Chapter 8
Momoi berlari di sepanjang lorong rumah sakit sembari menempatkan ponsel di telinganya. Dia mengerutu kenapa Aomine tidak mengangkat teleponnya padahal situasi sedang darurat. Terakhir kali dia menelepon Aomine dan mengatakan kalau dirinya sudah sampai di rumah sakit dan Aomine masih ada di ruang rawat bersama Midorima. Namun yang Momoi temukan adalah ruangan yang kosong dan tak ada tanda-tanda seseorang ada di dalamnya.
"Dai-chan! Kenapa baru kau angkat teleponnya?!"
"Maaf Satsuki aku baru selesai rapat. Ada apa?"
"Midorin tidak ada di kamarnya!"
"Oi! Kau bercanda kan?"
"Aku serius! Kau pikir aku akan bercanda di saat seperti ini?!"
"Sudah coba menghubunginya?"
"Sudah! Tapi dia tidak mengangkat teleponnya!"
"Dia itu kemana sih?! Merepotkan saja!" ujar Aomine pelan.
"Kau di mana sekarang? aku ke sana."
"Di rumah sakit. Baiklah, aku tunggu di dekat pintu masuk."
ooOOOoo
Kise berbaris di antrian pembayaran. Tidak biasanya minimarket terasa begitu penuh pembeli. Kise pun tak begitu memikirkannya, bisa saja tanpa ia ketahui hari ini adalah hari peringatan sesuatu? Sudahlah, otaknya sudah banyak pikiran dan dia tak mau menambahnya dengan pikiran sepele semacam itu.
Trak!
Keranjang yang di bawa wanita paruh baya di depannya bergoyang ketika dia melangkah. Kise melirik ke sana dan menemukan kaleng-kaleng minuman bersoda dan minuman beralkohol. Oh? Apa mungkin memang sedang ada peringatan sesuatu? Melihatnya Kise jadi ingin tahu. Lalu ia melirik ke dalam keranjangnya sendiri. Beberapa botol minuman bersoda yang dipilih Takao, susu coklat, sekotak teh hijau, coklat batangan, mie instan, 6 butir telur dan 2 potong daging sapi ukuran sedang. Kalau dipikirkan lagi beberapa barang yang dibelinya bisa meredakan stress ketika dikonsumsi –itu kata orang.
Untuk sesaat Kise berpikir untuk membeli beberapa kaleng minuman beralkohol juga, tapi ketika dia melihat antrian di belakangnya, Kise mengurungkan niatnya itu. Siapa juga yang mau mengantri lagi dari belakang?
"Ada tambahan lagi tuan?" tanya penjaga kasir pembayaran saat Kise menyerahkan belanjaannya.
"Tidak."
Ketika penjaga kasir itu sibuk menghitung harga, Kise menoleh ke pintu keluar yang transparan. Menatap heran, bukankah Takao tadi bilang akan menunggu di luar? Tapi dia tak ada di sana. Suara penjaga kasir membuatnya sedikit kaget ketika dia menyebutkan harga. Kise merogoh sakunya dan mengambil uang yang kemudian dia berikan ke si penjaga kasir.
"Terima kasih banyak, silahkan datang kembali!"
ooOOOoo
Mesin mobil hitam itu melaju cepat. Bagaimana mungkin Aomine hanya meninggalkannya sebentar dan Midorima kemudian menghilang? Kenapa dia bisa secepat itu? Aomine mengutuk ide Midorima yang menurutnya teralu keterlaluan.
"Satsuki cepat!"
"Tunggu Dai-chan! Teleponnya tidak diangkat!"
"Pakai ponselku, telepon kontak yang bernama Sakurai!"
Momoi mengambil ponsel Aomine dan mencari kontak dengan nama Sakurai. Menekan panggil dan menempatkannya di telinga.
"Ah! Halo?!"
"Nyalakan loud speakernya!"
"B-baik!"
"Oi! Sakurai! Kau mendengarku?!"
"Ya! Pak kepala!"
"Cepat lacak di mana ponsel Dokter Midorima, sekarang! Aku butuh informasi secepatnya! Kau tahu aku tak suka menunggu kan?"
"Ha-hai!"
Satsuki menutup teleponnya.
"Kita tunggu informasi selanjutnya."
"Tapi ..."
"Dia bisa diandalkan."
ooOOOoo
Midorima tak pernah berpikir akan ada saat seperti ini. Setengah hatinya bersorak bahwa dia akhirnya menemukannya lagi, tapi sebagian hatinya merasa bersalah telah membuatnya seperti ini. Dia tak bisa menggerakkan tangan kanannya. Ya, tersenggol sedikit saja rasanya sakit sekali. Belum luka di perutnya. "Argh! Benar-benar sial! Apa ini karena aku tidak menonton Oha-Asa dalam beberapa hari terakhir?" pikirnya.
"Kenapa?"
Takao tak pernah tahu apa maksud lengan yang memeluk tubuhnya ini. Dia seenaknya melakukan itu tanpa seizin Takao.
"Maafkan aku Takao ...," pria itu berbisik padanya.
"..."
"Maafkan aku ..., sudah meninggalkanmu saat itu ..."
Saat air matanya jatuh, Takao berpikir bahwa pria yang memeluknya ini punya suatu penyesalan yang sangat dalam.
"Dan saat ini aku kembali . Maaf telah mengacaukan hidupmu."
Apa yang pria itu katakan? Takao sama sekali tak mengerti.
"Aku sungguh minta maaf. Aku berkata saat itu akan kembali, aku berkata kepadamu bahwa aku hanya pergi sebentar. Tapi apa yang kulakukan?"
Setiap kata yang dilontarkan pria itu terasa ambigu dan hanya pertanyaan retoris yang Takao bahkan tak perlu menjawabnya.
"Maaf aku membutuhkan waktu lama untuk menemuimu."
Brugh!
Untuk sesaat Takao kaget dengan perlakuannya sendiri. Dia mendorong pria itu hingga terduduk.
ooOOOoo
Kise membuka pintu minimarket sambil membawa sekantung belanjaan. Setelah cukup lama di dalam ruangan yang ber-AC rasanya jadi agak panas. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, tapi dia tak menemukan orang yang dicarinya.
"Ck! Kemana sih Takao!" gerutunya.
Brugh!
Kise menoleh saat ia mendengar suara sesuatu yang terjatuh. Dia mendekat perlahan ke arah sumber suara.
"Hentikan ..." saat itu Kise mendengar suara Takao yang gemetar.
Kakinya terus mendekat hingga dia melihat Takao berdiri gemetaran sambil menutup wajahnya. Seseorang terduduk di depan Takao dengan sebelah tangan yang disanggah kain dan yang satunya memegang sebelah perutnya yang bajunya kekotoran darah. Wajahnya mengerenyit menahan sakit namun ketika dia bertemu pandang dengan Kise, pria itu terdiam.
Mereka berpandangan cukup lama hingga sebuah suara lainnya membuat Kise membelalak.
"Ki-chan ..."
Kise berusaha menyembunyikan rasa keterkejutannya lalu menoleh dan mendapati wanita bersurai merah muda menatap tak percaya ke arahnya. Mata madunya menatap datar pada sesosok pria yang datang bersama wanita tadi, dan pria itu hanya menatapnya balik tanpa berkata apapun.
Saat erangan Midorima mengambil alih perhatian semua –kecuali Takao, Momoi langsung menghampirinya dan terlihat panik saat melihat baju yang dikenakan Midorima mulai memerah.
Kise berbalik untuk pergi. Tak ada fungsinya dia berurusan dengan orang-orang itu. Tapi dia tak mungkin meninggalkan Takao dan dia sudah terlalu muak melihat mata biru itu untuk waktu yang lama.
Grap!
Dia merutuk dalam hati, sesialan apa orang ini hingga berani memegang pergelangan tangannya?
"Kise ..."
Suara berat itu benar-benar terdengar seperti mimpi buruk.
"Kise ayo kembali ..."
Kise mengedipkan matanya beberapa kali. Kata-kata itu sungguh tak terpikirkan olehnya hingga rasanya sebelah bibirnya tertarik tanpa ia sadari. Saat ia berbalik dia melihat pergelangan tangannya kemudian menatap manik biru yang membuatnya muak. Kise menarik lengannya dari pegangan lemah pria itu.
Saat mata terang itu menatapnya, Aomine merasa bahwa tenaganya menguap entah ke mana. Dia memang tak punya hak apapun untuk melakukan itu pada pria di depannya.
"Kembali? Jangan membuatku tertawa," dia tersenyum "Aomine-cchi ..."
Aomine pikir Kise tak mengingatnya. Aomine pikir Kise sudah tidak mengingatnya.
"Jangan pikir aku akan lupa," Kise tak kuat untuk menahan tawanya, dia tertawa keras, namun dalam sesaat ekspresinya berubah datar "setelah apa yang kau lakukan padaku."
Iris sapphire itu menelisik, mencoba mencari sesuatu yang ia kenal dari sosok di depannya ini. Tapi mata itu, ekspresi itu, dan tawanya seolah tak dia kenali. Aomine bahkan tak yakin kalau pria ini adalah Kise.
"Kise ...," pria pirang itu tersenyum sarkas "kenapa? ..."
Sekali lagi tawa itu meledak hingga rasanya ingin menangis.
"Kau masih bertanya kenapa?! Ya ampun! Kenapa kau begitu bodoh?"
"Kenapa kau memalsukan kematianmu? JAWAB AKU KISE?!"
Seketika itu pandangan Kise berubah dingin. Dia berjalan mendekat, menempatkan wajahnya tepat di depan wajah Aomine.
"Huh? Aku tidak menyangka kau akan percaya pada kabar hoax semacam itu. Dan satu lagi, itu-bukan-urusanmu."
Saat Kise menjauhkan wajahnya ia menarik lengan Takao perlahan dan membawanya pergi.
"Ayo Takao."
Mata biru itu menatap punggung Kise yang semakin menjauh, dia tidak berlari, tapi Aomine rasanya tak bisa bergerak sedikitpun untuk memperpendek jarak antara dirinya dan Kise. Aomine tak bisa berpikir.
"Midorin!"
"Ugh!"
"Dai-chan! Kita harus membawanya kembali ke rumah sakit!"
"Argh! Sialan!"
Aomine mengutuk dirinya yang tak melakukan apapun di saat Kise benar-benar ada di depannya. Tapi Melihat Midorima yang kesakitan, dia tak mungkin juga mengabaikannya begitu saja.
"Ayo Midorima."
Pria itu menopang Midorima ke pundaknya dan membawanya ke mobil.
"Bodoh! Kenapa kau tak mengejarnya?"
"Oh! Kupikir kau mau berterimakasih."
"Kupikir mataku yang salah. Aku benar-benar tak percaya melihat dia masih hidup."
"Bukannya matamu memang bermasalah, makanya kau pakai kacamata?"
"Bukan waktunya untuk bercanda Aomine."
"Aku butuh penjelasanmu dan jangan coba untuk menyembunyikannya."
"..."
"Kau mengenal pria yang bersama Kise itu kan?"
ooOOOoo
Takao sudah tidur di flat Kise. Persetan dengan semua itu, Kise memberinya lagi obat tidur. Meskipun dia merasa bersalah telah melakukan itu, tapi lebih baik jika pria itu tertidur tanpa mengetahui apapun dibanding dengan mengetahui kenyataan buruk yang baru saja dialaminya. Kise yakin kalau Takao tak akan bisa tidur setelah Kise melihat ekspresinya tadi.
"Begitu ya Midorima ..., jadi dia mengenalmu?"
Kise menutup pintu kamarnya dan beranjak ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dan membiarkan air itu menuruni setiap lekuk tubuhnya. Matanya terpejam hingga helaian-helaian pirangnya menutupi kelopak mata yang menyembunyikan iris keemasannya. Pancaran cahayanya telah memudar.
"Akh!"
Kise tak bisa menahannya lagi. Nafasnya terlalu sesak untuk terus menahan air mata yang berusaha membobol pertahanannya. Tenggorokannya terasa sakit setelah berlagak sok kuat di depan mereka.
Pada akhirnya, tangisnya pun pecah. Dia tidak peduli air matanya jatuh terbasuh oleh air yang mengalir melewati tubuhnya. Kise terduduk, menekuk lutut dengan kedua tangannya yang menutupi muka. Kise muak. Muak untuk terus berusaha mengenakan topeng di depan semua orang. Muak untuk tidak menjadi dirinya sendiri.
"Bodoh ..."
Dia menangis ..., meraung seperti sedang menahan sakit yang amat sangat. Dengan susah payah Kise selalu berusaha menghindar. Dia tak pernah mau dirinya kembali ...,
.
.
menjadi Kise yang lemah ...
ooOOOoo
Ruang rawat itu terasa hening sampai Momoi membuka pembicaraan mereka. Luka Midorima sudah ditutup kembali dan dia juga mendapat omelan dari Momoi soal dirinya yang pergi tanpa izin.
"Apa yang kau pikirkan sih! Sampai kau berani kabur?"
"I-itu ..."
"Midorin?!"
"Siapa pria yang kau temui itu, Midorima?"
Atmosfer di ruangan itu terasa panas. Entah mengapa Midorima merasa seperti orang yang baru saja tertangkap basah sedang menemui seorang buronan yang dicari.
"Bagaimana dengan Kise? Kau juga harus menjelaskan itu Aomine."
"Kita akan membahas Kise setelah kau menjelaskan pria yang tadi bersama Kise, Midorima."
Hening beberapa saat. Momoi menatap keduanya dengan pandangan sendu dan penuh tanya.
"Hey, kalian berdua. Aku tak suka saat aku menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa disini."
"Midorima?"
Midorima tak pernah berpikir kalau hari semacam ini akan terjadi dalam hidupnya. Bahkan Aomine dan Momoi pun berpikir hal yang sama.
"Dia ..., Takao Kazunari," Midorima berhenti sejenak. Memperhatikan respon dua orang lainnya yang ada di ruangan tersebut. Kemudian dia melanjutkan "aku mengenalnya sejak kecil. Bisa dibilang, dia teman masa kecilku. Aku tak pernah bertemu dengannya lagi semenjak aku pindah ke Tokyo."
"Lalu? Apa hubungan kalian hanya sebatas itu?"
"Aku juga tidak tahu. Hanya saja ..., ada sesuatu yang baru aku tahu setelah lama aku berpikir kenapa perilakunya sedikit berbeda dari Takao yang kukenal."
"Maksudmu?"
"Ayah Takao adalah seorang penjahat."
"..."
"Sebenarnya itu sudah lama sekali. Aku sudah tahu sejak aku berteman dengannya dulu. Ayah Takao cukup sering memarahiku jika aku terlalu dekat dengan Takao. Aku pernah melihatnya membawa senjata, dulu aku berpikir kalau itu hanya mainan. Tapi aku melihatnya menggunakan senjata itu untuk membunuh orang. Saat dia memegang pisau, sekejap pisau itu ada di dada orang lain, dan saat dia membawa pistol, sedetik kemudian pelurunya sudah bersarang di kepala. Itu adalah untuk pertamakalinya aku merasa ketakutan."
"Maksudmu ..., kau berteman dengan anak seorang penjahat, begitu?"
"Tapi Takao berbeda! Dia bahkan tidak tahu kalau ayahnya seorang penjahat. Sejak kejadian itu aku jadi jarang bermain dengannya. Hampir setiap hari dia datang ke rumahku dan mengajakku bermain. Tapi aku sengaja tidak keluar dari rumah dan hanya melihatnya pergi dengan kecewa. Hari itu aku tidak tega padanya dan aku memberanikan diri untuk keluar menemuinya, itu adalah satu hari sebelum aku pindah ke Tokyo."
Midorima menatap langit-langit yang berwarna putih.
"Aku ingin mengatakan soal rencana pindahan keluargaku, tapi wajahnya begitu senang hingga aku tak ingin merusak wajah ceria itu. Dia bertanya padaku apakah aku akan meninggalkannya lagi, dia bertanya padaku lagi dan lagi karena aku hanya diam saja. Akhirnya aku berkata padanya, kalau aku tak akan meninggalkannya, aku hanya pergi sebentar dan aku pasti akan kembali."
"Lalu ayahnya?"
"Ayahnya sudah dihukum mati. Menurut kabar yang kutahu, itu terjadi sekitar 5 tahun setelah aku pindah."
ooOOOoo
Kepulan uap hangat menguar ketika pintu kamar mandi itu terbuka. Sisa-sisa air yang mengalir masuk ke lubang pembuangan, membentuk sebuah pusaran kecil. Kulit putih yang sejak tadi terguyur air masih terasa basah. Kise melihat jari-jari tangannya yang sedikit keriput –mungkin karena terlalu lama terkena air- dan mati rasa.
Kise keluar dari kamar mandi dengan ekspresi datar. Secarik handuk menutupi pinggang hingga ke lututnya. Rambutnya masih meneteskan butiran-butiran air. Matanya agak sembab dan kelopaknya kemerahan. Matanya menoleh, kalender yang ditempelnya di tembok cukup menarik perhatiannya.
"Tak kusangka 10 tahun sudah berlalu ..."
.
.
To be continue/ discontinue?
*: Gomeeen! ada beberapa alasan kenapa saya gak bisa update cepat :(
1. Saya baru dapet libur
2. Saya sering kena WB
3. Internetnya kena IPO (jadi gak bisa buka ffn)
Jadi ..., maaf untuk yang emang nunggu kelanjutannya (kalau ada)
**: Btw, entah kenapa cara penulisannya agak-agak gimanaaa gitu? Ada yang ngerasa beda? Apa karena emang chapter ini lumayan drama ya? Apa memang karena saya udah lama gak nulis ._.
Arigatou untuk yang sudah membaca ataupun memberi review ^_^
