Tittle : Affair
Author : Kim Joungwook
Pairing : NamJin
Length : 2A
Genre : Romance
Summary :
Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!
.
.
.
BTS
.
Bandara internasional Incheon tidak pernah sepi meski jarum jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Puluhan bahkan ratusan orang masih terlihat memadati bandara internasional tersebut. Salah satunya Namjoon dan juga istrinya Stephanie. Dengan pakaian yang cukup menarik perhatian – coat berharga jutaan juga kacamata hitam – membuat beberapa orang menyempatkan untuk melirik sepasang suami istri tersebut.
"hey Namjoon ah."
"hm?" Namjoon bergumam pelan. Keduanya tengah duduk di ruang tunggu VIP, menjauhi keramaian luar. Masih ada 30 menit sebelum pesawat tujuan New York lepas landas. Dan Stephanie lebih memilih menikmati waktunya berdua dengan suami tercinta daripada duduk di bangku pesawat.
Stephanie melepas kaca mata hitamnya, ia sedikit mencondongkan duduknya, menatap Namjoon yang memandangnya malas diseberang meja, "What were your reasons for marrying me back than?"
Namjoon mengangkat sebelah alisnya, memandang Stephanie ragu, "Kau serius bertanya soal itu? Business, what do you expect?"
"Well, I'm expecting such tender feeling. Love?"
Namjoon hanya terkekeh.
"Now? Apa masih sama?" Stephanie bertanya lagi. Namjoon memicingkan matanya, menatap Stephanie lama, "ada apa denganmu? What's wrong with you? You're acting weirdly today."
"well, just yeah i'm curious. We have been married for 4 years now. Honestly, aku mulai memiliki perasaan untukmu. Maybe, it's not as deep as love – yet. But I think I can try to really fall for you, and start our marriage for real. Kita bisa mulai saling mencintai dan membangun pernikahan yang lebih baik."
Namjoon terdiam, ia hanya menatap Stephanie yang juga memandangnya. Stephanie tersenyum kecil, jemari lentiknya mengambil segelas kopi yang ia pesan dan menyesapnya.
"Why? Kau kaget?"
"Sangat. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba kau membicarakan soal pernikahan kita."
Stephanie menghela nafasnya panjang, "kau tahu, kita sudah tidak muda lagi. Umurmu sudah lewat 30, dan aku juga 30 tahun ini. Kita sudah tidak diwaktu untuk bermain-main masalah ini. Jadi, aku juga ingin memiliki seseorang yang memang berniat untuk menghabiskan hidup bersama, saling mencintai satu sama lain dan membangun keluarga. Dan kuharap itu dirimu, lagipula kau suamiku, bukankah memang seharusnya begitu?"
"kau serius?" Namjoon benar-benar dibuat speechless oleh istrinya itu. Ia tak menyangka, seorang Stephanie Hwang, yeoja dengan ambisi paling besar yang pernah ia kenal bisa berpikir mengenai keluarga dan pernikahan mereka.
Stephanie mengangguk, menggenggam tangan Namjoon, "aku serius. Dan langkah awal yang akan aku ambil yaitu memperbaiki hubungan kita. Aku tahu, pasti selama 2 tahun ini kita memiliki orang lain untuk mengisi kekosongan masing-masing. Aku juga tidak munafik, aku juga memiliki teman untuk menghangatkan ranjangku disana. Dan aku tahu kau juga. Tapi tenang saja, aku tidak berselingkuh, aku tak pernah melibatkan sedikitpun perasaan disetiap hubungan apapun itu dengan partner ku. Jadi, ayo kita mulai untuk hanya memiliki satu sama lain. Just us."
Namjoon hanya diam, tidak menanggapi senyuman tulus Stephanie. Ia tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan untuk penjelasan istrinya itu. Jadi, Namjoon hanya diam. Menerima dalam diam ciuman singkat dari Stephanie dan usapan lembut di rahangnya.
"tunggu aku beberapa minggu lagi. Aku akan benar-benar menjadi istrimu." Bisik Stephanie saat pengumuman bandara mengulang bahwa pesawat menuju New York akan berangkat dalam 10 menit. Yeoja itu mencium kedua pipinya untuk yang terakhir kali sebelum berjalan keluar ruang tunggu, melambai riang dengan senyum kecil dibibirnya.
"See you next month, my hubby~"
.
.
.
Aku akan menjemputmu di cafe, princess. Tunggu aku nanti sore.
SMS dari Namjoon pagi tadi membuat senyuman menghiasi wajah Seokjin sepanjang hari. Akhirnya, akhirnya Namjoon kembali menjadi Namjoonnya, tanpa bayang-bayang istrinya. Ia dengar istri Namjoon yang kalau tidak salah bernama Stephanie itu sudah kembali ke New York kemarin. Berarti sejak hari ini dan beberapa miggu kedepan – sampai istrinya pulang – Namjoon adalah miliknya.
Salah, maksudnya sampai kapanun, bagaimanapun, Namjoon adalah miliknya.
Dan sebuah seringai tak bisa dihindari muncul di sudut bibir Seokjin.
"ya hyung!"
Teriakan cempreng itu membuat Seokjin berjengit kaget. Ia menoleh, mendapati Joungkook – salah satu pegawainya di cafe – tengah berdiri sembari bersedekap di pintu dapur memandangnya.
"wae joungkook-ah?"
Joungkook mengernyit, "hyung menakutkan. Kenapa menyeringai begitu?" Seokjin hanya mengulum senyumnya lalu menggeleng, "tidak ada. sudah sana kembali bekerja. Kenapa disini?"
"ada yang mencari hyung. Ingin bertemu." Ucap Joungkook. Ia sudah akan berblik sebelum Seokjin memanggilnya, "Siapa?"
"Hoseok dan Yoongi hyung. Ah ada Jimin hyung juga."
Seokjin tanpa sadar menghela nafasnya, "baiklah, aku akan keluar sebentar." Ia melihat jam di dinding dapur dan menrik senyum saat sudah pukul 5 lebih, sudah jam pulang kantor. Pantas saja ketiga sahabatnya itu sudah disini.
Ah, berarti Namjoon sebentar lagi menyusul kan?
Dengan pikiran itu, Seokjin melepas apron yang ia pakai dan dengan cepat keluar dapur, menemui ketiga namja yang terlihat duduk nyaman di salah satu sudut cafe.
"kenapa tidak bilang kalau akan kesini?" tanya Seokjin begitu ia duduk dikursi kosong disamping Yoongi.
"tidak, kenapa harus? Lagipula ini juga tepat umum." Jawaban ketus Yoongi membuat Jimin menyikut kekasihnya itu. "apa sih, jim." Yang sibalas dengan kibasan risih oleh namja Min itu.
Seokjin mengernyitkan keningnya, ia melirik Hoseok, "dia kenapa?" bisiknya. Yang bodohnya, masih bisa didengar oleh semua yang duduk dimeja itu. Termasuk Yoongi.
"Please Kim Seokjin. Kalau kau ingin berbisik, lakukan dengan benar. Aku masih bisa mendengar pertanyaanmu."
Seokjin meringis ngeri, sahabatnya bermarga Min itu kalau tengah kesal, bisa sangat menakutkan.
"dan aku baik-baik saja. Sangat baik malah. Terima kasih kepada kekasihmu itu yang membuatku harus pergi keluar kota lusa. Terima kasih."
"sama-sama Yoongi."
Suara bass itu tiba-tiba terdengar, membuat keempat namja yang duduk segera menoleh, sedikit mendongak melihat Kim Namjoon berdiri dibelakang Seokjin.
Yoongi mendengus, "Kau membatalkan rencana kencanku dan Jimin, Namjoon." ucapnya ketus. Namjoon terkekeh, ia menarik kursi dari meja diseberang dan duduk diantara Yoongi dan Seokjin, "aku justru memberimu tambahan uang untuk kencanmu, Yoongi. Aku memberimu banyak uang untuk tugasmu ke lapangan." Jelas Namjoon.
Jimin tertawa, juga Hoseok, bahkan namja Jung itu berhigh-five dengan Namjoon, "kau memang terbaik, Namjoon ah."
"terima kasih hyung, kau memang yang terbaik. Kau tahu saja, sekalinya kencan Yoongi hyung bisa menjadikan dompetku setipis kertas. Hahahha"
Yoongi berdecak sebal dan memukul punggung Jimin keras-keras, "Berisik Jim!"
Lalu kekasihnya itu langsung diam, menutup bibirnya rapat-rapat. Ia tak mau ambil resiko dikunci diluar apartemen dan tidak diperbolehkan masuk kedalam, "maaf sayang, aku cuma bercanda."
"sudahlah Yoon, lagipula apa masalahnya sih keluar kota? Itukan juga termasuk pekerjaanmu." Ucap Seokjin mencoba menengahi. Ia melirik ke arah Namjoon, menikmati bagaimana tangan namja itu dalam diam menggenggam miliknya di atas pahanya.
Yoongi menoleh, memandang Seokjin dan Namjoon bergantian, "itu bukan tugasku, Seokjin ah. Petugas lapangan yang seharusnya pergi lusa sakit, dan aku terpaksa menggantikannya. Kau tahu, tidak, kalian semua tahu, terkhusus presiden direktur kita yang terhormat juga tahu, bahwa aku paling tidak suka tugas lapangan."
Namjoon meringis, "sudah tidak ada lagi yang bisa aku tugaskan ke sana, selain dirimu, Yoongi hyung."
Hoseok ikut mengangguk, "kau tahu sendiri hyung, perusahaan kita tengah sibuk dengan pembangunan cabang diseluruh korea, dan yang stand by siap ditugaskan pergi hanya drimu, hyung."
Yoongi sudah akan membalas kalimat Hoseok sebelum Seokjin menyelanya, "ini sudah diluar kantor, jadi berhenti membicarakan soal pekerjaan. Kalian tidak lelah, hah?"
Kelima namja disana langsung diam, mengangguk serentak.
"lelah kok, lelah. Tapi kalau dapat smoothie gratis jadi tidak lelah." Hoseok menyengir lebar, membuat Seokjin berdecak, meski tetap membalas dengan senyuman lebar.
"kalian pesan saja apapun yang kalian inginkan. Hari ini mood ku sedang bagus, jadi aku akan mentraktir kalian. Tentunya Cuma disini."
Kalimat Seokjin itu langsuung disambut dengan sukacita oleh keempat namja disana, bahkan Namjoon tertawa dan berganti memeluk pinggang simpanannya itu.
"apa yang membuat mood mu bagus, princess?" bisik Namjoon saat yang lain tengah sibuk memilih menu yang ingin dipesan. Seokjin menoleh, menatap Namjoon yang tepat berada didepan wajahnya. Ia tersenyum lebar dan mengangkat wajahnya untuk mengusap lembut sisi wajah Namjoon.
"tentu saja karena dirimu, Namjoon ah. Kau akan menginapkan malam ini?" tanya Seokjin dengan mata yang berbinar.
Namjoon terkekeh, menyempatkan diri mengecup sudut bibir Seokjin sebelum menjawab, "tentu saja. Aku akan menginap sampai akhir bulan."
Seokjin memekik senang dan refleks memeluk Namjoon, membuat sekali lagi Namjoon tertawa.
"haduduh~ bisa tidak sih mesra-mesranya ditunda dulu sampai rumah? Kasihan yang sendiri." Sindir Hoseok. Seokjin yang mendengar itu langsung melepas pelukanya, menyengir lebar memandang Hoseok.
"mian Hoseok ah, kelepasan."
"selalu deh, kelepasan dimana-mana." Ucap Hoseok lagi. Jimin tersenyum tipis dan menepuk punggung Hoseok, "makanya hyung, cepat cari pacar sana."
.
.
.
Cklek
Pintu apartemen itu terbuka, disusul dengan masuknya dua namja dengan tinggi yang tidak terlalu jauh. Seokjin yang pertama masuk, diikuti dengan Namjoon dibelakangnya yang juga menutup pintu, memastikan terkunci rapat.
"apa kau memiliki susu sayang? Rasanya leherku sangat panas." Ucap Namjoon sembari melemparkan tubuhnya diatas sofa. Ia membuka beberapa kancing kemejanya yang masih terpasang rapi. Dasi dan juga jasnya sudah lepas sejak ia makan malam bersama Seokjin dan teman-temannya.
Sebuah botol susu diletakkan Seokjin diatas meja, diikuti dengan tubuhnya yang duduk disamping Namjoon. "Makanya, sudah kubilang jangan minum terlalu banyak. Kau masih saja keras kepala."
Namjoon terkekeh dan mengambil susu diatas meja, langsung meneguknya hingga habis, "Besok libur sayang. Lagipula tadi juga minum semua, masa hanya aku yang tidak menyentuh alkohol."
Seokjin berdecak dan merubah posisinya hingga menghadap Namjoon, kedua tangannya terangkat dan mulai untuk memijat kedua pelipis Namjoon, "kau pasti sedang memiliki masalah. Kau tak pernah mabuk tanpa alasan, Namjoonie. Ada apa, hm?" tanya Seokjin. Ia menatap kedua mata Namjoon yang juga tengah menatapnya.
Sebuah senyum tipis hadir di bibir Namjoon, tidak sampai memperlihatkan dimple favorit Seokjin di pipinya, "aku baik-baik saja, princess. Hanya sedikit masalah di kantor. Dan aku tidak ingin membicarakan masalah pekerjaan, aku tahu kau membenci itu."
"benarkah?" Seokjin mengerutkan keningnya ragu, masih memandang Namjoon tak percaya.
Namjoon mengangguk meyakinkan dan melingkarkan tangannya ke sekeliling tubuh Seokjin, membuat namja manis itu terjatuh diatas pangkuannya. "aku hanya merindukanmu berlebihan." Gumam Namjoon yang kini menyandarkan kepalanya di dada Seokjin.
Mata Seokjin mengerjap cepat, memastikan bahwa yang kini tengah memeluk erat dirinya dan bersandar manja di dadanya adalah Namjoon, Kim Namjoon kekasihnya yang itu. "tumben, tidak biasanya manja-manja. Biasanya aku yang manja." Ucap Seokjin akhirnya. Ia memilih mengusap lembut rambut Namjoon. ia tahu, kekasihnya itu sekarang pasti memiliki sebuah masalah, tapi ia tak akan memaksa Namjoon mengatakannya.
Namjoon hanya bergumam samar dan tidak menjawab pertanyaan Seokjin. Ia hanya mengeratkan pelukannya dan membiarkan Seokjin mengusap pungung juga kepalanya. Ia menikmati saat-saat seperti ini, saat ia melepaskan semua atribut dan title yang ia miliki dan menjadi Namjoon, Namjoonie milik Seokjin.
"Namjoon, aku sangat beruntung bertemu denganmu. Kau adalah yang pertama dan terakhir yang berhak untuk memilikiku." Ucap Seokjin pelan. Ia menyandarkan dagunya di atas kepala Namjoon, menikmati usapan jemari Namjoon di pinggangnya. Pernyataan Seokjin itu dibalas dengan anggukan samar, "aku juga. Aku hanya mempercayaimu. Jadi jangan pernah pergi dari sisiku."
Namjoon mengangkat wajahnya, memandang Seokjin yang sedikit menunduk hingga kedua dahi mereka bertemu, "tetaplah disisiku." Ulang Namjoon, tangannya menangkup sisi wajah Seokjin, setengah menariknya hingga kedua bibir mereka bertemu.
Ini sudah berpuluh, bahkan ratusan kali mereka berciuman sejak bertemu. Tapi efek menggetarkan itu masih nyata, masih Seokjin rasakan memenuhi dadanya hingga sesak. Ia menyukai sensasi lembut bibir Namjoon yang mengulum miliknya. Bagaimana belah bibir Namjoon akan memagut bibir bawahnya lembut, yang akan ia balas dengan mengulum bibir atasnya. Mata keduanya terpejam, dengan tangan yang saling memeluk satu sama lain.
Tangan Namjoon meremas pinggul Seokjin, membuat Seokjin melenguh tertahan, meremas gemas rambut Namjoon dimana tangannya kini melingkari lehernya erat. Ia tahu akan kemana ciuman mereka ini berlanjut. Apalagi kini ia bisa merasakan lidah Namjoon menyapu bibirnya, membasahi belah bibirnya yang sebenarnya sudah basah akibat saliva keduanya.
Namjoon menjauhkan wajahnya, mengecup bibir Seokjin ringan berkali-kali sebelum menggigitnya lembut.
"buka bibirmu." Bisik Namjoon dengan suara seraknya. Seokjin bisa melihat kabut nafsu di mata Namjoon, dan ia juga tidak menampik nafsu yang sama mulai merambati tulang belakangnya. Jadi, ia hanya bisa pasrah dan membuka sedikit bibirnya, membuat lidah Namjoon dengan mudah menyapa lidahnya, menyusuri seluruh sudut rongga mulutnya.
"ngh!" Seokjin melengkungkan punggungnya saat lidah Namjoon menyapa langit-langit mulutnya. Perutnya bergejolak, terasa geli seakan puluhan kupu-kupu berterbangan disana. Ia menyukai sensasi ini.
Namjoon sekali lagi melepas ciumannya.
"Sofa-sex?"
Dan Seokjin tanpa ragu mengangguk, membiarkan tangan Namjoon melepas kancing dan resleting jeans yang ia pakai. Tangannya tak tinggal diam, mulai melepas 3 kancing yang tersisa dari kemeja Namjoon dan melepasnya tak sabar. Hingga kini Namjoon dengan atasan telanjang dan dirinya tanpa celana.
"I won't give you any foreplay." Bisik Namjoon, ia memberi gigitan-gigitan kecil sepanjang leher hingga bahu Seokjin.
"y – ya Terserah, lakukan dengan cepat."
Namjoon menyeringai, ia menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Seokjin setelah memberikan beberapa kissmark dan memandang namja cantik di pangkuannya. Ia bisa merasakan milik Seokjin yang tegang bergesekan langsung dengan perutnya yang juga telanjang. Ia menyukai friksi antar kulit yang tercipta antara mereka.
Namjoon menyodorkan tiga jari tangan kanannya kedepan bibir Seokjin, "Kkulum."
Seokjin melirik Namjoon, lalu langsung memasukkan ketiga jari Namjoon kedalam mulutnya. Tangan kirinya memegang pergelangan tangan Namjoon, membantu dirinya untuk membasahi tiga jari Namjoon yang akan melakukan penetrasi pada lubangnya.
Saat Seokjin tengah fokus pada jemarinya, Namjoon memilih kembali memberikan kissmark pada tubuh putih selingkuhannya itu. Ia memberikan beberapa tanda merah di dada Seokjin, mengulum puting tegang namja cantik itu.
"Ngh, Nam – Namjoon, aku – mph!"
Namjoon mengerti, tangannya yang bebas mengocok milik Seokjin, memberikan kenikmatan berlipat untuk namja cantik itu. Hingga akhirnya ia mencapai klimaks pertamanya, membuat Seokjin terengah hingga air liurnya menetes menuruni dagu hingga dadanya.
"kau terlihat sangat seksi sekarang, princess."
"jangan menggodaku! Aku sudah cukup panas tanpa godaanmu." Balas Seokjin dengan nafasnya yang masih terengah. Efek paska klimaks yang baru saja ia dapatkan. Kedua tangannya meremas bahu Namjoon, merasakan salah satu jari Namjoon kini masuk kedalam lubangnya.
"kapan terakhir kali kita melakukan seks?" tanya Namjoon, berusaha membuat Seokjin rileks hingga ia tidak terlalu menyaiti namja itu.
Kening Seokjin mengernyit, setengah nikmat, setengah perih, "Dua hari yang lalu? Ya, sepertinya saat itu. Kau meghajarku pagi-pagi."
"benarkah?"
"ya – ah!" Seokjin memekik saat ketiga jari Namjoon sudah bersarang di lubangnya. Ia bisa merasakan lubangnya dipaksa melebar. Meski ini bukan yang pertama baginya, bahkan sudah berkali-kali, namun proses awal memang selalu menyiksa.
Namjoon bersiul, "sepertinya lubangmu sangat elastis, sayang. Lihat saja, meski aku sudah puluhan kali memasukkan milikku kedalamnya, ia masih terasa ketat, sangat ketat, dan panas."
Seokjin melenguh, meremas bahu Namjoon semakin keras.
"lakukan Namjoon, sudah – ah, sudah cukup! Ngh, aku mau – hah – aku mau milikmu!"
"dengan senang hati princess."
Lalu Namjoon dengan cepat membuka celananya, membuat seokjin sedikit mengangkat tubuhnya dengan kaki yang bergetar, memberikan waktu bagi Namjoon untuk membuat miliknya sendiri bangun sepenuhnya. Celana Namjoon masih tersangkut di lututnya, sengaja tidak ia buka sepenuhnya.
"Nngh, aku akan langsung masuk, princess." Ucap Namjoon memperingatkan. Seokjin mengangguk, menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Namjoon, ia menggigit bahu namja itu, karena ia tahu, proses ini akan menyakitkan untuknya.
Lengan Namjoon memeluk pinggul Seokjin dan membawa tubuh namja cantik itu untuk turun, membuat miliknya masuk ke dalam lubang kenikmatan namja itu.
"Ah!" Namjoon mengerang nikmat saat seluruh miliknya tertelan sempurna kedalam lubang Seokjin. Ia mengabaikan sengatan perih dibahunya akibat gigitan Seokjin, sakitnya tidak seberapa dengan kenikmatan yang ia rasakan sekarang.
"Aku akan langsung bergerak."
Lalu sofa itu menjadi saksi kegiatan kedua manusia itu selanjutnya. Memenuhi seluruh apartemen dengan suara desahan yang tidak berhenti entah sampai jam berapa.
.
.
.
Tiga minggu sudah berlalu sejak Stephanie kembali ke New York, dan kehidupan Seokjin sudah kembali seperti sebelumnya. Kehidupan dimana hanya ada dirinya dan Namjoon. namja Kim itu sudah benar-benar tinggal di apartemen Seokjin, bangun hingga tidur disana. Dan memang itulah kehidupanya yang sesungguhnya, bersama Seokjin.
Seokjin keluar dari kamar mandi saat ia melihat Namjoon tengah sibuk dengan ponsel ditangannya dan berdiri disudut ruang tengah, menghadap beranda yang terbuka lebar. Seokjin bisa merasakan angin yang bertiup masih membuatnya menggigil, namun tak melupakan aroma musim semi yang mulai tercium.
Ia mengerutkan keningnya dalam saat menyadari Namjoon yang hanya memakai kaos longgar dan celana diatas lutut, mengabaikan angin yang berhembus kencang dan seakan mengabaikan dingin hanya demi mengangkat telepon dari entah siapa.
Seokjin mengangkat kedua bahunya acuh dan mendudukkan dirinya di sofa depan TV, memeluk boneka mario pemberian Namjoon natal kemarin. Ia menyalakan TV dan mulai mencari acara yang menarik untuk ia tonton. Keduanya baru saja selesai makan malam, dan ini sudah jam 10.
Sekali lagi, Seokjin melirik ke arah Namjoon yang belum selesai dengan urusan teleponnya. Ia sampai menggigil karena angin malam yang masuk, padahal pemanas ruangan sudah dinyalakan.
"Namjoon ah, tutup pintu berandanya. Dingin~" rengek Seokjin. Namjoon yang mendengar itu menoleh sekilas dan tersenyum simpul sebelum menutup pintu beranda. Ia mematikan ponselnya dan berjalan ke arah Seokjin.
"Ah~ hangatnya~" ia memeluk erat-erat tubuh Seokjin, mengecup berulang kali bahu Seokjin yang terbuka akibat kerah kaosnya yang lebar.
Seokjin terkekeh dan menepuk pelan kepala Namjoon yang bersembunyi di bahunya, "Telepon dari siapa, hm?" tanyanya lembut.
"Stephanie."
Kening Seokjin kembali berkerut, "Tumben. Akhir akhir ini ia sering menghubungimu."
Namjoon mengangkat wajahnya dan memandang Seokjin, "entahlah. Ia tengah mencari beberapa klien untuk cabang majalahnya di Seoul. Ia berencana pindah kesini."
Dan Seokjin tidak menutupi raut terkejut diwajahnya, "Sungguh?"
"hm, dia sih bilang begitu. Aku juga tidak terlalu peduli."
Lalu keduanya diam, Namjoon menggeser posisinya hingga berbaring dengan berbantal paha Seokjin. Sedangkan Seokjin memainkan rambut Namjoon dengan mata yang menatap layar TV, menyaksikan sebuah variety show comedy yang tengah tayang. Meski sesungguhnya, ia tak mengerti sama sekali apa yang tengah ia tonton. Pkirannya sudah berkelana entah kemana. Memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi jika Stephanie benar-benar akan tinggal di Seoul.
"Namjoonie."
"hm." Namjoon hanay bergumam, tidak mengalihkan pandangannya dari layar TV, bahkan masih bisa tertawa.
Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, "apa kau mencintaiku?"
Dengan cepat Namjoon menoleh, memandang Seokjin yang kini tengah menunduk menatapnya. Keduanya diam dengan tatapan mata yang saling terkunci, sampai akhirnya Namjoon tersenyum dan tangannya terangkat mengusap lembut sisi wajah Seokjin, "Aku mencintaimu, Seokjin. My princess."
Seokjin tersenyum kecil, menangkup tangan Namjoon disisi wajahnya dan mengecup buku jarinya, "aku tahu aku egois, aku tahu aku tak pernah puas. Tapi aku tak keberatan menjalani hubungan ini selamanya. Aku tahu aku akan selalu menjadi yang nomor 2 untukmu, karena bagaimanapun kedudukanku hanya sebagai selingkuhan. Jadi, aku hanya meminta satu. Jangan pernah meninggalkanku. Kau bilang, meminta padaku untuk selalu disismu. Aku akan melakukannya, aku tidak akan pergi dari sisimu. Jika kau tidak bisa memilih antara aku atau istrimu, tidak perlu memilih, jangan memilih salah satu jika kau tak bisa. Karena bagaimanapun selamanya aku akan tetap mencintaimu Namjoon ah. Benar-benar mencintaimu sampai aku tak tahu apa yang harus aku lakukan jika kau meninggalkanku. Aku sangat takut, entah kenapa akhir-akhir ini aku takut kua pergi."
Namjoon hanya diam, mendengarkan baik-baik setiap kalimat yang diucapkan Seokjin.
"Bisakah kau berjanji akan terus disampingku?"
Hening, Namjoon tidak langsung menjawab. Seokjin tahu, sudah tahu sejak awal bahwa pertanyaan itu akan menimbulkan keraguan, bahkan penolakan dari Namjoon. tapi melihat dengan nyata kilatan keraguan dari mata Namjoon menyakiti hatinya. Meski ia bilang tak apa menjadi yang kedua, hatinya memiliki sisi egois yang sangat besar, hingga menorehkan luka akibat keraguan Namjoon menjawab pertanyaannya.
Seokjin terkeeh dengan matanya yang memerah, terasa perih, "Kau tak bisa ya? Kalau begitu tak perlu dijawab. Jika kau tak bisa menjawab, jangan dijawab, jika tak bisa memilih, tak perlu memilih."
Lalu tanpa memberi waktu Namjoon untuk membalas ucapannya, Seokjin lebih dulu memeluk kepala Namjoon, menyembunyikan wajah Namjoon di dadanya. Ia menenggelamkan wajahnya di rambut Namjoon, memejamkan matanya erat-erat agar tidak menangis.
"Cukup kau tahu bahwa aku mencintaimu. Dan sampai kapanpun, apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu."
.
.
.
Setelah percakapan yang cukup intens semalam, tidak ada yang berubah dari sikap Seokjin. Keheningan Namjoon, keraguan namja itu menjawab pertanyaan Seokjin seakan tidak pernah terjadi. Mereka masih tidur satu ranjang, dengan Seokjin yang memeluk manja tubuh Namjoon semalaman. Dan pagi ini, Seokjin dengan semangat membuat sarapan dan memberikan satu ciuman penuh di bibir Namjoon.
Muah!
"Morning kiss untuk CEO ku tercinta." Ucap Seokjin begitu ia melepas tautan bibirnya dengan Namjoon. ia tersenyum lebar, menciptakan kerutan di pipinya.
Namjoon hanya diam, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Seokjin, membiarkan namja cantik itu membenarkan dasi dan juga jasnya yang sebenarnya sudah rapi.
"pulang untuk makan malam?" tanya Seokjin. Namjoon, untuk pertanyaan kali ini tanpa ragu mengangguk, "ya. Tidak ada hal penting diperusahaan."
Seokjin mengangguk puas, ia menepuk dua kali bahu Namjoon dan menarik namja itu untuk duduk di ruang makan, "jja, aku membuatkanmu nasi goreng kimchi dan sup untuk pagi ini."
Namjoon tak tahu harus bagaimana, sikap apa yang harus ia tunjukkan. Bersikap seakan tak ada apa-apa terasa janggal baginya, juga sikap Seokjin yang baik-baik saja. Karena semalam ia yakin, namja cantik itu sempat menangis.
"Kim Seokjin."
Tubuh Seokjin membeku, ia yang tengah membelakangi Namjoon di counter dapur terdiam mendengar panggilan Namjoon. saat namja itu memanggil namanya penuh, ia tahu, Namjoon tengah serius.
Keheningan yang hanya berlangsung tak sampai 15 detik itu terasa mencekam bagi keduanya. Namjoon mengusap tengkuknya bingung, ia tak tahu harus bagaimana mengatakannya. Dan Seokjin juga memilih diam, tetap membelakangi Namjoon, berusaha menahan gemuruh jantungnya yang tahu kearah mana Namjoon akan berbicara.
"ehm, mengenai semalam. Maksudku percakapan kita di depan TV kemarin. Maaf – aku – maksudku aku ingin meminta maaf. Ya, aku meminta maaf karena aku tak bisa menjawab pertanyaanmu kemarin. Aku – "
"Sudahlah Namjoon. aku sudah bilang, jika kau tak bisa menjawabnya, tidak perlu dijawab. Aku tidak pernah mempersulit apa yang sebenarnya mudah. Tidak perlulah kau mempersulit dirimu sendiri, aku juga tidak menuntut jawaban" Seokjin dengan cepat berbalik dan memotong kalimat Namjoon. ia tersenyum lebar dan membawa dua piring nasi ke meja depan Namjoon.
"jja, kita lupakan masalah kemarin dan anggap saja tak pernah kau dengar pertanyaanku. Ok?"
Namjoon menatap Seokjin ragu, butuh sebuah senyuman penuh sekali lagi dari Seokjin sebelum akhirnya ia menghela nafasnya panjang. Seakan lega dari beban yang sejak kemarin menghimpitnya.
"Kemari princess." Namjoon menarik lengan Seokjin dan membawa tubuh namja cantik itu kedalam pangkuannya. Ia memeluk erat-erat tubuh Seokjin dan mencium seluruh wajah Seokjin.
"aku sangat mencintaimu, sayang." Gumam Namjoon sebelum melumat bibir Seokjin, memainkan bibir gemuk itu diantara bibirnya. Seokjin hanya pasrah dan melingkarkan lengannya keleher Namjoon, membalas ciuman namja itu.
Keduanya tahu, meski ciuman itu seakan menjadi tanda damai bagi keduanya, pertanyaan dan segala permasalahan yang kemarin diuatarakan oleh Seokjin masih tertahan di langit-langit apartemen, menunggu untuk dijawab.
Entah oleh Namjoon, atau waktu.
.
.
.
TBC
Oh my God~ udah berapa lama aku gak nglanjutin ff ini? Maafkan akuuu, aku justru udah post najin ff baru, hehehehe
Ini aku lanjut, aku bilang ada 2 chap ya? Ternyta lebih panjang dari yang kuinginkan, jadi ini aku bagi 2. Tapi entah chap depan end ato gak, hehe, aku belum selese nulis juga, heheh
Maafkan baru bisa update. Maaaaafffff~ ini aku kasih kenaikan rate, hehe, jadi M, bonus karena kalian menunggu terlalu lama, yang nunggu sihhh
Semoga cukup menghibur ya, hehehe. Annyeong~ selamat bertemu di chap depan, seceoatnya ya, walo gak bisa menjanjikan, hehehehe
Saranghae~ luv luv luv
