudahlah, sebaiknya segera tidur!" suruh Neji lelah. Dia melepaskan genggaman Hinata dari lengan bajunya lalu pergi ke arah sofa yang berada di sudut ruangan. Namun seketika dia berhenti karena Hinata memeluknya dari belakang.
"Ma-maaf... maaf jika aku selalu membuatmu marah dan membenciku, maaf..."
Hinata terisak dan membenamkan wajah pada punggung tegap Neji, "Apa maksudmu?" tanya Neji datar.
"Apakah Nii-san masih membenciku?" tanpa mengindahkan pertanyaan Neji, Hinata kembali menimpali dengan pertanyaan yang lain, pertanyaan yang selama selalu tertanam pada otaknya. Neji hanya diam dan membiarkan Hinata memeluknya. Dia tak tahu harus menjawab apa, baginya Hinata bukanlah orang yang dia benci namun juga bukan orang yang dia sukai, ya, Hinata bukanlah orang yang dia sukai namun juga bukan orang yang dia benci atau lebih tepatnya selama ini dia menutup mata terhadap kehadiran sang istri, ia tak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Hinata, gadis yang dulu pernah sangat ia benci, gadis yang dulu pernah menjadi orang yang paling menyita pikirannya dan kini menjadi istri yang tak tahu harus dia anggap seperti apa.
Mungkin terdengar cukup kejam, Neji seakan tak menganggap kehadiran Hinata selama ini, tapi itu semua dia lakukan agar tak ada yang akan tersakiti namun nyatanya baik dia maupun Hinata sama-sama merasakan hal sebaliknya, dia tau kalau Hinata terluka tapi dia tetap tak bisa berbuat lebih baik lagi.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan." Jawab Neji datar tanpa berusaha membalikkan tubuhnya menghadap Hinata, "tidurlah, kamu sudah terlalu banyak minum!"
"A-aku tau kalau aku telah melakuakan hal yang salah padamu dan- dan Ten-ten" ucap Hinata ragu pada kata terakhirnya.
"Jangan membahasnya lagi!"
"T-tapi-"
"Hinata!" Neji menaikkan nada suaranya. Dengan sedikit jengah dia melepas pelukan Hinata dan berbalik menghadap sang istri. "apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini?" tanya Neji serius.
Hinata mendogak kaget, 'apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini', kalimat itu terngiang jelas di telinganya, "A-aku..."
"Satu hal yang harus kamu ingat, pernikahan ini merupakan salah satu pernikahan politik, pernikahan yang ditujukan untuk kepentingan Hyuuga di masa depan, tidak lebih."
" " Hinata terdiam.
"Apa lagi yang diharapkan dariku? Pengakuan? Bukankah aku sudah mengakuimu bahwa kamu adalah seorang Hyuuga Hinata yang kuat dan juga sebagai seorang penerus utama Klan Hyuuga yang sangat cantik dan pintar, apa yang kurang?"
" " Hinata menangis dalam diam, tidak ada kata-kata Neji yang dapat dia jawab begitu saja.
Neji yang merasa sudah terlalu banyak bicara saat itu menjauhi Hinata dan mengambil posisi tidur di sofa dengan memunggungi Hinata. Sementara sang istri berdiri mematung, fikirannya berkecamuk, bahkan kini dia menjadi tak yakin dengan apa yang ia rasakan pada Neji, "cinta atau pengakuan?" bisiknya sepelan mungkin, terbukti bahwa Neji sama sekali tak mendengarnya.
NEJI P.O.V
Pagi itu aku terbangun lebih dahulu, kulihat Hinata masih tertidur nyenyak di ranjang. Aku mulai duduk dan merasakan sebuah selimut tebal terjatuh dari badanku, semalam dia menyelimutiku. Dengan perlahan aku mendekati Hinata, menatap wajah tidurnya yang ternyata sangat manis, aku masih belum yakin apakah selama ini aku sudah terpesona pada Hinata? Kalau tidak lalu mengapa sang gadis selalu memenuhi otakku, membuat otak cerdasku bekerja lebih keras untuk membuangnya dari pikiranku. Setelah puas menatapnya aku segera melangkah ke kamar mandi dan membersihkan tubuh yang semalam tak sempat kubersihkan karena sudah terlanjur lelah.
Tak memakan waktu lama bagiku untuk mandi, dengan hanya mengenakan celana panjang yang sengaja kubawa untuk diganti di kamar mandi aku membuka pintu perlahan dan memasuki kamar yang saat itu tak berubah sama sekali, masih cukup berantakan, tak biasanya seperti ini, biasanya ketika aku mandi Hinata akan bangun dan membersihkan kamar dan kopi hangat yang hanya sesekali ku minum selalu terhidang manis di meja kecil di samping kamar. Kutelusuri setiap ruangan mencari keberadaan Hinata dan benar saja dia masih tertidur lelap, kurasa dia sangat lelah. Dengan langkah pasti aku mengambil selimut yang di sofa lalu menyelimuti Hinata. Jendela kamar ku biarkan masih tertutup agar cahaya pagi tak mengganggu tidur nyenyaknya.
Setelah merasa puas memandanginya, aku mengambil sebuah kemeja dan memasangi kancingnya satu persatu dengan santai, sebenarnya hari ini tidak ada jadwal yang penting atau lebih tepat hari liburku, tapi ada hal penting yang harus kubicarakan pada hokage. Setelah merasa sudah rapih aku menggenggam ganggang pintu perlahan agar tak membangunkan Hinata tapi ternyata dia sudah bangun duluan. "Nii-san mau pergi bekerja?" tanya Hinata.
"Tidak, aku hanya ada perlu sebentar dengan hokage." Jawabku sekenanya tanpa berbalik menatapnya.
"A-aku ikut!" seru Hinata cepat. "tu-tunggu, aku akan bersiap-siap dengan cepat!" dia bergegas lari ke kamar mandi sementara aku hanya bingung lalu membalikkan badan melihatnya.
"Ada urusan juga dengan hokage?" tanyaku dari dalam kamar, aku yakin dia mendengar pertanyaanku.
"T-tidak, aku hanya ingin kesana saja, semenjak kita menikah aku sudah tak kesana lagi, mungkin saja aku akan mendapatkan misi." Jawabnya cepat.
"Tidak mungkin mendapat tugas lagi, karena tugasmu sekarang hanya mengurus klan kita." Jawabku tenang. Aku menyandar pada dinding di samping pintu kamar mandi, kudengar suara shower dan gerakan Hinata yang terburu-buru, hanya beberapa menit saja dia sudah keluar dengan tergesa-gesa dan hanya mengenakan handuk yang membuat lekukan tubuhnya terlihat sempurna, berisi namun tidak gemuk.
"A-aku lupa membawa b-baju ganti" cucapnya atau lebih tepat cicitannya.
Aku hanya menatap setiap gerak geriknya, mengambil pakaian ganti di lemari lalu dengan tergesa-gesa kembali ke kamar mandi namun ketika akan masuk dia tergelincir dan bersiap jatuh namun karena posisiku yang cukup dekat dengannya membuatku dengan cepat dan menopang tubuhnya agar tak menghantam lantai. "Berhati-hatilah!" kataku sambil membantunya untuk berdiri kembali. Kulihat wajahnya bersemu merah, dari dekat aku dapat mencium aroma tubuhnya, antara aroma sabun dnegna lavender, aku penasaran bagaimana tubuhnya bisa sewangi itu, meski hanya aroma yang tak menyengat namun tetap dengan mudah tercium oleh hidungku.
"Ma-maaf, maaf, maaf" ia membungkuk-bungkuk minta maaf dengan wajah sudah semakin merah, setelah merasa cukup, dia kembali ke kamar mandi tapi aku mencegahnya, memegangi pergelangan tangannya lalu menariknya ke arahku, aahh~ wanginya menenangkan... "Nii-san?"
Kini ia sudah berada dalam dekapanku, ku benamkan wajahku pada pada lehernya, kuhirup aroma shampo yang masih kentara di rambut indingonya, "Wangi..." bisikku. Aku yakin wajahnya sudah berkali lipat lebih merah dari yang tadi tapi aku sudah tak peduli, walau bagaimanapun aku masih laki-laki normal yang libidonya naik setiap ketika pagi hari. Ya, libidoku naik hanya karena mencium aroma tubuhnya, jatuh sudah image ku selama ini. Aku tak tau apa yang terjadi padaku, tiba-tiba saja aku bertindak seperti pria mesum seperti ini, "Hinata..." gumamku lalu mengangkat rambut yang menutupi lehernya, kulihat leher mulus itu dan mencium aroma ynag menguar lalu kembali membenamkan wajahku pada lipatan-lipatan lehernya, menekankan bibirku pada kulit mulus itu lalu menghirup aromanya.
"U-uuhhh... nii-san" erang Hinata terdengar begitu merdu, hahh~ kenapa harus mengerang? Aku semakin menginginkannya, "Hinata.." bisikku lagi, sepertinya nafasku ketika mebisikkan namanya membuat lehernya geli terbukti dari gerakan Hinata yang menggeliat dalam dekapanku.
"Uuuhhh~ c-cukup, aahh geli..."
'Hinata berhentilah mendesah, aku semakin tidak bisa mengendalikan diriku' erangku dalam hati. Dengan perlahan aku menyandarkannya pada dinding tanpa melepas ciuman-ciuman lembutku pada lehernya, kuapit tubuh yang cukup kecil dari ku itu, lalu semakin memperdalam benaman wajahku membuatnya mendongak dan meremas lengan kemejaku.
"Hinata..." bisikku untuk kesekian kalinya, dengan perlahan aku menciumi leher dan menjalar hingga dagunya, semakin ku bungkukkan badanku untuk menyetarakan dengan tinggi lalu menyerang leher Hinata yang sisi lain, Hinata semakin mengerang dan berusaha melepas dekapanku tapi dengan tenaga yang sangat lemah, kurasa dia juga sudah terangsang olehku. 'Arrggggghhhhhhhh Nejiiiii kenapa kau jadi mesum seperti ini?' histerisku dalam hati.
"Nii-san, c-cukuphh~" Hinata terus berusaha mendorongku dari tubuhnya. Setelah puas dengan lehernya aku melepaskannya dan membuat sedikit jarak antara kami, ku tatap wajahnya yang bersemu merah padam. Nafasnya terengah-engah, dia tak berani menatap mataku, tangannya terus berpegang pada kedua lenganku, seakna jika tidak begitu dia akan merosot jatuh, "K-kenapahh~? Tanyanya masih dengan nafas tersengal-sengal, menahan malu.
"Apanya?" tanyaku innocent tanpa memalingkan wajah darinya, yang masih memegangi kedua bahunya mulai meraba lehernya lalu menarik wajah Hinata untuk mendektiku lalu melumat bibir penuhnya. Di awali dengan tekanan-tekanan lembut pada bibirnya namun hal tersebut malah membuatku semakin gila, aku ingin lebih, lebih dan lebih. Kulumat bibir bawahnya, semakin memiringkan wajahku untuk memperdalam ciumanku, aahhh~~~ aku ingin lebih, dengan sedikit memaksa aku menjilati bibir Hinata agar dia membukanya tapi tetap tak bisa, dan dengan sekejap aku menggigit bibir bawahnya membuat Hinata tanpa sengaja membuka bibirnya, tanpa menyia-nyiakan kesempatan aku pun memasukkan lidahku ke dalam mulutnya, menelusuri setiap rongga mulutnya dan mengajak lidah Hinata untuk ikut menari dengan lidahku. Awalnya Hinata tidak merespon tapi lama kelamaan dia mengikuti alur permainanku, salivanya mengalir dari mulutdan membuat garis lurus menuruni leher jenjengnya, masih dengan tangan yang meremas erat lengan kemejaku.
"Nghhh~" lenguh Hinata. Sepertinya dia sudah meulai kekurangan pasokan oksigen dan dengan sedikit tak rela aku melapas ciumanku. Membuat benang-benang saliva terlihat jelas seperti tali bening yang mengikat bibirku dengan bibirnya. Dengan masih mendongak menatapku, dia terengah-engah dengan begitu erotisnya, 'sial!' rutukku.
Tatapan Hinata terlihat nanar dan semakin membuatku ingin menyerangnya, 'Siaaall!' aku semakin merutuki ekspresi Hinata yang begitu menggoda. "La-lagi!" pinta Hinata.
'Ah, shit!' dengan hanya satu kata itu aku semakin mendongakkan wajah Hinata lalu melumatnya dengan ganas, dia mulai menyukai aktifitas kami, terbikuti dengan tangannya yang melingkari leherku seakan tak ingin melepaskanku. Dia juga dengan pasrah membuka mulutnya hingga memudahkankuu menginvasinya, dia cukup berbakat dalam hal ciuman, aku sedikit tersenyum puas di tengah ciuman kami.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ TBC ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Oh My God! Huh~ *kipas-kipas*
Bagaimana? Adegan pemanasannya udah pas belum? :D
Aku tak menyangka tiba-tiba fikiran mesum melintas dalam otakku *plak
Aku sedikit bingung dengan sifat Neji, sebenarnya dia suka Hinata atau tidak sih, katanya ga nganggep Hinata sebagai istri tapi sekarang hanya karena aroma hinata dia jadi nafsu gitu, ckckck dasara laki-laki yang sulit ditebak. *loh?* *dicekik Neji*
Neji: "kau yang membuatku seperti itu,, jangan seolah-olah menyalahkanku! Aho!
Me:"Tehe!" :p
Okeh, sebegitu dulu chapter kali ini, bagaimana? Apdatenya udah cepat dari biasanya kan... xixixiixixixixixxi sebenarnya pas menyelesaikan ini aku dalam masa-masa UAS tapi seperti biasa, insporasi keluar ketika sedang ujian :D
BALASAN RIPIU~~~~~~
Wely: ehehhehe gomennasi desu~ u.u" *bersihin jamur yang menggerogoti wely-san*
*plak*
Sekarang bagaimana? Sudah lebih panjangkah? Sudah lebih cepatkah? *mata berbinar-binar*
Amin amin, neji selalu idup dihatiku...
Hazena: ehehhehe makasih udah kangen, Ritsu sangat senang mendengarnya... *tersenyum terharu* yah... semoga saja ahihihihi
Yanie: siip, nih apdate, thanks ripiunya yah ^^
Kuharap mereka akan saling mencintai ahihihihi
Jump-an: okeh Boss! :D
Zee-kun: ehehehhe sip, thanks jempolnya ^^
Salam
Ritsu ^^
