Title : Not Like Before

Cast : Aomine Daiki, Kise Ryouta, Midorima Shintarou, Momoi Satsuki, dll

Genre : Crime

Desclaimer : they are belong to Fujimaki Tadatoshi. But this story, it's mine.

WARNING : ABSURD, OOC, TYPO (s), IDE MAINSTREAM, CERITA TIDAK JELAS, NGAWUR KEMANA-MANA. BAHASA TIDAK SESUAI EYD.

.

.

Selamat Membaca... :D

Chapter 2

Ruangan bercat putih itu tampak biasa, dengan sebuah tempat tidur berseprai putih senada dengan warna lantai di bawahnya. Bau kreolin menyeruak ketika Aomine membuka matanya. Mengerenyit ketika merasakan sedikit sakit di lengan kanannya.

"Oi Aomine"

Seseorang membuka pintu, menampakkan sosok pria tinggi bersurai hijau dengan jas putihnya. Oh! Hampir segalanya tampak berwarna putih di sana.

"Midorima"

"Bagaimana keadaanmu?"

"Kurasa lebih baik"

"Dasar ceroboh!"

"Oi! Kenapa jadi malah menceramahiku?!"

"Aku hanya ingin bertanya nodayo, aku tidak tahu jelas bagaimana kejadiannya, tapi menurut berita yang kudengar. Saat mereka menemukanmu, Imayoshi sudah terluka,-"

Ekspresi Aomine terlihat berubah, menundukkan kepalanya.

"-dan setelah ku lihat, itu luka tusukan di bagian punggung. Kau yang melakukannya?"

Tanya Midorima dengan tatapan menyelidik.

Aomine tidak menjawab, tak juga mencoba untuk bersuara. Membuat Midorima semakin curiga, matanya memicing di balik kaca matanya.

"Kau yang menusuknya?"

Aomine masih diam.

"Menurutku, dengan luka seperti itu, dia pasti ditikam dari arah belakang. Lalu kalau kau menikamnya dari belakang, maka seharusnya posisimu saat itu juga ada di belakangnya. Tapi mereka bilang, Imayoshi jatuh menghadap padamu, itu artinya kau ada di depannya. Kalau begitu, bagaimana kau melakukannya?"

Sekelebat skenario dimainkan dalam pikirannya. Kejadian kemarin. Saat Imayoshi datang menampakan diri, lalu beradu tembak dengan pistol masing-masing, setelah itu Imayoshi tiba-tiba menghilang, lalu kemudian muncul lagi dan menembaknya, lalu.. orang itu hadir...

Aomine menghela nafas berat. Mengalihkan pandangannya pada tirai jendela yang terbuka. Membelakangi Midorima yang masih menatapnya dengan rasa ingin tahu.

"Kau itu dokter forensik Midorima. Kau tak perlu ikut campur untuk bagian lapangan"

"Justru karena itu aku menanyakan padamu nodayo! Sebagai saksi mata, seharusnya kau tahu kan?"

"..."

"Oh ayolah! Aku butuh penjelasanmu untuk menentukan penyebab kematiannya lebih detail!"

Sekejap Aomine menatap Midorima yang masih juga menatapnya. Matanya membelalak kaget dan bibirnya sedikit terbuka, seperti akan berteriak tetapi suaranya hilang begitu saja.

"Dia... mati?"

"Hmm! Pisau itu menusuk tepat di arteri jantungnya sehingga aliran darah terputus dan menyebabkan tubuhnya kehilangan pasokan darah"

Aomine kembali menghela nafasnya yang terasa tercekat. Tak ada yang berbicara setelah itu, hanya suara nafas mereka yang mengisi kekosongan di sana. Mungkin Midorima menuntut penjelasan Aomine dan tetap menajamkan pendengarannya. Tapi Aomine bingung, harus dari mana dia memulainya?

"Bukan... bukan aku yang menikamnya..."

Setelah sekian lama Aomine terdiam, suaranya terdengar pelan. Bersyukurlah karena di tempat itu dilarang untuk berisik demi kenyamanan pasien sehingga Midorima bisa mendengar dengan jelas apa yang Aomine katakan.

Midorima tak mengeluarkan suara sedikitpun, hanya menunggu Aomine untuk melanjutkan ceritanya.

"Saat itu Imayoshi berusaha untuk menembakku lagi... kupikir aku akan mati... senjataku terjatuh entah kemana dan lenganku terluka... dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu... dia benar-benar mencoba membunuhku... lalu...-"

"Lalu?"

Midorima bertanya karena Aomine tiba-tiba menghentikan ceritanya.

"Ada orang lain... orang itu yang melakukannya..."

"Huh? Siapa?"

Aomine tidak mengubris pertanyaan Midorima.

"Dia tiba-tiba muncul dari kegelapan... entahlah, tapi kupikir dia menolongku,-"

Ada jeda sebentar.

"-lalu yang lainnya datang dan... yaa, kau tau apa yang terjadi setelahnya"

Midorima berpikir, mencoba mencerna cerita Aomine untuk mencari referensi tentang kronologi malam itu. Meskipun tak dapat dipungkiri, dirinya juga ingin tahu mengapa Aomine yang identik dengan pria kuat bisa terluka dan bahkan hampir tewas.

"Tunggu Aomine! Kurasa ceritamu sedikit janggal nodayo. Bukannya aku perhatian padamu, tapi aku cukup kaget ketika tahu kau tertembak. Dan lagi menurut mereka, kalian berpencar dan hanya kau yang berhadapan dengan Imayoshi. Kenapa kau memasukan orang lain di sana? Kau mengada-ngada?"

"Aku tidak mengada-ngada! Imayoshi juga sempat melihatnya!"

"Hmm, tapi sayang dia sudah mati"

"Kau tidak percaya?"

"Tidak sepenuhnya sebenarnya. Tapi siapa yang kau lihat Aomine?"

"..."

"..."

"Tak begitu jelas karena saat itu gelap. Tapi sekilas aku menatap matanya dan...-"

"..."

"-dia terlihat seperti dia..."

"'Dia terlihat seperti dia', haaah... dia siapa? Aku tak tahu kalau kau hanya menyebutnya dengan 'dia' nodayo!"

Midorima terlihat jengkel sambil menggerutu kecil, lalu membetulkan kacamata yang bertengger di hidungnya.

"Kise"

"Huh?!"

Midorima yang sedang tidak fokus tidak terlalu jelas mendengar apa yang dikatakan Aomine, meskipun dia sadar tadi Aomine mengatakan sesuatu.

"Bisa kau ulangi nodayo?"

"Kise... aku melihat Kise..."

Midorima terdiam sebentar.

"Ki-se? Bukankah dia...-"

"..."

"-Mungkin kau salah orang. Tak hanya Kise yang memiliki mata seperti itu kan? Tentu masih banyak orang yang lainnya"

"Mungkin Midorima benar, dia bukan Kise... tapi aku merasa begitu familiar dengan mata itu"

Meskipun ragu, Aomine ingin mengatakannya.

"Kau pikir siapa yang paling sering menatap matanya?! Aku tak mungkin salah!"

Dengan satu nafas, dia ingin menepis pikiran itu. Dia ingin itu memang Kise, Kisenya... Oh! Apakah masih pantas kalau dia mengklaim miliknya sekarang?

"Sadarlah Aomine. Kise tak ada di sini. Kau sendiri tau itu kan nodayo. Aku harus kembali bekerja, istirahatlah supaya kau cepat pulih"

Pintu itu tertutup, membuat sosok dokter muda itu hilang dari pandangannya. Aomine berbaring, meletakkan satu lengannya yang lain di wajahnya. Dia terlalu pusing. Orang itu memang selalu bisa membuatnya terus berpikir. Melihat matanya yang bahkan hanya beberapa detik saja sudah hampir seharian otaknya terus memproses.

"Kise..."


ooOOOoo


Terik matahari memancar menyilaukan. Hamparan pasir putih bercampur kerang berkilauan di pijakan. Birunya lautan bak batu sapphire berukuran besar merefleksikan langit yang tanpa kapas. Bahkan goresan tipis pun seakan tak mau mencemari kesempurnaan hari itu.

"Aominecchi!"

Suara itu membuyarkan lamunannya, terdengar lembut bagaikan angin yang membelai helaian birunya.

"Ayo main!"

Entah kapan terakhir kalinya Aomine melihat pemandangan seperti itu. Wajah ceria orang-orang, anak-anak yang membangun istana pasir, ada yang bermain ombak dan saling berkejaran, ada juga yang mengumpulkan kerang. Sungguh, pemandangan ini tak akan ada di dunianya sekarang.

Mungkinkah ini mimpi? Mungkin saja, karena orang yang menggenggam tangannya sekarang juga ada di sini.

Aomine tidak peduli ini mimpi atau apapun jenisnya itu. Yang jelas, Aomine ingin bersama dia lebih lama lagi. Sesederhana itu...

"Ne.. Aominecchi! Ayo ikut mengumpulkan kerang!"

Aomine hanya tersenyum melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan. Menuruti keinginan pria bersurai blonde itu, lalu berjalan ke arah batu karang di pinggiran pantai.

"Ahaha Aominecchi! Tebak apa yang kutemukan?!"

Matanya yang sewarna madu berbinar menatap Aomine sembari menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggungnya.

"Apa? Kerang?"

"Haaah, bukan, ayo tebak lagi!"

"Rambut Midorima?

"Huh? Midorimacchi? Kenapa jadi ke sana-ssu!"

"Maksudku rumput laut"

"Bukan bukan-ssu! Ayo tebak lagi! Dia suka bersembunyi dibalik batu dan Aominecchi sangat menyukainya-ssu! Ayo tebak!"

Wajahnya begitu menggemaskan, seperti ingin memberi tahu tetapi di sisi lain ingin Aomine yang menebaknya. Semakin membuat Aomine bergairah untuk menggodanya.

"Umm... bintang laut?"

"Bukan-ssu! Masa Aominecchi tidak tahu?!"

Kali ini sambil mengerucutkan bibirnya. "Manis".

"Haha, aku tahu, aku hanya ingin menggodamu. Itu udang kan?"

"Yeeeeeey, Aominecchi berhasil-ssu, nanti pulang akan ku masakan tempura kalau begitu!"

Aomine tak henti-hentinya tersenyum melihat iris madu itu selalu berbinar. Terbesit di otaknya untuk lebih menggodanya lagi. Kebetulan makhluk itu menggeliat-geliat kepanasan di dekatnya.

"Oi Kise!"

Kise menoleh lalu menghampiri Aomine.

"Tebak apa yang kudapatkan?"

"Eeeh?! Aominecchi juga mencari kerang?"

"Tidak, ini lebih hebat dari sekedar kerang. Bisa berjalan, tidak seperti kerang yang terus-terusan diam"

"Apa ya... aku bingung-ssu!"

"Bagaimana? Tak bisa menjawabnya?"

"Hmmm, aku menyerah-ssu~"

"Kau mau lihat?"

"Aku boleh lihat-ssu?!"

"Tentu! Tutup dulu matamu"

Kise menutup matanya, menanti temuan Aomine yang katanya lebih hebat dari sekedar kerang.

"Nah! Buka matamu!"

"Kyaaaaaa! Aominecchi! Jauhkan itu dariku-ssu! Menggelikan!"

Kise bertingkah layaknya wanita yang takut pada kecoa, bersembunyi di balik karang ketika hewan kecil menggeliat di telapak tangan Aomine itu menyapanya ketika membuka mata.

"Buang itu-ssu!"

Dari balik karang Kise kembali berteriak, sementara Aomine tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya yang terasa menggelitik.

"Haha! Aku sudah menyingkirkannya, ayo keluar dari sana Kise!"

...

"Kise!"

Tak ada jawaban...

"Hey! Aku benar-benar sudah menyingkirkannya! Kau benar-benar ingin aku menemukanmu seperti udang di balik karang?!"

Masih tak ada jawaban...

Aomine memutuskan untuk menyusulnya. Oh ayolah! Kise bukan lagi anak kecil.

"Oi! Ki-se?!"

Tak ada siapapun di balik karang itu. Tidak Kise, tak ada tumpukan kerang, tidak juga udang yang dibawanya tadi.

Aomine memandang ke atas. Langitnya begitu gelap, lebih gelap dari warna rambutnya yang bagaikan langit malam. Suara ombak terdengar seperti suara gemuruh, awan-awan kehitaman menutupi langit yang tadinya tanpa noda.

Tak ada orang-orang yang ceria, tak ada anak-anak yang membangun istana pasir, tak ada yang berlarian, dan tak ada... Kise...

Hanya Aomine sendiri...

"KISE?!"

Nafasnya memburu, keringat mengucur dari pelipisnya. Matanya beberapa kali mengerjap.

"Hanya mimpi..."

"Dai-chan! Kau kenapa?!"

Sesosok wanita itu lagi-lagi memandangnya khawatir.

"Satsuki, hanya mimpi buruk. Sejak kapan kau di sini?"

"Sekitar satu jam yang lalu. Aku membawakanmu pakaian, dan saat aku kesini kau sedang tidur"

"Terima kasih"

"Um. Dai-chan kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja. Maaf membuatmu khawatir"

"Midorin bilang, lusa kau sudah boleh pulang"

"Begitukah? Bagus kalau begitu. Aku tidak betah di sini"


ooOOOoo


Ruangan gelap dengan lampu yang berkedip-kedip tampak begitu ramai di malam hari. Suara-suara teriakan disertai rayuan-rayuan yang menggoda. Lenggok-lenggok pria maupun wanita mengikuti irama lagu. Sebagian saling merangkul di sofa ditemani bergelas-gelas wine.

"Hey, aku baru dengar kalau Imayoshi tertangkap" ujar seorang pria berambut hitam sambil mengaduk pelan minumannya.

"Hee, kau kemana saja Takao, itu kan sudah lama. Ba-ka!" satu orang lagi pria dengan wajah yang tidak mengenakkan mata. Terkadang menjulurkan lidahnya.

"Kalian bodoh ya! Dia sudah mati sekarang" sambil sedikit menggebrak meja, rambut abu-abunya sedikit menutupi anting-anting silver di telinganya.

"EEEH?! Mati? Kapan?" Orang bernama Takao itu tampak terkejut mendengar kabar tentang rekannya.

Pria dengan helaian abu-abu itu kembali menatap mereka setelah memesan segelas cocktail pada bartender yang sedang meracik macam-macam minuman beralkohol.

"Humm... kurasa di hari yang sama saat dia tertangkap. Bahkan dia melihatnya, iya kan?"

Haizaki Shogo, nama pria bersurai abu-abu itu melirik pada orang di sebelahnya. Seorang pria dengan baju berwarna cukup gelap.

"Hmm" orang itu hanya mengangguk sambil menyesap segelas screwdriver (sejenis cocktail dengan campuran antara vodka dan jus jeruk).

"Kau serius?!"

"Aku hanya melihatnya ketika dia tertangkap polisi"

"Di mana?"

"Di lorong dekat tempat dia sembunyi"

"Oh! Dekat gedung kosong itu?!"

"Ya!... Kurasa aku akan ke toilet sebentar"

"Baiklah"

"Aku tidak menyangka orang sepintar dia bisa tertangkap"

"Huh?! Aku lebih pintar darinya, BA-KA"


ooOOOoo


Sekitar dua bulan berlalu sejak kejadian itu, Aomine tak pernah lagi bertemu dengan Kise. Atau mungkin orang itu memang bukan Kise.

"Lupakan Aomine! Sudah sepuluh tahun dia tak pernah kembali! Tidak! Dia mungkin memang tak akan kembali!"

Aomine menghela nafas berat. Tangannya diselipkan di celah kedua sakunya. Memikirkan Kise memang tak ada habisnya dan itu akan terus berlanjut.

Langit masih berwarna biru gelap, membuat rambutnya sedikit samar dalam kegelapan. Tak ada bulan, begitu datar bak lentera tak bernoda.

Aomine menghentikan langkahnya seketika. Orang lain berjalan berlawanan arah dengannya. Bajunya berwarna merah marun. Irisnya menatap ke langit, dan surai itu... surai kuning yang dia rindukan...

Mereka berpapasan tepat di tempat lampu jalan yang menyorot, membuat bayangan mereka berdua tercetak diatas aspal yang kelabu.

"Kise"

Matanya sayu, dia masih memandang langit sebelum Aomine menegurnya.

"Permisi, biarkan aku lewat, aku ingin pulang"

"Kau bau alkohol" ujar Aomine ketika mencium aroma alkohol yang menguar dari tubuh Kise.

"Kau minum-minum?!"

Aomine menatap tajam pada iris madu itu yang bahkan tidak menatapnya balik.

"Dan sebagian bajumu basah! Kau ini habis apa-apaan?! Pergi ke klub?!"

"Kubilang biarkan aku lewat"

Kise mengabaikan Aomine begitu saja, mencoba menggeser posisinya dan melewati Aomine dari samping. Tapi tangan besar itu menahannya. Mencengkram sebelah sikunya. Tepat pada bagian bajunya yang basah.

"Ugh!"

Tangan Kise mengejut, sekilat matanya menutup erat. Dan posisinya kembali di depan Aomine. Kise mencoba melepaskan tangannya.

"Apa maumu?! Lepaskan!"

Melihat Kise yang kesakitan, Aomine perlahan melepaskan tangannnya. Mungkin cengkramannya terlalu kuat. Namun sesuatu terasa aneh, sedikit lengket. Aomine menatap telapak tangannya, warna kemerahan yang sedikit samar, mencium baunya. Amis dan memuakkan, bercampur bau alkohol. Menatap kaget pada Kise yang kembali memejamkan matanya erat seperti menahan sakit.

"Kise... Kau terluka?!"


To be continue / Discontinue (?)


.

.

fanfiction ini jadi saya lanjutkan..

Meskipun gak menarik, tapi gak apa-apa lah

Sebelumnya saya delete malahan

Hehe, tapi kepalang udah buat, jadi di post aja wkwk

Ini chapter 2 nya

Oh! tak lupa terima kasih untuk yang membacanya :D

Kritik/saran?