Disclaimer: Masashi Kishimoto
Summary: Hinata merasa tidak diakui oleh sepupunya Neji, karena itulah ia selalu berjuang agar pengakuan itu keluar dari bibir tipis Neji./benci dan cinta dapat di bedakan jika melihat dan merasakannya dengan mata hati/
Warning: OOC, typo(s), gaje dan sebangsanya.
Cerita sebelumnya:
Tatapan Hinata terlihat nanar dan semakin membuatku ingin menyerangnya, 'Siaaall!' aku semakin merutuki ekspresi Hinata yang begitu menggoda. "La-lagi!" pinta Hinata.
'Ah, shit!' dengan hanya satu kata itu aku semakin mendongakkan wajahnya lalu melumatnya dengan ganas, dia mulai menyukai aktifitas kami, terbukti dari tangannya yang melingkari leherku seakan tak ingin melepaskanku. Dia juga dengan pasrah membuka mulutnya hingga memudahkanku menginvasinya, dia cukup berbakat dalam hal ciuman, membuatku sedikit tersenyum puas di tengah ciuman kami.
.
.
.
"Cepat pakai bajumu, kita sudah terlambat!" suruh Neji setelah puas menghujam Hinata dengan ciumannya. Sebenarnya ia ingin melanjutkan pekerjaannya tadi sampai tuntas, tapi ketika melihat ekspresi Hinata yang menegang takut ketika Neji mulai mengusap-usap pahanya membuat Neji sadar dan menghentikan aktifitasnya. Sedikit merapihkan pakaiannya kembali, ia melangkah keluar meninggalkan Hinata yang masih mengumpulkan kesadarannya. Nafasnya terengah-engah, bibirnya basah oleh salivanya yang bercampur dengan saliva Neji. Disentuhnya bibir itu lalu merosot terduduk, wajahnya dua kali lipat lebih merah dari beberapa menit yang lalu.
Dengan perlahan Hinata bangkit dan bergegas memakai pakaiannya, dia tak boleh membuat Neji menunggu lama, "Neji-" gumamnya malu. Rasa gugup dengan kejadian beberapa waktu lalu yang terus melintas dalam otaknya membuat Hinata memerah sendiri. Dibukanya knop pintu dengan perlahan dan menampakkan Neji Hyuuga yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ayo cepat!" seru Neji lalu berjalan lebih dulu. Dengan langkah cepat Hinata mengikutinya, mereka pergi ke gedung hokage dalam diam, tak ada seorang pun yang mau memulai pembicaraan lebih dulu, Neji terlalu sibuk dalam fikirannya sementara Hinata yang jangankan untuk memulai pembicaraan, untuk memanggil Neji saja mungkin dia tak sanggup. Tak terasa mereka telah sampai di depan gerbang gedung yang di tuju, sebelum mereka melangkahkan kaki kesana, mereka di hadang oleh Lee dan Tenten.
"Hoy, Neji-kun, Hinata-chan..." sapa Lee semangat.
"Hai, Neji-kun, Hinata-chan" sapa Tenten ragu.
"Hn" respon Neji.
"H-hai" jawab Hinata gugup.
"Kalian mau kemana?" tanya Lee, "kalian dapat misi dari hokage?"
"Tidak, hanya ada perlu sebentar dengan Tsunade-sama"
"Hm... souka. Kalau begitu kami duluan, ada misi yang harus diselesaikan dan kita akan menyelasaikannya dalam waktu 4 jam, ya kan Tenten?!" ucap Lee dengan semangat berapi-api.
"Aho! Untuk ke sana saja butuh waktu 3 jam lebih!" omel Tenten, kesal dengan semangat Lee yang terlalu berlebihan seperti biasa.
"Tapi kita bisa lebih cepat dengan semua latihan yang kita lakukan selama ini!" ucap Lee dengan penuh keyakinan, sementara Tenten dan Hinata hanya menggeleng prihatin.
"Ayo, Hinata!" ucap Neji lalu pergi lebih dulu.
"Eh? T-tunggu!" sahut Hinata, "permisi.." ucapnya sambil membungkuk ke arah Lee dan Tenten.
Sementara Hinata menyusul Neji, Tenten memandanginya dengan tatapan sedih bercampur cemburu. Tatapannya makin menggelap hingga kedua sejoli itu menghilang di balik koridor.
"Setidaknya aku selalu berusaha untuk mengikhlaskannya..." lirih Tenten.
"Sudahlah, takdir memang sudah memilih mereka untuk bersama." Ucap Lee untuk menenangkan Tenten.
"Yoh, Neji, Hinata, pagi!" sapa Naruto yang baru saja keluar dari ruangan hokage, membuat Hinata terkejut setengah mati, jantungnya serasa berhenti berdetak untuk beberapa detik dan terasa tersengat listrik ketika ia melihat Sakura yang berada disamping Naruto.
"Pagi, Neji-kun, Hinata-chan..." sapa Sakura lembut, "Hei, Naruto! Jangan nyengir saja, ayo kita berangkat!"
"Iya iya ttebayo!" cibir Naruto kesal."ne ne ne... Bagaimana rasanya setelah menikah?" goda Naruto. Baginya hal itu adalah godaan yang menyenangkan tapi bagi Neji dan Hinata hal tersebut adalah sesuatu yang sensitif.
Neji melirik Hinata sekilas lalu merangkul bahu sang indigo, "Seperti yang kau lihat, Naruto" ucap Neji dengan wajah stoicknya dan membawa Hinata ke dalam.
Mereka meninggalkan Naruto, Sakura dan Sai di luar, setelah pintu tertutup Neji melepas rangkulannya dan menghadap Tsunade, "Hinata, bisa tunggu di luar sebentar?" pinta atau lebih tepatnya suruh Neji.
Tanpa pertanyaan atau tanggapan dengan segera Hinata keluar dari ruangan tersebut. Di luar ia kembali bertemu Naruto dan yang lainnya. "Hei, Hinata! Bicaranya sudah selesai? Mana Neji?" sapa Naruto; berjalan mendekati Hinata dan diikuti oleh Sakura dan Sai.
"Neji-nii ingin bicara berdua dengan Tsunade-sama, jadi aku keluar dulu" jelas Hinata gugup, "k-kalian b-belum berangkat?"
"kami sedang menunggu Kakashi-sensei..." keluh Sakura kesal, "selalu saja seperti ini, huh!"
"Hei hei, bagaimana kalau setelah menyelesaikan misi, kita mengadakan pesta sebagai hadiah untuk pernikahan Neji dan Hinata?!" ajak Naruto semangat. "kita adakan di kedai ramen!"
"Pesta yah, sepertinya menyenangkan, bagaimana Sai?" sahut Sakura setuju.
"Aku setuju" jawab Sai dengan senyuman sepert biasa.
"Baiklah... berarti sudah diputuskan, kalau begitu, Hinata dan Neji akan menjadi tamu istimewa kita!" teriak Naruto senang.
Hinata hanya tersenyum malu dengan rona pipi yang merona merah padam. Tidak lama mereka berbincang-bincang sambil menunggu Kakashi-sensei, Neji sudah keluar dari ruang hokage, sepertinya urusannya sudah selesai. Ketika melihat Hinata yang tersenyum bahagia karena candaan Naruto dan saat ia melihat semu merah di wajah Hinata, ada sedikit rasa tak rela di hati Neji, baginya ekspresi-ekspresi Hinata hanya boleh dipelihatkan di depannya. Dengan langkah pasti Neji mendekati Hinata dan melingkarkan tangannya dipinggang Hinata.
Kedatangan Neji yang tiba-tiba membuat mereka terkejut, apalagi Hinata yang jantungnya hampir saja putus saat itu juga. Neji memeluknya dari belakang dan ditonton oleh banyak orang apalagi salah satunya adalah Naruto orang yang pernah dan mungkin masih dia cintai. "Nii-san..."
"Hn" gumam Neji seakan mengabaikan kegelisahan Hinata, ditatapnya orang-orang yang tengah terdiam menyaksikan kemesraannya dengan sang istri, selintas terukir senyum puas di bibir Neji, sementara Hinata sudah memerah dan sepertinya akan pingsan.
"Hwaaaa Neji, kau mengumbar kemesraan di depan umum!" kata Naruto sedikit cemburu, "Sakura-chan..." panggilnya dengan nada manja menatap Sakura dan dengan sedikit deathglare dari gadis bersurai soft pink itu membuat Naruto terdiam seketika.
"Cemburu?" tanya Neji dengan tatapan menusuk.
"Ah, kau ini, bukannya aku cemburu, hanya saja aku merasa tak adil, kalau aku melakukan hal tersebut pada Sakura-chan pasti langsung ditonjok hingga mental bermeter-meter, huh!" jawab Naruto jengkel.
Neji menatap Hinata, diliatnya sedikit aura kecewa dalam diri sang gadis, Hinata pastilah semakin merasa bahwa sampai kapan pun cintanya akan tetap bertepuk sebelah tangan.
Neji P.O.V
"Hinata, bisa tunggu di luar sebentar?" pinta atau lebih tepatnya suruhku. Tanpa pertanyaan atau tanggapan dengan segera Hinata keluar dari ruangan ini.
Setelah yakin Hinata sudah keluar dan pintu tertutup rapat aku kembali menatap Tsunade-sama, pemimpin konoha yang wajah dan umurnya sudah sangat tidak sesuai. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya sang hokage.
"Berikan aku dan Hinata misi keluar desa!" ucapku enteng.
"Hah?" kulihat ekspresi bingung tergambar dari wajah muda tsunade-sama, "apa maksudmu? Ingin bulan madu dengan istrimu?" cibir Tsunade jahil.
"Anggap saja begitu" jawabku santai, setidaknya jawabanku tidak akan memperpanjang pembicaraan ini. Kulihat dia tersenyum puas, "wah wah... tak kusangka orang sepertimu meminta hal romantis seperti ini, kau mau mengajaknya kemana? Suna? Kirigakure? Ame? Atau ke Iwagakure?"
"Terserah saja, asal di desa lain."
"Hm... bisa saja, tapi aku harus menanyakannya pada petinggi Hyuuga yang lain, kau tahu kan bahwa aku tak bisa memberi kalian misi lagi karena kalian akan menjadi pemimpin klan Hyuuga, bisa kacau jika terjadi apa-apa dengan kalian." Jelas Tsunade.
"Aku tahu, tapi hari pelantikan akan segera tiba dan rasanya mustahil mereka mengizinkannya, makanya aku meminta tolong pada anda."
"Apa sebegitu pentingnya?"
"Hn"
"He... memangnya apa yang mau kalian lakukan di sana? Membuat penerus? Ahahahha"
"Ada hal yang ingin kupastikan" tanpa memperdulikan lawakan sang hokage, aku terus ngotot agar dia mau membantuku.
"Tapi aku tidak jamin akan bisa atau tidak." Jawab tsunade mengakhiri.
"Baiklah, kalau begitu, terimakasih!" ucapku lalu permisi untuk kembali keluar. Baru saja keluar aku sudah disuguhi pemandangan yang membuatku tak nyaman, Hinata bersemu di depan orang lain? Yang benar saja, biasanya dia hanya bersemu di depanku. Naruto, sudah kuduga, Hinata masih mencintainya, ada rasa jengkel dan cemburu, dan seketika aku berjalan ke arah mereka, mendekati Hinata dan melingkarkan tanganku pada pinggangnya, kurasakan Hinata menegang sejenak dan yang lainnya menatap ke arahku.
"Nii-san..." lirih Hinata.
"Hn" gumamku, mengabaikan kegelisahan Hinata, ku lihat orang-orang yang tengah terdiam menyaksikan kemesraan kami, selintas terukir senyum puas di bibirku, sementara Hinata sudah memerah dan sepertinya akan pingsan.
"Hwaaaa Neji, kau mengumbar kemesraan di depan umum!" kata Naruto terlihat cemburu, "Sakura-chan..." panggilnya dengan nada manja menatap Sakura dan dengan sedikit deathglare dari gadis bersurai soft pink itu membuat naruto terdiam seketika.
"Cemburu?" tanyaku dengan tatapan menusuk.
"Ah, kau ini, bukannya aku cemburu, hanya saja aku merasa tak adil, kalau aku melakukan hal tersebut pada Sakura-chan pasti langsung ditonjok hingga mental bermeter-meter, huh!" jawab Naruto jengkel.
Ku tatap Hinata, ada sedikit aura kecewa dalam diri sang gadis, Hinata pastilah semakin merasa bahwa sampai kapan pun cintanya akan tetap bertepuk sebelah tangan. Ironis memang, tapi kenapa dia masih menyimpan rasa pada jinchuuriki kyuubi tersebut sementara dia tahu bahwa perasaannya tak akan pernah berbalas. Kulepakan pelukanku lalu mengambil posisi di samping Hinata, "Sebaiknya kita segera kembali!" usulku dan di balas anggukan kecil oleh sang gadis. "kami permisi."
"hei, tunggu! Setelah misi kami selesai, kami akan mengadakan perta perayaan atas pernikahanmu dengan Hinata, datang yah!" seru Naruto. Aku hanya ber'Hn' ria lalu kembali berjalan menjauhi mereka.
"Pesta apaan itu" keluhku.
"Nii-san datang?" tanya Hinata pelan atau lebih tepatnya dia hanya berbisik.
"Begitu pentingkah?"
"Sebaiknya k-kita ikut, k-karna acaranya kan untuk k-kita!" usul Hinata ragu.
"Apa yang diharapkan dari acara seperti itu, ujung-ujungnya kamu malah akan semakin terpuruk melihat kedekatan mereka."
"A-aku sudah m-merelakannya-"
"Bohong!" potongku cepat, "sampai sekarang caramu menatapnya tak pernah berubah" aku berhenti dan berbalik menghadap Hinata. "aku mau saja ikut, tapi mari lakukan sebuah perjanjian, jika aku mendapatimu masih mencuri pandang dan menatapnya seperti tadi, kamu harus mengabulkan dua permintaanku, apa pun itu!"
Normal POV
Dua hari telah berlalu semenjak Neji menemui hokage dan saat pesta perayaan pernikahan pun tiba, malam itu mereka tengah duduk di kedai ramen sambil menunggu pesanan, terlihat Neji duduk berdampingan dengan Hinata seakan memberi batas antara Hinata dan Naruto. Suasana saat itu cukup berisik apalagi Naruto dan Lee. Jangan heran jika Lee juga datang karena Naruto lah yang mengundangnya. Tak hanya Lee tapi juga ada Kiba, shino, bahkan Tenten.
"Ini pesanan kalian" kata sang pemilik ramen dengan senyum sumbrigah menyerahkan bermangkuk-mangkuk ramen yang masih panas dan mengeluarkan aroma yang mengundang selera. Dengan wajah berbinar-binar Naruto langsung menyambarnya dan melahap dengan rakus.
Hinata terus menatap Naruto dan sedikit tersenyum ketika melihat cara makan sang pria yang begitu serampangan dan cepat. Hinata tak sadar bahwa ada mata yang tengah memperhatikan setiap ekspresi yang dia keluarkan. Neji melihat bagaimana Hinata masih memandang harap pada Naruto, bagaimana dia bersemu meski hanya melihat tingkah pria tan itu dari kejauhan.
"Sudah ku duga, akulah yang akan menang taruhan ini." Bisik Neji dan terus memakan ramennya dengan sangat elegan.
"Eh?" Hinata tersadar, akhirnya dia ingat bahwa dia sedang taruhan dengan Neji, dan seperti yang dikatakan suaminya itu, dia kalah, Hinata mengakui bahwa beberapa saat yang lalu dia telah menatap Naruto dengan penuh kasih seperti sebelumnya. "A-apa permintaanmu?"
Neji menghentikan kegiatan makannya dan menatap Hinata, dicondongkannya agar mendekat pada Hinata lalu berbisik, "Cium aku sekarang juga!"
"Ap- t-tidak mungkin!" resflek Hinata mundur kebelakang dan hampir saja menjerit karna syoknya. Untung saat itu sedang bising hingga tak ada yang akan menyadari apa yang terjadi pada Hinata.
"Bukankah perjanjiannya adalah melakukan apapun permintaanku?!" tuntut Neji sarkatis.
Hinata menunduk malu, jantungnya sudah tak karuan dan tubuhnya sudah berkeringat dingin, dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya Hinata mendekatkan diri pada Neji; memiringkan wajahnya dan semakin mepersempit jarak diantara mereka, dia mengepalkan tangannya dan keringat sudah mulai mengalir dari pelipisnya.
5 cm
3 cm
Cup
Semua kebisingan berubah menjadi senyap, semua mata tertuju pada kedua sejoli yang tengah berciuman, Hinata yang menutup mata tak menyadarinya ketika setelah beberapa detik dia merasa sangat senyap dengan perlahan dia kembali membuat jarak dan membuka matanya, seketika itu juga Hinata terbelalak ngeri melihat kenyataan bahwa semua mata tertuju padanya dan tak menunggu waktu lama Hinata pingsan karna malu.
"Hi-hinata..." pekik orang-orang yang menyaksikan adegan tersebut, sementara Neji dengan sigap menahan tubuh Hinata agar tidak jatuh ke lantai.
"Sepertinya kami harus kembali" ucap neji setelah berhasil menggendong Hinata.
"A-ah, ng, kau benar ttebayo!" sahut Naruto setengah sadar dari keterkejutannya. Siapa yang akan menyangka bahwa Hinata dapat mencium seseorang di tempat ramai seperti ini, yah... walaupun orang itu adalah suaminya tapi tetap saja tak mungkin bagi seorang pemalu seperti Hinata.
Tanpa berlama-lama Neji segera beranjak dari kedai tersebut, sebelum pergi dia sempat melirik ke arah Tenten dan seperti dugaan neji, Tenten tengah menunduk sedih, selamat Neji- kau telah membuat seseorang terluka.
...
Di baringkannya tubuh Hinata di atas ranjang king zise di kamar itu dan menunggu sang istri sadar dari pingsannya. Tidak menunggu lama kelopak yang tertutup itu mulai membuka dan menampakan mata abu-abu jernih dari seorang Indigo. "Ng..." lenguh Hinata sedikit menggeliat.
"..." Neji memandanginya tanpa bicara.
"Nii-san... a-acaranya sudah selesai?" tanya Hinata seraya mengubah posisinya menjadi duduk, kepalanya cukup pusing dan membuatnya setengah mengernyit.
"Kita pulang lebih dulu"
"Eh?"
"Kamu kan pingsan" Neji bangkit dari duduknya dan mendekati Hinata, diusapnya pipi sang sang indigo lalu berbisik di telinganya, "jangan bilang kamu lupa tentang kejadian di kedai ramen tadi, Hi-na-ta"
Hinata terbelalak ngeri, dia ingat—dia ingat ketika dia kalah taruhan dan harus mencium Neji dan menjadi tontonan semua temannya. Seketika wajahnya kembali memerah dan bertingkah gelagapan.
"Sudah ingat yah" seringai Neji mengembang, "tersisa satu permintaan lagi"
"A-apa itu?"
"Akan ku pikirkan dulu" Neji duduk di samping Hinata dan menatapnya lekat, "sebenarnya bukan ciuman seperti itu yang ku maksud,"
"Heh? M-maksud nii-san?" Hinata gugup setengah mati, dia benar-benar tak mau membahas masalah ciuman itu.
"Aku inginnya menggunakan lidah, tapi kamu malah keburu pingsan"
Hinata menegang dan menutup wajahnya dengan bantal, "Ti-tidak mungkin!"
"Kenapa tidak? Bukankah kita pernah melakukannya?!"
"Ke-kenapa sekarang nii-san mau menciumku?" tanya Hinata dari balik bantal, "b-bukankah nii-san selalu berusaha menjaga jarak denganku?"
"Apa? Aku tak bisa mendengar ucapanmu dengan jelas, singkirkan bantal itu!" keluh Neji sementara Hinata hanya menggeleng tak setuju. Neji tampak jengkel dan dengan cepat merampas bantal tersebut membuat Hinata kalang kabut mencari penutup wajah yang lain, "Hinata!" neji memegangi kedua tangannya lalu merangkak menyudutkan Hinata di kepala ranjang. "katakan lagi!"
"E-etto... B-bukankah sebelumnya nii-san tak mau berada dekat denganku, lalu kenapa memintaku u-untk men-men-menci-ciummu?" sulit bagi Hinata untuk mengatakan kata terakhirnya sementara wajahnya semakin memerah.
"Aku menghindarimu karna bagiku kamu sangat berbahaya, Hinata"
"B-berbahaya?" apa yang berbahaya darinya? Itulah yang membuat Hinata bingung, dia tak pernah memarahi Neji jika sang pria mendekatinya, lalu apa yang berbahaya lagi pula mereka kan sudah menikah.
"Berbahaya karena setiap berada di dekatmu, membuatku sulit untuk mengendalikan diriku" bisik Neji dengan suaranya yang sensual membuat Hinata bersiap-siap untuk pingsan lagi. "aku tahu bagaimana besarnya perasaanmu terhadap Naruto dan hanya sebatas apa perasaanmu terhadapku"
"nii-san j-juga kan, Tenten-"
"Aku sudah merelakannya, bahkan aku menyuruhmu untuk menciumku agar Tenten membeciku"
"Ke-kenapa?"
"Karna semakin lama perasaan kami tetap dijaga maka akan semakin sakit untuk membuangnya, toh sampai kapan pun aku tak mungkin lepas darimu" jelas Neji dengan tatapan yang mulai meredup. Hinata cukup tersentak mendengar jawaban Neji, membuatnya berfikir apakah memang tak mungkin lagi bagi mereka untuk berpisah dan hidup seperti dulu lagi, hidup sebagai sepupu dan kembali pada orang yang dicintai, walau mustahil bagi Hinata untuk merebut hati Naruto meski dia belum menikah.
"Bagaimana kalau kita ulang semuanya dari awal?" usul Neji.
"A-apanya?"
"Semuanya"
"Se-semuanya?"
"Hn" Neji menyeringai lalu membenamkan wajahnya di leher Hinata, "Permintaan kedua ku, berhenti untuk mencintai Naruto seperti aku berhenti untuk mencintai Tenten!"
"A-andai aku bisa..." lirih Hinata.
"Akan kubuat kau bisa!" ucap Neji pasti lalu menciumi leher Hinata membuat gadis itu menggeliat geli. Entah kenapa untuk saat itu Neji merasa bahwa dia ingin egois terhadap Hinata, dia sudah tak dapat lagi bersikap seperti Neji yang selama ini, dia ingin menguasai Hinata sepenuhnya, Hinata yang membuat hidupnya berwarna, Hinata yang terus mengganggu fikirannya dan mungkin saja Hinata juga telah membuat Neji jatuh cinta padanya. Ya, Neji mengakui bahwa dia jatuh cinta kepada istrinya, Hyuuga Hinata.
Hinata P.O.V
Aku Hyuuga Hinata, pewaris utama klan Hyuuga yang tidak berguna berhasil mendapatkan pengakuan dari orang yang paling ku kagumi, sepupu sekaligus suamiku, Hyuuga Neji. Tak hanya pengakuan, bahkan aku mendapatkan cintanya, aku juga dapat melihat bagaimana sifat Neji yang sebenarnya. Pria tampan, jenius dan selalu bersikap tenang, ternyata merupakan pria yang egois dan pemaksa, dia juga pencium yang hebat dan selalu membuatku terbuai dalam ciumannya. Aku Hyuuga Hinata, pewaris Hyuuga yang dianggap tak bisa apa-apaa ternyata dapat menjerat Neji yang dikatakan sebagai ninja jenius dari klan Hyuuga kelas bawah. Aku berhasil membuat Neji mengakui keberadaanku, aku berhasil membuatnya mengakui bahwa aku adalah istrinya dan bahkan aku berhasil membuat Hyuuga Neji mengakui bahwa dia...
"Ngh... Nejiiiiii aaaaah..." erangku ketika mencapai puncak dalam pergumulan kami malam itu.
"H-hinata, aku juga akhhh" erang Neji dan menyemburkan benihnya dalam rahim sang istri dan berharap akan menjadi benih nantinya. Dengan nafas terengah-engah Neji menjatuhkan tubuhnya di samping Hinata lalu memeluk sang istri dan berbisik dengan sangat mesra, "Aishiteru, Hinata-sama"
Normal P.O.V
Pagi itu Hinata terbangun karena merasa kedinginan, dirapatkannya tubuhnya ke objek yang terasa hangat, tanpa tahu apa sumber kehangatan tersebut, setelah mengumpulkan semua kesadaran, barulah Hinata mulai memproses apa yang telah terjadi semalam, semalam ia dan... "Nii-san..." matanya membulat, semalam ia telah melakukan malam pertama dengan suaminya setelah sebulan lebih mereka menikah. Sontak Hinata memerah apalagi ketika dia sadar bahwa orang yang berada di sampingnya adalah Neji.
Hinata berusaha untuk duduk dengan perlahan tanpa membangunkan sang suami, dilihatnya wajah Neji yang tertidur pulas, meski hanya bermodal cahaya remang dari lilin di samping tempat tidur dia masih dapat melihat betapa tampannya pria itu, rambutnya yang panjang tergerai agak berantakan tapi tampak lembut, bibirnya sedikit membuka dan terdengar dengkuran lembut. Hinata menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur dan terus memandangi Neji dengan rona merah yang terus menghiasi pipi putih chubby nya.
"Sampai kapan mau menatapku seperti itu?" ucap Neji parau, menandakan ia baru bangun tidur, kelopak matanya sedikit membuka memperlihatkan mata abu-abu yang sama dengan Hinata. "Masih terlalu pagi kan?!"
"O-ohayou... Nii-san" sapa Hinata lembut dengan gelagapan karena tertangkap basah telah memandang Neji.
"Hm... ohayou" Neji kembali membenamkan wajahnya dalam selimut tebal, dia terlihat masih malas untuk bangun.
Hinata yang tidak mau mengganggu berusaha turun dari ranjang namun terhalang karena selimut satu-satunya yang membungkus tubuh polosnya yang saat itu tanpa pakaian tengah di tahan oleh Neji, ingin menarik paksa tapi nanti malah tubuh Neji yang terekspos, 'kenapa jadi sulit bagini?' lirih Hinata dalam hati. Dengan gugup ia kembali mengambil posisi tidur di samping Neji.
"Mau tidur lagi?" tanya Neji yang kini kembali membuka kelopak matanya lalu menatap Hinata.
"I-iya"
"Hm... ya sudah, tidulah, kamu pasti lelah!" Neji kembali menutup matanya yang masih mengantuk.
Hinata memutar tubuhnya menjadi menyamping sehingga kini berhadapan dengan Neji, jarak mereka cukup dekat hingga dia dapat merasakan hembusan nafas Neji yang beradu dengan nafasnya. Neji sedikit menggeliat lalu menaruh tangannya di perut Hinata membuat si empunya menegang dan bergidik geli. Setelah merasa Neji sudah benar-benar tertidur, Hinata menyentuh wajah sang pria, 'lembut' pikirnya. Mulai dari kening, kelopak mata, hidung dan bibir, Hinata menyentuh bibir itu dengan lembut lalu teringat pada kejadian semalam di mana Neji menciumnya dengan begitu intens, mereka saling berpagutan, saling menghisap dan sampai lidah Neji mengeksplorasi isi mulut Hinata, kejadian saat itu masih terbayang dengan jelas dalam ingatan Hinata dan itu membuatnya tersipu malu. Dari bibir, jemari lentik Hinata turun ke dagu dan ketika hendak turun ke leher, tangannya digenggam oleh Neji, sekali lagi ia tertangkap basah, "Pagi-pagi sudah mau menggerayangiku?" ejek Neji tanpa membuka matanya.
"A-aku tak b-bermaksud begi-begitu!" kata Hinata gugup setengah mati, ia berusaha melepaskan tangannya tapi malah semakin digenggam erat.
"Hinata?" panggil Neji serak.
"Y-ya?"
"Cium!" Neji masih menutup matanya, membuat Hinata ragu apakah Neji hanya bermimpi atau apa.
"A-apa?" Hinata tak yakin dengan apa yang didengarnya.
"Cium!" Neji membuka kelopak matanya perlahan dan menatap mata yang sama dengannya.
Hinata kembali memerah bahkan jauh lebih merah dari sebelumnya, dia sama sekali tak menyangka bahwa Neji dapat meminta hal seperti itu, padahal kemarin mereka baru bertengkar dan kamarin pula mereka baru saling membuka hati untuk saling menerima.
"Kenapa?" tanya Neji ketika tidak ada respon sama sekali."ayo...!"
"U-uuh..." dengan sangat ragu, Hinata mendekatkan bibirnya ke bibir Neji, semakin lama semakin dekat hingga tinggal 3 cm lagi dan VOILAAA, Hinata berhasil menempelkan bibirnya ke bibir Neji tanpa pingsan, ciuman lembut dan sederhana itu di balas dengan lumatan-lumatan oleh Neji. Tanpa disadari Hinata kini ia sudah berada di atas sepupu sekaligus suaminya itu, terduduk di atas pangkuan Neji yang entah sejak kapan sudah duduk menyandar di kepala tempat tidur. Selimut yang menutupi tubuh bagian atas Hinata merosot dan menampakkan tubuh indah sang indigo. Merasa butuh pasokan oksigen, Neji menghentikan ciumannya dengan nafas yang terengah-engah begitu juga Hinata.
"Hinata, aku akan menolak jabatan sebagai pemimpin klan" ucap Neji dengan penuh kepastian.
"Kenapa?" tanya Hinata yang sontak terkejut. "kalau bukan nii-san, lalu siapa lagi?"
"Tentu saja kamu!"
"Tidak!" Hinata menggeleng cepat, "aku tidak pantas untuk itu!"
"Kamu adalah pewaris yang sah!"
"Tapi aku selalu menyusahkan, yang ku bisa hanya menangis dan membuat ayah malu, aku-"
"Sssst..." Neji menempelkan telunjuknya di bibir Hinata, seakan menyuruh istrinya itu untuk diam dan menghentikan kata-katanya."menjadi pemimpin hyuuga adalah hak mu, bukan kewajiban, buktikan bahwa kamu pantas, Hinata-sama!" Neji mengecup punggung tangan Hinata.
Dia akui baginya Hinata adalah gadis yang kuat, mampu bertahan di bawah pandangan kecewa sang ayah dan semua petinggi klan, ia yang tak berbakat namun selalu berusaha untuk dipandang dan diakui. Hinata yang selalu berusaha untuk mendapatkan pengakuan dari Neji dan kini Neji ingin agar Hinata juga berusaha dengan keras untuk mendapatkan pengakuan seluruh anggota klan, tak hanya itu tapi juga pengakuan seluruh warga Konoha Gakure. Dia merasa tak adil jika hanya dirinya yang terjerat oleh pesona yang tersembunyi di balik kelemahan sang Hyuuga heiress.
~~~~~~ THE END ~~~~~~
Muahahahahahahahahahhha
Udah ending loh udah ending loh! :D
Gaje banget yah, ckckckkcck
Aku tidak mau membutnya jadi lebih panjang lagi, nanti malah jadi kayak sinetron *plak
Jujur saja, niatnya mau bikin sad ending tapi aku malah berubah pikiran dan ingin agar cerita ini berakhir dengan manis. Ha... aku memang author plin plan dan lelet! Tapi untuk kali ini aku menyelasaikannya dengan cepat kok tapi malah sikon yang tak mengizinkan untuk publish lebih cepat, pulsa modemku habiiiiiiiiiiiisssssss padahal dakam masa liburan, jeh!
Pas mau baca ripiu chapter 5, aku deg-degan banget, ku kira bakal dihujat habis-habisan karna ceritanya makin gaje ternyata malah banyak yang minta lanjut, hwaaaa jadi terharu lagi. semoga chapter terakhir ini memuaskan yah! *ngarep
Balasan Ripiiuuuuu nyaaa~
Wely: kalau tak segera di potong, maka bisa gaswat! XD
L-chan: hore... semoga tetap betah di pairing NejiHina \(^o^)/
Alice9miwa: semua pertanyaanmu terjawab ^^ Happy Ending... tehe!
Hazena: wahahahahaha makasih makasiiiiih banget ehehehhe *tersipu* semoga chap kali ini tak mengecewakan ^^
Sasunata: hai, hai, daijobu ^^ thanks ya udah mau baca dan ripiu ehehehh
Hilda9: nyaaaa jangan lupa dong... *hug Neji* arigatou nyaan~ sekarang lagi liburan jadi semoga saja bisa lebih banyak inspirasi yang bermunculan :3
Chibi: G-gomen! L-lanjut bos! O.O)7
Flower: yoh! Thanks udah baca ripiu nyaan~
Yanie: NEJI JATUH CINTA PADAKUUUUUU! *Plak
Untuk semuanya yang sudah setia mengikuti ffn ini dan terus setia untuk Review Ritsu ucapkan terimakasih banyak dan maaf karena selama ini saya telah menjadi author yang lelet
Sampai jumpa di NejiHina selanjutnya nyaaan~ ^^/
INFO: akan ada sequelnya (oneshoot aja), pas bagian Hinata dan Neji mendapat misi keluar desa seperti yang di minta oleh Neji kepada Tsunade dan bakal di ceritakan bagaimana perjuangan Hinata untuk menjadi pemimpin klan Hyuuga dan membanggakan ayahnya. dan sepertinya akan ku buat Rate M :D
"Misi ke amegakure?"
...
"Hinata, kemarilah!" Neji menyuruh Hinata duduk dipangkuannya.
...
"C-cukup Neji, s-sakit- akhh"
...
"Semua seakan melupakan keberadaanku, nii-san, jangan palingkan pandanganmu dariku!"
...
"Hinata-sama, dirimu tetaplah pewaris Hyuuga yang sah!"
...
"Bagaimana kalau kita pergi sejauh mungkin?"
"Aku sudah tak sanggup lagi, aku memang pewaris yang gagal"
SEGERA!
Salam
Ritsu Ayumu ^^
