Title: Youniverse
Chapter: 2. Tokyo, December 2nd
Genre: Romance/Yaoi, AU, angst, fluff
Rating: M
Main Cast:
Naruto Uzumaki
Sabaku Gaara
-oOo-
Yuhuu!
Saya kembali dengan chapter keduanya yang pastinya singkat sekali ^^"
Terima kasih sudah ada yang sempet baca, ya ampun saya seneng bgt loh :'D
Mungkin ada yg bilang pair ini sudah karam or whatever that is, tapi yang jelas sih saya masih suka-suka aja ama pair ini :'D
Okelah saya lanjutkan kalau begitu, berhubung cerita originalnya uda tamat, saya usahakan juga menamatkan fict ini secepet mungkin.
Happy reading~
-oOo-
Tokyo – December 2nd
"Lebih baik kita putus."
Naruto sungguh yakin telinganya masih berfungsi dengan sangat baik, tetapi… tunggu! Apa yang baru saja ia dengar?!
"Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama. Maafkan aku," ujar suara seberang. Meskipun hanya lewat ponsel, namun Naruto bisa langsung menangkap ada getaran di suara itu. "Aku pikir… lebih baik kita berakhir sampai disini saja."
Naruto membatin. Apa? Apa-apaan ini? Ia tidak menyangka kalau kalimat itu akan ia dengar secepat ini. Well…
"Ada apa, Gaara? Kita baik-baik saja kan, selama ini? Tapi…" Naruto menggantungkan kalimatnya. Ia mulai berpikir apakah Gaara memiliki orang yang ia sukai selain dirinya di luar sana? Tidak, Naruto menggelengkan kepalanya. Ia sangat percaya pada si rambut merah itu dan ia sangat tahu Gaara bukanlah tipe lelaki yang seperti itu.
"Tidak… Tidak ada apa-apa disini… M-maksudku, aku hanya…" Gaara tampaknya kesulitan untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya, "A-aku ingin kau bisa bebas dengan hidupmu sendiri tanpa hubungan kita yang seperti ini," Gaara agak menekankan kata 'seperti ini'. "M-maksudku… jarak. Y-ya aku pikir jarak yang terbentang antara kita terlalu… jauh…"
Tangan Naruto sudah mengepal. Fuck! Demi Tuhan, lelaki pirang itu sudah paham sejak lama soal itu.
"N-naruto… A-aku benar-benar minta maaf…"
Naruto menghela nafas berat—sungguh sangat berat—yang bahkan sepertinya didengar oleh calon mantan kekasihnya itu. "Tidak… Aku minta maaf Gaara, kalau saja aku bisa menemukan jalan keluarnya…"
Hening, namun auranya begitu canggung. Naruto kembali mengumpat dalam hati, ia tidak pernah terjebak dalam situasi seperti ini.
"A-aku hanya berpikir… kalau ini bisa… menjadi jalan yang terbaik… untuk kita…"
Terbaik? Naruto benar-benar tidak memahami cara berpikir seorang Sabaku Gaara. Mereka sudah melewati masa-masa sulit seperti ini setahun belakangan dan setelahnya anak itu meminta putus. Sungguh? Jalan terbaik harus seperti ini?
"A-aku tahu ini terdengar sangat bodoh… M-maafkan aku," suara itu kembali terdengar, namun getarannya juga semakin tertangkap jelas. Naruto bisa menjamin setelah ini pasti ia akan menangis.
"Sudahlah, jangan mengatakan maaf terus. Itu bukan salahmu," Naruto berusaha membalas perkataan Gaara dengan nada seceria mungkin untuk memberikan lawan bicaranya itu sedikit ketenangan. "Kita sama-sama tahu hubungan jarak jauh itu sulit untuk dilakukan dan… itu yang kita alami saat ini kan?"
Gaara terdiam dan menghela nafasnya yang dengan sangat jelas mampu ditangkap oleh Naruto. "It's okay Gaara… really. Kalau itu memang keinginanmu, ya aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi," itu memang benar. Naruto tidak bisa egois untuk saat ini dan membiarkan menderita seperti itu. Jadi… ia pikir menyetujui keputusan Gaara yang sepihak itu adalah jalan terbaik.
Hening kembali. Kali ini keheningan tercipta cukup panjang, hingga akhirnya ia berkata, "N-naruto… Aku benar-benar minta maaf."
"It's okay, honey. Kita tetap bisa berteman, bukan?"
Bisakah?
-To Be Continued-
Hola!
Seperti yang saya bilang, cerita aslinya memang mostingnya pendek" sesuai sama tanggal ^^"
Setelah ini, dua chapternya bakalan pendek-pendek lagi tapi setelah itu agak panjangan dikit kok ^^
Last, mind to RnR? Sankyu! ❤
*bow bersama Gaara*
-with love,
Lianatta.
