Taerin pulang dengan wajah gembira. Gadis cantik itu merasa ini hari yang sangat baik karena tadi saat hasil ulangan harian dibagikan, dia mendapat nilai sempurna untuk dua mata pelajarannya sedang satunya masih nyaris sempurna hanya kurang dua angka saja. Tapi tidak apa-apa setidaknya dia bisa membanggakannya didepan ibunya nanti.

Jika dia memperlihatkan hasil nilainya ini kepada ibunya, pasti nanti ibunya akan memberikan hadiah seperti biasanya. Dan dia sedang ingin sepatu baru jadi dia akan meminta untuk agar ibunya membelikannya sepasang sepatu baru.

Jadi dengan niat tersebut, Taerin turun dari bus dengan semangat. Jarak antara halte dan rumahnya tidak telalu jauh mungkin hanya sekitar 200 meter.

Saat akan masuk kedalam gang. Taerin melihat mobil yang sangat ia kenali. Itu mobil paman Jongin –batin gadis itu. Taerin semakin bersemangat pulang apalagi saat membuka pintu dia menemukan sepasang sepatu laki-laki yang bisa dia pastikan itu miliki paman Jonginnya.

Saat hendak mengucapkan salam, Taerin terdiam. Dia mendengar ibunya menyebut kata 'Ayah'. Hal itu membuatnya penasaran dan tidak jadi memberi salam malah mengintip dibalik tembok.

Gadis itu mendengar mulai dari awal. Bagaimana ibunya yang mengakui bahwa paman Jongin itu ternyata ayahnya. Ayah yang selama ini Taerin pertanyakan keberadaannya. Tanpa terasa air matanya ikut turun saat melihat kedua orang dewasa diruang tamu menangis.

Dadanya terasa sesak. Otaknya berfikir mengapa ibunya harus menyembunyikan fakta tentang ayahnya jika ayahnya sudah berada didepan mata. Dan emosinya semakin meluap saat mendengar ibunya yang masih terus berusaha menolak ayahnya dan menyuruh ayahnya pergi.

Karena sudah tidak kuat menahan sakitnya, akhirnya Taerin keluar. Dia bisa melihat bagaimana terkejutnya dua orang dewasa didepannya. Apalagi ibunya. Ibu? Masihkah pantas orang itu dipanggil ibu setelah memisahkannya dari ayahnya?

Jadi setelah meluapkan segala emosinya. Taerin memilih pergi untuk mengurung diri dikamar dan menangis meraung-raung setelah membanting pintu dengan keras. Bahkan gadis itu tidak menghiraukan tangisan ibunya yang berada didepan pintu kamarnya.

Tidak.. taerin tidak siap berbicara dengan orang yang sudah memisahkannya dari ayahnya. Meskipun orang itu ibunya sendiri.

.

.

.

.

.

REPEATING [SHORTFIC]

...Baby_Vee...

KAISOO – GS

.

.

.

.

.

Jongin menghela nafas mendengar ucapan wanita disebrang.

"Eomma, tidak semudah itu membawanya kesana." Ucap Jongin frustasi.

Namun wanita yang tidak lain ibu Jongin itu malah mendebat. "Apa susahnya? Dia juga anakmu, kau memiliki hak untuk membawanya dan memberikannya hidup lebih layak disini."

"Ya aku memang ayahnya, tapi setelah 15 tahun aku tidak pernah menafkahinya masihkah aku pantas dipanggil ayah? Eomma tahu sendiri Kyungsoo pasti sulit memberikan hak asuh Taerin kepadaku."

"Lalu, kenapa kau tidak bawa Kyungsoo sekalian saja kesini bersama cucuku."

"Eomma... tidak semudah itu untuk membawa Kyungsoo dan Taerin kesana. Mungkin jika memang semudah itu Kyungsoo memaafkanku sudah kubawa dari kemarin-kemarin mereka."

"Terserah apa katamu, Eomma tidak mau tau kau harus bawa Taerin kemari segera."

Dan setelah mengucapkan itu, ibu Jongin langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja.

Jongin langsung melempar ponselnya saat mendapati telfonnya dimatikan secara sepihak oleh ibunya. Lelaki itu langsung mengacak rambutnya frustasi. Kenapa ibunya begitu mudahnya mengatakan untuk membawa Taerin sementara tidak tau seberapa sulitnya keadaan disini.

Jongin memang sudah memberitahukan tentang fakta dia yang sudah memiliki anak kepada orang tuanya seminggu yang lalu ketika dia pulang ke Seoul.

Tentu kedua orangtuanya terkejut apalagi saat tau berapa umur anak itu. 14 tahun. Yang berarti 15 tahun lalu Jongin berbuat keselahan dan tidak mau mempertanggung jawabkannya.

Ayah Jongin langsung murka dan memberikan beberapa pukulan kepada anaknya tersebut. Dia merasa malu memiliki anak semacam Jongin. padahal dia tidak pernah mengajarkan anaknya untuk lari dari tanggung jawab. Jadi setelah memberikan ceramah yang panjang, akhirnya ayah Jongin untuk segera menyelesaikan masalah yang sudah dia buat.

Berbeda dengan ibu Jongin yang langsung heboh dengan sendirinya ketika mengetahui fakta dia memiliki cucu. Jadi dengan semangatnya dia menyuruh Jongin untuk kembali ke Busan dan membawa Taerin bersama bila perlu bersama Kyungsoo sekalian. Nyonya Kim tidak keberatan sama sekali.

Dan hal itulah yang membuat Jongin semakin pusing. Satu sisi dia bingung bagaimana cara meminta maaf ke Kyungsoo dan diperbolehkan membawa Taerin bersamanya dan disisi lainnya ibunya yang terus menerus menerornya.

Jadi dengan segala beban pikiran yang ditanggung dikepalanya tersebut. Jongin menghempaskan tubuhnya dikasur kamar apartemennya. Dibawanya lengannya untuk menutupi matanya.

"Soo-ya... aku harus bagaimana agar kau bisa memaafkanku?"

.

.

.

.

.

Hari pertama,

"Taerin-ah... kau tidak makan? Ibu membuatkan makanan kesukaanmu." Ucap Kyungsoo melihat anaknya keluar dari kamarnya. Wanita itu bermaksud meminta maaf atas kejadia kemarin jadi dia membuatkan makanan kesukaan Taerin untuk sarapan pagi ini yaitu ayam pedas.

Tapi yang didapat hanya keheningan selama beberapa menit. Bahkan Taerin langsung kedepan membuat Kyungsoo mengejarnya.

"Taerin kau be_"

Ucapan Kyungsoo terhenti ketika merasakan tangannya dihempaskan oleh Taerin. Bahkan setelah melakukan hal itu kepada kyungsoo, Taerin hanya memandang datar kearah ibunya. Tidak mengucapkan kata apapun dan langsung pergi begitu saja.

Kyungsoo hanya bisa menghela nafas dan tersenyum. Wanita itu fikir mungkin Taerin memang masih butuh sendiri.

.

Kyungsoo pulang sedikit malam hari ini karena restoran tempatnya sedang sibuk karena hari ini disewa untuk sebuah pesta.

Dia membuka pintu dan tersenyum melihat sepatu Taerin sudah berada ditempatnya yang berarti anaknya sudah pulang.

Dibawalah kakinya menuju dapur. Saat melihat didapur, senyum diwajah Kyungsoo menghilang seketika saat melihat bahwa masakannya masih utuh tak tersentuh sama sekali.

Wanita itu memandang pintu kamar putrinya dengan sendu. Setelah beberapa saat, dia duduk dan mulai memakan masakannya. Dia mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk membeli ayam dan tidak mungkin akan dia buang begitu saja.

Jadi, Kyungsoo memakan masakannya itu hingga habis meski dengan lelehan air mata dikedua pipinya.

.

.

Terhitung 5 hari sudah Taerin mendiami Kyungsoo. Sungguh Kyungsoo tidak apa-apa jika Taerin hanya mendiaminya, menatap datar kearahnya ataupun tidak menerima pemberiannya. Namun, tidak dengan membentak ataupun berkata-kata kasar kepadanya. Kyungsoo tidak akan kuat jika anaknya berkata seperti itu kepadanya.

Namun sepertinya tuhan memang tidak memihak kepadanya dan membuat Taerin mengucapkan kata-kata yang membuat Kyungsoo hancur. Kyungsoo menyerah, cukup sampai disini dia merasa lebih menderita atau dia akan benar-benar mati setelah ini.

Dihari pertama dan kedua, Taerin hanya diam dan tidak mau makan makanan yang dibuat Kyungsoo dan Kyungsoo hanya mampu diam dan tersenyum lemah mendapat perlakuan seperti itu dari anaknya. Tidak masalah, dia masih bisa menahannya. Dia juga masih bisa makan masakannya sendiri jika Taerin tidak mau. Mungkin Taerin hanya sudah kenyang. Begitulah kiranya yang dipikirkan Kyungsoo selama dua hari itu. Dia hanya mencoba berfikir positif tentang anaknya.

Dihari ketiga, Taerin tidak mau menerima uang saku mingguan dari Kyungsoo. Anak itu menolaknya mentah-mentah dan melempar kemuka Kyungsoo. Kyungsoo masih diam. Dia juga diam saat Taerin bilang bahwa dia sudah mendapatkan uang saku yang lebih banyak dari Ayahnya. Ahh ya, Kyungsoo lupa jika Ayah Taerin memiliki uang yang sangat banyak, berbeda dengannya yang hanya seorang tukang masak. Dan sekali lagi Kyungsoo hanya bisa mengelus dada dan tersenyum miris melihat tingkah Taerin.

Dihari ke-empat. Sepulang Kyungsoo kerja, dia mendapati ponsel yang dibelikan olehnya untuk Taerin tergeletak dikamarnya. Kyungsoo yang bingung langsung berlari kekamar Taerin dan bertanya mengapa ponsel Taerin berada dikamarnya. Dan yang Kyungsoo dapat malah,

"Ayah membelikanku ponsel keluaran terbaru dan aku tidak butuh ponsel lama itu."

Kyungsoo hanya bisa menjawab, "Baiklah," dan sekali lagi mencoba tersenyum meski terlihat begitu menyedihkan. Lalu wanita itu keluar dari kamar anaknya. Mencoba mengendalikan emosinya agar tidak tumpah. Tidak apa, Kyungsoo masih kuat dan bisa bertahan.

Dan dihari ke-lima. Tepat saat sore setelah Taerin pulang. Kyungsoo mencoba untuk berbicara lagi kepada anaknya. Sekali lagi dia mencoba menyuruh Taerin makan meski dengan sedikit paksaan. Tapi yang dia dapat malah piring yang penuh makanan itu dilempar oleh Taerin. Kyungsoo tentu marah, dia sungguh lelah dengan segala tingkah kekanakan Taerin selama 5 hari ini.

"Sebenarnya apa maumu Taerin?! Katakan! Sungguh, ibu benar-benar lelah menghadapimu beberapa hari kebelakangan ini." kyungsoo mengucapkannya dengan bentakan yang tidak bisa dibilang pelan. dia hanya emosi karena segala jerih payahnya harus dibuang begitu saja.

Sungguh hati ibu mana yang tidak sakit jika diperlakukan seperti itu.

Tapi sepertinya Taerin memang berniat memperburuk keadaan. Lihat saja bagaimana anak itu malah menyeriangai kearah Kyungsoo.

"Lelah? Ibu bilang lelah?" jawabnya.

"Jika memang ibu lelah, berikan saja aku kepada Ayah. Yang ku mau hanya ayah. Jadi biarkan aku hidup bahagia dengan ayah." Teriaknya.

Kyungsoo tersenyum miris mendengar itu. Dia sudah menduga jika anaknya akan meminta itu. Dia sudah menyerah mempertahankan Taerin yang tidak mau dipertahankan.

Jadi saat Taerin sudah berlalu pergi, Kyungsoo menggumam pelan.

"Baiklah, kau akan mendapat apa yang kau mau Taerin-ah."

.

Berbekal sebuah kartu nama yang ditinggalkan oleh Jongin secara sengaja. Kyungsoo menghubungi Jongin mengajak lelaki itu untuk bertemu disebuah kedai jajan didepan gang Kyungsoo malam itu juga.

Jongin tentu menyambut itu dengan baik. Terlihat dari bagimana lelaki itu menjawab dengan semangat ajakan Kyungsoo. Bahkan Kyungsoo bisa melihat Jongin yang sudah duduk didalam kedai itu padahal ini belum masuk jam janjian mereka. Karena memang Kyungsoo sengaja datang lebih awal.

Dan disinilah mereka berdua sekarang. Duduk saling berhadapan dengan secangkir kopi ditangan masing-masing. Kyungsoo masih diam tidak mengatakan apapun. Dia masih sibuk memandangi kopi ditangannya. Sementara Jongin sendiri juga diam karena sibuk memandangi Kyungsoo dengan senyum yang mengembang dibibirnya.

Dia hanya merasa akan ada berita bahagia setelah ini. karena hal langka jika Kyungsoo menelfonnya. Atau memang ini kali pertamanya. Entahlah Jongin tidak perduli, yang terpenting Kyungsoo sekarang berada dihadapannya dan berniat bicara dengannya. Semoga itu hal baik.

"Sebenarnya kau ingin berbicara apa Soo-ya?" Jongin rasa, sudah cukup mereka berdiam diri. Dia merasa kurang enak hanya duduk diam seperti ini.

Kyungsoo mendongak, mengerjabkan sebenar matanya. Sebelum berkata,

"Bawalah Taerin bersamamu."

Jongin sedikit kaget, dia merasa sepertinya salah dengar. Jadi dia bertanya sekali lagi untuk memastikan.

"K-kau bicara apa barusan?"

Kyungsoo menghela nafas. "Bawalah Taerin bersamamu ke Seoul. Dia berhak mendapat kehidupan yang lebih layak disana. Tidak disini yang sebra kekurangan."

"kau serius?" Kyungsoo mengangguk.

"Lalu bagaimana denganmu disini? Atau kau juga mau ikut denganku?"

"Tidak, aku tetap disini karena memang tempatku disini."

Jongin membenarkan duduknya lalu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Kyungsoo, namun Kyungsoo malah menarik tangannya.

"Soo-ya.. kau tau tempatmu bukan disini. Tempatmu juga disana karena keluargamu juga disana."

Kyungsoo menggeleng, "Tempatku disini dan bukan di Seoul ataupun yang lainnya."

"Kau serius?"

"Ya, tapi biarkan Taerin disini sampai akhir bulan nanti sampai ujian kenaikan kelasnya. Setelahnya kau bebas membawanya bersamamu."

Dan pembicaraan mereka berakhir sampai disana karena Kyungsoo langsung pergi dan tidak mau berdebat dengan Jongin masalah ini lebih lanjut.

.

.

Malam berganti pagi. Kyungsoo bangun dan langsung membersihkan diri sebelum membuat sarapan. Meski Taerin tidak mau makan masakannya, Kyungsoo tetap menyiapkannya berjaga-jaga jika Taerin berubah pikiran. Dan entah kenapa, pagi ini tingkah Taerin berubah kepadanya.

"Pagi ibu." Ucap anak itu dengan ceria. Kyungsoo tersenyum melihat Taerin yang sudah siap dengan seragamnya dan setelah 5 hari akhirnya dia duduk menanti dimeja makan.

"Ibu masak apa pagi ini? ibu tau aku lapar, jadi bisakah ibu sedikit lebih cepat."

Anak itu mulai protes seperti sebelumnya. Kyungsoo merasa sedikit aneh dengan tingkah Taerin yang tiba-tiba berubah kepadanya. Namun Kyungsoo mencoba acuh dan segera menyelesaikan masakannya dan menyiapkannya untuk Taerin.

Taerin menyambut makanan itu dengan gembira. Dia bahkan langsung memakannya lahap membuat Kyungsoo tersenyum dan ikut makan.

Namun, gerakan menyendoknya berhenti ketiga Taerin mulai berbicara kembali.

"Aku sudah mendengar dari ayah jika ibu mengijinkanku untuk ikut bersama ayah. Terimakasih untuk itu bu. Ibu yang terbaik." Ucapnya diakhiri dengan senyum yang begitu cantik.

Dan hal itu mau tidak mau membuat Kyungsoo tersenyum meski hatinya terasa sakit. Dan Kyungsoo menyadari bahwa kebahagian Taerin bukan terletak didirinya melainkan di Jongin yang bisa memberikan segelanya untuk Taerin.

Ya setidaknya jika Taerin bahagia, Kyungsoo juga ikut bahagia.

.

Hari berlalu dengan cepat. Hari dimana Taerin berangkat akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali Jongin sudah datang ke flat Kyungsoo untuk membereskan barang-barang yang akan dibawa ke Seoul.

"Sudah siap?" tanya jongin setelah menaruh koper Taerin didalam mobilnya yang diparkir didepan gang.

Taerin mengangguk dengan semangat sebelum berbalik kearah Kyungsoo. Gadis itu memeluk Kyungsoo erat dan dibalas tak kalah erat oleh Kyungsoo.

"Ibu benar-benar tidak ingin ikut pergi denganku dan ayah?" tanyanya seteleh melepas pelukannya dengan Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng kemudian tersenyum lemah, "Tidak, tempat ibu disini."

Taerin sedikit cemberut mendengar balasan Kyungsoo.

"Araseo, jaga diri ibu baik-baik jangan lupa makan."

Kyungsoo mengangguk, "Kau juga jaga diri baik-baik disana jangan merepotkan Ayahmu."

Mendengar itu Taerin mengangguk dan kembali memeluk Kyungsoo. Kyungsoo beralih menatap Jongin yang melihatnya berpelukan dengan Taerin.

"Jaga Taerin baik-baik." Jongin mengangguk, "Tentu."

Setelahnya Taerin pergi dengan Jongin berada disampingnya. Gadis itu sesekali melihat kebelakang dan masih menemukan keberadaan Kyungsoo yang masih tersenyum kearahnya.

Sedikit kecewa karena ibunya tidak mau mengantarnya sampai didepan mobil. Taerin akhirnya masuk kedalam mobil dan pergi menuju Seoul.

Yang tidak Taerin tau adalah, bagaimana Kyungsoo yang menitikan air matanya saat mobil Jongin mulai berjalan menjauh.

.

.

Kyungsoo masuk kedalam flatnya. Memberesi seluruh baju-bajunya serta barang-barang berharga lainnya. Taerin sudah pergi dan tidak ada alasan lagi untuk Kyungsoo tetap bertahan disini.

Jadi wanita itu memutuskan untuk pergi. Mencoba mengilang sesuai harapan Taerin yang pergi meninggalkannya. Kyungsoo sudah membulatkan tekatnya kali ini. dia akan melupakan segalanya dan memulai hidup baru tanpa ada Taerin dan Jongin...

.

.

.

.

.

Te Be Ce

.

.

.

.

.

Tulis hapus – tulis hapus – tulis hapus – tulis hapus – tulis hapus – tulis hapus...

Gitu aja terus dari tadi sampe gak selesai-selesai. Serius, sebenernya baby vee udah ada gambaran kayak gimana chapter ini. tapi gitu, sekali lagi kadang reality itu gak sesuai ekspekstasi...

Jadi sorry kalo feelnya chapter ini gak dapet. Kalo masalah pendek, baby vee udah buntu dah bingung mau dipanjangin kayak apa lagi.

Ohhh ya, buat yang review makasih serius baby vee gak nyangka kalian bakalan kebawa feelnya chap kemarin. Sekali lagi makasihhhhhh sebanyak-banyaknya yang udah sempet review,

Udah ya baby vee ngocehnya. See you next chap... bye-bye :* :* :*

.

Thank's to :

Rizkinovitasarii ... kim gongju ... Mbul ... MbemXiumin ... Uee750 ... ChocoSoo ... 21hana ... Siti Aisyah648 ... katarinamozelle ... wulankai500 ... kimkaaaaai ... BubbleXia ... ssuhoshnet ... dinadokyungsoo1 ... kimisoo ... Priscillamh ... Lovesoo ... erikaalni ... channiemolly ... ryaauliao ... cici fu ... dhyamanta1214 ... zoldyk ... kyungkyung ... Insoo1288