Chapter 6

Lama sekali Kise berandai-andai sembari menatap awan. Oh! Terlihat halus dan lembut melayang di atas sana seperti permen kapas yang sering dimakannya saat masih kecil. Ia ingin terbang, menolak gravitasi yang terus menariknya ke bawah. Untuk itulah mengapa saat Aomine bertanya padanya, apa cita-citanya kelak, Kise dengan mantap menjawab "Pilot, aku ingin menjadi pilot-ssu!".

Rerumputan bergoyang dipoles lembayung senja yang semu merah muda. Dua pemuda yang melemaskan tubuhnya di sana membincangkan masa depan. Masih mengenakan jaket olah raga yang warnanya kontras dan sebuah bola oranye berputar di telunjuk.

"Kalau Aomine-cchi ingin menjadi apa ketika sudah lulus nanti?"

"Hmmm? Apa ya? Mungkin polisi atau semacamnya"

"Kau harus disiplin jika ingin jadi polisi. Kerjaanmu kan hanya tidur dan membolos pelajaran"

"Oi! Bukannya kau juga sering tidak masuk karena pemotretan?"

"I-itu berbeda-ssu! Aku izin, tidak bolos sepertimu!"

"Lihat saja nanti!"

"KISE!"

Sial! Aomine mengutuk mimpi yang lagi-lagi membuatnya terbangun. Setelah degupan jantungnya cukup reda, matanya memandang sekitar. Tak ada yang berbeda, dan rupanya dia tertidur di atas meja kantornya. "Ah! Memalukan sekali" pikirnya ketika dia sadar sepenuhnya kalau ini bukan waktunya istirahat.

Dua lembar kertas menarik fokusnya. Dua pasang mata menatap padanya di atas carik itu. Aomine muak, sungguh! Mengapa disaat-saat krisis seperti ini pikirannya malah bercabang. Dan pria bersurai kuning itu terlalu mendominasi otaknya.

Aomine jadi teringat terakhir kali dia bertemu Kise. Entah beberapa hari setelah Imayoshi terbunuh atau sudah bertahun-tahun yang lalu. Tak ada yang percaya padanya kalau pria itu ada, bahkan Midorima dan Momoi menyangkal kalau Aomine hanya salah lihat. Ayolah! Bagaimana mungkin Aomine menyangkalnya kalau malam itu dia mampir ke flat yang Kise tempati? –jika itu memang benar-benar Kise.

Nekat dia membawa Midorima dan Momoi dengan sedikit paksaan untuk mengecek sendiri kalau orang itu benar-benar Kise. Dia membawa keduanya ke flat yang waktu itu. Dengan begitu mereka akan percaya kan? Namun sialnya Aomine, flatnya kosong saat mereka tiba di sana.

Kembali pada dua foto yang dicetak di atas kertas itu. Keduanya pria, satu pria berambut hitam cukup panjang hampir seleher dan yang satunya berambut abu dengan tindikan telinga. Komplotan, satu kata yang langsung terpikir olehnya. Setelah Imayoshi bertindak, kemungkinan besar antek-anteknya pun akan berbuat ulah. Dan yang membuat Aomine bingung, tak ada satupun orang yang bisa menemukan mereka.

Aomine mengambil salah satu lembaran itu, menatapnya lama-lama dan membaca beberapa keterangan yang tertera. Di sana tertulis nama Hanamiya Makoto dan beberapa tindak kriminal yang pernah dilakukannya. Sebagai contohnya, dia berhasil merampok sejumlah bank ternama dengan cara yang tak pernah diketahui bagaimana. Itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu bahkan sebelum dirinya menjadi polisi dan penyelidikan dihentikan begitu saja.

Aomine mengambil lagi kertas yang satunya. Tulisan Haizaki Shougo bertinta merah menarik pandangan Aomine. Riwayat kriminal berupa pembunuhan, dan penjualan organ-organ manusia sudah terungkap, hanya saja polisi tak berhasil bermain hide and seek dengan pria itu dan pasrah menerima kekosongan.

Sosok Imayoshi Shoichi muncul di antara keduanya. Menjadi pusat dari segitiga –mungkin, yang kemudian memimpin mereka semakin brutal. Imayoshi Shoichi adalah seorang pembunuh bayaran. Aomine baru mengetahui sosoknya sekitar setahun yang lalu ketika tiba-tiba terjadi tiga pembunuhan di tempat yang berbeda. Satu korban digorok di leher, satu korbannya terkoyak di abdomen, dan korban ketiga berakhir tragis dengan mata, lidah dan isi perut berhamburan.

Penjahat-penjahat sekarang memang punya banyak ide busuk. Aomine sendiri tak pernah memikirkan untuk membuat konsep tentang cara membunuh. Hey! Kau pikir hal seperti itu lucu? Rasanya tidak.

Sebuah tarikan nafas menandakan betapa lelah Aomine mengurusi hal-hal bodoh semacam ini.


ooOOOoo


Kedua pria itu saling menatap. Lensa di balik dua bingkai kacamata terfokus pada irisnya yang terkejut. Tanpa sadar belahan bibir pria berjas putih itu kembali berucap.

"Takao ..."

Terlalu terkejut hingga yang disebut hanya bisa terperangah kaget.

"Kau Takao kan? Jawab aku Takao ..."

"..."

"Takao Kazunari ..."

"Lepaskan aku!"

Takao mencoba menarik pergelangan tangannya, tapi nihil, tenaganya pun terasa tiba-tiba menguap. Takao pikir tak ada yang tahu apapun soal dirinya. Takao pikir tak akan ada orang yang bisa mengenalinya di sini meskipun dia tidak menyembunyikan wajahnya. Tapi kenapa orang ini ... tau.

"Ini aku Midorima! Midorima Shintarou!"

"Mi –Midorima?"

Keningnya mengerenyit. Lalu rautnya berubah dan tatapannya beralih. Angka-angka merah tertera di layar sebuah alat yang beberapa menit lalu dipasangnya di balik bed mayat Imayoshi. Hitungan mundur terus berjalan. Tiga menit lagi dan masih terus berkurang.

"Jawab aku Takao!"

"Midorima ... Shintarou ..."

Saat Takao mengucapkan namanya, cengkramannya melemah dan Takao tidak tahu kalau efeknya akan sebesar itu hingga dia berhasil merubah posisinya berdiri sedangkan dokter itu memegang bahunya yang mulai mengeluarkan darah. Mengerang kesakitan saat Takao mengambil pisau di balik sabuk pinggangnya dan menggores kulit pria itu agak dalam.

"Takao! Akh!"

Takao menatap ngeri. Dia belum ingat. Siapa? Kapan? Dan yang mana? Sungguh membuatnya bingung. Tapi ingatannya tentang hitungan mundur tadi mengambil alih tubuhnya. Dia menatap ke sekeliling –tak peduli pada pria lain yang terus memanggilnya. Sebuah jendela kaca menarik perhatianya dan dia berjalan mendekat. Dia menoleh ke belakang sebentar.

"Takao!"

TRANG!

DUARRR!


ooOOOoo


Aomine menyandarkan tubuh-tubuh polisi lain yang dirasanya masih hidup. Debu-debu di sekitarnya mulai berkurang, memperlebar jarak pandangnya lebih jauh. Seorang polisi datang menghadap ke arahnya dan menempatkan ujung-ujung jarinya di pinggir alis.

"Lapor! Ada 4 orang penyusup ke markas pusat. Total bom yang ditemukan ada 8, tiga diantaranya berhasil dijinakkan dan tidak ada tanda-tanda bom yang tersisa. Tersangka Haizaki Shougo meledakan dirinya. Tiga orang polisi ikut tewas saat kejadian. Hanamiya Makoto berhasil ditangkap hidup-hidup. Sedangkan dua lainnya berhasil kabur"

"Kau menemukan identitas dua orang yang kabur?"

"Tidak! Tidak ada yang melihat wajah ataupun mengenal mere- ..."

Suara itu seakan hilang ketika Aomine menyadari sumber asap yang membumbung tinggi dari ledakan terakhir.

"Mi ... Midorima!"

Aomine berlari secepat yang ia bisa. Pikirannya mengatakan "Semoga firasatku salah!" berulang-ulang. Ruangan itu hampir sulit dijangkau kalau melewati gerbang manapun. Tapi kenapa bisa di sana?

"Pak Kepala!"

Jelaga-jelaga hitam kembali mengganggu nafasnya.

"Midorima!"

Aomine mengipas-ngipas asap di sekitarnya. Samar-samar matanya melihat polisi-polisi yang tadi diperintahnya untuk ikut dengan Midorima. Mereka semua tergeletak, bahkan Aomine melihat ada beberapa bagian tubuh mereka yang terpisah.

"OI! MIDORIMA!"

Kalau saja Aomine tidak menggunakan sepatu yang tebal, mungkin pecahan-pecahan kaca sudah menancap di telapak kakinya. Puing-puing berjatuhan, menimpa tubuh-tubuh di bawahnya tanpa perasaan.

"MIDORIMA!"

"Sialan!"

Beberapa bagian yang terbuat dari kain mulai termakan api. Meskipun tidak terlalu besar, mungkin disebabkan karena alkohol atau semacamnya. Zat-zat kimia memang banyak yang rentan api, bahkan mereka dapat meledak sewaktu-waktu, jadi Aomine harus cepat.

"Midorima kau di mana?!"


ooOOOoo


Dari kejauhan Kise dapat melihat Takao berlari ke arahnya tanpa mengenakan topeng. Wajahnya seperti ketakutan sekaligus bingung. Kise jadi merasa khawatir, karena Takao tidak biasanya seperti ini. Lalu Kise teringat, mungkin seseorang telah mengetahui wajahnya. Kalau begitu, bisa jadi Takao menjadi buronan kan?

"Lewat sini Kise! jalur ini lebih cepat"

Masih sedikit bingung, tapi Kise hanya menurut saja. Karena kabur adalah prioritas utama mereka saat ini. Baguslah otak Takao masih berfungsi walaupun kelihatannya beban di kepalanya sudah menumpuk.

"Kau tidak apa-apa Takao?" tanyanya masih sambil berlari.

Takao tidak menjawab, jadi Kise memutuskan untuk menanyakannya nanti saja ketika keadaan sudah aman kembali.

.

.

.

BRUKK!

Takao menyandarkan tubuhnya di soffa ruangan pertemuan mereka. Nafasnya masih terengah-engah. Kise menyusul dengan nafas yang juga terengah. Dia mendekat ke arah tembok dan membiarkan punggungnya ditopang bata yang dipoles semen itu.

Beberapa waktu mereka lalui dengan hanya diam dan mengatur nafas. Tangan Takao yang menggapai-gapai di sela-sela soffa menarik perhatian Kise.

"Di mana sih dia menaruhnya!"

Takao menggerutu sambil mencari sesuatu yang Kise tak tahu. Rupanya Takao memang tidak baik-baik saja. Dilihat dari wajahnya saja dia seperti takut, kaget, bingung, dan entah emosi apa yang ada di dalamnya.

"Kau mencari apa sih Takao?"

"Ah! Ini dia! Sialan! Kenapa sulit sekali menemukan benda ini!"

Takao mengeluarkan isi dari kotak yang daritadi dicarinya. Kise membulatkan matanya. Hey! Ada yang tidak beres.

"Oh ayolah! Kau serius akan melakukan itu Takao?"

Kise ikut mendudukkan dirinya di sebelah Takao. Menatap kaget pria berambut hitam itu yang menyelipkan segulung cengkeh yang dibungkus di sela bibirnya. Lalu sepercik api menjawab pertanyaan Kise yang bahkan tidak repot-repot diucapkan.

Dia menghisapnya keras-keras hingga rasanya merasuk ke dalam paru-parunya yang berongga. Dan keluar dalam bentuk kepulan asap tipis yang kemudian terurai di udara.

"Kau ini kenapa? Aku tak pernah melihatmu merokok sebelumnya. Kau pernah bilang kalau kau bukan perokok"

"Memang, tapi aku melakukannya sesekali"

Mata madunya terpaku padaTakao yang menyibukan diri dengan benda penuh nikotin itu. Demi apapun Kise baru melihat Takao berani separah ini. Dia berantakan. Berguman sendiri. Dan menjawab sendiri pertanyaannya.

"Hey! Takao?"

"Argh! Sialan!" ucap Takao tiba-tiba. Dia menyisir rambutnya dengan jari dan menariknya ke depan. Terlihat frustasi.


ooOOOoo


Wanita merah muda itu berlari tergesa. Menerobos masuk dalam kekacauan yang sangat parah di hadapannya. Semua terjadi ketika berita mulai mengambil alih seluruh channel televisi yang ada. "TEROR DI MARKAS KEPOLISIAN PUSAT!" bagaimana tidak kaget wanita itu melihat kabar seperti ini? Dan benar saja, semua terlihat jelas ketika dirinya tiba di halaman penuh manusia. Baik yang hidup, luka-luka, sekarat, bahkan yang mati.

Matanya sudah berkaca-kaca. Dia takut tapi juga khawatir. Dia ingat larangan Aomine yang mengatakan untuk tidak datang ke markas. Jadi ini alasannya? Ya, dia tahu sekarang. Tapi dia tidak bisa hanya diam di rumah tanpa melakukan apapun. Dia harus melihat sendiri keadaannya. Harus.

"Aomine-kun?!" dia benar-benar serius.

Uhuk! Uhuk!

"AOMINE-KUN?!"

Asapnya sudah berkurang tapi debunya masih melayang-layang. Terkadang tanpa sadar bergerak ke mata dan membuat perih. Wanita itu melihat beberapa ambulance melintas tak jauh darinya. Dia mengikuti kemana suara ambulance itu pergi. Saat itu dia menemukan seorang Aomine Daiki di sana.


ooOOOoo


Ini sudah rokok yang ketiga. Lama-kelamaan Kise mulai muak melihat Takao yang sangat –sangat berantakan. Jadi dia menarik selinting rokok yang masih dihisap Takao dengan paksa.

"Sudah Takao hentikan!"

"Kau ini apa-apaan sih Kise?! Itu milikku!"

"Bukan. Ini milik Hanamiya. Kau tak boleh seenaknya"

Takao memandang Kise sebentar.

"Biar saja! Lagipula dia tak ada di sini!"

"Aku tak mengerti kenapa kau jadi tiba-tiba bodoh. Atau sebenarnya dari awal kau memang bodoh?!"

Demi apapun Kise tak pernah berniat untuk mengatakan hal-hal semacam itu. Ataupun membentak Takao. Dia hanya tidak ingin melihat pria ceria itu murung.

"Ayo minum ini"

"Apa itu? Alkohol?"

"Bukan. Hanya air mineral. Tenangkan dulu dirimu. Setelah itu ceritakan semua padaku"

Kise menyodorkan sebotol air yang awalnya hanya ditatap oleh Takao sebelum akhirnya pria itu meneguk isinya hingga habis setengah.

.

.

.

"Hey Kise ..."

"Ya, ada apa?"

"Ingat dokter yang waktu itu kuceritakan?"

"Hmm. Kenapa dia?"

Keningnya mengerenyit seolah dia sedang berpikir. Takao merapatkan jari-jari tangannya dan menaruhnya di atas kaki.

"A-aku ... Argh! Aku bingung harus mulai dari mana"

"Kau bertemu dengannya?"

"Ya. Tapi apa kau tahu?"

"..."

"Dia membuka topengku. Aku terdesak saat itu, tubuhnya lebih besar dariku. Tapi dia tidak terlalu pandai berkelahi. Aku berhasil melukainya"

"Lalu apa yang membuatmu cemas? Kau kan berhasil kabur. Apakah ada orang lain yang melihatmu selain dokter itu?"

"Sepertinya tidak. Bukan itu masalahnya"

"Maksudmu?"

"Dia tahu Kise! Dia tahu namaku! Dia menyebut namaku, bahkan sebelum aku tahu namanya. Kenapa dia bisa tahu namaku? Aku bahkan baru bertemu dengannya. Kupikir aku belum jadi buronan seperti Haizaki atau Hanamiya"

Kise terdiam. Ini memang tidak masuk akal. Seingatnya Takao tak pernah gagal dalam urusan menyusup dan kabur. Tapi mengapa yang sekarang sampai separah ini? Dan mengapa dokter itu bisa tahu tentang Takao?

"Mungkin bukan itu alasan dia tahu, bisa jadi ada alasan lainnya kan?"

"Dia terus-terusan menatapku sambil menyebut namaku yang bahkan aku tidak tahu apa maksudnya. Ketika aku sudah terpojok, dia memberitahuku namanya seolah dia ingin aku ingat siapa dirinya. Lalu aku lihat timer di bom yang sudah kupasang di sana. Waktunya tinggal sedikit, aku tak tahu harus melakukan apa, aku tak bisa bergerak. Lalu aku coba mengingat siapa dia, mungkin aku memang lupa atau bagaimana, jadi aku menyebutkan nama yang dia katakan sebelumnya dan pegangannya melemah. Aku berhasil melukainya dengan pisau dan kabur lewat jendela, dia masih menatapku terus"

"Dan kau ingat?"

"Tidak! Tapi aku masih merasa dia terus menatapku"

"Bukankah dia ada di sana saat bomnya meledak?"

"Ya, memang"

"Kalau begitu anggap saja dia sudah mati"

"Kuharap juga begitu. Tapi maksudku-, bagaimana kalau ternyata dia masih hidup? Atau ternyata aku memang mengenalnya?"

"Jadi intinya. Kau ini maunya apa? Dia mati atau tidak? Berdoalah sesuai harapanmu, siapa tahu kau beruntung"

Seketika Takao diam. Kise menatapnya dengan alis terangkat. Terlihat sekali kalau ia mulai bosan dengan perbincangan yang intinya hanya dokter itu tahu Takao tapi Takao merasa tidak mengenalnya.

"A-aku-"

"Sudahlah! Lupakan itu. Yang lebih penting lagi, sini! Kuobati lukamu dulu"

Takao hanya diam. Saking panasnya otak Takao hingga dia bahkan tidak merasakan sedikit cairan kental yang mulai merembes di sekitar bahunya. Meskipun tidak terlihat karena pakaiannya hitam tapi rasa perihnya mulai terasa. Takao berpikir, luka itu pasti di dapatnya ketika dia mendobrak kaca jendela, dan saat dia membuka bajunya dia melihat kedua pergelangan tangannya yang memerah.


ooOOOoo


Di tengah debu-debu yang beterbangan Aomine sangat gusar karena tak kunjung menemukan Midorima di sana. Ini buruk –sangat. Aomine bahkan tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada pria itu. Dia yang memintanya untuk masuk di hari liburnya dan lihat apa yang terjadi akibat keputusannya itu? Aomine merasa sangat kacau.

"MIDORIMA?!"

"Pak Kepala! Aku menemukannya!"

Cepat-cepat Aomine menoleh. Dia berjalan ke arah polisi lain yang tadi memanggilnya. Kemudian beberapa orang ikut datang membantunya. Jas putihnya kekotoran debu dan darah. Sebelah lengannya tertimpa reruntuhan dan perutnya tertancap besi. Aomine nyaris terkena serangan jantung ketika melihat seonggok tangan tergeletak di dekat Midorima, tapi beranjak tenang ketika melihat ibu jarinya tidak ada. Aomine tak pernah bersyukur sebanyak ini karena tahu kalau itu tangan Imayoshi.

Tim kesehatan datang membawa tandu dan memeriksa dokter itu cepat. Midorima bahkan sudah tak bergerak, mereka mengangkatnya ke atas tandu dan cepat membawanya ke dalam ambulance.

"Aomine-kun?!"

Aomine terkejut, tentu saja.

"S-Satsuki?! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?! SUDAH KUBILANG UNTUK JANGAN DATANG KAN?!"

"AKU TIDAK MUNGKIN DIAM SAJA DI RUMAH! AKU MENGKHAWATIRKAN KALIAN?!"

"TAPI INI BERBAHAYA! BAGAIMANA KALAU-"

Seketika Aomine berhenti dan menatap Momoi yang terpaku pada sesuatu di belakangnya. Mata birunya menoleh dan mendapati Midorima yang terluka serta beberapa orang yang mengerumuninya.

"Argh! Kenapa semua jadi seperti ini?!"

"Cepat Satsuki, masuk! Kau ikut dengan Midorima ke rumah sakit dan kabari aku jika kalian sudah sampai"

"Tapi, Dai-chan?"

"Sudah cepatlah! Aku harus membereskan kekacauan di sini dulu. Nanti aku menyusul!" pria itu mendorong Momoi gusar dan kendaraan itu melaju.

Aomine menatap bayangan itu hingga menghilang di kejauhan dan teringat tatapan mata yang beberapa waktu lalu menatapnya.

"Kise ..."


To be continue/discontinue?


Maafkan saya yang updatenya kelamaan :")

Dan saya juga bingung kenapa ceritanya jadi seperti ini ...