Title: Youniverse
Chapter: 7. Tokyo, January 5th
Genre: Romance/Yaoi, AU, angst, fluff
Rating: M
Main Cast:
Naruto Uzumaki
Sabaku Gaara
-oOo-
"Apakah meteor jatuh tepat di apartemenmu? Serius, ini tampak seperti tempat pembuangan."
Naruto melirik Kiba, tersadarkan bahwa ia sedang melamun sekitar… entah beraa menit. Ia mengaduk ramennya, tidak terlalu bernafsu untuk memakan ramennya itu.
Yang sebenarnya terjadi, ia bukannya kehilangan nafsu makan saja, namun ia kehilangan semua nafsunya hingga ia malas melakukan apa-apa.
"Aku tahu itu."
"Tidak, kau tidak tahu."
Kiba menatap Naruto beberapa detik sebelum meneguk alkoholnya. "Kau benar. Aku memang tidak tahu."
Maafkan aku, batin Naruto terus-terusan meminta maaf pada pria bergaris pipi merah itu. Naruto terlalu sadar kalau Kiba pasti lelah terus menerus menjaganya seperti ini.
"Aku pikir kau sudah move on," Kiba berkata dengan suara rendah, membuat Naruto langsung menatap anak itu dengan tatapan penuh tanya. "Kau berhubungan seks dengan Sasuke, tapi sepertinya itu tidak ada artinya bagimu."
Naruto terdiam. Memang benar ia melakukan seks dengan si teme itu, tapi tetap saja itu tidak berarti baginya. Tidak ada sesuatu yang berharga di dalam kegiatan panas itu. Sepanjang ia melakukannya, pikirannya melayang pada bibir pink mungil itu, kulitnya yang mulus, desahannya yang menari-nari indah di telinganya, lubangnya yang sempit, pantat sekalnya, dan tentu saja saat si pemilik keindahan itu memanggil namanya beberapa kali. Semakin ia membayangkannya dan mendapati kenyataan bahwa yang bersetubuh dengannya bukanlah anak itu, semakin… rasanya seperti percuma melakukan hal semacam itu.
"Katakan padaku kalau kau sudah hidup."
"H-hah?! A-apa maksudmu?!" Naruto otomatis mengalihkan pandangannya pada pria bertaring itu.
"Kau itu mati! Kau benar-benar terluka karena kata-katanya!" Kiba meneguk alkoholnya dengan kasar.
"Tidak, kau salah," Naruto berkata dengan sangat pelan. "Ia tidak sepenuhnya melukaiku. Ini bukan kesalahannya. Aku yang melukainya."
"Jadi, kau yang melakukannya? C'mon, kau melukai dirimu sendiri dan kau tidak ingin menyembuhkannya. Sejak kapan kau jadi masochist?"
"Kau tidak mengerti, Kiba."
"Tentu saja aku tidak mengerti, bangsat!" Kiba memukul meja dengan sangat kasar. "Aku bukan Uzumaki Brengsek Naruto, yang mencoba bersikap sok kuat padahal sebenarnya ia tidak!" suara Kiba begitu keras seperti peluru, seolah siap melubangi telinga Naruto.
Naruto kehilangan kata-katanya. Terlalu banyak hal yang ingin ia katakan tapi ia terlalu bingung. Ia tidak tahu harus memulainya darimana.
"Kau mencintainya, kan?"
"Tentu saja, aku SANGAT mencintainya!" Naruto menekankan kata sangat pada kalimatnya. Teriakannya itu cukup membuat Kiba terdiam dan menatapnya kosong. Lelaki pirang itu merendahkan suaranya. "Tentu saja, aku sangat mencintainya lebih dari aku mencintai diriku sendiri."
"Then go fucking tell him."
"Tidak semudah itu."
"Kenapa?! Jarak kalian terlalu jauh?!" Kiba kembali berteriak. "Karena ia meminta putus darimu dan kau setuju dengan hal itu? Asal kau tahu saja, setiap kata-katamu itu berharga baginya!"
"Aku tidak bisa!" Naruto semakin frustasi. "Aku hanya… tidak bisa. A-aku tidak ingin ia menderita dalam hubungan seperti ini. Gaara belajar ke luar negeri demi meraih impiannya, dan hubungan kami, akan menghalanginya."
"Apa ia mengatakan hal itu padamu?"
"Tentu saja tidak. Ia tidak ingin membuatku terluka."
"Jadi, ini hal yang bagus? Sama-sama menyakiti diri kalian?"
"Mungkin, ini yang terbaik," Naruto menghela nafas lelah.
"Kalau begitu, cintamu tidak sekuat itu."
"Kiba, kumohon…"
"Dengarkan aku, Uzumaki Bajingan Naruto!" Kiba tampak benar-benar frustasi dengan ini semua, padahal ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Kalau kau benar-benar mencintainya, kau tidak akan membuatnya terluka—baik itu dari kalian berdua, atau dirinya sendiri. Kau akan benar-benar gila dan berusaha mengalihkan perasaan sakitnya padamu—semuanya."
Naruto membeku. Apa yang dikatakan Kiba benar-benar seperti petir yang menyambarnya.
"Pergilah dan bilang padanya," Kiba menyerahkan secarik kertas pada Naruto, "cintamu padanya semakin kuat. Tidak peduli apapun itu, cintamu padanya benar-benar kuat."
"A-aku tidak bisa," Naruto menyadari bahwa itu adalah tiket untuk pergi ke London. Kiba memenangkan kompetisi dance itu dan mendapatkan tiket itu sebagai hadiah. "K-kau adalah pemenangnya, tentu saja ak—"
"Ambil itu, idiot!" Kiba membentak. "Atau akan kubuat kau telanjang di bawah salju!"
-To Be Continued-
HOLA!
Nah ini ya sebagai ganti saya post langsung nih dua muehehehehe
Well, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan, jadi gini…
Saya tidak melarang bagi reviewers untuk mengkritik dan memberi saran pada saya, dalam artian mungkin membenahi kosakata saya, atau grammar saya, atau mungkin plot. Saya bisa menerima itu semua kok, asalkan temen-temen reviewers juga bilangnya baik-baik ^^"
Untuk yang nggak suka pair ini, dengan sangat hormat saya katakan, cukup klik tanda silang di tab-nya. Mudah kan? Leave page saja kalau memang tidak sreg, toh saya sudah menulis di summary kan, pairnya siapa saja? ^_^;
Dan teruntuk para reviewers yang tidak menyukai genre yaoi/shonen-ai, saya sangat menyarankan untuk leave dari fanficition ini. This is my pleasure, to keep writing this fanfiction. Menulis dengan genre seperti ini adalah passion saya, hak saya, kesukaan saya. Saya sendiri tbh tidak pernah mengusik homophobic/orang yang menulis dengan pair straight, lantas salah saya apa? Kalau tidak suka, lebih baik diam. Daripada komentarnya merusak mood saya. Well, anda mau menyarankan/memberi kritik memang hak anda, tapi saya juga punya hak untuk menerima kritikan itu atau tidak. Jadi, jujur saja untuk kritikan mengenai genre yaoi/BL/pairing, saya tidak akan berbaik hati untuk menerima itu semua, namun bukan berarti saya akan PM anda satu per satu, okay. ^-^
Lalu, terima kasih banyak buat yang sudah menyempatkan membaca fanfiction ini. Saya sering senyum-senyum sendiri baca reviewnya hehe ^-^
Well, last…
Mind to review? ❤
-with love,
Lianatta.
