Jongin yang dalam mode terkejut langsung berhamburan keluar dari mobil. Pria itu berlari kedepan untuk melihat korban yang barusan dia tabrak.
Dapat dia lihat, seorang gadis tengah teduduk tepat didepan mobilnya. Gadis itu memegangi sikunya yang terlihat terluka.
Jongin berjongkok tepat disebelah gadis itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jongin dengan nada khawatir yang kentara.
Gadis yang terjatuh itu mendongak kearah Jongin. dan Jongin dibuat menahan nafas karena melihat cerminan dirinya versi wanita diwajah gadis itu.
Gadis itu tersenyum sedikit meringis, "Tidak apa-apa paman, mungkin hanya lecet sedikit."
"Tidak-tidak. Lihat kaki dan tanganmu terluka. Ayo biar paman antar kerumah sakit untuk mengobatinya." Lelaki itu tidak percaya begitu saja karena matanya sedikit menangkap bercak darah dicelana juga baju bagian gadis itu.
Tapi gadis yang Jongin tabrak tadi hanya menggeleng, menolak maksud Jongin.
"Sungguh paman, aku tidak apa-apa. Aku nanti bisa meminta ibuku untuk mengobati luka ini. paman tidak perlu repot-repot membawaku ke rumah sakit."
"Tidak, tidak, tidak. Ini salahku dan aku harus bertanggung jawab untuk lukamu. Sungguh paman tidak merasa direpotkan sama sekali. Jadi ayo mari kita kerumah sakit, lukamu harus segera diobati."
Gadis itu terlihat akan menolak kembali. Namun saat melihat raut wajah Jongin yang terlihat bersungguh-sungguh akhirnya gadis itu mengangguk.
"Baiklah." Putusnya.
Jongin mengangguk, lalu membantu gadis itu berdiri dan membawanya masuk kedalam mobilnya. Setelah mereka sudah naik, Jongin segera menyalakan mobilnya dan melajukannya secepat mungkin kerumah sakit terdekat.
"Jadi, siapa namamu?"
Gadis itu menengok ke arah Jongin dan tersenyum, "Taerin. Do Taerin."
"Baiklah Taerinie, nama paman Kim Jongin. panggil saja paman Jongin."
Keduanya lalu saling melempar senyum yang terlihat sama.
.
"Jadi dimana rumahmu?"
Saat ini keduanya sudah berada dalam perjalanan pulang setelah dari rumah sakit. Benar saja kata Jongin. gadis itu tidak baik-baik saja. Bahkan lutut dan sikunya sobek, untung saja tidak terlalu dalam sehingga tidak perlu untuk dijahit. Dan setelah selesai, Jongin bermaksud mengantarkan Taerin pulang kerumahnya. Tentu dengan sedikit paksaan karena lagi-lagi anak itu kembali hendak menolak.
"Eoh, rumahku ada di 20 meter tempat paman menabrakku tadi."
Jongin mengangguk dan segera melajukan mobilnya memecah jalanan kota Busan yang selalu terlihat ramain.
15 menit kemudian. Keduanya sampai didepan flat kecil sewaan tempat tinggal Taerin dan ibunya. Taerin yang merasa tidak enak menawarkan Jongin untuk masuk kedalam sekedar untuk minum teh. Awalnya Jongin menolak namun karena paksaan Taerin yang entah kenapa tidak bisa dia tolak akhirnya lelaki itu mengiyakan untuk mampir sebentar.
Dan betapa terkejutnya Jongin dengan siapa dia sambut dari dalam.
.
.
.
.
.
REPEATING [SHORTFIC]
...Baby_Vee...
KAISOO – GS
.
.
.
.
.
Kyungsoo mematung ditempat setelah bibirnya mengucapkan nama lelaki yang selama 15 tahun ini dia paling hindari untuk disebut. Dan setelah belasan tahun lamanya, nama itu akhirnya meluncur juga dari mulut wanita itu.
Tangannya yang sedikit bergetar dibawa menutupi mulutnya yang sedikit terbuka karena terkejut. Dia bahkan secara otomatis mundur dua langkah ketika bertemu tatap dengan lelaki itu.
Dia hanya ketakutan. Bagaimana bisa putri kecilnya bertemu lelaki itu? Apa dia akan mengambil putriku? Hanya itu yang berada dibenak Kyungsoo. Sungguh, Kyungsoo bahkan tak menghiraukan Taerin –putrinya yang penyerukan kebingungan dengan sikap Kyungsoo dengan lelaki yang dipanggilnya paman.
Refleks, Kyungsoo semakin mundur saat Jongin berjalan dua langkah kedepan.
Pikirannya kacau, dan saat anaknya semakin menyudutkan pertanyaan tentang 'Apakah ibu mengenal paman Jongin?' Kyungsoo dibuat gelap mata dan malah membentak anaknya yang bahkan seumur hidupnya tak pernah mendengar Kyungsoo bicara kasar.
"Berhenti bicara Do Taerin! Sekarang masuk kedalam kamarmu!"
Dan saat terdengar pintu kamar yang ditutup secara keras, barulah kesadaran Kyungsoo kembali kebumi. Dia baru menyesali tentang ucapannya yang membentak Taerin dengan kasar. Pasti anaknya itu merasa sedih.
Saat pikirannya masih sibuk dengan memikirkan bagaimana perasaan Taerin. Tiba-tiba telinga Kyungsoo mendengar suara lelaki yang selama 15 tahun ini tidak pernah didengarnya lagi.
"Soo-ya..."
"Jangan mendekat." Ucap Kyungsoo penuh penekanan.
Tapi bukannya menjauh, lelaki itu malah semakin mendekat membuat Kyungsoo semakin berjalan mundur.
"Soo-ya... dengarkan penjelasanku dulu. Dan ku mohon maafkan kesalahanku 15 tahun yang lalu."
Lelaki itu memohon dengan suara yang tulus. Kyungsoo sedikit tergoda untuk mendengarkannya, namun dia teringat penolakan lelaki itu yang menyuruhnya untuk menjauh juga menggugurkan Taerin yang masih segumpal darah. Tanpa terasa, air mata Kyungsoo jatuh saat matanya menatap lelaki itu.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan dan tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua selesai 15 tahun yang lalu. Aku juga sudah menghilang dari hadapanmu jadi segera pergi dari sini!" wanita itu menjerit dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Soo... kumohon maafkan aku soo," tapi Jongin yang keras kepala tetap kukuh terus meminta maaf dan Kyungsoo yang hanya mampu menggelengkan kepalanya tanda menolak segala permintaan maaf dari lelaki itu.
Namun satu kalimat yang membuat emosi Kyungsoo naik, Jongin ucapkan dengan mudahnya.
"Apa Taerin anakku?"
"BUKAN! DIA ANAKKU! TAERIN HANYA ANAKKU! DIA BUKAN ANAKMU! TAERIN HANYA PUNYA IBU AKU. JADI SILAHKAN PERGI DARI SINI KIM JONGIN-SII" wanita itu berteriak sekuat tenaga.
Dikumpulkannya seluruh tenaga yang dia punya untuk menyeret lelaki yang mengaku sebagai ayah dari Taerin itu. Dan entah bagaimana ceritanya, Kyungsoo dapat menyeret badan besar Jongin keluar dari pintu flat kecilnya. Dan sebelum menutup pintunya wanita itu berpesan,
"Jangan datang kemari lagi dan pernah dekati anakku lagi."
Dan setelah kata-kata itu terucap, Kyungsoo langsung membanting pintunya tepat didepan muka Jongin yang hendak kembali meminta belas kasih dari Kyungsoo.
Kyungsoo semakin menangis dibalik pintu. Dadanya serasa sesak seolah-olah kejadian 15 tahun yang lalu kembali terulang didepan matanya.
Dia tidak mendengarkan sama sekali Jongin yang menggedor-gedor pintunya. Dia menulikan telinganya dan memenangkan egonya.
Saat 30 menit kemudian tidak ada suara pintu digedor kembali. Kyungsoo bangkit merapikan penampilannya yang berantakan. Air matanya yang banjir disana-sini diusap kasar.
Wanita itu berjalan menuju kamar anaknya. Dia harus berbicara dengan Taerin. Dia harus meminta maaf tentang kesalahannya yang tadi berkata kasar kepada putri kecilnya. Dia tidak ingin Taerin salah paham dan kemudian marah kepadanya. Kyungsoo bisa gila jika satu-satunya tujuan hidupnya berbalik memusuhinya.
Tanpa perlu mengetuk pintunya, Kyungsoo segera membuka dan masuk kedalam.
Seperti dugaannya. Putri kecilnya itu pasti akan meringkuk diatas kasur dan menutupi seluruh badannya dengan selimut. Jelas sekali Taerin menangis pasti dalam posisi seperti itu.
Kyungsoo mendekat, duduk dipinggir ranjang putrinya. Disentuhnya bahu gadis itu.
"Taerin-ah~"
Gadis cantik itu bergeming, tak menjawab panggilan Kyungsoo. Bisa dipastikan bahwa pasti gadis itu tengah marah karena Kyungsoo tau betul betapa gadis itu memiliki emosi yang sangat tinggi persis seperti Jongin –ayahnya. Jadi Kyungsoo yang memang harus selalu sabar, akhirnya menghela nafas.
"Maafkan ibu." Kyungsoo terdiam sebentar menenangkan hatinya yang tiba-tiba bergemuruh keras.
"Ibu tidak bermaksud membentakmu tadi. Ibu hanya terkejut kau pulang dengan keadaan terluka dan diantar oleh lelaki asing. Ibu hanya merasa takut." Jelas Kyungsoo.
"Ibu harap kau tidak akan menemui lelaki itu lagi Taerin-ah..."
Dan tiba-tiba saja gadis itu menyibak selimutnya dan terduduk menghadap Kyungsoo.
"Kenapa aku tidak boleh menemui paman itu lagi?" tanya gadis itu penasaran.
Kyungsoo memejamkan matanya, "Hanya jangan temuinya saja,"
"Kenapa? Apa ibu mengenal paman Jongin? kenapa ibu berusaha menjauhkanku dari paman tadi? Padahal paman tadi sangat baik, memang apa salah paman tadi kepada ibu? Apa?" gadis itu mencoba berdebat. Namun Kyungsoo yang masih dalam mode kalut pun akhirnya merobohkan dinding kesabarannya.
"Berhenti bertanya kenapa! Hanya jauhi orang tadi, tidak usah banyak tanya. Hanya dengarkan jika ibu bicara Do Taerin!" bentak Kyungsoo.
Namun, bukannya mengerti. Taerin malah menangis karena Kyungsoo kembali membentaknya.
"Kenapa ibu membentakku lagi hiks, padahal aku hanya bertanya. Kenapa ibu harus membentak..."
Dan Kyungsoo langsung tersadar dari mode emosinya yang meluap-luap. Wanita itu langsung kalang kabut sendiri ketika melihat putrinya menangis karena bentakannya.
Kyungsoo segera membawa putrinya kepelukannya. Meski awalnya Taerin memberontak, namun akhirnya gadis itu memeluk Kyungsoo dan menangis tersedu-sedu dipelukan ibunya.
Kyungsoo juga ikut menangis mendengar anaknya menangis. Wanita itu berulangkali mengucapkan maaf kepada putrinya dan menciumi setiap jengkal wajah Taerin yang tergenang air mata.
Mereka berakhir tidur saling berpelukan diranjang Taerin karena lelah semalaman menangis meratapi semesta yang tidak pernah berpihak kepada keduanya.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Taerin sudah pergi kesekolahnya sekitar 30 menit yang lalu dan kini hanya tinggal Kyungsoo yang berada dirumah bersiap untuk memulai harinya seperti biasanya.
Kyungsoo memang bekerja sebagai kepala tukang masak disebuah restoran mewah didekat flat sewaannya. Sebenarnya gaji yang diberikan untuk kepala tukang masak lumayan besar. Hanya saja, hidup dikota besar layaknya Busan ini juga mahal. Belum lagi biaya sekolah Taerin yang setengah dari gajinya sendiri.
Kyungsoo memang bukan orang mampu. Hanya saja untuk Taerin dia akan melakukan apa saja termasuk memberikan tempat belajar yang memadahi. Sekolah Taerin adalah salah satu sekolah terpandang di Busan jadi pasti membutuhkan kocek yang sangat besar untuk bersekolah disana.
Sementara sisa dari gajinya itu dibagi kembali untuk membayar sewa flat setiap bulan dan untuk uang makan serta saku dari Taerin. Terkadang Kyungsoo bahkan hanya akan makan sekali sehari saat siang jika direstoran ada sisa makanan yang tidak laku.
Kyungsoo diam-diam juga memiliki tabungan dari hasilnya sebagai tukang laundry milik tetangga kanan kirinya. Tidak banyak sebenarnya, hanya saja Kyungsoo bertekat untuk membelikan hunian yang lebih layak untuk Taerin nantinya.
Saat wanita itu sudah siap dan keluar dari flat yang dia tinggali. Tidak lupa dia mengunci pintunya dan menaruhnya dibawah pot tanaman yang ada disebelah pintu depan, berjaga-jaga jika Taerin pulang lebih dahulu.
Dan saat dia berbalik, wanita itu kembali dikejutkan dengan lelaki yang semalam jadi tamu tak disangka difatnya. Dia Kim Jongin.
Lelaki itu berdiri 2 meter didepan Kyungsoo. Memandang Kyungsoo dengan tatapan sendu. Rupanya pun tak jauh beda dengan rupa Kyungsoo yang sembab karena menangis semalaman. Mungkin lelaki itu juga menangis –pikir Kyungsoo.
"Soo-ya..."
Namun bukannya membalas sapaan lelaki didepannya, Kyungsoo malah melenggang pergi begitu saja meninggalkan Jongin yang tadi masih berdiri.
Tapi siapa sangka, lelaki itu malah mengejar Kyungsoo dan menarik tangan Kyungsoo membuat Kyungsoo berbalik menghadapnya lagi.
Kyungsoo hendak protes, namun sebelum dia menyuarakan ketidak nyamanannya. Lelaki itu lebih dulu berbicara.
"Soo, kita perlu bicara!" paksa Jongin. kyungsoo yang tidak nyaman tangannya dicengkram kuat oleh Jongin menyentakkan tangannya dengan keras, membuat tautan itu terlepas.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Kim Jongin-ssi. Permisi." Ucap Kyungsoo penuh penekanan.
Dan Kyungsoo lari setelahnya menghiraukan Jongin yang ikut berlari mengejarnya. Namun mungkin dewi fortuna sedang berpihak kepadanya. Jadi saat lampu merah tinggal beberapa detik, Kyungsoo segera berlari menyebrang. Namun naas, Jongin yang akan menyusul harus berhenti karena lampu jalanan kembali jadi hijau. Dan lelaki itu kembali kehilangan Kyungsoo seperti semalam.
.
Kejadian itu terus terulang selama dua minggu kedepannya. Dijam yang sama dan waktu yang sama pula. Bahkan saat Kyungsoo hendak menghindar, sayangnya lelaki itu kembali muncul dan lagi-lagi memaksanya untuk berbicara. Kyungsoo sebenarnya lelah menghindar. Namun dia belum siap jika nanti Jongin tau siapa itu Taerin, Kyungsoo takut akan membawa Taerin pergi bersamanya. Dan jika Taerin pergi dari Kyungsoo, maka tidak ada alasan Kyungsoo untuk hidup lagi. karena Taerin adalah alasan Kyungsoo bisa hidup selama 15 tahun ini.
Kyungsoo bahkan pernah mengamuk lagi kepada Taerin seminggu yang lalu saat mendapati Taerin menggenggam sebuah ponsel baru yang dari modelnya saja Kyungsoo tau itu mahal. Bahkan ponsel itu berharga 3 kali lipat dari gajinya.
"Dapat dari mana kau ponsel ini." tanya Kyungsoo menuntut sembari merebut ponsel yang tadi Taerin mainkan. Taerin merengut tak suka karena Kyungsoo merebut kesenangannya.
"Kembalikan ibu. Itu milikku."
Kyungsoo menggeleng, "Tidak. Beritahu ibu dulu kau dapat dari mana ponsel seperti ini?!"
"Paman Jongin membelikannya untukku. Apa ibu puas? Jadi sekarang kembalikan ponsel itu kepadaku."
Dan ponsel itu jatuh dengan kerasnya karena dibanting Kyungsoo saat tau dari siapa ponsel itu berasal.
Taerin tentu menjerit tak suka karena miliknya dibanting oleh ibunya. Bahkan gadis itu langsung berteriak sambil menangis kepada Kyungsoo.
Gadis itu terus menyebut Kyungsoo jahat, tak memiliki perasaan, tega dan sebagainya. Kyungsoo tidak terlalu dengar anaknya menyumpahi apa kepadanya.
Mereka bertengkar hari itu dan berbaikan lagi dihari yang sama. Jelas pasti Kyungsoo yang memita maaf dan berjanji membelikan Taerin ponsel baru besok. Dan Kyungsoo benar-benar menepati janjinya kepada Taerin. Dia benar-benar membelikan ponsel yang sama persis seperti yang Jongin berikan kepada Taerin. Yah, meski Kyungsoo harus mengambil tabungannya yang sedikit dan kini semakin sedikit. Bahkan selama seminggu, Kyungsoo harus rela hanya makan nasi campur garam karena uang sisanya hanya mampu membeli lauk untuk Taerin saja. Tidak masalah untuk Kyungsoo yang penting anaknya bisa makan dengan bergizi.
Namun anehnya, setelah dua minggu berlalu dengan Jongin yang selalu mengikutinya. Tiba-tiba seminggu kemudian lelaki itu menghilang begitu saja. Tidak pernah terlihat lagi disekit Kyungsoo ataupun Taerin.
Kyungsoo bukannya mengharapkan lelaki itu datang. Tidak sungguh. Dia malah senang jika lelaki itu pergi karena tidak ada yang mengganggunya bersama Taerin. Dia bisa hidup tenang lagi.
Yahh, sementara ini.
.
.
Seperti bisanya. Jika jam makan siang datang, maka Kyungsoo akan segera langsung pulang kerumah. Beruntung dia memiliki boss yang baik dan mengerti tentang urusan pribadi Kyungsoo. Dan Kyungsoo sangat berterima kasih untuk itu.
Saat makanan yang Kyungsoo masak siap –dia tidak pernah membawa makanan dari restoran lagi sejak Taerin bilang tidak akan memakannya– pintu depan diketuk.
Kyungsoo yang mengira itu Taerin segera berlari kedepan untuk membukakan pintu setelah menaruh kembali apronnya didapur. Pintu memang sengaja dia kunci dari dalam karena lingkungan ini sedikit kurang aman.
Kyungsoo membuka pintu dengan bahagia. Bermaksud menyambut Taerin yang sudah pulang dari sekolah dengan senyum indah yang mengembang dibibirnya.
Namun, senyum itu seketika lenyap saat melihat siapa yang tadi mengetuk pintu. Itu adalah lelaki yang selama satu minggu ini tidak terlihat dan membuat hidup kyungsoo merasa tenang. Juga lelaki yang sama yang meninggalkannya 15 tahun yang lalu.
"Soo-ya... boleh aku masuk?"
.
Dan disinilah Kyungsoo sekarang. Duduk berhadapan dengan Jongin yang sedang sibuk dengan buku album milik Taerin dari kecil hingga dia remaja sekarang.
Kyungsoo memang sengaja menaruh buku itu disebelah meja ruang tamu. Tujuannya hanya saat dia ingin mengenang Taerin dia dapat dengan mudah mengaksesnya tidak perlu susah mencari ditumpukan buku-buku lain.
Tapi Kyungsoo sedikit menyesal dengan itu jika pada akhirnya Jongin tidak sengaja menemukannya dan sibuk melihat itu. Kyungsoo sedikit tak suka. Maksud tak suka disini itu bukan tak suka diabaikan tapi tak suka karena jongin yang terlihat begitu antusias dengan perkembangan Taerin. Bahan Kyungsoo tadi melihat Jongin yang mengusap foto usg Taerin. Kyungsoo memang selalu mengabadikan setiap moment Taerin setiap harinya. Bahkan ketika Taerin masih didalam perut pun Taerin memiliki semua. Hell, memang kemana saja lelaki itu dulu, kenapa baru perhatian sekarang saat Taerin sudah tumbuh menjadi gadis berusia 14 tahun.
"Sudah puas melihat fotonya? Jika memang sudah, silahkan keluar Kim Jongin-ssi." Ketus Kyungsoo.
Jongin yang mendnegar langsung mendongak. Lalu sedikit mengusap ujung matanya yang sepertinya tergenang air mata.
"Maafkan aku. Aku hanya terlalu semangat melihat pertumbuhan Taerin jadi sedikit mengabaikan sekitar." Ucap Jongin sembari tersenyum.
Namun bukannya ikut membalas dengan senyum, Kyungsoo malah mendengus tak suka.
"Ya, katakan itu pada seseorang yang meminta untuk membunuh anak itu 15 tahun yang lalu."
Jongin yang tahu sesorang yang dimaksud Kyungsoo adalah dirinya hanya bisa tersenyum miris mengingat betapa jahatnya dia dulu. Entah bagaimana otaknya dulu hingga terpikir untuk menyuruh Kyungsoo melenyapkan malaikat secantik Taerin. Andai saja dulu Kyungsoo benar-benar menuruti keinginannya. Mungkin Jongin adalah orang paling jahat didunia ini. atau saja jika dulu Jongin bersedia bertanggung jawab, mungkin saja sekarang mereka... ahhh sudahlah. Itu hanya mungkin saja yang tidak bisa untuk diulang.
"Jadi apa maumu kesini?" tanya Kyungsoo yang jengah melihat Jongin melamun dan Kyungsoo jelas tau apa yang dilamunkan lelaki itu. Pasti Taerin.
Jongin hendak membuka suara, namun Kyungsoo memotongnya terlebih dahulu dengan tepat.
"Jika kau ingin bertanya siapa ayah Taerin, maka jawabannya sudah jelas bukan siapa lelaki yang menghamiliku dulu. Kau juga bisa melihat dengan jelas seberapa miripnya wajah Taerin dengan lelaki brengsek yang meninggalkan ku dulu."
Akhirnya, setelah sekian lama Kyungsoo memendam segala umpatannya kepada Jongin. akhirnya dia bisa menyalurkan juga. Meski hanya kata brengsek yang keluar dari mulutnya.
Kyungsoo sedikit terengah karena emosinya yang naik membuat darahnya juga ikut naik.
"Maaf," Jongin mengucapkannya dengan menunduk. Lelaki itu terlihat benar-benar menyesal dengan segala perbuatannya dimasa lalu.
Kyungsoo berdecih, "Sudah ku bilang, tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku sudah bahagia dengan Taerin sekarang. Jadi kumohon, pergilah... jangan ganggu kami lagi."
Sungguh hilang sudah benteng pertahanan Kyungsoo. Saat dia memohon, maka itulah limit akhir dari kekuatannya. Kyungsoo hanya wanita lemah yang sedari mudah hidup dengan keras untuk membiayai hidup anaknya.
Orang diluaran sana tidak akan tau, bagaimana rasanya ditolak lelaki yang menghamilimu. Lalu keluargamu juga mengusirmu karena kau dianggap membawa malu. Terbiasa hidup penuh berkecukupan membuat Kyungsoo sedikit sulit dibulan-bulan awal kehamilannya yang serba minim. Beruntung dia memiliki sahabat sebaik Baekhyun dan Luhan yang membantunya. Namun Kyungsoo akhirnya menolak bantuan mereka karena merasa tak enak terus merepotkan keduanya.
Kyungsoo sudah hidup susah. Menjadi cemoohan orang karena memiliki anak tanpa suami pun dia anggap angin lalu. Namun dengan seenak jidatnya. Lelaki bernama Kim Jongin itu tiba-tiba datang hendak merusak hidupnya bersama putrinya yang dibangun dengan susah payah. Dan sungguh, Kyungsoo tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan pernah!
Jongin mendekat, bermaksud membawa Kyungsoo kedalam pelukannya. Namun Kyungsoo menghindar tidak mau disentuh Jongin. seakan Jongin adalah virus yang mematikan yang akan membuatnya mati.
"Jangan mendekat." Peringatan Kyungsoo. "Jangan sentuh aku atau aku akan membunuhmu sekarang jika kau menyentuhku."
"Soo-ya.. maafkan aku sungguh maafkan aku. Ampuni segala kesalahanku soo. Bunuh aku jika memang itu bisa menebus kesalahanku." Jongin bersujud dikaki Kyungsoo dengan air mata yang turun membasahi wajah tampannya. Dia bahkan tidak menghiraukan Kyungsoo yang menyentakkan kakinya saat jongin menyentuh dan mencium kaki wanita itu.
"Sudah kubilang tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah selesai 15 tahun lalu. Jadi kumohon pergi dari hidupku dan Taerin sekarang." Kyungsoo menangis tersedu-sedu karena rasa sesat didadanya semakin menjadi-jadi saat melihat Jongin yang menangis sembari bersimpuh dikakinya.
Jongin menggeleng, lelaki itu tidak setuju dengan pernyataan yang Kyungsoo lontarkan.
"Tidak. Aku bersalah disini. Jadi ayo mulai dari awal dan besarkan Taerin bersama-sama."
"Aku bisa membesarkannya sendiri tanpamu. Kau bahkan bisa melihat dia tumbuh dengan baik selama 15 tahun ini. jadi ada tidaknya dirimu pun sama saja."
"Tidak Soo.. aku ayahnya. Tentu Taerin membutuhkan sosok ayah untuknya."
"Aku bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk Taerin. Kami benar-benar tidak membutuhkanmu Jongin-ssi. Kau bisa pergi dari hidup kami!"
"Tidak." Tidak setujunya. "Kau hanya bisa jadi ibu soo, bukan sebagai ayah sekaligus. Kalian membutuhkanku. Sadar tidak sadar kalian membutuhkanku."
Kyungsoo hendak menjawab namun langsung bungkam saat mendengar suara seseorang dibelakangnya dengan tangis juga disela-selanya.
"J-jadi pam.. hiks paman Jongin ayahku?"
Kyungsoo berbalik. Wanita itu hendak menghampiri anaknya. "Taerin-ah~ dengaran ibu hmm?"
Taerin menggeleng. Menjauh saat hendak Kyungsoo ingin menggapainya.
"Kenapa ibu tidak memberiatahuku?" gadis itu terlihat menarik nafas lalu sedikit memukul dadanya yang terasa sedikit sesak.
"Kenapa ibu menyembunyikannya dariku? Kenapa bu? Kenapa? JAWAB AKU BUUUU, JAWAB!"
Kyungsoo hanya bisa diam menangis mendengar anaknya berteriak kepadanya. Otaknya memerintahkan untuk segera menjawab semua pertanyaan Taerin. Namun mulutnya terasa kelu saat hendak mengucapkan kata-kata. Jadi saat mulutnya terbuka hanya angin yang keluar dari sana. Suara Kyungsoo seakan terasa terikat didalam tenggorokannya.
Melihat ibunya yang hanya menangis tanpa menjawab pertanyaannya. Taerin tersenyum miris. Gadis itu menghapus kasar air matanya dan menumpahkan kekesalannya sebelum pergi berlalu kedalam kamarnya sembari membanting pintu dengan kasar.
"Kupikir ibu adalah wanita paling baik didunia ini. tapi ternyata aku salah. Ternyata ibu adalah orang paling jahat didunia yang tega memisahkan anak dari ayahnya. Ibu jahat! Aku benci ibu!"
Dan saat Taerin pergi kedalam kamarnya. Kyungsoo lagi-lagi hanya bisa menangis tersedu sembari terus mengucapkan 'maafkan ibu Taerin-ah.. maafkan ibu..'
Jongin yang tak tega melihat Kyungsoo menangis tersedu-sedu dilantai lantas menghampirnya dan memeluk Kyungsoo bermaksud menenangkan ibu dari anaknya tersebut.
Namun Kyungsoo tetaplah Kyungsoo meski dalam keadaan kalut sekalipun. Seolah dia memiliki alarm tersendiri, maka dia refleks langsung memberontak dipelukan Jongin dan membuat pelukan itu terlepas.
Wanita itu menatap Jongin nyalang. "Kau puas sekarang?" tanyanya sedikit menggeram.
Jongin mencoba meraih kembali wanita itu namun gagal karena dia kembali menghindar. "Soo-ya..."
"Lihat sekarang apa yang kau lakukan." Wanita itu sedikit mengambil nafas.
"Lihat bagaimana sekarang kau membuat anak membenci ibu. Bagaimana? Kau puas melihatnya Kim Jongin-ssi."
Jongin menggeleng, "Tidak soo.. sungguh aku tidak bermaksud sep_"
"Berhenti bicara dan cepat keluar dari sini sebelum aku benar-benar membunuhmu!" teriak Kyungsoo geram.
Jongin sebenarnya hendak mencoba merayu Kyungsoo lagi. namun saat melihat seberapa merahnya wajah Kyungsoo yang menahan emosi, akhirnya lelaki itu menyerah dengan berat hati pergi meninggalkan flat sewaan Kyungsoo dengan Kyungsoo yang masih menangis dilantai ruang depan juga Taerin yang sedang menangis dibawah selimut didalam kamarnya.
Jongin sudah berdiri diluar. Dia menatap lama kearah pintu depan flat Kyungsoo. Tak terasa, air matanya jatuh begitu saja saat mengingat bagaimana kacaunya Taerin dan Kyungsoo.
"Maafkan aku Soo... juga, maafkan ayah Taerin-ah..." gumam Jongin berlalu meninggalkan flat itu menuju keapartemen mewahnya yang terasa kosong.
.
.
.
.
.
TeBeCe
.
.
.
.
.
Gak taulah ini ngenak gak feelnya ke kalian. Cuman baby vee sedikit nyesek ini nulisnya. Serius, baby vee ngelap ingus lhoo hiks T.T / oke ini lebay-,-/
Udah ahhh sedih-sedihnya. Sekarang happy-happy lagi. Yeyyy...
Sebelumnya baby vee mau ngucapin makasih buat semua yang udah baca, review, bahkan sampek follow and favorite'in ff ini. padahal kemarin masih chapter awal, tapi seneng gitu baca respon kalian yang wellcome banget sama ff ini, baby vee jadi terhura huaaaa \(ToT)/
Oke, kayaknya udah kali yaaa baby vee ngebacotnya. Kalo gitu, have nice a day. See you next chap and love you :*
.
Thank's to :
Dinadokyungsoo1 : gak kok beb, gak hurt-hurt banget tenang ajah :D || ryaauliao : udah dinext ini yah beb :* || kaisoomin : dah beb dilanjut nihh :* || kim cry soo : udah dinext beb || 21hana : haha thanks beb :* oke dah dilanjutin ya ;) || Rizkunovitasarii : he'eh emang jahat noh si jongong, dah dilanjut ini beb :* || yixingcom : baby vee Cuma pingin biar feel ngelawannya dapet kalo dia udah gede, kalo masih kecil kan belom terlalu greget beb :/ || MbemXiumin : dah dilanjut ya beb ;) || Loyh : haha sorry, biar greget harus ditbc in beb :D || Uee750 : baby vee selalu suka happy ending, jadi yes pasti happy ending ||ssuhoshnet : thanks baby ;) || Mbul : udah dipanjangin dan yaaa ini baby vee fast up || Lovesoo : haha sabar beb, ffn mah gitu. Kemarin babyvee juga gitu mau up pagi ehh ternyata baru bisa masuk malem hmmm :/ udah dilanjut yee :D || kimkaaaaai : udah fast up ini beb || channiemolly : udah dinext beb, kagak ada kata terlambat buat berubah beb :D ||erikaalni : udah dilanjut ya baby :* || BubbleXia : eww, baby vee dipaksa XD oke oke ini dah dilanjut and thanks to pujiannya || anggita : thanks baby, dah dilanjut yaa :D || dhyamanta1214 : udah dinext ini baby, happy reading :* || Kyungsuu : udah dinext beb ;) || Siti Aisyah648 : ini dah dinext so gak usah penasaran lama-lama :D || Guest : pasti! Keenakan Jongong kalo cepet dimaapin sama si soo dan yahhh baby vee fast up :D || kim gongju : maklum beb, like father like daughter. Karakter taerin disini copy birunya jongong masa muda, jadi jangan kaget sama tingkahnya tu anak || ChocoSoo : yups! Bener ini yang baby vee omongin di ff yang kemarin :D
