Yaaaaa, Gomen! Ini sudah lama sekali sejak terakhir saya post chapter 2. Sejujurnya 1/3 chapter 3 ini sudah saya ketik dari tahun lalu, tapi ya ... /sudah jangan bahas itu
Sekali lagi gomen untuk penantian yang panjang, itupun kalau memang masih ada yang baca hahahaha
Here Chapter 3
.
Hening menyapa Aomine, ketika kakinya melangkah ke dalam sebuah flat yang ukurannya tak terlalu besar. Flat itu berada di lantai dua, letaknya juga jauh dari keramaian, sehingga suasananya cukup menyeramkan jika kau berjalan di malam hari.
"Aku tak menyangka Kise tinggal di tempat seperti ini"
Sebenarnya Kise sudah menolak Aomine untuk tidak datang, tapi pria itu yang memang pada dasarnya berwatak keras terus memaksa si surai kuning agar mengizinkannya ikut ke tempat tinggalnya. Meskipun akhirnya Aomine tetap ikut mengikuti langkah Kise yang berjalan lebih dulu.
Kise mengulurkan tangannya sedikit ke kanan dan menemukan tombol di tembok, lalu menekanya membuat ruangan itu terlihat terang dengan lampu yang menyinarinya.
"Duduklah, kau mau apa? Aku hanya punya wine dan air putih"
Aomine mendudukkan dirinya di sofa, agak asing dengan tempat di mana dia sekarang.
"Kau serius? Kau tidak menyimpan susu atau semacamnya seperti dulu?"
"Kemana Kise yang selalu menggilai susu?"
"Kurasa aku tak butuh yang seperti itu. Jadi, yang mana?"
"Kau berubah Kise ..."
"A-air putih saja"
"Baiklah, tunggu sebentar"
Kise mengambilkan minuman ke dapur, sementara Aomine melihat-lihat ke sekeliling flat itu. Pintu masuk di sebelah kiri, dan ruang tamu sejajar pintu menghadap tembok di sebrangnya, ada satu televisi di sana dan sebuah lemari kecil berisi gelas-gelas di sebelah televisi. Hanya ada satu sofa untuk ukuran tiga orang dan satu meja kecil. Dapur ada di sebelah kanan ruang tamu, dan ada pintu lain di sebelahnya, sepertinya kamar mandi. Ada satu ruangan lain bersebrangan dengan dapur, tepatnya di sebelah kiri dari pintu masuk, hanya saja pintu ruangan itu menghadap ke dapur. Aomine mengira, itu pastilah sebuah kamar tidur.
Kise sudah kembali, membawakan sebotol air putih yang diletakkannya di meja.
"Aku akan ke kamar sebentar" lalu meleos begitu saja.
Aomine mendengar suara grasa-grusu dari dalam kamar, seperti suara laci yang di buka tutup, dan suara plastik yang diremas, samar terdengar juga seperti suara teriakan yang tertahan.
BUG!
Seseorang seperti bersandar di balik pintu. Tentu Kise yang melakukannya, memangnya ada siapa lagi di sana?
Gagang pintu terdorong ke bawah, dan pintu terbuka, menampakan sosok Kise yang kembali melangkah ke ruang tamu. Mengenakan piyama hitam, raut wajahnya sudah mulai normal, hanya saja matanya masih terlihat sayu. Entah masih ada pengaruh alkohol ataukah karena dia sudah mengantuk.
"Kise, biar aku obati lukamu"
Seperti tidak mendengar, Kise malah berjalan ke dapur, menuangkan segelas wine, lalu mendudukan tubuhnya di sofa, bersebelahan dengan Aomine. Mengambil remote TV lalu menyalakannya, dan gerakannya berhenti ketika tayangan musik-musik klasik dipedengarkan.
"Oi! Kise! Jangan minum lagi!"
Aomine merampas wine yang baru diminum sedikit dari tangan Kise. Pria blonde itu tidak menanggapi, hanya berbalik menatap Aomine dengan mata yang terlihat mengantuk.
"Kemarikan tanganmu!"
Kise kembali menatap ke arah televisi yang menyala, tanpa menanggapi Aomine.
"Dia masih mabuk sepertinya!"
Akhirnya, Aomine menarik paksa tangan itu. Kise tidak memberontak dan terlihat tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang di sampingnya itu. Aomine melipat pelan piyama hitam Kise dari lengan Kise dan mendapati luka yang cukup besar di sana. Terlihat tidak beraturan, seperti terkena pecahan kaca atau semacam benda tajam namun bukan untuk memotong. Dan bau alkohol.
"Kise! Kau pikir apa yang kau lakukan?! Menumpahkan minuman beralkohol ke lukamu?!"
"..."
"Dia gila! Orang saja sulit untuk menahan jika lukanya dibersihkan dengan Alkohol. Sedangkan dia malah sengaja menumpahkannya!"
"Kise!"
"Hmmm~, kau tak perlu ikut campur~, aku sudah menggunakan analgesik. Jadi tidak perlu mengobatinya, lagipula itu sudah tidak sakit"
"Kau akan membiarkan lukanya terbuka begitu saja?!"
"Aku tak habis pikir. Apa dia benar-benar Kise? Dia seperti orang lain"
"Memangnya kau siapa? Kenapa kau belum juga pergi dari sini?"
Aomine melongo. Oke! Sepertinya Kise mulai tidak waras. Bagaimana mungkin orang yang dulunya begitu anti meminum yang namanya alkohol dan lebih memilih susu kini malah sebaliknya.
"Kise..."
Lalu kepalanya bersandar di bahu Aomine, matanya tertutup sedangkan mulutnya masih menggumam.
"Aku benci alkohol~. Kenapa aku suka meminumnya? Bodoh!"
Malam semakin larut. Kise sudah lebih tenang, kepalanya masih bersandar di bahu Aomine. Mata biru tuanya memandang Kise, dia terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Itu sudah 10 tahun yang lalu. Tapi sepertinya dia bertambah tinggi.
Aomine memutuskan untuk membaringkan Kise di tempat tidurnya. Jadi dia menggendongnya dengan hati-hati. Kamarnya tidak terlalu besar, hanya ada sebuah tempat tidur, satu lemari, satu meja dan pintu yang sepertinya kamar mandi.
Aomine menyelimutinya dengan selimut hingga sebatas dada. Lalu meraih sebelah lengan Kise yang terluka. Berapa kali pun Aomine melihat luka itu, benar-benar gila. Darahnya saja belum berhenti, hanya baru sedikit mengering. Untuk pengetahuan orang awam pun, pasti dapat menyimpulkan luka seperti itu pasti akan menimbulkan bekas luka yang cukup dalam nantinya.
Matanya beralih mencari kotak P3K dan menemukannya menggantung di dinding samping lemari. Aomine bukan orang yang mahir di bidang kesehatan, tapi dia kadang-kadang melihat Midorima mengobati anggota polisi yang terluka. Meskipun Midorima dokter forensik, bukan berarti dia tak bisa mengobati orang hidup kan? Ya, dan Aomine mencoba melakukannya seperti Midorima.
Sebaskom air dan handuk kecil yang ditemukannya di laci nakas di bawanya. Memerasnya hingga handuk tersebut hanya sedikit lembab. Lalu dibersihkannya luka itu perlahan-lahan. Mengusapnya lembut agar Kise tak kesakitan. Aomine baru melakukan hal seperti ini seumur hidupnya. dan tak pernah membayangkan bahwa hal ini akan terjadi padanya.
ooOOOoo
Kise terbangun ketika menyadari sedikit cahaya menyinari tepat di kelopak matanya. Kepalanya pusing dan butuh beberapa waktu hingga kesadarannya pulih. Dia benar-benar lupa apa yang terjadi kemarin malam hingga dia melihat tangannya dibalut kain kasa.
Dddrrrt ... dddrrrrt ...
Kise melirik ponselnya, berpikir siapa yang meneleponnya. Lalu dia mengambilnya dan menemukan ada kertas kecil ditindih ponselnya bertuliskan "Aku pulang". Membuat Kise bertanya-tanya siapa yang telah menulis note itu sementara ia tinggal sendiri.
"Memangnya siapa yang datang kemarin?"
Ponselnya masih bergetar, menunjukkan bahwa si penelepon belum jengah untuk menunggu Kise mengangkatnya.
"Halo? Ada apa Takao-cchi?"
"Kise! Kau pergi ke mana semalam? Kupikir kau cuma ke toilet, tapi kau tidak juga kembali"
"Maaf, aku pulang semalam. Kepalaku pusing"
"Syukurlah kalau kau tidak apa-apa. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu"
"Huh? Memangnya ada apa?"
"Semalam aku melihat orang yang melawan Imayoshi tempo hari berjalan dari arah flatmu"
"Begitukah? Kupikir aku pusing sekali sampai tak ingat apapun. Tapi aku baik-baik saja sekarang"
"Um! Kau akan ke bar lagi malam ini?"
"Aku akan lihat situasinya dulu. Kuusahakan untuk datang"
"Baiklah, sampai ketemu"
"Hmm"
ooOOOoo
Selembar daun jatuh tepat di pundak Aomine bersamaan dengan udara musim panas yang hampir berakhir. Dia memperhatikannya perlahan terjatuh mendarat di rerumputan yang sudah kering sebagian. Kise ... kemarin itu dia tak mungkin salah lihat, itu Kise, rambut kuningnya, anting perak di telinganya, warna bola matanya, semuanya kecuali tingkah lakunya yang sangat berbeda.
"Aomine"
Aomine belum menoleh, dia terlalu sibuk dengan memori-memori tentang pria pirang itu di otaknya. Orang yang menegurnya mulai terlihat gusar.
"Aomine!" dia menaikkan sedikit volume suaranya.
"O-oh Midorima. Ada apa?"
Pria berkacamata itu menatap penuh selidik.
"Jelaskan padaku kemana kau pergi semalam?"
"Bukan urusanmu"
"Kau tahu? Setiap jam Momoi meneleponku hanya untuk bertanya kau ada di mana? Dan dia tidak mengerti juga untuk setiap jawaban sama yang kuberikan. Sangat merepotkan!"
"Kalau kuberitahupun kau tak akan percaya. Aku tak mau membuang-buang tenaga untuk menjelaskannya padamu"
"Kau-"
"Dai-chan!"
Dari kejauhan tampak berlari mendekat seorang wanita dengan iris merah muda yang menatap khawatir. Dia berhenti tepat di depan Aomine dan Midorima. Menarik nafas dan mulai melontarkan pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
"Dai-chan! Kau dari mana saja?! Dan Midorin! Kenapa kau bilang kalau Dai-chan tidak ada di kantor?! Jelaskan padaku!"
"Hey! Dia baru saja datang, ya sejujurnya aku juga tidak tahu kapan dia datang, yang aku tahu dia ada di halaman kantor –aku juga baru bertemu asal kau tahu, dia sedang melamun dan ... aku benar-benar tidak tahu lagi"
"Dai-chan!"
"Aku bertemu Kise"
"Aomine jangan mengada-ngada"
"Dai-chan! Tidak mungkin Ki-"
"Sudah kubilang kalian tidak akan percaya apa yang aku katakan! CUKUP! Ini hanya buang-buang waktu!"
Aomine menegakkan kakinya, memasukkan kedua telapak tangannya ke saku dan berjalan pergi.
"Dai-chan!"
"Jangan menyusulku. Aku sedang banyak pikiran"
Momoi dan Midorima hanya menatap Aomine yang menjauh. Mereka sama-sama berpikir, mana yang harus mereka percaya. Semenjak kejadian hari itu menimpanya, Kise tak pernah menunjukkan batang hidungnya. Sudah hampir 10 tahun dan mereka tak pernah menemukannya di manapun. Keberadaanya seolah lenyap dan tidak terlacak.
"Momoi, bagaimana pendapatmu soal ini?"
"Entahlah ... aku juga tak mengerti ..."
ooOOOoo
Malam itu hujan deras. Ribuan tetes air jatuh pada atap-atap bangunan yang menempel pada tanah. Sebagian orang tak begitu peduli dan hanya memutuskan untuk menutup pintu, jendela bahkan menutup tubuhnya dengan selimut hangat. Bagi sebagian orang yang lainnya, suasana macam itu bukan berarti kegiatan mereka harus berhenti. Bernyanyi, menari, bercumbu dan membenturkan sisi gelas minuman mereka lebih menyenangkan ketimbang hal yang dilakukan sebagian orang tadi.
Memang tak dipungkiri, bar adalah tempat yang banyak dibenci orang namun di sisi lain banyak juga yang menyukainya. Bukan tempat yang cukup bagus untuk melakukan pertemuan antar teman. Tapi dengan orang-orang semacam Haizaki ataupun Hanamiya –dan Takao juga (meskipun sebenarnya pria itu tak terlalu mempermasalahkannya), Kise masih memakluminya. Terkadang dia juga ikut minum atau sekedar memperhatikan orang-orang yang terbuai euforia yang menari-nari di kepala mereka.
"Yo!"
Dari kejauhan, tampak Takao melambaikan tangan ke arahnya sambil berjalan mendekat.
"Kau sudah lama di sini Kise?"
"Baru saja"
"Mana Haizaki dan Hanamiya?"
"Sepertinya belum datang"
"Ah sialan! Hujannya deras sekali, bajuku jadi basah semua. Aku akan ke toilet sebentar, tolong pesankan aku minuman yang biasa ya!"
"Um!"
Takao pergi ke arah toilet dan Kise memesan segelas Margarita untuk Takao. Sedangkan dirinya hanya memesan Lime squash untuk minumannya. Sebenarnya akan lebih baik untuk memesan minuman yang mengandung alkohol ketika cuaca seperti ini. Tapi untuk malam ini, Kise ingin pikirannya jernih.
Ketika Takao kembali, pesanannya baru saja disuguhkan, dia mengambil tempat di kursi bar bersebelahan dengan Kise.
"Apa ini? Hanya Lime squash?"
"Diamlah, aku sedang tak ingin mabuk. Cukup mocktail saja untuk malam ini"
"Ya, terserahmu lah. Well, terima kasih pesanannya"
"Ya, tampilannya tetap aneh seperti biasa. Apa-apaan dengan garam itu?"
"Rasanya unik kau tahu? Lain kali kau juga harus coba"
"Nanti saja. Ngomong-ngomong kenapa mereka berdua belum juga datang?"
"Entahlah, maksudku ... ya, bisa saja kan mereka tak jadi datang? Oh! Dan aku punya sesuatu yang bagus, lihat ini!"
Takao merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah botol berisi cairan dan potongan –uh! Ibu jari mengambang di dalamnya.
"Formalin dan sepotong ibu jari milik Imayoshi"
Untuk sesaat Kise tercengang dengan benda yang dibawa Takao. Bagaimana tidak? Apa yang kau pikirkan jika melihat potongan tubuh seseorang –terlebih orang yang kau kenal, mengambang di dalam sebuah botol?
"Jangan terlalu terkejut. Sebenarnya malam ini kita akan membuat sebuah rencana dengan mereka berdua dan aku hanya mengetes pertahanan kepolisian di markas mereka tadi pagi"
"Kau gila?! Di sana banyak polisi, bagaimana kalau kau tertangkap?!"
"Ya, tapi mereka tak sekeren itu sampai bisa menangkapku. Memang cukup sulit untuk menerobos sampai ke ruang forensik, ada dokter yang biasanya berjaga di sana dan dia sangat waspada, dia lumayan tampan ngomong-ngomong. Aku masuk saat dia sedang keluar menghampiri polisi yang aku ceritakan di telepon, ingat?"
"Maksudmu yang berkeliaran di sekitar flatku?"
"Ya, yang itu. Dan kau tahu apa yang kulihat?"
"Apa? Ibu jari? Mayat? Entahlah!"
"Tepat sekali! Dokter itu mengawetkan mayatnya, bahkan Imayoshi tak membusuk sedikitpun! Padahal dua bulan sudah berlalu. Bukankah itu keren?"
"Entah kenapa kau jadi terlihat seperti penggemar dokter itu"
"Oh! Bukan begitu, aku hanya sedikit mengagumi kemampuannya, ya hanya itu. Tipikal orang yang terlalu serius, sulit diajak bercanda. Tapi sejujurnya aku penasaran dengan ekspresinya ketika dia tahu kalau mayat yang diawetkannya susah payah tiba-tiba kehilangan ibu jarinya"
Kise menelan salivanya, entah mengapa mendengar cerita Takao membuat perutnya sedikit mual. Kalau dia ada di posisi Takao, melihat mayat Imayoshi lalu memotong ibu jarinya, memasukkannya ke dalam botol berisi formalin, rasanya itu sedikit menjijikan.
"Memangnya untuk apa kau memotong ibu jarinya? Seandainya dia masih hidup, kau pasti langsung dibunuh olehnya"
"Itukan hanya seandainya, kenyataannya dia sudah mati, jadi tak masalah"
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Ada pertemuan rahasia. Kita akan menggunakan ruangan di ruang bawah tanah bar ini untuk membicarakannya. Ya, dan barang itu kuncinya"
"Maksudmu?"
"Sidik jari Imayoshi. Bagaimanapun juga dia mantan pemimpin kita. Ya, aku tidak terlalu yakin sih itu masih bekerja atau tidak, tapi hanya itu satu-satunya kunci untuk membuka pintu tanpa harus menjebolnya"
Takao menyeruput pinggir gelasnya yang dibumbuhi garam. Kise memperhatikannya dan mengerenyit, membayangkan rasa cocktail yang disajikan dengan garam itu di mulutnya.
"Oh! Aku baru ingat, aku tidak bermaksud menguping sih, tapi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dokter dan polisi itu. Entah aku salah dengar atau tidak, tapi sepertinya polisi itu menyebut namamu di depan mereka"
"Benarkah?"
"Ya, dan aku jadi teringat kemarin malam soal polisi itu yang berkeliaran di dekat flatmu. Kusarankan kau untuk pindah rumah saja sebelum mereka menyergapmu di sana"
"Akan kupikirkan. Tapi jika kau menyarankannya, bantu aku untuk mencari flat baru yang harganya masih terjangkau"
"Tak masalah"
Setelahnya Kise terdiam. Teringat pada pesan singkat di bawah ponselnya. Siapa yang bertamu ke flatnya? Siapa yang menulis pesan singkat itu untuknya? Tak ada gambaran sedikitpun soal si pengirim di memorinya.
"Hey! Sedang melamunkan apa?"
Takao membawanya kembali pada kenyataan.
"Aku ... bingung. Sepertinya ada yang datang ke flatku semalam, tapi aku tak ingat siapa"
"Kau serius?! Seperti apa tampangnya?!"
"Sudah kubilang aku tak ingat apapun, aku mabuk kemarin, kepalaku pusing dan ... ya, ini juga salah satu alasan kenapa aku tak ingin mabuk malam ini"
"Lalu bagaimana kau bisa mengatakan kalau ada orang yang masuk ke flatmu?"
"Aku hanya menyimpulkan dari beberapa hal yang ganjil di flatku ketika aku bangun. Ada secarik kertas bertuliskan 'Aku pulang' di bawah ponsel, ada botol air mineral di atas meja, dan ada sisa-sisa busa sabun di kamar mandi dan pintu flatku tidak terkunci. Menurutmu apa itu masuk akal jika ada hal-hal tersebut sementara aku baru saja bangun?"
"Ada barang yang hilang atau apa? Bisa saja dia pencuri"
"Sudah aku cek. Tidak ada yang hilang"
"Aku akan meralat usulku yang tadi. Kau memang harus pindah, tak terkecuali"
ooOOOoo
Aomine menjatuhkan dirinya di atas landasan helikopter yang sedikit kasar. Angin yang menerpanya lebih kencang dari pada saat di taman tadi. Matanya menatap langit yang ditutupi awan-awan semu kelabu.
"Sepertinya akan turun hujan" pikirnya.
Pria itu menyilangkan tangannya di belakang kepala. Menjadikannya bantal untuk menopang kepalanya. Masa bodoh dengan hujan yang akan turun nanti, dia sudah menemukan posisi yang menurutnya nyaman.
Hal tentang Kise membuatnya dilema. Entah dia harus senang karena mengetahui bahwa Kise masih ada di ... Jepang atau dia harus sedih karena sikap Kise yang jauh berbeda. Oh! Dan Aomine juga tak pernah mendengar akhiran "-ssu!" lagi dari nada bicaranya. Dia bahkan tidak ingat siapa Aomine. Mungkin Kise mabuk? Ya, memang, tapi apakah Kise memang melupakannya? Aomine penasaran dan ingin tahu.
Mata birunya menatap awan-awan yang berputar dan awan-awan lain datang untuk berkumpul, menambah diameter lingkaran abu-abu itu semakin lebar. Angin bergerak semakin kencang dan titik-titik hujan benar-benar turun. Untuk sesaat Aomine membiarkan tubuhnya dibasahi gerombolan air itu, tapi dia cepat-cepat bangun dan pergi dari landasan helikopter yang tanpa atap ketika butiran-butirannya semakin besar.
"Ah! Sial! Kenapa harus turun sekarang, padahal tadi sedang enak-enaknya"
ooOOOoo
Pembicaraan Kise dan Takao terhenti ketika dua orang lainnya datang. Maksudnya orang yang dari tadi mereka tunggu dengan mengobrol untuk membunuh kebosanan. Haizaki dan Hanamiya, kondisinya tak jauh berbeda dari Takao ketika pertama tiba tadi. karena hujannya benar-benar deras.
"Hey Takao! Kau sudah mengambil kuncinya?" tanya Hanamiya.
Rupanya hanya Kise saja yang tidak tahu kalau malam ini ada pertemuan untuk membahas "Sesuatu". Tapi, Kise berpikir mungkin saja dirinya lupa, karena sepertinya mereka sudah membahasnya kemarin. Dirinya mabuk, ingat? Dia bahkan lupa dengan apa yang dilakukannya kemarin.
"Tentu saja!" jawab Takao pasti.
"Heeeeh, rupanya mereka tidak sekuat yang aku kira. Aku heran kenapa Imayoshi kalah melawan orang-orang bodoh itu"
"Mungkin dia sedang sial"
"Ayolah! Cepat kita ke ruang bawah! Aku mulai muak dengan orang-orang di sini!"
.
.
To be continue/discontinue (?)
