Summary: Hinata telah dikurung semenjak ia lahir di sebuah ruangan di kediaman keluarganya tanpa diketahui orang lain. Namun akhirnya Hinata yang semakin kesepian, melarikan diri dan menemukan dunia yang baru, di mana dia tak sendirian lagi.
Rate: T semi M
Disclaimer: Naruto © Masashi kishimoto
Warning: OOC, AU, Typo(s), Lime(sepertinya) dan semacamnya.
Genre: Hurt/Comfort, Romance
A/N: wahahahha lagi2 dakuh ngaret yah, maklum, mahasiswa semester akhir emang gini, bawaannya sibuk mulu (menyibukkan diri sih) lol
Langsung aja deh, cekidot!
Cerita sebelumnya...
"Sex itu apa? Ciuman itu rasanya seperti apa? Kenapa di buku ini orang-orang melakukan hal yang aneh? Kenapa wanita harus menjilat penis?" lang Hinata polos.
Neji terdiam untuk beberapa menit, tak habis pikir dengan Hinata, andai saja dia bukan laki-laki yang bisa mengendalikan diri, mungkin dia sudah melakukan hal yang tak senonoh pada gadis itu. "Hinata, walau bagaimana pun, aku masih laki-laki normal, jika masih bertindak seperti ini, aku bisa saja menyerangmu!" ancam Neji serius.
Ritsu Ayumu
Mempersembahkan
My Little World
Hinata masih menatap Neji lekat, bukan karna tak takut dengan ancaman sang pria, tapi dia tidak mengerti apa maksud perkataan Neji. "Menyerangku? Maksudnya? Neji mau membawaku kembali ke ruangan itu?" Hinata tampak mulai cemas dengan dugaannya sendiri.
"Ada yang lebih mengerikan dari itu, Hinata," bisik Neji yang entah sejak kapan sudah duduk sejajar dan mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata. Gadis itu sedikit merinding ketika nafas Neji menggelitik telinga dan leher belakangnya.
"Aku tak suka hal yang mengerikan... Neji... jangan bahas hal yang mengerikan... aku kan hanya bertanya...hiks hiks..." lagi-lagi Neji membuat gadis itu menangis. Ia mendecak kesal lalu kembali mengambil buku laknat itu dari tangan Hinata.
"Bagian mana yang tadi kamu tanyakan?" tanya Neji berusaha fokus. Hinata berhenti menangis lalu membuka halaman bagian yang tidak dia pahami.
"Sex itu apa?" tanya Hinata pertama.
Neji berusaha mencari kata-kata yang lebih tepat untuk menjelaskannya, tapi otaknya error seketika, kejeniusannya bukan untuk hal seperti ini, Rutuknya. "Umh... Hinata, buku ini berisi hal yang tidak atau belum baik untuk kamu baca, jadi sebaiknya hentikan membacanya dan anggap tak pernah dibaca, oke?!" bujuk Neji lembut.
"Tidak mau!" tukas Hinata, "jawab saja pertanyaanku...!" paksanya.
"Baiklah, tapi untuk sekarang aku hanya dapat menjawab satu pertanyaan, 'ciuman itu rasanya seperti apa?', benar ingin tahu?" goda Neji. Hinata mengangguk penuh antusias.
Neji menangkup pipi Hinata dengan kedua telapak tangannya lalu berbisik, "Perhatikan ini dengan seksama!" setelah membisikkan itu, ia menempelkan bibirnya ke bibir Hinata, hanya sebatas menempelkan, namun ketika Hinata hanya diam, ia mulai menekan-nekan lembut; melumat bibir bawah Hinata, menjilatnya kemudian semakin meminta lebih, "Buka mulutmu!" perintah Neji di sela ciumannya. Dengan patuh Hinata membuka mulutnya dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Neji menjelajahi mulut itu dengan lidahnya, mencari lidah Hinata dan mengajaknya bergumul, menghisapnya lalu membelai seluruh isi mulutnya. Hinata mulai mendesah, nafasnya sudah tak teratur dan akhirnya mendorong Neji untuk berhenti—iya butuh oksigen! Dengan sedikit tak rela Neji melepas ciuman panasnya, dipandanginya Hinata yang tengah meraup oksigen sebanyak mungkin sambil mengelap lelehan saliva di tepi bibirnya.
"Bagaimana rasanya?" goda Neji. Hinata menatapnya serius, masih dengan nafas yang belum teratur.
"Itu namanya ciuman?" tanyanya dengan tatapan polos dan Neji mengangguk, "aneh—tapi—aku suka, aku suka, Neji!" ujar Hinata dengan tatapan serius, membuat Neji terbelalak. Entah kaget atau tak habis pikir dengan kebo- maksudnya kepolosan sang gadis indigo. Sedetik kemudian Neji terkekeh kecil sambil mengacak puncak kepala Hinata.
"Gadis Nakal! Sudahlah, saatnya tidur!"
"Aku bukan gadis nakal!"
"Sudahlah, cepat tidur!" suruh Neji lalu ia segera merebahkan tubuhnya, dan mulai tidur lagi tanpa memperdulikan Hinata yang masih memperhatikannya.
"Neji...?" panggil Hinata lembut, "aku tidur di sini bolehkan? Di karpet dingin..." rengek Hinata, Neji hanya merespon dengan menepuk-nepuk sisi tempat tidur di sampingnya tanpa membuka mata, membuat Hinata tersenyum senang dan langsung menghambur ke samping Neji. Ditatapnya sang pria yang tidur telentang di sebelahnya. "Neji, oyasumi..."
"Apakah Hinata sudah ditemukan?" tanya Hiyashi pada Kakashi, pria bermasker berambut perak itu menunduk maaf.
"Belum, Hiyashi-sama. Kami akan berusaha menemukannya secepat mungkin," ujar Kakashi.
"Kemana perginya anak itu? Pasti dia masih di sekitar kediaman ini, Hinata tak mungkin keluar dengan mudah. Tapi kenapa masih belum juga ditemukan?" Hiyashi berfikir keras. Jika terjadi apa-apa pada Hinata, berarti ia telah melanggar janjinya dengan mendiang sang istri. Selain itu, jika Hinata ditemukan oleh para tetua, tamatlah sudah!
"Segera temukan Hinata!" ucap Hiyashi, pelan namun penuh ketegasan.
"Baik, Hiyashi-sama."
Kakashi keluar dari ruangan, namun di ambang pintu ia berpapasan dengan Neji, Kakashi membungkuk hormat dan dibalas anggukan oleh Neji. Tidak ada sedikitpun kecurigaan Kakashi pada sang 'putra mahkota', Hinata telah memilih dunia baru dengan sangat tepat, meski hanya untuk saat ini.
"Ah,, maaf, Neji-sama. Saya dengar kalau anda tidak memperbolehkan pengawal berada di sekitar kediaman anda, apa itu tak apa? Saya khawatir jika ada penyusup yang memasuki kediaman anda," ujar Kakashi sebelum Neji melanjutkan perjalanannya menemui Hiyashi.
"Tidak apa, Kakashi-san. Saya memang lebih suka menjaga privasi, tak usah terlalu khawatir, semua akan baik-baik saja," jelas Neji.
"Yah... tapi jika terjadi apa-apa, silahkan segera hubungi saya, Neji-sama!"
"Tentu saja," ujar Neji cepat, "Umh... boleh saya menanyakan sesuatu?" tambah Neji ragu.
"Tentu,anda mau tanya apa, Neji-sama?"
"Kudengar, anak pertama dan satu-satunya Hiyashi-jiisama adalah anak perempuan, apa itu benar?" tanya Neji dengan raut wajah setenang mungkin.
Kakashi sempat terkejut namun ekspresinya kembali normal untuk detik berikutnya, "Seperti itu lah, Neji-sama. Suatu hal yang sangat disayangkan," jawab Kakashi.
"Siapa nama anak itu?" tanya Neji segera.
"Hinata, Hyuuga Hinata." Jawab Kakashi. "Kenapa tiba-tiba anda menanyakannya? Apakah terjadi sesuatu?"
"Ah, tidak. Aku hanya penasaran, banyak pelayan yang memperbincangkannya," Neji beralasan.
"Baiklah, tuan. Kalau begitu saja permisi dulu?!" ucap Kakashi lalu segera beranjak dari hadapan Neji. Ternyata dugaan Neji benar, Hinata adalah anak pertama dan satu-satunya dari Hiyashi Hyuuga. Mungkinkah Hinata disembunyikan karena ia adalah perempuan? Mungkinkah ia telah disembunyikan sejak lahir?
"Tadaima" ujar Neji ketika memasuki kamarnya, entah mengapa ia sudah mulai terbiasa mengucapkannya.
"Nejiiiiii...okaeriiii" sambut Hinata semangat.
"Ini kubawakan makanan," ujar Neji sambil meletakkan sebuah nasi kotak dan sebotol jus jeruk. Hinata langsung menyambar makanan tersebut dan segera melahapnya dengan tenang sementara Neji segera merebahkan diri ke ranjang, dia cukup lelah hari ini.
"Neji, mau?" tiba-tiba saja Hinata sudah duduk di sampingnya sambil menyodorkan jus jeruk.
"Tidak, itu untukmu saja." Ujar Neji acuh kemudian menutup matanya dengan lengan kanan.
"Neji, ngantuk?"
"Hn"
"Ne... jangan tidur dulu, ne...Neji!" rengek Hinata di sampingnya.
"Aku lelah, Hinata," Neji masih berusaha untuk tak mengacuhkannya.
"Neji...! ayo bangun..!" Hinata semakin jengkel, lalu menarik-narik lengan kanan Neji.
"TENANGLAH, HINATA..!" bentak Neji sambil menyentakkan tarikan Hinata pada lengannya. Hinata yang tak biasa dibentak langsung menciut dan hampir menangis, seketika Neji tersentak dan langsung mengacak puncak kepala Hinata.
"Jangan menangis..! maaf membuatmu kaget," ujar Neji menyesal. Sang gadis mengangguk sambil menunduk. Neji memperbaiki posisinya, duduk bersila di depan Hinata. "ne.., Hinata. Kamu tahu siapa orangtuamu?" tanya Neji lembut. Hinata yang masih menunduk langsung mengangguk, menjawab pertanyaan Neji.
"Apa kamu tahu mengapa mereka mengurungmu?" lanjut Neji. Hinata menggeleng lalu menatap Neji.
"Kenapa menanyakannya?" tanya Hinata mulai penasaran.
"Tidak, aku hanya penasaran saja," Neji menatapnya intens. "sudah selesai makannya?"
"sudah," jawab Hinata. "ayo kita main! Aku bosan." Ajak Hinata.
"Main apa?" tanya Neji malas.
"Apa saja, ayolah...!" bujuk Hinata.
"Permainan apa yang menarik?" tanya Neji asal.
"Neji maunya main yang seperti apa?"
"Yang menarik?!" jawab Neji sekenanya.
"Hmm... " Hinata berfikir sejenak, "main rumah-rumahan?" jawab Hinata setengah tak yakin.
Neji tersenyum geli, sudah berapa tahun sejak pertama kalinya ia diajak main rumah-rumahan, kalau tak salah ketika berumur 6 tahun. "Rumah-rumahan? Ahhahaha"
"Iya! Kenapa tertawa? Huft!" Hinata tampak kesal karna ditertawakan seperti itu, "Aku jadi mamanya, Neji jadi papanya, trus ini anak kita!" Hinata menjelaskan dengan antusias, dan mengklaim bantal guling sebagai anaknya.
"Wah wah... sudah diputuskan saja, aku kan tak bilang kalau bersedia," ujar Neji dengan keterkejutan yang dibuat-buat.
"Aku mau jadi istri Neji, aku janji akan jadi istri yang baik!" jawab Hinata penuh keyakinan, ia tak suka jika idenya diejek.
"J-jadi istriku?" Neji terkesiap oleh jawaban Hinata, kemudian ia tertawa mengejek. "kamu tau apa itu istri?" Neji menyentil kening sang gadis yang cemberut karena ditertawakan.
"Sakit!" bentak Hinata. "aku tahu apa itu istri! Aku tahu kok"
"Ha...ya ya ya, kamu tahu," ejek Neji lagi.
Hinata diam dan menatapnya jengkel, "Terus saja tertawa, menyebalkan!"
"Ahahaha—ah, maaf, maaf—baiklah ayo kita main rumah-rumahan!"
"YATTA!" Hinata melonjak riang, Neji memperhatikan setiap gerakannya, ekpresi dan suara yang dibuatnya—menarik, pikirnya. Tapi lama kelamaan dia jadi merasa ada yang tak wajar, tiba-tiba saja Hinata mengatakan hal yang tak seharusnya.
"Ne... suamiku, cium..?!" lirih Hinata ketika mereka sedang dalam adegan selesai makan malam.
"..." Neji terpaku di tempat.
"Cium aku..!" lirih Hinata lagi sambil merangkak mendekati Neji yang masih saja terduduk kaku di depannya. Ekspresi Hinata yang seakan memohon, dan penampilan seksinya yang hanya mengenakan kemeja Neji yang kedodoran membuat Hinata terlihat sangat menggoda, ditambah lagi dengan kata perintah 'cium' Neji masih normal, pemandangan saat itu membuatnya hampir bersemu merah, "Aku bisa saja menciummu, tapi aku tak tanggung jawab jika terjadi hal yang lebih dari itu!" ancam Neji.
"Aku tak peduli!" ucap Hinata tegas.
Sial!—rutuk Neji dalam hati. Ditariknya Hinata kepangkuannya dan langsung melumat bibir sang gadis. Dipeluknya erat pinggang ramping dipangkuannya dengan tangan kanan dan menekan bagian belakang kepala Hinata untuk memperdalam ciuman. Hinata yang tak biasa, bersikap sangat amatir, namun hal itu malah membuat Neji semakin bergairah—bagaimana Hinata meliuk-liuk dipangkuannya, bagaimana Hinata ragu-ragu untuk memeluk lehernya, dan bagian mana Hinata dengan sedikit bergetar ketika lidah Neji berhasil menjelajahi isi mulutnya dan tangan kanan yang kini turun mengusap-usap paha Hinata yang terekspos separuhnya.
"Nghllllmmhhh..." erang Hinata, tampaknya ia mulai kehabisan nafas. Saliva mengalir indah menyusuri perpotongan lehernya, sementara tangannya meremas bahu Neji pertanda ia ingin berhenti. Neji yang menyadarinya melepas ciuman untuk beberapa detik, membiarkan Hinata mengambil nafas dengan lahapnya kemudian kembali meraup bibir itu.
"Nhn... Neh—jih,ngmh..."erang Hinata di sela ciumannya. Neji menatapnya intens, pandangan Hinata yang sayu dan pipinya yang merah merona menjadi pemandangan tersendiri baginya. Hampir 15 menit ciuman itu berlangsung, bukan sekedar ciuman, tapi pagutan dan lumatan, akhirnya Neji berhenti dan mengamati ekspresi Hinata yang terengah-engah dipangkuannya.
"Kita lanjut!" bisik Neji, dan langsung menghujam leher Hinata dengan ciuman, hisapan dan gigitan hingga meninggalkan bekas yang seakan menyatakan suatu kepemilikan pada tubuh itu.
"Ne-neji, geli... ah," Hinata menggeliat gelisah hendak menjauh namun pinggangnya dipeluk erat. Neji menulikan telinganya, tangan kanannya menyusup ke dalam kemeja yang dikenakan Hinata, mengusap kulit punggung sang gadis.
"Ah.. Neji, jangan... uh..." tanpa dapat dikontrolnya, Hinata mendesah. Desahan pertama yang pernah terlontar dari mulutnya.
"Ini resikonya membaca buku yang tak seharusnya, Hinata." bisik Neji sembari memperhatikan raut wajah Hinata.
"Bu-buku apa—ah!" Hinata mengernyitkan dahi, berusaha mencerna perkataan Neji selagi menahan diri menerima sentuhan dan hujaman ciuman di lehernya.
"Buku yang kamu ambil dari dalam tasku, pasti karena setelah membaca itu makanya diotakmu hanya ada kata-kata yang selalu menggodaku,"
"T-tapi—di sana tertulis kalau pria suka ketika ada wanita yang minta cium padanya, akuh—ah—hanya ingin—AH—N-nejiahh..." Hinata kewalahan menjawabnya ketika Neji melumat bagian dadanya dari luar kemeja.
"Ingin apa, Hinata?" Neji menghentikan kegiatannya lalu menatap pupil yang sama dengannya itu.
"A-aku hanya ingin membuat Neji senang, aku hanya ingin Neji menyukaiku." Jawab Hinata tulus. Untuk beberapa detik Neji terbelalak; terkejut, kemudian ia terkekeh kecil.
"Sudah kuduga," Neji menuntun Hinata untuk turun dari pangkuannya, "sudah kuduga karna buku itu—kan sudah kubilang, jangan membacanya!" lanjutnya.
'Apa...Neji tidak suka?"
"Bukan itu masalahnya, sudahlah—ini sudah malam, sebaiknya segera tidur!" perintah Neji.
"Neji... tidak suka ya..." Hinata menundukkan kepalanya lalu mulai terisak sementara Neji hanya dapat menghela nafas lelah.
.
.
.
"Menikah?" Neji menaikkan sebelah alisnya, merasa ragu atas apa yang ia dengar.
"Ya, kamu akan menikah dengan Haruno Sakura." Ujar Hiayashi. "setelah pernikahan, kamu akan segera diangkat menjadi ketua klan—jadi persiapkanlah dirimu!"
"Baik," sahut Neji—menunduk hormat lalu permisi pergi. Akhirnya saat-saat yang ia benci datang juga, semuanya serba diatur bahkan untuk menikah. Tapi ia tak punya pilihan lain, ini demi mengangkat derajatnya yang tak sempat dilakukan oleh ayahnya. Lagipula, setelah mendapatkan posisi itu, ia dapat mengubah pembagian kasta dalam klan, dia membenci pembagian kasta—padahal berada dalam keturunan yang sama, padahal ayahnya merupakan saudara kembar Hiyashi tapi kenapa jadi berbeda kasta. Dia membenci semua itu.
"...tapi...menikah,," gumam Neji yang sudah berada di pintu masuk kediamannya.
"Tadaima" ujar Neji, memasuki kamarnya dan menemukan Hinata sedang tertidur pulas di ranjangnya.
"Sudah saatnya bagimu untuk kembali, Hinata" gumamnya sambil mengelus rambut Hinata, membuat sang gadis terbangun dari tidurnya.
"Nghnnn Neji, okaeri..." ucap Hinata serak.
"Mulai besok, kembali lah ke tempatmu, Hinata!" ujar Neji. Menatap dengan serius.
Hinata terbelalak kaget, "Heh?" segera saja ditegakkannya tubuhnya menjadi duduk sejajar dengan Neji, "tidak! aku tidak mau Neji! Aku tidak mau lagi kembali ke sana!" ia mulai histeris.
"Kita tak bisa seperti ini terus, apalagi sebentar lagi aku akan menikah—jadi mengertilah!" jelas Neji tenang.
"Menikah? Neji akan menikah dengan siapa?"
"Ya, dengan Haruno Sakura. Pilihan Hiyashi jii-sama."
"TIDAK! TIDAK BOLEH!" bentak Hinata; langsung bangkit dan berdiri di depan Neji. "Neji tidak boleh menikah dengannya! Neji tidak boleh meninggalkanku!"
Neji menghela nafas dalam, "Itu tidak mungkin, aku harus menikah." tegasnya.
Hinata mulai menangis, wajahnya memerah dan tangannya terkepal, sebentar lagi air matanya akan tumpah.
"Besok aku akan meminta Kakashi menjemputmu." Sambung Neji.
Seketika Hinata gemetar, "Tidak,,, tidak...!" rengeknya. "biarkan aku tetap bersama Neji... aku mohon...?!"
"Tidak mungkin, Hinata. Sekarang kembalilah tidur, besok aku akan memanggil Kakashi. Kamu tenang saja, aku akan membuat Kakashi berjanji untuk tak marah padamu." Putus Neji lalu beranjak ke kamar mandi—meninggalkan Hinata terpaku dengan isak tangisnya.
"Tidak... aku takut Neji...hiks hiks" isak Hinata.
========== TBC =============
Balasan Review
Hinacchu: aaaak~ arigato,,
Animea-Khunee-Chan: aaakk~ sankyuuu siiip... lanjut nih :3
Guest: iya, saking polosnya dia malah ga sadar kalau udah jadi cewek mesum :v #digampar hinata
Yassir: siiip... ini udah lanjut :3
suli hime: ye ye ye naruhina ttp di hatiiii :3 maaf lama lanjutnya :'D
Go Minami Asuka Bi: haaa... sankyuuh... :3 hinata telah dirusak,,! Lol
Liana: ohohohooh yg sabar... akan ada waktunya XD
pingki954: siiip... semoga makin kesini ga mengecewakan :3
Akhir kata, TERIMAKSIH telah membaca dan memberi REVIEW... sungguh sangat berarti dan semoga tidak mengecewakan :3
Btw HAPPY NEW YEAR~ \(^w^)/
