Chapter 7
Malam ini Kise membiarkan Takao untuk bermalam di flat barunya. Meskipun agak sedikit sebal, Kise tak bisa membiarkan Takao yang masih seperti orang depresi sendirian. Kau tahu orang yang sedang dalam keadaan seperti itu bisa saja nekat melakukan apapun. Dan Kise tak mau terjadi hal-hal yang buruk pada pria itu.
Dia tidak tidur dengan nyenyak, nampaknya dokter itu benar-benar mengubah Takao begitu besar. hal yang Kise tahu baru tentang nama, entah masih ada hal lainnya atau tidak. Pria pirang itu membiarkan temannya menguasai tempat tidurnya sementara ia berencana untuk terjaga sepanjang malam.
Layar televisi yang terlihat sedikit bergelombang menemaninya yang terduduk di soffa berukuran sedang. Dia menempatkannya tepat di depan televisi. Kise menyandarkan punggungnya sembari mengganti-ganti channel melalui remote yang dipegangnya.
"Ah, sial! Tak ada siaran yang menarik."
Dia melemparkan remotenya ke sisi tempat duduknya yang kosong. Channelnya berhenti di acara drama tidak bermutu yang diperankan remaja. Tapi jika Kise melihat alurnya, mungkin itu kurang cocok untuk menjadi acara televisi. Adegan yang dimainkan agaknya lebih cocok diperankan orang dewasa yang sudah menikah.
Pada akhirnya Kise lebih memilih menggantinya dengan musik-musik klasik dari CD yang dibelinya seminggu yang lalu. Menekan play lalu beranjak ke dapur dan mengambil sebotol wine beserta gelasnya.
Kise menutup pintu kamarnya dan menambah volume musiknya agak keras. Dia tidak ingin mengganggu Takao tapi juga tidak ingin terlalu hening. Dia berpikir mungkin dia terlihat kesepian dan ingin suasana yang tenang dan nyaman, jadi dia mematikan lampu dan menyalakan sebatang lilin yang ditempatkannya di meja.
Cairan merah keunguan menuruni lengkungan gelas yang bening. Kise mengangkatnya ke arah api di sumbu lilin yang menggeliat. Lalu dia berguman "Cheers,", kemudian meneguknya. Merasakan cairan itu menuruni kerongkongannya dan membuat perutnya terasa hangat.
Lagu klasiknya terdengar seperti lagu dansa dan Kise memejamkan mata sambil mengetuk-ngetuk jarinya di paha, mengikuti alunan instrumen yang berirama. Saat dia membuka mata, segelas wine yang tadi dituangnya sendiri menyambutnya. Kise tersenyum kecil, mengambil gelasnya dan menghirup aroma anggur yang menguar dari dalam gelas.
"Hey, kau sedang apa?"
Kise menoleh dan melihat Takao berdiri di depan pintu kamar.
"Ah! Maaf, apa aku membangunkanmu?"
"Tidak juga."
Takao berjalan mendekat dan mendudukan dirinya di soffa di mana Kise melempar remote tadi. Takao memindahkannya ke meja lalu menatap Kise.
"Wine?"
"Boleh aku meminumnya langsung dari botol?"
Kise terdiam agak lama. Takao mengangkat kedua alisnya.
"Jangan. Akan kuambilkan gelas."
Kise beranjak dari tempat duduknya dan mengambil satu gelas lagi untuk Takao.
"Kau sebenarnya sedang apa? Merayakan sesuatu?"
"Huh? Aku? Hanya sedang menikmati wine, tak ada hal penting."
"Menikmati wine? Sendirian?"
"Tidak."
"Huh?"
"Aku bersama diriku, pikiranku, wine dan musik."
Takao memutar bola matanya jengah.
"Belum move on dari masa kecil?"
"Kau pikir anak kecil akan minum wine?"
"Dulu aku meminumnya, kalau kau ingin tahu."
"Lalu maksud Shin-chan itu apa? Kau sendiri masih seperti anak kecil."
Kise mendengar Takao mengumamkan kata itu ketika dia tidur. Dan membuatnya berpikir kalau Takao terkadang seperti anak-anak yang ingin dewasa.
"Maksudmu?"
"Oh ayolah Takao! Akui saja kalau kau masih menonton anime anak kecil berkonten dewasa tersebut! Kalau kau mau, aku bisa membelikan CDnya untukmu. "
Takao terdiam cukup lama. Sejujurnya dia tidak mengerti maksud Kise. Sejak kapan dia membahas soal anime.
"Tunggu Kise, aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu?"
"Argh! Sudahlah! Lupakan saja. Toh! Itu tidak penting juga."
ooOOOoo
Hari menjelang malam. Matahari bersembunyi dan bulan sudah menggantikan posisinya. Bintang-bintang tidak terlihat, hanya awan kehitaman yang bergumpal-gumpal menghiasi langit saat itu. Aomine menatap kekacauan yang tersuguh di sekelilingnya. Banyak puing-puing bangunan yang hancur dan beberapa bagian yang terbakar meninggalkan bekas-bekas hitam di temboknya yang dicat cerah.
Setelah kekacauan di markas kepolisian pusat hampir selesai. Ketika semua korban sudah dievakuasi dan bantuan dari sektor-sektor lain sudah datang membantu, Aomine memanggil polisi yang tersisa mendekat. Memberikan tugas akhir untuk hari ini dan menyerahkannya pada mereka.
"Ryou! Kabari aku jika ada sesuatu. Aku akan ke rumah sakit untuk melihat yang lain."
"Hai!"
.
.
Aomine mengendarai mobilnya dengan agak tergesa-gesa. Dia mungkin tidak terlalu akrab dengan Midorima, tapi Midorima adalah temannya sejak Aomine duduk di bangku sekolah menengah pertama. Terlebih lagi, mereka sama-sama bekerja di tempat yang sama dan Aomine sangat menyesali bahwa dirinya yang meminta Midorima untuk tetap masuk di hari ini.
Mobilnya sampai 30 menit kemudian. Aomine memarkirkannya di tempat yang tersisa dan bergegas masuk. Dia berlari meskipun dia tahu tidak boleh berlari-lari di dalam rumah sakit. Tapi apa pedulinya kalau keadaan sedang gawat begini? Terlebih dia masih mengenakan seragam.
Momoi terduduk menangis di depan ruang Unit Gawat Darurat. Aomine mendekat dan mengatur nafasnya yang terengah.
"Satsuki? Bagaimana Midorima?"
Dia menggeleng. Aomine memegang bahunya dan menanyakannya sekali lagi.
"Satsuki! Apa yang terjadi?!"
"Aku tidak tahu! Mereka bilang padaku untuk menunggu!"
Aomine melepaskan bahunya perlahan dan menunduk.
"Maaf membentakmu Satsuki ..., aku tidak bermaksud untuk begitu."
Momoi masih menangis dan menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya. Aomine mendudukkan diri di sampingnya dan mengusap punggungnya. Momoi mendekatkan dirinya pada Aomine dan menangis di sana, membenamkan wajahnya ke baju Aomine yang berlumuran debu.
ooOOOoo
Takao memutar-mutar gelas winenya hingga cairan itu membentuk pusaran. Musik klasik masih mengalun dan remang-remang lilin yang membuat bayangan bergoyang.
"Hey, Kise ..."
"Hm?"
"Sudah ingin cerita?"
"Cerita? Soal apa?"
"Alasanmu membenci kepolisian?"
"Oh, kukira apa. Hmm, sebenarnya tak ada alasan khusus. Aku juga tidak membenci mereka."
Takao tertawa jenaka. Tidak habis pikir soal omongan Kise. Jika memang masih tidak mau cerita kenapa tidak bilang saja dia belum mau ketimbang dia bilang tidak membenci mereka? Bukankah tindakannya kemarin; sekarang sudah pukul 02:00 a.m, jelas-jelas menunjukan kalau dia juga tidak menyukai mereka?
"Jangan membuatku tertawa Kise. Bilang saja kalau kau memang tidak mau cerita."
"Aku senang kau tertawa, tapi sejujurnya aku tidak senang kalau kau menertawakanku."
"Lalu?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Awalnya kupikir aku memang membenci mereka, tapi saat melihat mereka, aku malah semakin bingung. Rasanya ada sesuatu yang tidak sesuai dengan diriku saat aku di dekat mereka."
"Itu alasanmu kau menanyakannya waktu itu?"
"Ya, kupikir kau sama sepertiku, tapi nampaknya kau memang punya alasan 'kan?"
"Lalu untuk apa kau ikut membantai mereka kemarin?"
"Aku mencari jawaban."
"Konyol."
"Ya. Kau benar."
ooOOOoo
Pagi menyapa saat cahaya memasuki sela-sela ventilasi yang dibingkai petak-petak. Midorima terbaring di sana dengan masker oksigen, menggantikan letak kacamata yang biasanya terpasang di sana. Momoi mengganti air di vas bunga dengan air yang baru. Matanya masih sembab akibat menangis semalaman. Aomine terduduk di soffa, dia tertidur. Momoi yakin kalau Aomine juga pasti sangat lelah. Wanita itu mendekat, menatap wajah Midorima yang masih tertidur.
"Ne Midorin ..., apa kau tahu? Kenapa Aomine-kun selalu berkata kalau Ki-chan ada di dekat kita? Terkadang aku berpikir, kalau aku juga menginginkan hal itu. Aomine-kun, sedikit berbeda. Tapi aku ingin mempercayai perkataannya. Kau juga 'kan?"
"..."
"Aku akan pulang dulu dan membawakan baju untuk kalian."
Aomine membuka matanya ketika Momoi sudah keluar dari ruangan. Dia mendengar apa yang Momoi katakan. Aomine tidak bisa benar-benar tidur setelah kejadian itu. Fokusnya melihat Midorima. Sebagian tubuhnya dibalut kasa seperti mumi dan sebelah tangannya diberi penyangga. Lalu dia melihat kalau jari-jarinya bergerak. Aomine bergegas mendekat.
"Midorima!"
Keningnya mengerenyit dan kelopak matanya membuka perlahan. Pandangannya buram, terlebih dia tidak memakai kacamatanya. Namun samar-samar dia melihat rupa Aomine di dekatnya. Suara Aomine juga mulai terdengar.
"Midorima!"
"Ao-mine ..."
"Midorima! Oi! Kau bisa mendengarku 'kan?!"
Midorima hanya berdehem dan sedikit mengangguk. Seolah tenaganya menguap entah kemana. Sebagian besar tubuhnya terasa sakit dan pipinya terasa perih. Wajah Aomine yang entah mengapa terlihat sedikit aneh membuat Midorima ingin tertawa, tapi rasanya ini bukan saatnya untuk itu. Jadi dia hanya berusaha untuk sedikit tersenyum.
"Aku akan panggilkan dokter!"
.
.
"Bagaimana keadaannya?"
Aomine bertanya setelah rangkaian prosedur pemeriksaan selesai dilakukan.
"Keadaannya sudah membaik. Sepertinya ingatannya juga baik-baik saja. Tapi kami akan tetap memasang oksigennya karena dia masih kelihatan sedikit sesak, sepertinya karena asap dan debu yang terlalu banyak dihirupnya. Selain itu, untuk sementara tangan kanannya tidak boleh digerakkan, beberapa tulangnya ada yang bergeser. Kami akan tetap mengecek luka diperutnya. Dia sudah boleh bergerak, tetapi jangan dulu melakukan kegiatan yang berlebihan."
Aomine mengangguk paham.
"Ada lagi yang ingin ditanyakan?"
"Untuk saat ini belum."
"Baiklah kalau begitu saya permisi."
Aomine membungkuk sedikit ketika dokter itu keluar dari ruangan, lalu beranjak mendekat ke tempat tidur Midorima.
"Kau dengar? Katanya kau baik-baik saja."
Midorima tahu kalau Aomine hanya menutupi kekhawatirannya dan itu terlihat konyol.
"Ya, kupikir itu cukup bagus bukan?"
"Ya. Ngomong-ngomong, sebentar lagi Satsuki akan datang dan aku harus kembali ke markas."
Aomine merogoh ponselnya dan membaca sebuah pesan singkat.
"Tak apa kalau kutinggal sekarang? Katanya dia sudah sampai di gerbang."
Pria hijau itu hanya mengangguk dan melihat pria itu mengambil jaketnya yang tergeletak di soffa.
"Hey! Cepatlah kembali, kami butuh orang untuk mengurus mayat yang satunya."
Polisi itu mengatakannya saat akan menutup pintu.
"Sialan!", pikir Midorima. Dia memberinya pekerjaan saat kondisinya masih seperti itu? Midorima tahu sebenarnya Aomine hanya mencemaskannya dan berharap dia bisa kembali bekerja secepatnya. Tapi cara pengucapannya itu yang membuat Midorima sedikit jengkel tapi juga ingin tertawa.
ooOOOoo
Kise kembali setelah air membasuh tubuhnya. Takao duduk sambil menonton televisi. Kebanyakan siarannya berisi berita terkait pengeboman markas. Tapi dia lebih memilih acara-acara memasak dibanding dia teringat lagi pada dokter itu.
"Hey Kise! Kau punya rokok?"
"Ck! Sudah kubilang jangan merokok nanti kau ketagihan. Dan satu hal, aku tidak menyimpan barang seperti itu."
"Iya iya aku tahu!"
Wajahnya sebal. Kise ke kamarnya untuk mengganti handuknya dengan baju kering.
"Aku pinjam kamar mandimu ya!"
Kise menyahut dari kamarnya.
.
.
Takao mengguyur tubuhnya, dia menengadah dan membiarkan rintik-rintik air membasahi wajahnya. Sisa-sisa harum shampo yang Kise pakai tadi masih tercium. Rambut hitamnya tergerai mengikuti arus air. Dia menggunakan shampo dan sabun milik Kise. Dan dia kembali membiarkan tubuhnya dijatuhi air yang mirip hujan.
Matanya terpejam. Pikirannya membawanya kembali. Wajah dokter itu kembali muncul di hadapannya. Entah kenapa ada rasa bersalah yang menyusup di hatinya. Tapi untuk apa dia merasa bersalah? Bukankah tujuan mereka memang untuk membunuh mereka. Seluruhnya kalau memang memungkinkan.
"Takao! Bajunya ada di atas kasurku ya! Aku akan membuat sarapan!"
Suara Kise terdengar nyaring. Takao memutuskan untuk menyudahi acara mandinya dan menutup keran air. Harum aroma telur tercium ketika Takao baru saja keluar. Kise berdiri membelakanginya, menghadap ke pengorengan dan tangannya bergerak mengaduk sesuatu.
ooOOOoo
Hari itu Aomine kembali berkunjung menjenguk Midorima. Dia masih mengenakan seragamnya. Kelihatannya dia baru saja pulang dari markas. Midorima sudah tidak mengenakan masker oksigennya. Dia juga tampak lebih segar. Dia bersandar di tempat tidurnya yang bagian atasnya ditekuk agak tinggi.
"Yo! Bagaimana keadaanmu?"
"Cukup baik. Kau datang sendiri?"
"Ya."
"Umm, soal penyerangan kemarin? Bagaimana? Sudah ada perkembangan?"
Sejujurnya Midorima sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di luar ruang forensik, karena saat itu dirinya hanya fokus pada satu orang yang terus memenuhi pikirannya.
"Ada empat penyusup. Dua diantaranya Haizaki dan Hanamiya. Kita berhasil menangkap Hanamiya, tapi Haizaki meledakkan dirinya sendiri."
"Lalu dua lainnya?"
"Identitasnya belum diketahui. Dan mereka berhasil kabur. Belum ada kabar apapun lagi soal mereka.
Sejujurnya Midorima sedikit takut kalau Aomine mengetahui identitas Takao. Dia harus bicara padanya sebelum Aomine atau bahkan kepolisian mengetahui semua itu. Dia yakin dan sangat yakin kalau itu Takao, meskipun sedikit berharap kalau dia orang lain. Tapi Midorima dapat melihat dari mimik wajahnya yang terkejut saat dirinya menyebutkan nama Takao. Seolah orang itu kaget karena ada orang lain yang tahu identitasnya. Dan mana mungkin Midorima salah mengira itu orang lain?
"Oh ya Midorima? Bukankah ada bom juga di ruang forensik?"
"Ya. Tapi aku tidak menyadarinya."
"Aku mendapat laporan kalau saat itu pintu ruanganmu terkunci. Mereka kesulitan membukanya dan kau tidak menjawab mereka. Kenapa?"
"..."
"Mereka juga mendengar seperti kau sedang bersama seseorang."
"Hmm, ada ... satu penyusup di sana."
Aomine terlihat terkejut. Tapi dia diam dan mempersilahkan Midorima untuk melanjutkan pembicaraannya.
"Aku berusaha menahannya. Tapi dia berhasil kabur melalui jendela."
"Kau ... melihat wajahnya?"
Midorima diam dan baru berbicara kembali setelah beberapa saat.
"Ti- tidak ..., dia kabur begitu saja setelah melukai tanganku. Lalu tiba-tiba bomnya meledak."
"Begitu ya ..."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku menangkap Hanamiya. Dan ada satu penyusup lagi selain Haizaki. Tak ada polisi yang berhasil menangkapnya dan menghilang begitu saja saat aku berusaha mengejarnya. Disamping itu banyak anak buahku yang terluka, pikiranku jadi terbagi."
"Bukankah itu bahaya untukmu?"
"Ya. Tapi sepertinya dia sudah tidak berminat. Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun."
Aomine tak ingin siapapun tahu. Lagi-lagi tatapan mata itu. Tatapan yang sama dengan malam itu. Mata yang sama dengan Kise yang waktu itu ditemuinya. Tapi Aomine memilih untuk merahasiakan semuanya. Dia ingin memastikannya sendiri. Lagipula, tak ada yang percaya kalau yang saat itu dilihatnya adalah Kise.
ooOOOoo
"Hey Takao! Mau keluar? Kupikir kau –maksudku kita membutuhkan sedikit refreshing. Aku mau belanja, stok makanan hampir habis. Mau ikut?"
"Baiklah!"
Mereka beranjak pergi setelah mengunci pintunya.
.
.
Agak kurang tepat sebenarnya karena mereka pergi hampir tengah hari. Cahaya matahari begitu menyengat dan membuat pandangan silau. Atau mungkin ini efek karena mereka terlalu lama di dalam flat dan terjaga sepanjang malam hanya ditemani cahaya lilin dan kemudian baru kembali melihat matahari.
"Kau mau membeli apa?"
"Apapun, mungkin telur, sayuran, dan sekali-kali membeli daging tidak terlalu buruk."
Kise mengangkat bahunya bersamaan dengan kedua alisnya. Takao berjalan sembari menyilangkan tangan di belakang kepala dan sesekali bersenandung. Kise tak mau menyinggung masalah apapun yang berhubungan dengan dokter itu. Takao sepertinya sudah mulai melupakan kejadian waktu itu juga. Kise tak ingin melihatnya berantakan seperti malam itu.
Mereka tidak pergi terlalu jauh. Mereka hanya berjalan kaki hingga mencapai konbini terdekat. Awalnya Takao ikut masuk dan memasukan beberapa botol minuman bersoda ke keranjang yang Kise bawa. Tapi selebihnya dia memilih untuk menunggu di luar saja. Kise masih sibuk memilih daging.
Sejujurnya Takao tak terlalu memikirkan lagi soal peristiwa kemarin itu, tapi kalau sedang sendiri entah kenapa ia selalu teringat mata yang menatapnya terakhir kali sebelum bom meledakkan bangunan itu.
"Sialan!"
"Takao!"
Tumben Kise sedikit cepat. Seingat Takao antrian pembayaran tadi cukup banyak.
"Tumben kau-"
Namun ketika dia menoleh. Seseorang berjalan terpincang-pincang ke arahnya. Takao membelalak. Demi hal apapun di dunia ini, Takao belum siap untuk bertemu dengan orang itu lagi.
"Sial! Kenapa dia tidak mati saja?!"
Takao berlari menjauh, orang itu menyusulnya dengan terpincang. Tapi Takao terlalu gemetar hingga rasanya dia tak sanggup untuk lari, jadi dia berhenti di sebuah gang dan menyandarkan tubuhnya ke tembok. Keringatnya bercucuran dan Takao ketakutan.
"Ta-kao!"
Takao mendengar suara orang itu sedikit tercekat. Sepertinya dia berteriak sembari menahan kesakitan. Takao memejamkan matanya dan nafasnya tersenggal-senggal.
"Jangan ke sini kumohon ..."
Takao berjengit ketika telapak tangan memegang bahunya. Dia membuka mata dan wajah itu sekali lagi berada dalam lensa matanya. Takao merasa ingin menghilang saat itu pria itu kemudian menariknya ke dalam sebuah pelukan yang membuat Takao seolah membeku.
"Kenapa?"
To be continue/discontinue?
