Chapter 5
Aomine meninggalkan pintu di belakangnya terbuka. Berbagai ekspresi kaget dan tak percaya terpampang jelas di wajah anggota polisi lainnya. Oh! Ayolah! Bukan saatnya untuk tetap menjaga image cool seperti biasanya. Maksudnya ... bagaimana mungkin?! Ada penyusup yang menerobos masuk ke markas pusat dan tak seorangpun sadar akan hal itu. Bahkan Midorima menyadarinya setelah tak ada siapapun dan tak ada petunjuk apapun.
Ruangan terang itu terasa panas hingga punggungnya terasa lengket saat Aomine kembali ke ruangannya. Entah sudah ke berapa kalinya Aomine menghela nafas berat. Semua terlalu mendadak dan semua terlalu tidak masuk akal di waktu yang bersamaan.
Kelopak tipis matanya merapat. Mencoba dingin di tengah kabar yang panas. Namun yang Aomine lihat adalah wajah Imayoshi yang tersenyum licik –seperti saat dirinya tertembak dua bulan lalu. Buru-buru kelopak mata itu dia sampirkan, mengeluarkan batu sapphire yang tadi disembunyikan.
Dua kertas dengan dua helai foto terlentang di meja kerjanya. Aomine meraih keduanya dan membawanya dalam jarak pandang. Mengamati lambat-lambat ke setiap bagian sembari mendaratkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Apakah mereka berdua ... akan menyerang?"
ooOOOoo
Takao dan Haizaki menyingkirkan soffa dan meja ke sudut ruangan. Kise dan Hanamiya menyusul di belakang dengan membawa empat kantong plastik. Selesai mengunci pintu, mereka mendudukkan diri, Haizaki menyandarkan punggungnya ke tembok sambil menyilangkan tangannya ke belakang kepala dan membiarkan kakinya terjulur, Takao duduk dengan melipat satu kaki sejajar lantai dan satu betisnya tegak lurus, Kise duduk di samping Takao, menyilangkan kakinya dengan posisi menghadap langsung pada Hanamiya yang duduk di soffa.
"Baiklah, kita sudah punya semua alat dan bahan yang diperlukan. Aku akan membagi bahannya ke dalam beberapa takaran. Takao, untuk pencampurannya kuserahkan padamu"
"Tentu"
"Haizaki akan membuat bagian cover dan Kise akan mengatur di bagian timer"
"Serahkan padaku"
"Um"
Beberapa menit berlalu, semua sibuk dengan tugasnya masing-masing. Memang ada dua kemungkinan yang dapat terjadi dengan bom. Pertama, bom bisa membunuh musuhnya. Kedua, bom bisa membunuh tuannya. Jadi diperlukan ketelitian yang sangat tinggi dalam proses perakitannya. Hanya suara desisan bubuk yang beradu dan benturan besi-besi kecil yang terdengar. Pada titik ini benar-benar tak ada seorangpun yang berani membuka pembicaraan.
ooOOOoo
Momoi Satsuki membuka pintu ruangan kepala divisi bagian kriminal dan saat itu pula dua kepala menoleh padanya. Wanita itu menenteng kotak bekal yang dibungkus kain merah muda dan tersenyum kikuk lantaran kedua pria yang menatapnya tidak mengatakan sepatah katapun.
"Eh! Ada Midorin juga. Errr, kenapa wajah kalian muram sekali? Nih! Aku bawakan bento. Dan ngomong-ngomong kenapa rasanya hari ini lebih ramai ya? Kelihatannya polisi-polisi sedang sibuk mempersiapkan sesuatu"
Respon yang biasa Momoi terima ketika dia menerobos ruang Aomine tanpa mengetuk pintu adalah pria biru itu yang jengkel padanya dan mengomelinya soal etika –padahal Aomine sendiri tak terlalu peduli dengan itu. Namun hari ini berbeda dari biasanya.
"Boleh aku duduk?"
"Duduklah"
"Sejak kapan kau minta izin untuk duduk? Biasanya juga kau duduk tanpa disuruh kan?"
Kakinya melangkah dan mendudukkan diri di sebelah Midorima. Kotak bento yang dibawanya dia taruh di meja. Membuka simpul kainnya dan membuka tutupnya.
"Ayo kita makan siang dulu"
Nada ceria yang selalu meluncur dari bibirnya terdengar garing. Karena kedua pria itu sama sekali tak terlihat kesal ataupun jengkel –seperti respon mereka biasanya. Mereka hanya memandang kotak bekal yang menampilkan makanan berbagai rupa di balik tutupnya.
"Bukan aku kok yang membuatnya. Tapi ibunya Dai-chan, aku hanya membawakannya ke sini"
Bukan, bukan karena jika itu masakan buatan Momoi yang membuat mereka seperti itu. Rasanya perut mereka tak terasa lapar. Dengan kemungkinan semacam akan diserang membuat nafsu makannya menguap. Entah nantinya semua akan benar-benar terjadi atau tidak, tapi setelah semua yang terjadi 80% penjahat-penjahat itu memang akan menyerang.
"Satsuki. Besok jangan datang dulu ke sini"
Iris merah mudanya memandang kaget. Dia melihat Midorima yang bahkan tidak menatapnya balik. Tadinya dia ingin meminta penjelasan, namun rupanya pria hijau itu tak ingin membuka mulutnya.
"Apapun berita yang kau dengar besok. Jangan datang ke kantorku"
"Memangnya kenapa? Biasanya kau tidak pernah mengomel soal aku yang datang"
"Justru karena ini tidak seperti biasanya, jadi aku tidak ingin kau datang besok. Apapun yang terjadi, aku mohon kau jangan datang. Kau akan tahu alasannya nanti"
ooOOOoo
Detik waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam. Empat orang pria meringkuk di soffa. Menggeliat tak nyaman hingga Takao membuka matanya dan mendudukkan diri di lantai. Kise ikut terbangun, mengikuti apa yang dilakukan pria berponi belah tengah itu.
"Kenapa?"
"Kau lihat aku tak bisa tidur. Kau juga begitu kan? Kise?"
"Um, sebenarnya aku tak tebiasa untuk tidur di tempat lain selain di kamarku. Kau?"
"Aku hanya tidak sabar untuk menjalankan rencana kita besok"
Alasan Takao tidak bisa tidur rasanya terlalu sulit untuk Kise pahami. Besok mereka akan menghadapi medan perang dan sejujurnya Kise tidak berharap kalau polisi-polisi itu tahu apa yang mereka rencanakan.
"Maaf, kupikir aku tak pantas untuk menanyakan ini. Tapi boleh aku bertanya soal alasanmu begitu ingin menghabisi mereka?"
Takao terdiam, memandang Kise yang menatapnya bingung. Tatapan Takao membuatnya merasa tidak enak dan berpikir mungkin dia terlalu mencampuri urusan orang lain. Tapi sungguh Kise penasaran karena orang semacam Takao dapat merasa bahagia dengan membantai kumpulan manusia berseragam itu.
"Ahaha, apa perlu aku memberitahumu sampai sejauh itu? Sejujurnya aku tak pernah mengatakan ini pada siapapun"
"Kalau kau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa. Aku hanya penasaran"
Pandangannya terlempar pada delapan bom yang tergeletak di sudut ruangan dan geraman Haizaki saat tidur mulai terasa menganggu.
"Bisa kita ke luar saja? Mungkin tak masalah jika kita tidak tidur di sini. Asalkan kita kembali pagi ini"
"Baiklah"
.
.
Takao mendongkak pada langit malam. Gelap, tapi indah. Bulan memancarkan cahaya keperakkan membentuk tiga gradasi lingkaran yang memudar dan berbaur dengan hitamnya langit. Kise memperhatikan punggungnya dari belakang.
"Kise. Menurutmu apa perlu alasan untuk membenci seseorang?"
Kise berjalan mendekat, mensejajarkan tubuhnya dengan Takao.
"Kau aneh hari ini"
"Begitukah? Aneh bagaimana?"
"Kau tidak terlalu berisik"
"Hmm. Jadi bagaimana menurutmu?"
"Alasan ya. Memang rasanya akan aneh jika kau membenci seseorang tanpa alasan. Kau akan diam jika ada yang bertanya kenapa kan?"
"Tidak juga. Tentu aku punya alasan, tapi aku terkadang bingung. Aku selalu berpikir apakah yang kulakukan ini benar"
"Maksudmu?"
"Mereka membunuh ayahku. Mereka membunuhnya tepat di hadapanku. Berkata seolah ayahku adalah penjahat. Sedangkan yang aku tahu adalah, dia ayahku, dan dia baik padaku. Aku mungkin mempercayai mereka jika ayahku memang bersikap buruk. Tapi dia tidak. Jadi aku ingin membunuh mereka dan membuat mereka menyerahkan nyawa mereka untuk membayarnya"
Kise terdiam. Baru kali ini Kise mendengar kisah pilu dari Takao. Terkadang dia memang bingung karena orang seperti Takao rasanya tidak cocok untuk menjadi penjahat. Dia orang yang ramah dan rasa-rasanya dia orang yang baik juga.
"Tapi Takao, bukankah kau terlalu nekat? Kau bisa saja mati kan? kenapa kau tidak hidup seperti orang-orang biasa saja?"
"Kau pikir aku bisa diam saja? Kalaupun aku mati, setidaknya aku memang mati karena aku memang bersalah"
Keheningan kembali hadir. Angin malam yang berhembus menerobos serat-serat kain yang mereka kenakan. Menyentuh ujung-ujung syaraf yang tersebar di seluruh permukaan kulit.
"Kau pikir aku salah?"
"Huh? Tidak juga. Setidaknya kau memang punya alasan untuk membenci mereka, dan itu hakmu untuk memutuskannya"
Takao melirik Kise yang tersenyum pada bulan. Membiarkan pantulan cahaya matahari itu menyinari irisnya yang sewarna madu.
"Kalau kau bagaimana?"
"Aku?"
"Ah! Tidak. Kalau kau tidak mau memberitahu juga tidak apa-apa. Aku merasa sedikit lega setelah memberitahu ini padamu. Jadi terima kasih"
"Ya, mungkin lain kali. Aku belum siap untuk mengatakannya sekarang"
"Ayo kita kembali"
"Um"
ooOOOoo
Tidak ada satupun dari mereka yang pulang ke rumah masing-masing. Berkurangnya satu orang bisa membuat pertahanan markas melemah. Bahkan Aomine menyembunyikan dua pistol di balik seragamnya dan dua lainnya di sabuk celananya. Aomine tidak tahu bagaimana atau dengan cara apakah penjahat-penjahat itu akan menyerang. Jadi yang bisa dia lakukan hanya mempersiapkan pertahanan semampunya.
"Aku akan kembali ke labku"
Aomine menoleh, menatap Midorima khawatir. Dia yakin kalau dalam dirinya, Midorima juga pasti khawatir. Hari ini akan menjadi menyeramkan dan tempat ini akan menjadi medan perang. Akan ada pertumpahan darah dan mayat-mayat yang menggelepar. Aomine berusaha menguatkan mental untuk menghadapi semua itu.
"Ya, aku akan mengirim beberapa orang denganmu. Untuk berjaga-jaga"
.
.
Semua orang sudah siap pada posisinya ketika matahari mulai meninggi. Memancarkan secercah sinar yang menyorot embun-embun pada kaca jendela. Betapa jantung semua orang berdebar menunggu kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa mereka. Melawannya dengan semangat juang yang haus akan kemenangan.
"Lapor! Semua pasukan sudah siap!"
Seorang anggota polisi menghadap ke arahnya, memberitahu bahwa semua sudah siap.
"Ya, aku akan segera menyusul"
Tinggallah dirinya yang juga seharusnya sudah menyiapkan fisik dan mental untuk apa yang akan terjadi hari ini. Aomine memakai topinya dan melangkah ke luar. Berusaha memenuhi pikirannya dengan strategi atau apapun itu cara untuk menghadapi para pemberontak yang menjadi tamunya hari ini.
.
.
Detik-detik berlalu. Aomine menyebar polisi-polisi ke setiap penjuru, memastikan bahwa tak ada satu orang asing pun yang masuk. Namun semua terhenyak ketika suara ledakkan terdengar dari arah timur. Asap mengepul ke udara, dan suara teriakkan-teriakkan komando untuk bergerak tersebar dari mulut ke mulut.
Ledakkan kembali terjadi tak berselang lama setelah itu. Kali ini terjadi di bagian selatan dan barat, seolah mereka memang berputar mengelilingi markas pusat mengikuti arah mata angin. Seragam-seragam mereka terciprat darah. Senjata-senjata mereka terlontar jauh. Dan tubuh-tubuh mereka menabrak tanah.
"LEDAKKAN!"
"SEMUA BERGERAK!"
Aomine tak pernah menyadari bahwa bom akan menjadi pilihan yang mereka gunakan. Ini akan jadi merepotkan karena mereka sama sekali tak mengetahui di mana penjahat-penjahat itu menaruh bom. Mereka tak membuang waktu lama-lama untuk meledakkan bomnya. Ketika seseorang dengan topeng muncul dari balik kepulan asap dan jelaga-jelaga hitam, beberapa mata gesit melihat dan menaruh peluru di tubuhnya.
Mereka menahan alat geraknya sembari membuka paksa topeng yang melekat di wajahnya. Aomine dihadapkan pada pria berambut abu-abu yang tersenyum miring.
"HAHAHA! Sia-sia saja kalian menangkapku!"
"Haizaki Shogo"
"Owh, rupanya aku cukup terkenal ya di sini?"
Sampai mati pun Haizaki tak akan mau terlihat menyedihkan di mata musuh. Sejak awal mereka sudah tahu konsekuensinya, dan tentu saja ada plan B untuk mengatasi situasi semacam ini. Hanya mungkin Haizaki sedang sial hingga dia harus dipegangi oleh tangan-tangan menjijikan yang mengarahkan senapan ke kepalanya.
"Berapa orang yang ikut denganmu?"
"Introgasi eh? Untuk apa aku memberitahu kalian? HAHAHA"
"Jawab! Apa Hanamiya juga bersamamu?"
"Wew, orang menyebalkan itu? Kalau kubilang ya kenapa? Kalian takut mati?"
DUARRR!
Kali ini kembali bangunan bagian timur yang diselimuti asap. Aomine mengepalkan tangannya, mengeram marah dan jengkel. Apa yang dilakukan polisi-polisi di sana? Kenapa bom masih juga meledak? Menangkap satu orang semacam Hanamiya saja rasanya jadi seperti gerombolan semut melawan satu gajah.
"Ryou! Aku serahkan orang ini padamu. Aku akan menyusul ke bagian timur"
"Siap!"
Aomine berlari, menggenggam dua pistol di tangannya. Ketika dia sampai, dia hampir tersandung onggokkan-onggokkan tubuh berbalut seragam yang sama dengannya.
"Sialan!"
Debu masih menari-nari, membuat pandangannya semakin kabur. Aomine merasa di awasi, sungguh! Namun pekatnya kabut debu dan asap itu benar-benar menghambatnya. Betapa Aomine yakin kalau dia sudah seperti mangsa yang terkepung di dalam perangkap musuh. Sebuah sasaran empuk yang bahkan tidak tahu di mana lokasi harimau akan menyerang.
Lama-kelamaan Aomine dibuat heran karena musuh tidak juga bergerak. Bukan pilihan baik sebenarnya jika dia mengendurkan pertahanannya. Tapi aomine menekuk lututnya dan memeriksa setiap orang yang berbaring di sana. Berharap dia tidak kehilangan lebih banyak lagi pasukkan.
Di balik reruntuhan bangunan yang dilapisi jelaga kehitaman, sepasang mata sedang memperhatikannya, bersembunyi di balik debu yang mulai menipis. Saat Aomine berbalik, matanya bertabrakkan, membuat keduanya terdiam. Pria yang memakai topeng hitam memutus tatapannya duluan dan berlari ke arah yang tak bisa Aomine lihat.
ooOOOoo
Meja kerjanya bergeser menutup akses pintu keluar ketika seorang bertopeng hitam melepaskan diri dan mendorong meja itu sejajar daun pintu. Menciptakan hentakkan yang membuat slot pintu bergeser menahan pintunya tertutup. Hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu. Laboratorium forensik beserta isi alat dan zat kimia di setiap sudut.
"Midorima-san! Midorima-san! Apa yang terjadi!"
Beberapa orang mencoba mendobrak pintu, namun gagal dan Midorima sama sekali tidak peduli dengan polisi-polisi di luar. Dia lebih peduli untuk tidak membiarkan kabur orang yang ada di ruangan bersamanya ini. Jujur Midorima tak habis pikir, bagaimana bisa dia menerobos hingga ke sini?
Trang!
Orang itu melempar beberapa tabung erlenmeyer berisi cairan ke arah Midorima dan berjalan mendekat ke jendela.
"Sepertinya orang ini cukup tahu tentang zat-zat kimia yang ada di sini"
"Midorima-san! Buka pintunya!"
Bunyi bising dari ledakkan yang kembali terjadi memekakkan telinga. Berbaur dengan gedoran pintu yang mulai merusak engselnya. Orang itu sama sekali tidak membuka suara sedikitpun, dan Midorima masih menghindari botol dan tabung-tabung yang melayang ke arahnya. Saat terahir Midorima menyadari hanya cairan alkohol yang tersisa, dia menerobosnya dan menghimpit orang itu di antara dirinya dan tembok. Orang itu berontak dan sempat membenturkan Midorima ke sisi meja dekat pintu.
"Kau yang sebelumnya mencuri jari Imayoshi kan?!"
"..."
DUKK!
Midorima menahan pergelangan tangannya, namun orang itu masih berontak hingga tubuh mereka terjatuh, dan berguling di lantai yang tidak begitu luas. Keduanya menubruk rak hingga bergoyang dan menjatuhkan alat-alat di atasnya. Sebuah pinset meluncur dan menggores pipi Midorima yang tanpa apapun, meninggalkan setetes cairan merah menetes ke dagunya.
"Kau tak bisa lolos. Katakan padaku siapa kau!"
"..."
Orang itu mulai terlihat takut di mata Midorima. Karena perbedaan postur tubuh yang lumayan signifikan, tenaga Midorima tentunya lebih besar. Matanya seakan pasrah ketika Midorima mengarahkan satu telapak tangannya menarik habis topeng di wajahnya. Orang itu memejamkan mata erat, merasa kedoknya sudah tak bisa disembunyikan lagi. Namun dua kata yang terlontar dari mulut sang dokter membuat matanya membulat.
"Takao ... Kazunari ..."
.
.
.
To be continue/discontinue?
.
.
Duh! Saya tidak tahu bagaimana seharusnya saya mengubah imajinasi saya jadi sebuah deskripsi di sini
Saya juga tidak pintar membuat adegan yang buat kokoro tegang
Jadinya malah seperti ini -_-
Gomen!
BTW, selain AoKise saya juga tertarik dengan perkembangannya MidoTaka. Ada yang sehati?
