Summary: Ada sebuah mitos yang beredar, "jika kau sedang terpuruk dan tidak tau harus berbuat apa, panggil namanya, maka ia akan menemuimu dan mengabulkan semua permintaanmu. Tapi, ada imbalan atas apapun yang kau minta."

Rate: T semi M

Disclaimer: Masashi kishimoto

Warning: OOC, AU, Typo(s) dan semacamnya.

Genre: Mistery, Supernatural, romance


Ritsu Ayumu

JIWA

"Apa permintaan pertamamu?"

"Aku ingin membunuh mereka dengan tanganku sendiri"

"Kau yakin? Bukankah mereka bawahan ayahmu, apa kau juga akan membunuh ayahmu?"

"Ntahlah, yang pasti aku akan menghancurkan mereka, membalas semua yang teah mereka lakukan padaku!" ucap Gaara kecil dengan penuh kebencian, matanya berklat penuh dendam. Sementara gadis itu tersenyum penuh makna.

"Baru kali ini – manusia pertamaku yang sempurna."

Gaara tak memperdulikan ucapan sang gadis, tangannya mengepal tangannya kuat dan mendesis berbahaya, "Seumur hidup aku tidak akan mengampuni mereka bahkan reinkarnasinya sekalipun!"

"Menarik," senyum gadis itu semakin mengembang, "sekarang tutup matamu Gaara-kun!" bisik gadis itu lembut tapi penuh keantusiasan.

JIWA

Hinata

"Nii-san, ayo bangun!" Hinata menepuk-nepuk kecil bahu Neji, pria beriris sama dengannya itu tidak bergeming, dia masih saja tidur dengan nyenyak, "Ne... Neji-sama, ayo bangun!" bisiknya di kuping Neji.

Hembusan hangat nafas sang indigo menggelitik telinga sang pria dan membuat mata abu-abu bening itu membuka dari kelopaknya, "Ngh... Hinata," ucap Neji serak.

"Ohayou" senyum Hinata mengembang.

"Ohayou," balas Neji, merenggangkan tubuhnya dan mendudukan badannya, kemeja tidurnya terlihat berantakan dengan hampir semua kancingnya terlepas dan mengekspos tubuh bagian kanannya, memperlihatkan tubuh atletis yang mulus bagai porselen.

"Tumben kamu yang membangunkanku?" Neji bangkit dan memeluk Hinata dari belakang yang saat itu tengah asik merapihkan gorden, dihirupnya aroma lavender dari tubuh sang gadis.

Hinata sedidit menolak dan berusaha melepas rangkulan Neji dengan lembut, "Kebetulan saja aku bangun lebih pagi"

"Hm... Souka, nghm..." Neji menciumi tengkuk Hinata dengan begitu mesra, membuat sang gadis bersemu merah.

"Nii-san... nanti ada yang lihat!" Hinata memperingatkan.

"Nghhm... ck!" decak neji tak rela menghentikan aktifitasnya, "Kenapa harus jadi sepupuku sih? Menyebalkan!"

"Ahihihi..." Hinata tertawa kecil, "karena hanya dnegan menjadi sepupumu kau dapat dengan mudah menyangkarku kan?!" Hinata merapikan kemeja tidu Neji. "Ayo segera siap-siap, Hari ini bukan hari libur!

.

.

.

"Nii-san, sarapannya sudah selesai, ayo ke bawah!" panggil Hinata dari luar kamar Neji, "aku duluan yah!"

Hinata menuruni tangga menuju lantai bawah, tatapannya kosong dan tiba-iba mersa pusing, dengan cepat ia berpegangan pada tangga.

"Hinata, kenapa?" seru Neji dan segera menghampiri sepupunya itu, "Pusing lagi?"

Hinata mengangguk lalu meringis, diremasnya lengan baju neji yang saat itu membantunya berdiri.

"Sebaiknya hari ini tidak usah sekolah!" Neji menggendong Hinata dan membawanya ke kamar.

"U-uh... T-tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian!'Hinata yang ingin membantah langsung dibungkam oleh neji hingga akhirnya dia hanya menurut saja, "aku akan menyuruh pelayan membawakan makannanmu ke sini, istirahatlah!"

Setelah Neji pergi, kepala Hinata berdenyut hebat, "Sakit, terasa mau pecah!"

.

.

.

Pagi itu terdengar suara shower dari kamar gaara, pemuda itu tengah mandi karena pagi ini dia harus sekolah. Ditatapnya pantulan dirinya pada cermin yang ada di kamar mandi itu. Lingkar mata yang biasanya hitam semakin hitam karena semalam ia tidak dapat tidur nyenyak, mimpi aneh terus melandanya. Terkadang ia sempat berfikir mungkin mimpi itu adalah masa lalu yang pernah ia lupakan, tapi kenapa begitu mengerikan?

Lama Gaara menatap pantulan dirinya, hingga ia memegangi kepalanya dan bersandar pada dinding; kepalanya berdenyut hebat.

"Sial, sakit lagi! shower yang masih mengalir dan segera kaluar. Dengan susah payah ia berjalan menuju kamar, kepalanya serasa mau pecah.

"Bunuh! Akan kubunuh mereka!

"Ya, bunuh saja!"

"Mereka dan semua keturunannya harus mati!"

"Ya, Gaara! Bunuhlah mereka semua dan jadilah satu-satunya manusia yang membuat perjanjian denganku!"

"GAARA!" hadik Temari yang telah berdiri berkacak pinggang di depan gaara, "kau tak mendengar panggilanku?"

Gaara terperangah, "Ap—suara tadi—suara siapa?" gumamnya tak jelas. Sakit kepalanya sudah hilang, tapi siapa? Dia mendengar sebuah percakapan aneh.

"Tadi itu suaraku kan?!" keluh Temari, "kau kenapa sih?"

" Bukan, tapi suara yang tadi?" bantah Gaara.

"Apa?"

"Jelas-jelas aku mendengar percakapan aneh seorang perempuan dengan bocah laki-laki dan—tidak!—suaranya! Aku?" Gaara merancau tak jelas dan membuat temari bingung tak tau apa yang harus ia katakan.

"Itu hanya perasaanmu saja!" respon temari setelah menenangkan dirinya.

"Yah... mungkin saja," ucap Gaara lelah.

"Sudahlah, cepat bersiap-siap!" Temari menghela nafas lalu keluar dari kamar adik kesayangannya itu, "sebaiknya cepat, nanti telat!"

.

.

.

GAARA P.O.V

Dengan kecepatan penuh aku melajukan motor besar milik Kankurou, tumben sekali dia mau meminjamkannya, biasanya sangat pelit bahkan walau alasannya aku akan dibunuh jika tidak sampai tepat waktu ke kelaspun pasti tidak diacuhkan.

Tempat ini benar-benar sepi dan karena rasa bosan yang terus menguar membuatku kehilangan minat untuk kesekolah dan dengan sekali belokan aku mengambil jalur menjauh dari arah tujuan yang seharusnya—aku harus menenangkan diri.

Lama aku menelusuri temapt ini tapi tak ada hiburan sedikit pun, dimana game center? Dimana mall dan cafe mewah lainnya? Yang ada hanya mini market dan beberapa warung kecil yang di penuhi ibu-ibu yang sedang menggosip. Cih! Bahkan klub malam pun tak ada, apa tempat ini sudah terisolasi?

Bosan berkeliling akhirnya aku berhenti di jembatan tempat pertama kali aku bertemu dengannya. Hari ini aku memarkirkan motor di pinggiran sungai dan duduk menikmati hembusan angin dan keheningan. 'Nyaman," pikirku. Kupejamkan mata—tiba-tiba aku mendengar langkah kaki yang berjalan mendekatiku, dengan waspada aku membuka mata dan menoleh kesamping—ternyata dia Hyuuga Hinata. "Kenapa di sini?" tanyaku sinis.

"kamu sendiri—kenapa di sini?" bukannya menjawab dia malah balik bertanya lalu dengan santainya duduk di sebelahku.

"Menenangkan diri." Jawabku singkat dan kembali memecamkan mata, menjadikan tangan sebagai bantalan tidurku.

"Aku juga,"

Hening, hanya terdengar suara gesekan rerumputan yang dihembuskan angin. Aku memang suka suasana ini tapi lama-lama jengah juga, dengan kesal aku membuka mata lalu memulai pembicaraan, "Kamu sering ke sini?"

"Hm," dia mengannguk tanpa menoleh ke arahku.

"Apa kita pernah bertemu di sini sebelumnya?"

"Ku rasa belum,"

"Hn"

"T-tapi, aku merasa sudah lama mengenalmu," tambahnya.

Aku mengambil posisi duduk seraya menatapnya, "benarkah?" tanyaku tertarik dan ia mengangguk canggung.

"Hei, kau tau dimana tempat hiburan yang ada di sini?"

"Tempat hiburan?" ulangnya.

"Yah... seperti game center?"

"Game center?—hihihi mana ada di sini," ucapnya enteng seakan mengejek pertanyaanku.

"Kenapa tertawa? Tampaknya tempat ini benar-benar membosankan!" ketusku.

"Memang. Makanya banyak anak-anak nakal dari kota yang dipindahkan kesini!" ejeknya.

Aku hanya dapat mendecih dan mengalihkan wajahku darinya.

"Tapi memang benarkan?!"

"Tapi aku bukan 'anak nakal'" kataku sambil menatapnya jahil. Lagi pula tempat ini adalah kampung halamanku.

"B-benarkah? Wah... berarti bukan orang asing dong?"

"Tapi tetap saja aku tak ingat saat-saat ketika tinggal di sini,"

"He? Kenapa?" tanyanya penasaran.

"Aku kehi—"

"WOOOOYYY...!" teriak seseorang dengan suara cemprengnya dari arah jembatan, reflek kami melihat ke asal suara, dan ternyata di sana ada Naruto—iya melambaikan tangan lalu melajukan motornya mendekati kami.

"N-naruto-kun," sapa Hinata.

"Yoh!" senyum tiga jari terpampang pada wajahnya. "sedang apa kalian di sini?"

"Tak sengaja bertemu!" jawabku cuek.

"Waah... tapi kenapa kalian sama-sama bolos?" tanyanya penuh selidik.

"N-naruto-kun juga," kata Hinata tak mau terpojok.

"Oh, iya! Aku juga! Wahahahhaha" iya tertawa karna leluconnya sendiri, konyol.

"hahhhh... tapi sepertinya kau sedang bosan Gaara?!" ucap pria Tan itu setelah tertawa puas.

"Hn" jawabku cuek.

"Bagaimana kalau kita melakukan hal yang menantang?!" usulnya.

"Hal apa?" tanyaku sekenanya.

"Ano sa... kemaren ada anak dari sekolah kita yang dipukuli oleh anak dari sekolah sebelah," jawabnya antusias, "dan katanya hari ini beberapa temannya akan membalas dendam, bagaimana kalau kita ikut, yah... hitung-hitung membantu teman!?" jelasnya sambil nyengir.

Aku hanya menatapnya tak percaya, ku kira dia pria bodoh yang tak tau apa-apa tapi ternyata dia pria idiot yang elagak hebat, "Ikut tauran?" ejekku.

"Yah...begitulah... "

"J-jangan!" cegah Hinata khawatir dan hanya dibalas tatapan membujuk dari Naruto.

"Tenag saja, Hinata-chan, aku akan melindungi Gaara-kun!" katanya dengan nada menjengkelkan.

"tak perlu!" ketusku. "ayo!"

"UUUUYEEEAAAH..." teriaknya penuh semangat.

NORMAL P.O.V

Tidak berapa lama mengendarai motor, Gaara dan naruto akhirnya sampai di sebuah lapangan, di sana sudah di penuhi segerombolan orang berseragam SMA yang siap untuk saling serang.

"WOOOOOOOOYYYYY!" sorak Naruto sambil melambaikan tangan.

"YOH! NARUTO!" sahut salah seorang berambut coklat jabrik yang juga sekelas dengan Gaara, namanya Kiba.

"Ayo!" ajak Naruto pada Gaara untuk lebih mendekat.

"Fiuh~ untung kami belum terlambat!" ujarnya lega dan masih dengan senyum tiga jarinya, "kita hancurkan mereka!" desisnya.

Sementara yang lain antusias untuk bertarung, gaara hanya cuek dan menatap malas ke arah lawannya nanti. 'apa hanya ini hal yang menantang di sini?' keluhnya.

Tak beberapa lama setelah kedatangan Naruto dan Gaara akhirnya mereka saling menyerang dan tentu saja Gaara ikut diserang, beberapa orang mencoba memukulinya tetapi tak ada yang dapat mengenainya, malah merekalah yang dibuat terkapar hanya dengan sekali pukulan oleh Gaara, tak jauh beda, naruto juga dengan mudah menumbangkan lawan-lawannya dan sepertnya, mereka berdualah yang paling unggul disana, karena hingga perkelahian selesai, hanya mereka yang tidak pernah terkena pukulan sekalipun.

.

.

.

"Huwaaah... tak ku sangka, kau hebat, Gaara!" puji Naruto lalu menuangkan minuman berakohol pada gelas yang digenggam Gaara.

Kini mereka sedang di rumah Kiba untuk merayakan kemenangan beberapa jam tadi, jangan heran jika di sana ada minuman berakohol, mereka memang sudah biasa menjadikan rumah Kiba sebagai bar pribadi, yah... setidaknya pengganti bar yang sama sekali tak ada di kota itu. Kiba sama dengan Naruto dan Gaara sama-sama murid pindahan dan tentu saja memiliki kasus sikap yang sama.

Kiba hanya tinggal sendiri, orang tuanya akan menjenguknya sekali seminggu, jadi dia selalu bebas mau melakukan apa saja di rumah yang bisa di bilang besar itu.

"Biasa saja!" ucap Gaara cuek, meneguk habis minumannya lalu menghisap rokoknya. Sudah lama ia tak mencicipi dua benda menatap sekeliling, rumah itu benar-benar telah diubah seperti sebuah klub malam, ada DJ dengan musiknya yang mengalun keras dan pemuda pemudi yang asik menggerakan tubuh mengikuti irama.

"Bagaimana?" tanya Naruto dengan tatapan jahil.

"Apanya?"

"Tempat ini... tak menyangka kan kalau ada yang seperti ini?"

"Hn" jawabku sekenanya.

"Ne... Gaara-kun?" bisik Naruto di kuping Gaara, "ikut denganku!" dia menarik Gaara menuju lantai atas.

"Mau apa ke sini?" tanya Gaara bingung, lantai atas terlihat sepi karena semua orang asik di bawah.

Naruto mendorong Gaara ke sofa lalu duduk dipangkuan sang pemuda bersurai merah tersebut.

"Kau mau apa?" tanya Gaara jengkel.

"Kita akan bersenang-senang!" ucap naruto dengan pandanga sayu, tampaknya dia sudah mabuk berat. Ia mengalungkan tangannya ke leher Gaara lalu meciumi lehernya.

"Ck! Jangan bercanda!" decak Gaara kesal, "menyingkir dari tubuhku!" bentaknya.

"Nghn... nggak mau!" Naruto merungut manja.

"Cih, kau manis juga," ucap Gaara seraya membingkai wajah Naruto dengan tangannya, "tapi sayang aku tak tertarik dengan laki-laki."

Dengan cepat Gaara mendorong Naruto dan beranjak dari duduknya, ia berdiri dan menatap naruto yang dengan bersusah payah bangkit untuk menggapai Gaara.

"Gaara-kun..." rengek Naruto.

Gaara menatapnya sebentar lalu melenggang pergi menuruni tangga, dia berhenti di depan meja bartender dan kembali memesan minuman. Kini matanya meneliti setiap orang yang ada di ruangan itu, mencari sosok oarang yang bernama Kiba dan akhirnya menemukannya, setelah meneguk habis minumannya, Gaara berjalan ke arah Kiba yang sedang asik berbincang dengan teman-temannya.

"Hei, urus temanmu itu, dia sedang mabuk berat di atas!" ucap Gaara sambil mengedikkan kepalanya ke arah lantai dua, "aku mau pergi dulu!"

"Ah, mungkinkah?" sahut Kiba panik dan hanya di balas dengusan oleh Gaara, "akh, sial—dia mulai lagi!" Kiba tampak mendesah, sepertinya dia sudah tau kelainan Naruto dan dnegan cepat menemui pemuda tan itu.

.

.

.

"Dimana Hinata?" tanya Neji sesampai di rumah.

"Nona Hinata sedang keluar tuan," jawab salah satu pembantunya.

"Dia, padahal tadi pagi sedang sakit!" ucap Neji kesal, "cepat cari dan bawa dia pulang!"

"B-baik tuan muda!" pelayan itu membungkuk lalu bergegas mencari Hinata tapi baru mau keluar, Hinata sudah kembali ke rumah.

"Nona Hinata, tuan muda sedang mencari anda," ucap pelayan itu hormat.

"Wah, nii-san sudah pulang?" tanya Hinata panik.

"Baru saja sampai nona,"

Bergegas Hinata menemui Neji yang sedang di kamar, Neji-nii?" panggil Hinata dari luar kamar.

"Masuk!" sahut Neji, "dari mana saja, huh?" bentak Neji ketika Hinata baru saja memasuki kamar.

"G-gomen, tadi aku berjalan-jalan sebentar di tepi sungai," jawab Hinata lembut.

"Siapa yang memberimu izin?" ucap Neji kesal, "lagi pula tadi pagi kamu kan sakit!"

"A-aku sudah sembuh kok, hanya sakit kepala biasa," Hinata tersenyum manis lalu duduk di samping Neji yang saat itu sedang duduk di tepi ranjang sambil membuka kemejanya untuk berganti pakaian.

"Sini kubantu!?" tawar Hinata lalu mengambil alih tangan Neji membuka kancing kemeja.

"Hinata," Neji langsung melahap bibir sang gadis dengan brigas, melumat, menjilat dan memasukkan lidahnya ke rongga basah sang gadis, menjelajahi tiap inci rongga tersebut dan menghisapnya seakan kehausan. Ia mendongakkan kepala Hinata yang saat itu sedang berlutut di depannya untuk memperdalam ciumannya.

"Nghnmmm..." erang Hinata di tengah ciuman mereka. Saliva mengalir di sudut bibir Hinata dan terus mnyusuri lehernya, pasokan udaranya sudah mulai menitipis tapi Neji tampak masih enggan untuk menghentikan ciuman mereka.

Lambat laun akhirnya Neji menyerah dan menyudahi ciuman mereka, Hinata menghirup nafas secepat mungkin dan kembali mengisi pasokan udaranya. "Hah hah hah, bringas seperti biasanya huh," ucap Hinata lelah. Neji hanya menatapnya dengan penuh arti.

"Layani aku!" ucap Neji arogan.

"Tidak!" ucap Hinata tegas, "kecuali jika menjadikan itu sebagai permintaan ketigamu!" cibir Hinata.

"Cih!" Neji hanya mendengus kesal lalu kembali melanjutkan ganti pakaiannya.

NEJI P.O.V

Untuk kesekian kalinya dia menolakku, kami memang sering bercumbu, tapi hanya sebatas ciuman, pelukan dan sedikit rabaan, jika sudah lebih dari itu dia selalu menolakku dengan kalimat banggaannya, 'Kecuali jika menjadikan itu sebagai permintaan ketigamu'.

Mungkin kalian akan tak mengerti apa maksud dari kalimatnya, tapi kalimat itu dapat langsung membuatku bungkam karna jika aku menjadikan hal itu permintaan ketigaku maka untuk selamanya aku akan kehilangan Hinata.

Hinata itu istimewa, jujur saja dia memang bukan sepupu asliku, dia hanya menyamar, yah... aku yang menyuruhnya agar dia dapat selalu bersamaku, setidaknya selama tinggal di kota ini. Namaku Hyuuga Neji, anak sulung dari dua bersaudara dari keluarga Hyuuga yang cukup terpandang, ketika berumur 10 tahun aku dipindahkan ke kota terpencil ini, aku diasingkan karna ada sekelompok orang yang mengincar nyawaku yang merupakan pewaris utama kekayaan Hyuuga.

Setahun setelah tinggal di sini, aku mendapat kabar bahwa kedua orang tuaku dibunuh oleh perampok ketika pulang dari sebuah pesta, mobil mereka dicegat lalu mereka ditembak bertubi-tubi, pengacara bilang mereka dibunuh oleh pesaing keluarga kami. Hal itu cukup membuatku frustasi, ditambah lagi adikku satu-satunya, Hyuuga Hanabi. Dia diculik lalu dibunuh, mayatnya diantarkan ke kediaman Hyuuga.

Aku tak habis pikir, hanya karena harta mereka menghancurkan seseorang dengan cara seperti itu, untuk beberapa bulan aku selalu mengurung diri di kamar hingga suatu hari aku mendengar sebuah rumor, "jika kau sedang terpuruk dan tidak tau harus berbuat apalagi, panggil namanya, maka ia akan menemuimu dan mengabulkan semua permintaanmu. Tapi, ada imbalan atas apapun yang kau minta."

Aku yang putus asa akhirnya mencoba hal bodoh itu dan siapa sangka 'malaikat' itu datang datang dan tersenyum manis padaku. Rambutnya panjang berwarna indigo, sangat manis. Dialah Hinata—Hinataku! Dia mengabulkan permintan pertamaku, membantuku membalas dendam pada pembunuh keluargaku, kemudian permintaan keduaku, selalu berada disisiku dan menjagaku hingga aku mengatakan permintaan ketiga sekaligus terakhirku, tapi sebagai imbalannya, aku harus memberinya makanan setiap bulannya, makanan yang hanya aku yang dapat memberikannya—energi kehidupanku. Setiap kali ia menghisapnya maka umurku akan berkurang setahun.

Mungkin ini sama saja dengan menjual jiwaku padanya, tapi aku rela, entah sejak kapan aku mulai menginginkannya sepenuhnya, dia malaikat bagiku, dia memberi warna dalam hidupku, dia telah membuatku dapat merasakan berbagai macam pengalaman, pengalaman cemburu, marah, sedih, kecewa dan bagaimana rasanya menyiksa dan membunuh seseorang yang kubenci atau orang yang berani menggoda Hinataku.

Aku selalu bertanya padanya, apakah ia manusia atau bukan tapi hanya dibalas senyuman dan berkata, "Aku adalah wujud dari kesedihanmu,"

.

.

.

NORMAL P.O.V

Malam itu Hinata terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah, diliriknya jam yang masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Dengan segera Hinata masuk ke kamar Neji lalu menghambur memeluk Hyuuga sulung itu.

"Nghhh... Hinata?" ucap Neji serak seraya membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi. Hinata membenamkan wajahnya pada dada Neji dan peluh dingin kembali membasahi pelipisnya.

"Aku memimpikannya lagi! aku takut! Aku takut!" rancau Hinata dengan tubuh menggigil.

"Semakin kamu bersikap seperti ini aku semakin yakin bahwa kamu adalah manusia yang diciptakan untukku seorang." Aku mengelus dan memeluknya erat.

"Aku serius Neji, hanya hal ini yang dapat membuatku menggigil lemah seperti ini! Dan aku bukan manusiamu!" ketus Hinata kesal.

"Hn, ya ya aku tau!" aku mendengus pasrah, "Katakan, apa mimpimu!"

"Masih sama seperti waktu itu, dia membuatku takut—bocah itu membuatku takut!"

"Tenanglah, itu hanya mimpi" Neji berusaha menenangkan Hinata dan mencium kening sang gadis.

"S-sabaku Gaara!—ya! Gaara—dia mirip dengan Gaara!" ucap Hinata, mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap Neji. Kening Hyuuga sulung itu berkerut mendengar nama orang yang dia benci, orang yang dia anggap sangat berbahaya dan mengancam kepemilikannya terhadap Hinata.

"Sudah kuduga dia itu berbahaya—apa perlu aku melanyapkannya?!"

"T-tidak!—aku harus memastikan sesuatu! Aku harus tau siapa dia sebenarnya dan apa hubungannya dengan mimpiku selama ini!" Hinata menatap Neji antusias.

"Hn, terserahmu saja!"


TBC

N/A: Huwaah... sudah hampir setahun aku ak apdet, rasanya rindu juga. Selama ini aku mengalami WB gegara kesibukan kuliah, cosplay dan nonton anime :D *plak* maaf atas kelalaianku, tapi serius aku mudah sekali mengalami WB dan butuh waktu lama untuk memulihkannya, gomenasai *membungkuk dalam-dalam*

Semoga chapter kali ini tidak membosankan dan sepertinya sekarang para reader sekalian sudah mulai bisa menebak beberapa hal yang tidak jelas di chapter sebelumnya.


Balasan Ripiuuuuu

Apakah yang selalu dimimpikan Gaara itu adalah masa lalunya?

= kurasa di chapter ini sudah dapat di tebak bagaimana sebenarnya ^^

Neji sama Hinata punya hubungan khusus?

= wahahah juga sudah terjawab di sini, mungkin karena aku juga suka Nejihina makanya ada pairing mereka juga, mungkinkah akan menjadi kisah cinta segitiga? *ops

Gaara itu yang minta ato yang ngabulin perjanjian

= dia yang minta *ops*

Nanti di chapter selanjutnya bakal dijelaskan lagi ^^

Perjanjian apa sih sebenarnya?

= si cakep Neji sudah curhat tentang perjanjiannya tuh, walau belum semua ahihihi

Hinata punya Neji?

= untuk sekarang iya! Tapi ga tau deh kedepannya gimana, kita tanya Hinatanya ajah :D

Nanti fict ini dibuat berapa chapter?

=belum tau tapi tidak akan terlalu banyak ^^


Huwa... awalnya ku kira fic ini ga bagus cz Cuma dikit yang ripiu, tapi ternyata udah banyak aja, makanya sekarang jadi semangat ngelanjutinnya lagi *terharu*

Terimakasih kepada Hilda, moe-chan, sasuhina-caem, kertas biru, yamashita, Aden L, Anne, Briesies, salsalala, Alice9miwa, pichi, chefty.

Sekali lagi terimakasih atas ripiunya, menjadi sumber semangat bagiku, semoga tidak mengecewakan kalian *menunduk* aku akan berusaha memberikan yang terbaik ^^9

Salam,

Ritsu Ayumu