Sial!

Kyungsoo merasa dirinya selayaknya gadis remaja yang akan bertemu pertama kali dengan kekasihnya. Padahal umurnya saja sudah mencapai kepala tiga dengan seorang anak gadis berumur 14 tahun.

Sungguh, malu rasanya Kyungsoo merasakan debaran didadanya ketika mendengar lelaki disebalah mengucapkan 'Aku bersedia' dengan lantang. Dan kini pria tua didepannya itu beralih kearahnya dan mengucapkan sebuah janji yang membuat Kyungsoo semakin gugup karena suasana yang juga sangat hening. Sampai pada ujung janji itu berakhir, sang pria tua didepannya bertanya tentang kesediannya.

Dengan sekali menelan ludah kasar, dengan gugup Kyungsoo menjawab...

"Y-ya.. Aku bersedia."

.

.

.

.

.

Title : REPEATING

By : Baby vee

Main cast : Do Kyungsoo x Kim Jongin x (Kim) Taerin

Rate : T

.

.

.

.

.

Kyungsoo berlari dari tangga dengan terburu-buru. Samar-samar wanita itu bisa mendengar bagaimana gelegar kakaknya yang tengah memaki seseorang dan Kyungsoo menjamin 100% yang dimaki oleh kakakknya adalah Jongin.

Dadanya berdegup kencang ketika suara-suara itu mulai jelas ditangkap oleh telinganya.

"Kubilang pergi brengsek! Apa tidak cukup luka diwajahmu itu dan kau menginginkan luka lain?" suara itu terdengar menggeram begitu marah. Dan Kyungsoo merasakan bulu romanya berdiri dengan sendirinya.

Namun ketika suara lainnya menyahuti hati Kyungsoo serasa diremas miris.

"Tidak! Paman kumohon jangan seperti ini kepada ayahku. Kami bermaksud baik ingin bertemu dengan ibu. Ibu~ keluarlah, aku dan ayah sudah datang."

Dengan memberanikan diri Kyungsoo mulai membuka pintu secara perlahan-lahan hingga pintu terbuka seluruhnya.

Hal yang paling membuat hati Kyungsoo teriris adalah bagaimana melihat anaknya tengah memapah ayahnya yang terlihat ringkih dengan luka dimana-mana dan tengah memegangi perutnya. Seketika Kyungsoo menutup mulutnya. Kakinya terasa lemas seperti jelly ketika menyadari sekali lagi Jongin mendapat pukulan dari kakaknya.

Sejahat-jahatnya Jongin dulu kepadanya, dia tetap tidak tega jika harus melihat Jongin diperlakukan seperti itu. Apalagi itu adalah orang terdekatnya, kakaknya. Dia benar-benar tidak sampai hati melihat anaknya dan ayah anaknya itu seolah mengemis kepada keluarganya. Tiba-tiba saja Kyungsoo merasa matanya basah dan butiran-butiran air itu jatuh begitu saja.

Semua orang yang berada diluar sana tidak ada yang menyadari akan kehadiran Kyungsoo. Seluruhnya masih terfokus melihat bagaimana drama antara Jongin dan Seungsoo. Bahkan ibu Kyungsoo mengangkat dagunya tinggi-tinggi seolah mencemooh raut menderita cucunya yang menang dengan miris.

Keadaan Kyungsoo yang berada dibalik keluarganya menguntungkannya untik tidak terlihat. Itu terasa betul karena Kyungsoo tidak mau ketahuan dan berakhir diseret kembali dan dikurung didalam kamarnya padahal Kyungsoo sudah dewasa bukan lagi gadis remaja yang nakal tidak mematuhi perintah orangtuanya sehingga patut untuk dikurung selama berhari-hari didalam kamar.

Dan drama itu terus berlanjut...

Seungsoo melangkah kembali mendekati Jongin yang berada dirangkulan anaknya. Ditariknya kerah lelaki itu mendekat sehingga melepaskan tautannya dengan Taerin dan membuat gadis itu memekik karena takut ayahnya dipukul kembali.

"Paman apa yang kau lakukan! Lepaskan ayahku!" ucap gadis itu sembari memukul-mukul tangan Seungsoo berharap lelaki itu mendengarkannya lalu melepaskan ayahnya.

Namun Seungsoo adalah jelmaan iblis yang tidak pernah pandang bulu berlaku kasar kepada siapa saja yang mengusiknya ketika emosi. Begitu pula kepada Taerin. Gadis itu berakhir dengan seretan dari penjaga untuk menjauhkannya dari jangkauannya.

"Kau lelaki bukan?" tanya Seungsoo kepada Jongin. "Oleh karena itu, ayo kita buktikan seberapa jantan dirimu." Tantang Seungsoo.

Namun bukannya menjawab tantangan yang dikibarkan kepadanya, Jongin malah mendecih kearah Seungsoo. Seungsoo menantangnya saat dia berada dalam keadaan yang sangat dirugikan. Badannya sudah terasa remuk karena mendapat pukulan dari sana-sini. Namun yang tidak orang lain tau adalah Jongin masih mampu menghajar Seungsoo hingga membuat lelaki itu terkapar ditanah dengan tidak sadarkan diri. Tapi Jongin membatasi dirinya untuk tidak menyentuh kakak Kyungsoo apapun yang terjadi.

"Aku tidak mungkin bertarung denganmu." Jawab Jongin. lalu setelahnya terdengar decihan tawa remeh yang menguar dari lawannya.

"Kenapa? Kau takut kalah dariku?"

Jongin menggeleng lemah membuat Seungsoo dan orang lainnya mengangkat sebelah alis kepadanya.

"Karena kau Seungsoo... kakak Kyungsoo, dan aku tidak mungkin menghajar kakak Kyungsoo. Calon kakak iparku."

Seungsoo menggeram marah mendengar ucapan terakhir Jongin. demi dewa dan segala isinya dia tidak sudi memiliki adik ipar seperti lelaki ditangannya ini.

"Dan teruslah bermimpi."

Setelah itu Seungsoo kembali mengangkat tangannya dan menghajar Jongin habis-habisan. Lelaki itu benar-benar seperti kerasukan setan. Bahkan dia masih tetap menghajar Jongin meski Jongin sudah dibuat tumbang dengan mata yang terbuka sayu.

Semua diam menikati pemandangan dimana Jongin dipukul habis-habisan serta suara rintihan kesakitan Jongin dan suara tangisan Taerin yang makin menjadi-jadi.

Hingga akhirnya, Seungsoo merundukkan badannya dan sedikit mengangkat kerah Jongin untuk membuat lelaki itu memandang kearahnya.

"Dan sampai jumpa dineraka." Seungsoo tersenyum kejam sebelum membuat ancang-ancang untuk memukul Jongin yang terakhir kalinya.

Tangan itu sudah melayang dan bergerak mendekat kearah wajah Jongin. sementara Jongin sudah pasrah sendiri sehingga memutuskan untuk menutup matanya. Dia tersenyum ketika bayangan Taerin dan Kyungsoo tersenyum tempo hari lalu muncul dalam ingatannya.

Namun sampai beberapa detik kemudian, Jongin tidak merasakan apa-apa. Dia hanya merasakan angin yang membelai pipinya serta deru nafas orang yang terengah-engah disebelahnya. Jongin mengernyit tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Jadi lelaki itu dengan hati-hati mulai membuka matanya perlahan-lahan, dan betapa terkejutnya dia mendapati siapa yang menahan tangan Seungsoo agar tidak memukulnya.

"Kyungsoo.." lirihnya yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.

.

"Hentikan oppa!" lantang Kyungsoo menarik kepalan kakaknya menjauh. Wanita itu memandang memelas kearah mata tajam kakaknya yang serupa serigala.

"Apa yang kau lakukan disini? Dan bagaimana kau bisa keluar dari kamarmu?" geram Seungsoo.

Jelas dia kesal mendapati adiknya tiba-tiba muncul dan mencegahnya membunuh si brengsek Kim ditangannya. Dia sudah susah-susah menyembunyikan adiknya dengan mengurungnya serta membawa beberapa pengawal untuk mengawasi adiknya agar tidak kabur.

Tapi bagaimana bisa adiknya tiba-tiba disini dan menjelma menjadi seperti sosok bidadari?

"Kemana para pengawal! Kenapa kalian membiarkan Kyungsoo keluar dari dalam rumah!" teriak Seungsoo membuat seluruh pengawal yang ada menelan kering ludahnya.

"Hentikan oppa!" sekali lagi, Kyungsoo memohon dengan amat sangat kepada kakaknya.

"Kembali kekamarmu Kyung,"

Kyungsoo menggeleng, "Tidak. Kita selesaikan masalahnya. Jangan seperti ini."

"Masalah apa? Masalah kita hanya si brengsek ini dan anak haram itu."

Kyungsoo membolakan matanya mendengar ucapan kasar yang dilemparkan kakaknya. "Oppa..."

"Apa? Berhenti memasang muka memelas seperti itu dan segera kembali kekamarmu sekarang, biar oppa yang selesaikan ini sendiri."

"TIDAK! BERHENTI EGOIS DAN MARI SELESAIKAN SECARA BAIK-BAIK!"

Seungsoo berdecih remeh ketika mendengar adik kesayangnya itu berani menaikkan nada bicaranya.

"Kau membentak oppamu hanya karena si bajingan ini? KAU MEMBENTAK OPPAMU HANYA KARENA SI BRENGSEK DAN ANAK HARAMNYA ITU HAH!"

"BERHENTI MENGATAKANNYA ANAK HARAM KARENA DIA JUGA ANAKKU!" nafas Kyungsoo naik turun setelah mengeluarkan sesak hatinya. Bagaimana pun kelakuan anaknya dulu tetap saja bagaimanapun Taerin itu anaknya. Jadi jika kakaknya terus mengatakan hal yang menyesakkan tentang anaknya, maka Kyungsoo juga bisa marah.

"Kau benar-benar..." Seungsoo tidak menyesaikan ucapan. Lelaki itu lebih memandang kecewa kepada adiknya.

"Baiklah... kita selesaikan saja dengan cepat. Sekarang kau tinggal pilih, mereka atau... keluarga kita."

Mata Kyungsoo yang tadinya seperti terbakar api kini mulai meredup padam dan kembali lagi dengan mata bulat memelasnya.

"Oppa.. jangan membuatku memilih diantara kalian karena aku tidak akan sanggup untuk memilih salah satunya. Kalian berharga dan memiliki tempat masing-masing dihatiku. Jadi kumohon oppa, jangan seperti ini."

"Mereka, atau.. keluarga kita."

"Oppa..."

"Baiklah, kau bisa pergi dengan mereka."

Kyungsoo membelelakkan matanya mendengar ucapan Seungsoo, wanita itu mencoba bangkit untuk menjelaskan namun tidak bisa karena Jongin berada dalam pangkuannya.

"Silahkan pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi. semua! Ayo masuk! Tinggalkan mereka." Dan setelah mengucapkan itu, Seungsoo berlal dengan membawa masuk ibunya yang terus melempar tatapan kecewa terhadap Kyungsoo.

Jangan fikir Kyungsoo tidak merasa sakit saat sekali lagi dia dibuang oleh keluarganya, terlebih itu adalah kakak kesayangannya. Jelas Kyungsoo yang merasa paling tersakiti disini bahkan air matanya sudah hendak jatuh sebelum Kyungsoo mendengar suara putri kecilnya.

"Ibu~"

Kyungsoo tersenyum cantik menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca karena kecewa. Dia tidak boleh menangis dihadapan putrinya. Sesakit apapun itu, Kyungsoo harus kuat dan tidak boleh menunjukkan kesedihannya didepan Taerin. Untuk itu Kyungsoo tersenyum dan membalas sapaan Taerin dengan rindu.

"Hei sayang," Kyungsoo membawa tangannya untuk mengusap pipi anaknya yang tidak ditemuinya selama beberapa hari belakang. Kyungsoo lega setidaknya Taerin tidak lebih kurus dari yang terakhir kali mereka bertemu.

Kyungsoo yang terlarut dalam rindunya dengan Taerin harus tersadar ketika mendengar suara batuk dari Jongin.

"Maafkan aku, uhuk!" ucapnya lemah.

Kyungsoo menggeleng, "Seharusnya aku yang meminta maaf atas tindakan dari kakakku. Maafkan kakakku Jongin-ah.." Jongin mengangguk dan mencoba tersenyum tipis kearah Kyungsoo.

.

.

Kejadian itu sudah berlalu selama 1 minggu lamanya, namun luka itu jelas masih terlihat dimasing-masing keluarga. Contohnya keluarga orangtua Kyungsoo.

Jessy jelas yang paling merasakan bagaimana atmosfir mendung yang ada di kediaman keluarga Do. Gadis cantik itu menjadi pemurung jika berada dirumah karena suasana rumahnya yang terasa sangat mencekam.

Bagaimana sikap Daddy nya yang semakin kasar setiap harinya dan bagaimana neneknya jadi cukup diam dan suka mengurung diri dikamar. Semua terlihat jelas bagaimana mereka merasa kehilangan tentang Kyungsoo. Hanya saja mereka terlalu menjunjung tinggi harga dirinya hingga enggan merendahkan sedikit kehormmatannya itu untuk menjilat ludahnya dan menemukan kebahagian kembali.

Ini lah hal yang paling jessy benci dikeluarga ayahnya. Hati jessy terlalu lembut dan tidak bisa harus ikut menjadi orang jahat seperti anggota keluarga lainnya.

Jessy terus berfikir bagaimana caranya memperbaiki semua dan mengembalikannya seperti semua. Menempatkan apa yang seharusnya berada diposisi seharusnya. Hingga tiba-tiba saja sebuah nama muncul diotaknya.

Gadis 14 tahun itu segera berlari menuju kamarnya lalu mencari ponselnya sebelum mengaktifkannya dan masuk kedalam kontak dan mulai mencari sebuah nomor yang seringkali dia hubungi tiap 3 hari sekali.

"Ahh ketemu!" Taerin bersorak senang sebelum menekan tombol dial untuk memanggil nomor itu.

Gadis itu menunggu degan sabar sampai beberpa detik kemudian seseorang menjawab dari seberang.

"Annyeong, haraboji~"

.

Tidak berbeda jauh dengan kediaman keluarga Do. Kediaman keluarga Kim juga seperti memiliki aura yang cukup keruh hanya saja penghuninya selalu menunjukkan seperti tidak terjadi apa-apa dan mereka terlihat seperti keluarga bahagia pada umumnya. Hanya saja sekali lagi, seperti ada sesuatu yang mengganjal didalamnya.

Namun berbeda dengan 10 hari yang lalu, hari ini kediaman Kim dibuat heboh dengan siapa tamu yang datang. Kyungsoo bahkan tak kuasa untuk menutupi mulutnya yang terjatuh saking kagetnya dengan sang tamu.

"A-appa?" tanya Kyungsoo setengah tidak percaya.

Dan lelaki paruh baya yang dipanggil appa oleh Kyungsoo itu merentangkan tangannya seolah mengundang Kyungsoo untuk masuk kedalamnya. Dan tanpa ragu Kyungsoo menyambut rangkulan itu. Memeluk ayahnya dengan sayang karena jujur saja Kyungsoo rindu dengan ayahnya karena mereka hanya pernah bertemu selama seminggu saat awal Kyungsoo kembali ke Seoul. Selajutnya mereka tidak pernah bertemu karena yahnya itu lebih memilih untuk kembali ke China untuk mengobati penyakitnya.

"Bagaimana appa bisa berada disini?"

Sekali lagi, bukannya menjawab. Ayah Kyungsoo itu malah memberi gestur tentang sesuatu dibelakangnya. Dan saat melihat kebelakang tubuh ayahnya, Kyungsoo mendapati Jongin yang tengan tersenyum simpul.

"Jongin?"

"Jongin yang membawa appa kemari?" ayah Kyungsoo hanya mengangguk dan Kyungsoo benar-benar dibuat terkesan dengan Jongin karena membawa ayahnya kemari.

Kyungsoo hendak datang kepada Jongin, namun tindakannya itu terintrupsi dengan suara ayahnya yang cukup mengingatkan Kyungsoo jika mereka masih berda diluar.

"Tidak membiarkan appa masuk dulu?"

Kyungsoo menepuk dahinya sebelum membuka semakin lebar pintu depan dan mempersilahkan ayahnya untuk masuk.

"Appa mari masuk." Ayah Kyungsoo itu mengangguk lalu mulai melangahkan kakinya untuk masuk kedalam meninggalkan Kyungsoo dan Jongin yang tersenyum penuh arti didepan pintu.

"Terimakasih." Ucap Kyungsoo. Jongin lalu mengangguk, "Aku hanya berusaha untuk memperjuangkanmu dan mendapatkan restu dari seluruh keluargamu seperti janjiku."

Dan entah kenapa tiba-tiba saja pipi Kyungsoo merasa memerah hanya karena kata-kata seperti itu dari Jongin. rasanya Kyungsoo ingin menampar pipinya sendiri.

.

"Jongin sudah mmenceritakan semuanya. Maaf membuatmu kembali tersiksa selama beberapa bulan ini nak, padahal appa sudah berjanji untuk membahagiakanmu saat kau kembali kerumah."

"Tidak apa-apa appa. Ayah tidak bersalah apapun, mungkin ini memang takdir kami sebelum menuju kebahagiaan nantinya."

Ayah Kyungsoo memandang sayang kearah Kyungsoo, pria paruh baya itu lalu membawa tangannya untuk mengusap sayang kepala putri bungsunya.

"Kalian sudah terlalu banyak menerima ujian jadi appa akan merestui hubunganmu dan Jongin."

"Sungguh? Appa benar-benar merestui kami?" dan saat ayah Kyungsoo mengangguk, maka tidak ada yang Kyungsoo lakukan selain memeluk erat ayahnya dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih.

.

Lalu semuanya berjalan begitu saja. Ketika ayah Kyungsoo yang turun tangan, Seungsoo melakukan gencatan senjata kepada Jongin. lelaki itu lebih memilih bersikap tenang karena menghindari penyakit jantung ayahnya akan kambuh saat melihatnya mengamuk atau memukul Jongin.

Karena entah bagaimana ceritanya, ayahnya itu seperti sangat memuja Jongin entah bagaimana Jongin merayunya sampai-sampai ayahnya dibuat seperti itu.

Butuh waktu satu bulan untuk Jongin merayu serta memelas dihadapan kakak dan ibu Kyungsoo. Segala cara Jongin lakukan agar dapat menarik perhtian kedua orang itu dan mulai membuka hati untuknya.

Dan seperti kata pepatah, usaha tidak pernah membohongi hasil. Sebulan itu akhirnya Jongin mendapat sebuah kesepakan dengan kakak Kyungsoo. Kesepakatan yang membawanya dan Kyungsoo bisa menyelenggarakan sebuah pernikahan yang khitmat disebuah greja kecil pinggir kota yang hanya dihadiri oleh kerabat dan teman dekat keduanya.

Akhirnya seluruhnya selesai dengan akhir bahagia untuknya, Kyungsoo serta anak mereka Taerin. Ohh dan mungkin sebentar lagi calon penghuni baru keluarga kecil mereka.

.

.

.

.

.

THE END

.

.

.

.

.

Epilog~

Taerin membuka pintu dengan waspada. Bagaimana tidak waspada jika keadaan dirumahnya tiba-tiba saja jadi hening, apalagi dijam-jam rawan seperti ini.

Namun kecurigaan Taerin itu segera hilang karena sepertinya keadaan rumahnya benar-benar aman. Jadi dengan riang Taerin mulai masuk kedalam dan hendak pergi ke kamarnya yang berada dilantai atas.

Namun sepertinya ketengan itu hanya jebakan. Lihat saja, baru 3 langkah yang Taerin ambil untuk masuk kedalam rumah tapi ditiga langkah itu lah Taerin merasakan tubuhnya basah kuyup karena seseorang menyiramkan air kepadanya.

Dan dari suara cekikikan diatas serta seruan senang karena mereka berhasil, Taerin tidak perlu berfikir keras untuk mengira siapa gerangan dalang dibalik semua ini.

"TAEOH! TAEJUN! DASAR KEMBAR SETAN! KEMARI KALIAN BERDUA" gelegar Taerin.

"Oh lihat! Nenek lampir jelek sedang mengamuk!" ucap dua anak kecil yang dipanggil Taeoh dan Taejun oleh Taerin.

Sungguh, Taerin benar-benar kesal dengan kelakuan dua manusia kecil yang sialnya adalah adiknya. Adik manis yang sangat menyebalkan. Duo pembuat onar yang tidak ada duanya. Dan setan kecil yang selalu mempunyai cara bagaimana membuat Taerin tertindas dan naik darah.

Taerin terus berteriak-teriak marah, dan mengacung acungkan kepalan tangannya kepada dua adiknya yang berada diatas yang sedang mengejeknya.

Sebenarnya bisa saja Taerin menghampiri mereka langsung lalu menjewer telinga mereka hingga mereka merengek sakit. Namun itu bukan hal yang seru karena lebih seru jika melihat bagaimana dua adiknya itu menderita ditangan ibunya. Jadi lebih baik Taerin terus berteriak untuk mengundang minat ibunya.

"Apa lagi sekarang?"

Dan... viola! Ibu peri telah datang. Taerin bersorak dalam hati melihat ibunya muncul dari ujung tangga. Dan Taerin harus segera memulai aktingnya karena tertindas.

"Oh astaga! Kenapa kau basah kuyup sayang?"

Gadis itu cemberut sebelum melepar tatapan minta dikasihani kepada ibunya.

"Duo trouble maker itu yang menyiramku dari atas bu." Adu Taerin.

Kyungsoo mendongak keatas dan mendapati kedua buah hatinya yang lain tengah mencoba menyembunyikan diri dibalik-balik pembatas lantai atas. Namun jangan sebut Kyungsoo ibunya jika menemukan mereka saja dia tidak bisa.

"Tidak perlu sembunyi Taeoh-ah, Taejun-ah. Cepat turun kemari sebelum ibu benar-bener marah."

Kyungsoo juga bisa melihat bagaimana si kembar itu saling melirik sebelum keluar dari persembunyiannya dan mulai berjalan pelan-pelan turun kebawah. Dan beberapa saat kemudian kedua bocah itu sampai disebelah Kyungsoo dan menunduk dalam.

"Apa pembelaan kalian tentang penyiraman kakak kalian berdua? Bukankah sudah ibu bilang jika tidak ada lagi mengerjai noona atau kalian akan dihukum."

Sikembar hanya diam dan semakin menunduk, sementara Taerin menyeringai puas melihat bagaimana si kembar takut dan tidak berkutik jika berhadapan dengan ibu mereka.

"Kami hanya ingin bermain dengan noona ibu." Itu Taeoh yang menjawab.

"Iya, noona terlalu kaku jadi kami memutuskan untuk menyiramnya dan mungkin noona akan jadi sedikit lunak." Tambah Taejun. Lalu keduanya terkikik sendiri mendengar ucapan Taejun.

Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaimana kedua bocah itu yang begitu jail.

"Taeoh, Taejun. Katakan jika ingin bermain, jangan sampai membuat kakakmu jadi basah kuyup seperti itu. Bagaimana jika kakak kalian sakit karena terkena flu?"

"Noona bisa minum obat jika sakit ibu." Jawab Taejun yang diangguki semangat oleh Taeoh.

Kyungsoo menghela nafas melihat kelakuan kedua anaknya itu. Sungguh benar-benar sulit diprediksi.

"Oke-oke terserah, tapi sekarang kalian harus meminta maaf kepada noona karena membuatnya basah kuyup."

Taeoh dan Taejun saling lirik, keduanya saling lempar pendapat apakah mereka harus meminta maaf atau tidak. Namun saat ibu mereka memanggil dengan suara yang rendah dan terdengar mengerikan maka keduanya dengan buru-buru segera membungguk dan meminta maaf secara bersama-sama.

"Noona maafkan kami berdua karena menyiram noona dan membuat noona basah. Kami benar-benar minta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi hari ini."

"Hari ini?" tanya Kyungsoo.

Si kembar mengangguk, "ya hari ini. dan kami akan membully noona lagi keesokan harinya."

Lalu setelah mengucapkan itu, si kembar langsung kabur dengan suara tawa yang bahagia.

"Yakkk! Kalian berdua kembar setan awas, tunggu pembalasan dendamku."

Dan Kyungsoo hanya bisa menggeleng-geleng melihat keributan yang diperbuat ketiga anaknya. Dia sudah terlalu terbiasa karena si sulung dan si kembar memang tidak pernah akur dari awal. Jadi dia benar-benar sudah terbiasa.

.

FIX END

.

PUJA KERANG AJAIB!

Awwwww akhirnya ini ff selesai juga yuhuuu...

Garing-garing udah, penting selesai. Sorry buat yang gak srek sama endingnya. Karena otak baby vee udah buntu XD

Gak ada yang mau baby vee ceritain. Cukup 1 kalimat yang menggambarkan hati baby vee hari ini "Baby vee bahagia hari ini, yuhuuuuu!" gak perlu baby vee jelasinpun kalian pasti tau kenapa baby vee bahagia. Karena seluruh kaisoo ship pasti sedang berpesta ria hari ini wkwkwkwkwk

Ehh btw baby vee promosi bentar, 5 hari lagi baby ultah. Barang kali ada yang minat ngucapin entar :v dan hari itu juga baby vee bakalan rilis ff baru yuhuuuu...

Terakhir, baby vee mau terimakasih buat semua yang udah ngedukung selama baby vee ngebuat ini ff. Terimakasih banyak karena tanpa kalian baby vee gak bakalan bisa nerusin ini ff sampai selesai. Akhir kata, wassalam! Sampai ketemu diff baby vee selanjutnya... byeee byeeee

.

Thank's to :

Sara jong, tasyalee, TulangRusuknyaDyo, Ussyana610, Rizkinovitasarii, ripusi1288, ssuhoshnet, nadoxoxo, sfa30, chenma, anindyakp, Nara, BaekNoona, Arum364, channiemolly, Park RinHyun-Uchiha, Ahan2021, karifka1201, itsrain222, T.a , Sofia Magdalena, Siti Aisyah648, ryaauliao, Insoo1288, Realdoks, dhyamanta1214, ayudesy1222, Lovesoo, detiandini45, dinadokyungsoo1, BubbleXia, 21hana, KittiToKitti, kim gongju, kyungkyung, auliaMRQ, hamidah