"Auntie... ini siapa?"

Kyungsoo mendongak dan menemukan seorang gadis tengah memegang sebuah album photo yang sepertinya gadis itu temukan dirak sebelah tempat tidur Kyungsoo.

Kyungsoo berjalan mendekat dan duduk disebelah gadis itu. Tersenyum sebentar sebelum mengambil alih album photo itu dari tangan gadis yang seumuran anaknya.

"Yang ini?" anak itu mengangguk.

"Ini namanya Taerin. Do Taerin –ahh mungkin sekarang namanya Kim Taerin."

Gadis muda didepan Kyungsoo itu mengernyit tidak paham dengan maksud ucapan Kyungsoo. Kyungsoo yang melihatnya terkekeh kecil sebelum mencubit kecil hidung gadis itu membuat gadis itu tertawa kecil.

"Dia anak auntie. Sekarang dia tinggal dengan ayahnya jadi pasti marganya berubah menjadi marga ayahnya. Kau paham maksud auntie?" gadis itu mengangguk lagi membuat Kyungsoo mengusak kepalanya sayang.

"Jadi dia bisa dibilang saudara sepupuku?" kyungsoo mengangguk dan mendapati si gadis muda langsung tersenyum cerah.

"Wahhh... jadi aku memiliki saudara? Wow, ini pasti menyenangkan jika aku bisa bermain dengannya." Ucap gadis itu bersemangat. Kyungsoo yang melihatnya juga ikut tersenyum.

"Tapi Jassy_" gadis mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah Kyungsoo. "Mungkin kau tidak bisa seperti itu dengannya."

Raut wajah berbinar Jassy seketika berubah meredup. "Kenapa tidak bisa auntie?"

Kyungsoo menggeleng, "Hanya tidak bisa. Situasi dan keadaannya yang tidak memperbolehkan untuk seperti itu. Auntie tau kau gadis yang pintar Jassy-ya.. jadi meski auntie tidak menjelaskannya secara detail kau mengerti maksud dari auntie."

Gadis itu mengangguk, "Yes aunt, I understad."

Kyungsoo menepuk punggungnya dua kali. Dia masih bisa melihat bagaimana raut kecewa yang tergambar jelas diwajah Jassy keponakannya, anak dari kakak lelakinya –Seungsoo. Jadi Kyungsoo sedikit memutar otaknya hingga mendapat sebuah ide yang sepertinya tetap membuat Jassy senang.

"Hei, mungkin kau masih bisa menjadi temannya."

Mendengar itu Jassy kembali mendongak dan menatap penuh pengharapan kearah Kyungsoo. Dan Kyungsoo mengangguk membuat gadis itu semakin melebarkan senyumnya.

"Ya, auntie dengar kau belum menentukan ingin sekolah dimanakan?" gadis itu mengangguk.

"Auntie memiliki usul bagaimana jika kau masuk kesekolah yang sama dengan Taerin? Kebetulan kalian berada ditingkat yang sama, jadi auntie rasa itu bukan hal yang mustahil untuk kalian bisa dekat. Nantie auntie juga akan urus agar kau bisa sekelas dengannya dan menjadi temannya. Apa kau mau?"

Tanpa perlu berpikir lama Jassy segera mengangguk semangat kearah Kyungsoo.

"Tapi kau harus janji satu hal kepada auntie."

Anak itu terlihat tidak mengerti namun tetap menjawab, "What is that?"

"Jangan pernah beritahu bahwa kau adalah saudaranya ataupun membahas aunti jika ibunya. Can you promise that?"

"Yes, I'm promise."

Dan setelah janji kecil itu dibuat, maka dimulailah semua sandiwara yang akan Kyungsoo lakukan. Sandiwara yang akan menyakiti hati malaikat kecilnya dan juga hatinya sendiri. Tapi Kyungsoo bersyukur karena ini dia tetap bisa mengawasi dan melihat anaknya dari dekat. Mau bagaimanapun Kyungsoo tetap seorang ibu yang akan menyayangi anaknya sampai kapanpun. Bukankah kasih sayang ibu itu sepanjang masa?

.

.

.

.

.

REPEATING

...Baby_Vee...

KAISOO – GS

.

.

.

.

.

"Aunt, are you okey?"

Kyungsoo mengangguk melihat Jassy yang terlihat mengkhawatirkannya.

"Yes, I'm okey. Don't worry honey."

Setelah mendapat jawabany yang meyakinkan dari Kyungsoo. Jassy kembali lagi kepada gadget ditangannya.

Kyungsoo yang melihat Jassy sudah sibuk sendiri kembali menampilkan raut wajah sedihnya. Sungguh dia tidak tega melihat Taerin seperti tadi.

Dia tau Taerin tadi melihat interaksinya dengan Jassy. Bahkan gadis itu sudah melangkah hendak menghampiri kearahnya dan karena itu pula dia segera masuk kedalam mobilnya. Dia juga melihat tadi Taerin hendak mengejar mobilnya sebelum mobil Jongin datang untuk menjemputnya. Kyungsoo tau jika Taerin merindukannya. Mau bagaimanapun dia ibunya. 9 bulan 10 hari Taerin menyatu dengan dirinya jadi pasti dia meliliki ikatan kuat dengan gadis itu.

Sebenarnya Kyungsoo juga merindukan Taerin. Ini sudah 3 bulan dari terakhir pertemuan mereka yang sebenarnya. Seminggu lalu ketika tidak sengaja bertemu direstoran itu tidak dihitung karena itu adalah pertemuan tak perduga dan tidak disengaja. Benar-benar tidak disengaja.

Mungkin malam itu kyungsoo hampir kelepasan untuk membalas pelukan Taerin jika tidak melihat kakaknya keluar dari dalam restoran menghampirinya. Dia bahkan hampir menumpahkan air matanya ketika berbalik meninggalkan Taerin dan mendengar suara jeritan Taerin yang memanggilnya. Sungguh semua itu benar-benar berat untuk Kyungsoo.

Tapi Kyungsoo setidaknya harus melakukan ini. setidaknya dia ingin membuat ibunya puas dan berharap ibunya akan memaafkan Taerin maupun Jongin. karena sebenarnya Kyungsoo sudah memaafkan keduanya dari 2 bulan lalu. Dia sudah ikhlas dan menerima semuanya dengan lapang dada.

.

.

.

Jongin menatap lelaki yang baru duduk didepannya. Dia ingat lelaki didepannya ini adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang ditemuinya seminggu yang lalu diluar restoran saat dia berjumpa dengan wanita yang mirip dengan Kyungsoo.

Dia sudah mencari tahu dan hasilnya nihil karena seolah-olah identitas Kyungsoo ditutup-tutupi oleh keluarganya.

"Jadi... apa yang ingin anda bicarakan dengan ku Jongin-sii?" tembak lelaki itu. Jongin tau bahwa lelaki didepannya ini bukan lelaki yang suka dengan basa-basi.

"Aku hanya ingin menanyakn tentang Kyungsoo." Jawab Jongin mantap. Dia sudah berfikir ratusan kali tentang pertemuan ini dan beruntung lelaki didepannya ini menyetujui tentang pertemuan pribadi diantara keduanya. Jadi saat ada kesempatan, Jongin benar-benar harus memanfaatkannya sebaik-baiknya.

"Kyungsoo? Maksudmu Kyungsoo adikku?" Jongin mengangguk. Dia dapat melihat lelaki didepannya itu memandang remeh kearahnya.

"Memang ada apa dengan Kyungsoo adikku?"

"Aku ingin membawanya kembali bersamaku dan Taerin." Ucap Jongin percaya diri. Sedangkan lelaki didepannya mengepalkan tangannya mendengar perkataan dari Jongin.

"Untuk apa?"

"Taerin membutuhkannya –ah tidak, kami membutuhkannya. Aku dan Taerin sama-sama membutuhkan Kyungsoo."

Seungsoo mendengus, dia tidak menyangka lelaki yang lebih muda 7 tahun darinya itu begitu berani mengucapkan hal semacam itu. Hell, dia mengucapkannya dengan penuh percaya diri seakan dia tidak memiliki dosa apapun dimasa lalu.

"Cih, setelah kau dan anakmu itu membuang adikku sekarang kau datang menemuiku dan memintanya kembali? Dan kau fikir aku akan memberikannya? Mimpi saja sana."

"Tapi kau dan keluargamu dulu juga membuang Kyungsoo. Lalu apa bedanya kita?" balas Jongin.

"Tentu berbeda karena aku datang kembali dan membawanya pulang bersamaku. Menempatkannya ditempat yang seharusnya. Bersama keluarganya."

"Aku juga demikian. Aku ingin menebus dosaku dan Taerin yang telah meninggalkan Kyungsoo. Aku pun akan menempatkan dia ditempat yang selayaknya. Tentunya menjadi Nyonya Kim bukan hanya putri bungsu dari keluarga Do."

Jongin menyeringai melihat Seungsoo mengeraskan rahangnya. Dia tau jika dia tidak sopan kepada... anggap saja calon kakak iparnya. Tapi mau bagaimana lagi, dia benar-benar harus membawa Kyungsoo kembali bagaimanapun caranya. Dia tidak boleh membiarkan Kyungsoo tetap berada dirumah keluarganya karena yang dia takutkan hanya satu. Kyungsoo yang nantinya akan dikenalkan dengan lelaki lain atau paling parah dipaksa untuk dinikahkan. Ohhh Jongin tidak menginginkan itu terjadi. Jadi sebagai tindakan antisipasi ya... setidaknya dia kali ini tidak apa-apalah membalas ucapan Seungsoo.

Seungsoo mengatur nafasnya secara perlahan. Dia sedikit terpancing dengan ucapan Jongin. dia hanya tidak habis pikir bagaimana lelaki didepannya ini mampu menjawab ucapannya, bukankah itu tidak sopan? Seharusnya jika Jongin benar-benar menginginkan Kyungsoo dia harusnya memintanya secara baik atau paling tidak menunjukkan perjuangannya. Tapi lihat apa yang dilakukan lelaki ini. cihhh dia sombong sekali.

Seungsoo memandang datar kearah Jongin. lelaki itu menaruh kedua tangannya keatas meja.

"Kau tau.." buka Seungsoo. "Aku bahkan mungkin masih berpikir berkali-kali lipat jika harus menyerahkan Kyungsoo kepadamu jika kau memintanya secara baik-baik. Tapi dengan caramu yang meminta seperti ini membuatku semakin tidak berniat menyerahkan adikku."

"Jadi... ucapakan salamku kepada anakmu. Katakan kepadanya bahwa pamannya tidak akan membiarkan ibunya kembali lagi kepadanya setelah dia memilih meninggalkan ibunya. Permisi."

Dan setelahnya Seungsoo benar-benar pergi meninggalkan Jongin yang menggeram kesal. Sungguh dia sebal sendiri dengan Seungsoo dan dirinya.

Sebal kepada Seungsoo yang begitu sulit dan sebal kepada dirinya yang begitu bodoh kenapa tidak memaksa Kyungsoo untuk ikut 3 bulan lalu meski wanita itu menolak. Mau bagaimanapun kan Kyungsoo yang sudah membesarkan Taerin dari kecil. Jadi jelas pasti Kyungsoo kecewa karena Taerin lebih milih Jongin yang notabennya adalah ayahnya yang baru datang.

.

.

.

Malam ini Taerin kembali mengetuk pintu kamar ayahnya. Setelah mendapati suara ayahnya yang menyuruhnya masuk, Taerin segera membuka pintu dan mendatangi ayahnya yang tengah menyender dikepala ranjang dengan buku ditangannya. Itu kebiasaan ayahnya sebelum tidur.

"Hei, ada apa lagi kali ini?" tanya Jongin ketika melihat raut wajah Taerin yang seperti hendak menangis. Tentu dia panik melihat anaknya seperti itu. Jadi dengan baik-baik laki-laki itu bertanya.

"Ayah aku bertemu ibu lagi tadi."

Deg~

Jantung Jongin serasa dipukul ketika mendengar nada kecewa yang terlontar dari belah bibir anaknya. Dia tahu pasti ada yang tidak beres lagi kali ini. jadi untuk itu Jongin tidak memilihnya untuk menjawab karena dia ingin mendengar penjelasan lengkapnya dari Taerin.

"Aku melihatnya menjemput teman baruku. Dia baru pindah hari ini disekolahan dan aku dan dia langsung akrab begitu saja karena kami satu bangku. Saat makan siang aku dia menceritakan banyak tentang sekolahnya dulu juga auntienya. Dan saat pulang aku melihat ibu turun dari mobil jumputan temanku itu. Aku melihat ibu memeluk serta menciumnya, seperti hal yang selalu ibu lakukan kepadaku jika menyambutku dirumah ataupun ketika aku akan pergi untuk tidur."

"Apa kau cemburu melihat itu."

Taerin menggeleng, "Mungkin sedikit." Namun ketika matanya melihat ekspresi ayahnya yang seakan berkata 'jujur saja tidak apa' Taerin akhirnya menghela nafas lalu mengangguk pasrah. Dia akan jujur sekarang kepada ayahnya tentang perasaannya ketika ibunya memberikan kasih sayangnya kepada orang lain.

"Ya aku memang cemburu. Mau bagaimanapun ibu selalu melimpahkan kasih sayangnya kepadaku. Bukannya aku tidak mau berbagi, hanya saja..." Taerin tidak meneruskannya, Jongin yang tau bahwa anaknya sedang menahan tangisnya agar tidak pecah. Lalu Jongin membawa Taerin kepelukannya sebelum mengecupi pucuk kepala darah dagingnya itu. Mencoba menenangkan Taerin. Karena bagaimana pun Taerin hanyalah remaja labil yang belum bisa mengambil keputasannya sendiri. Persis sepertinya yang dulu.

"Ibumu memang kembali kerumah orang tuanya. Rumah kakek dan nenekmu. Ayah bahkan tadi menemui pamanmu –kakak lelaki ibumu."

Taerin mendongak menatap berharap kearah Jongin. "Benarkah? Lalu bagaimana? Apa ayah sudah berbicara untuk membawa ibu kembali?" Jongin mengangguk. "Lalu kapan kita akan membawa ibu kembali? Aku tidak sabar untuk bersama ibu lagi yah."

Mendengar itu Jongin jadi tersenyum pedih. Dia merasa berdosa memisahkan Kyungsoo dan Taerin jika melihat seberapa besar anaknya itu merindukan ibunya.

"Maaf sayang, tapi sepertinya ayah harus berusaha lebih keras untuk meyakinkan keluarga ibumu karena bagaimanapun ayah memang bersalah dan harus membuktikan bahwa ayah bisa membuatmu dan ibumu bersama ayah."

Jongin bisa melihat bagaimana raut wajah berbinar Taerin langsung berubah sendu mendengar ucapannya. Dia tau bahwa anaknya tersakiti sekarang. Jadi saat Taerin semakin menenggelamkan kepalanya didekapannya Jongin hanya mengusap-usap kepala gadis itu.

"Ayah... aku merindukan ibu."

Hati Jongin mencelos mendengar suara bergetar dari Taerin. Jadi saat Taerin mulai menangis dipelukannya Jongin hanya bisa mengucapkan maaf dan maaf untuk yang kesekian kalinya.

'Maafkan ayah nak, ayah berjanji tidak akan membuatmu menangis dan membawa ibu kembali bersama kita. Ayah hanya tinggal berusaha lebih giat untuk mendapatkan ibumu. Untuk itu tunggulah sebentar.' –tekat Jongin dalam hati.

.

.

.

Seperti kemarin, keesokan harinya pun Taerin kembali makan siang bersama dengan Jassy. Entah kenapa sejak saling mengenal keduanya jadi tak pernah terpisahkan disaat keduanya berada disekolah.

Keduanya berjalan menuju kearah kantin, tapi bedanya Jassy membawa sebuah paper bag ditangannya. Tentu Taerin penasaran apa isi paper bag itu tapi gadis itu enggan menanyakan.

Keduanya duduk disebuah bangku didekat jendal. Kebetulan bangku itu kosong dan Taerin juga suka duduk disana.

"Kau tidak memesan makanan?" Jassy menggeleng jadi Taerin akhirnya pergi mengantri sendiri untuk membeli makanan.

Butuh waktu sekitar 10 menit Taerin mengantri dan mendapat makanan. Meski dia cucu pemilik yayasan namun semua staf disini selalu memperlakukannya seperti siswa lain tapi toh Taerin juga tidak keberatan karena baginya akan terlihat aneh jika dia mendapatkan sebuah perlakuan yang lebih istimewa dari siswa lain.

Taerin kembali kemeja dengan tangan kanan yang membawa nampan makanan sedang tangan kirinya membawa sebuah jus yang tadi juga dibelinya. Saat sampai dimeja, gadis itu disambut oleh senyuman manis dari Jassy yang didepannya sudah terdapat kotak bekal tingkat 2 dan sebotol penuh jus jeruk.

"Kau membawa bekal?"

Jassy mengangguk lagi, "Kau tau, dari dulu aku ingin membawa bekal kesekolah dan akhirnya sekarang tercapai juga."

"Memangnya kau tidak malu membawa bekal seperti ini?"

"Untuk apa malu? Apa karena terlihat seperti anak kecil? Oh ayolah, bahkan makanan dari rumah bisa dipastikan lebih sehat dari makanan kantin. Lagi pula bekal ini benar-benar special karena auntie ku sendiri yang membuatkannya khusus untukku." Jawab Jassy semangat.

"Auntie?"

"Hm, auntie. Adik dari ayahku. Ohhh lihat bukankah ini tampak begitu nikmat jika dimakan."

Jassy menunjukkan isi bekalnya kearah Taerin dengan mata berbinar, tanpa tau jika Taerin tengah dibuat teriris melihat isi kotak bekal milik Jassy.

...

Taerin bangun terlambat hari ini. gadis itu terus menggerutu karena ibunya yang telat membangunkannya padahal Kyungsoo sudah membangunkannya berkali-kali dan baru saat jam menunjukkan pukul setengah 7 kurang 10 menit Taerin bangun.

Padahal Taerin memiliki ujian hari ini dan akan dimulai saat pukul 7 lewat 30 menit. Tentu Taerin dibuat panik karena takut tertinggal Bus menuju sekolahnya. Jadi gadis itu langsung pergi mandi dan bersiap-siap dengan secepat kilat. Bahkan dia keluar dari kamarnya dengan terburu-buru dengan tas yang hanya disampirkan dipundak sebelah kiri sedang pundak kanannya terdapat dasi yang belum terpasang.

Gadis itu segera berlari menuju ruang depan untuk memasang sepatunya. Demi tuhan, bus menuju sekolahnya akan datang sekitar 10 menit dan butuh waktu 10 menit juga untuknya berjalan dari rumah menuju halte. Jadi dia melupakan makan paginya. Pikirnya dia bisa makan nanti saat siang.

Kyungsoo muncul dengan sebuah kotak bekal ditangannya. Wanita itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Taerin yang terlihat terburu-buru. Bahkan anaknya itu menghiraukan sarapannya. Jadi Kyungsoo berinisiatif untuk membuatkan anaknya itu bekal jadi nanti jika masih sempat Taerin bisa memakannya disekolah sebelum bell jam pertamanya berbunyi.

Saat Taerin sudah selesai dengan ikatan sepatunya, Kyungsoo mendekat dan menyodorkan kotak bekalnya. Dia bisa melihat Taerin yang mengernyit kearah kotak bekal yang dia sodorkan.

"Ambilah, ibu membuatkannya untukmu. Kau melewatkan makan pagimu jadi bawa ini kesekolahmu."

Kyungsoo memindahkan kotak bekal ditangannya ketangan Taerin. Wanita itu tersenyum melihat Taerin menerima kotak bekalnya, namun detik berikutnya senyumnya menghilang saat kotak bekal di tangan Taerin itu jatuh dan menumpahkan seluruh isi didalamnya.

"Ibu pikir aku anak kecil yang harus membawa bekal? Ibu lupa jika disekolahanku memiliki kantin dengan banyak makanan? Jadi sekali lagi jangan pernah membuatkanku seperti ini karena sampai kapan pun aku tidak akan sudi membawanya kesekolah. Aku tidak mau dianggap anak mamy yang membawa bekal kemana-mana. Sudah aku berangkat dulu karena aku sudah hampir terlambat."

Taerin langsung berbalik pergi menuju pintu dan menutupnya dengan kasar. Meninggalkan Kyungsoo yang hanya bisa menghela nafas lalu berjongkok membereskan isi bekal yang dibuang oleh Taerin.

Sungguh Kyungsoo tidak apa. Salahnya juga karena dia melupakan Taerin yang sangat membenci bekal karena pernah dikatai oleh temannya.

...

"Hey, Are you okey?" tanya Jassy yang melihat Taerin melamun didepannya dan tiba-tiba meneteskan air mata.

Taerin yang merasan tangan Jassy menggoyangkannya langsung tersadar dan menghapus kasar air matanya sebelum menggeleng kan kepalanya ketika melihat ekspresi khawatir dari Jassy.

"Sungguh?"

"Sungguh aku tidak apa-apa, jangan khawatir." Yakinnya namun sepertinya Jassy memang bukan tipikal orang yang mudah percaya terlihat dari bagaimana gadis itu terus memandang curiga kearahnya.

"Tapi kau menangis. Lihat bahkan matamu memerah."

"Oh mataku tadi hanya kemasukan debu dan jadi perih oleh sebab itu aku menangis."

Taerin bisa melihat Jassy yang seperti mengangkat bahunya, lalu gadis itu kembali berkutat dengan bekal makan siangnya dengan mata berbinar.

Taerin terus memperhatikan bagaimana Jassy memakan masakan itu. Itu ayam pedas. Makanan kesukaannya dan ibunya selalu membuatkannya masakan itu jika mendapat uang lebih dari bekerja. Apalagi dari segi bentuk dan aromanya, Taerin yakin sekali jika itu buatan ibunya. Karena hanya ibunya yang akan menambahkan tomat dimasakan ayam pedasnya.

Jassy tau jika Taerin tengah memperhatikannya sejak awal dia membuka kotak bekalnya. Bahkan dari sudut matanya dia bisa melihat bagaimana Taerin yang terlihat begitu merindukan masakan dikotak bekalnya. Dia tau tapi dia mencoba acuh. Ingat apa yang diucapkan auntienya kemarin.

Tapi kau tentu tau bagaimana rasanya jika makan dan terus diperhatikan. Tentu tidak nyaman bukan? Jadi Jassy dengan polosnya mencoba menawari bekalnya kepada Taerin meski tau temannya itu sudah memiliki makanan sendiri.

"Kau mau? Ambillah jika kau mau." Tawar Jassy dengan senyuman menyodorkan ayam pedasnya yang dibawakan oleh Kyungsoo sebagai bekal.

"Apa boleh?"

"Tentu. Auntie membuatkan banyak karena porsi makanku yang banyak, tapi jika kau mau kau bisa mengambil sebagian."

Namun bukannya menerimanya Taerin malah menggeleng menolak tawaran dari jassy dan menunjukkan nampan makanannya.

Jassy mendengus tak suka dengan penolakan dari Taerin jadi gadis itu berusaha lebih untuk membuat Taerin mau mencoba bekalnya.

"Ayolah, tinggal ambil apa susahnya. Lagi pula bekalku aku jamin lebih enak daripada masakan dari kantin sekolah kita. Kau tau, auntieku itu pandai sekali memasak jadi kau pasti akan suka nanti jika mencoba masakannya."

Karena melihat raut wajah memelas dari Jassy, akhirnya Taerin mulai menggerakkan sumpitnya kepada kotak bekal milik Jassy. Dia mengambil sepotong ayam lalu mulai membawanya kemulutnya. Dia bisa melihat bagaimana Jassy yang tersenyum senang ketika dia mulai memakan ayamnya. Lalu setelah memindahkan beberapa ayam dinampan milik Taerin, akhirnya Jassy kembali berkutat dengan dunia makanannya sendiri.

Dan yang tidak diketahui Jassy adalah bagaimana taerin yang mulai menjatuhkan air matanya sedikit demi sedikit ketika memasukkan setiap potongan ayamnya kedalam mulut. Rasanya lega bercampur sedih.

Dia lega karena bisa kembali memakan masakan ibunya dan sedih karena ibunya bukan membuatkannya untuknya. Tapi membuatkannya khusus untuk orang lain.

Dan seterusnya, taerin semakin lahap memakan ayam bekal milik Jassy. Entahlah, rasanya dia terus ingin memasukkan seluruh ayam itu kedalam mulutnya. Bahkan dia tidak memasukkan nasinya sedikitpun. Jadi makanan yang Taerin beli berakhir diabaikan oleh pemiliknya.

.

.

.

Bell pulang sekolah berbunyi lebih awal hari ini. biasanya mereka akan pulang tepat pukul 02.30 pm. Namun hari ini berbeda, ketika pukul 01.15 bell pulang sekolah sudah berbunyi dengan nyarinya. Menurut apa yang diucapkan gurunya tadi, guru akan mengadakan rapat dan menyarankan para siswanya untuk pulang lebih awal.

Tentu seluruh siswa senang, begitu juga dengan Taerin dan Jassy pun ikut senang karena pulang lebih awal. Jadi setelah keduanya mengirim pesan pada jemputan masing-masing, mereka langsung beranjak keluar dari kelas dan berjalan kedepan untuk menunggu jemputan diluar gerbang.

Jassy terlihat begitu antusias dengan pengumuman yang diberikan oleh ibu guru sebelum pengumuman pulang lebih awal.

"Hei, aku tidak sabar untuk pekan olah raga hari sabtu nanti. Bagaimana menurutmu? Kau akan datang dengan siapa?"

"Aku juga tidak sabar, tentu aku akan datang dengan ayahku. Kau sendiri akan datang bersama siapa sabtu nanti?"

Jassy tersenyum dengan cantiknya sebelum mengucapkannya dengan lantang.

"Dengan auntie tentunya. Aku akan membawa auntie nanti."

"Auntie? Kenapa tidak dengan orang tuamu? Kenapa harus auntiemu?" tanya taerin jelas dengan nada tidak suka.

Jassy melihat Taerin sekilas sebelum menjawab, "Kau tau, ayah dan ibuku itu sibuk. Jadi siapa lagi yang bisa ku ajak jika bukan auntie? Lagi pula auntie tidak akan keberatan karena auntie selalu mengiyakan permintaanku. Kau tau, auntie terlalu menyayangiku."

Taerin melengos enggan melihat Jassy yang nampak begitu bahagia ketika menyebut tentang auntienya yang menyayanginya.

Dia cemburu oke, mau bagaimanapun itu ibunya meski dia belum menanyakannya langsung dengan Jassy tapi dia yakin jika auntie jassy itu adalah ibunya.

"Aku kemarin melihatmu dijemput oleh seorang wanita, apa itu auntiemu?" Taerin bisa melihat bagaimana Jassy yang mengangguk.

"Hm. Itu auntie ku, kenapa?"

"Tidak hanya saja dia terlihat familiar olehku." Taerin bisa mendengar bagaimana Jassy yang hanya bergumam 'Ohhh...' sebagai jawabannya.

Terjadi keheningan diantaranya sebelum Taerin kembali bertanya.

"Hei apa boleh aku bertemu dengan auntie mu?" tanya Taerin, gadis itu bisa melihat bagaimana Jassy yang tiba-tiba diam sebelum detik berikutnya menampilkan raut penyesalan.

"Maaf, tapi auntie ku sedang ada urusan hari ini jadi dia tidak bisa menjemputku. Tapi mungkin kau bisa bertemu dan aku akan mengenlkanmu kepadanya saat pekan olahraga sabtu depan. Kujamin kau akan menyukainya."

Taerin hanya bisa tersenyum mendengar penolakan dari Jassy. Dia tau jika Jassy menghindar karena saat gadis itu melihat mobil jemputannya datang, dia langsung berlari kearah mobilnya dengan terburu-buru dan seperti tidak memberi waktu pada orang didalamnya untuk turun.

Padahal Taerin bisa melihat dengan jelas dikursi belakang ada sosok wanita yang sama seperti kemarin menjemput Jassy. Ibunya disana, tapi kenapa Jassy seolah-olah menyembunyikannya? Jadi sekali lagi Taerin hanya bisa diam sembari memainkan sepatunya menunggu ayahnya menjemput.

.

.

.

.

.

TeBeCe

.

.

.

.

.

Ahhhh up juga akhirnya u.u

No coment buat chap ini! Cuma mau bilang kalo hurt-hurt bakalan diilangin beberapa chap kedepan, soalnya entar bakalan ada waktunya buat hurt lagi waktu Kyungsoo bakalan balik kemereka. Satu lagi, jahat itu gak mesti jahat. Baby vee disini buat Kyungsoo jahat cuman jahat yang cantik ;)

Oke guys... thank's for review chap kemarin. Baby vee mau bobok lagi karena masih dalam efek obat pilek jadi baby vee kerjaannya ngantuk terus :v

See you next chap, Bye-byeee... love you :* :* :*

.

Thank's to :

Channiemolly ... 21hana ... sara jong ... dinadokyungsoo1 ... kim gongju ... kyunginsoo ... wulankai500 ... karifka1201 ... kimkaaaaai ... Hanimi ... Nara ... Menma ... Dea ... Rizkinovitasarii ... Ahan2021 ... fitrihdy ... Gita7702 ... Guest ... kyungkyung ... dohchoco ... XOXO178 ... ryaauliao ... ChocoSoo ... dhyamanta1214 ... TulangRusuknyaDyo ... Lovesoo ... anindyakp ... ayudesy1222 ... ssuhoshnet ... ucrittri ... BubbleXia ... Insoo1288 ... kyungieee ... nalakartika31 ... ripusi1288 ... itsrain222

.

p.s : ending TDPR besok ya, kalo gak besok lusa XD tinggal liat baby vee baikan kagak entar sama idung :v